Anda di halaman 1dari 11

Widya Ningtyas 170410140065

ISLAM DI MEKKAH DAN MADINAH PADA MASA KEPEMIMPINAN

RASULULLAH SAW

Masa permulaan Islam atau masa kerasulan Muhammad SAW sama dengan masa

turunnya wahyu yang dibagi ke dalam dua periode sejarah. Pertama, periode Mekkah selama

13 tahun. Kedua, periode Madinah selama 10 tahun. Pada periode Mekkah awalnya, Islam

disiarkan secara rahasia. Namun, pada masa ini banyak juga yang segera masuk Islam. Orang

yang pertama masuk ke dalam Islam adalah Khadijah, Abu Bakar, Ali bin Abu Thalib, Zaid

bin Haritsah serta Ummu Aiman. Setelah mereka menyusul Ammar bin Yasir, Khabab bin al-

Arat, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sad bin Abi Waqqas, Talhah, Arqam,

Said bin Zaid, Abdullah bin Masud, Utsman bin Mazhun, Ubaidah dan Shuhaib al-Rumi.

Misi rahasia ini berlangsung kira-kira tiga tahun, selama ini empat puluh orang memeluk

Islam. Para pemeluk Islam yang pertama-tama ini terdiri dari orang miskin, bahkan banyak

dari mereka yang berasal dari hamba sahaya. Karena pengikut Muhammad SAW masih

berjumlah sekelompok kecil sehingga belum menjadi suatu komunitas yang mempunyai

wilayah tertentu dan kedaulatan.

Posisi mereka waktu itu sangat lemah sebagai golongan minoritas tertindas dan tidak

mampu menentang kekuasaan kaum Quraisy Mekkah. Pada tahun ketiga dari kenabian,

datang perintah Allah untuk menyiarkan ajaran Islam secara terbuka. Rasulullah kemudian

naik ke atas bukit Shafa, Ia memanggil bangsa Quraisy. Ketika mereka telah berkumpul, ia

minta anggota keluarganya dari Bani Abdu Manaf untuk mendekat. Lalu, ia berpidato:

Apakah saudara-saudara percaya bila kukabarkan bahwa ada bala tentara musuh yang

mendekat dari balik bukit? Tentu kami percaya, karena engkau selalu jujur, jaawab

1
mereka serentak. Kemudian Nabi meneruskan, kamu sekalian adalah orang yang terdekat

kepadaku dari suku Quraisy. Saya minta saudara untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain

Allah, bila saudara menolak maka saya tidak akan menolong kamu sekalian baik di dunia

maupun di akhirat kelak. Bila saudara beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, saya akan

menjadi saksi bagi saudara sekalian di hadapan Allah. Bila saudara mengabaikan ajaran

Allah, maka tentu saudara akan celaka. Begitu Nabi diam, tiba-tiba Abu Lahab, salah

seorang paman Nabi berkata dengan marah: Celaka engkau hai Muhammad! Hanya untuk

inikah engkau panggil kami? Lantas mereka bubar meninggalkan bukit Shafa dan tidak

ambil peduli terhadap apa yang diucapkan oleh Muhammad saw.

Suatu hari Nabi saw pergi ke Kabah di Masjidil Haram dan mengucapkan kalimat

syahadah dengan suara yang keras. Lalu tindakan ini dipandang sebagai penghinaan yang

amat besar terhadap Kabah dan adapt istiadat Quraisy, maka muncullah kerusuhan dan orang

kafir mulai menyerang Rasul. Harits bin Abi Hala yang telah memeluk Islam, segera keluar

rumah hendak menyelamatkan Rasulullah, tetapi beliau malah terbunuh menjadi

syahid. Begitulah penentangan para kafir Quraisy kepada Rasul dan muslimin. Namun

Muhammad saw dan pengikutnya tetap meneruskan misi Islam secara terbuka. Seiring itu,

penindasan dan penganiayaan yang tidak manusiawi terhadap kaum Muslimin makin lama

makin menigkat. Orang-orang Quraisy bahkan semakin semangat berusaha dengan sekuat

tenaga untuk menghancurkan misi Nabi saw. Orang-orang yang berpengaruh seperti Abu

Bakar, Utsman dan Zubair juga tidak terkecuali. Orang-orang muslim yang miskin banyak

ditangkapi lalu dilempari batu kerikil di lembah yang amat panas dan dijemur di bawah terik

matahari pada siang hari. Bilal, budak dari Abyssinia milik orang kafir Mekkah, dipaksa tidur

telentang di atas pasir yang membara di tengah hari, lalu dadanya ditindihi batu besar

sehingga ia tidak bisa menggerakkan anggota badannya sedikitpun. Kemudian Bilal diminta

2
untuk melepaskan keislamannya, namun ia tetap bertahan dalam ketauhidannya walaupun

tengah disiksa. Lantas Abu Bakar membeli budak ini dan memerdekakannya.

