Anda di halaman 1dari 30

35

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap medikal bedah Badan

Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar setelah

mendapat surat izin dari pihak rumah sakit berdasarkan permohonan izin dari

pihak pendidikan.

Selanjutnya peneliti mengadakan pendekatan dengan para kepala

ruangan dan perawat pelaksana yang bertugas di ruang rawat inap medikal

bedah, kemudian dilanjutkan dengan memberikan penjelasan sesuai dengan

etika penelitian dan mempersilahkan responden menandatangani lembar

persetujuan responden serta mengisi lembar kuesioner yang disertakan dalam

lembaran tersebut

Pengumpulan data dilakukan selama 7 ( tujuh ) hari, yaitu sejak tanggal

21 sampai dengan 28 Pebruari 2004 dengan jumlah responden kepala ruangan

sebanyak 8 orang dan perawat pelaksana 48 orang.

Adapun hasil pengolahan data penelitian diuraikan sebagai berikut :

1. Data Demografi Responden Penelitian

Hasil pengolahan data tentang responden penelitian di ruang rawat inap

medikal bedah Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji

Makassar dapat dilihat pada tabel 1 berikut :


36

Tabel 1
Distribusi frekuensi responden menurut jenis kelamin, kelompok umur,
tingkat pendidikan, status perkawinan, pelatihan di ruang rawat inap
BP-RSUD Labuang Baji Makassar
Tahun 2004
Kepala Ruangan Perawat Pelaksana
No. Variabel
Jumlah F(%) Jumlah F (%)
1. Jenis Kelamin
Laki laki 0 0 1 2,08
Perempuan 8 100 47 97,92
2. Kelompok umur
25 0 0 3 6,25
> 25 - 30 0 0 6 12,50
> 30 - 35 0 0 14 29,17
> 35 40 8 100 25 52,08
3. Tingkat Pendidikan
SPK 0 0 8 16,67
D III 7 87,5 40 83,33
D IV 1 12,5 0 0
4 Lama bekerja (thn)
5 0 0 6 12,50
> 5 10 0 0 8 16,67
> 10 20 4 50 21 43,75
> 20 30 4 50 13 27,08
5. Stutus Perkawinan
Kawin 7 87,5 45 93,75
Belum kawin 1 12,5 3 6,25
6. Pelatihan
Ada 8 100 14 29,17
Tidak ada 0 0 34 70,83
7. SAK
Ada 8 100 39 81,25
Tidak ada 0 0 9 18,75
8. SOP
Ada 8 100 43 89,58
Tidak ada 0 0 5 10,42
9. Uraian Tugas
Ada 7 87,5 31 64,58
Tidak Ada 1 12,5 17 35,42
Sumber : Data primer

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa dari 8 responden kepala

ruangan dan 48 responden perawat pelaksanan menunjukkan bahwa jumlah


37

responden berdasarkan jenis kelamin kepala ruangan, seluruhnya

perempuan (100 %) sedang perawat pelaksana laki laki 1 orang (2,08%)

perempuan 47 orang ( 97,92% ).

Berdasarkan kelompok umur dari 8 orang kepala ruangan seluruhnya umur

> 35 40 tahun sedangkan dari 48 orang perawat pelaksana 25 tahun 3

orang ( 6,25 %), > 25 30 6 orang ( 12,50% ), > 30 35 tahun 14 orang

(29,17 % ), > 35 40 tahun 25 orang ( 52,08 %).

Berdasarkan tingkat pendidikan, dari 8 orang kepala ruangan D III

keperawatan 7 orang ( 87,5 % ), D IV 1 orang ( 12,5 % ) sedangkan dari 48

orang perawat pelaksana SPK 8 orang ( 16,67 % ), DIII 40 orang ( 83,33 %).

Berdasarkan lama bekerja kepala ruangan > 10 20 tahun 4 orang ( 50 % ),

> 20 30 4 orang ( 50 % ) sedangkan perawat pelaksana 5 tahun 6 orang

(12,50 %), > 5 10 tahun 8 orang ( 16,67 %), > 10 20 tahun 21 orang

(43,75 %), > 20 30 tahun 13 orang ( 27,08 %).

Berdasarkan status perkawinan dari 8 orang kepala ruangan, kawin 7 orang

(87,5 %) dan belum kawin 1 orang ( 12,5 %) sedangkan berdasarkan

perawat pelaksana dari 48 orang ,kawin 45 orang ( 93,75 %), dan yang

belum kawin 3 orang ( 6,25 %).

Berdasarkan Pelatihan, dari 8 orang kepala ruangan seluruhnya telah

mendapat pelatihan tentang manajemen asuhan keperawatan, sedangkan dari

48 orang perawat pelaksana yang telah mendapat pelatihan tentang asuhan

keperawatan sebanyak 39 orang ( 81,25 %) dan yang belum mendapat

pelatihan 9 orang (18,75 %).


38

Berdasarkan Standar Asuhan Keperawatan ( SAK ), dari 8 orang ( 100 %)

kepala ruangan mengatakan SAK ada, sedangkan perawat pelaksana dari 48

orang, 39 orang ( 81,25 %) mengatakan ada SAK dan 9 orang ( 18,75 %)

mengatakan SAK tidak ada.

Berdasarkan Standar Operasional Prosedur ( SOP ) dari 8 orang ( 100 %)

kepala ruangan mengatakan SOP ada, sedangkan menurut perawat pelaksana

dari 48 orang 43 orang ( 89,58 %) mengatakan ada SOP dan 5 orang

(10,42%) mengatakan tidak ada SOP.

Berdasarkan Uraian tugas dari 8 orang kepala ruangan 7 orang ( 87,5 %)

mengatakatan ada uraian tugas dan 1 orang ( 12,5 %) mengatakan tidak ada

uraian tugas, sedangkan menurut perawat pelaksana dari 48 orang 31 orang

(64,58 %) mengatakan ada uraian tugas dan 17 orang ( 35,42 %)

mengatakan tidak ada uraian tugas.

2. Karakteristik Variabel Penelitian

a. Peran Kepala Ruangan

Berdasarkan hasil pengumpulan data dari 8 kepala ruangan di

ruangan medikal bedah BP-RSUD Labung Baji dengan menggunakan

kuesioner yang dilakukan pada tanggal 21 sampai dengan 28 Februari

2004, yang kemudian dilakukan pengolahan data maka diperoleh hasil

sebagaimana terlampir ( lampiran 7) sedangkan hasil observasi dapat

dilihat pada ( lampiran 8 ) selanjutnya dilakukan penentuan kriterium

kurang baik dan baik berdasarkan nilai mean pada setiap peran kepala

ruangan sebagai supervisor.


39

1) Peran Kepala Ruangan Berdasarkan Hasil Kuesioner

Berdasarkan hasil kuesioner dari 8 responden tentang peran kepala

ruangan di BP-RSUD Labuang Baji di ruangan medikal bedah dapat

dilihat pada tabel 2 di bawah ini

Tabel 2
Distribusi frekuensi nilai peran kepala ruangan berdasarkan hasil
kuesioner di BP-RSUD Labuang Baji Makassar
Tahun 2004
Hasil Kuesioner
No. Kriteria nilai Mean
Frekwensi F ( % )
1. Perencana
Kurang Baik 3 37,5 19,00
Baik 5 62,5
Jumlah 8 100
2. Pengarah
Kurang Baik 4 50 18,38
Baik 4 50
Jumlah 8 100
3. Pelatih
Kurang Baik 4 50 17,88
Baik 4 50
Jumlah 8 100
4. Pengamat
4 50
Kurang Baik 18,75
4 50
Baik
Jumlah 8 100
5. Penilai
Kurang Baik 6 75 19,13
Baik 2 25
Jumlah 8 100
Sumber : Data primer

Dari tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa peran supervisor /

kepala ruangan sebagai :


40

Peran perencana menunjukkan kriteria nilai kurang baik lebih kecil

yaitu 3 orang (37,5 %) dibanding dengan kategori baik yaitu 5 orang

(62,5%). Sedangkan Data tentang peran supervisor/kepala ruangan

sebagai perencana di ruang rawat inap medikal bedah BP-RSUD

Labuang Baji Makassar menunjukkan skor terendah 17 dan skor

tertinggi 21 (lampiran 7). Skor kriterium dari data yang terkumpul

adalah 8 x 24 = 192, sedangkan untuk skor total tentang peran

supervisor/kepala ruangan sebagai perencana yang diperoleh adalah

152. Dengan demikian tingkat prosentase peran supervisor / kepala

ruangan sebagai perencana adalah 152 : 192 = 0,79 x 100 % = 79 %.

Peran pengarah menunjukkan kriteria nilai kurang baik sama dengan

kategori baik yaitu masing 4 orang (50 %) . Sedangkan data tentang

peran supervisor/kepala ruangan sebagai pengarah di ruang rawat

inap medikal bedah BP-RSUD Labuang Baji Makassar menunjukkan

skor terendah 16 dan skor tertinggi 21 ( lampiran 7). Skor kriterium

dari data yang terkumpul adalah 8 x 24 = 192, sedangkan untuk skor

total tentang peran supervisor/kepala ruangan sebagai pengarah yang

diperoleh adalah 147. Dengan demikian tingkat prosentase peran

supervisor/kepala ruangan sebagai pengarah adalah 147 : 192 = 0,76

x 100 % = 76 %,

Peran pelatih menunjukkan kriteria nilai kurang baik sama dengan

kategori baik yaitu masing 4 orang (50 %) . Sedangkan data tentang

peran supervisor/kepala ruangan sebagai pelatih di ruang rawat inap

medikal bedah BP-RSUD Labuang Baji Makassar menunjukkan skor


41

terendah 16 dan skor tertinggi 21 (lihat lampiran 7). Skor kriterium

dari data yang terkumpul adalah 8 x 24 = 192, sedangkan untuk

skor total tentang peran supervisor/kepala ruangan sebagai pelatih

yang diperoleh adalah 143. Dengan demikian tingkat prosentase

peran supervisor/kepala ruangan sebagai pelatih adalah 143 : 192 =

0,74 x 100 % = 74 %.

Peran pengamat menunjukkan kriteria nilai kurang baik sama

dengan kategori baik yaitu masing 4 orang (50 %) . Sedangkan data

tentang peran supervisor / kepala ruangan sebagai pengamat di ruang

rawat inap medikal bedah BP-RSUD Labuang Baji Makassar

menunjukkan skor terendah 16 dan skor tertinggi 23 ( lampiran 7).

Skor kriterium dari data yang terkumpul adalah 8 x 24 = 192,

sedangkan untuk skor total tentang peran supervisor/kepala ruangan

sebagai pengamat yang diperoleh adalah 150. Dengan demikian

tingkat prosentase peran supervisor/kepala ruangan sebagai

pengamat adalah 150 : 192 = 0,78 x 100 % = 78 %.

Peran penilai menunjukkan kriteria nilai kurang baik lebih besar

yaitu 6 orang (75 %) dibanding dengan kategori baik yaitu 2 orang

(25 %). Sedangkan data tentang peran supervisor/kepala ruangan

sebagai penilai di ruang rawat inap medikal bedah BP-RSUD

Labuang Baji Makassar menunjukkan skor terendah 18 dan skor

tertinggi 23 ( lampiran 7). Skor kriterium dari data yang terkumpul

adalah 8 x 24 = 192, sedangkan untuk skor total tentang peran

supervisor/kepala ruangan sebagai penilai yang diperoleh adalah 153.


42

Dengan demikian tingkat prosentase peran supervisor/kepala ruangan

sebagai penilai adalah 153 : 192 = 0,80 x 100 % = 80 %.

