Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR


ANALISA KONDISI BOEZEM MOROKREMBANGAN
KELAS B

NAMA DOSEN: PROF. Ir. NIEKE KARNANINGROEM, M.Sc


NAMA KELOMPOK:
LAILY KUSUMA WARDANI 3314100007
FARID PRATAMA PUTRA 3314100030
FEBRIANDITA ASHARI PUTRI 3314100044
M HISYAM SULTHONY 3314100054
FATMAWATI AGUSTINA 3314100086
ILHAM AKBAR WICAKSONO 3314100088
NADIA ANDISTIARA 3314100106
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2016

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, dan hidayah-Nya
penyusunan laporan analisis kondisi Boezem Morokrembangan dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan laporan ini, penyusun menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Nieke
Karnaningroem selaku dosen pengajar mata kuliah Pengelolaan Sumber Daya Air atas segala ilmu dan
bimbingannya dalam penyusunan laporan ini.
Laporan praktikum ini telah disusun dengan sebaik mungkin. Mohon maaf apabila laporan ini
masih kurang dari kata sempurna, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Semoga tugas ini
dapat memberikan manfaat yang berguna bagi pembaca dan penyusun.

Surabaya, Mei 2016


Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN.....................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................................2
1.3 Tujuan.................................................................................................................................2
1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan.........................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................................3
2.1 Dissolved Oxygen...............................................................................................................3
2.2 Fungsi Boezem...................................................................................................................7
BAB 3 PEMBAHASAN........................................................................................................................8
3.1 Analisa Dissolved Oxygen (DO) Boezem Moro Krembangan......................................8
3.2 Analisa Kondisi Lingkungan Boezem Moro Krembangan..........................................10
3.3 Hipotesis Analisa Penyebab Pencemaran......................................................................11
BAB 4 KESIMPULAN.........................................................................................................................13
DARTAR PUSTAKA...........................................................................................................................14

iii
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Surabaya adalah Ibukota Provinsi Jawa Timur dan merupakan kota terbesar kedua di Indonesia
setelah kota Jakarta yang juga merupakan kota industri dan perdagangan yang penting. Seiring dengan
peningkatan di sektor ekonomi dan pertumbuhan penduduk dibutuhkan juga pembangunan fisik seperti
jalan, jembatan, perumahan, sistem pembuangan air dan fasilitas lainnya. Bila pembangunan tersebut tidak
berwawasan lingkungan maka akan menyebabkan ketidakseimbangan pada lingkungan, kemacetan lalu
lintas, dan menyebabkan adanya daerah genangan air yang mengganggu. Bila dilihat dari letak kota
Surabaya yang berada di dekat laut, maka dapat dikatakan bahwa Surabaya terletak di dataran rendah
dengan ketinggian mendekati +0 m, SHVP (Surabaya Haven Vloed Peil). Ketinggian tersebut sejajar
dengan permukaan air laut, bahkan ada beberapa daerah di Surabaya yang ketinggiannya di bawah air laut.
Kondisi ini menyebabkan pembuangan air drainasi sulit, sehingga apabila terjadi air laut pasang dan disaat
yang bersamaan terjadi hujan lebat dalam waktu lama akan mengakibatkan terjadinya banjir.
Boezem Morokrembangan yang berada di pinggiran bagian utara kota Surabaya memiliki luas total
78,96 ha terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dengan luas sekitar 41,58 ha dan bagian selatan
dengan luas sekitar 39,13 ha. Boezem Morokrembangan merupakan boezem terluas di Surabaya dengan
tangkapan aliran (catchment area) hampir mencapai 25% dari luas total Kota Surabaya. Kedalaman rata-
rata boezem adalah 3 m. Dua bagian tersebut dihubungkan dengan saluran yang berada di bawah jalan raya
Surabaya-Gresik. Di sebelah hilir boezem utara terdapat enam buah pintu hidrolis otomatis yang mengatur
pembuangan air dari boezem ke laut. Adanya perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan sistem
penataan kota meyebabkan meningkatnya limpasan. Hal tersebut menyebabkan air yang masuk ke boezem
menjadi bertambah. Disamping bertambahnya air yang masuk ke boezem, terdapat pula sampah-sampah
dan bahan padat lainnya yang ikut masuk ke boezem. Keadaan tersebut mengakibatkan terjadinya
pendangkalan pada boezem terutama pada boezem Selatan. Hal ini menyebabkan kapasitas tampungan
efektif dari boezem akan berkurang. Tampungan efektif dari boezem Morokrembangan ditentukan
berdasarkan rencana pada masa pembangunan dari pengolahan data curah hujan dan debit rencana pada
masa itu.
Berdasarkan keadaan di atas perlu diadakan suatu evaluasi untuk daerah boezem utara
Morokrembangan, apakah kapasitas boezem saat ini masih mampu menampung debit banjir yang masuk
ke boezem utara Morokrembangan dan bagaimana pengaruh pasang surut terhadap pembuangan.
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana kondisi kekinian (kondisi fisik) dari Boezem Morokrembangan dan lingkungannya?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi kondisi Boezem Moro Krembangan saat ini?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui kondisi kekinian Boezem Morokrembangan dan lingkungan sekitarnya.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi Boezem Moro Krembangan saat ini.

