Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sinar-X ditemukan oleh Wilhem Conrad Roentgen pada tanggal 8 November

1895, seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman melalui percobaannya. Hal ini tentu

saja memberikan perkembangan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk dalam

dunia kedokteran dalam bidang radiodiagnostik maupun radioterapi. Prinsip dari

radiodiagnostik yaitu sinar-X yang mengenai suatu obyek akan menghasilkan

gambaran radiograf yang dapat membantu menegakkan diagnosa adanya suatu

kelainan di dalam tubuh manusia.

Dalam aspek diagnostik, seiring berkembangnya aplikasi pemanfaatan sinar-X

dalam rangka menegakkan diagnosa suatu penyakit menjadikan teknik pemeriksaan

suatu organ memiliki variasi. Salah satu teknik pemeriksaan yang menurut penulis

sedikit berbeda dari teori yang telah penulis pelajari adalah pada pemeriksaan

Abdomen yang mana pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang tidak terlalu

sedikit pada setiap harinya. Hal yang membuat penulis tertarik adalah pada

pemeriksaan Abdomen 2 Posisi dengan klinis pasien Obstruksi Illeus. Penulis sering

menjumpai pada pemeriksaan dengan klinis tersebut hanya dilakukan dengan teknik

pemeriksaan abdomen 2 posisi, sementara yang penulis ketahui dari teori, dilakukan

dengan teknik pemeriksaan abdomen 3 posisi. Sehingga penulis mengangkat hal ini

menjadi laporan dengan judul Teknik Pemeriksaan Abdomen 2 Posisi dengan Klinis

Obstruksi Illeus di Instalasi Radiologi RSAL Dr. Ramelan Surabaya

1.2. Rumusan Masalah

1
Dari latar belakang yang penulis temui, dapat ditarik rumusan masalah sebagai

berikut,

1. Bagaimana prosedur teknik pemeriksaan radiografi Abdomen 2 posisi pada klinis

Obstruksi Illeus di Instalasi Radiologi RSAL Dr. Ramela Surabaya ?

2. Apakah dengan teknik pemeriksaan abdomen 2 posisi sudah dapat membantu

menegakkan diagnosa?

1.3. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum :

Memenuhi tugas Mata Kuliah Praktek Kerja Lapangan 1.

2. Tujuan Khusus :

Memahami teknik pemeriksaan abdomen 2 posisi dengan klinis klinis obstruksi

illeus .

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Anatomi dan Fisiologi Abdomen

Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya lonjong dan meluas

dari atas dari drafragma sampai pelvis di bawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi

dua bagian, abdomen yang sebenarnya yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar

dari pelvis yaitu rongga sebelah bawah dan lebih kecil. Batas-batas rongga abdomen

adalah di bagian atas diafragma, di bagian bawah pintu masuk panggul dari panggul

besar, di depan dan di kedua sisi otot-otot abdominal, tulang-tulang illiaka dan iga-iga

sebelah bawah, di bagian belakang tulang punggung dan otot psoas dan quadratus

lumborum. Bagian dari rongga abdomen dan pelvis beserta daerah-daerah (Pearce,

1999).

1.1.1. Otot Abdomen

Setiap otot di dalam rongga Abdomen saling terkait. Terdapat tiga otot

utama yang terdapat didalamnya, yaitu diafragma, psoas major kanan dan kiri.

Diafragma merupakan otot berbentuk kubah yang berfungsi untuk memisahkan

rongga abdomen dengan thorax. Otot psoas major kanan dan kiri yang berada

pada sisi columna vertebrae lumbal, pada radiograf otot ini digambarkan agak

samar. (Bontrager, 2010).

3
A B

Gambar 2.1.1.

A, Otot Abdomen. B, Otot Abdomen yang tampak pada radiograf

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy

8th Edition

1.1.2. Pembagian Kuadran dan Regio Abdomen

1. Kuadran Abdomen

Bila abdomen dibagi dengan garis bidang maya, dengan kedua bidang

tersebut Saling tegak lurus dan berpusat di umbilicus, maka akan ada empat

kuadran abdomen, pada kebanyakan orang, umbilicus setinggi antara

vertebrae lumbar 4 dan 5, dan setinggi krista iliaka pada wanita. Empat

kuadran tersebut membagi rongga abdomen dan rongga pelvis atau sering

disebut rongga Abdominopelvic antara lain kuadran kanan atas (Right Upper

Quadrant), kuadran kiri atas (Left Upper Quadrant), kuadran kanan bawah

(Right Lower Quadrant), dan kuadran kiri bawah (Left Lower Quadrant).