2) Peran Kepala Ruangan Berdasarkan Nilai kumulatif Hasil Kuesioner

Nilai kumulatif peran kepala ruangan berdasarkan hasil kuesioner

dari delapan kepala ruangan dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3
Hasil kuesioner kumulatif peran kepala ruangan di Ruang awat
inap BP-RSUD Labuang Baji Makassar
Tahun 2004

Hasil Kuesioner
kumulatif Mean
Kriteria nilai
Frekwensi F ( % )
Kurang Baik 6 75
93,12
Baik 2 25
Jumlah 8 100
Sumber : Data primer

Berdasarkan tabel 3 diatas menunjukkan nilai kumulatif

kuesioner dari 8 kepala ruangan yaitu kurang baik 6 orang ( 75 % )

dan baik sebanyak 2 orang ( 25 % ). Hal ini berdasarkan dengan nilai

mean 93,12.

3) Peran Kepala Ruangan Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi peneliti dari 8 responden tentang peran

kepala ruangan di BP-RSUD Labuang Baji di rungan medikal bedah

dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini

Tabel 4
Distribusi frekuensi nilai peran kepala ruangan berdasarkan hasil
observasi di BP-RSUD Labuang Baji Makassar
Tahun 2004
No. Kriteria nilai Hasil Kuesioner Mean
43

Frekwensi F(%)
1. Perencana
Kurang Baik 8 100 1
Baik 0 0
Jumlah 8 100
2. Pengarah
Kurang Baik 3 37,5 1,63
Baik 5 62,5
Jumlah 8 100
3. Pelatih
Kurang Baik 2 25 1,75
Baik 6 75
Jumlah 8 100
4. Pengamat
4 50
Kurang Baik 1,50
4 50
Baik
Jumlah 8 100
5. Penilai
Kurang Baik 6 75 1,25
Baik 2 25
Jumlah 8 100
Sumber : Data primer

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa peran supervisor/kepala

ruangan sebagai :

Peran perencana menunjukkan kriteria nilai kurang baik lebih besar

yaitu 8 orang (100 %) dibanding dengan kategori baik sedangkan

berdasarkan observasi peneliti skor terendah dan tertinggi adalah

sama yaitu 1 (lampiran 8). Skor kriterium dari data yang terkumpul

adalah 8 x 4 = 32, skor total yang diperoleh adalah 8, jadi tingkat

prosentasenya adalah 8 : 32 = 0,25 x 100 % = 25 %.

Peran pengarah menunjukkan kriteria nilai kurang baik lebih kecil

yaitu 3 orang (37,5 %) dibanding dengan kategori baik yaitu masing


44

5 orang (62,5 %) . berdasarkan observasi peneliti skor terendah 1 dan

tertinggi 2 (lampiran 8). Skor kriterium dari data yang terkumpul

adalah 8 x 4 = 32, skor total yang diperoleh adalah 13, jadi tingkat

prosentasenya adalah 13 : 32 = 0,41 x 100 % = 41 %.

Peran pelatih menunjukkan kriteria nilai kurang baik lebih kecil

yaitu 2 orang ( 25 %) dibanding dengan kategori baik yaitu 6 orang

(75 %) . Sedangkan berdasarkan observasi peneliti skor terendah 1

dan tertinggi 2 (lampiran 8). Skor kriterium dari data yang terkumpul

adalah 8 x 4 = 32, skor total yang diperoleh adalah 14, jadi tingkat

prosentasenya adalah 14 : 32 = 0,44 x 100 % = 44 %.

Peran pengamat menunjukkan kriteria nilai kurang baik sama

dengan kategori baik yaitu masing 4 orang (50 %) . Sedangkan

berdasarkan observasi peneliti skor terendah 1 dan tertinggi 2

(lampiran 8). Skor kriterium dari data yang terkumpul adalah 8 x 4 =

32, skor total yang diperoleh adalah 12, jadi tingkat prosentasenya

adalah 12 : 32 = 0,37 x 100 % = 37 %.

Peran penilai menunjukkan kriteria nilai kurang baik lebih besar

yaitu 6 orang (75 %) dibanding dengan kategori baik yaitu 2 orang

(25 %). Sedangkan berdasarkan observasi peneliti skor terendah 1

dan tertinggi 2 (lampiran 8). Skor kriterium dari data yang terkumpul

adalah 8 x 4 = 32, skor total yang diperoleh adalah 10, jadi tingkat

prosentasenya adalah 10 : 32 = 0,31 x 100 % = 31 %.

4) Peran Kepala Ruangan Berdasarkan Nilai kumulatif hasil observasi


45

Nilai kumulatif peran kepala ruangan berdasarkan hasil observasi

dari delapan kepala ruangan dapat dilihat pada tabel 5

Tabel 5
Hasil observasi kumulatif peran kepala ruangan di Ruang rawat
inap BP-RSUD Labuang Baji Makassar
Tahun 2004
Hasil observasi
Kriteria nilai kumulatif Mean
Frekwensi F ( % )
Kurang Baik 6 75
7,13
Baik 2 25
Jumlah 8 100
Sumber : Data primer

Berdasarkan penguraian diatas selanjutnya peneliti membuat

nilai mean kumulatif kuesioner dan observasi terhadap 8 kepala

ruangan menunjukkan nilai yang sama yaitu kurang baik 6 orang

(75 % ) dan baik sebanyak 2 orang ( 25 % ). Hal ini berdasarkan nilai

mean 7,13.

b. Kinerja Perawat Pelaksana

Pengumpulan data tentang kinerja perawat pelaksana di ruangan

medikal bedah BP-RSUD Labuang Baji juga dilakukan dengan 2 cara

yaitu dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung oleh

peneliti dari tanggal 21 sampai dengan 28 Pebruari 2004, dengan jumlah

responden 48 orang.

Hasil pengolahan data sebagaimana terlampir ( lampiran 9)

sedangkan hasil observasi dapat dilihat pada ( lampiran 10) keduanya

dilakukan penentuan kriterium kurang baik dan baik berdasarkan nilai

mean pada setiap standar asuhan keperawatan kinerja perawat


46

pelaksana. Berikut adalah penjelasan secara terperinci berdasarkan setiap

standar yang dimaksud.

1) Kinerja Perawat Pelaksana Berdasarkan hasil kuesioner

Kinerja perawat pelaksana yang meliputi pengkajian, diagnosa,

perencanaan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi berdasarkan

hasil kuesioner dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6

Distribusi frekuensi nilai kinerja perawat pelaksana berdasarkan hasil


kuesioner di BP-RSUD Labuang Baji Makassar
Tahun 2004
Hasil Kuesioner
No. Kriteria nilai Mean
Frekwensi F ( % )
1. Pengkajian
Kurang Baik 14 22,9 10,23
Baik 34 77,1
Jumlah 48 100
2. Diagnosa
Kurang Baik 21 43,8 10,48
Baik 27 56,2
Jumlah 48 100
3. Perencanaan
Kurang Baik 19 39,6 10,63
Baik 29 60,4
Jumlah 48 100
4. Implementasi
35,4
Kurang Baik 17 10,65
Baik 31 64,6
Jumlah 48 100
5. Evaluasi
Kurang Baik 25 52,1 10,44
Baik 23 47,9
Jumlah 48 100
6. Dokumentasi 11,19
47

Kurang Baik 25 52,1


Baik 23 47,9
Jumlah 48 100
Sumber : Data primer

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat kinerja perawat pelaksana

dalam standar asuhan keperawatan berupa :

Pengkajian menunjukkan nilai dengan kategori baik lebih

besar yaitu 34 orang (77,1%) dibanding dengan kategori kurang baik

14 orang (22,9%). Sedangkan data kinerja perawat pelaksana dalam

standar asuhan keperawatan di ruang rawat inap medikal bedah BP-

RSUD Labuang Baji Makassar berupa , ( lampiran 9 dan 10 ) :

Pengkajian menunjukkan skor terendah 7 dan skor tertinggi 12 Skor

kriterium dari data yang terkumpul adalah 48 x 12 = 576, sedangkan

untuk skor total tentang kinerja perawat pelaksana dalam standar

asuhan keperawatan berupa pengkajian yang diperoleh adalah 491.

Dengan demikian tingkat prosentase kinerja perawat pelaksana

dalam standar asuhan keperawatan berupa pengkajian adalah 491 :

576 = 0,85 x 100 % = 85 %.

Diagnosa menunjukkan nilai dengan kategori baik lebih besar yaitu

27 orang (56,2%) dibanding dengan kategori kurang baik 21 orang

(43,8%). Diagnosa menunjukkan skor terendah 7 dan skor tertinggi

12. Skor kriterium dari data yang terkumpul adalah 48 x 12 = 576,

sedangkan untuk skor total tentang kinerja perawat pelaksana dalam

standar asuhan keperawatan berupa diagnosa yang diperoleh adalah

503. Dengan demikian tingkat prosentase kinerja perawat pelaksana


48

dalam standar asuhan keperawatan berupa diagnosa adalah 503 : 576

= 0,87 x 100 % = 87 %.

Perencanaan menunjukkan nilai dengan kategori baik lebih besar 29

yaitu orang (60,4%) dibanding dengan kategori kurang baik 19

orang (39,6%). Perencanaan menunjukkan skor terendah 6 dan skor

tertinggi 12 . Skor kriterium dari data yang terkumpul adalah 48 x 12

= 576, sedangkan untuk skor total tentang kinerja perawat pelaksana

dalam standar asuhan keperawatan berupa perencanaan yang

diperoleh adalah 510. Dengan demikian tingkat prosentase kinerja

perawat pelaksana dalam standar asuhan keperawatan berupa

perencanaan adalah 510 : 576 = 0,88 x 100 % = 88 %.

Implementasi menunjukkan nilai dengan kategori baik lebih besar

yaitu 31 orang (64,6%) dibanding dengan kategori kurang baik 17

orang (35,4%). Implementasi di ruang rawat inap medikal bedah

BP-RSUD Labuang Baji Makassar menunjukkan skor terendah 6 dan

skor tertinggi 12 Skor kriterium dari data yang terkumpul adalah

48 x 12 = 576, sedangkan untuk skor total tentang kinerja perawat

pelaksana dalam standar asuhan keperawatan berupa implementasi

yang diperoleh adalah 511. Dengan demikian tingkat prosentase

kinerja perawat pelaksana dalam standar asuhan keperawatan berupa

implementasi adalah 511 : 576 = 0,89 x 100 % = 89 %.

Evaluasi menunjukkan nilai dengan kategori kurang baik lebih besar

yaitu 25 orang (52,1%) dibanding dengan kategori baik 23 orang

(47,9%). Evaluasi menunjukkan skor terendah 8 dan skor tertinggi


49

12. Skor kriterium dari data yang terkumpul adalah 48 x 12 = 576,

sedangkan untuk skor total tentang kinerja perawat pelaksana dalam

standar asuhan keperawatan berupa evaluasi yang diperoleh adalah

501. Dengan demikian tingkat prosentase kinerja perawat pelaksana

dalam standar asuhan keperawatan berupa evaluasi adalah 501 : 576

= 0,87 x 100 % = 87 %.

Dokumentasi menunjukkan nilai dengan kategori kurang baik lebih

besar 25 orang (52,1%) dibanding dengan kategori baik 23 orang

(47,9%). Dokumentasi menunjukkan skor terendah 9 dan skor

tertinggi 12. Skor kriterium dari data yang terkumpul adalah 48 x 12

= 576, sedangkan untuk skor total tentang kinerja perawat pelaksana

dalam standar asuhan keperawatan berupa dokumentasi yang

diperoleh adalah 537. Dengan demikian tingkat prosentase kinerja

perawat pelaksana dalam standar asuhan keperawatan berupa

dokumentasi adalah 537 : 576 = 0,93 x 100 % = 93 %.