Secara umum, ada beberapa upaya yang dilakukan oleh kafir Quraisy untuk

menghalangi Nabi Muhammad dalam menjalankan misi Islam di Mekkah, yaitu:

1. Diantara upaya Quraisy yang halus

a. Melakukan negosiasi kepada Abu Thalin agar Muhammad menghentikan misinya.

b. Menawarkan kepada Muhammad apa saja yang diinginkan baik harta, wanita,

kedudukan, atau dokter kalau memang beliau memiliki kelainan jiwa.

c. Menawarkan ibadah secara bergantian.

2. Diantara upaya yang agak kasar:

a. Mencemooh, menghina, melecehkan, mendustakan, serta menertawakan, seperti

menuduh Muhammad sebagai orang gila.

b. Melontarkan propaganda palsu dengan mengatakan bahwa ajaran Muhammad adalah

dongeng orang-orang terdahulu.

3. Diantara upaya atau tidakan yang kasar

a. Menebar duri di tempat Rasulullah lewat.

b. Melakukan penyiksaan kepada beberapa pengikut Islam.

3
c. Blokade multidimensi

d. Upaya pembunuhan terhadap Muhammad saw.

Demikianlah tantangan yang dihadapi Muhammad sebagai Rasul dalam menyebarkan

ajaran Islam di Mekkah. Menurut Ahmad Syalabi, ada lima faktor yang mendorong orang

Quraisy menentang seruan Islam, yaitu:

1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira

bahwa tunduk kepada seruan Nabi Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan

Bani Abdul Muthalib. Yang terakhir ini (tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul

Muthalib) sangat tidak mereka inginkan.

2. Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.

Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy.

3. Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan

pembalasan di akhirat.

4. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa

Arab.

5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezki.

Ketika terus menerus bangsa kafir Quraisy melakukan penyiksaan sampai tak

tertahankan oleh para pemeluk Islam yang baru, maka mereka datang menemui Nabi saw

memohon izin untuk pergi ke negeri tetangga menyeberangi laut merah yakni ke Abyssinia

(sering juga disebutkan Habsyi atau Habsyah, sekarang Ethiopia). Nabi mengabulkan

4
permohonan izin tersebut. Pada bulan Rajab tahun kelima kenabian, 15 orang (11 lelaki, 4

perempuan) berangkat ke Abyssinia dalam rombongan pertama. Tidak berapa lama disusul

rombongan kedua, sehingga jumlah semua rombongan kira-kira 80 orang. Orang-orang yang

hijrah diterima dengan baik dan ramah oleh raja Abyssinia, Negus. Orang-orang Quraisy

cukup tergoncang mengetahui kejadian ini, maka tambah meruncinglah rasa permusuhan

mereka. Mereka mengutus Amr bin bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah sebagai utusan

kepada Negus. Kedua utusan tersebut memohon dengan sangat di hadapan sang raja untuk

menolak atau mengembalikan muhajirin (muslim yang hijrah ke Abyssinia). Akan tetapi,

upaya tersebut gagal, sehingga membuat Quraisy semakin kejam terhadap kaum muslimin.

Bahkan, di tengah menigkatnya kekejaman kafir Quraisy, semakin banyak orang memeluk

Islam. Ditambah lagi masuknya dua tokoh besar Quraisy ke dalam agama ini, yaitu Hamzah

dan Umar. Masuknya dua tokoh ini membuat Islam semakin kuat. Menguatnya posisi umat

Islam, memperkeras reaksi orang musyrik Quraisy. Mereka menempuh cara baru untuk

melumpuhkan kekuatan Muhammad yang bersandar pada Bani Hasyim. Dengan demikian,

untuk melumpuhkan kaum muslimin yang dipimpin Muhammad, maka mereka harus

melumpuhkan Bani Hasyim terlebih dahulu secara keseluruhan.

