Anda di halaman 1dari 17

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

AN Nama Pekerjaan : Rehabilitasi Daerah Irigasi Paniki Kolongan


Lokasi : Kabupaten Minahasa Utara
Tahun Anggaran : 2017

I. PEKERJAAN PERSIAPAN

A. Mobilisasi dan Demobilisasi


Mendatangkan personil-personil dan alat-alat kerja beserta bahan yang akan digunakan dalam
pekerjaan.
1. Mobilisasi personil
Tenaga kerja harus dipersiapkan lebih awal sebelum pekerjaan dimulai. Personil yang akan
digunakan dalam proyek ini antara lain:
1. General Superitendent : 1 Orang
2. Quantity Engener : 1 Orang
3. Quality Enginer : 1 Orang
4. Pelaksana Lapangan : 1 Orang
5. Administrasi : 1 Orang
6. Pekerja : 82 Orang
7. Tukang Batu : 27 Orang
8. Kepala Tukang : 4 Orang
9. Mandor : 10 Orang
10. Operator Excavator : 2 Orang
11. Supir Dump Truck : 4 Orang
12. Mekanik : 1 Orang

2. Mobilisasi alat
Peralatan yang akan digunakan di lapangan harus dipersispkan paling lambat 3 hari sebelum
pekerjaan dimulai. Peralatan yang akan digunakan dalam proyek ini antara lain:
1. Concrete Mixer : 1 unit
2. Excavator : 2 unit
3. Dump Truck : 4 unit
Semua peralatan utama merupakan milik sendiri. Mobilisasi peralatan dapat dilakukan pada awal
pekerjaan dan demobilisasi dilakukan pada mingggu akhir pekerjan setelah pekerjaan selesai.

3. Mobilisasi bahan
Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini seperti semen, pasir, krikil, batu kali, baja tulangan,
kawat beton, paku dan yang lainnya diangkut ke tempat penyimpanan sesuai jadwal yang akan
dipersiapkan.

B. Shop Drawing
Sebelum mengerjakan pekerjaan, terlebih dahulu membuat Gambar-gambar kerja (shop
drawing) yang acuannya dari Gambar Rencana yang terakhir. Jika terdapat perbedaan antara
gambar kerja dengan keadaan sebenarnya di lapangan, maka yang dilaksanakan adalah
keputusan yang diberikan oleh Direksi. Selanjutnya melakukan penggambaran kembali tapak
proyek sesuai dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Pada keadaan dimana ada
penyimpangan dari gambar rencana, akan mengajukan 3 (tiga) lembar gambar penampang dari
daerah yang dipatok. Direksi akan membubuhkan tanda tangan persetujuan atau pendapat /
revisi pada satu lembar gambar tersebut dan mengembalikannya kepada kontraktor. Setelah
diperbaiki, diajukan kembali gambar yang Direksi diminta untuk direvisi. Gambar tersebut
akan digambar kembali diatas kertas A3 dan setelah disetujui oleh Direksi, mka
diserahkan kepada Direksi gambar asli dan 3 (tiga) lembar hasil rekamannya.

C. Penyediaan Lokasi Hasil Galian


Lokasi Hasil Galian akan dipersiapkan, sebelum melaksanakan pekerjaan galian dengan
persetujuan Direksi/Pengawas.

D. Penyediaan Air Bersih


Untuk pengadaan air bersih diperlukan satu buah mesin pompa untuk distribusi air bersih.
Pemasangan pompa air dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pemantekan untuk
mendapatkan sumber air, kemudian dilakukan pemasangan pipa dan kran air. Air bersih
ditampung dalam toren air . Air bersih dapat juga diperoleh dari sumber existing yang ada
dengan penyambungan dan membayar sejumlah biaya yang telah ditentukan.

E. Pemasangan Bowplank
1. Pada setiap pembuatan bangunan dan bangunan, dipasang bouwplank/profil dan
mencantumkan elevasi serta nama bangunannya. Pemasangan bouwplank/ profil berdasarkan
peil elevasi ketinggian dari patok hasil pengukuran Uitzet dan pemasangannya dapat
dilaksanakan apabila pengukuran dinyatakan selesai dan benar serta mendapat persetujuan dari
Direksi.

2. Bouwplank dibuat dari papan kayu kelas III yang lurus dan rata, untuk membimbing
pelaksanaan dilapangan digunakan tarikan benang dan kapur bangunan agar terlihat bentuk
tanah yang akan digali ataupun bangunan yang akan dipasang, untuk pekerjaan tanah profil
dipasang setiap jarak 25 m ataupun lebih rapat bila diperlukan sehingga terlihat penampang
yang harus digali ataupun yang harus ditimbun.

F. Pembersihan Lahan dan Pembuangannya


Membersihkan lokasi / lapangan kerja bangunan dan bangunan yang akan dikerjakan dari
kotoran-kotoran, rerumputan, semak belukar, pepohonan, tonggak-tonggak (sampai dengan
kedalaman 1 m dari permukaan tanah), dan semua rintangan permukaan kecuali bangunan-
bangunan sampai permukaan tanahnya kelihatan.
Hasil-hasil dari pembersihan (rerumputan, semak belukar, pepohonan, tonggak-tonggak dan
sampah lainnya) akan dibakar sampai habis pada lokasi yang aman, dijaga dan tidak
membahayakan/merugikan lingkungan sekitarnya. Sisa pembakaran yang dipastikan tidak ada
lagi api yang menyala/membara ditanam dan diurug kembali secara rapi.

G. Pemasangan Papan Nama Proyek


1. Menyiapkan papan nama dari papan playwood 5 mm dicat warna dasar putih dengan redaksi
dan ukuran 1,50 m x 1,00 m
2. Menulis pada papan dengan tulisan warna hitam, teks sesuai petunjuk Direksi.
3. Pemasangan papan-papan nama dilengkapi tiang-tiang penyangga dan pondasi yang cukup
stabil dan dipasang di lokasi yang disetujui direksi.

H. Penyediaan Kantor Direksi


Merundingkan terlebih dahulu dengan Direksi mengenai pembagian halaman untuk bangunan
sementara. Selanjutnya membuat bangunan sementara yang terdiri dari tempat penimbunan
barang- barang, gudang, ruang Direksi, ruang Kontraktor, kamar mandi/WC dan ruang- ruang lain
yang dianggap perlu.
Menyediakan sebuah bangunan untuk direksikeet minimal 20 m2 dan dilengkapi panil-panil
untuk menempel gambar-gambar.
Ruang Direksi dilengkapi minimal dengan:
- set meja kerja dan kursi
- 1 set meja rapat dan kursi, kapasitas minimal untuk 12 orang
- 1 set meja dan kursi tamu
- 1 white board
Menyediakan kantor lapangan, akomodasi kantor yang cocok dan fasilitas yang memenuhi
kebutuhan proyek di tempat-tempat pekerjaan penting. Memelihara bangunan sementara yang
telah ada di lapangan dan memperbaiki/mengganti kerusakan yang terjadi selama masa
pelaksanaan. Bangunan-bangunan seperti ruang Direksi, los kerja dan bangunan sementara akan
dibongkar setelah mendapat persetujuan Direksi.