2) Kinerja perawat pelaksana berdasarkan nilai kumulatif hasil

kuesioner

Nilai kumulatif kinerja perawat pelaksana berdasarkan hasil

kuesioner dari empat puluh delapan perawat pelaksana dapat dilihat

pada tabel 7

Tabel 7
Hasil kuesioner kumulatif kinerja perawat pelaksana
di Ruang rawat inap BP-RSUD Labuang Baji Makassar
50

Tahun 2004
Hasil Kuesioner
Kriteria nilai kumulatif Mean
Frekwensi F ( % )
Kurang Baik 23 47,9
78,89
Baik 25 52,1
Jumlah 48 100
Sumber : Data primer

Berdasarkan penguraian diatas selanjutnya peneliti membuat nilai

mean kumulatif dari nilai kuesioner dari 48 perawat pelaksana

yaitu kurang baik 23 orang ( 47,9 % ) dan baik 25 orang

(52,1%). Hal ini berdasarkan nilai mean 78,89.

3) Kinerja Perawat Pelaksana Berdasarkan Hasil Observasi

Kinerja perawat pelaksana yang meliputi pengkajian, diagnosa,

perencanaan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi berdasarkan

hasil observasi dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini.

Tabel 8
Distribusi frekuensi nilai kinerja perawat pelaksana berdasarkan hasil
observasi di BP-RSUD Labuang Baji Makassar
Tahun 2004
Hasil observasi
No. Kriteria nilai Mean
Frekwensi F ( % )
1. Pengkajian
Kurang Baik 19 39,6 7.79
Baik 29 60,4
Jumlah 48 100
2. Diagnosa
Kurang Baik 25 52,1 4.90
Baik 23 47,9
Jumlah 48 100
3. Perencanaan 4.94
Kurang Baik 21 43,8
51

Baik 27 56,2
Jumlah 48 100
4.
Implementasi
Kurang Baik 19 4.77
39,6
Baik 29
60,4
Jumlah 48 100
5. Evaluasi
Kurang Baik 29 60,4 4.21
Baik 19 39,6
Jumlah 48 100
6. Dokumentasi
Kurang Baik 27 56,3 6,46
Baik 21 43,7
Jumlah 48 100
Sumber : Data primer

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat kinerja perawat pelaksana

dalam standar asuhan keperawatan hasil observasi berupa :

Pengkajian menunjukkan nilai dengan kategori kurang baik lebih

kecil yaitu 19 orang (39,6%) dibanding dengan kategori baik 29

orang (60,4%). dan berdasarkan observasi peneliti skor terendah 4

dan tertinggi 8 (lampiran 10). Skor kriterium dari data yang

terkumpul adalah 48 x 8 = 384, skor total yang diperoleh adalah 310,

jadi tingkat prosentasenya adalah 310 : 384 = 0,81 x 100 % = 81 %.

Diagnosa menunjukkan nilai dengan kategori kurang baik lebih

besar yaitu 25 orang (52,1%) dibanding dengan kategori baik 23

orang (47,9%). dan berdasarkan observasi peneliti skor terendah 2

dan tertinggi 8 (lampiran 10). Skor kriterium dari data yang

terkumpul adalah 48 x 8 = 384, skor total yang diperoleh adalah 202,

jadi tingkat prosentasenya adalah 202 : 384 = 0,53 x 100 % = 53 %.


52

Perencanaan menunjukkan nilai dengan kategori kurang baik lebih

besar 21 orang (43,8%) dibanding dengan kategori baik 27 orang

(56,2%). dan berdasarkan observasi peneliti skor terendah 3 dan

tertinggi 7 ( lampiran 10). Skor kriterium dari data yang terkumpul

adalah 48 x 8 = 384, skor total yang diperoleh adalah 229, jadi

tingkat prosentasenya adalah 229 : 384 = 0,60 x 100 % = 60 %.

Implementasi menunjukkan nilai dengan kategori kurang baik yaitu

19 orang (39.6%) lebih kecil dibanding dengan kategori baik 29

orang (60,4%). berdasarkan observasi peneliti skor terendah 2 dan

tertinggi 8 (lampiran 10). Skor kriterium dari data yang terkumpul

adalah 48 x 8 = 384, skor total yang diperoleh adalah 237, jadi

tingkat prosentasenya adalah 237 : 384 = 0,62 x 100 % = 62 %.

Evaluasi menunjukkan nilai dengan kategori kurang baik lebih besar

yaitu 29 orang (60,4%) dibanding dengan kategori baik 19 orang

(39,6%). berdasarkan observasi peneliti skor terendah 2 dan tertinggi

8 (lampiran10). Skor kriterium dari data yang terkumpul adalah

48 x 8 = 384, skor total yang diperoleh adalah 235, jadi tingkat

prosentasenya adalah 235 : 384 = 0,61 x 100 % = 61 %.

Dokumentasi menunjukkan nilai dengan kategori kurang baik lebih

besar yaitu 27 orang (56,3%) dibanding dengan kategori baik 21

orang (43,7%). Sedangkan berdasarkan observasi peneliti skor

terendah 3 dan tertinggi 12 (lampiran 10). Skor kriterium dari data

yang terkumpul adalah 48 x 12 = 576, skor total yang diperoleh


53

adalah 374, jadi tingkat prosentasenya adalah 374 : 576 = 0,65 x

100% = 65 %.

4) Kinerja perawat pelaksana berdasarkan nilai kumulatif hasil

observasi

Nilai kumulatif kinerja perawat pelaksana berdasarkan hasil

observasi dari empat puluh delapan perawat pelaksana dapat dilihat

pada tabel 9

Tabel 9
Hasil observasi kumulatif kinerja perawat pelaksana
di Ruang rawat inap BP-RSUD Labuang Baji Makassar
Tahun 2004
Hasil observasi
Kriteria nilai kumulatif Mean
Frekwensi F ( % )
Kurang Baik 26 54,2
33,06
Baik 22 45,8
Jumlah 48 100
Sumber : Data primer

Berdasarkan penguraian diatas selanjutnya peneliti membuat

nilai mean kumulatif dari nilai observasi dari 48 perawat pelaksana

yaitu kurang baik 26 orang ( 54,2 % ) dan baik 22 orang (45,8 %).

