Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENGUKURAN DEBIT DENGAN V-NOTCH WEIR DAN ORIFICE PADA


POMPA SENTRIFUGAL KERJA TUNGGAL, SERI DAN PARALEL

I. PENDAHULUAN
Pokok permasalahan dari praktikum ini adalah kaji eksperimental pompa sentrifugal
keja tunggal, seri dan parallel dengan pengukuran debit v-notch weir dan orifice terhadap
kapasitas, head, daya dan efisiensi.

II. TUJUAN PENELITIAN


1. Mengetahui karakteristik masing-masing kerja pompa sentrifugal.
2. Mengetahui hubungan kapasitas pompa sentrifugal kerja tunggal, seri dan parallel
berdasarkan pengukuran debit v-notch weir dan orifice.
3. Mengetahui hubungan-hubungan kapasitas, head, daya dan efisiensi pompa pada
kerja tunggal, seri dan parallel.

III. BATASAN MASALAH


1. Pengujian dilakukan dengan pompa sentrifugal satu tingkat, dengan motor listrik
jenis AC, 1 phase, 0,55 HP.
2. Unsur-unsur yang diamati yaitu kapasitas, head, daya dan efisiensi.
3. Pengoperasian pompa pada susunan tunggal, seri dan parallel.

IV. MODEL ALAT UJI


Alatuji pompa ini digunakan untuk penelitian dalam mempelajari karakteristik pompa
sentrifugal. Model alat ini terdiri dari dua buah pompa yang dapat dioperasikan secara
tunggal, seri, dan parallel dengan pengukuran debit v-notch weir dan orifice. Kontruksi seperti
gambar pada lampiran.

V. ALAT UKUR YANG DIGUNAKAN


1. Alat ukur aliran fluida v-notch weir dan orifice.
2. Penguuran tekanan (manometer tipe bourdon)
3. Pengukur ketinggian permukaan air (gelas penduga)
4. Pengukur arus listrik motor (amperemeter)
5. Pengukur waktu (stop watch)
6. gelas ukur

1
VI. PERSIAPAN PERCOBAAN
1. Menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk percobaan
2. Mengisi air pada baka sesuai dengan batas yang ditentukan
3. Priming, yaitu dengan jalan membuka semua katup, kecuali katup pengatur output.

VI. PELAKSANAAN PERCOBAAN


1. Memastikan persiapan percobaan telah selezai
2. Mengatur level air pada v-notch weir hingga tepat pada puncak lekukan V sebagai
sekala Nol yang terbaca pada gelas penduga.
3. Mengatur katup pengtur aliran hingga pompa beroperasi secara tunggal, seri dan
paralel dan perubahan katup pengatur aliran output sesuai dengan yang diinginkan.
4. Mencatat pembacaan awal dari manometer sebelum opersi.
5. Menghidupkan motor
6. Mencatat pembacaan pada mnometer tipe bourdon setelah opersi.
7. Setelah aliran konstan, mencatat ketinggian permukaan air pada bak v-notch weir
pada gelas penduga.
8. Melakukan percobaan diatas untuk berbagai variasi pembukaan katup pengatur
aliran output, yaitu 00, 100, 200, 300, dan 400.
9. Setelah percobaan selesai pastikan posisi jarum manometer kembali pada posisi
awal.

VIII. PERHITUNGAN PARAMETER-PARAMETER POMPA


Analisa parameter-parameter pompa ini berlaku untuk karakteristik pompa sentrifugal
kerja tunggal, seri dan parallel.
1 Perhitungan v-notch weir
Debitnyata (Q1)
Debit nyata merupakan jumlah aliran yang mengalir melalui puncak v-notch weir
yang ditampung selama t (waktu) menit, maka persamaannya adalah:
G
Q
60 t

dimana : G = berat air yang ditampung selama t (menit)


= berat jenis air (1000 kg/m3)
Untuk debit nyata yang dihasilkan dari persamaan di atas yang dihasilkan dari
persamaan diatas yang dihasilkan akan sama dengan debit teoritis (Q 2) dimana
persamaan yang berlaku :

2
8 5
Q2 2 g (tan / 2)h 2
15
dimana, g = percepatan gravitasi (9,81 m/detik)
= 900
h = h1 h2
h = tinggi air diatas puncak v-notch weir (m)
h1 = tinggi air yang terbaca (m)
h2 = tinggi air pada titik nol (m)
Maka diapat :
5
Q2 2,5 h 2

