Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHALUAN

A. Latar Belakang
Vertebrata adalah istilah untuk menyebut hewan yang bertulang belakang. Salah satunya
amphibi. Amphibi berasal dari bahasa Yunani yaitu amphi yang berarti dua dan bios yang
berarti hidup. Amphibi merupakan hewan yang hidup dengan dua habitat, termasuk hewan
poikiloterm atau berdarah dingin. Pembagian tubh terdiri atas kepala, badan dan ekor. Kulit
lembab berlendir, terdiri dari dermis dan epidermis.
Tubuh hewan terdiri dari beberapa organ tubuh. Organ-organ bekerja sama dalam
melakukan fungsi yang lebih tinggi membentuk sistem organ. Hewan dibagi ke dalam dua
golongan, yaitu hewan vertebrata dan hewan invertebrata. Salah satu hewan vertebrata adalah
katak sawah (Rana cancarivora).
Ampibia merupakan salah satu kelas dari sub-fitum vertebrata. Ampibia berasal dari bahasa
yunani, yaitu amphi yang berarti rangkap dan bios yang berarti hidup. Amphibia merupakan
kelompok hewan yang mempunyai fse kehidupan di air dan di darat. Amphibia terdiri dari empat
ordo yaitu ordo uredela, ordo apoda, ordo anura, dan ordo proanura. Tapi sekarang ini ordo
proanura sudah dinyatakan punah.
Pada amphibi, memiliki dua alat pernapasan yaitu dengan menggunakan paru-paru pada
saat berada di daratan dan dengan menggunakan kulitnya pada keadaan basah (pada saat berada
dalam air). Kulit katak bersifat permiabel terhadap air dan gas, serta kaya akan persediaan
pembuluh darah. Adanya dua alat pernapasan ini disebabkan karena faktor lingkungan hidupnya.

Organ terbentuk dari beberapa jaringan yang paling bekerja sama melaksanakan fungsi
tertentu. Contoh organ adalah usus halus yang disusun oleh jaringan epitel, otot, ikat dan saraf.
Organ dibedakan atas dua yaitu organ dalam dan organ luar.
Organ tubuh hampir tidak ada yang bekerja sendiri, biasanya bekerja sama dalam kordinasi
tertentu sebagai satu bagian darisebuah sistem. Setiap sistem organ mempunyai fungsi tertentu.
Contonya: organ jantunng, pembuluh darah, dan darah terikat dalam sistem peredaran darah
(sirkulasi).
Semua organ tentu sudah mengenal hewan dari kelas amphibia seperti katak, kodok,
salamander, dan sebagainya. Tetapi pemahaman yang lebih dalam mengenai hewan dari kelas
amphibia masih terbilang minim. Dari segi teori, mungkin kita sudah paham tetapi untuk
mendeskripsikannya secara morfologi dan anatomi seperti masi belum paham.

Untuk memahami struktur dan fungsi organ-organ yang terdapat pada hewan vertebrata
dalam hal ini adalah katak, maka dilakukanlah percobaan dengan mengamati bagian atau organ-
organ yang ada pada tubuh katak. Pengamatan anatomi katak diperlukan pembedahan untuk
memudahkan mengamati bentuk kedudukan, dan hubungannya dengan organ lain.
Di daratan, kemampuan untuk mendeteksi suara merupakan hal yang sangat penting dan
amfibia telah mengembangkan telinga sederhana dari struktur yang diwarisnya dari moyang
mereka. Spirakel tertutup dengan dengan membran yang berfungsi sebagai gendang telinga dan
tulang rahang yang tidak terpakai lagi (yang berasal dari lengkung insang agnatha) berguna
untuk meneruskan getaran dari membran ini ke telinga dalam.
Berdasarkan uraian singkat diatas, maka penyusun tertarik meneliti tentang katak (Rana
cancarifora) dan kodok (Bufo sp) baik secara morfologi ataupun anatomi.
B. Tujuan
Untuk mengetahui anatomi dari hewan vertebrata melelui kegiatan pembedahan pada katak
sawah (Rana cancarivora) dan kodok (Bufo sp)

C. Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Senin/29 Juli 2013
Jam : 13.00 16.00 WITA
Tempat : Rektorat Unsulbar ruangan sembilan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Amphibia umumnya didefinisikan sebagai kata hewan bertulang belakang yang hidup
didua alam, yakni di air dan di laut. Amphibia bertelur di air atau menyimpan telur di tempat
lembab dan basah. Ketika menetes, larvanya dikatakan berudu yang hidup di air atau ditempat
basah tersebut dan bernafas dengn insang. Setelah beberapa lama berudu kemudian berubah
bentuk menjadi katak dewasa yang umumnya hidup di darat atau ditempat yang lebih kering dan
bernafas dengan paru-paru (Djuanda, 1982).
Amphibia adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik dalam air tawar dan di
darat. Sebagian besar mengalami metamofosis dari berudu (aquatis dan bernapas dengan insang)
ke dewasa (amphibius dan bernapas dengan paru-paru), namun beberapa jenis amphibius tetap
memilki insang selama hidupnya. Jenis-jenis sekarang tidak memiliki sisik luar, kulit biasanya
tipis dan basah (Djarubito, 1989).
Amphibia mempunyai ciri-ciri yaitu tubuh diselubungi kulit yang berlendir, meerupakan
hewan berdarah dingin (poikilotem), mempunyai jantung yang terdiri dari tiga ruang yaitu dua
serambi dan satu bilik, mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput
renang yang terdapat diantara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk melompat dan
berenang, matanya mempunyai selaput tambahan yang diebut membrane niktilans yang sangat
berfungsi waktu menyelam. Pernapasan saat masih kecobang berupa insang dan setela dewasa
alat pernapasannya berupa paru-paru dan kulit, hidingnya mempunyai katup yang mencegah air
yang masuk kedalam rongga mulut ketika berenang, dan berkembang biak dengan cara
melepaskan telurnya dan dibuahi oleh yang jantang diluar tubuh induknya atau pembuahan
eksternal (Djuanda, 1982).
Tubuh amphibia khususnya katak terdiri dari kepala, badan, dan leher yang belum tampak
jelas. Sebagian kulit, kecuali pada tempat-tempat tertentu terlepas dari otot yang ada dalamnya,
sehingga bagian dalam tubuhnya berupa rongga-rongga yang berisi cairan limpa subkutan
(Djuanda, 1982).
Kedua fase strukturnya menunjukkan bahwa amphibi merupakan kelompok chordata yang
pertama kali keluar dari kehidupan air (Radiopoetro,1977).
Pada fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini
berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-
paru. Pada fase dewasa ini amphibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring
dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka
insang lama kelamaan menghilang. Pada anura, tidak ditemukan leher sebagai mekanisme
adaptasi terhadap hidup di dalam liang dan bergerak dengan cara melompat. (Brotowidjoyo,
1993)
Amphibia memiliki kelopak mata dan kelenjar air mata yang berkembang baik. Pada mata
terdapat membrana nictitans yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu, kekeringan dan
kondisi lain yang menyebabkan kerusakan pada mata. Sistem syaraf mengalami modifikasi
seiring dengan perubahan fase hidup. Otak depan menjadi lebih besar dan hemisphaerium
cerebri terbagi sempurna. Pada cerebellum konvulasi hampir tidak berkembang. Pada fase
dewasa mulai terbentuk kelenjar ludah yang menghasilkan bahan pelembab atau perekat.
Walaupun demikian, tidak semua amphibi melalui siklus hidup dari kehidupan perairan ke
daratan. Pada beberapa amphibi, misalnya anggota Plethodontidae, tetap tinggal dalam perairan
dan tidak menjadi dewasa. Selama hidup tetap dalam fase berudu, bernafas dengan insang dan
berkembang biak secara neotoni. Ada beberapa jenis amphibi lain yang sebagian hidupnya
berada di daratan, tetapi pada waktu tertentu kembali ke air untuk berkembang biak. Tapi ada
juga beberapa jenis yang hanya hidup di darat selama hidupnya. Pada kelompok ini tidak
terdapat stadium larva dalam air. (Anonymous 1, 2013).)