Hal ini berdasarkan nilai mean 33,06.

B. Pembahasan

Dalam pembahasan ini kami akan menjelaskan secara terpisah semua peran

kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana serta membandingkan antara

hasil kuesioner dengan hasil observasi. Dari hasil yang didapatkan menunjukkan

adanya perbedaan antara kuesioner dengan observasi kemungkinan hal ini


54

disebabkan karena perbedaan pemahaman antara responden dengan peneliti

tentang standar peran kepala ruangan dan standar asuhan keperawatan bagi

perawat pelaksana.

Peran kepala ruangan sebagai perencana dari hasil kuesioner menunjukkan

nilai baik lebih besar dari pada nilai kurang baik. dan hasil observasi seluruhnya

menunjukkan nilai kurang baik, sedangkan hasil perbandingan nilai harapan dan

yang didapat berdasarkan kuesioner 71 % baik dan observasi 25 % baik.

Menurut Seeker Karen (2000), bahwa perencana merupakan suatu peran

untuk menetapkan strategi untuk mencapai tujuan dengan memberikan

perhatian terhadap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pada pekerja dan hasil

kerjanya.

Perencanaan adalah proses mental dimana semua manajer perawat

menggunakan data yang valid dan dapat dipercaya untuk mengembangkan

obyektif dan menentukan sumber-sumber yang dibutuhkan dalam mencapai

obyektif.

Tujuan utama dari perencanaan adalah membuat kemungkinan paling baik

dalam hal penggunaan personel , bahan dan alat. Perencanaan strategi

mempunyai misi : mengumpulkan dan menganalisa data, mengkaji kekuatan dan

kelemahan, menyusun sasaran dan obyektif, melaksanakan strategi,

melaksanakan sesuai jadwal.

Walaupun hasil antara kuesioner dengan observasi menunjukkan nilai yang

berbeda tetapi peneliti ingin menegaskan bahwa peran kepala ruangan sebagai

perencana merupakan fase pertama yang mutlak diperlukan untuk keberhasilan

kinerja perawat. Perencanaan dalam supervisi keperawatan dimaksudkan untuk


55

membantu mengisi misi perawatan Rumah Sakit dalam hal ini Rumah Sakit

BP-RSUD Labuang Baji.

Salah satu pendapat Kron ( 1981 ) tentang pengarah adalah jika supervisor

melihat perawat pelaksana tidak bekerja sesuai standar maka harus segera

diperbaiki dengan cara yang baik. Berdasarkan peran kepala ruangan sebagai

pengarah dari hasil kuesioner menunjukkan nilai baik sama dengan nilai kurang

baik sedangkan hasil observasi menunjukkan nilai baiklebih besar dari nilai

kurang baik, berdasarkan hasil perbandingan nilai harapan dan yang didapat

kuesioner 76 % dan observasi 41 % baik.

Menurut Douglas ( 1987 ) Pengarahan adalah pengeluaran penugasan,

pesanan dan instruksi yang memungkinkan pekerja memahami apa yang

diharapkan darinya, dan pedoman serta pandangan pekerja sehingga ia dapat

berperan secara efektif dan efisien untuk mencapai obyektif organisasi.

Dengan memperhatikan pendapat di atas dan hasil yang diperoleh dari

penelitian ini menunjukkan bahwa peran pengarah oleh kepala ruangan masih

perlu ditingkatkan, karena pengarahan yang efektif akan menghasilkan

hubungan yang harmonis antara supervisor / pimpinan dengan bawahan dalam

hal ini perawat pelaksana. Pengarahan paling efektif bila bawahan mempunyai

satu atasan yang kontak langsung dengannya. Hal ini dapat dikembangkan oleh

kepala ruangan / keperawatan yang mempunyai keinginan kuat untuk

menghasilkan aktivitas pengarahannya.

Sebagai pelatih menurut Murray (1997) : Karena cepatnya perubahan pada

pelayanan kesehatan dan tehnologi kesehatan berkembang cepat maka


56

kebutuhan untuk penyesuaian pelayanan keperawatan sangat diperlukan untuk

itu supervisor harus trampil dalam menyelesaikan masalah.

Dari hasil penelitian peran kepala ruangan sebagai pelatih, hasil kuesioner

menunjukkan nilai baik sama besar dengan nilai kurang baik , hasil observasi

nilai baik lebih besar dari nilai kurang baik, sedangkan hasil perbandingan nilai

harapan dan yang didapat berdasarkan kuesioner 74 % dan observasi 44 % baik.

Data diatas juga menunjukkan hasil yang masih perlu ditingkatkan karena

metode ini sangat efektif untuk mempertemukan kebutuhan staf keperawatan

dengan struktural dengan ada dukungan. Dalam menetapkan tujuan, kelompok

harus diutamakan dari kepentingan pribadi, pada anggota yang berprestasi

diberikan reinforcemant, selama memberikan pelatihan dengan pesan untuk

mengurangi kebiasaan yang tidak baik.

Sebagai pengamat menurut Kron (1981) supervisi termasuk observasi

artinya melaksanakan observasi pada staf pada saat bekerja merupakan

tanggung jawab yang sangat besar, mengobservasi dilakukan untuk cheching

dan inspeksi, untuk itu diperlukan tambahan pengetahuan dan pemikiran dengan

menggunakan semua perasaan. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat pasien

yang dirawat dari seluruh aspek individu. Untuk dapat mengobservasi dengan

baik tidak hanya melihat penampilan fisik petugas tetapi juga manifestasi

pemahaman dan emosional dari petugas.

Dari hasil penelitian peran kepala ruangan sebagai pengamat, hasil kuesioner

dan hasil observasi menunjukkan nilai baik sama besar dengan nilai kurang

baik, sedangkan hasil perbandingan nilai harapan dan yang didapat berdasarkan

kuesioner 78 % dan observasi 30 % baik.