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Tempat observasi adalah di Bozem Morokrembangan bertempat di daerah Morokrembangan di
bawah jembatan Tol Surabaya ke arah Tanjung Perak. Kondisi di Bozem cukup kumuh dengan air bozem
yang sangat keruh dan berbau menyengat.
Kelompok kami melakukan observasi ke Bozem Morokrembangan pada Tanggal 12 Mei 2016 pada
pukul 13.00-15.00.
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dissolved Oxygen

Di dalam air, oksigen memainkan peranan dalam menguraikan komponen-komponen kimia


menjadi komponen yang lebih sederhana. Oksigen memiliki kemampuan untuk beroksida dengan zat
pencemar seperti komponen organik sehingga zat pencemar tersebut tidak membahayakan. Oksigen juga
diperlukan oleh mikroorganisme, baik yang bersifat aerob serta anaerob, dalam proses metabolisme.
Dengan adanya oksigen dalam air, mikroorganisme semakin giat dalam menguraikan kandungan dalam air.
Oksigen terlarut merupakan parameter penting karena dapat digunakan untuk mengetahui gerakan massa
air serta merupakan indikator yang peka bagi proses-proses kimia dan biologi . Kadar oksigen yang terlarut
bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga
berfluktuasi secara harian dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan
(turbulence ) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dam limbah ( effluent ) yang masuk ke badan air.
Selain itu, kelarutan oksigen dan gas-gas lain berkurang dengan meningkatnya salinitas sehingga kadar
oksigen di laut cenderung lebih rendah daripada kadar oksigen di perairan tawar.
Peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10. Jumlah oksigen
yang dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan, aktivitas,
suhu, dan lain-lain. Konsentrasi oksigen yang rendah dapat menimbulkan anorexia, stress, dan kematian
pada ikan. Bila dalam suatu kolam kandungan oksigen terlarut sama dengan atau lebih besar dari 5 mg/l,
maka proses reproduksi dan pertumbuhan ikan akan berjalan dengan baik. Pada perairan yang mengandung
deterjen, suplai oksigen dari udara dalam air sangat sedikit. Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen dalam
miligram yang terdapat dalam satu liter air (ppt) (Illahude, 1999).
Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan kebutuhan
oksigen (oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO
yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen ( O2 ) yang tersedia dalam
suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang
bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO
juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan
mikroorganisme. Selain itu kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh
banyaknya oksigen dalam air. Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping parameter
lain yang sering digunakan seperti BOD dan COD dalam suatu perairan ( Hutabarat dan Evans, 2006 ).
DO atau kadar oksigen terlarut menyatakan kandungan oksigen di dalam air. Kemampuan air dalam
melarutkan oksigen sangat tergantung pada suhu air, tekanan gas oksigen, dan kemurnian air. Terapi
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

