Anda di halaman 1dari 10

PENGENDALIAN OPERASI

TUJUAN PENGENDALIAN OPERASI

Tujuan pengendalian operasi sistem tenaga yaitu mengatur operasi sistem


pembangkitan dan sistem penyaluran secara rasional dan ekonomis dengan
memperhatikan mutu dan keandalan, sehingga penggunaan tenaga listrik dapat
mencapai daya guna dan hasil guna yang semaksimal mungkin

KRITERIA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK


Dalam memenuhi perubahan fluktuasi beban dalam menyediakan tenaga
listr:ik harus memenuhi 3 faktor yang saling berkaitan satu samu lainnya yaitu:

EKONOMIS / MURAH
Biaya operasi (fuel cost) dari unit pembangkit yang bermacam-macam jenis
harus semurah mungkin

MUTU
Tolok Ukurnya Adalah Tegangan & Frekuensi

KEANDALAN
Tolok ukurnya kontinyuitas pasokan daya

SASARAN PENGENDALIAN OPERASI SISTEM

Memenuhi kebutuhan tenaga listrik para pelanggan setiap saat

Mengatur pembagian beban masing-masing pembangkit setiap saat


sehingga dicapai biaya produksi yang ekonomis

Mengatur tersedianya cadangan pembangkit yang cukup setiap saat


sehingga keandalan dapat dipertahankan
KONDISI OPERASI

Kondisi normal : Seluruh konsumen dapat dilayani, kendala operasi teratasi


dan sekuriti sistem dapat dipenuhi.

1. Konfigurasi jaringan ditetapkan sedemikian rupa sehingga andal,


memenuhi kriteria keamanan N 1.

2. Mutu terpenuhi dalam hal ini baik Frekuensi maupun tegangan sesuai
nominal yang ditentukan

3. Tidak terjadi penyimpangan yang signifikan dari rencana operasi harian


(kendala operasi, beban dan sekuriti terpenuhi)

Kondisi siaga : Seluruh konsumen dapat dilayani, namun sistem


kekurangan cadangan operasi, artinya cadangan tidak sebesar pembangkit
terbesar, tidak memenuhi kriteria keamanan N 1.

Kondisi darurat : Sistem tenaga listrik tidak normal, sebagian konsumen


tidak dapat terlayani. Ketidaknormalan dapat terjadi pada sisi pembangkitan
ataupun sistem penyaluran, kendala operasi tidak dapat dipenuhi.

Kondisi pemulihan : Peralihan kondisi, dari Darurat menjadi Siaga


maupun Normal

WEWENANG OPERASI

Dispatcher BOPS P3B :

1. Pembangkit yang tersambung ke sistem 500 kV

2. SUTET & GITET 500 kV


3. Pembangkit yang tersambung ke sistem 150 kV dengan kapasitas > 50
MW, mempengaruhi frekuensi STL, perintah start,naik turun pembangkit
di perintah RCC, atas permintaan JCC

Dispatcher Region

1. Pembangkit yang tersambung ke sistem 150 kV, dengan kapasitas kecil

2. SUTT/GI 150 kV, 70 kV dan 30 kV

Dispatcher DCC

1. Rel 20 kV dan Penyulang 20 kV

JENIS OPERASI

Operasi jaringan tertutup (looping)


Dengan konfigurasi ini diharapkan keandalan pasokan tenaga listrik lebih
terjamin, sepanjang kriteria sekuriti N-1 terpenuhi

Operasi spliting
Pola ini digunakan untuk menghindari gangguan berantai (cascade) dan
untuk menghindari pengoperasian intstalasi pada level arus hubung singkat
yang lebih tinggi. Pola ini cocok untuk jaringan dengan kriteria sekuriti N-1
sudah tidak terpenuhi lagi

Operasi radial (satu arah)


Keandalannya rendah karena pasokan hanya dari satu arah saja. Tingkat
keandalannya tergantung dari double sirkit yang berbeban masing-masing <
50 % (memenuhi kriteria sekuriti N-1)

STRATEGI PENGATURAN FREKUENSI


Daya aktif (MW) berhubungan erat dengan frekuensi (Hz). Jika daya aktif yang
dibangkitkan sama dengan kebutuhan konsumen maka frekuensi sama
dengan 50 Hz, kondisi normal unit pembangkit beroperasi free governor dan
beberapa unit pembangkit besar dengan pengaturan load frequency control.

KESETIMBANGAN PEMBANGKITAN DAN BEBAN

Frekuensi system + 50 HZ
Menunjukkan keseimbangan sesaat antara daya nyata (MW) pembangkitan
dengan daya nyata (MW) dikonsumsi beban, bernilai nominal (= 50 Hz) pada
saat daya nyata pembangkitan = daya nyata konsumsi beban

Frekuensi system > 50 HZ


Bernilai nominal di atas 50 Hz, pada saat daya nyata pembangkitan lebih
besar dari daya nyata konsumsi beban, untuk mengembalikan ke 50 Hz,
daya nyata pembangkitan dikurangi

Frekuensi system < 50 HZ


Bernilai nominal di bawah 50 Hz, pada saat daya nyata pembangkitan lebih
kecil dari daya nyata konsumsi beban, untuk mengembalikan ke 50 Hz, daya
nyata pembangkitan ditambah

PENGATURAN FREKUENSI

Meskipun Beban Konsumen Selalu Berubah-Ubah, Frekuensi Sistem Harus


Tetap Dipertahankan Pada Nominal 50 Hz, dengan Toleransi +/- 0,2 Hz.

