Anda di halaman 1dari 8

Pengkuran Daya Listrik (Power Measurement)

Daya dalam KBBI didefinisikan sebagai kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan
bertindak. Atau dalam buku [John.G.Webster] daya adalah pekerjaan yang dilakukan per
satuam waktu. Jadi memiliki dimensi Joule per sekon.Menurut definisi umum ini, daya listrik
merupakan kerja listrik atau energi yang dihamburkan / laju listrik per satuan waktu, dan secara
dimensi dapat di perhatikan dari

Listrik sendiri dibagi menjadi dua jenis yaitu arus listrik AC dan DC.Masing-masing memiliki
cara pengukuran tersendiri yang akan dijelaskan selanjutnya yaitu.

1. Pengukuran Daya Listrik pada Rangkaian DC

Daya listrik (P) yang di lepaskan oleh sebuah beban (L) yang berasal dari catu daya DC
(E) merupakan hasil tegangan dari beban (VL) dikroskan dengan arus (IL) yang mengalir
didalamnya.

Hal itu dapat dihasilkan dari pembacaan menggunakan alat ukur voltmeter juga
ammeter menurut pada gambar 22.1. Dari gambar yang a. ammeter langsung mengukur
arus yang juga nantinya melewati volmeter. Dari gambar b. Error dapat dihindari, tapi
pengukuran pada voltmeter terhadap tegangan yang melintasi ammeter dengan keadaan
bahwa melewati beban. Dari kedua rangkaian tersebut memberikan keuntungan
masing-masing terhadap pengukuran daya lisriknya yang diserap oleh instrumen,
terhadap respon pengukuran dalam menghasilkan error. Yang kemudian diturunkan
rumusnya berdasarkan rangkaian a dan b menjadi

Kita juga dapat mengukur daya listrik dengan Dinamometer. Dinamometer adalah alat untuk
mengukur daya atau tenaga dari suatu benda, biasanya dari sebuah mesin kendaraan bermotor.
Dengan mesin ini Anda dapat mengukur putaran suatu mesin serta torsi. Ketika suatu mesin
berputar, daya atau tenaga yang dihasilkan dari mesin tersebut dapat Anda hitung dengan
menggunakan dinamometer. Cara kerjanya adalah sebagai berikut:

atau

2. Pengukuran Daya listrik pada rangkaian AC


AC (Alternating-Current) berarti arus bolak-balik. Maksudnya adalah arus listrik yang
mengalir pada suatu hantaran yang tegangannya berubah-ubah potential, yaitu +
(positif) dan - (negatif) bergantian secara kontinu. Sehingga kurang lebih daya
listriknya dapat dicari seperti pada rangkaian DC , namun fungsinya dapat dipengaruhi
oleh waktu
Padu kasus sederhana sumber tegangn dengan fase sinusoidal diberikan langung pada
sebuah beban resisitif. Dimana v(t) dan i(t) di dalam fase dan p(t) diberikan sebagai

Selain itu dapat diukur langsung menggunakan alat ukut wattmeter.

Wattmeter bekerja berdasarkan prinsip elektro dinamik. memiliki dua buah lilitan yaitu, lilitan
arus dan lilitan tegangan. Pada bagian yang bergerak disebut lilitan arus berfungsi
menggerakkan jarum penunjuk, sedangkan bagian yang diam disebut lilitan tegangan.
Interaksi fluk magnet arus dan tegangan yang dihasilkan oleh masing-masing lilitan akan
menghasilkan trosi yang menggerakkan jarum. Simpangan jarum sebanding dengan daya :

Gambar rangkaian pengukuran daya menggunakan satu wattmeter

P = V x I x cos
pengukuran daya listrik 3 fasa dengan menggunakan wattmeter dapat dilakukan
dengan wattmeter satu fasa, wattmeter 1 fasa memiliki dua buah lilitan yaitu lilitan
tegangan terminal 2-5 dan lilitan arus terminal 1-3. terminal 5 dihubungkan ke kawat netral.
Jala-jala L1, L2, L3 dan N dihubungkan dengan sumber tegangan (PLN), Ujung lainnya
terhubung ke beban 3 fasa.