pemberian oksigen melalui saluran pernafasan ( dihirup melalui hidung ). Bagian per sejuta merupakan
satuan jumlah yang sangat kecil. 1ppm = 1 bagian / 1.000.000, jadi air yang mengandung oksigen 80 ppm
= 80 miligram oksigen dalam 1 liter air ( Ridwan, 2006 ).
Oksigen terlarut dalam air merupakan parameter kualitas air yang paling kritis pada budidaya ikan.
Konsentrasi oksigen terlarut dalam kolam selalu mengalami perubahan dalam sehari semalam. Oleh karena
itu, pengelola kolam ikan harus selalu mengetahui atau memantau perubahan konsentrasi oksigen terlarut
di dalam kolamnya. Sumber utama oksigen, terlarut dalam air adalah difusi dari udara dan hasil fotosintesis
biota yang berklorofil yang hidup di dalam perairan. Kecepatan difusi oksigen ke dalam air sangat lambat.
Oleh karena itu, fitoplankton merupakan sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan
(Supangat, 2007).
Oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis
tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan
hewan lainnya termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Oksigen terlarut ( Dissolved Oxygen = DO )
dibutuhkan oleh semua jasad hidup. Inilah beberapa manfaatnya yaitu untuk pernapasan, proses
metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan.
Oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik, sumber
utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas, hasil fotosintesis
organisme yang hidup ( Mulyanto, 2009 ).
Oksigen juga memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen
terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga
menentukan proses biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik,
peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah
nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang
dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas.
Karena proses oksidasi dan reduksi inilah, maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu
mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan
untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga ( Nontji, 2002 ).
Oksigen dan karbondioksida yang terlarut di air laut mempunyai arti penting dalam emtabolisme.
Kelarutan gasgas dalam air laut adalah suatu fungsi dari suhu, makin rendah suhu makin besar
kelarutannya. Oleh karena itu, makin dingin suatu badan air, makin banyak oksigen yang dapat
diakndungnya. Kelarutan gas di dalam air tidak begitu besar. Pada permukaan air laut hingga kedalaman
10 20 meter, kandungan oksigen memperlihatkan jumlah yang maksimum karena kegiatan fotosintesis
tumbuh tumbuhan dan difusi oksigen dari atmosfer sedangkan di lapisan dalam sumber O2 berasal dari
Singking Water dari daerah kutub ( Hutabarat dan Evans, 2006 ).
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

Kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang
dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena
adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya
kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan
kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik. Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan
aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan
dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen
dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut
(Nontji, 2002).
Kandungan oksigen terlarut ( DO ) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak
tercemar oleh senyawa beracun ( toksik ). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup
mendukung kehidupan organisme. Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm
selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 %. KLH menetapkan bahwa
kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut. Agar ikan dapat
hidup, air harus mengandung oksigen paling sedikit 5 mg/ liter atau 5 ppm ( part per million ) ( Illahude,
1999 ).
Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi bakteri yang kebutuhan oksigen
terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang. Apabila sungai menjadi tempat pembuangan limbah
yang mengandung bahan organik, sebagian besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob untuk
mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Sehingga kadar
oksigen terlarut akan berkurang dengan cepat dan akibatnya hewan-hewan seperti ikan, udang dan kerang
akan mati. Penyebab bau busuk dari air yang tercemar berasal dari gas NH3 dan H2S yang merupakan hasil
proses penguraian bahan organik lanjutan oleh bakteri anaerob ( Hutabarat dan Evans, 2006 ).
Dissolved Oxygen atau dalam bahasa Indonesia disebut oksigen terlarut merupakan jumlah
kandungan oksigen yang terkandung dalam suatu perairan. Oksigen tersebut dapat berupa hasil dari
fotosintaesis tumbuhan akuatik. Oksigen ini sangat diperlukan oleh organisme yang hidup di dalam air.
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan yang vital bagi kelangsungan hidup organisme suatu perairan.
Oksigen terlarut diambil oleh organisme perairan melalui respirasi untuk pertumbuhan, reproduksi, dan
kesuburan. Menurunnya kadar oksigen terlarut dapat mengurangi efesien pengambilan oksigen oleh biota
laut, sehingga dapat menurunkan kemampuan untuk hidup normal dalam lingkungan hidupnya. Umumnya
oksigen dijumpai di lapisan permukaan karena oksigen dari udara di dekatnya dapat secara langsung larut
( berdifusi ke dalam air laut ). Phytoplankton juga membantu meningkatkan kadar oksigen terlarut pada
siang hari. Penambahan ini disebabkan oleh terlepasnya gas oksigen sebagai hasil fotosintesis. Oksigen
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

terlarut diambil oleh organisme perairan melalui respirasi untuk pertumbuhan, reproduksi, dan kesuburan.
Menurunnya kadar oksigen terlarut dapat mengurangi efesiensi pengambilan oksigen oleh biota
laut, sehingga dapat menurunkan kemampuan untuk hidup normal dalam lingkungan hidupnya (Hutabarat
dan Evans, 2006).
Proses Penambahan Oksigen ( aerasi ) merupakan suatu usaha penambahan konsentrasi oksigen
yang terkandung dalam air limbah, agar proses oksidasi biologi oleh mikroba akan dapat berjalan dengan
baik. Dalam prakteknya terdapat 2 cara untuk menambahkan oksigen ke dalam air limbah, yaitu :
a. Memasukkan udara ke dalam air limbah.
Yaitu proses memasukkan udara atau oksigen murni ke dalam air limbah melalui benda porous atau
nozzle. Nozzle tersebut diletakkan di tengah tengah sehingga akan meningkatkan kecepatan kontak
gelembung udara tersebut dengan air limbah, dan proses pemberian oksigen akan berjalan lebih cepat.
Oleh karena itu, biasanya nozzle ini diletakkan pada dasar bak aerasi. Udara yang dimasukkan adalah
berasal dari udara luar yang dipompakan ke dalam air limbah oleh pompa tekan.
b. Memaksa air ke atas untuk berkontak dengan oksigen.
Adalah cara mengontakkan air limbah dengan oksigen melalui pemutaran baling baling yang
diletakkan pada permukaan air limbah. Akibat dari pemutaran ini, air limbah akan terangkat ke atas
dan dengan terangkatnya maka air limbah akan mengadakan kontak langsung dengan udara sekitarnya
( Luluk Edahwati dan Suprihatin, 2014 ).
Aerasi merupakan proses penambahan oksigen ke dalam air sehingga dapat menimbulkan reaksi
oksidasi Fe dan Mn yang kemudian akan menyebabkan endapan Fe(OH)3 dan MnO2. Metode aerasi
memiliki beragam variasi. Salah satunya adalah aerasi cascade. Mangan dan besi yang terlarut dalam air
dapat dihilangkan dengan cara aerasi, yaitu mengontakkan air dengan oksigen sehingga mangan dan besi
mengalami oksidasi yang menyebakan mangan dan besi dapat mengendap. Alat yang digunakan untuk
aerasi disebut dengan aerator ( Sri Hastutiningrum, dkk, 2015 ).
Aerator adalah alat untuk mengontakkan oksigen dari udara dengan air agar zat besi atau mangan
yang ada di dalam air baku bereaksi dengan oksigen membentuk senyawa ferri ( Fe valensi 3 ) serta mangan
oksida yang relatif tidak larut di dalam air. Kecepatan oksidasi besi atau mangan dipengaruhi oleh pH air.
Umumnya semakin tinggi pH air kecepatan reaksi oksidasinya makin cepat. Kadang-kadang perlu waktu
tinggal sampai beberapa jam setelah proses aerasi agar reaksi berjalan tergantung dari karakteristik air
bakunya ( Said, 2005 ).
Aerator cascade merupakan salah satu alat untuk aerasi dengan sistem gravitasi. Prinsip kerja
aerator cascade adalah melewatkan air ada plat atau lempengan yang disusun berundak seperti anak tangga.
Air yang turun melewati cascade tersebut akan kontak dengan oksigen di udara. Pada aerator cascade teknis
pembuatannya cukup sederhana dengan biaya tidak terlalu mahal dan mudah dilaksanakan, yaitu air
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

dilewatkan pada susunan penampang bertingkat secara gravitasi. Metode aerator cascade ini mampu
menaikkan oksigen 60-80 % dari jumlah oksigen yang tertinggi pada air. Pada dasarnya aerator cascade
terdiri dari 4 sampai 6 step, dengan ketinggian tiap step kurang lebih 30 cm dengan kecepatan 0,01 m3/detik
per m2. Keuntungan aerator cascade adalah alatnya yang sederhana dan mudah diaplikasikan serta mudah
dalam perawatan. Namun salah satu kelemahannya adalah membutuhkan lahan yang cukup luas ( Hartini,
2012 ).
Suplai tambahan oksigen dari aerator memenuhi ketercukupan kebutuhan oksigen bakteri dan alga
sehingga bakteri mampu bekerja mendekomposisi bahan organik bahkan ketika malam hari tanpa
mengganggu proses respirasi dari alga. Kadar oksigen yang ada dalam reaktor masih mencukupi untuk
bakteri melakukan dekomposisi bahan organik dan alga dalam melakukan respirasi ( Agus Slamet, dkk,
2016 ).
Berdasarkan kandungan ( oksigen terlarut ), maka pengelompokan kualitas perairan air laut dapat
dibagi menjadi empat macam yaitu tidak tercemar (> 6,5 mgr/l ), tercemar ringan (4,5 6,5 mgr/l),
tercemar sedang (2,0 4,4 mgr/l) dan tercemar berat (< 2,0 mgr/l) ( Odum, 1971 ).

2.2 Fungsi Boezem


Boezem adalah suatu bangunan yang mempunyai fungsi sebagai tempat penampungan sementara
limpasan air hujan pada saluran pada saat MAS Hilir mencapai HWL, apabila air MAB diatas MAS Hilir
maka pintu outflow akan terbuka dan air akan mengalir. Perencanaan boezem ini diharapkan dapat
menampung debit banjir rencana dan mengurangi genangan yang ada. Kriteria perencanaan boezem
menggunakan hidrograf banjir dan disesuaikan dengan MAS Hilir.Analisa kapasitas tampungan boezem
dengan MAS Hilir. Analisa kapasitas tampungan boezem dengan memperkirakan debit masukan dan
keluaran sehingga debit masuk dan debit keluar seimbang. Inlet boezem direncanakan berupa mercu
pelimpah samping. Perencanaan outlet boezem dilengkapi dengan pintu otomatis yang beroperasi sesuai
dengan elevasi MAS Hilir dan dilengkapi dengan pompa jika dibutuhkan. Perencanaan tanggul boezem
direncanakan dengan konstruksi dinding penahan.
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Analisa Dissolved Oxygen (DO) Boezem Moro Krembangan


Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan kebutuhan
oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO
yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam
suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang
bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO
juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air
seperti ikan dan mikroorganisme.

Di dalam air, oksigen memainkan peranan dalam menguraikan komponen-komponen kimia


menjadi komponen yang lebih sederhana. Oksigen memiliki kemampuan untuk beroksida dengan zat
pencemar seperti komponen organik sehingga zat pencemar tersebut tidak membahayakan. Oksigen juga
diperlukan oleh mikroorganisme, baik yang bersifat aerob serta anaerob, dalam proses metabolisme.
Dengan adanya oksigen dalam air, mikroorganisme semakin giat dalam menguraikan berbagai kandungan
dalam air. Jika reaksi penguraian komponen kimia dalam air terus berlaku, maka kadar oksigen pun akan
menurun. Pada klimaksnya, oksigen yang tersedia tidak cukup untuk menguraikan komponen kimia
tersebut. Keadaan yang demikian merupakan pencemaran berat pada air.