Langkah pengendalian menjaga frekuensi pada keadaan nominal 50 Hz:

1. Pengaturan primer dari unit pembangkit yang beroperasi Free Governor

2. Pengaturan sekunder oleh program Load Frequency Control ( LFC )

3. Pengaturan pembebanan unit pembangkit secara manual (load follower)

4. Pelepasan Beban (Manual & Automatic Load Shedding)


PENGATURAN TEGANGAN

Tegangan sistem harus diupayakan dalam batasan yang diijinkan : +/- 5% untuk
tegangan 500 kV dan +5% atau -10% untuk tegangan 150/70/20 kV

Komponen pengaturan tegangan yaitu:

Pengaturan MVAR (daya reaktif) Pembangkit


Saat sistem kelebihan daya reaktif yang ditandai dengan tingginya tegangan
sistem (diatas nominal), maka pembangkit dapat dioperasikan dengan
modus menyerap daya reaktif (leading power factor), Saat sistem
kekurangan daya reaktif yang ditandai dengan rendahnya tegangan sistem
maka pembangkit dapat dioperasikan dengan modus membangkitkan daya
reaktif (lagging power factor)

Pengaturan Reaktor
Reaktor mempunyai sifat menyerap MVAR sesuai dengan
kemampuannya,oleh karena itu reaktor dapat digunakan untuk pengaturan
tegangan. Sistem jawa bali mempunyai reaktor 500 kV dan 66 kV.

Pengaturan Capasitor
Capasitor mempunyai sifat membangkitkan MVAR sesuai dengan
kemampuannya,oleh karena itu capasitor dapat digunakan untuk pengaturan
tegangan

Tap Stagering IBT


IBT dioperasikan dengan kondisi tap yang berbeda, pada kondisi tersebut
IBT dapat menyerap MVAR

Modus Operasi Sirkit Tunggal


Pengaturan tegangan bersifat lokal, maka pengaturan tegangan dengan
modus operasi sirkit tunggal pada sirkit ganda SUTET 500 kV atau SUTT
150 kV dilakukan dilokasi yang tegangannya tinggi.
WORKING PERMIT

Prosedur yang harus dilakukan sebelum pekerjaan pemeliharaan jaringan harus


mempersiapkan working permit

Tujuan working permit yaitu :

1. Mengetahui penanggung jawab pekerjaan

2. Mengetahui urutan manuver

3. Mengetahui penanggung jawab manuver jaringan

4. Mengurangi timbulnya kesalahan pd saat manuver


DEFENSE SCHEME

Sistem pertahanan operasi Sistem Tenaga Listrik yang bertujuan untuk menjaga
atau mengembalikan sistem tetap pada batasan normal operasi serta mencegah
gangguan meluas bahkan blackout, saat terjadi gangguan yang berpotensi
mengganggu kestabilan sistem.

Jenis Defense Scheme


Berdasarkan jenis parameter sensor, defense scheme dapat dibagi menjadi :
o Frekuensi , contoh : OFGS, UFLS, Island Operation.
o Tegangan, contoh : UVLS, OVTS.
o Pembebanan Peralatan, contoh : OLS, OGS

Berdasarkan jenis besaran sensor frekuensi , defense scheme frekuensi dapat


dibagi menjadi :
o OFGS
o UFLS
o Island Operation

a. OFGS (Over Frequency Generation Shedding)


Over Frequency Generation Shedding , yaitu skema pengaman sistem
berdasarkan sensor frekuensi sistem yang melepaskan beberapa
pembangkit tertentu saat terjadi frekuensi lebih untuk mencegah terjadinya
cascading trip pembangkit besar lainnya akibat overspeed, agar frekuensi
kembali ke kondisi/ besaran nominal. Skema pengaman ini biasanya dibuat
menjadi beberapa tahap untuk meminimalkan besar pembangkit yang
dilepaskan.
Contoh Kasus : saat terjadi kehilangan beban konsumen yang cukup besar
(beberapa IBT Trip secara bersamaan) atau lepas koneksi dengan
subsistem lain.
b. UFLS (Under Frequency Load Shedding)
Under Frequency Load Shedding , yaitu skema pengaman sistem
berdasarkan sensor frekuensi sistem yang melepaskan sejumlah beban
konsumen tertentu saat terjadi frekuensi kurang untuk mencegah terjadinya
cascading trip pembangkit akibat underspeed, agar frekuensi kembali ke
kondisi/ besaran nominal. Skema pengaman ini biasanya dibuat menjadi
banyak tahap untuk meminimalkan besar beban konsumen yang
dilepaskan.
Contoh Kasus : saat terjadi kehilangan pasokan sistem akibat gangguan
pembangkit atau lepas koneksi dengan subsistem lain.