Tetapi setelah hijrah ke Madinah, posisi Nabi dan umat Islam mengalami perubahan

besar. Di Madinah, Rasulullah dan para pengikutnya mempunyai posisi yang baik dan segera

menjadi suatu komunitas umat yang kuat dan dapat berdiri sendiri. Langkah politik Nabi

sebagai pemimpin agama mengorganisir penduduk Madinah sering ditunjuk sebagai titik

permulaan berdirinya organisasi politik dalam sejarah dan ia dapat menjadi inspirasi dan

referensi yang tak habis-habis sepanjang masa untuk memformulasikan prinsip-prinsip dalam

model negara yang masyarakatnya bercorak pluralistik. Pembentukan masyarakat baru itu,

yang kemudian menjelma menjadi suatu negara dan pemerintahan, ditandai dengan

pembuatan perjanjian tertulis pada tahun 622 M antara Nabi dan kelompok-kelompok

5
masyarakat yang ada di Madinah segera setelah beliau hijrah ke kota itu. Perjanjian tertulis

itu disebut shahifat dan lebih terkenal dengan sebutan Piagam Madinah (mitsaq al-Madinat

dan Konstitusi Madinah). Undang-undang untuk mengatur kehidupan sosial politik bersama

kaum muslim dan bukan muslim yang menerima dan mengakui Nabi sebagai pemimpin

mereka.

Menurut Ahmad Syafii Maarif, yang dituangkan dalam Piagam Madinah, adalah

penjabaran dari prinsip-prinsip kemasyarakatan yang diajarkan al-Quran atau Piagam

Madinah merupakan aktualisasi dari ajaran al-Quran dalam kehidupan sosial politik dan

sosial budaya.

Setelah tiba dan diterima penduduk Yatsrib Madinah, nabi resmi menjadi pemimpin

penduduk kota itu. Babak baru dalam sejarah Islam pun dimulai. Berbeda dengan periode

Makkah, pada periode Madinah, Islam, merupakan kekuatan politik, ajaran islam yang

berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah, Nabi Muhammad

mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara.

Dengan kata lain, dalam diri nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan

kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai rasul secara otomatis merupakan kepala negara.

Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu meletakkan dasar-dasar

kehidupan bermasyarakat.

Dasar pertama, pembangunan masjid, selain untuk tempat salat, juga sebagai sarana

penting untuk mempersatukan kaum Muslimin dan mempertalikan jiwa mereka, di samping

sebagai tempat bermusyawarah merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Pada masa

nabi bahkan juga berfungsi sebagai pusat pemerintah.

Dasar kedua, adalah ukhuwwah islamiyyah, persaudaraan sesama Muslim. Nabi

mempersaudarakan antara golongan Muhajirin, orang-orang yang hijrah dari Makkah ke

Madinah, dan Anshar, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam dan ikut membantu kaum

6
Muhajirin tersebut. Dengan demikiam, diharapkan, setiap Muslim merasa terikat dalam suatu

persaudaraan dan kekeluargaan. Apa yang dilakukan Rasulullah ini berarti menciptakan suatu

bentuk persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan

persaudaraan berdasarkan darah. Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-

pihaklain yang tidak beragama Islam. Di Madinah, di samping orang-orang Arab Islam, juga

terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama

nenek moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan, Nabi Muhammad

mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Sebuahpiagam yang menjamin kebebasan

beragama orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas dikeluarkan. Setiap golongan

masyarakatmemiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan.

Kemerdekaan beragama dijamin dan seluruh anggota masyarakat berkewajiban

mempertahankan keamanan negeri itudari serangan luar. Dalam perjanjian itu jelas

disebutkan bahwa Rasulullah menjadi kepala pemerintahan karena sejauh menyangkut

peraturandan tata tertib umum, otoritas mutlak diberikan kepada beliau. Dalam bidang sosial,

dia juga meletakkan dasar persamaan antarsesama manusia. Perjanjian ini, dalam pandangan

ketatanegaraan sekarang, sering disebut dengan Konstitusi Madinah.

Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam makin bertambah kuat. Perkembangan

Islam yang pesat itu membuat orang-orang Makkah dan musuh-musuh Islam lainnya menjadi

risau. Kerisauan ini akan mendorong orang-orang Quraisy berbuat apa saja. Untuk

menghadapi kemungkinan-kemungkinan gangguan dari musuh. Nabi sebagai kepala

pemerintahan, mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara. Umat Islam diizinkan

berperang dengan dua alasan:

1. Mempertahankan diri dan melindungi hak miliknya; dan

2. Menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari

orang-orang yang menghalang-halanginya.

