Anda di halaman 1dari 6

PRAKTIKUM HAMA PENYAKIT PENTING TANAMAN

PENYAKIT PENTING TANAMAN CABAI

Disusun Oleh:
Muhammad Haqiqi 165040200111069
Muhammad Bakharuddin .F 165040200111073
Renaldy Christian Siahaan 165040200111079
Widya Maya Putri 165040200111093
Kelas : C

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
PENYAKIT PENTING TANAMAN CABAI

Pada umumnya penyakit yang sering menyerang tanaman cabai merah


disebabkan oleh cendawan, terutama disebabkan oleh lahan yang selalu lembab
sehingga memungkinkan cendawan berkembang dengan baik. Beberapa jenis
penyakit penting yang menyerang tanaman cabai merah, antar lain :

1. Bercak daun serkospora

1.1 Patogen: Cercospora capsici


1.2 Sumber: Sisa Tanaman yang sakit
1.3 Cara penularan: angin
1.4 Faktor pemicu: hujan ringan yang terus menerus, tajuk yang terlalu rapat,
serangan meningkat pada peralihan musim
1.5 Gejala:
Gejala akan nampak pada daun, tangkai dan batang. Bercak daun
Cercospora dapat menimbulkan defoliasi. Gejala serangan penyakit ini mulai
terlihat dari munculnya bercak bulat berwarna coklat pada daun dan
kering, ukuran bercak bisa mencapai sekitar 1 inci. Bercak berbentuk oblong
(bulat) sirkuler dimana bagian tengahnya mengering berwarna abu-abu
sampai putih dan warna coklat dibagian pinggirannya, dan daun menjadi tua
(menguning) sebelum waktunya. Bercak yang tua dapat menyebabkan lubang-
lubang. Bercak daun mampu menimbulkan kerugian ekonomi yang besar
pada budidaya cabai, daun yang terserang akan layu dan rontok. Bercak
menyerupai mata kodok sehingga penyakit ini sering disebut bintik mata kodok
(frog eyes). Pada penampakan satu tanaman banyak daun yang menguning
sebelum waktunya.
Bercak daun mampu menimbulkan kerugian ekonomi yang besar
pada budidaya cabai, daun yang terserang akan layu dan rontok.Penyakit
bercak daun ini dapat menyerang tanaman muda di persemaian, dan
cenderung lebih banyak menyerang tanaman tua. Serangan berat
meyebabkan tanaman cabai kehilangan hampir semua daunnya, kondisi
ini akan mempengaruhi kemampuan cabai dalam menghasilkan buah.
1.6 Pencegahan dan pengendalian
a. Pemupukan yang berimbang, yaitu Urea 150-200 kg, ZA 450-500 kg, TSP
100-150 kg, KCl 100-150 kg, dan pupuk organik 20-30 ton per hektar.
b. Intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi
serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil panen.
c. Sanitasi dengan cara memusnahkan dan atau sisa-sisa tanaman yang
terinfeksi/terserang
d. Menanam bibit yang bebas patogen pada lahan yang tidak
terkontaminasi oleh patogen, baik dipersemaian maupun di lapangan
e. Perlakuan benih sebelum tanam
f. Perbaikan drainase
g. Penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran
rendah mengurangi infestasi antraknos dan penyakit tanah, terutama di
musim hujan.
h. Waktu tanam yang tepat adalah musim kemarau dengan irigasi yang
baik dan pergiliran tanaman dengan tanaman non solanaceae
i. Untuk bercak sercospora dianjurkan menggunakan daun mindi (Melia
azederach)pada konsentrasi 1: 20 (berat/volume).
j. Penyakit bercak daun Cercospora capsici dikendalikan dengan fungisida
difenoconazole (Score 250 EC dengan konsentrasi 0,5 ml/l). Interval
penyemprotan 7 hari.
k. Untuk mengurangi penggunaan pestisida (+30%) dianjurkan untuk
menggunakan nozel kipas yang butiran semprotannya berupa kabut dan
merata
2. Antraknos

2.1 Patogen : Colletotrichum spp.


2.2 Sumber : benih & sisa tanaman sakit
2.3 Cara menular : percikan air (termasuk penyemprotan pestisida), hujan
angin, tangan pemetik buah
2.4 Pemicu perkembangan penyakit
benih tidak sehat, kondisi tajuk terlalu lembab, pupuk N terlalu tinggi,
tanah kekurangan Ca
2.5 Gejala :
Penyakit ini menyerang bagian buah cabai, baik buah yang
masih muda maupun yang sudah masak. Gejala awal penyakit ini
ditandai dengan munculnya bercak yang agak mengkilap, sedikit
terbenam dan berair, berwarna hitam, orange dan coklat. Warna hitam
merupakan struktur dari cendawan (mikro skelerotia dan aservulus),
apabila kondisi lingkungan lembab tubuh buah akan berwarna orange
atau merah muda. Gejala awal adalah bercak kecil seperti tersiram air,
luka ini berkembang dengan cepat sampai ada yang bergaris tengah 3-4
cm. Luka yang ditimbulkan akan semakin melebar dan membentuk
sebuah lingkaran konsentris dengan ukuran diameter sekitar 30 mm
atau lebih. Dalam waktu yang tidak lama buah akan berubah menjadi
coklat kehitaman dan membusuk. Ledakan penyakit ini sangat cepat
pada musim hujan. Serangan yang berat menyebabkan seluruh buah
keriput dan mengering. Warna kulit buah seperti jerami padi. Buah cabai
bisa hancur 100% karena antraknos (Gambar 45).
2.6 Pencegahan dan pengendalian :
a. Pencegahan dapat dilakukan dengan membersihkan lahan dan
tanaman yang terserang agar tidak menyebar.
b. Gunakan benih yang bersertifikat, rendam dengan air panas 55oC
selama 30 menit atau dengan larutan 0,050,1% fungisida golongan
sistemik (seperti Triazole atau Pirimidin).
c. Kultur teknis dengan pergiliran tanaman, penggunaan benih sehat
dan sanitasi dengan memotong dan Buah cabai yang terserang
antraknos dikumpulkan dalam kantung plastik tertutup dan
dimusnahkan.
d. Gunakan fungisida sistemik bergantian dengan yang kontak dengan
pola S-K-K-K-S dan seterusnya.
e. Untuk mengurangi volume fungisida gunakan spuyer kipas yang
f. dapat menghemat volume penyemprotan sekitar 30%.
DAFTAR PUSTAKA
Duriat, A.S., N. Gunaedi, A.W Wulandari. 2007. Penyakit Penting Tanaman Cabai
dan Pengendaliannya. Bandung: Balai Penelitian Tanaman Sayuran
Meilin, Araz. 2014. Hama dan Penyakit Pada Tanaman Cabai Serta
Pengendaliannya. Palembang: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi