Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

CA. PANKREAS

Disusun oleh:

Dayu Afifah Adhoha, S. Ked

Pembimbing:

dr. Vanda Yogapuspita, Sp.Rad

BAGIAN ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RS PERTAMINA BINTANG AMIN
BANDAR LAMPUNG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Telah Dipresentasikan Laporan Kasus Berjudul

CA. PANKREAS

Pembimbing Penyaji

(dr. Vanda Yogapuspita, Sp.Rad) (Dayu Afifah Adhoha, S. Ked)

1
BAB I

STATUS PASIEN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI

RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN


2017

Nama Mahasiswa : Dayu Afifah Adhoha, S. Ked

NIM : 13310075

Dokter Pembimbing : dr. Vanda Yogapuspita, Sp.Rad

A. IDENTITAS

Nama : Ny. Nurhayati

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 12-07-1952

Alamat : Jl. R Sutami KM LG Tanjung Bintang

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Status : Menikah

Suku Bangsa : Padang

Tanggal masuk : 12 Oktober 2017, pukul 10.45 WIB

Dirawat yang ke : Pertama

Nomor RM : 096906

2
B. ANAMNESA

Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dan autoanamnesis terhadap pasien

pada tanggal 12 oktober 2017.

Keluhan Utama : Nyeri perut memberat 3 hari SMR

Keluhan Tambahan : Mual dan muntah juga di rasakan

3 hari sebelum os masuk rumah sakit. Os mengeluh nyeri perut memberat nyeri perut

diraskan terus menerus, disertai mual dan muntah selama kurang lebih 8 hari, os juga

menerangkan bahwa ketika os makan, makanan yang dimakan terasa tertahan pada daerah

ulu hati dan seperti ingin keluar kembali, serta makanan terasa menganjal pada daerah ulu

hati keluhan di rasakan kurang lebih 3 minggu yang lalu dan memberat 3 hari sebelum

masuk rumah sakit, dari keterangan kelurga pasien os sudah tidak mau makan sejak 2 hari

terakhir, dari riwayat konsumsi makanan sehar-hari selama ini os sering memakan makanan

yang banyak mengandung santan karena sudah menjadi kebiasaan di rumah os.

Selain os meraskan nyeri perut os juga mengeluh saat buang air kecil warna dari air

kencing os menjadi sangat kuning,kemudian di sertai kedua mata os yang juga tiba-tiba

berwarna kuning, riwayat keluarga os juga tidak ada yang seperti ini, riwayat menderita

penyakit hati disangkal, disekitar rumah os juga tidak pernah mengalami kebanjiran, keluhan

ini dirasakan kurang lebih 1 minggu, demam (-) keluhan ini sudah diraskan os sejak lama dan

os sudah pernah berobat ke dokter penyakit dalam dan dikatakan ada penyumbatan, sebelum

masuk rumah sakit os sempat berobat ke puskesmas dan hanya di beri obat, kemudian

keluhan semakin bertambah dan akhirnya os memutuskan untuk datang ke IGD Rumah Sakit

Pertamina Bintang Amin.

Os juga mengeluh gatal-gatal pada seluruh tubuh, awalnya timbul benjolan sebesar

biji jagung kemudian ketika di garuk benjolan menyebar hingga keseluruh tubuh, kemudian

benjolan tadi menjadi koreng sebesar koin yang berwarna hitam berbatas tidak teratur dengan

3
permukaan rata, pada daerah punggung tangan os juga terdapat luka-luka bekas digaruk yang

menyebabkan banyak jaringan parut pada daerah sekitar, seluruh bibir os juga berwarna

kehitaman dan terdapat krusta, awalnya os mengaku pada bagian bibir berwarna merah

seperti sakit kerongkongan akan tetapi lama-kelamaan bewarna hitam, pada bagian dalam

mulut tidak terdapat sariawan atau luka, nyeri menelan disangkal. Riwayat sakit kecing manis

(-) hepatitis (-)

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit darah tinggi, kencing manis, asam urat dan kolesterol disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien mengaku tidak ada keluarga yang mengalami hal yang seupa dengan pasien.

Riwayat darah tinggi, kencing manis, dan sakit jantung pada keluarga disangkal oleh

pasien.

Riwayat Pengobatan

Sebelumnya os pernah berobat ke dokter spesialis penyakit dalam dan dikatakan ada

penyumbatan.

Riwayat Sosial ekonomi

Os tinggal bersama suami dan kedua anaknya serta 2 saudara kandungnya.

Pekerjaan os adalah seorang ibu rumah tangga. Kesan ekonomi cukup.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Praesent
- Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
- Kesadaran : compos mentis
- GCS : 4V5M6
- Tanda vital :
Tekanan darah : 130/80 mmHg

4
Nadi : 88 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 37,2oC
Status Generalis

a. Kulit : Warna kulit coklat kehitaman , tidak ikterik, tidak sianosis,


turgor kulit cukup, capilary refill kurang dari 2 detik dan teraba
hangat.
b. Kepala : Normosefali, rambut berwarna hitam distribusi merata
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (+/+), RCL +/+ RCTL
+/+, pupil isokor 3mm/3mm
Hidung : Deformitas (-), nyeri tekan (-), krepitasi (-), deviasi septum (-),
sekret (-/-)
Telinga : Normotia (+/+), nyeri tekan (-/-), nyeri tarik (-/-), sekret (-/-)
Mulut : kering (-), sianosis (-), krusta (+)
Tenggorokan : Trismus (-); arkus faring simetris, hiperemis (-); uvula di tengah
c. Pemeriksaan Leher
a) Inspeksi : Tidak terdapat tanda trauma maupun massa
b) Palpasi : Tidak terdapat pembesaran KGB maupun kelenjar tiroid, tidak
terdapat deviasa trachea. JVP 5-2mmH2O
d. Pemeriksaan Toraks
Jantung
a) Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
b) Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
c) Perkusi :
Batas atas kiri : ICS II garis parasternal sinsitra dengan bunyi redup
Batas atas kanan : ICS II garis parasternal dekstra dengan bunyi redup
Batas bawah kiri : ICS V 1cm medial garis midklavikula sinistra dengan bunyi
redup
Batas bawah kanan : ICS IV garis parasternal dekstra dengan bunyi redup
d) Auskultasi: Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)
Paru
a) Inspeksi : Dinding toraks simetris pada saat statis maupun dinamis, retraksi
otot-otot pernapasan (-)

5
b) Palpasi : Simetris, vocal fremitus sama kuat kanan dan kiri
c) Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
d) Auskultasi : Suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
e. Pemeriksaan Abdomen
a) Inspeksi : Perut datar, massa (-), pulsasi abnormal (-)
b) Auskultasi : Bising usus (+) normal
c) Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen
d) Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (+) daerah suprapubik
k. Pemeriksaan Ekstremitas
Superior : Tidak terdapat jejas, bekas trauma, massa, dan sianosis (-/-)
akral hangat (+/+), odem (-/-)
Inferior : Tidak terdapat jejas, bekas trauma, massa, dan sianosis (-/-)
akral hangat (+/+), odem (-/-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium darah tanggal 6 April 2017
Darah lengkap
Leukosit : 18.800/uL Hitung jenis
Eritrosit : 4,6juta/uL Eosinofil :0%
Hemoglobin : 9,2 g/dL (L) Basofil :0%
Hematokrit : 38% Batang : 2%
MCV : 85fL Segmen : 69%
MCH : 29 pg Monosit : 7%
MCHC : 34 g/dL Limfosit : 24%
Trombosit : 310.000/uL

Bilirubin

Bilirubin total : 22,5 mg/dL

Bilirubin direct : 15,3 mg/dL

Bilirubin indirect : 7,3 mg/dL


OT : 146
PT : 144

6
PEMERIKSAAN USG

Pemeriksaan USG upper dan lower abdomen.

Hasil:

Hepar : ukuran tak tampak membesar, parenkim homogen halus, tidak tampak lesi, V.porta,
V.hepatica tidak melebar

D. Billiaris : Intrahepatal tampak melebar, extrahepatal tak tampak melebar

V.felea : ukuran tak membesar, tak tampak batu, dinding tak menebal.

Ren dextra : ukuran tak tampak membesar, batas kotikomedulare jelas, sistem pelviocalyces
tak melebar

Ren sinistra : ukuran tak tampak melebar, batas kotikomedullare jelas, sistem pelviocalcyces
tidak melebar, tidak tampak batu

Lien : ukuran normal, parenkim homogen halus, V. Lienalis tidak melebar

Pankreas : ukuran tak membesar, tak tampak massa, parenkim homogeny,

V.Urinaria : dinding tak menebal, tak tampak massa.

Uterus : ukuran tak tampak membesar, tak tampak massa

Tampak lesi anekoik bulat, batas tegas, multiple di region caput pankreas, tak tampak
cairan bebas abdomen

Kesan :

Lesi anekoik bulat, batas tegas, multiple di region caput pankreas disertai adanya
pelebaran duktus billiaris intrahepatal
DD : massa di caput pankreas
Tak tampak kelainan lain pada organ-organ diatas secara sonografi abdominal.

7
8
E. RESUME

Seorang perempuan berusia 65 tahun mengeluh nyeri perut memberat nyeri perut

diraskan terus menerus, disertai mual dan muntah selama kurang lebih 8 hari, os juga

menerangkan bahwa ketika os makan, makanan yang dimakan terasa tertahan pada daerah

ulu hati dan seperti ingin keluar kembali, serta makanan terasa menganjal pada daerah ulu

hati . Selain os meraskan nyeri perut os juga mengeluh saat buang air kecil warna dari air

kencing os menjadi sangat kuning,kemudian di sertai kedua mata os yang juga tiba-tiba

berwarna kuning, riwayat keluarga os juga tidak ada yang seperti ini, riwayat menderita

penyakit hati disangkal, disekitar rumah os juga tidak pernah mengalami kebanjiran, keluhan

ini dirasakan kurang lebih 1 minggu, demam (-) keluhan ini sudah diraskan os sejak lama dan

os sudah pernah berobat ke dokter penyakit dalam dan dikatakan ada penyumbatan, sebelum

masuk rumah sakit os sempat berobat ke puskesmas dan hanya di beri obat, kemudian

keluhan semakin bertambah dan akhirnya os memutuskan untuk datang ke IGD Rumah Sakit

Pertamina Bintang Amin.

Dari hasil pemeriksaan lab darah didapatkan peningkatan pada leukosit

18.800/uL.dengan Hb: 9,2 Bilirubin total : 22,5 mg/dL Bilirubin direct : 15,3 mg/dL Bilirubin

indirect : 7,3 mg/dL OT : 146 PT : 144 Pemeriksaan USG didapatkan gambaran Lesi

anekoik bulat, batas tegas, multiple di region caput pankreas disertai adanya pelebaran duktus

billiaris intrahepatal

F. DIAGNOSIS
Ikterik ec Ca Caput Pankreas

G. DIAGNOSIS DIFFERENSIAL
1. Hepatitis
2. pankreatitis kronik
3. kolesistitis

9
H. TERAPI
IVFD RL 20 tpm
Inj. Ceftriaxon 2x1 gr
Inj. Ranitidin 50 mg amp
Urdafalk 3x1
Inj. Ondancentron amp 2x1
Curcuma 3x1
Scopamin 2x1
Sucralfat 3x1 C

I. PROGNOSIS
Ad vitam : Ad malam
Ad fungsionam : Dubia ad malam
Ad sanationam : Dubia ad malam

10
BAB II

PEMBAHASAN KASUS

2.1 Anatomi dan Fisiologi Pankreas

Pankreas merupakan suatu organ berupa kelenjar dengan panjang dan tebal sekitar

12,5 cm dan tebal + 2,5 cm (pada manusia). Pankreas terbentang dari atas sampai ke

lengkungan besar dari perut dan biasanya dihubungkan oleh dua saluran ke duodenum (usus

12 jari), terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum sehingga termasuk

organ retroperitonial kecuali bagian kecil caudanya yang terletak dalam ligamentum

lienorenalis. Strukturnya lunak dan berlobulus.

Gambar 2.1 Anatomi pankreas

Pankreas dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu kaput, kolum, korpus,dan kauda.

Kaput pankreas berbentuk seperti cakram dan terletak di medialduodenum, bagian dalam

cekung duodenum, berdekatan erat dengan parsdescenden duodenum. Sebagian kaput meluas

ke kiri di belakang arteria dan vena mesenterika superior serta dinamakan prosesus uncinatus.

Di antara prosesus unsinatus dan kaput pankreas melintas arteri dan vena

mesenterium superior. Diantara kaput dan korpus pankreas terdapat bagian menyempit yaitu

11
kolum, dan diposteriornya terdapat vena porta. Colum pankreatis terletak di depan pangkal

vena porta hepatis dan tempat dipercabangkannya arteri mesenterika superior dari aorta.

Dari kolum hingga hilum lienis adalah korpus dan kauda pankreas, dan antara

keduanya tidak memiliki batas yang jelas. Korpus pankreatis berjalan keatas dan kiri,

menyilang garis tengah. Pada potongan melintang sedikit berbentuk segitiga. Kauda

pankreatis berjalan ke depan menuju ligamentum lienorenal dan mengadakan hubungan

dengan hilum lienis. Pasokan Darah pankreas terutama berasal dari arteri

pankreatikoduodenalis superior dan inferior serta arteri lienalis, dan sebagian dari arteri

mesenterika superior. Percabangan tiap arteri di dalam pankreas membentuk arkus vaskular,

maka pasca reseksipartial pankreas tidak mudah timbul defisit pasokan darah ke pankreas

yang tersisa. Vena semuanya masuk ke vena lienalis dan vena mesenterika superior,kemudian

bermuara ke vena porta.

Pankreas kaya akan saluran limfatik yang saling berhubungan. Limfatik kaput

pankreas drainase ke kelenjar limfe pankreatiko duodenale anterior dan posterior serta

kelenjar limfe dekat arteri mesenterika superior. Limfe bagian korpus drainase ke kelenjar

limfe margo superior,

Getah-getah pankreas, juga disebut enzim-enzim, membantu mencerna makanan

dalam usus kecil. Ketika getah-getah pankreas dibuat, mereka mengalir kedalam saluran

utama pankreas. Saluran ini bergabung dengan saluran empedu (common bile duct),yang

menghubungkan pankreas ke hati dan kantong empedu. Saluran empedu(common bile duct),

yang membawa empedu (suatu cairan yang membantu mencerna lemak), menyambung ke

usus kecil dekat lambung.

Sel-sel endokrin atau pulau Langerhans menghasilkan sekret endokrin,yaitu insulin

dan glukagon yang penting untuk metabolisme karbohidrat. Fungsi endokrin pankreas

berkaitan dengan metabolisme dan regulasi zat nutrien tubuh,terutama terletak di pulau

12
Langerhans di kauda pankreas. Sekretnya adalah insulin, glukagon, gastrin, dan

somatostatin.Insulin mengontrol jumlah gula dalam darah. Kedua enzim-enzim dan hormon-

hormon diperlukan untuk mempertahankan tubuh bekerja dengan benar.

2.2 Kanker Pankreas

Menurut klasifikasi WHO, tumor primer eksokrin pankreas dibagi 3 bagian, yaitu

jinak (serous cyastadenoma, Mucinous cystadenoma, Intraductal papillary-mucinous

adenoma, Mature cystic teratoma). Perbatasan (Mucinous cystic tumor with moderate

dysplasia, Intraductal papillary mucinous tumor with moderate dysplasia, Solid

pseudopapillary tumor. Ganas (Ductal adenocarcinoma, serous/mucinous

cystadenocarcinoma, intraductal mucinous papillary tumor). Tumor eksokrin pankreas pada

umumnya berasal dari sel duktus dan sel asiner. Sekitar 90% merupakan tumor ganas jenis

adenokarsinoma duktus pankreas (kanker pankreas).

2.3 Etiologi

Penyebab sebenarnya kanker pankreas masih belum jelas. Penelitian epidemiologi

menunjukkan adanya hubungan kanker pankreas dengan beberapa faktor eksogen

(lingkungan) dan faktor endogen pasien. Etiologi kanker pankreas merupakan interaksi

kompleks antara faktor endogen pasien dan faktor lingkungan.

Telah diteliti beberapa faktor resiko eksogen yang dihubungkan dengan kanker

pankreas, antara lain: kebiasaan merokok, diet tinggi lemak, alkohol, kopi, dan zat karsinogen

industri. Faktor resiko yang paling tinggi adalah merokok. Pada perokok resiko kanker

pankreas adalah 1,4-2,3 kali dibanding non-perokok. Diet tinggi lemak, kolesterol dan rendah

serat terbukti meningkatkan resiko kanker pankreas bila dibandingkan dengan diet rendah

lemak dan kolesterol.

Ada tiga hal utama sebagai faktor risiko endogen yaitu usia, penyakit pankreas

(pankreatitis kronik dan diabetes mellitus) dan mutasi genetik. Insidensi kanker pankreas

13
meningkat pada usia lanjut. Pasien pankreatitis kronik mempunyai reiko tinggi 9,5 kali

berkembang menjadi kanker pankreas. DM sudah lama dianggap sebagai faktor risiko kanker

pankreas. Sekitar 80% pasien kanker pankreas disertai gangguan toleransi glukosa dan

hampir 20% klinis DM.

Pada masa kini peran faktor genetik pada kanker pankreas makin banyak diketahui.

Risiko kanker pankreas meningkat 2 kali pada pasien dengan riwayat hubungan keluarga

tingkat pertama. Sekitar 10% pasien kanker pankreas mempunyai faktor predisposisi genetik

yang diturunkan. Mutasi genetik yang banyak dijumpai pada pasien kanker pankreas adalah

gen K-ras, serta deplesi dan mutasi pada tumor suppressor genes antara lain p53,p16,DPC4,

dan BRCA2.

2.4 Patologi anatomi

Kanker pankreas hampir 90% berasal dari duktus, dimana 75% bentuk klasik

adenokarsinoma sel duktal yang memproduksi musin. Sebagian besar kasus (70%), lokasi

kanker pada kaput pankreas, 15-20% pada badan dan 10% pada ekor.pada waktu diagnosis,

ternyata tumor pankreas relatif sudah besar. Tumor yang dapat direseksi biasanya besar 2,5-

3,5 cm. pada sebagiab besar kasus tumor sudah besar (5-6 cm) dan atau telah terjadi infiltrasi

dan melekat pada jaringan sekitar, sehingga tidak dapat direseksi. Pada umumnya tumor

meluas ke retroperitoneal ke belakang pankreas, melapisi dan melekat pada pembuluh darah,

dan secara mikroskopik terdapat infiltrasi di jaringan lemak peripankreas, saluran limfe, dan

perineural. Pada stadium lanjut, kanker kaput pankreas sering bermetastasis ke duodenum,

lambung, peritonium, hati, dan kandung empedu. Kanker pankreas pada badan dan ekor

pankreas dapat metastasis ke hati, peritonium, limpa, lambung dan kelenjar adrenal kiri.

14
2.5 Manifestasi klinis

Gejala awal kanker pankreas tidak spesifik dan samar, sering terabaikan baik oleh

pasien dan dokter, sehingga sering terlambat didiagnosis, dengan akibat pengobatan lebih

lanjut akan sulit dan angka kematian sangat tinggi. Gejala awal dapat berupa rasa penuh,

kembung di ulu hati, anoreksia, mual, muntah, diare (steatore), dan badan lesu. Keluhan

tersebut tidak khas karena juga dijumpai pada penyakit dengan gangguan fungsi saluran

cerna. Keluhan awal biasanya berlangsung lebih dari 2 bulan sebelum diagnosis kanker.

Keluhan utama pasien kanker pankreas yang paling sering dijumpai adalah sakit perut, berat

badan turun dan ikterus (terutama pada kanker kaput pankreas), dan ini mencolok pada

stadium lanjut. Jumlah macam dan kualitas keluhan pasien tergantung pada letak, besar, dan

penjalaran kanker pankreas.

Sakit perut merupakan keluhan yang paling sering dijumpai pada pasien kanker

pankreas. Hampir 90% kasus dengan keluhan sakit perut, dan sebagai keluhan utama pada

80% kasus. Lokasi sakit perut biasanya pada ulu hati, awalnya difus, selanjutnya lebih

terlokalisir. Sakit perut biasanya disebabkan invasi tumor pada pleksus coeliac dan pleksus

mesenterik superior. Rasa sakit dapat menjalar kebelakang punggung pasien, disebabkan

invasi tumor ke retroperitoenal dan terjadi infiltrasi pada pleksus saraf spalnknikus. Sakit

perut yang berat menunjukkan kanker lanjut yang meluas ke jaringan sekitarnya dan sudah

tidak dapat di reseksi.

Berat badan turun lebih 10% dari berat ideal umum dijumpai pada pasien kanker

pankreas. Pada mulanya terjadi secara bertahap, kemudian menjadi progresif. Penurunan

berat badan disebabkan berbagai faktor, antara lain asupan makanan kurang, malabsorbsi

lemak dan protein, dan peningkatan kadar sitokin pro-inflamasi (tumor necrosis factor a dan

interleukin-6). Ikterus obstruktif terjadi karena obstruksi saluran empedu oleh tumor

dijumpai pada 80-90 kanker kaput pankreas dan sering terjadi lebih awal. Ikterus dapat terjadi

15
pada kanker di badan dan ekor pankreas stadium lanjut (6-13%), akibat metastasis dihati atau

limfonodi di hilus yang menekan saluran empedu. Ikterus obstruktif pada kanker kaput

pankreas biasanya disertai dengan sakit perut, tetapi bukan kolik. Hal ini berbeda dengan

ikterus tanpa nyeri (painless jaundice) yang sering dijumpai pada kanker duktus koledokus

atau kanker ampula vateri.

2.6 Pemeriksaan Laboratorium

Kelainan laboratorium pada kanker pankreas biasanya tidak spesifik. Pada pasien

kanker pankreas terdapat kenaikan serum lipase, amilase, dan glukosa. Anemia dan

hipoalbuminemia yang timbul sering disebabkan keran penyakit kankernya dan nutrisi yang

kurang. Pasien dengan ikterus obstruktif terdapat kenaikan bilirubin serum terutama bilirubin

terkonjugasi (direk), alkali fosfatase, g-GT, waktu protromin memanjang, tinja akholik, dan

bilirubinuria positif. Kelainan laboratorium lain adalah berhubungan dengan komplikasi

kanker pankreas, antara lain kenaikan transaminase akibat metastasis hati yang luas, tinja

berwarna hitam akibta perdarahan saluran cerna atas, steatorea akibat malabsorbsi lemak, dan

sebagainya.

2.7 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk menegakkan diagnosis kanker

pankreas anatara lain petanda tumor CEA (carcinoembryonic antigen) dan Ca 19-9

(carbohydrate antigenic determinant 19-9), gastroduodenografi, duodenografi hipotonis,

ultrasonografi, CT (computed tomography), skintigrafi pankreas, MRI, ERCP (Endoscopic

Retrograde Cholangio Pancreaticography), ultrasonografi endoskopik, angiografi, PET

(Positron Emission Tomography), bedah laparoskopi dan biopsi.

Kenaikan CEA didapatkan pada 85% kasus kanker pankreas, akan tetapi hal yang

sama dijumpai pada 65% kanker lain dan penyakit jinak. Dibandingkan penanda tumor

lainnya Ca 19-9 dianggap yang paling baik untuk diagnosis kanker pankreas, karena

16
mempunyai sensitivitas dan spesitivitas tinggi (80% dan 60-70%). Akan tetapi konsentrasi

yang tinggi biasanya terdapat pada pasien dengan besar tumor > 3cm, dan merupakan batas

limit reseksi tumor. Ca 19-9 juga meningkat pada pankreatitis, hepatitis dan sirosis. Ca 19-9

lebih mempunyai peranan penting untuk mengetahui prognosis dan respon terapi pada pasien

setelah mendapat terapi reseksi dan kemoterapi. Gabungan pemeriksaan Ca 19-9 dengan

PAM4 dapat meningkatkan sensitivitas deteksi awal kanker pankreas.

Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi kelainan lenkung duodenum akibat

kanker pankreas. Kelainan yang dijumpai pada kanker pankreas dapat berupa pelebaran

lengkung duodenum, filling defect pada bagian kedua duodenum (infiltrasi kanker pada

dinding duodenum), bentuk angka 3 terbalik karena pendorongan kanker pankreas yang

besar pada duodenum di atas dan di bawah papila vateri.

USG abdomen merupakan pemeriksaan penunjang pertama pada pasien dengan

keluhan sakit perut/ulu hati yang menetap atau berulang dan ikterus. Dengan USG dapat

diketahui besar, letak dan karakteristik tumor, diameter saluran empedu dan duktus

pankreatikus, dan letak obstruksi. Disamping itu dapat diketahui ada tidaknya metastasis ke

limfonodi sekitar dan hati, serta jarak tumor dengan pembuluh darah. Akan tetapi

pemeriksaan USG sangat tergantung pada keterampilan pemeriksa, keadaan pasien, dan

kecanggihan alat USG. Dengan USG Doppler dapat ditentukan ada tidaknya kelainan dan

invasi tumor pada pembuluh darah.

Gambar 2.6 USG Kanker Pankreas

17
CT abdomen walaupun lebih mahal dibandingkan USG, akan tetapi dapat memberikan

gambaran pankreas yang lebih rinci dan lebih baik terutama badan dan ekor pankreas.

Pemeriksaan yang paling baik dan terpilih untuk diagnosis dan menentukan stadium kanker

pankreas adalah dengan dual phase multidetector CT, dengna kontras dan teknik irisan tipis.

Kriteria tumor yang tidak mungkin direseksi secara CT antara lain: metastasis hati dan

peritonium, invasi pada organ sekitar (lambung, kolon), melekat atau oklusi pembuluh darah peri-

pankreatik. Dengan kriteria tersebut mempunyai akurasi hampir 100% untuk prediksi tumor tidak

dapat direseksi.

Gambar 2.7 CT Scan Kanker Pankreas

Pemeriksaan lainnya yaitu dengan MRI, meskipun kemampuan evaluasi kanker pankreas

sama dengan dual phase multidetector CT, akan tetapi gambaran anatomi pohon saluran

empedu dan duktus pankreas lebih baik dan sebanding dengan ERCP. MRI dengan kontras

angiografi atau venografi dapat menunjukkan adanya kelainan pembuluh darah pada kanker

pankreas.

18
Gambar 2.8 MRI Kanker Pankreas

Manfaat ERCP dalam diagnosis kanker pankreas adalah dapat mengetahui atau

menyingkirkan adanya kelainan gastroduodenum dan ampula vateri, pencitraan saluran

empedu dan pankreas, dapat dilakukan biopsi dan sikatan untuk pemeriksaan hostopatologi

dan sitologi. Disamping itu dapat dilakukan pemasangan stent untuk membebaskan sumbatan

saluran empedu pada kanker pankreas yang tidak dapat dioperasi atau direseksi.

2.8 Diagnosis dan Pentahapan penyakit

Sampai sat ini belum ada metode skrining dan diagnosis dini yang efektif pasien

kanker pankreas. Hal ini disebabkan gejala klinis awal kanker pankreas yang non spesifik,

rendahny sensitifitas Ca 19-9 dan pemeriksaan USG dan CT pada kanker stadium dini.

Sebagian besar pasien terlambat didiagnosis, sehingga mempersulit pengobatan pasien

dimana tidak dapat dilakukan operasi kuratif reseksi.

Pada pasien dengan kecurigaan klinis kanker pankreas, misalkan sakit perut,

dianjurkan untuk pemeriksaan Ca 19-9, USG abdomen dan radiografi saluran cerna atas. Bila

tidak didapatkan informasi padahal keluhan menetap, dianjurkan untuk pemeriksaan CT

abdomen. Pada masa kini CT abdomen adalah metode diagnostik yang efektif, terpilih dan

paling banyak diapakai dalam klinis untuk diagnosis dan pentahapan kanker pankreas pre

19
operatif.pentahapan kanker pankreas yang akurat sangat penting dalam pengelolaan pasien,

yaitu untuk memprediksi tindakan operasi (reseksi kuratif atau paliatif). Kriteria tumor yang

tidak mungkin direseksi secara CT antara lain: metastasis ke hati dan peritonium, invasi pada

organ sekitar (lambung, kolon), melekat atau oklusi pada pembuluh darah peri-penkreatik.

Konfirmasi histopatologik kanker pankreas mutlak diperlukan. Gambaran radiologik dan

endoskopik makin meningkatkan akurasi pentahapan pre-operatif, terutama menentukan

invasi lokal dan nodul metastasis sekitar pankreas. Pada pasien yang tidak dapat direseksi

atau kontraindikasi operasi, dapat dilakukan biopsi atau aspirasi jarum kecil dengan bantuan

USG atau CT.

Klasifikasi berdasarkan TNM, T1 terbatas pancreas, <2 cm, T2 terbatas pancreas,

>2cm T3 meluas ke duodenum atau saluran empedu, T4 meluas ke v.porta, v.mesenterik

anterior, a.mesenterikasuperior, lambung, limpa dan kolon, N0 tidak ada mestastasis kelenjar

limfe regional, N1 mestastasis kelenjar limfe regional, M0 tidak ada metastasis jauh, M1

metastasis jauh (hati, paru).