Organ-organ utama pada hewan vertebrata adalah :


1. Sistem pencernaan
Menurut Jasin (1992), alat pencernaan pada katak tediri dari mulut, kerongkongan,
lambung, usus, dan kloaka. Makanan dari mulut masuk ke dalam lambung melalui
kerongkongan. Lambung memanjang dan berbelok ke samping kiri dan berotot. Di dalam
lambung makanan dicerna kemudian masuk ke dalam usus. Di dalam usus makanan diserap, sisa
makanan dikeluarkan melalui kloaka. Sistem pencernaan makanan pada amfibi, hampir sama
dengan ikan, meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. salah satu binatang amphibi
adalah katak. Makanan katak berupa hewan-hewan kecil (serangga). Secara berturut-turut
saluran pencernaan pada katak meliputi:
a. Rongga mulut: terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang mangsa dan lidah untuk
menangkap mangsa,
b. Esofagus; berupa saluran pendek,
c. Ventrikulus (lambung), berbentuk kantung yang bila terisi makanan menjadi lebar. Lambung
katak dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya esofagus dan lubang keluar menuju
usus.
d. Intestinum (usus): dapat dibedakan atas usus halus dan usus tebal. Usus halus meliputi:
duodenum. jejenum, dan` ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya.
e. Usus tebal berakhir pada rektum dan menuju kloaka, kloaka merupakan muara bersama antara
saluran pencernaan makanan, saluran reproduksi, dan urine.
Kelenjar pencernaan pada amfibi, terdiri atas hati dan pankreas. Hati berwarna merah
kecoklatan, terdiri atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobulus. Hati berfungsi
mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan.
pankreas berwarna Kekuningan, melekat diantara lambung dan usus dua belas jari (duadenum).
pankreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada duodenum
(Anonymous, 2010).

2. Sistem pernapasan
Alat pernapasan pada katak berupa insamg, kulit, dan paru-paru. Pada berudu pernapasan
dilakukan dengan insang luar. Setelah dewasa menggunakan paru-paru berupa dinding dimana
dinding ini terdapat banyak ruang. Paru-paru berhubungan dengan udara luar melalui 2 bronkus,
laring yang mengandung tali-tali volea, lalu faring dan lorong-lorong nasal. Lubang dari faring
ke laring berupa celah longitudinal disebut glothis. Pernapasan pada katak melalui kulit tipis
yang basah untuk memudahkan difusi gas (Anonymous, 2010 ).
3. sistem peredaran darah
Sistem peredaran darah pada katak adalah peredaran darah tertutup dan ganda. Pada
peredaran darah ganda, darah melalui jantung sebanyak dua kali dalam sekali peredarannya.
Pertama darah dari jantung menuju ke paru-paru dan kembali ke jantung. Kedua, darah dari
seluruh tubuh menuju jantung dan diedarkan kembali ke seluruh tubuh. Jantung katak terdiri dari
tiga ruang yaitu atrium kiri, kanan, dan ventrikel. Diantara atrium dan ventrikel terdapat klep
yang mencegah agar darah dari ventrikel mengalir kembali ke atrium. Pertukaran O2 dan CO2
terjadi di paru-paru. CO2 dilepaskan dan diikat O2. Tetapi di ventrikel terjadi perncampuran
CO2dan O2 yang terjadi di dalam darah (Kimbal, 199).
4. Sistem ekskresi
Alat ekskresi utama pada katak adalah sepasang ginjal yang terdapat di kanan kiri tulang
belakang, berwarna kecoklat-coklatan yang memanjang ke belakang (Tim pengajar, 2010).
Sistem ekskresi pada katak disebut suatu sistem gabungan karena masing-masing sistem
masih bergabung pada kloaka sebagai muara bersama baik untuk sistem sekresi maupun untuk
sistem reproduksi. Sistem ekskresi sebagai sistem pembuangan zat-zat yang tidak berguna yang
dilakukan oleh kulit, paru-paru, dan yang dikeluarkan oleh hati, yaitu berupa empedu (Saktiono,
1989).

5. Sistem reproduksi
Pembuahan pada katak dlakukan di luar tubuh. Katak jantan akan melekat di punggung
betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang
katak jantan akan memijat perut katak betina dan memasang pengeluaran telur. Pada saat yang
bersamaan, katak jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur
yang dikeluarkan di betina (Anonymous, 2010).
1. Katak (Rana cancarifora)
Katak merupakan hewan Amphibi yang mana kelompok hewan ini fase daur hidupnya
berlangsung di air dan di darat. Amphibi merupakan kelompok vertebrata yang pertama keluar
dari kehidupan dalam air. Amphibi mempunyai kulit yang selalu basah dan berkelenjar, berjari
4-5 atau lebih sadikit, tidak bersirip. Mata mempunyai kelopak yang dapat digerakkan, mata juga
mempunyai selaput yang menutupi mata pada saat berada dalam air (disebut membran
miktans).Pada mulut terdapat gigi dan lidah yang dapat dijulurkan. Pada saat masih kecil
(berudu) bernapas dengan insang. Setelah dewasa bernapas dengan menggunakan paru-paru dan
kulit. Suhu tubuh berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan atau poikioterm (Anonymous
1, 2013).
Rana cancarivora (Graven horst /katak sawah) memiliki kulit berwarna hijau, bercak
hitam. Kadang-kadang pada bagian punggungnya bergaris cokelat muda. Habitat ditemukan di
sawah dan saluran irigasi sekitar sawah (Arie, 1999).
Tubuh hewan terdiri dari berbagai organ tubuh. Organ-organ yang bekerja sama dalam
melakukan fungsi yang lebih tinggi membentuk organ. Dalam praktikum ini akan dilakukan
pengamatan susunan anatomi tubuh katak sawah (Rana cancarivora). Anatomi katak dapat
memberikan gambaran umum organ-organ utama pada hewan vertebrata (Pratiwi, 2006).
Katak merupakan salah satu kelas amphibi yang memiliki panjang mulai dari 3,5 cm
sampai dengan 90 cm. Amphibi merupakan vertebrata yang hidup di dua alam, yaitu di darat dan
di air (Pratiwi, 2006).
Katak berasal dari kawasan tropika ke subartik, tetapi kebanyakan spesis katak terdapat di
hutan hujan tropika. Katak merupakan antara kumpulan vertebrata yang paling banyak
kepelbagaian, merangkumi lebih 5,000 spesis yang dikenali. Namun begitu, populasi spesis
katak tertentu kian merosot (Anonymous 1, 2013).
Menurut Anonymous 1 (2013), warna katak bermacam-macam dengan pola yang
berlainan. Hal ini disebabkan karena adanya pigmen dalam dermis, yaitu:
a. Melanopora, berupa warna pigmen yang dapat menyebabkan warna hitam.
b. Lipopora berupa warna pigmen yang menyebabkan warna merah kuning.
c. Gaunopora berupa warna pigmen yang menyebabkan warna biru.
2. Kodok (Bufo sp.)
Kodok (bahasa Inggris: frog) dan katak alias bangkong (bahasa Inggris: toad) adalah
hewan amfibia yang paling dikenal orang di Indonesia. Anak-anak biasanya menyukai kodok
dan katak karena bentuknya yang lucu, kerap melompat-lompat, tidak pernah menggigit dan
tidak membahayakan. Hanya orang dewasa yang kerap merasa jijik atau takut yang tidak
beralasan terhadap kodok (Anonymous 2, 2013).
Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat
dan tak berekor (anura: a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki
belakang yang panjang. Sebaliknya katak atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil sampai
berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya sering pendek saja, sehingga
kebanyakan kurang pandai melompat jauh (Anonymous 2, 2013).
Kodok hidup menyebar luas, terutama di daerah tropis yang berhawa panas. Makin dingin
tempatnya, seperti di atas gunung atau di daerah bermusim empat (temperatur), jumlah jenis
kodok cenderung semakin sedikit. Salah satunya ialah karena kodok termasuk hewan berdarah
dingin, yang membutuhkan panas dari lingkungannya untuk mempertahankan hidupnya dan
menjaga metabolisme tubuhnya (Anonymous 2, 2013).
Kodok memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya. Kodok kerap ditemui
berkerumun di bawah cahaya lampu jalan atau taman, menangkapi serangga-serangga yang
tertarik oleh cahaya lampu tersebut (Anonymous 2, 2013).
Pengamatan anatomi suatu hewan diperlukan pembedahan untuk memudahkan mengamati
bentuk. Kedudukan dan hubungannya dengan organ lain. Yang akan diamati dalam praktikum ini
adalah sistem pencernaan, peredaran darah, pernapasan, ekskresi dan reproduksi.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Alat Dan Bahan