(Bontrager, 2010)

4
A B

Gambar 2.1.2.A, Kuadran pada rongga abdomen. B, Kuadran pada

rongga abdomen tampak organ didalamnya

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition

Pembagian kuadran abdomen ini berfungsi untuk menentukan letak

organ sehingga dapat mempermudah dalam beberapa pemeriksaan

tertentu. Letak organ dan pembagiannya dalam keempat kuadran tersebut

dituliskan dalam tabel berikut. (Bontrager, 2010)

Kadran Kanan Kuadran Kiri Kuadran Kuadran Kiri

Atas Atas Kanan Bawah Bawah

(RUQ) (LUQ) (RLQ) (LLQ)

Hati Limpa Colon Colon

Empedu Lambung ascenden descenden

Right colic Left colic Appendix Colon sigmoid

(hepatic) (splenic) (umbai 2/3 dari

flexure flexure cacing) jejunum

Duodenum Cecum

5
2
Bagian kepala Bagian ekor /3 dari Ileum

pankreas pankreas Katup

Ginjal kanan Ginjal kiri Ileocecal

Kelenjar Kelenjar

adrenal adrenal kiri

kanan

Keterangan: Pembagian letak organ pada table tersebut pada usia

orang dewasa.

Tabel 2.1.1. Pembagian letak organ didalam rongga abdomen sesuai

dengan pembagian kuadran.

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition (dengan alih bahasa ke Bahasa Indonesia)

2. Regio Abdomen

Rongga abdominopelvic juga dapat dibagi menjadi 9 regio abdomen,

dengan dibagi 2 bidang sagital dan 2 bidang transversal. 2 bidang

transversal tersebut adalah bidang transpyloric dan bidang

transtubercular, sedangkan 2 bidang sagital adalah bidang lateral kanan

dan lateral kiri. Bidang transpiloric berada setinggi vertebrae lumbal 1

dan bidang transtubercular berada setinggi vertebrae lumbal 5, sementara

bidang lateral kanan dan kiri berada pada bidang sagital sejajar dengan

SIAS. (Bontrager, 2010)

6
Gambar 2.1.3. Regio pada rongga Abdomen tampak organ

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy

8th Edition

Dibandingkan pembagian dengan sistem regio, pembagian abdomen

dengan sistem Kuadran lebih sering digunakan karena dapat lebih

menunjukan letak organ yang lebih spesifik, terlepas dari body habitus,

posisi tubuh, dan usia seseorang. (Bontrager, 2010)

2.1.3. Sistem Organ pada Rongga Abdomen

Dalam rongga abdomen terdapat dua sistem organ, yaitu sistem organ

pencernaan dan sistem organ perkemihan.

1. Sistem Organ Pencernaan

a. Lambung.

Lambung merupakan organ pertama dari sistem pencernaan yang

terletak didalam rongga abdomen. Ukuran dan kapasitas lambung

tergantung pada body habitus setiap orang. (Bontrager, 2010)

7
Gambar 2.1.4. Bentuk, kapasitas dan letak organ dalam rongga

abdomen berdasarkan body habitus setiap orang yang berbeda-

beda

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition

Fisiologi lambung yang utama adalah sebagai tempat penyimpanan

makanan yang telah masuk ke dalam saluran pencernaan, tepatnya dari

esofagus. Fungsi lain dari lambung antara lain sebagai tempat produksi

kimus, digesti protein, produksi mukus dan sedikit absorbsi nutrien.

(Sloane, 2003)

b. Usus Halus (Small Intestine)

Usus halus merupakan kelanjutan dari organ lambung dan memiliki

panjang sekitar 4,5 sampai dengan 5,5 m. terdapat tiga bagian dari usus

halus, yaitu:

1) Duodenum

Duodenum merupakan bagian pertama dari usus halus. bagian

dari usus halus ini merupakan bagian terpendek (panjangnya kurang

lebih 25 cm) namun merupakan bagian terlebar diameternya

dibandingkan dengan dua bagian usus halus lain. Apabila ditampilkan

8
dalam radiograf (dengan bantuan media kontras) duodenum

digambarkan seperti huruf C. bagian proximal duodenum disebut

duodenal bulb, merupakan ciri-ciri yang digunakan dalam

pemeriksaan yang menggunakan media kontras (barium) untuk

menampakkan saluran Gastrointestinal. (Bontrager 2010)

2) Jejunum dan Ileum

Bagian ini berada pada tengah dan bawah rongga abdomen.