I. Pembersihan Sisa Material dan Fasilitas Sementara


Selama periode pelaksanaan pekerjaan, memelihara pekerjaan bebas dari akumulasi sisa bahan
bangunan, kotoran dan sampah, yang diakibatkan oleh operasi pelaksanaan. Pada saat selesainya
pekerjaan, semua sisa bahan bangunan dan bahan-bahan tak terpakai, sampah, perlengkapan,
peralatan dan mesin-mesin disingkirkan, seluruh permukaan terekspos yang nampak dibersihkan,
termasuk juga semua fasilitas sementara seperti gudang, kantor lapangan dan jembatan sementara,
sehingga proyek ditinggal dalam kondisi siap pakai dan diterima oleh direksi pekerjaan.

Sebelum pekerjaan pengukuran dimulai, tapak proyek dibersihkan dari rumput, semak-semak,
lumpur, akan pohon, tanah humus, puing-puing dan segala sesuatu yang tidak diperlukan atau
dapat menggangu jalannya pekerjaan. Penebangan pohon-pohon sesuai dengan petunjuk Direksi.
Semua barang bekas bongkaran harus dikeluarkan dari lokasi, selambat-lambatnya sebelum
pekerjaan galian tanah dimulai.

Pembersihan Selama Pelaksanaan


1. Melakukan pembersihan secara teratur untuk menjamin bahwa tempat kerja, struktur, kantor
sementara, tempat hunian dipelihara bebas dari akumulasi sisa bahan bangunan, sampah dan
kotoran lainnya yang diakibatkan oleh operasi-operasi di tempat kerja dan memelihara tempat
kerja dalam kondisi rapi dan bersih setiap saat.
2. Bilamana dianggap perlu, menyemprot bahan dan sampah yang kering dengan air untuk
mencegah debu atau pasir yang beterbangan.
2. Menyediakan drum di lapangan untuk menampung sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah
sebelum dibuang.
3. Membuang sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah ditempat yang telah ditentukan sesuai
dengan Peraturan Pusat dan Daerah dan Undang-undang Pencemaran Lingkungan yang berlaku.

Pembersihan Akhir
Pada saat penyelesaian pekerjaan, tempat kerja ditinggal dalam keadaan bersih dan siap untuk
dipakai dan mengembalikan bagian-bagian dari tempat kerja yang tidak diperuntukkan dalam
dokumen kontrak ke kondisi semula, membongkar bangunan-bangunan atau fasilitas penunjang
sementara yang dibangun.

J. Penerangan dan Keselamatan Kerja


1. Mengutamakan keselamatan kerja dengan menyediakan sarana pengamanan kerja baik itu
berupa helm, sepatu, pakaian pelindung dan pengaman lain yang diperlukan.
2. Menyelenggarakan, membangun tanda-tanda bahaya dan isyarat-isyarat yang sesuai dan cukup
serta mengambil tindakan pencegahan yang perlu untuk perlindungan pekerjaan dan keselamatan
umum. Jalan-jalan yang tertutup bagi lalulintas harus dilindungi dengan perintang yang cukup,
perintang tersebut diberi penerangan atau lampu dan dinyalakan mulai sejak matahari terbenam
hingga matahari terbit.
3. Berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat untuk menghindari hal hal yang tidak
diinginkan.
4. Menjaga kebersihan agar menjamin kesehatan lingkungan.
5. Menyediakan kotak obat lengkap dengan obat-obatan untuk memberi pertolongan darurat bila
ada petugas/pekerja yang sakit.
6. Mengasuransikan tenaga kerja.
7. Penginapan untuk petugas/pekerja layak dan memenuhi syarat kesehatan.
8. Menyediakan fasilitas sebagai berikut;
- Listrik dan penerangan untuk kebutuhan pelaksanaan pekerjaan dan keamanan.
- Air minum atau air bersih yang dapat diminum untuk semua keperluan selama pelaksanaan
pekerjaan dan semua petugas yang ada diproyek.
- Alat-alat pemadam kebakaran.
- Alat-alat P3K.
- Kamar mandi dan WC untuk pekerjaan lapangan termasuk septictank sementara.
- Alat Komunikasi.
- Alat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
- Alat pengendalian dan pengamanan lalu lintas.

II. UTILIZAT/PENGUKURAN

A. Pengecekan Patok BM dan pemasangan patok CP


1. Memastikan bahwa patok batas lahan, pada tiap sudut perimeter lahan sesuai dengan data
Badan Pertanahan Nasional
2. Jika patok yang ada belum permanen (tidak dicor) atau tidak terlindungi dengan baik, dibuat
patok beton dengan cor dan memasang titik batas dengan tanda paku tertanam di tiap patok
dan melindungi patok-patok tersebut dengan perimeter yang baik dan mudah dipantau (dari
bambu atau kaso dan diberi tanda warna atau bendera atau tanda lain yang mudah dilihat)
3. Setelah dipastikan seluruh patok perimeter sesuai, Berita Acara Joint Survey yang sudah
disahkan bersama instansi terkait dan Konsultan Pengawas disimpan dan menjadi dasar
acuan seluruh pengukuran berikutnya
4. Titik batas lahan dan garis perimeternya diplot ke gambar dan dilakukan cross check apakah
sesuai dengan batas yang diberikan dalam gambar desain atau gambar konstruksi jika
terjadi perbedaan maka akan dilaporkan kepada Konsultan untuk dilakukan penyesuaian
gambar desain.
5. memastikan patok-patok benchmark utama (BM) yang terhubung dengan seluruh titik sudut
perimeter lahan di lokasi yang tidak terganggu selama pelaksanaan proyek dan diplotkan
pada gambar pelaksanaan, serta menjadi acuan awal pelaksanaan pematokan (stacking out)
pada bangunan-bangunan yang akan dilaksanakan
6. Membuat patok-patok Control Point (CP) untuk mempermudah pelaksanaan pengukuran dan
pematokan berikutnya