57

Data diatas juga menunjukkan hasil yang masih perlu ditingkatkan karena

proses jaminan kualitas memerlukan pemantauan yang terus menerus selain

untuk mencegah kekeliruan secara dini juga untuk menjamin bahwa apa yang

direncanakan atau diharapkan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Sebagai penilai menurut Gillies (1994), Tempat evaluasi dilaksanakan

dilingkungan perawatan pasien dan supervisor harus menguasai keefektifan

struktur organisasi Job diskription, standar hasil kerja, metode penugasan dan

dapat mengobservasi staf yang sedang bekerja. Evaluasi dapat dilaksanakan jika

tujuannya spesifik.

Dari hasil penelitian peran kepala ruangan sebagai penilai, hasil kuesioner

dan observasi menunjukkan nilai baik lebih kecil dari nilai kurang baik,

sedangkan hasil perbandingan nilai harapan dan yang didapat berdasarkan

kuesioner 80 % dan observasi 31 % baik.

Dari data di atas menunjukkan bahwa peran kepala ruangan sebagai penilai

masih sangat kurang dilaksanakan. Sementara peran kepala ruangan sebagai

supervisor amat penting untuk melaksanakan penilaian. Melalui peran ini

standar dapat dibuat dan kemudian digunakan untuk proses ke arah yang lebih

baik. Oleh karena itu selayaknya tetap dipertahankan kelangsungannya untuk

mendapatkan hasil yang terus mengalami perbaikan sesuai dengan kebutuhan

perkembangan waktu maka dengan itu setiap manajer dalam hal ini kepala

ruangan harus mempunyai rencana tetap untuk melakukan penilaian yang

melibatkan masukan dari semua perawat pelaksana untuk mencapai kinerja

perawat pelaksana sesuai standar operasional prosedur dan standar asuhan

keperawatan.
58

Nilai kumulatif kuesioner dari 8 kepala ruangan yaitu baik sebanyak 2

orang yang berarti lebih kecil dari nilai kurang baik 6 orang Hal ini berdasarkan

dengan nilai mean 93,12. sedangkan nilai observasi terhadap 8 kepala ruangan

menunjukkan nilai yang sama yaitu nilai baik juga 2 orang artinya lebih kecil

dari nilai kurang baik 6 orang Hal ini berdasarkan nilai mean 7,13.

Untuk kinerja perawat yang telah diteliti mencakup kemampuan dan

keterampilan yang berkaitan dengan tugas tugas dan pekerjaan yang sesuai

dengan uraian tugas sebagai pelaksana keperawatan yaitu pemberi asuhan

keperawatan sesuai standar yang ada. Menurut Astuti Sri Wardhani ( 1997 )

Asuhan keperawatan adalah merawat dan memberikan pendidikan kesehatan

kepada pasien atau klien. Dalam menilai kualitas pelayanan keperawatan kepada

klien digunakan standar praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi

perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Standar praktik keperawatan

mengacu dalam tahapan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa

keperawatan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi.

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu

proses yang sistimatimatis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data

untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.

Dari hasil penelitian kinerja perawat dalam standar asuhan keperawatan

berupa pengkajian didapatkan hasil sesuai kuesioner menunjukkan nilai baik

lebih besar dari nilai kurang baik, sedangkan hasil observasi juga menunjukkan

nilai baik lebih besar dari nilai kurang baik, sedangkan hasil perbandingan nilai

harapan dan yang didapat berdasarkan kuesioner 85 % dan observasi 65 % baik.


59

Data di atas memberikan suatu gambaran bahwa kinerja perawat pelaksana

tentang pengkajian yang merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan

keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu sudah menunjukkan nilai yang

baik tetapi masih perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran para

perawat pelaksana di ruang Medikal Bedah BP-RSUD Labuang Baji, Oleh

karena pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran

data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan

memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon individu,

sebagaimana yang telah ditentukan dalam standar praktik keperawatan dari ANA

( American Nursing Association).

Pengkajian keperawatan data dasar yang komprehensif adalah kumpulan

data yang berisikan status kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola

kesehatan dan keperawatannya terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsulatsi dari

medis ( terapis ) atau profesi kesehatan lainya (Talor, Lillis dan Le Mone, 1996).

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon

manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat

mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status

kesehatan menurunkan,membatasi,mencegah, dan merubah. (a Carpenito, 2000)

Dari hasil penelitian kinerja perawat dalam standar asuhan keperawatan

berupa diagnosa keperawatan didapatkan hasil sesuai kuesioner menunjukkan

nilai baik sedikit lebih besar dari nilai kurang baik, tetapi hasil observasi

menunjukkan nilai baik lebih kecil dari nilai kurang baik, sedangkan hasil

perbandingan nilai harapan dan yang didapat berdasarkan kuesioner 87 % dan

observasi 61 % baik.
60

Mengingat diagnosa keperawatan memberikan dasar-dasar pemilihan

intervensi untuk mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat. Maka

berdasar pada data di atas menunjukkan tingkat pencapaian kinerja perawat

yang masih kurang sehingga perlu ditingkatkan oleh karena secara akontabilitas

diagnosa keperawatan dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara

pasti untuk menjaga status kesehatan klien.

Adapun persyaratan dari diagnosa keperawatan adalah perumusan harus

jelas dan singkat dari respon pasien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi,

spesifik dan akurat, memberikan arahan pada asuhan keperawatan, dapat

dilaksanakan oleh perawat dan mencerminkan keadaan kesehatan pasien.

Perencanaan adalah sesuatu yang telah dipertimbangkan secara mendalam,

tahap yang sistematik dari proses keperawatan meliputi kegiatan pembuatan

keputusan dan pemecahan masalah. Dalam perencanaan keperawatan, perawat

menetapkannya berdasarkan hasil pengumpulan data dan rumusan diagnosa

keperawatan yang merupakan petunjuk dalam membuat tujuan dan asuhan

keperawatan untuk mencegah, menurunkan atau mengeliminasi masalah

kesehatan klien. Langkah-langkah dalam membuet perencanaan keperawatan

meliputi : penetapan prioritas, penetapan tujuan/hasil yang diharapkan,

menentukan intervensi keperawatan yang tepat dan pengembangan rencana

asuhan keperawatan .