2/5 bagian pertamanya disebut jejunum dan 3/5 distalnya disebut

ileum. Terdapat katup yang menghubungkan antara ileum dan cecum

(bagian dari usus besar) yaitu katup ileocecal. (Bontrager, 2010)

Secara umum, usus halus berfungsi sebagai tepat absorbsi

produk digesti. (Sloane, 2003)

Gambar 2.1.5. Lambung dan pembagian usus halus

dalam beberapa bagiannya

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and

Related Anatomy 8th Edition

c. Usus Besar (Colon)

Usus besar diawali pada kuadaran kanan bawah pada katup

ileocecal. Dilanjutkan dengan cecum dan di bagian posteromedial dari

9
cecum terdapat appendix (vermiform appendix). Bagian vertikal di atas

cecum yang memanjang disebut dengan colon ascenden diamana arahnya

menuju ke atas. Dilanjutkan dengan bagian colon yang mengarah

horisontal disebut colon transversal. Dan terdapat bagian vertikal colon

yang mengarah kebawah disebut colon descenden. Colon ascenden dan

colon transversal bergabung pada suatu sambungan yang disebut right

colic (hepatic) flexure dan pertemuan antara colon transversal dan colon

descenden disebut dengan left colic (splenic) flexure. Setelah colon

descenden, terdapat rectum dengan panjang 15 cm dan diakhiri dengan

anus. Setiap body habitus orang memiliki perbedaan letak colon,

terutama perbedaan letak colon transversal. (Bontrager, 2010)

Gambar 2.1.5. Colon dan pembagiannya

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition

Fungsi utama dari usus besar adalah absorbsi air dan elektrolit, dan

mengeksresi zat sisa dalam bentuk feces. (Sloane, 2003)

d. Peritoneum

Rongga abdomen dibungkus oleh suatu selaput yang disebut oleh

peritoneum. Bagian terluar dari peritoneum disebut parietal peritoneum,


10
selaput ini adalah selaput yang paling dekat dengan dinding rongga

abdomen, pelvis, dan dibawah diafragma. Bagian terdalam dari selaput

pembungkus rongga abdomen adalah visceral peritoneum, yang berada

disekitar organ dalam. Diantara kedua rongga peritoneum tersebu

terdapat suatu rongga yang diebut peritoneal cavity, yang pada keadaan

normal berisi cairan. (Ballinger, 2003)

Gambar 2.1.6. Rongga Peritoneum tampat dari potongan mid

sagittal

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition

2. Sistem Organ Perkemihan

Secara umum, pada organ perkemihan terdapat organ sebagai berikut:

2 ginjal, 2 ureter, 1 kantung kemih dan 1 uretra. Pada setiap renal memiliki

pasangan ureter yang mesuk ke dalam vesica urinary (VU) yang selanjutnya

diteruskan dengan organ urethra. Darah yang masuk ginjal disaring dan

hasil eksresinya selanjutnya dibuang keluar tubuh. Untuk menyalurkan hasil

eksresi dari ginjal, urin harus melalui urether dan dilanjutkan masuk ke

11
dalam kantung kemih. Selanjutnya kantung kemih yang terdapat pada

bagian pelvis berfungsi sebagai tempat penyimpanan urin. Eksresi urin dari

vesica urinary keluar tubuh melalui urethra. (Bontrager, 2010)

Gambar 2.1.6. Organ perkemihan didalam rongga abdomen dan

pelvis

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition

2.2. Patofisiologi Illeus Obstruksi

2.2.1. Definisi

Ileus obstruksi adalah hambatan pasase isi usus yang disebabkan oleh

sumbatan mekanik misalnya oleh strangulasi, invaginasi, atau sumbatan di

dalam lumen usus. Terdapat dua jenis obstruksi yaitu, obstruksi sederhana dan

obstruksi strangulasi. Obstruksi sederhana adalah obstruksi yang tidak disertai

terjepitnya pembuluh darah. Pada obstruksi strangulasi ada pembuluh darah

yang terjepit sehingga bisa terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis

atau ganggren yang ditandai dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh

toksin dari jaringan ganggren (Wim de Jong, 2005).