1. Alat
a. Papan seksi (gabus)
b. Alat seksi satu set
c. Jarum pentul
d. Loupe
e. Pinset
f. Tobles
g. Kapas
2. Bahan
a. Katak sawah (Rana cancarifora)
b. Kodok (Bufo sp)
c. Ether/chloroform/alkohol

A. Cara Kerja
1. Pengamatan Bentuk Luar
1.1.Membius hewan dengan ether (alkohol), sebagai berikut :
1.1.1. Mengambil segulung kapas, kemudian diberi ether (alkohol) sampai kapas basah separuhnya.
1.1.2. Memasukkan kapas basah tersebut bkedalam toples.
1.1.3. Memasukkan katak dalam toples sampai katak tersebut lemas atau mati.
1.2.Meletakkan katak yang sudah mati itu, di atas papan seksi (gabus) pada perutnya dan mengamati
bagian demi bagian.
1.2.1. Bagian kepala : disini terdapat :
a. Mata yang mempunyai pelupuk, selaput kejap dan bijimata.
b. Membrane tympanium,kiri kanan.
c. Celah mulut yang lebar.
d. Lubang hidung luar.
1.2.2. Leher, sangat pendek. Katak tidak bisa menoleh karena tidak ada sendi antara tulang kepala dan
tulang leher.
1.2.3. Bagian badan. Meraba dengan ujung telunjuk bagian yang keras dan lembut, untuk mengetahui
bagian yang brtulang. Pada bagian badan terdapat dua pasang kaki :
a. Kaki depan, terdiri atas bagian-bagian:
1. Lengan atas
2. Lengan bawah
3. Telapak
4. Jari-jari tidak berselaput
b. Kaki belakang, terdiri atas bagian-bagian :
1. Paha (femur)
2. Betis/tungkai (tibia fibula)
3. Telapak yang menyatu (pes)
4. Jari-jari yang berselaput
c. Pada pertemuan pangkal paha agak kepunggung terdapat kloaka.
1.3.Mengamati seluruh permukaan kulit katak dengan loupe dan merabanya dengan ujung jari
(basah, kering, berminyak, berlendir atau bersisik).
1.4.Membuat gambar dengan pandangan dari punggung dan menunjukkan semua bagian-bagian
yang disebutkan diatas,
2. Pembedahan Untuk Melihat Alat-Alat Dalam Tubuh
2.1.Melentangkan hewan coba (katak) di atas papan seksi (gabus).
2.2.Merentangkan kaki-kakinya dan menusuk telapak kaki dengan jarum pentul untuk menahan agar
tidak goyang atau tidak bergerak.
2.3.Menjepit kulit pertengahan perut dengan pinset secara melintang. Menggunting lipatan kulit
yang terjepit sehingga terjadi sobekan.
2.4.Memasukkan ujung yang tumpul kedalam sobekan kulit tersebut, menggunting kulit ke arah
kepala sampai gunting menumbuk pada bagian dada.
2.5.Melanjutkan pula pengguntingan kulit kearah ekor sampai menumbuk pada pangkal paha.
2.6.Mempelajari perletakan kulit pada otot/daging. Tidak semua permukaan kulit langsung pada
daging. Hanya pada bagian-bagian tertentu kulit melekat pada otot yang disebut septum. Dengan
demikian terjadi kantong-kantong antara kulit dengan otot yang disebut saccus (kantong).
2.7.Meletakkan kembali hewan tersebut pada punggungnya.
2.8.Merentangkan kaki-kakinya dan menusuknya kembali dengan jarum pentul agar tidak midah
goyang.
2.9.Membuat torehan pada pertengahan otot perut secara membujur, sampai menembus (hati-hati
jangan sampai melukai isi perut).
2.10. Memasukkang ujung gunting yang tumpul ke dalam celah yang terbentuk, dan menggunting otot
perut arah kepala sampai pada tulang dada. Melanjutkan irisan ini ke arah ekor sampai pangkal
paha.
2.11. Masih dengan menggunakan gunting, membuat irisan kesamping dan menahannya dengan jarum
pentul.
2.12. Menyingkapkan dinding perut kesamping dan menahan dengan jarum pentul.
2.13. Dengan terbukanya rongga badan, maka akan kelihatan alat-alat sebagai berikut:
2.13.1. Jantung berada dalam pericarium (mungkin masih berdenyut)
2.13.2. Hati, berwarna merah coklat terdiri atas dua lobus besar.
2.13.3. Lambung, berwarna keputih-putihan disebelah kiri hati.
2.13.4. Usus, jelas berkelok-kelok.
2.13.5. Kantong kencing/kemih, berupa gelembung bening. Kadang-kadang tidak ditemukan karena
pecah atau kosong/kemps.
2.13.6. Pada preparat betina dewasa jelas nampak ovarium/indung telur yang hampir menutupi seluruh
rongga perut, warna hitam berbintik-bintik putih.
2.13.7. Paru-paru, nampak terjepit disebelah kanan hati dan disebelah kiri lambung.
2.14. Membuat gambar sederhana tapi alat-alat yang ditunjukkan harus jelas.
3. Sistem peredaran darah
3.1. Dengan menggunakan loupe, mengamati jantung pada tempatnya.
3.2. Membuka pericardium dengan gunting. Mengambil sedikit kapas dan menjepit dengan ujung
pingset dan menyerap cairan yang ada disekitar jantung.
3.3. Dengan menggunakan loupe mencari dan mengamati bagian-bagian jantung :
3.3.1. Bilik
3.3.2. Seramabi kiri dan serambi kanan.
3.3.3. Batang arteri yang keluar dari bilik, melengkung di sebelah atas jantung ke kiri dan kekana.
4. Sistem pernapasan
4.1.Membuka mulut dan mecari celah paangkal tenggorokan yang berada agak didepan pangkal
kerongkongan.
4.2.Measukkan ujung pipet pengisap minuman pada pangkal tenggorokan dan meniupnya.
4.3.Alat yang terdapat dalam rongga badan di sebelah kanan hati.
4.4.Mengamati bentuk dan susunannya.
5. Sistem pencernaan
5.1.Menyingkapkan jantung ke kanan dan mencari saluran di sebelah bawah saluran pernapasan,
pendek, lunak, inilah kerongkongan.
5.2.Kerongkongan mengalami pelebaran, berupa kantong disebelah kiri hati, alat ini disebut
lambung.
5.3.Mengikuti urutan-urutan dari bagian saluran ini, selanjutnya sampai ke kloaka. Berturut-turut
akan ditemukan alat-alat saluran pencernaan sebagai berikut :
5.3.1. Kerongkongan, sangat pendek.
5.3.2. Lambung.
5.3.3. Usus dua belas jari, sebelah kanan lambung membelok kekiri.
5.3.4. Usus halus.
5.3.5. Usus besar
5.3.6. Poros yang bernuara ke kloaka.
5.3.7. Kloaka.
Alat-alat pencernaan lain, berupa kelenjar pencernaan antara lain sebagai berikut :
5.3.8. Hati, warna merah tua
5.3.9. Kantong empedu
5.3.10. Pangkreas
5.4.Membuat gambar skema alat-alat tersebut diatas.
6. Sistem urogenitalia
6.1. Melepaskan alat-alat pencernaan dengan gunting, muemulai pada kerongkogan sampai poros.
6.2.Jika preparat betina, mencari dan pelajari bagian-bagian :
6.2.1. Indung telur (ovum)
6.2.2. Saluran telur (oviduct)
6.2.3. Ginjal, panjang, berwarna, coklat kemerah-merahan.
6.2.4. Ureter, saluran dari ginjal ke kloaka.
6.3.Jika preparat jantan, mencari dan pelajari bagia-bagian berikut :
6.3.1. Testis, warna kuning yang dilengkapi dengan badan lemak yang berwarna kuning berjurai-jurai.
6.3.2. Vasa efferentia, saluran dari testis masuk ke ginjal.
6.3.3. Vesikula seminalis, menghasilkan getah untk sperma.
6.3.4. Ureter, salutan dari ginjal bermuara pada kloaka.
6.3.5. Kantong kemih/kencing.
6.4.Membandingkan hasil pengamatan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1. Pengamatan morfologi Rana cancarivora
Keterangan:
1. Maxilla 9. Radius ulna
2. Nareks eksterna 10. metakarpel
3. Mandibula 11. Falanges (jari-jari tangan 4)
4. Valvebra interior 12. Femur
5. Membran tympanium 13. Fibua fibula
6. Jembatan orbita 14. Metatarsal
7. Vakvebra superior 15. Falanges (jari-jari kaki 5)
8. Humerus 16 Tarsal 17. Karpal
2. Pengamatan anatomi
SITUS VISCERUM
Keterangan:

1. Enchepalon (otak) 9. Lever


2. Pharynx 10. Duodenum (usus dua belas jari)
3. Esophagus 11. Intestinum (usus halus)
4. Cor (jantung) 12. Intestinum crassum (usus besar)
5. Pulmo 13. Ren (ginjal)
6. Kantung empedu 14. Vesikcula urinaria (kantung kemih)
7. Pankreas 15. Rectum
8. Ventriculus 16. Kloaka 17. Heper

RIMA ORIS

Keterangan: Keterngan:

1. Nareks interna 1. Testis


2. Gigi vumerin 2. Vas defferentra
3. Saluran eustachius 3. Ureter
4. Bukaan saccus vocalis 4. Vesicular
5. Lidah 5. Badan lemak
6. Bukaan esophagus 6. Inestinum crassum
7. Glottis 7. Rectum
8. Membran niktitans 8. Kloaka
9. Membran tympanium
10. Valvebra interior

B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pengamatan katak sawah (Rana
cancarivora) dan kodok (Bufo sp) dapat dilihat dengan jelas morfologi dan anatominya yaitu
sebagai berikut :

1. Katak (Rana cancarivora)


Klasifikasi katak sawah menurut Radiopoetro (1977), adalah sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Familia : Ranaidae
Genus : Rana
Species : Rana cancrivora
Katak merupakan salah satu anggota dari class Amphibia yang kedudukannya diantara ikan
dan Vertebrata kelas tinggi. Amphibia berasal darikata amphi artinya rangkap dan bios artinya
hidup. Jadi amphibia berarti hewan yang hidup dalam dua fase kehidupan, yaitu dari kehidupan air menuju
kehidupan darat. Kedua fase strukturnya menunjukkan bahwa amphibi merupakan kelompok
chordata yang pertama kali keluar dari kehidupan air (Radiopoetro,1977).
Rana cancrivora (Graven horst /katak sawah) memiliki kulit berwarna hijau, bercak hitam.
Kadang-kadang pada bagian punggungnya bergaris cokelat muda. Habitat ditemukan di sawah
dan saluran irigasi sekitar sawah (Arie, 1999).
Kemampuan beradaptasi tinggi karena merupakan hewan berdarah dingin yang suhu
tubuhnya selalu mengikuti suhu sekelilingnya. Ciri khas dari kodok adalah adanya gendang telinga
sebelah belakang matanya pada kedua sisi kepalanya. Binatang ini berbadan agak unik yaitu
pendek, bermata besar dengan tungkai belakang panjang (Susanto, 1994).
Rongga mulut dapat masuk diantara celahinsang ke dalam faring. Epitelium dari rongga
mulut dibangun oleh beberapa lapis sel epitel yang pipih dan mempunyai fungsi pernafasan. Lubang
khoane terdapatdi bagian depan langit-langit primer.Kaki depan atau lengan katak terdiri dari
lengan atas (brachium),antebrachium, manus, digiti 4 buah yang satu mengecil (Djuanda, 1982).
Digiti pada katak jantan menebal pada saat musim kawin. Tiap kaki belakang mempunyai femur
(thigh),crus (shark), atau kaki bawah, pes(angle) dan manus serta 5 buah digiti yang berselaput
renang (Holmes, 1928).
Kaki depan atau lengan katak terdiri dari lengan atas (brachium),antebrachium, manus, digiti 4
buah yang satu mengecil. Digiti pada katak jantanmenebal pada saat musim kawin. Tiap kaki belakang
mempunyai femur (thigh),crus (shark), atau kaki bawah, pes (angle) dan manus serta 5 buah
digiti yang berselaput renang (Holmes, 1928).
Sistem muscularia pada katak terdiri dari banyak otot, yaitu otot subhioideus, deltoideus (episternalis,
episternum, dan akapularis), otot submaxillaris, otot pektoralis (bagian epikorakoid, sternal,
abdominal), otot rektus abdominis (terdapat linea alba), otot korakoradialis, otot obliquseksterna
(Djuanda, 1982).

MORFOLOGI
Pada pengamatan morfologi katak sawah (Rana cancarifora) dapat dilihat dengan jelas bagian-
bagian sebagai berikut :
1. Bentuk tubuh
Tubuhnya berbentuk bilateral simetris yaitu antara bagian kanan dan bagian kiri mempunyai
bentuk yang sama persis.
2. Warna tubuh
Warna tubuh katak yang telah diamati berwarna kecoklatan di sekujur tubuh dengan bagian atas
tubuh lebih gelap dibandingkan bagian bawah tubuh. Adanya warna kulit demikian karena
adanya lapisan yang terdapat pada bagian bawah kulit yaitu lapisan melanofora. Lapisan ini
mengandung melanin, jenis pigmen yang menghasilkan warna cokelat gelap atau hitam sehingga
kulit katak ini berwarna kecoklatan. Katak melindungi diri dengan warna yang sesuai dengan
warna sekitarnya. Warna kecoklatan yang gelap dan terang yang berbeda pada kedua sisi
tubuhnya disebabkan karena mengumpul dan menyebarnya butir-butir pigmen dan chromatofora.
suhu juga dapat mempengaruhi warna tubuh pada katak. Karena jika Suhu rendah maka akan
menghasilkan warna yang gelap sedangkan suhu tinggi dan keadaan kering atau meningkatnya
sinar menghasilkan warna terang. Hal tersebut tampak jelas pada bagian atas tubuh katak yang
berwarna gelap dan pada bagian bawah tubuh yang berwarna terang.
3. Kulit
Kulit pada katak licin dan lunak. Kulit yang lemas sebagai penutup tubuh berfungsi menutupi
tubuh terhadap gangguan yang bersifat fisis atau pathologis. Kulit tersusun atas epidermis yang
merupakan lapisan kulit paling luar dan dermis yang terbagi atas jaringan lain. Dalam kulit
terdapat butir-butir pigmen (pada epidermis) dan sel pigmen (chromatofora) pada dermis.
4. Kepala (caput) dan Extremitas
Pada bagian kepala terdapat sepasang organon visus (mata) yang bulat dan menonjol. Di
belakang mata terdapat membrane tympani untuk menerima getaran suara. Selain itu, juga
terdapat mulut yang agak moncong ke depan yang berfungsi sebagai alat pencernaan. Di dalam
mulut terdapat gigi yang terdiri atas gigi maxilla (rahang atas ) dan mandibula (rahang bawah),
Lingua (lidah), berpangkal dicranial mandibula bersifat bifida (bercabang), ujung caudal bebas
dapat dijulurkan keluar untuk menangkap mangsa.
Extremitas depan yang berupa kaki atau tangan berukuran pendek, terdiri atas : brachium (lengan
atas) yang berupa humerus, antibracium (lengan bawah) yang berupa radius ulna, carpus
(pergelangan tangan), menus (telapak tangan) yang terdiri atas metacarpus dan phalangus (jari
jari) pada telapak tangan terdapat palm. Extremitas belakang yang berupa kaki belakang terdiri
atas femur (paha), crus (bagian kaki bawah) yang terdiri atas betis (tibia fibula), tarsus
(pergelangan kaki), pes (telapak kaki) yang terdiri atas meta tarsus dan phalanges (jari jari).
5. Kaki
Katak memiliki 2 pasang kaki yaitu sepasang kaki depan memiliki 4 jari dan sepasang kaki
belakang memiliki 5 jari. Selain itu pula katak memiliki kaki yang berselaput yang berfungsi
untuk berenang. Struktur kaki katak sangat bervariasi di antara spesies katak sesuai dengan
habitat yang ditempatinya yaitu seperti di tanah, dalam air, di pohon atau di liang tanah. Katak
harus mampu bergerak cepat melalui lingkungan mereka untuk menangkap predator atau mangs
dan melarikan diri, serta beradaptasi banyak membantu mereka melakukannya.
Katak memiliki susunan tubuh yang terdiri atas kepala, badan dan alat gerak. Kepala katak terdiri
atas beberapa organ yaitu: mulut berukuran lebar dan berada sedikit ke bawah serta membelah
secara horizontal hampir seluruh bagian kepala, mata dilapisi selaput (membran nictitan) untuk
mencegah masuknya air, gendang telinga (membran tympanium) ada pada setiap sisi kepalanya
dan lubang hidung yang sangat kecil. Badan yang terdiri dari perut dan punggung memiliki
panjang tingkali panjang kepala. Perut berwarna putih kekuningan dengan kulit yang halius dan
elastis. Punggung berwarna hijau dengan kulit agak kasar dan tulang punggungnya menonjol
(Anonymous, 2010).
Katak memiliki dua alat penggerak yaitu sepasang kaki depan dengan jari-jari sebanyak empat,
dan jari belakang sebanyak lima, semuanya mempunyai selaput renang yang elastis. Kaki katak
bias mencapai 15 17,5 cm, sedangkan beratnya bisa mencapai 1 kg (Anonymous, 2010).
2. Kodok (Bufo sp)
Klasifikasi kodok menurut Radiopoetro (1977), adalah sebagai berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Bufonidae
Genus : Bufo
Spesies : Bufo Sp

MORFOLOGI
Pada pengamatan morfologi Bufo sp. diperoleh hasil bahwa tubuhnya terdiri dari beberapa
bagian yaitu kepala (caput) , cervix, badan (truncus), extrimitas, dan kulit ( integumentum).
Kepala (caput) berbentuk seperti segitiga yang terdiri atas rima oris (celah mulut) yang
terletak pada ujung rostrum (moncong) berfungsi untuk menangkap mangsa dengan bantuan
lidah yang berlendir, cavum oris (rongga mulut), nares anteriores yang merupakan lubang hidung
kecil pada dorsal rima oris, mata (organon visus) Mata menonjol dan dilindungi oleh dua
kelopak mata yang tidak dapat bergerak, bagian atas disebut kelopak mata atas (valvebra
superior), bagian bawah disebut kelopak mata bawah (valvebra inferior) serta kelopak mata
ketiga berupa selaput bening yang dapat digerakkan dari bawah keatas disebut membrane
nictitans yang berfungsi untuk melindungi mata dari gesekan air, dan membrana tympani di
belakang organon visus Merupakan gendang pendengaran yang berfungsi untuk menerima
getaran suara, terletak caudal dari mata dan pada bagian permukaan. Pada telinga tidak terdapat
daun telinga (pinna auricularis).
Di dalam cavum oris terdapat organ-organ lain yang berupa maxilla (rahang atas),
mandibula (rahang bawah), lingua (lidah) yang berpangkal di mandibula, berwarna merah muda
dan bercabang serta ostium tubae auditivae yang terletak di dekat sudut mulut dan terdapat 2
buah.
Cervix pada amphibi tidak tampak nyata karena bersatu dengan truncus yang terletak di
sebelah caudal caput. Pada truncus terdapat 2 pasang extrimitas yaitu extrimitas anterior yang
terdiri dari brachium (lengan atas), antebrachium (lengan bawah), manus (tangan secara
keseluruhan), dan digiti (jari-jari) sebanyak 4 buah serta extrmiitas posterior yang terdiri dari
femur (paha), crus (tungkai bawah), pes sive pedes (kaki secara keseluruhan).
Bagian integumentum pada amphibi terdiri dari 2 bagian yaitu epidemis dan dermis
(corium). Epidermis Bufo sp. berwarna cokelat dan memiliki benjolan-benjolan kecil berwarna
hitam sehingga kulitnya menjadi kasar. Kulit kodok selalu basah karena adanya sekresi kulit
yang banyak sekali.