Dalam kunjungan ke Boezem Morokrembangan ini, analisa DO dilakukan guna menentukan


kualitas air yang ada di sana. Pengukuran DO dilakukan sesuai dengan metode titrasi langsung di lapangan
(tidak dianalisa di laboratorium) mengingat jarak tempuh antara boezem dengan ITS yang cukup memakan
waktu sehingga membuat data menjadi kurang representatif. Berikut gambar 1 tampak atas boezem :

1
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

Titik sampling yang diambil adalah titik 1 dan 2 pada gambar tampak atas boezem. Adapun langkah
analisa DO pertama kali adalah melakukan sampling di kedua titik tersebut. Sampling dilakukan dengan
teknik grab sampling dengan menggunakan bantuan ember dikarenakan tidak memungkinkan turun
langsung ke lokasi. Setelah diambil menggunakan ember, sampel dimasukkan ke dalam botol winkler
hingga penuh dan tidak ada udara di dalamnya.

Gambar 2. Titik 1 Gambar 3. Titik 2

Selanjutnya, sampel air diberikan larutan pereaksi oksigen sebanyak 5 tetes dengan menggunakan
pipet tetes. Lalu ditambahkan larutan MnSO4 sebanyak 5 tetes juga ke dalam botol winkler lalu dikocok
dan didiamkan sampai muncul endapan. Tujuan dari penambahan larutan pereksi oksigen adalah untuk
mengikat oksigen yang terdapat di dalam air. Sementara MnSO4 berfungsi sebagai pereduksi zat-zat
organik yang terdapat di dalam air.

Tabel Pengamatan Fisik 1

Titik Sampel Sifat Fisik Awal Penambahan Pereaksi Penambahan MnSO4


O2
Titik 1 Keruh kehitaman, Belum ada perubahan Ada endapan pada
berbau, suhu normal, fisik. bagian bawah, bagian
encer. atas jernih.
Titik 2 Keruh kehitaman, Belum ada perubahan Ada endapan pada
berbau, suhu normal, fisik. bagian bawah, bagian
encer. atas jernih.

Setelah itu, ditambahkan larutan H2SO4 4N sebanyak 5 tetes dengan tujuan untuk melepaskan
molekul I2 yang ekuivalen dengan jumlah oksigen terlarut di dalam air. Setelah itu dikocok sampai endapan
hilang. Idealnya, pelepasan iodin ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi warna kekuningan.
Namun pada percobaan kali ini, sampel tidak mengalami perubahan warna. Hanya, endapan di awal hilang
akibat penambahan H2SO4 4N. Tidak terjadinya perubahan warna mengindikasikan nilai DO yang kecil.
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

Kemudian, dilakukan penambahan amilum sebagai indikator perubahan warna sebanyak 3 tetes.
Amilum berfungsi sebagai indikator adanya kandungan DO di dalam sampel yang ditandai dengan
perubahan sampel menjadi warna biru. Namun pada percobaan ini, setelah penambahan amilum, tidak
terjadi perubahan warna. Hal ini mengindikasikan bahwa kadar DO di 2 titik sampel adalah 0 dan air di
dalamnya bersifat toksik (racun).

Tabel Pengamatan Fisik 2

Titik Sampel Sifat Fisik Awal Penambahan H2SO4 Penambahan Amilum


Titik 1 Ada endapan pada Warna tidak berubah, Tidak ada perubahan
bagian bawah, bagian endapan hilang. fisik.
atas jernih.
Titik 2 Ada endapan pada Warna tidak berubah, Tidak ada perubahan
bagian bawah, bagian endapan hilang. fisik.
atas jernih.
Tidak adanya perubahan fisik pada saat penambahan amilum membuat langkah berikutnya yaitu
titrasi dengan Natrium Tiosulfat 0.01 N tidak perlu dilakukan. Dapat disimpulkan bahwa tingkat oksigen
terlarut di dalam 2 titik sampel pada boezem ini adalah 0 sehingga boezem ini dapat dikategorikan tercemar
berat.