2.2.2 Lokasi obstruksi

12
A. Letak tinggi : Duodenum-Jejunum

B. Letak tengah : Ileum terminal

C. Letak rendah : Colon-Sigmoid-Rektum

2.2.3 Penyebab obstruksi usus

A. Adhesi

Ileus karena adhesi umumnya tidak disertai strangulasi. Adhesi bisa

berasal dari rangsangan peritonium akibat peritonitis setempat atau umum,

atau pascaoperasi. Adhesi dapat berupa perlengketan mungkin dalam bentuk

tunggal maupun multiple, mungkin setempat maupun luas.

B. Hernia inkarserata

Hernia yang tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut.

Hernia jenis ini dapat menimbulkan gangguan pasase usus, tetapi belum

terdapat gangguan vaskularisasi.

C. Askariasis

Kebanyakan cacing askaris hidup di usus halus bagian Jejunum.

Biasanya ada puluhan hingga ratusan ekor. Askaris jantan berukuran antara

15-30 cm, sedangkan yang betina antara 15-30 cm. Obstruksi bisa terjadi

dimana saja di usus halus, tetapi biasanya di ileum terminal, tempat lumen

paling sempit. Cacing menyebabkan kontraksi lokal di dinding usus yang

disertai dengan reaksi radang setempat yang tampak di permukaan

peritonium.

D. Tumor

Tumor usus halus jarang menyebabkan obstruksi usus, kecuali jika

menimbulkan invaginasi. Proses keganasan, terutama karsinoma ovarium

dan karsinoma kolon, dapat menyebabkan obstruksi usus. Obstruksi ini

13
terutama disebabkan oleh kumpulan metastasis di peritonium atau di

mesenterium yang menekan usus. Bila pengelolaan konservatif tidak

berhasil, dianjurkan operasi sebagai tindakan paliatif.

E. Radang kronik (tbc)

Dapat menyebabkan obstruksi karena udem, hipertrofi, dan fibrosis.

F. Kelainan kongenital

Gangguan pasase usus kongenital dapat berbentuk stenosis atau

atresia. Setiap cacat bawaan berupa stenosis atau atresia dari sebagian saluran

cerna akan menyebabkan obstruksi setelah bayi mulai menyusui.

G. Invaginasi

Invaginasi atau intususepsi sering ditemukan pada anak dan jarang

pada dewasa. Invaginasi pada anak biasanya bersifat idiopatik karena tidak

diketahui penyebabnya. Kebanyakan ditemukan pada kelompok umur 2-12

bulan, dan lebih banyak pada anak laki-laki. Sering terdapat serangan rinitis

atau infeksi saluran nafas mendahului serangan invaginasi. Invaginasi

umumnya berupa intususepsi ileosekal yang masuk naik ke kolon asendens

dan mungkin terus keluar rektum. Invaginasi dapat mengakibatkan nekrosis

iskemik pada bagian usus yang masuk dengan komplikasi perforasi dan

peritonitis.

H. Volvulus

Volvulus di usus halus jarang ditemukan. Kebanyakan volvulus didapat di

bagian ileum, diperdarahi a. Ileosekalis dan mudah mengalami strangulasi.

I. Obstruksi sisa makanan

Obstruksi usus halus akibat bahan makanan ditemukan pada orang yang

pernah mengalami gasterektomi. Obstruksi biasanya terjadi pada daerah

14
anastomosis. Obstruksi lain yang jarang ditemukan, dapat terjadi setelah

makan banyak buah-buahan yang mengandung banyak serat yang

menyebabkan obstruksi di ileum terminal, seperti serat buah jeruk atau biji

buah tertentu yang banyak ditelan sekaligus. Keadaan ini harus dibedakan

dari impaksi feses kering pada orangtua yang terjadi di kolon pada penderita

yang kurang gerak.