3. Anatomi katak (Rana cancarifora) dan kodok (Bufo sp)


Organ-organ yang berada di dalam tubuh amfibia akan tampak setelah dilakukan proses
pembedahan seperti pada langkah kerja. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, organ
dalam dari katak (Rana cancarivora) dan kodok (Bufo sp) ini terdiri atas paru-paru (pulmo),
pankreas, usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crasum), kloaka, ventriculus,
empedu (vesica fellea), hati (hepar), spleen, ginjal (ren), dan jantung (cor). Paru-paru (Pulmo)
terletak di dekat hepar, berwarna putih, mengembung dan didalamnya terdapat gelembung-
gelembung kecil. Di sebelah pulmo terdapat jantung (cor), berwarna merah kecoklatan yang
terdiri dari 2 atrium dan 1 ventrikel. Tepat dibawah cor terdapat spleen yang warnanya hampir
sama dengan cor yaitu merah kecoklatan. Spleen menyatu dengan hepar yang berwarna merah
cokelat, terdiri dari 2 lobus yaitu lobus dexter dan lobus sinister yang ukurannya lebih besar dari
pada lobus dexter karena memiliki 2 lobuli. Hati (hepar) terletak di ventro caudal. Diantara lobus
hepar, terdapat empedu (vesica fellea) yang berwarna hijau kehitaman. Di bawah hepar
ditemukan ventriculus yang berwarna merah muda dan berhubungan dengan intestinum crasum
serta intestinum tenue yang keduanya berwarna abu-abu terletak di lateral ventral. Diantara
ventriculus dan intestinum melekat pankreas yang berwarna kuning dan berukuran kecil. Selain
itu, diperoleh ginjal (ren) yang melekat pada columna vertebralis berjumlah 2 pasang dan
berwarna merah cokelat. Ren ini juga terhubung pada kloaka yang berada di daerah caudal.
1. Cavum oris (rongga mulut) yang lebar, terdiri dari:
a. Nares interna (lubang hidung dalam), terhubung dengan nares externa disebelah luar.
b. Dens vomerin (gigi vomerin), terdapat pada bagian maxilla.
c. Pallatum (langit-langit)
d. Lingua (lidah) yang dapat memanjang dan ujungnya berbelah.
e. Saluran Eustachius, terdapat di bagian lateral dekat pangkal rongga mulut dan terhubung dengan
membran tympani.
f. Glottis (celah antara mulut dan tenggorokan)
2. Sistem sirkulasi, terdiri dari:
a. Cor (jantung), berada dalam selaput perikardia, beruang tiga yang terdiri atas atrium dextra
(serambi kanan), atrium sinistra (serambi kiri), dan ventrikel (bilik).
b. Pembuluh darah berupa arteri, vena, dan kapiler.
c. Sinus venosus, bagian jantung yang menampung darah.
3. Sistem respirasi, terdiri dari:
a. Cavum oris (rongga mulut) yang dapat membesar ketika udara masuk.
b. Trakea (tenggorokan), saluran bercincin yang bercabang pada paru-paru.
c. Pulmo (paru-paru), jumlahnya sepasang, berupa kantung elastis seperti busa, dan berada
dibelakang hati dan jantung.
4. Sistem pencernaan, terdiri dari:
a. Esofagus (kerongkongan), saluran silindris pendek dekat trakea menuju ventriculus.
b. Ventriculus (lambung), berada di sisi kiri rongga tubuh, berupa saluran panjang yang melebar.
c. Duodenum (usus 12 jari), saluran lanjutan dari ventriculus disebelah kanan dan berliku, dan
merupakan muara dari sekret kelenjar pencernaan.
d. Intestinum tenue (usus halus), saluran panjang dan halus yang berkelok-kelok.
e. Intestinum crassum (usus besar), saluran yang besar dan kasar, berisi sisa pencernaan.
f. Rectum (rektum), lanjutan dari usus besar, tempat sisa pencernaan sebelum dikeluarkan.
g. Glandula digestoria (kelenjar pencernaan), terdiri atas hepar (hati) tiga lobus, berwarna merah
coklat; vesica fellea (kantung empedu) pada lobus kanan hati; dan pankreas yang berada dekat
duodenum, berwarna kekuningan.
h. Kloaka, lubang tempat bermuaranya sisa pencernaan dan sistem urogenital.
5. Sistem urogenital, terdiri dari:
a. Sistem ekskresi, terdiri atas sepasang ren (ginjal) yang terletak di bagian dasar rongga tubuh,
panjang dan berwarna merah kecoklatan, dipermukaannya terdapat glandula adrenal; ureter
berupa saluran dari ren menuju vesica urinaria; dan vesica urinaria (kantung kemih) berupa
tempat menampung urin sementara.
b. Sistem genitalia, berdasarkan preparat yang berkelamin betina terdiri atas sepasang ovarium
(indung telur) dengan ovum warna hitam berbintik putih dalam jumlah banyak menutupi hampir
seluruh permukaan abdomen; sepasang oviduk (saluran telur) yang berkelok-kelok dan berwarna
putih; uterus (rahim) sebagai tempat penyimpanan telur sebelum dikeluarkan.
Menurut Anonymous (2010), anatomi dari katak atau kodok terdiri atas:
1) Jantung, berada dalam pericardium yang terdiri atas tiga lobus yaitu dua anterium dan satu
ventrikal.
2) Hati berwarna merah kecoklatan terdiri dari dua lobus besar.
3) Lambung berwarna keputih-putihan berada disebelah kiri hati.
4) Paru-paru, terletak diantara hati sebelah kanan dan sebelah kiri lambung.
5) Usus dua belas jari, terletak disebelah kanan lambung membelok ke kiri.
6) Usus besar yang sangat jelas lekukannya.
7) Kantung kemih, mempunyai gelembung bening yang sangat mudah pecah.

4. Fisiologi katak (Rana cancarivora) dan kodok (Bufo sp.)


a. Sistem dan kelenjar pencernaan
Menurut Anonymous (2010), sistem dan kelenjar pencernaan pada katak terdiri atas:

a) Hati terdiri atas tiga lobus, berwarna merah tua. Hati berfungsi menghasilkan empedu yang
berperan dalam prooses pencernaan.
b) Lambung terdiri atas tiga bagian, yaitu kardiak yang terdapat di bagian atas yang berdekatan
dengan hati, fundus yang terdapat di bagian tengah, dan filorus yang terdapat di bagian bawah
yang dekat dengan hati.
c) Pankreas. Kelenjar berwarna keputihan berbentuk lapisan lonjong terletak dalam simpul yang
terbentuk dari duodenum dan permukaan bawah lambung. Pankreas berfungsi menghasilkan
getah pankreas yang kemudian dialirkan ke duodenum.
d) Usus halus merupakan saluran pencernaan yang paling panjang. Usus halus terdiri dari
duodenum, jejunum, dan ileum.
e) Usus besar dilapisi dengan mukosa tanpa lapisan kecuali pada bagian rectum. Usus besar
berfungsi pada proses reabsorbsi air dan membentuk lendir.
f) Rektum merupakan bagian paling akhir dari usus besar yang beermuara di kloaka yang
berfungsi sebagai lubang pelepasan.
Pencernaan sempurna, bercabang, juga berkloaka, mulut brlidah, bergigi, serta gigi vomer
pada langit-langit.
Rongga mulut merupakan tempat ,masuknya makanan pertama kali. Pharynx merupakan
organ yang pendek dan sempit dari lanjutan rongga mulut. Esophagus berukuran pendek dan
menghasilkan sekresi alkali dan mendorong makanan masuk ke ventriculus sampai kontraksi
otot ventriculus meremas makan hingga hancur. Intestinum merupakan organ yang berliku-liku
dengan bagian anterior setelah pylorus adalah duodenum. Testinum dapat menghasilkan
sekretnya sendiri. Usus besar atau intestinum crassum merupakan lanjutan dari intestinum dan
tempat sisa metabolisme lalu berakhir pada rectum untuk dikeluarkan melalui kloaka
(Anonymous, 2010).