B. Pengukuran Poligon
Langkah Kerja
1. Menyiapkan catatan, daftar pengukuran dan membuat sket lokasi areal yang akan diukur.
2. Menententukan dan tancapkan patok pada titik-titik yang akan dibidik.
3. Mendirikan pesawat di atas titik P1 dan melakukan penyetelan alat sampai didapat kedataran.
4. Mengarahkan pesawat ke arah utara dan menolkan piringan sudut horizontal dan kunci kembali
dengan memutar sekrup piringan bawah.
5. Putar teropong dan arahkan teropong pesawat ke titik P2, baca dan catat sudut horizontalnya yang
sekaligus sebagai sudut azimuth. Bacaan ini merupakan bacaan biasa untuk bacaan muka.
6. Dengan posisi pesawat tetap di titik P1, putar pesawat 180 searah jarum jam, kemudian putar
teropong 180 arah vertikal dan arahkan teropong ke titik P2.
7. Melakukan pembacaan sudut horizontal. Bacaan ini merupakan bacaan luar biasa untuk bacaan
muka.
8. Putar teropong pesawat dan arahkan di titik P akhir dan lakukan pembacaan sudut horizontal pada
bacaan biasa dan luar biasa. Bacaan ini merupakan bacaan belakang.
9. Dengan cara yang sama, dilakukan pada titik-titik poligon berikutnya hingga kembali lagi ke titik
P1.
10. Melakukan pengukuran jarak antar titik dengan meteran.
11. Melakukan perhitungan sudut pengambilan, sudut azimuth dan koordinat masing-masing titik.
12. Menggambar hasil pengukuran dan perhitungan.

C. Pengukuran Water Pass


Langkah Kerja;
1. Menyiapkan alat ukur waterpass di atas kaki tiga, dan siapkan pula alat tulis untuk mencatat hasil
pengukuran
2. Buka kaki tiga dari pengunci
3. Berdirikan dan dalam keadaan tidak terkunci tinggikan sampai kira-kira sebatas dada, kemudian
kuncikan kembali
4. Renggangkan ketiga kakinya membentuk segitiga sama sisi dengan jarak antar kaki sekitar 60
cm dan kepala kaki tiga dalam keadaan mendatar
5. Keluarkan alat ukur dari tempatnya, kemudian pasang di atas kepala kaki tiga yang sudah
disiapkan tadi, pasang skrup yang ada di kepada kaki tifa pada lubang yang ada di bagian bawah
alat ukur cukup kuat agar antara kaki tiga dan alat betul-betul menjadi satu kesatuan. Lalu injak
alat injakan yang ada di kaki tiga
6. Mengatur teropong sejajar dengan dua buah skrup pendatar
7. Putar kedua skup pendatar ke atas atau kebawah secara bersamaan dan skrup ketiga sebagai
pengatur sampingan, sampai gelembung nivo tepat ditengah kotak
8. Untuk memenuhi syarat garis bidik sejajar garis nivo, atur gelembung nivo tabungnya agar tepat
ada ditengah dengan menggunakan skrup pengatur nivo tabung
9. Arahkan tropong ke sasaran, berupa rambu ukur yang didirikan tegak diatas titik pengukuran
10. Cek benang diafragma terlihat atau tidak. Bila tidak terlihat putar-putar skrup pemokus difragma
sampai benang diafragma tersebut terlihat jelas
11. Menentukan dua titik A dan B
12. Membagi panjang PQ dalam beberapa slag
13. Membaca benang tengah di tiap slag, dengan menganggap bacaan bt yang berlawanan dengan
arah pengukuran menjadi arah belakang (b), yang searah menjadi arah muka (m) dan catat pada
lembar kerja. Hitung beda tinggi tiap-tiap slag.

D. Pengukuran Situasi, Potongan Memanjang dan Melintang


- Pengukuran situasi
Pengukuran situasi dilakukan dengan menggunakan electronic total station (ets) atau dengan alat
ukur teodolit dengan ketelitian bacaan 20. Data yang diukur mencakup semua obyek bentukan
alam dan buatan manusia yang ada disekitar bangunan rencana .
Pada pengukuran situasi tersebut, pengambilan titik ukur detail / rapat. Hal ini karena pada lokasi
disekitar rencana jembatan akan dilapangkan.

- Profil Memanjang
Pengukuran penampang memanjang dalam pelaksanaanya di lakukan bersamaan dengan
pengukuran sifat datar atau pengukuran penampang melintang .
Pengambilan data penampang memanjang dilakukan dengan setiap perubahan muka tanah dan
sesuai dengan kerapatan detail yang ada sepanjang trase. Pembacaan rambu harus di lakukan pada
pada tiga benang yaitu : benanf atas, benang bawah, benang tengah
- Penampang Melintang
Pengukuran penampang melintang saluran di lakukan alat sipat datar pada daerah datar dan
terbuka, tetapi pada daerah dengan topografi bergelombang dilakukan dengan menggunakan
teodolit kompas dengan ketelitian bacaan 20.
Pengukuran penampang melintang saluran dilakukan tegak lurus dengan ruas jalan. Pengambilan
data dilakukan pada tiap perubahan muka tanah dan sesuai dengan kerapatan detail yang ada
dengan mempertimbangkan factor skala peta yang dihasilkan dan tingkat kepentingan data yang
akan ditonjolkan,
Sketsa penampang melintang tidak boleh terbalik antara sisi kanan dengan sisi kiri. Untuk
mempermudah pengecekan, pada masing masing sisi koridor di beri notasi yang berbeda,
misalnya koridor sebelah kiri dari center line jalan diberi notasi alphabetic dan untuk koridor
sebelah kanan di beri notasi numbers.
Pengukuran penampang melintang dilakukan dengan persyaratan : Kondisi datar, landai dan lurus
dilakukan pada interval tiap 50 m dengan lebar koridor 75 m ke kiri dan 75 m ke kanan AS trase
jalan.

III. SOSIALISASI

- Persiapan.
1. Koordinasi,
Melakukan koordinasi dengan Camat, Lurah/Kepala Desa,
2. Penyiapan Tempat.
Lokasi tempat rapat disiapkan sesuai kesepakatan dengan pihak-pihak terkait pada saat
koordinasi.

-Materi Sosialisasi.
Materi sosialisasi mencakup: Tata cara memulai pekerjaan, Tatacara Pelaksanaan Pekerjaan, dan
Tatacara mengakhiri pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Materi sosialisasi dibuat sehingga
masyarakat setempat dapat memahami pentingnya kegiatan ini bagi dirinya dan orang lain.
Masyarakat harus diberi pemahaman tentang tata cara pelaksanaan pekerjaan, gangguan yang
akan timbul dan cara mengatasi permasalahan darurat. Untuk itu materi sosialisasi adalah berupa
makalah, leaflet, animasi, atau hal-hal lain sesuai dengan permintaan tokoh masyarakat setempat.
Materi sosialisasi sekuraung-kurangnya memuat:
1. Rencana dan Kegiatan Secara umum.
2. Waktu Pelaksanaan.
3. Metode Pelaksanaan Pekerjaan.
4. Gangguan dan hambatan yang akan timbul.