2.2.4 Patofisiologi

Perubahan patofisiologi yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama,

tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik

atau fungsional. Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh

cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan). Hal ini mengakibatkan peningkatan

tekanan intralumen, sehingga menurunkan pengaliran air dan natrium dari usus

ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan disekresi ke dalam saluran cerna

setiap hari, tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen

dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai

merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas

kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan

syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan, dan

asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan

lingkaran setan, yaitu penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan

ke dalam usus. Efek lokal peregangan adalah iskemia akibat distensi dan

peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin-toksin

bakteri ke dalam rongga peritonium dan sirkulasi sistemik (price, 2006).

15
Gambar 2. Patofisiologi obstruksi usus

2.2.5 Gejala Obstruksi

A. Perut kembung

B. Tidak ada flatus

C. Tidak ada defekasi

D. Mual dan muntah

16
E. Nyeri-kolik

F. Oliguri

2.3. Pemeriksaan Radiografi Abdomen

Dalam pemeriksaan radiografi Abdomen, terdapat beberapa jenis pemeriksaan,

antara lain pemeriksaan dengan media kontras dan tanpa media kontras. Pemeriksaan

tanpa media kontras juga memiliki beberapa jenis, antara lain dengan persiapan dan

tanpa persiapan. Pemeriksaan dengan persiapan sebelumnya sering disebut KUB

(Kidneys, Ureters, and Bladder), pemeriksaan ini dibantu dengan media kontras untuk

menampakkan organ di dalam rongga Abdomen terutama untuk menampakkan sistem

organ urinary. Pemeriksaan tanpa persiapan biasa disebut dengan pemeriksaan

Abdomen acute. (Bontrager 2010)

Pemeriksaan Abdomen acute biasanya digunakan pada saat kondisi darurat,

untuk kemungkinan beberapa patologi seperti kerusakan usus, perforasi, termasuk

untuk melihat udara bebas dalam rongga intraperitoneal abdomen (udara bebas diluar

saluran pencernaan), kenaikan cairan di dalam abdomen, atau kemungkinan adanya

massa pada intraabdominal. Kondisi tersebut biasanya menggunakan permintaan

pemeriksaan Abdomen acute, atau Abdomen 2 Posisi atau bahkan Abdomen 3

posisi, dimana setiap jenis pemeriksaan memiliki pengaturan posisi yang berbeda

untuk menampakkan batas udara dengan cairan dan atau udara bebas didalam rongga

Abdomen. (Bontrager 2010)

Pemeriksaan Abdomen acute terdiri dari proyeksi Anteroposterior dengan posisi

pasien supine. Pemeriksaan Abdomen 2 posisi terdiri dari proyeksi Anteroposterior

dengan posisi pasien supine ditambah dengan proyeksi Left Latral Decubitus (LLD).

Sedangkan pemeriksaan Abdomen 3 posisi terdiri dari proyeksi Anteroposterior

17
dengan posisi pasien supine, Anteroposterior dengan posisi pasien setengah duduk

(supine erect), dan Left Lateral Decubitus (LLD).(Bontrager 2010).

2.4. Teknik Radiografi Abdomen 2 Posisi

2.4.1. Pemeriksaan Abdomen Proyeksi Anteroposterior (AP) Supine

1. Faktor Teknik

a. Image Receptor ukuran 35 x 43 cm (14 x 17) membujur

b. Grid

c. Marker R atau L

Gambar 2.4.1. Image Receptor dan marker untuk pemeriksaan

abdomen proyeksi anteroposterior (AP)

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy

8th Edition

2. Proteksi Radiasi

Melindungi organ sensitif dengan pelindung, selama organ tersebut tidak

dalam daerah pemeriksaan.

3. Posisi Pasien

a. Pasien supine di atas meja pemeriksaan, dengan mid sagital plane

(MSP) berada pada pertengahan meja pemeriksaan dan atau kaset.

18
b. Memposisikan lengan berada pada samping tubuh dan diposisikan

agak jauh dari tubuh.

c. Memberi bantalan dibawah lutut jika hal ini membuat nyaman pasien

4. Posisi Objek

a. Meletakkan pertengahan kaset setinggi krista iliaka dengan batas atas

kaset dibawah diafragma.

b. Tidak ada rotasi pada pelvis atau bahu (memastikannya dengan cara

melihat kedua ASIS berjarak sama terhadap permukaan meja)

Gambar 2.4.2. Posisi pasien dan posisi objek pada pemeriksaan

abdomen proyeksi anteroposterior(AP)

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition

5. Arah Sinar

a. Arah sinar vertikal tegak lurus menuju pertengahan image receptor

(setinggi krista ilaka)

b. Jarak antara sumber radiasi dengan image receptor atau Source Image

Distance (SID) minimal 40 inchi atau 100 cm.