b. Sistem sirkulasi
Alat peredaan darah katak terdiri atas jantung. Jantung katak terletak di dalam rongga dada.
Jantung katak terdiri atas 3 ruang, yaitu 2 serambi (atrium kiri dan kanan) dan 1 bilik (ventrikel).
Dengan demikian, bilik jantung katak tidak memiliki sekat. Terdapat dua aorta yaitu aorta kiri
dan kanan. Peredaran darah katak tertutup karena beredar dalam pembuluh darah, dan ganda
karena dalam satu kali beredar darah melewati jantung dua kali (Anonymous, 2010).
Darah yang mengandung CO2 dari seluruh tubh masuk ke jantung melalui Vena cava
(pembuluh balik tubuh). Darah ini mula-mula berkumpul di sinus venosus, dan kemudian karena
adanya kontraksi maka darah akan masuk serambi kanan. Pada saat itu darah yang mengandung
O2, yang bersal dari paru-paru masuk ke serambi kiri. Bila kedua serambi berkontraksi maka
darah akan terdorong ke dalam bilik. Dalm bilik terjadi sedikit pencampuran darah yang kaya O2
dan yang miskin O2. Untuk selanjutnya, darah yang kaya O2dalam bilik dipompa melalui trunkus
arteriosus menuju arteri hingga akhirnya sampai di arteri yang sangat kecil (kapiler) di seluruh
jaringan tubuh (Anonymous, 2010).
Dari seluruh jaringan tubuh, darah akan kembali ke jantung melewati pembuluh balik yang
kecil (venula) dan kemudian ke vena dan akhirnya ke jantung, sementara itu darah yang miskin
dipompa keluar melewati arteri konus tubular, pada katak dikenal adanya sistem porta, yaitu
sistem yang dibentuk oleh pembuluh balik vena saja. Jantung mempunyai dua aurikel dan satu
ventrikel. Darah dari sinus venosus masuk ke dalam aurikel kanan. Darah meninggalkan
ventrikel melalui truncus anteriosus yang bercabang dua disebelah anterior jantung, lalu terbagi
pada pada setiap sisi tubuh menjadi tiga pokokk, yaitu: arteri karotis, arteri sistemik, dan arteri
pulmo-kutaneus (berurutan dari anterior ke posterior). Tiap arteri karotis interna dan karotis
eksterna yang menuju ke dalam kepala. Arteri sistemik (dua buah) bersatu menjadi aorta dorsal.
Aorta dorsal itu bercabang-cabang menjadi seliako-mesenterik (lambung, hati, intestinum),
segmental (otot-otot), renal (mesonefros), genital (gonad), dan iliakal (Anonymous, 2010).
Menurut Anonymous (2010), sistem peredaran darah pada katak adalah sebagai berikut:
1) Jantung (cor) tersiri atas dua atrium dan satu ventikel, atrium sinistra, menerima darah dari vena
pulmonalis, atrium dekstra dari dari sinus venosus, ventrikal berdinding tebal, adanya trabeculae
(penonjolan) dari otot jantung.
2) Conus arterious, mempunyai letak yang miring kearah kiri, berwarna pitih serta menerima darah
dari cor.
3) Truncus arterious, merupakan kelanjutan dari conus arterious bagian distalnya bercabang dua,
kea rah kiri dan kanan.
4) Sunus venosus, salah satu bagian dari jantung yang menampung darah.

c. Sistem pernapasan (respirasi)