IV. PEKERJAAN TANAH


A. Pekerjaan Galian Tanah Biasa
1. Tahapan Pekerjaan:
a. Melakukan penandaan pada lokasi yang diperlukan, panjang, arah aliran dan kelandaian , sesuai
gambar atau sesuai perintah Direksi Pekerjaan.
b. Penggalian secara manual dengan ukuran dan kelandaian galian sesuai gambar, hasil galian
dipindahkandengan dump truck ke lokasi yang tepat dan diratakan sehingga dapat mencegah
dampak lingkungan yang mungkin terjadi.
c. Sekelompok pekerja akan merapikan hasil galian.
d. Selama proses pengerjaan, petugas lalu lintas memasang rambu peringatan adanya pekerjaan jalan
sekaligus mengatur arus lalu lintas.
e. Bersama direksi melakukan pemeriksaan akhir terhadap pelaksanaan pekerjaan.
f. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan.
Pekerjaan Ini akan dilaksanakan selama 15 hari kalender dan dimulai dari hari ke 1 sampai
dengan hari ke 15 dengan volume galian sebesar 232,33 m
Dengan kebutuhan Tenaga Kerja :
Pekerja 9 Orang
Mandor 1 Orang
B. Pekerjan Timbunan atau Urugan Tanah Kembali
1 Tahapan Pekerjaan:
a. Bersama direksi melakukan pemeriksaan terhadap titk-titik timbunan.
b. Sebelum mulai menimbun permukaan tanah digaruk sampai kedalaman yang lebih besar dari
retak-retak tanah yang ada dan paling tidak sampai kedalaman 0,15 m, dan kadar air dari tanah
yang digaruk selalu dijaga secara baik.
c. Penimbunan lapis demi lapis dengan ketebalan maksimum hamparan material sebelum
dipadatkan 30 cm. Penghamparan dan pemadatan material pada sisi kemiringan luar atau
dalam dilebihkan minimal 30 cm dari garis rencana agar pada saat setelah perapian didapat
kepadatan yang sama diseluruh bidang rencana dan pemadatan menggunankan alat
pemadat/stamper.
d. Sekelompok pekerja akan merapikan hasil timbunan.
e. Selama proses pengerjaan, petugas lalu lintas memasang rambu peringatan adanya pekerjaan
jalan sekaligus mengatur arus lalu lintas.
f. Bersama direksi melakukan pemeriksaan akhir terhadap pelaksanaan pekerjaan.
g. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan.
Pekerjaan ini akan kami laksanakan selama 14 hari kalender dan dimulai dari hari ke 6
sampai dengan hari ke 19 dengan volume 58.8 m
Dengan kebutuhan tenaga :
Pekerja 2 Orang
Mandor 1 Orang

PEKERJAAN PASANGAN

A. Pasangan Batu 1:4 (mortar Tipe N) Manual


Pekerjaan ini akan dilaksanakan setelah kami selesai melaksanakan pekerjan galian tanah biasa.
Tahapan Pekerjaan:
a. Semen, pasir dan air dicampur dengan perbandingan 1 PC : 4 Ps (5,2 Mpa) dan diaduk
menjadi mortar dengan menggunakan Concrete Mixer.
b. Batu dibersihkan dan dibasahi seluruh permukaannya sebelum dipasang.
c. Pembuatan profil tiap jarak 10 m kecuali pada tempat-tempat tertentu sesuai petunjuk
Direksi.
d. Pemasangan lubang-lubang pembuang (drain/ Weep Hole) untuk mengurangi tekanan air
setiap luas 2 M2 yang terbuat dari pipa PVC 2" (dua inchi) dan pada ujung pipa PVC yang
tertanam di tanah dibungkus dengan ijuk dan di luar sisi ijuk dipasang kerikil yang berfungsi
sebagai saringan air sehingga tidak terjadi penggerusan tanah pada bagian dalam tanggul atau
pasangan batu.
e. Penyelesaian dan perapihan setelah pemasangan.
f. Selama proses pengerjaan, bahan di tempatkan pada tempat yang tidak mengganggu lalulintas
kendaraan. Petugas lalu lintas memasang rambu peringatan adanya pekerjaan jalan sekaligus
mengatur arus lalu lintas.
g. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan
Pekerjaan ini akan kami laksanakan selama 24 hari kalender dan dimulai pada hari ke 11
sampai dengan hari ke 34 dengan Volume pekerjaan 464,66 m
Dengan kebutuhan tenaga kerja :
Pekerja 52 Orang
Tukang Batu 17 orang
Mandor 5 Orang
Dan setelah Pekerjaan pasangan batu selesai dilaksanakan maka kami akan masuk pada tahap
selanjutnya yaitu pekerjaan plesteran.

B. Pekerjaan Plesteran 1:3 (mortar tipe S Manual)


Tahapan Pekerjaan:
a. Semen, pasir dan air dicampur dengan perbandingan 1 PC : 3 PP (12,5 Mpa) dan diaduk
menjadi mortar dengan menggunakan Concrete Mixer.
b. Sebelum plesteran dimulai, permukaan pasangan dibersihkan dan dibasahi dulu dengan air.
c. Pemelesteran dengan ketebalan rata-rata 1 cm - 1,5 cm
d. Penyelesaian dan perapihan setelah pelesteran.
e. Selama proses pengerjaan, bahan di tempatkan pada tempat yang tidak mengganggu
lalulintas kendaraan. Petugas lalu lintas memasang rambu peringatan adanya pekerjaan jalan
sekaligus mengatur arus lalu lintas.
f. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan
Pekerjaan ini akan kami laksanakan selama 27 hari kalender dan dimulai sejak hari ke
19 sampai dengan hari ke 45 dengan volume 640,80 m
Dengan kebutuhan tenaga :
Pekerja 9 Orang
Tukang Batu 5 Orang
Kepala Tukang 1 Orang
Mandor 1 Orang

C. Pekerjaan Siaran 1:2 (mortar tipe M)


Tahapan Pekerjaan:
g. Semen, pasir dan air dicampur dengan perbandingan 1 PC : 2 PP (17,2 Mpa) dan diaduk
menjadi mortar dengan menggunakan Concrete Mixer.
h. Sebelum disiar bidang muka pasangan dibasahi dulu dan dibersihkan dari kotoran yang
melekat pada pasangan.
i. Pekerjaan siaran dengan ketentuan siar tenggelam (masuk ke dalam 1 cm), siar rata (rata
dengan muka batu), dan siar timbul (timbul dengan tebal 1 cm, lebar 2 cm)
j. Penyelesaian dan perapihan setelah siaran selesai.
k. Selama proses pengerjaan, bahan di tempatkan pada tempat yang tidak mengganggu lalulintas
kendaraan. Petugas lalu lintas memasang rambu peringatan adanya pekerjaan jalan sekaligus
mengatur arus lalu lintas.
l. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan
Pekerjaan ini akan kami laksanakan selama 28 hari kalender dan dimulai sejak hari ke 19
sampai dengan hari ke 46 dengan volume 716 m
Dengan kebutuhan tenaga kerja :
Pekerja 8 Orang
Tukang Batu 4 Orang
Kepala Tukang 1 Orang
Mandor 1 Orang

4. Pekerjaan Pengecoran Beton fc =14,5 mpa (K175) ( Campuran 1:2:3)


Bahan-bahan pokok dalam pembuatan beton adalah: semen, pasir, kerikil/split serta air.
Kualitas/mutu beton tergantung dari kualitas bahan-bahan pembuat beton dan
perbandingannya. Bahan-bahan harus diperiksa dulu sebelum dipakai membuat beton dengan
maksud menguji apakah syarat-syarat mutu dipenuhi. Semen merupakan bahan pokok
terpenting dalam pembuatan beton karena mempersatukan butir-butir pasir dan kerikil/split
menjadi satu kesatuan berarti semen merupakan bahan pengikat dan apabila diberi air akan
mengeras. Agregat adalah butiran-butiran batuan yang dibagi menjadi bagian pokok ditinjau
dari ukurannya yaitu agregat halus yang disebut pasir dan agregat kasar yang disebut
kerikil/split dan batu pecah.
Tahap-tahap pekerjan pengecoran pondasi setempat yaitu:
- Membuat kotak takaran untuk perbandingan material yaitu dari kayu dan juga dapat
mempergunakan ember sebagai ukuran perbandingan.
- Mempersiapkan bahan-bahan yang digunakan untuk pengecoran seperti: semen, pasir, split,
serta air dan juga peralatan yang akan digunakan untuk pengecoran.
- Membuat adukan/pasta dengan bantuan mollen (mixer) dengan perbandingan volume 1:2:3
yaitu 1 volume semen berbanding 2 volume pasir berbanding 3 volune split serta air
secukupnya.
- Bahan-bahan adukan dimasukan kedalam tabung dengan urutan: pertama masukan pasir,
kedua semen portand, ke tiga split dan biarkan tercampur kering dahulu dan baru kemudian
ditambahkan air secukupnya Setelah adukan benar-benar tercampur sempurna kurang lebih
selama 4-10 menit tabung mollen (mixer) dibalikan dan tungkan kedalam kotak spesi.
- Hasil dari pengecoran dimasukkan/dituangkan kedalam lubang galian tanah yang sudah
diletakan tulangan dengan bantuan alat sendok spesi centong/ dan dilakukan/dikerjakan
bertahap sedikit demi sedikit agar tidak ada ruangan yang kosong dan kerikil/split yang
berukuran kecil sampai yang besar dapat masuk kecelahcelah tulangan.
- Setelah melakukan pengecoran, maka pondasi setempat tersebut dibiarkan mengering dan
setelah mengering pondasi diurug dengan tanah urugan serta disisakan beberapa cm untuk
sambungan kolom.
Pekerjaan ini akan dilaksanakan selama 1 hari kalender yaitu pada hari ke 46 dengan
volume 0,42m
Dengan kebutuhan tenaga :
Pekerja 1 Orang
Tukang Batu 1 Orang
Kepala Tukang 1 Orang
Mandor 1 Orang

5. Pasangan Pintu Sadap


Pekerjaan pemasangan pintu untuk sadap yaitu pintu yang terbuat dari Besi dengan mutu yang
berkualitas yang sesuai dengan di isyaratkan dalam spesifikasi teknis. Pintu air direncanakan,
diproduksi dan dilaksanakan pemasangannya, hanya oleh suatu pabrik yang sudah disetujui dan
namanya tercantum dalam daftar Prakualifikasi Pemborong DPU untuk pembuatan pintu-pintu.
Pembuatan dan pengadaan pintu harus dilaksanakan atas dasar Sub-Kontrak oleh Pemborong Utama,
yang harus bertanggung jawab atas pemesanan dan administrasinya. Kontraktor dalam
penawarannya agar menyertakan Sub-Kontrak yang akan membuat pintu berikut spesifikasi teknis
dan material sesuai dengan penawarannya. Dalam lampiran analisa harga pintu agar dibedakan antara
:
a. harga pengadaan dan pembuatan pintu,
b. harga pengepakan dan pengangkutan dari pabrik sampai ke lokasi dan
c. harga pemasangan.
Pabrik harus mempunyai peralatan dan kemampuan serta bersedia membantu Direksi dalam hal
Pengujian dan pemeriksaan terhadap bahan/material yang digunakan dan terhadap hasil akhir
pekerjaan. Sebelum pembuatan Pintu dimulai,
maka Kontraktor harus menyiapkan Gambar Pabrikan (Shop drawing) dan diperiksakan
kepada Direksi guna mendapatkan persetujuan.
Persyaratan material untuk pintu adalah :
- Plat Baja.
Plat baja untuk daun-daun pintu harus dari baja Standart Industri Indonesia (SII) St. 42 (DIN
17100) atau ASTM A.36 atau SS. 41 (JIS. G.3101).
- Profil Baja.
Profil-profil baja harus dibuat dari dari baja Standart Industri Indonesia (SII) St. 37 (DIN
17100) atau ASTM A.36 atau SS. 41 (JIS. G.3101).
- Paku Keling.
Paku keling harus dibuat dari baja Standart Industri Indonesia (SII) U. St. 38-1, U St. 38-2 (DIN
17111) atau ASTM 502 grade 1 atau 2 atau Sv. 41 A (JIS. G.3104).
- Baut Mur.
Baut mur harus dibuat dari baja Standart Industri Indonesia (SII) U St. 38-1, U St. 38-2, Uq St. 38-
2 (DIN 17111) atau ASTM A.425 atau S.10 C-D (JIS. G.3123).
- Stem (Drat Stang).
Stem harus dibuat dari baja Standart Industri Indonesia (SII) St. 60 (DIN 17100) atau SAE
. 1137 atau S. 35 C-D (JIS. G.3123).
- Kawat Las (Electrode).
Pengelasan yang dipakai adalah arc-welding dengan menggunakan Mild Steel Electrode jenis
eutecting rod UNIMATIC 6000 (AC-DC) dengan tensile strength 68,000 Psi = 47.6 kg/mm2,
atau kawat las alin dengan kwalitas yang sama. Kawat las ini dipakai untuk mengelas plat-
plat baja, profil-profil baja serta pipa- pipa baja.
- Zat Asam (Oxygen).
Pada pemotongan baja maka kemurnian zat asam menentukan kecepatan serta kwalitas
pemotongan karenanya zat asam yang dipakai harus berkadar lebih dari 90%.
- Pasir untuk sand blasting
Bahan baja dibersihkan dengan Sand Blasting. Untuk mendapatkan hasil sand blasting yang baik
maka pasir yang dipakai haruslah mengandung garnet. Kwarts silica dan tidak mengandung tanah
liat, garam atau air (lembab).
- Cat
Untuk pengecatan konstruksi baja haruslah cat yang tahan karat, mudah aplikasinya, tahan lama
dan cepat kering.
Pekerjaan ini akan kami laksanakan selama 7 hari kalender dan dilaksanakan mulai hari 46
sampai dengan hari ke 52 dengan volume 2 buah
Dengan kebutuhan tenaga
Pekerja 1 Orang
Tukang Las 1 Orang
Kepala Tukang 1 Orang
Mandor 1 Orang
MANAJEMEN PROYEK
1. Struktur Organisasi
Proyek ini akan dikerjakan oleh Tim Kerja yang dikendalikan oleh seorang Site Manager yang
memiliki Sertifikat Ahli Sumber Daya Air dengan dibantu oleh Quantity Enginer, Quality Enginer,
Administrator, Logistic dan Pelaksanan Lapangan Ahli Saluran Irigasi. Pelaksana di bantu oleh
Mandor dan Juru Ukur. Personil
inti lebih diprioritaskan yang mempunyai sertifikat irigasi dan pengalaman pekerjaan
sejenis. Berikut bentuk struktur organisasi dalam Komunikasi Pengelolaan komunikasi di lapangan
antara lain terdiri dari; Komunikasi antar personil inti. Komunikasi antara anggota tim proyek dengan
berbagai agen perusahaan pemasok, penyewaan, dan sebagainya. antara kantor pusat dan lapangan
Antara proyek dengan pemerintah atau masyarakat umum setempat Penyelenggaraan komunikasi
yang lancar tentu akan menghasilkan kinerja yang baik bagi konstruksi.