6. Luas lapangan penyinaran / kolimasi

19
Kolimasi minimal pada tepi kulit pasien dan pada bagian batas atas dan

bawah kaset.

7. Aba aba saat eksposi

Eksposi dilakukan saat ekspirasi dan menahan nafas (sekitar 1 detik

setelah ekspirasi untuk mengurangi pergerakan usus)

2.4.2. Pemeriksaan abdomen proyeksi Left Lateral Decubitus (LLD)

1. Faktor Teknik

a. Image Receptor ukuran 35 x 43 cm (14 x 17) melintang di atas meja

pemeriksaan, atau membujur terhadap pasien)

b. Grid

c. Marker R dan anak panah

Gambar 2.4.3. Image Receptor dan marker untuk pemeriksaan

abdomen proyeksi Left Lateral Decubitus (LLD)

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition

2. Proteksi Radiasi

Melindungi organ sensitif dengan pelindung, selama organ tersebut tidak

dalam daerah pemeriksaan.

3. Posisi Pasien

a. Pasien recumbent dengan posisi lateral di atas meja pemeriksaan,

memberi penopang kaset di belakang tubuh pasien.

20
b. Memberi bantalan pada bagian abdomen yang dekat dengan meja

pemeriksaan agar anatomi abomen tidak terpotong.

c. Lutut yang dekat dengan meja pemeriksan difleksikan, sedangkan

lutut lain berada diatasnya untuk menahan posisi pasien.

d. Memposisikan lengan berada pada dibawah kepala, sebagai bantalan

4. Posisi Objek

a. Mengatur posisi pasien dan memastikan pertengahan image receptor

dan arah sinar menuju pada MSP 5 cm di atas krista iliaka (agar

diafragma masuk lapangan penyinaran), batas atas kaset setinggi

axilla.

b. Memastikan tidak ada rotasi pada pelvis dan bahu.

c. Menyesuaikan kaset berada pada pertengahan midsagittal plane

(MSP) tubuh pasien, dan sekaligus memastikan agar bagian atas

abdomen dapat masuk dalam image receptor.

Gambar 2.4.4. Posisi pasien dan posisi objek pada pemeriksaan

abdomen proyeksi Left Lateral Decubitus (LLD)

Sumber: Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy 8th Edition

21
5. Arah Sinar

a. Arah sinar horisontal tegak lurus meuju pertengahan image receptor

(pada MSP setinggi 5 cm di atas krista ilaka)

c. Jarak antara sumber radiasi dengan image receptor atau Source Image

Distance (SID) minimal 40 inchi atau 100 cm.

6. Luas lapangan penyinaran / kolimasi

Kolimasi minimal pada keempat sisi pasien dan jangan sampai terpotong.

7. Aba aba saat eksposi

Eksposi dilakukan saat ekspirasi dan menahan nafas.

22
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Profil Kasus

3.1.1. Paparan Kasus

Selama praktek berlangsung, prosedur foto abdomen yang dilakukan

ditempat praktek ialah sama dengan prosedur yang telah penulis pelajari,

namun penulis mengamati terdapat perbedaan dengan teori yang dipelajari

pada penggunaan pemeriksaan abdomen 2 posisi untuk klinis obstruksi Illeus.

Menurut penulis, hal ini berbeda dengan apa yang penulis dapat berdasar teori

yang seharusnya dilakukan dengan pemeriksaan abdomen 3 posisi. Oleh

karena itu, penulis bermaksud mempelajari pemeriksaan abdomen akut hanya

dengan pemeriksaan 2 posisi.

3.1.2. Identitas Pasien

Nama : Tn. S

Umur : 33 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Surabaya

No. RM : 5292XX

Tanggal Pemeriksaan : 14 November 2017

Pemeriksaan : Abdomen 2 Posisi

Keterangan Klinik Pasien : Illeus Obstruksi

Pada tanggal 14 November 2017 pasien datang ke Instalasi Radiologi RSAL

Dr. Ramelan Surabaya dengan diantar oleh perawat Ruang G-1 membawa surat

23
permintaan pemeriksaan radiografi abdomen 2 posisi dengan klinis Illeus

Obstruksi dari dokter pengirim dr. Yudadi

3.1.3. Prosedur Pemeriksaan

Prosedur pemeriksaan abdomen 2 posisi dengan klinis suspect peritonitis di

Instalasi Radiologi RSAL Dr. Ramelan Surabaya adalah sebagai berikut:

1. Persiapan pasien

a. Pemeriksaan abdomen 2 posisi tidak memerlukan persiapan khusus.