7
Dalam sejarah negara Madinah ini memang banyak terjadi peperangan sebagai upaya

kaum Muslimin mempertahankan diri dari serangan musuh. Nabi sendiri, di awal

pemerintahannya, mengadakan beberapa ekspedisi ke luar kota sebagai aksisiaga melatih

kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan

mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian damai dengan berbagai kabilah di

sekitar Madinah juga diadakan dengan maksud memperkuat kedudukan Madinah. Perang

pertama yang sangat menentukan masa depan negara Islam ini adalah Perang Badar, perang

antara kaum Muslimin dengan musyrik Quraisy. Pada tanggal 8 Ramadhan tahun ke-2

Hijriah, nabi bersama 3 orang Muslim bergerak keluar kota membawa perlengkapan yang

sederhana. Di daerah Badar, kurang lebih 120 kilometer dari Madinah, pasukan nabi bertemu

dengan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 900 sampai 1000 orang, nabi sendiri yang

memegang komando.

Pada tahun ke-6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, nabi memimpin sekitar

seribu kaum Muslimin berangkat ke Makkah, bukan untuk berperang, melainkan untuk

melakukan ibadah Umrah. Karena itu, mereka mengenakan pakaian ihram tanpa membawa

senjata. Sebelum tiba di Makkah, mereka berkemah di beberapa kilometer dari Makkah.

Penduduk Makkah tidak mengizinkan mereka masuk kota. Akhirnya, diadakan perjanjian

yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah yang isinya antaralain:

1. kaum Muslimin belum boleh mengunjungi Kabah tahunini tetapi ditangguhkan

sampai tahun depan;

2. lama kunjungan dibatasi sampai tiga hari saja kaum Muslimin wajib mengembalikan

orang-orang Makkah yang melarikan diri ke Madinah, sedang sebaliknya;

3. pihak Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Makkah;

4. selama sepuluh tahun diberlakukan genjatan senjata antara masyarakat Madinah dan

Makkah; dan

8
5. tiap Kabilah yang ingin masuk ke dalampersekutuan kaum Quraisy atau kaum

Muslimin, bebasmelakukannya tanpa mendapat rintangan.

Kesediaan orang-orang Makkah untuk berunding dan membuat perjanjian dengan

kaum Muslimin itu benar-benar merupakan kemenangan diplomatik yang besar bagi umat

Islam. Dengan perjanjian ini, harapan untuk mengambil alih Kabah dan menguasai Makkah

sudah makin terbuka. Nabi memang sudah sejak lama berusaha merebut dan menguasai

Makkah agar dapat menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain. Ini merupakan target utama

beliau. Ada dua faktor yang mendorong kebijaksanaan ini pertama, Makkah adalah pusat

keagamaan bangsa Arab dan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, Islam bisa

tersebar keluar. Kedua, dukungan dapat diislamkan, Islamakan yang kuat karena orang-orang

Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar. Setahun kemudian, ibadah haji

ditunaikan sesuai dengan rencana. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam setelah

menyaksikan kemajuan-kemajuan yang oleh masyarakat islam Madinah.

Dari perjalanan sejarah nabi ini, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw., di

samping sebagai pemimpin agama, juga seorang negarawan, pemimpin politik, dan

administrasi yang cakap. Hanya dalam waktu sebelas tahun menjadi pemimpin politik, beliau

berhasil menundukkan seluruh jazirah Arab ke dalam kekuasaannya.

Realita politik Madinah merupakan rangkaian strategis yang berimplikasi pada

masyarakat Islam yang menerima perubahan-perubahan positif diantaranya: Pertama, Ikatan

daerah atau wilayah, Dari sini Madinah merupakan tempat tinggal bagi ummat Islam. Kedua,

jiwa kemasyarakatan, artinya dengan pemikiran dari ummat Islam Madinah dapat

dipersatukan untuk tujuan yang sama. Ketiga, dominasi politik, hal ini terjadi karena

keterlibatan ummat Islam secara langsung berperan dalam urusan-urusan politik.