Gambar 4. Serangkaian Analisa DO

3.2 Analisa Kondisi Lingkungan Boezem Moro Krembangan


Wilayah di sekitar boezem dikelilingi oleh perumahan penduduk. Adapun jarak di antara tiap rumah
tidak begitu jauh. Di sekitar boezem terdapat banyak pepohonan berukuran sedang (ketinggian 2 5 m).
Namun, kondisi lingkungan kurang tertata rapi akibat sempitnya lahan yang dimiliki oleh masyarakat.
Ditambah lagi dengan adanya sebagian warga yang melakukan usaha di bidang peternakan di sana.
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

Adapun boezem sendiri mengeluarkan bau yang tidak sedap terhadap lingkungan sekitar. Bau ini
berasal dari dalam boezem itu sendiri yang sebagian besar wilayahnya terdapat banyak sampah yang diduga
kebanyakan adalah sampah domestik dari penduduk sekitar. Kondisi yang amat mengenaskan dapat dilihat
pada bagian ujung kanan boezem yang mana sampah sudah sangat menumpuk hingga mengakibatkan
pencemaran. Di sekitaran sampah itu juga ditumbuhi tanaman eceng gondok. Tanaman eceng gondok
mengindikasikan adanya pencemaran serta dapat menutup oksigen yang akan masuk ke dalam boezem.
Lebih parahnya lagi, terdapat endapan dari sampah telah membentuk delta di dalam boezem itu sendiri.

Gambar 5. Tumpukan sampah Gambar 6. Delta dari sedimen sampah

Secara umum, kondisi lingkungan di sekitar Boezem Moro Krembangan adalah cukup tercemar
dikarenakan adanya pencemaran udara melalui bau yang dihasilkan dari boezem tersebut. Sementara pada
wilayah perairannya dapat digolongkan sangat tercemar akibat banyaknya tumpukan sampah. Selain itu
turbiditas (kekeruhan) yang tinggi juga menyebabkan kondisinya semakin tercemar.

3.3 Hipotesis Analisa Penyebab Pencemaran

Pencemaran yang terjadi di wilayah Boezem Moro Krembangan tentu saja tidak terjadi begitu saja.
Rendahnya kadar DO di boezem ini tentu saja disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Faktor-faktor tersebut
diantaranya :

1. Suhu

Analisa DO dilakukan pada siang hari (13.30), dan cuaca pada saat itu cukup panas. Meskipun
sempat terjadi gerimis kecil, namun tidak banyak berdampak kepada kandungan DO. Semakin tinggi suhu,
akan semakin turun kadar DO di dalam air. Peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan konsumsi
oksigen sekitar 10. Jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran,
jumlah pakan yang dimakan, aktivitas, suhu, dan lain-lain.
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

2. Limbah Domestik

Sebagian wilayah dari boezem memiliki tumpukan sampah yang sangat banyak. Akibat
penumpukan yang begitu lama, lindih sampah ini masuk ke dalam air dan terbawa ke aliran. Kejadian ini
terjadi terus menerus dan mengakibatkan terjadinya akumulasi zat pencemar.

3. Turbiditas (Kekeruhan)

Turbiditas merupakan suatu ukuran yang menyatakan sampai seberapa jauh cahaya mampu
menembus air, dimana cahaya yang menembus air akan mengalami pemantula oleh bahan-bahan
tersuspensi dan bahan koloidal. Satuannya adalah Nephelometric Turbidity Unit (NTU), dimana 1 NTU
sama dengan turbiditas yang disebabkan oleh 1 mg/l SiO2 dalam air. Dalam danau atau perairan lainnya
yang relatif tenang, turbiditas terutama disebabkan oleh bahan koloid dan bahan-bahan hakus yang
terdispersi dalam air. Dalam sungai yang mengalir, turbiditas terutama disebabkan oleh bahan-bahan kasar
yang terdispersi. Biasanya jika kekeruhan cukup tinggi, maka DO yang terkandung dalam perairan tersebut
rendah. Selain itu, turbiditas penting bagi kualitas air permukaan, terutama berkenaan dengan pertimbangan
estetika, daya filter, dan disinfeksi. Air di Boezem Moro Krembangan tergolong memiliki turbiditas yang
tinggi.