METODE PELAKSANAAN MANAJEMEN

1. Tenaga Kerja
Dalam manajemen tenaga kerja terdapat proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan:
1. Penentuan ukuran dan jumlah tenaga kerja.
2. Recruitment dan pembagian tenaga kerja kedalam kelompok kerja.
3. Komposisi tenaga kerja untuk setiap jenis pekerjaan.
4. Pengendalian jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan selama proyek berlangsung.
5. Perencanaan, penjadualan, pengarahan dan pengawasan kegiatan tenaga kerja.

2. Pemilihan Alat
1. Memastikan alat dirawat sesuai prosedur
2. Mengganti alat yang tidak sesuai atau tidak cocok.
3. Memastikan tersedianya suku cadang di proyek terutama pada elemen alat yang bersifat aus
4. Bila perlu menambah jumlah alat sehingga mencukupi kebutuhan pelaksanaan
5. Mengganti alat yang memiliki kapasitas yang lebih besar
6. Membuat sumber tenaga listrik cadangan. Kerusakan genset akan menghentikan hampir seluruh
pekerjaan.

3. Bahan/Material
a) Pemilihan Material
Untuk pemilihan material permanen pada suatu proyek konstruksi, harus sesuaidengan ketentuan
yang tertera dalam gambar kerja dan spesifikasi yang terdapatdalam kontrak
b) Pemilihan Pemasok Material
Pemilihan pemasok material pada dasarnya ditentukan pada penawaran harga terendah, namun ada
beberapa faktor lain yang dipertimbangkan sebelum memutuskan, yaitu :
- Kehandalan pemasok
- Ukuran pemasok
- Layanan purna jual yang ditawarkan pemasok
- Syarat pembayaran yang diminta oleh pemasok
- Kualitas material yang dipasok
- Kemampuan pemasok untuk menyediakan material dalam keadaan tidak terjadwal

c) Pembelian Material
Pengendalian pembelian dilakukan oleh petugas pembelian dengan menggunakan buku pesanan
pembelian yang dibuat dalam beberapa rangkap. Masing-masing rangkap diserahkan kepada pihak-
pihak yang terkait untuk kelengkapan administrasi proyek. Rincian yang harus dimasukkan dalam
buku pesanan pembelian adalah :
- Nama dan alamat pemasok
- Nama orang yang memesan material
- Rincian material yang dibutuhkan
- Perintah penyerahan material
- Harga material yang dipesan
- Nama petugas yang bertanggung jawab terhadap pembelian material.
- Rincian untuk administrasi akutansi biaya pembelian material

d) Pengiriman Material
Pengiriman material berdasarkan surat permintaan pembelian material yang telah disetujui dengan
jaminan bahwa material yang akan dikirim pemasok sesuai dengan spesifikasi dan dikirim ke lokasi
yang tepat dan waktu yang diminta. Bagian pengiriman material juga harus mengatur persetujuan
bea Cukai, pembayaran tarif impor, mendapatkan izin impor dan lain-lain. Bila pemasok tidak bisa
menyanggupi pengadaan material yang dibutuhkan pada waktu dantempat yang telah ditetapkan,
maka bagian pengirirman material mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah
tersebut, langkah-langkah yang mungkin dilakukan adalah :
- Mengubah material yang diminta "misalnya merk atau ukuran# yang telahmendapat persetujuan
lebih dahulu dari pihak yang berwenang.
- Mengatur dan melakukan uji coba pada material yang tidak standar untuk memgetahui kinerja
dari material tersebut.
- Membatalkan pesanan dan memesan pada pemasok lain.

e) Penerimaan Material
Material-material yang dipasok merupakan suatu hasil dari surat permintaan pembelian yang wajib
diperiksa pada saat penyerahan oleh bagian logistik. Sebelum material dibongkar, petugas logistik
memeriksa terlebih dahulu bahwa material-material yang diserahkan benar-benar material pesanan
yang merupakan bagian dari pelaksanaan proyek. Hal-hal yang perludi periksa oleh petugas logistik
adalah :
- Material yang diserahkan telah diuji coba dan disetujui sesuai dengan spesifikasi.
- Kuantitas material pada saat diserahkan harus sama dengan permintaan.
- Kualitas material merk harus sama dengan catatan penyerahan.
- Material-material yang diserahkan harus dalam susunan yang baik.