Menata baju pasien agar kancing ataupun benda-benda yang dapat

mengganggu gambaran radiograf agar tidak berada di daerah abdomen.

b. Petugas memberikan sedikit arahan saat eksposi dilakukan, yaitu

menahan gerakan selama pemeriksaan dilakukan.

2. Persiapan alat dan bahan

a. Pesawat Sinar-X

Merk : Ge Hualun Medical System

Nomor Seri : 12D302

Model : Stationer

Rentang mA : 25 500 mA

Rentang kV : 40 125 kVp

Filtrasi Tube : 1.3 AI/75

b. Kaset ukuran 35 x 43 cm (2 Buah)

c. Marker R atau L

d. Printer merk AGFA

e. Film Computed Radiography ukuran 11 x 14 inchi (1 lembar)

3.2. Teknik Pemeriksaan Abdomen 2 Posisi

24
3.2.1. Proyeksi anteroposterior (AP)

1. Posisi Pasien

a. Pasien supine di atas brankat, dengan mid sagital plane (MSP) berada

pada pertengahan kaset.

b. Memposisikan lengan berada pada samping tubuh dan diposisikan agak

jauh dari tubuh.

2. Posisi Objek

a. Meletakkan pertengahan kaset setinggi krista iliaka dengan batas atas

kaset dibawah diafragma.

b. Tidak ada rotasi pada pelvis atau bahu (memastikannya dengan cara

melihat kedua ASIS berjarak sama terhadap permukaan kaset)

3. Arah Sinar dan Pngaturan Faktor Eksposi

a. Arah sinar vertikal tegak lurus meuju pertengahan image receptor

(setinggi krista ilaka)

b. Jarak antara sumber radiasi dengan image receptor atau Source Image

Distance (SID) minimal 40 inchi atau 100 cm.

c. Pengaturan Faktor Eksposi

Tegangan tabung : 80 kV

Arus Tabung x waktu : 32 mAs

4. Usaha proteksi radiasi

a. Luas lapangan penyinaran / kolimasi secukupnya

b. Mempersilahkan orang yang tidak berkepentingan untuk meninggalkan

ruang pemeriksaan

c. Menutup semua pintu yang terdapat pada ruang pemeriksaan.

5. Aba aba saat eksposi

25
Eksposi dilakukan dengan teknik mencuri nafas, saat pasien melakukan

ekspirasi

3.2.2. Proyeksi Left Lateral Decubitus (LLD)

1. Posisi Pasien

a. Pasien recumbent dengan posisi lateral di atas brankar.

b. Kedua lutut difleksikan.

c. Memposisikan lengan berada pada dibawah kepala, sebagai bantalan

dan agar tidak menutupi gambaran abdomen.

2. Posisi Objek

a. Mengatur posisi pasien dan memastikan pertengahan image receptor

dan arah sinar menuju pada MSP 5 cm di atas krista iliaka (agar

diafragma masuk lapangan penyinaran), batas atas kaset setinggi

axilla.

b. Memastikan tidak ada rotasi pada pelvis dan bahu.

c. Menyesuaikan kaset berada pada pertengahan midsagittal plane

(MSP) tubuh pasien, dan sekaligus memastikan agar bagian atas

abdomen dapat masuk dalam image receptor.

3. Arah Sinar

a. Arah sinar horisontal tegak lurus meuju pertengahan image receptor

(pada MSP setinggi 5 cm di atas krista ilaka)

b. Jarak antara sumber radiasi dengan image receptor atau Source Image

Distance (SID) minimal 40 inchi atau 100 cm.

c. Pengaturan Faktor Eksposi

Tegangan tabung : 80 kV

26
Arus Tabung x waktu : 32 mAs

4. Usaha proteksi radiasi

a. Luas lapangan penyinaran / kolimasi secukupnya

b. Mempersilahkan orang yang tidak berkepentingan untuk

meninggalkan ruang pemeriksaan

c. Menutup semua pintu yang terdapat pada ruang pemeriksaan.