4. Kecepatan Arus

Arus merupakan suatu gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal dan vertikal massa
air. Arus merupakan faktor ekologis yang penting terutama pada perairan yang arusnya cukup tinggi. Arus
dapat mempengaruhi distribusi gas terlarut, garam, dan makanan serta organisme dalam air. Kecepatan arus
tergantung kemiringan dasar, lebar, kedalaman, dan debit air. Karena termasuk ke dalam perairan tenang,
maka Boezem Morokrembangan ini memiliki arus yang sangat lambat. Semakin lambat arus, akan semakin
sulit melakukan proses purifikasi sehingga tidak dapat menguraikan kandungannya. Hal ini membuat DO
menjadi rendah.

Selain itu, tercemarnya lingkungan di sekitar boezem dapat disebabkan oleh :


1. Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.
2. Belum adanya sistem yang terpadu di dalam masyarakat yang mengatur tentang hal ini.
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Kondisi dari Boezem Moro Krembangan saat ini adalah dalam keadaan tercemar. Hal ini dapat
dilihat dari hasil analisa DO yang menunjukkan bahwa kandungan DO di dalam airnya sudah 0 (keadaan
toksik). Selain itu, pencemaran yang terlihat secara kasat mata adalah banyaknya sampah di dalam boezem
yang menimbulkan bau tidak sedap ke lingkungan.
2. Penyebab terjadinya pencemaran di dalam boezem (penyebab DO=0) antara lain adalah karena
suhu, limbah domestik, kecepatan arus, dan turbiditas. Sementara untuk penyebab banyaknya sampah di
dalam boezem dikarenakan belum adanya kesadaran dari masyarakat serta belum adanya sistem yang
mengikat.
ANALISA KONDISI BOZEM MORO KREMBANGAN

DAFTAR PUSTAKA

Edahwati, Luluk dan Suprihatin. 2014. Kombinasi Proses Aerasi, Adsorpsi, dan Filtrasi pada Pengolahan
Air Limbah Industri Perikanan. Jawa Timur : UPN Veteran.
Hartini, Eko. 2012. Cascade Aerator dan Buble Aerator dalam Menurunkan kadar Mangan Air Sumur
Gali. Jurnal Kesehatan Masyarakat (8)(1) Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro,
Semarang.
Hastutiningrum, Sri, dkk. 2015. Penurunan Kadar Besi (Fe) dan Mangan (Mn) Dalam Air Tanah dengan
Metode Aerasi Conventional Cascade dan Aerasi Vertical Buffle Channel Cascade. Yogyakarta :
Teknik Lingkungan.
Hutabarat dan Evans., 2000. Pengantar Oseanografi. Jakarta : Universitas Indonesia-Press.
Illahude, A.Gani. 1999. Pengantar Oseanografi Fisika. Jakarta : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Mulyanto. 2009. Oksigen Terlarut Dalam Air. Jakarta : Universitas Indonesia.
Nontji, Anugerah. 2002. Laut Nusantara. Jakarta : Djambatan.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : PT. Gramedia.
Odum, E. P., 1971. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Ridwan. 2006. Oksigen Terlarut (DO) Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah
Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan. Jakarta.
Said, Nusa I. 2005. Metoda Penghilangan Zat Besi dan Mangan di dalam Penyediaan Air Minum Domestik.
Jurnal Teknologi Volume 1 Nomor 3 BPPT.
Slamet, Agus dkk. 2016. Efek Aerasi Terhadap Dominasi Mikroba dalam Sistem High Rate Algae Pond (
HRAP ) untuk Pengolahan Air Boezem Monokrembangan. Surabaya : Institute Teknologi Sepuluh
Nopember.
Supangat, Agus. 2000. Pengantar Oseanografi. Bandung : Institute Teknologi Bandung.