Alat pernapasan berupa paru-paru, kulit, dan insang, pertukarang gas terjadi pada kulit.
Larva bernapas dengan insang.
a) Hidung dan rongga hidung, merupakan tempat pertama yang dilalui oleh udara. Rongga hidung
dilengkapi dengan rambut, dan selaput lendir yang berguna menyaring udara, menghangatkan,
dan melembabkannya sebelum masuk ke paru-paru.
b) Faring adalah pangkal kerongkongan yang berbatasan langsung dengan laring yang dilengkapi
katup pangkal tenggorokan.
c) Trakea, terdapat pada leher bagian depan, di belakangnya terdapat kerongkongan. Trakea
berbentuk pita yang dibentuk oleh cincin-cincin rawan yang permukaan dalamnya dilapisi
selaput lendir yang sel-selnya berambut getar yang berfungsi menolak debu dan benda-benda
asing lainnya dari luar dengan cara batuk atau bersin tiba-tiba.
d) Bronkus adalah percabangan dari batang tenggorokan ke kiri dan ke kanan masing-masing
menuju ke paru-paru.
e) Bronkiolus merupakan percabangan dari bronkus yang berada dalam paru-paru.
f) Alveolus mengandung kapiler darah. Disinilah oksigen berdifusi ke dalam kapiler darah dan
diikat oleh hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah.
Pulmo merupakan sepasang kantung yang elastis. Permukaan bagian dalam mengandung
banyak lipatan untuk memperluas bidamg respirasi. Pulmo langsung berhubungan dengan
larring. Dimana laring berhubungan langsung dengan rongga mulut melalui celah auditus
laringys atau glottis (Anonymous, 2010).
Kulit sering digunakan untuk membantu proses respirasi melalui pembulu vena cutanea
magna yang tersebar dibagian dalam kulit untuk mempermudah difusi oksigen dan karbon
dioksida melalui darah (Anonymous, 2010).
Ketika inspirasi, udara melalui nares kedalam cavum oris lalu diteruskan ke pulmo karena
adanya kontraksi otot submandibularis dan geniohyordeus. Ketika ekspirasi, udara dari pulmo
keluar ke cavum oris oleh desakan dari dinding badan dan elastisitas pulmo ketika respirasi.
Udara masuk melalui nares lalu cavum oris menutup dan membesar oleh otot submandibulatis
relaksi strerophydeus kontraksi (Anonymous, 2010).
Menurut Anonymous (2010), sistem respirasi pada katak, terdiri dari beberapa fase yaitu:
a) Aspirasi: cavum oris menutup, otot submandibularis mengalami relaksasi, sementara otot
stempyoideus berkontraksi segingga cavum oris membesar, dan memungkinkan udara masuk
melalui nares eksterna atau nares anterior.
b) Inspirasi: nares tertutup oleh kutub, diikuti dengan kontraksi otot submandibularis dan
geniohyoideus akibatnya cavum oris mengecil udara masuk kelaringnya melalui glottis (aditus
laryngis) kemudian pulmo mengembang.
c) Ekspirasi: otot submandibularis mengalami relaksasi sedangkan otot sternohyodeus dan otot-
otot perut mengalami kontraksi akibatnya udara di dalam pulmo keluar, atau glottis menutup,
neres terbuka, sementara otot submandibularis dan otot geniohyoideus berkontraksi akibatnya
cavum oris menyempit, udara dihembuskan ke luar pulmo.
d. Sistem urogenitalia (reproduksi)
Menurut Anonymous (2010), sistem reproduksi pada katak terdiri atas:
a) Testis, sepasang bulat telur, berwarna putih kekuningan. Terletak di atas ginjal dan berisi
cadangan makanan yang digunakan pada musim kawin. Jaringan ini menghasilkan spermatozoid
yang dilindungi oleh selaput nesopehium. Spermatozoa dikeluarkan melalui vena efferensia
melalui bagian lateral dan ren.
b) Vena efferensia. Berupa saluran halus dari testis serta melalui nesorchium. Selanjutnya sperma
dikeluarkan melalui ren dan bermuara di ductus urospemachitus.
c) Ductus spermachitus, sepasang terletak pada bagian lateral dan ren bermuara di kloaka. Saluran
ini menyalurkan spermatozoa dan urine ke kloaka.
d) Vesicula seminalis, merupakan bagian caudal dari ductus urospermachitus serta tempat
penyimpanan terakhir dari spermatozoa.
Pada jantan atau atau genitalis maskulinus terdiri dari sepasang testis berbentuk oval dan
berwarna putih kekunungan. Spermatozoa dihasilkan oleh jaringan testis yang dilindungi oleh
selaput mesorchim. Spermatozoa di keluarkan dari tubuh melalui ductus urospermatis. Selain itu
terdapat badan-badan lemak atau corpus adiposum berwarna kekuningan dan berisi cadangan
makanan yang digunakan pada musim kawi (Anonymous, 2010).
Fertilisasi berlangsung secara eksternal, ketika telur dilepaskan maka jantan akan
menyemprot spermanya untuk membuahi. Kelamin terpisah, fertilisasi eksternal, telur
terbungkus glatin lalu diletakkan di air menetes manjadi larva atau berudu yang kemudian
mengalami metamorphosis katak dewasa (Anonymous, 2010).
Sistem reproduksi pada amphibi, pembuahannya terjadi secara eksternal, artinya penyatuan
gamet jantan dan gamet betina terjadi di luar tubuh. Pada pembuahan eksternal biasanya
dibentuk ovum dalam jumlah besar, karena kemungkinan terjadinya fertilisasi lebih keciil dari
pada pembuahan secara internal. Katak jantan akan melekat di punggung betinanya dan
memeluk erat ketiak si betinanya dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang katak
jantan akan memijat perut katak betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat bersamaan
katak jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang
dikeluarkan si betina. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang
dibutuhkan dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh
yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal metamorphosis
(Anonymous, 2010).
5. Perbedaaan Antara Katak Sawah (Rana cancrivora) dan Bufo sp
a) Pada kodok (Bufo sp) struktur kulitnya kasar, kering, memiliki jembatan orbital, memiliki
tonjolan, kakinya pendek, tidak memiliki selaput mata.
b) Pada katak (Rana cancrivora) memiliki kulit yang lembab, permukaan kulitnya halus, tidak
memiliki tonjolan, tidak memiliki jembatan orbital, memiliki selaput mata, memiliki membran
timpani, dan kakinya panjang.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan dapat diambil kesimpulan bahwa morfologi
katak (Rana cancarovora) dan kodok (Bufo sp) berbeda, sedangkan pada anatominya sama.
Perbedaan morfologi antara katak (Rana cancarivora) dan kodok (Bufo sp) yaitu katak bertubuh
langsing sedangkan kodok bertubuh gemuk. Kulit katak halus dan berlendir sedangkan kodok
Kulitnya kasar dan kering. Katak dapat melompat lebih jauh atau lebih tinggi daripada kodok
karena kaki belakangnya lebih panjang daripada kodok. Tempat tinggalnya basah karena tubuh
katak harus selalu basah sedangkan kodok tidak dapat melompat jauh atau lebih tinggi dari
katak karena kaki belakangnya lebih pendek daripada katak.Tempat tinggalnya lebih kering
daripada tempat tinggal katak.
Pada kodok (Bufo sp) struktur kulitnya kasar, kering, memiliki jembatan orbital, memiliki
tonjolan, kakinya pendek, tidak memiliki selaput mata.
Pada katak (Rana cancrivora) memiliki kulit yang lembab, permukaan kulitnya halus, tidak
memiliki tonjolan, tidak memiliki jembatan orbital, memiliki selaput mata, memiliki membran
timpani, dan kakinya panjang.
Sedangkan pada anatominya sama yaitu mempunyai : kerongkongan (esofagus), paru-paru
(pulmo), hati (hepar), jantung (cor), empedu, rektum, lambung (gaster), saluran urogenitalia,
usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum carsum), ginjal (ren).
B. Saran
1. Untuk laboratorium
Sebaiknya di laboratorium, alat-alat dan bahannya harus lengkap agar praktikum berjalan dengan
lancar. Selain itu, kebersihan laboratorium harus dijaga.
2. Untuk asisten
Sebaiknya asisten mendampingi kelompoknya dan praktikan yang kurang memahami percobaan
yang dipraktikumkan dan saya sarankan kepada kakak asisten agar jangan lagi ada yang
terlambat.
3. Untuk praktikum
Pada praktikum ini, diperlukan ketelitian mata dalam melihat hasil pengamatan dan kelincahan
kita dalam mengoperasikan alat, selain itu perlu adanya perhatian dalam masalah kebersihan
laboratorium maupun sarana dan prasarananya, serta saya sarankan kepada teman-teman
mahasiswa agar dapat mempelajari lebih dalam mengenai anatomi dan morfologi pada katak dan
kodok.
Sebaiknya untuk praktikum pengenalan hewan vertebrata berdasarkan karakter morfologi dan
anatmi, praktikan diharapkan membawa alat tulis yang lengkap agar memperlancar praktikum
serta tidak saling meminjam satu sama lain dan waktu untuk menggambar ditambahkan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013. Sistem Reproduksi Katak. (online), (www.google.com, Diakses pada tanggal 28
Juli 2013).
Anonim 1, 2013. Wikipedia Ensiklopedia Bebas. (Online), (Http://Amfibi
Dunia.wordpres.com, Diakses pada tanggal 31 Juli 2013).
Anonim 2, 2013. Amfibi. (Online), (Http://Id.wikipedia.org/wiki/kodok dan katak.com, Diakses
pada tanggal 31 Juli 2013).

Arie, Usri. 1999. Pembibitan dan Perbesaran Bullfrog. Penebar Swadaya, Jakarta.
Djuanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata I. Amico,Bandung.
D.A Pratiwi, dkk. 2006. Biologi SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Holmes, S.J. 1928. The Biology of The Frog. The Mac Millan, New York.
Jasin, Maskoeri, 1994. Zoology Vertebrata. Surabaya. Sinar Wijaya.
Radiopoetro, 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Sainab, 2011. Penuntun Praktikkum Biologi Umum. Majene: Jurusan Biologi FKIP Unsulbar.
Saktiono, 1989. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Susanto, Heru. 1994. Budidaya Kodok Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tim Pengajar. 2010. Penuntun Praktikum Biologi Dasar. Makassar: Jurusan Biologi
FMIPA UNM.

Anda mungkin juga menyukai