Setelah petugas gudang selesai memeriksa penyerahan material dan hasilnya baik, maka catatan
penyerahan yang terdiri dari 2 rangkap sebagai bukti tanda terima harus ditandatangani. (rangkap
pertama dikembalikan kepada petugas yang menyerahkan sedangkan rangkap kedua disimpan
sebagai arsip yang digabungkan dalam satu gandaan surat permintaan pembelian sebagai laporan
untuk kelengkapan administrasi. Laporan-laporan ini akan dijadikan dokumen yang akan
diserahkan pada pemegang pembukuan sebagai informasi perihal penerimaan material yang
dipesan, sehingga dapat mempersiapkan pembayaran kepada pemasok ketika mengajukan
penagihannya.
f) Penyimpanan Material
Penyerahan material yang sudah sesuai dan dapat diterima harus disimpan dengan baik oleh petugas
logistik. Petugas logistik ini bertanggung jawab dalam menjaga dan menyimpan meterial-material
yang diserahkan antara waktu penyerahan sampai dengan material tersebut dikeluarkan dari logistik
yang akan digunakan dalam pelaksanaan proyek konstruksi. spek utama manajemen material adalah
aspek keamanan fisik dan selalu siap (availibility). Pemeriksaan secara periodik terhadap material-
material yang disimpan harus diadakan untuk memperkuat catatan petugas logistik agar tidak terjadi
perbedaan jumlah material yang disimpan dengan catatan yang ada.

g) Pengeluaran Material
Semua material yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi tercatat dan
tersimpan di dalam gudang. Sehingga untuk penggunaan material tersebut harus dikeluarkan dari
gudang penyimpanan dengan melengkapi berita acara pengeluaran material yang dikeluarkan dari
gudang penyimpanan dengan melengkapi berita acara pengeluaran material yang dikeluarkan oleh
petugas gudang. Berita acara ini berisi informasi tentang jumlah dan jenis material yang diambil,
maksud penggunaan material dan informasi-informasi lainnya yang terkait dengan material yang
dibutuhkan. Petugas gudang harus dapat menjamin bahwa material yang keluar dari gudang benar-
benar untuk kepentingan pelaksanaan pembangunan proyek dan sesuai dengan daftar rincian dalam
berita acara. Berita acara pengeluaran dari gudang harus diperiksa oleh yang bertanggung jawab
untuk menjamin :

- Material yang dikeluarkan dari gudang dibutuhkan dan benar-benar digunakandalam pelaksanaan
pembangunan proyek.
- Informasi yang terdapat dalam berita acara pengeluaran adalah benar yangdiperlukan untuk proyek.
Bahan permanen dan bahan sementara yang dikeluarkan dari gudang akan digunakan dalam pelaksanaan
pembangunan proyek konstruksi, selanjutnya petugas gudang tidak mempunyai kepentingan lagi terhadap
material-material tersebut. Untuk bahan sementara bila sudah tidak digunakan, akan dikembalikanlagi ke
gudang penyimpanan yang akan digunakan pada pelaksanaan pembangunan proyek lainnya (sebagai
contoh : cetakan, pompa, molen, dan lain-lain).
Tanggung jawab atas keamanan bahan konstruksi yang harus dikembalikan harus tetap atas nama orang
yang bertanggung jawab atas dikeluarkannya barang tersebut. Petugas gudang juga harus dapat menjamin
bahwa semua barang yang dipulangkan telah dibersihkan dan dapat beroperasi penuh. Bila dibutuhkan
perbaikan, petugas gudang harus memperbaiki secepatnya, sehingga barang tersebut siap pakai bila tiba-
tiba dibutuhkan.
4. Pengamanan ( Security )
Untuk pengawasan dan pengamanan proyek, kontraktor akan menyediakan tenaga keamanan sesuai
dengan kebutuhan, yang bertugas dalam hal :
- Pengamanan terhadap proyek pada umumnya
- Pengamanan terhadap bahan-bahan dan peralatan untuk pencegahan dari pencurian
- Pengamanan dan Pengaturan lalu lintas/lingkungan sekitar pada saat pelaksanaan proyek
- Menjaga dan membina hubungan baik dengan masyarakat sekitar lokasi proyek, agar pelaksanaan
proyek mendapat dukungan dari lingkungan setempat sehingga tidak mendapat kendala dari
lingkungan/masyarakat sekitar.
5. Program K3
Pelaksanaan K3 dilakukan sesuai dengan Rencana Usulan Keslamatan dan Kesehatan Kerja. Pelaksanaan
K3 meliputi:
a. Menyusun instruksi kerja.
b. Menyediakan peralatan keselamatan kerja seperti helm, sarung tangan, sepatu keselamatan.
c. Membuat rambu-rambu keselamatan.
d. Menyediakan perlengkapan P3K.
e. Melakukan pelatihan kepada pekerja tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

6. Metode Pengendalian Proyek


Pengendalian proyek bertujuan sebagai instrumen pengontrol progress pelaksanaan pekerjaan
dilapangan. Apabila terjadi permasalahan teknis maupun non teknis pada saat pelaksanaan proyek
atau indikasi-indikasi permasalahan yang muncul, maka sesegera mungkin dicari jalan
penyelesaiannya. Hal tersebut dimaksudkan agar keterlambatan yang terjadi diproyek dapat
diantisipasi atau dikejar di masa yang akan datang dan tidak terlalu berdampak buruk pada pekerjaan-
pekerjaan berikutnya. Hal-hal yang menjadi fokus pengendalian proyek, adalah:
- Waktu yang telah digunakan terhadap rencana
- Besar progress kemajuan proyek
- Mutu konstruksi yang telah dilaksanakan
- Biaya yang telah digunakan terhadap rencana
- Jumlah tenaga kerja yang digunakan
- Jumlah dan mutu material yang akan digunakan/dipasang

7. Jadwal Pekerjaan
Jadwal Pekerjaan akan dijabarkan lebih detail (bulanan dan mingguan) dan akan dimonitor secara
cermat menggunakan laporan harian dan mingguan. Pengontrolan secara keseluruhan akan
dituangkan dalam bentuk Bar Chart. Aktivitas yang ditunjukkan pada Bar Chart terdiri dari waktu
untuk persiapan dan persetujuan gambar-gambar dan contoh-contoh, pengadaan bahan, dan peralatan.
Kemajuan pekerjaan selanjutnya akan diplot dalam kurva-S yang menunjukkan perbandingan antara
kemajuan pekerjaan dengan jadwal yang direncanakan. pada proyek REHAB DAERAH IRIGASI
PANIKI KOLONGAN,
8. Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan terhadap lingkungan di sekitar pekerjaan antara lain;
a. Pengumpulan hasil galian dan perlindungan saat hujan.
Tanah galian langsung diangkut deng Dump Trruck ketempat pembuangan sementara untuk
yang akan digunakan kembali. Temapat pembuangan sementara dipastikan aman saat terjadi
hujan.
b. Pembuangan tanah secara periodic Pembuangan tanah dilakukan secara periodik untuk menghidari
longsor dan dampak lingkungan lainnya
c. Pemberian MCK yang layak atas petunjuk Direksi