2.9 Diagnosis Banding

Hepatitis Keluhan utama berupa rasa tak enak abdomen atas ataupun nyeri

abdomendari kanker pankreas perlu dibedakan dari kelainan kronis lambung,

kolelitiasis,pancreatitis kronis, dan hepatitis. Kanker pankreas berprogresi cepat, efek

sistemik relatif besar, dan dalam jangka pendek pasien jelas mengurus. Dengan pemeriksaan

laboratorium penunjang dan pencitraan, sebagian besar dapat dibedakan. Tapi dengan

penkreatitis kronis pembedaan sulit, bahkan bila perlu harus dilakukan biopsi jarum halus

perkutan atau biopsi jarum halus intraoperatif untuk memastikannya.

2.10 Pengobatan

Terdapat berbagai metode pengobatan terhadap pasien kanker pankreas, yaitu bedah

reseksi kuratif, bedah paliatif, kemotreapi paliatif, radiasi paliatif dan simtomatik.

20
Pengobatan yanag paling efektif pada kanker pankreas adalah bedah reseksi komplit terhadap

tumor. Akan tetapi hanya dapat dilakukan pada 10-15% kasus kanker pankreas, biasanya

pada kanker kaput pankreas dengan gejala awal ikterus. Terdapat berbagai pilihan metode

bedah yang disesuaikan dengan kondisi tumor/pasien dan pengalaman dokter bedahnya.

Walaupun dapat dilakukan bedah reseksi kuratif, akan tetapi angka kelestarian hidup 5 tahun

hanya 10%.

Sebagian besar pasien (85-90%) hanya dapat dilakukan bedah paliatif untuk

membebaskan obstruksi bilier, dengan cara bedah pintas bilier, pemasangan stent perkutan

dan pemasangan stent perendoskopik. Stenting endoskopik lebih baik daripada bedah pintas

bilier dalam hal morbiditas, mortalitas akibar tindakan, dan kematian 30 hari. stenting

endoskopik lebih baik daripada perkutan, dalam hal membersihkan ikterus dan kematian 30

hari.

Pengobatan kemoterapi pada kanker pankreas stadium lanjut masih jauh dari

memuaskan. Kemoterapi tunggal maupun kombinasi tidak berhasil memperpanjang usia

pasien dan atau meningkatkan kualitas hidup. Beberapa kemoterapi tunggal seperti 5 FU,

motimisin C, dapat memperkecil besar tumor, akan tetapi tidak atau hanya sekali sedikit

memperpanjang usia pasien (kurang 20 minggu).

Pemberian radioterapi telah dicobakan dengan berbagai cara, antara lain kombinasi 5 FU

dengan radioterapi, kemoradioterapi pre operasi, atau waktu operasi.

Pengelolaan kontrol rasa sakit pada pasien kanker pankreas diberikan secara bertahap

tergantung berat ringan sakit dan respon pasien. Sakit ringan dan sedang dapat dimulai

dengan pemberian analgesik seperti aspirin, asetaminofen, dan obat anti inflamasi non

steroid. Bila gagal atau sakit berat diberikan obat analgesik narkotik seperti morfin, kodein,

meperidin, dan sebagainya. Pengobatan simtomatik lainnya berupa dietetik dan substitusi

enzim pankreas pada malnutrisi, pengobatan terhadap diabetes, dan sebagainya.

21
2.11 Prognosis

Prognosis karsinoma pankreas buruk, dan survival 5 tahun keseluruhan tak sampai

10%. Karsinoma terlokalisasi kaput pankreas tanpa metastasis pascareseksi memiliki angka

survival jangka panjang hanya 20%, dengan masa survival median berkisar 13-20 bulan.

Walaupun dilakukan operasi radikal pankreatiko duodenektomi, rekurensi tetap tinggi. Pasien

yang hanya dioperasimemiliki rekurensi lokal mencapai 85%, sedangkan dari yang

mendapatkanradioterapi dan kemoterapi selain operasi, terdapat 50-70% menderita

rekurensilokal serta metastasis terutama ke hati. Karsinoma invasif lokal tapi tanpametastasis

paska operasi memiliki masa survival median 6-10 bulan, tetapi bila dengan metastasis masa

survival lebih pendek, hanya 3-6 bulan, ditentukan dari kondisi umum dan keparahan

penyakitnya.