5. Aba aba saat eksposi

Eksposi dilakukan dengan teknik mencuri nafas, saat pasien melakukan

ekspirasi

3.3. Hasil

Dari pemeriksaan yang dilakukan, didapat hasil sebagai berikut:

Gambar 3.3.1. Hasil radiograf Proyeksi Anteroposterior

Sumber: Dokumen Instalasi Radiologi Diagnostik Rumah Sakit Margono

Soekarjo Purwokerto

27
Gambar 3.3.2. Hasil radiograf Proyeksi Left Lateral Decubitus (LLD)

Sumber: Dokumen Instalasi Radiologi RSAL Dr. Ramelan Surabaya

Dari hasil bacaan dr. Ronny Lirungan, Sp.Rad selaku radiolog adalah sebagai berikut:

Hasil :

Lay udara dalam usus meningkat dan pur fecal material

Tanda tanda illeus Obstruksi (-), penebalan dinding mukosa usus (+), udara bebas

(-)

Lank area mendatar dalam pre peritoneal fat line baik. Misal, tampak lay udara

dalam usus besar di cavum pelvis

Kesan :

Saat ini tak tampak tanda tanda illeus obstruksi.

Suspek inflamasi proses di cavum abdomen

3.4. Pembahasan

Berdasar hasil bacaan oleh radiolog, bahwa pemeriksaan abdomen akut dengan

klinis illeus obstruksi sudah dapat menyajikan gambaran radiografi abdomen dengan
28
cukup dan dapat menegkkan diagnose. Selain itu, pemeriksaan abdomen 2 posisi

dikatakan sudah dapat menegakkan diagnose.

Dari aspek proteksi radiasi, pemeriksaan abdomen 2 posisi menjadikan radiasi

yang diterima pasien jauh lebih sedikit daripada dilakukan pemeriksaan 3 posisi. Hal

ini sesuai dengan asas justifikasi, karena dengan radiasi yang minimal sudah dapat

menegakkan diagnosa tanpa harus menerima radiasi yang lebih banyak.

29
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari pembahasan mengenai laporan kasus yang berjudul Teknik Pemeriksaan

Abdomen 2 Posisi dengan Klinis Illeus Obstruksi di Instalasi Radiologi RSAL Dr.

Ramelan Surabaya dapat diambil kesimpulan bahwa teknik pemeriksaan abdomen 2

posisi yang digunakan yaitu proyeksi Anteroposterior dengan posisi pasien supine dan

left lateral decubitus (LLD) dengan posisi pasien lateral recumbent sudah dapat

menegakkan diagnosa tanpa harus melakukan pemeriksaan abdomen 3 posisi. Selain

itu, radiasi yang diterima pasien tidak sebanyak dengan dilakukannya pemeriksaan

abdomen 3 posisi.

4.2. Saran

Saran yang dapat penulis sampaikan dalam laporan kasus ini yaitu untuk

mahasiswa praktek maupun radiografer, baiknya menggunakan proyeksi abdomen 2

posisi karena dengan pemeriksaan abdomen 2 posisi sudah dapat menegakkan

diagnosa dan menampakkan gambaran radiografi dengan baik.

30
DAFTAR PUSTAKA

Frank, Eugene D.; Bruce W. Long; Barbara J. Smith. Merrills Atlas of Radiographic

Positioning & Procedures Volume Two Tenth Edition. Missouri: Mosby Elsevier.

2016

Bontrager, Kenneth L.; John P. Lampignano. Textbook of Radiographic Positioning and

Related Anatomy Eight Edition. Missouri: Mosby Elsevier. 2014

______. Textbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy Seventh Edition.

Missouri: Mosby Elsevier. 2010

Franklin Jr, et all. Laparoscopic Diagnosis and Treatment of Intestinal Obstruction. Texas

Endosurgery Institute, 2003.

Sjamsuhidayat R, Wim de Jong, 2005, Usus Halus, apendiks, Kolon dan Anorektum. Buku

Ajar Ilmu Bedah, Jakarta.

Schteingart, DE. (2006). In S.A. Price, & L.M. Wilson. Patofisiologi: Konsep klinis proses-

proses penyakit edisi 6 volume 1. Jakarta : EGC.

1. s, Kolon dan Anorektum. Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta.

31

Anda mungkin juga menyukai