Tempat MCK yang layak perlu disedikan untuk menjaga kebersihan dan mencegah terjadinya
pencemaran lingkungan
KOORDINASI ANTAR DISIPLIN
Untuk koordinasi dalam pelaksanaan proyek, maka rapat-rapat akan dilaksanakan secara rutin antara
pihak Kontraktor, Konsultan Pengawas, dan Direksi Pekerjaan sebagaimana dituang dalam kontrak.
Demikian juga rapat internal antar bagian dalam organisasi kontraktor akan dilaksanakan minimal 1 (satu)
kali dalam 1 (satu) minggu dan berfungsi membahas dan koordinasi pelaksanaan pekerjaan, permasalahan
dan penyelesaiannya serta program pelaksanaan di lapangan. Hal tersebut bertujuan agar tercipta suasana
komunikasi kerja yang harmonis sehingga mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan. Disamping itu
CV AMIN ANUGERAH juga menerapkan sistem koordinasi yang sinergis antara semua pihak yang
terkait dalam kegiatan ini. Dalam pelaksanaan sistem koordinasi tersebut terdapat garis instruksi, garis
koordinasi, dan garis konsultasi antara beberapa pihak tertentu. Garis instruksi merupakan garis/hubungan
pemberian instruksi/tugas pelaksanaan pekerjaan dari hirarki yang lebih tinggi (dalam hal ini pemberi
tugas) ke pihak pelaksana (kontraktor dan konsultan). Garis koordinasi adalah garis/hubungan
pertanggungjawaban pelaksanaan pekerjaan dan hubungan koordinatif dari pihak pelaksana (kontraktor
dan konsultan) ke hirarkhi yang lebih tinggi (pemberi tugas), sementara garis konsultasiadalah
hubungan/garis dari dua belah pihak (kontraktor dan konsultan) yang sejajar kedudukannya yang bersifat
konsultatif. Adapun hubungan antara pemberi tugas, direksi lapangan, konsultan perencana, konsultan
pengawas, dan kontraktor di gambarkan seperti bagan dibawah ini :
Gambar Diagram Koordinasi
QUALITY CONTROL
Untuk menjamin agar diperoleh hasil kerja yang baik sesuai dengan mutu yang disyaratkan, perlu
dilakukan pengendalian proses dan pengawasan mutu (Quality Control ) terhadap pelaksanaan pekerjaan
yang antara lain, adalah:
- Seluruh material yang digunakan
- Pemilihan tenaga kerja
- Perawatan alat
- Test material di laboratorium dan lapangan
Melakukan pemeriksaan secara teratur, baik terhadap bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan, maupun terhadap cara pelaksanaan pekerjaan sendiri. Meskipun untuk hal-hal tersebut di atas
sudah ada penanggungjawabnya langsung, kiranya perlu ditunjuk petugas khusus quality control yang
dikoordinasikan oleh bagian teknik dan melakukan proses Quality Control dan prosedurnya yang telah
berlaku diproyek yang dilaksanakan oleh CV AMIN ANUGERAH
Manajemen mutu di proyek akan melaksanakan semua kegiatan sistematik dan terencana yang diterapkan
sebagai bagian dari sistem mutu perusahaan untuk menjamin bahwa proses pelaksanaan di proyek secara
terkendali dan konsisten dapat mencapai semua sasaran dan persyaratan mutu yang diminta dalam
gambar-gambar pelaksanaan dan spesifikasi pekerjaan pengendalian mutu di pelaksanaan akan dapat
dijalankan dengan baik dengan adanya:
- Sasaran mutu yang jelas
- Sumber daya manusia yang profesional dan tanggung jawab yang jelas
- Organisasi proyek yang handal
- Sistem dan prosedur mutu yang baku
- Penerapan manajemen mutu yang konsisten

PEKERJAAN AKHIR
Mutual Check Akhir
1) Kontraktor wajib melaksanakan pengukuran situasi dan penampang sebagai dasar mutual check
akhir.
2) Dokumen Mutual Check Akhir diadakan pada pemberi tugas Dokumen yang
dimaksud antara lain :
Volume Pekerjaan.
Amandemen Akhir
Buck Up Data

Proporsional Hand Over


1) Pihak Proyek bersama-sama dengan Kontraktor mengadakan pemeriksaan pekerjaan dan
dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan serta Berita Acara Penyerahan
Pertama (PHO).
2) Pihak Kontraktor memasukan seluruh dokumentasi yang ada dan seluruh laporan.
3) Kontraktor berkewajiban melaksanakan penggambaran terhadap bangunan yang terpasang
dilapangan yang disetujui oleh direksi dan pemilik / pemberi tugas atas biaya kontraktor.
4) As Built Drawing ini, diserahkan kepemilik/pemberi tugas paling lambat pada waktu
penyerahan kedua pekerjaan yang merupakan salah satu syarat penyerahan kedua pekerjaan
dan diserahkan 3 rangkap ( 1 asli dan 2 fotocopy).

Final Hand Over


a. Pihak Proyek bersama-sama dengan Kontraktor mengadakan pemeriksaan pekerjaan dan
dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan serta Berita Acara Penyerahan Kedua
(FHO).
b. Berita Acara Penyerahan kedua dibuat setelah dilakukan pemeriksaan lapangan dan hasil
pemeriksaan lapangan menyatakan layak untuk diserahkan.
Dokumentasi
Kontraktor harus membuat dan menyerahkan kepada pihak proyek foto-foto
dokumentasi terhadap pekerjaan yang meliputi : foto sebelum pelaksanaan, sementara
pelaksanaan dan selesai pelaksanaan dalam arah satu titik tetap. Titik tetap ini harus
disetujui Direksi.
Kontraktor harus membuat dan menyerahkan kepada pihak proyek foto-foto
dokumentasi meliputi sebelum pelaksanaan, sementara pelaksanaan dan selesai
pelaksanaan untuk setiap item pekerjaan yang dipandang perlu (sesuai petunjuk direksi)
Foto-foto tersebut dimasukan dalam album yang bentuknya ditetapkan kemudian
dengan jumlah 2 (dua) album, dilengkapi dengan foto negatifnya (soft copy).
Pekerjaan-pekerjaan lain yang perlu sebagai informasi lapangan, juga dibuatkan foto-
foto dokumentasi dan dilampirkan dalam album tersebut diatas.
Kontraktor harus membuat foto-foto ukuran besar 10 R pada posisi-posisi tertentu
dari pekerjaan Konstruksi. Ukuran foto dan konstruksi yang akan diambil gambarnya
akan ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.

PENUTUP
Demikian secara singkat metode pelaksaan yang akan kami laksanakan di lapangan apabila kami
ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan dan uraian langkah-langkah kerja secara detail akan kami
konsultasikan dengan direksi lapangan maupun dengan pihak proyek.

Manado, 14 September 2017


Mengetahui Yang Membuat
CV AMIN ANUGERAH

Injilly Rolly Barentian Denny Johan Mondong, ST


DIREKTUR PIMTEK