Di Madinah, Nabi mengambil prakarsa mendirikan lembaga pendidikan. Pasukan

Quraisy yang tertawan dalam perang Badar dibebaskan dengan syarat setiap mereka

9
mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak- anak muslim. Semenjak saat itu kegiatan

belajar baca tulis dan kegiatan pendidikan lainnya berkembang dengan pesat di kalangan

masyarakat. Ketika Islam telah tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arabia, Nabi mengatur

pengiriman guru-guru agama untuk ditugaskan mengajarkan al-Quran kepada masyarakat

suku-suku terpencil. Nabi SAW juga berhasil mewujudkan piagam politik yang merupakan

langkah strategis. Karena meletakkan piagam sebagai persatuan hidup bagi seluruh penduduk

Madinah dengan tidak membedakan keturunan, bangsa dan agama. Piagam ini merupakan

naskah politik yang kedudukannya sebagai dustur atau konstitusi Madinah. Piagam ini

mempunyai tiga bagian dan empat puluh tujuh poin. Tiga bagian tersebut, pertama, khusus

berkaitan dengan orang-orang Islam Muhajirin dan Anshor. Kedua, khusus yang berkaiatan

dengan orang-orang Yahudi. Ketiga, meliputi seluruh penduduk Madinah.

Menurut Ahmad Sukardja, Piagam Madinah ini adalah konstitusi Negara Madinah

yang dibentuk pada masa awal klasik Islam, tepatnya pada tahun 622M sebagai konstitusi

yang dibuat oleh seorang Negarawan yang berkedudukan sebagai Rasul dengan dibantu oleh

para sahabatnya. (Ahmad Sukardja,1995:5).

Karena Piagam Madinah ini bertujuan untuk mengatur kehidupan bersama antara

sesama ummat dan masyarakat Madinah yang majmuk. Dengan demikian berdasarkan

piagam Madinah yang telah ditetapkan dan di sepakati bersama oleh seluruh elemen

masyarakat Madinah yang majemuk, maka Madinah secara otomatis menjadi Negara (City

State) yang berdaulat, dimana Nabi sebagai pendirinya dan Nabi dipandang bukan saja sebagi

Nabi dan Rasul tetapi pada saat yang sama Nabi dipandang sebagai kepala Negara. (Harun

Nasution, 1985:22). Dalam konteks ini Munawir Sadjali memberikan tanggapan bahwa

banyak diantara pemimpin dan pakar ilmu politik Islam beranggapan bahwa Piagam Madinah

adalah konstitusi atau undang-undang dasar bagi Negara Islam yang pertama dan didirikan

oleh Nabi di Madinah. (Munawir Sadjali, 1990:10).

10
Nabi Muhammad saw merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan kepada

masyarakat Arab sistem pendapatan dan pembelanjaan pemerintahan. Beliau mendirikan

lembaga kekayaan masyarakat di Madinah. Lima sumber utama pendapatan negara Islam

yaitu Zakat, Jizyah (pajak perorangan), Kharaj (pajak tanah), Ghanimah (hasil rampasan

perang) dan al-Fay (hasil tanah negara). Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim atas

harta kekayaan yang berupa binatang ternak, hasil pertanian, emas, perak, harta perdagangan

dan pendapatan lainnya yang diperoleh seseorang. Jizyah merupakan pajak yang dipungut

dari masyarakat non muslim sebagai biaya pengganti atas jaminan keamanan jiwa dan harta

benda mereka. Penguasa Islam wajib mengembalikan jizyah jika tidak berhasil menjamin dan

melindungi jiwa dan harta kekayaan masyarakat non muslim. Kharaj merupakan pajak atas

kepemilikan tanah yang dipungut kepada setiap masyarakat non muslim yang memiliki tanah

pertanian. Ghanimah merupakan hasil rampasan perang yang 4/5 dari ghanimah tersebut

dibagikan kepada pasukan yang turut berperang dan sisanya yaitu 1/5 didistribusikan untuk

keperluan keluarga Nabi, anak-anak yatim, fakir miskin dan untuk kepentingan umum

masyarakat. al-Fay pada umumnya diartikan sebagai tanah-tanah yang berada di wilayah

negeri yang ditaklukkan, kemudian menjadi harta milik negara. Pada masa Nabi, Negara

mempunyai tanah-tanah pertanian yang luas, yang hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan

umum masyarakat.

REFERENSI:

Pulungan, J. Suyuthi. 1996. Prinsip-Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau


dari Pandangan Al-Quran. Jakarta: PT RajaGrasindo Persada.

Yatim, Badri dan Hafiz Anshari AZ. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT
RajaGrasindo Persada.

11