Dari hasil penelitian kinerja perawat dalam standar asuhan keperawatan

berupa perencanaan keperawatan didapatkan hasil sesuai kuesioner

menunjukkan nilai baik lebih besar dari nilai kurang baik demikian halnya

dengan hasil observasi nilai baik juga lebih besar dari nilai kurang baik,
61

sedangkan hasil perbandingan nilai harapan dan yang didapat berdasarkan

kuesioner 88 % baik dan observasi 62 % baik.

Mengingat rencana tindakan adalah desain spesifik intervensi untuk

membantu klien dalam mencapai kriteria hasil maka selayaknya kesadaran

perawat untuk selalu membuat perencaan harus tetap dipertahankan agar kinerja

perawat tentang perencanaan dapat ditingkatkan tingkat pencapaiannya melebihi

apa yang sudah di dapatkan oleh peneliti seperti yang di jelaskan di atas.

Pelaksanaan keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh

perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke

status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteri hasil yang

diharapkan. Ukuran intervensi keperawatn yang diberikan kepada klien terkait

dengan dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisin

pendidikan untuk klien, keluarga atau tindakan untuk mencegah masalah

kesehatan yang muncul di kemudian hari.

Dari hasil penelitian kinerja perawat dalam standar asuhan keperawatan

berupa pelaksanaan keperawatan didapatkan hasil sesuai kuesioner

menunjukkan nilai baik lebih besar dari nilai kurang baik demikian juga hasil

observasi. sedangkan hasil perbandingan nilai harapan dan yang didapat sesuai

kuesioner 81 % baik dan observasi 60 % baik.

Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan

yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan

penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Walaupun tindakan

keperawatan baru akan berjalan dengan baik jika didukung oleh klien untuk

berpartisipasi dalam tindakan tersebut, tetapi upaya untuk meningkatkan kinerja


62

perawat dalam pencapaian pelaksanaan harus tetap dipertahankan atau ditingkan

mengingat pelaksanaan keperawatan merupakan upaya perawat dalam mencapai

tujuan yang telah di tetapkan.

Evaluasi merupakan perbandingan yang sistematik dan terencana tentang

kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan

berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan. Evaluasi

dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai tindakan keperawatan

yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara

optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan. Evaluasi didefisikan

sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan

keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon prilaku klien yang

tampil.

Dari hasil penelitian kinerja perawat dalam standar asuhan keperawatan

berupa evaluasi keperawatan didapatkan hasil sesuai kuesioner dan observasi

menunjukkan nilai baik lebih kecil dari nilai kurang baik, sedangkan hasil

perbandingan nilai harapan dan yang didapat berdasarkan kuesioner 87 % baik

dan observasi 53 % baik.

Meskipun tahap evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan tetapi

evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan oleh

karena itu tujuan dari evaluasi yaitu untuk melihat kemampuan klien dalam

mencapai tujuan, hal ini hanya bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan

dengan klien . Berdasarkan tingkat pencapaian kinerja perawat tentang evaluasi

di atas menunjukkan nilai yang sangat kurang oleh karenanya perlu dilakukan

suatu upaya untuk meningkatkan pencapaian perawat terhadap evaluasi,


63

termasuk pengarahan dari pihak terkait agar kesadaran perawat pelaksana

khususnya dalam melakukan evaluasi.

Pencatatan asuhan keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan

yang dimiliki perawat dalam melakukan catatan perawatan yang berguna untuk

kepentingan klien, perawat dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan

kesehatan dengan dasar komunikasi yang akuran dan lengkap secara tertulis

dengan tanggungjawab perawat.

Dari hasil penelitian kinerja perawat dalam standar asuhan keperawatan

berupa pencatatan asuhan keperawatan didapatkan hasil sesuai kuesioner dan

observasi menunjukkan nilai baik lebih kecil dari nilai kurang baik, sedangkan

hasil perbandingan nilai harapan dan yang didapat berdasarkan kuesioner 93 %

baik dan observasi 81 % baik.

Berdasarkan data tingkat pencapaian di atas khususnya berdasarkan hasil

kuesioner dan observasi seharusnya perawat memahami bahwa pencatatan

memiliki keuntungan tidak hanya untuk klien tetapi juga untuk anggota tim

kesehatan yang memberikan pelayanan. Tanpa menyadari manfaat, tujuan dan

pentingnya pencatatan asuhan keperawatan, perawat tidak akan termotivasi

untuk mendokumentasikan asuhan keperawatan walaupun faktor faktor lain

mendukung. Oleh karena itu perawat harus bisa menyadari manfaat, tujuan dan

pentingnya pencatatan asuhan keperawatan untuk meningkatkan kinerja

perawat dalam pendokumentasian.

Berdasarkan penguraian diatas selanjutnya peneliti membuat nilai mean

kumulatif dari nilai kuesioner dari 48 perawat pelaksana yaitu kurang baik 23

orang dan baik 25 orang Hal ini berdasarkan nilai mean 78,89. Sedangkan hasil
64

observasi dari 48 perawat pelaksana yaitu nilai baik 22 orang dan kurang baik

26 orang hal ini berdasarkan nilai mean 33,06.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa masih rendahnya kinerja

perawat pelaksana dalam melaksanakan Standar Asuhan Keperawatan (SAK)

hal ini kemungkinan disebabkan karena masih adanya perawat pelaksana yang

bekerja belum sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan masih

adanya perawat pelaksana yang belum mengerti tentang uraian tugas sebagai

perawat pelaksana hal ini dikarenakan masih rendahnya pengetahuan perawat

tentang pentingnya SAK serta kurang ditunjang oleh pelatihan yang

berkesinambungan sesuai dengan perkembangan di bidang keperawatan.