c. Island Operation
Operasi Pulau , yaitu skema pengaman sistem berdasarkan sensor frekuensi
sistem yang melepaskan sejumlah koneksi transmisi tertentu saat terjadi
frekuensi kurang yang sangat ekstrim untuk membentuk beberapa sistem
pulau terpisah agar terbentuk keseimbangan frekuensi baru antara beberapa
pembangkit dan beban konsumen yang sudah di-desain sebelumnya. Skema
ini di-desain bekerja pada frekuensi ekstrim tertentu bila UFLS gagal
mengembalikan frekuensi ke kondisi/ besaran nominal untuk mencegah
terjadinya blackout total

Contoh Kasus : saat terjadi kehilangan pasokan sistem yang ekstrim akibat
cascading trip pembangkit atau lepas koneksi dengan subsistem lain.
SETTING GTRIP OVER SPEED UNIT KIT 52,0 Hz OPERASI HOUSE LOAD PEMBANGKIT
51,0 Hz OVER SPEED PLTD SEWA
OFGS
BATAS ATAS FREK.NOMINAL SISTEM 50,5 Hz
FREKUENSI NOMINAL SISTEM 50,0 Hz FREKUENSI NOMINAL SISTEM
BATAS BAWAH FREK.NOMINAL SISTEM 49,5 Hz UFR TAHAP 0
UFR TAHAP 1 49,3 Hz MELEPAS BEBAN (SUMUT : 81.6 MW ; ACEH 14.5 MW )
UFR TAHAP 2 49,1 Hz MELEPAS BEBAN (SUMUT : 117 MW ; ACEH 18.1 MW )
UFR TAHAP 3 48,9 Hz MELEPAS BEBAN (SUMUT : 105 MW ; ACEH 22 MW ) UFLS
UFR TAHAP 4 48,8 Hz MELEPAS BEBAN (SUMUT : 124 MW ; ACEH 25 MW )
UFR TAHAP 5 48,7 Hz MELEPAS BEBAN (SUMUT : 136 MW ; ACEH 27 MW )
ISLAND TAHAP 1 48,6 Hz ISLAND INALUM, ISLAND PLN
UFR TRAFO DAYA 48,5 Hz SKEMA UFR TAHAP 1 TRAFO DAYA (TD 2, TD 3 PAYA GELI ; TD 1 AKNPAN) (LWBP:30 MW , WBP 50 MW)
ISLAND TAHAP 2 48,4 Hz ISLAND SUMUT, ISLAND ACEH,
UFR TRAFO DAYA 48,3 Hz SKEMA UFR TAHAP 2 TRAFO DAYA (TD GISLIK, GLUGR, KIM) (LWBP : 23 MW; WBP : 50 MW)
UFR TRAFO DAYA 48,2 Hz SKEMA UFR TAHAP 3 TRAFO DAYA (TD TMORA, GPARA, TELE)
ISLAND TAHAP 3 48,1 Hz ISLAND MEDAN, ISLAND TAPANULI Island
ISLAND TAHAP 4 48,0 Hz ISLAND LABUHAN, SICANANG, PLTU P. SUSU, RENUN, TOBA, LANGSA DAN BANDA ACEH
ISLAND TAHAP 5 47.9 Hz ISLAND PLTGU, ISLAND PLTU, ISLAND P. PASIR Operation
SETTING GTRIP UNDER SPEED UNIT KIT 47,5 Hz OPERASI HOUSE LOAD PEMBANGKIT

Contoh Defense Scheme Frekuensi UPB Sumut

Bedasarkan jenis objek yang terkendala, defense scheme pembebanan peralatan


dapat dibagi menjadi :
o OLS
o OGS

a. OLS (Over Load Shedding)


Yaitu skema pengamanan sistem untuk mengamankan operasional instalasi
penyaluran (penghantar/trafo) yang sudah tidak memenuhi kriteria N-1
akibat kelebihan beban dengan konsumen dengan cara melepas beban
konsumen yang ada disisi terima instalasi tersebut. Skema pengaman ini
biasanya dibuat menjadi beberapa tahap untuk meminimalkan besar beban
konsumen yang dilepaskan.
Contoh kasus : saat terjadi 1 buah IBT trip yang beroperasi secara paralel di
sebuah GITET.
b. OGS (Over Generation Shedding)
Yaitu skema pengaman sistem untuk mengamankan operasional instalasi
penyaluran (penghantar/trafo) yang sudah tidak memenuhi kriteria N-1
akibat kelebihan beban pembangkitan dengan cara melepas sebagian unit
pembangkit yang ada disisi kirim instalasi tersebut. Skema pengaman ini
biasanya dibuat menjadi beberapa tahap untuk meminimalkan jumlah unit
pembangkit yang dilepaskan.
Contoh kasus : saat terjadi 1 buah penghantar trip yang beroperasi secara
paralel sebagai jalur evakuasi suatu pusat pembangkit.