22
BAB III

ANALISA KASUS

Seorang perempuan berusia 65 tahun mengeluh nyeri perut memberat nyeri perut

diraskan terus menerus, disertai mual dan muntah selama kurang lebih 8 hari, os juga

menerangkan bahwa ketika os makan, makanan yang dimakan terasa tertahan pada daerah

ulu hati dan seperti ingin keluar kembali, serta makanan terasa menganjal pada daerah ulu

hati . Selain os meraskan nyeri perut os juga mengeluh saat buang air kecil warna dari air

kencing os menjadi sangat kuning,kemudian di sertai kedua mata os yang juga tiba-tiba

berwarna kuning, riwayat keluarga os juga tidak ada yang seperti ini, riwayat menderita

penyakit hati disangkal, disekitar rumah os juga tidak pernah mengalami kebanjiran, keluhan

ini dirasakan kurang lebih 1 minggu, demam (-) keluhan ini sudah diraskan os sejak lama dan

os sudah pernah berobat ke dokter penyakit dalam dan dikatakan ada penyumbatan, sebelum

masuk rumah sakit os sempat berobat ke puskesmas dan hanya di beri obat, kemudian

keluhan semakin bertambah dan akhirnya os memutuskan untuk datang ke IGD Rumah Sakit

Pertamina Bintang Amin.

Dari hasil pemeriksaan lab darah didapatkan peningkatan pada leukosit

18.800/uL.dengan Hb: 9,2 Bilirubin total : 22,5 mg/dL Bilirubin direct : 15,3 mg/dL Bilirubin

indirect : 7,3 mg/dL OT : 146 PT : 144 Pemeriksaan USG didapatkan gambaran Lesi

anekoik bulat, batas tegas, multiple di region caput pankreas disertai adanya pelebaran duktus

billiaris intrahepatal

Sakit perut merupakan keluhan yang paling sering dijumpai pada pasien kanker

pankreas. Hampir 90% kasus dengan keluhan sakit perut, dan sebagai keluhan utama pada

80% kasus. Lokasi sakit perut biasanya pada ulu hati, awalnya difus, selanjutnya lebih

terlokalisir. Sakit perut biasanya disebabkan invasi tumor pada pleksus coeliac dan pleksus

mesenterik superior. Rasa sakit dapat menjalar kebelakang punggung pasien, disebabkan

23
invasi tumor ke retroperitoenal dan terjadi infiltrasi pada pleksus saraf spalnknikus. Sakit

perut yang berat menunjukkan kanker lanjut yang meluas ke jaringan sekitarnya dan sudah

tidak dapat di reseksi.

Berat badan turun lebih 10% dari berat ideal umum dijumpai pada pasien kanker

pankreas. Pada mulanya terjadi secara bertahap, kemudian menjadi progresif. Penurunan

berat badan disebabkan berbagai faktor, antara lain asupan makanan kurang, malabsorbsi

lemak dan protein, dan peningkatan kadar sitokin pro-inflamasi (tumor necrosis factor a dan

interleukin-6). Ikterus obstruktif terjadi karena obstruksi saluran empedu oleh tumor

dijumpai pada 80-90 kanker kaput pankreas dan sering terjadi lebih awal. Ikterus dapat terjadi

pada kanker di badan dan ekor pankreas stadium lanjut (6-13%), akibat metastasis dihati atau

limfonodi di hilus yang menekan saluran empedu. Ikterus obstruktif pada kanker kaput

pankreas biasanya disertai dengan sakit perut, tetapi bukan kolik. Hal ini berbeda dengan

ikterus tanpa nyeri (painless jaundice) yang sering dijumpai pada kanker duktus koledokus

atau kanker ampula vateri.

24
BAB IV

KESIMPULAN

Kanker pankreas merupakan salah satu tumor saluran cerna yangsering ditemukan.

Belakangan ini insidennya cenderung meningkat. Etiologi masih belum jelas, namun

beberapa faktor resiko yang dihubungkan dengan kanker pankreas, antara lain: kebiasaan

merokok, diet tinggi lemak, alkohol, kopi, dan zat karsinogen industri.

Gejala awal kanker pankreas tidak spesifik dan samar, sering terabaikan baik oleh

pasien dan dokter, sehingga sering terlambat didiagnosis, dengan akibat pengobatan lebih

lanjut akan sulit dan angka kematian sangat tinggi. Gejala dapat berupa rasa penuh, kembung,

nyeri di ulu hati, anoreksia, mual, muntah, diare (steatore), badan lesu, penurunan berat

badan, dan ikterus.

Pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk menegakkan diagnosis kanker

pankreas anatara lain petanda tumor CEA (carcinoembryonic antigen) dan Ca 19-9

(carbohydrate antigenic determinant 19-9), gastroduodenografi, duodenografi hipotonis,

ultrasonografi, CT (computed tomography), skintigrafi pankreas, MRI, ERCP (Endoscopic

Retrograde Cholangio Pancreaticography), ultrasonografi endoskopik, angiografi, PET

(Positron Emission Tomography), bedah laparoskopi dan biopsi.

Ppengobatan terhadap pasien kanker pankreas, yaitu bedah reseksi kuratif, bedah paliatif,

kemotreapi paliatif, radiasi paliatif dan simtomatik.

Prognosis karsinoma pankreas buruk, dan survival 5 tahun keseluruhan tak sampai

10%. Karsinoma terlokalisasi kaput pankreas tanpa metastasis pascareseksi memiliki angka

survival jangka panjang hanya 20%, dengan masa survival median berkisar 13-20 bulan.

25