Hasil ukur = 3 x Penunjukan Wattmeter

Gambar rangkaian pengukuran daya dengan menggunakan wattmeter dengan Trafo Arus
(CT)
Untuk daya yang sangat besar, arus beban mencapai puluhan bahkan ratusan amper, dipakai
alat bantu berupa trafo arus CT. Rating trafo arus CT tersedia dalam berbagai ukuran, misalnya
100/5 artinya mampu sampai arus beban primer 100 A dan arus sekunder ke wattmeter 5a.
Trafo kabel jala-jala yang dimasukkan ke lubang tengah, bagian sekunder terdapat terminal L-
K.

Rangkaian trafo arus CT dengan wattmeter bagian Primer CT sisi K berhadapan dengan
sumber tegangan L1, sisi L berhadapan dengan beban, tidak boleh terbalik. Sekunder
CT dihubungkan ke lilitan arus wattmeter, terminal Kke kaki 1 sekaligus dihubungkan dengan
grounding atau pentanahan, dan terminal Ll disambung kan kaki. Lilitan tegangan kaki
2 dihubungkan dengan L1 dan kaki 5 ke L2 dan kaki 8 terhubung ke L3.

Hasil ukur = 3 x Penunjukan Wattmeter

Gambar rangkaian pengukuran daya dengan menggunakan dua buah wattmeter


Pengukuran wattmeter 3 fasa dapat dilakukan dengan menggunakan 2 buah wattmeter. Pada
rangkaian ini terdapat 2 lilitan arus, yaitu kaki 1-3 dan kaki 7-9. Lilitan tegangan juga ada dua
buah, yaitu kaki 2-5 dan kaki 5-8. Kawat L1, L2, dan L3 dihubungkan ke sumber tegangan
PLN. Kawat L1 masuk ke lilitan arus 1 melalui kaki 1 dan 3, sekaligus kaki 2 dihubungkan
dengan kaki 3 menuju ke lilitan tegangan, kaki 5 ke jala-jala L2. jala-jala L3,kaki 7 masuk
lilitan arus ke kaki 9 selanjutnya terhubung ke beban.
Kemudian dari rangkaian Ac sendiri dapat diklasifikasikan lagi menjadi

1. Rangkaian line-frekuensi
2. Pengukuran daya listrik frekensi rendah dan medium (dapat mencapai beberapa
Megahertz)
3. Rangkaian tegangan tinggi (dapat mencapai beberapa gigahertz)

Pengukuran daya listrik frekuensi rendah dan medium.


a. Metode 3 voltmeter

Jika arus pada voltmeter diabaikan dan arus iL mengalir melalui beban L hal ini diasumsikan
sama dengan yang melewati hambatan R, sehingga
Dari persamaan diatas juga berlaku pada D dengan mengganti nilai rms dengan nilai DC.
Karena hasil menunjukan perbedaan, masalah terjadi karena ketidakpastian relatif ketika three
terms memiliki jumlah mendekati 0.
b. Wattmeter thermal

Wattmeter ini menggunakan dua termokopel yang serupa (1 dan 2) yang outputnya
dihubungkan berlawanan dengan galvanometer di antaranya. Rh adalah hambatan dari setiap
elemen pemanas termokopel. R adalah resistansi seri tinggi, dan antara C dan D adalah
resistansi R2 rendah yang mampu membawa arus beban i. R2 resistansi mengembangkan
perbedaan potensial yang bergantung pada arus beban, bersamaan dengan arus satu pemanas,
dan resistansi seri R membawa arus kedua pemanas.

Jika v menjadi tegangan sesaat pada beban, maka dengan asumsi termokopel yang identik, kita
memiliki:

Jika rangkaian seperti diatas, maka


c. Wattmeter berdasarkan perkalian(penggandaan)

Hasil perkalian dan proses rata-rata dari ga,bar diatas berkaitan pada pengukuran daya
dapat dilakukan dengan sarana elektronik. Eletronik attmeter terbagi menjadi 2 kategori,
nerdasakan apakah operasi perkalian atau perataan menunjukan langkah diskrit atau
kontinu. Pada metode kontinu, dilakukan dengan mengalikan hasil elektronik analog. Pada
metode diskrit, wattmeter mengambil smpel simultan dari tegangan dan arus bentuk
gelombang, mengubahnya dalam bentuk digital dan dapat dilakukan untuk perkalian dan
perataan.

d. Wattmeter berdasarkan perkalian analog

Pada kali ini berdasarkan transistor yang ada pada rangkaian seperti four-quadrant
multiplier, dimana proses tegangan dan arus diberikan daya seketika dan sebuah
integrator yang berkaitan denga daya rata-rata.
e. TDM berdasarkan wattmeter

Anda mungkin juga menyukai