Jadi diperoleh debit sesungguhnya pada pengukuran instalasi dimasukkan dengan


persamaan gradient pada waktu peneraan yaitu y = 0,9045 x 2E -05.
Maka Q = 0,9045(Q1) -2E -05

2. Perhitungan head yang dihasilkan pompa


Hp = (Hd Hs) + (1,17 x 105)x Q2
Dimana, Hd = tekanan pada manometer sisi tekan
Hs = tekanan pada manometer sisi isap
Q = kapasitas pompa (m3/detik)
Pada tekanan manometer pada sisi tekan maupun sisi isap hasil pembacaan pada
manometer Bourdon yang terbaca, dimasukkan dengan persamaan kalibrasi yang telah
dihasilkan pada grafik kalibrasi pada pembahasan sebelumnya.

3. Daya output yang diberikan pompa ke fluida


Po = Q Hp (watt)
Dimana, Q = Kapasitas pompa (m3/detik)
Hp = head yang dihasilkan pompa (m)
= berat jenis air =g
= 1000 9,81 = 9810 kg/m3

4. Menghitung daya out put / keluaran motor


3 v I cos m
Pm (HP)
746
dimana, Pm = daya masukan pompa / daya keluaran motor (HP)

3
v = tegangan (volt)
I = arus listrik (Ampere)

m = efisiensi motor (diasumsikan 75%)

cos =0,7

5. Daya input motor


Karena Pi = Pm maka didapat :
P0
m
Pi

Po
maka, Pi
m

6. Efisiensi hidrolis dari pompa


P0
100 %
Pi

1. Untuk pompa yang dipasang seri berlaku :


HA HB
Ha H
B
A B

dimana, HA dan HB = head dari pompa A dan pompa B


A dan B = effisiensi pompa A dan pompa B
2. Untuk pompa yang dipasang pararel :
Q A QB
Q A QB

A B

dimana, QA dan QB = kapasitas pompa A dan pompa B.

7. Perhitungan untuk orifice.


Untuk debit yang dihasilkan orifice dapat diperhitungkan dengan persamaan.
P
Q 38,06 C A
Sg

dimana : Q = kapasitas aliran


A = /4 x d2 (dimana diameter dalam orifice = 0,5)
P = P6 P5
Sg = gravitasi spesifik ( 0,9)

4
C = koeffisien orifice (0,8) orifice berbentuk sharp edge

8. Tugas
Gambarkan grafik Q vs P ( pada orifice ) dan Q vs h (pada kenaikan permukaan v-
notch weir ) pada setiap kerja pompa.

Catatan :
1. Untuk setiap pembacan alat ukur pada skala manometer bourdon pada
a. Sisi hisap ( coumpon ) dimasukkan pada persamaan
y = 1,1681 X + 0,0824
b. Sisi tekan dimasukkan pada persamaan :y = 1,00130X + 0,0824
2. Untuk debit yang dihasilkan orifice harus dimasukkan pada persamaan
y = 0,0009 X + 0,0006
3. Untuk debit yang dimasukkan ke V-notch weir dimasukkan pada persamaan
y + 0,0452 X -0,001

9. Pembahasan :
Tunggal
1. Perhitungn v-notch weir
Q2 2,5 h5 / 2

Katup ( o ) h(m) Q ( m3/ detik )


0 0,047 2,5 x 0,0475/2 = 1,2 . 10-3

5
10 0,043 2,5 x 0,0435/2 = 0,96 . 10-3
20 0,043 2,5 x 0,0435/2 = 0,96 . 10-3
30 0,042 2,5 x 0,0425/2 = 0,9 . 10-3
40 0,039 2,5 x 0,0395/2 = 0,75 . 10-3

2. Perhitungan head yang dihasilkan pompa



H P H d H S 1,17 105 Q 2
Katup ( o ) Hd - HS HP
0 2,1 2,1 + (1,17 . 10 ) x (1,2 . 10-3)2 = 2,27
5

10 2,5 2,5 + (1,17 . 105) x (0,96 . 10-3)2 = 2,61


20 3,2 3,2 + (1,17 . 105) x (0,96 . 10-3)2 = 3,31
30 4,6 4,6 + (1,17 . 105) x (0,90 . 10-3)2 = 4,69
40 7,1 7,1 + (1,17 . 105) x (0,75 . 10-3)2 = 7,17

3. Daya output yang diberikan pompa ke fluida


PO Q H P (watt)
Katup ( o ) Po ( watt )
-3
0 1,2 . 10 x 2,27 x 9810 = 26,7
10 0,96 . 10-3 x 2,61 x 9810 = 24,6
20 0,96 . 10-3 x 3,31 x 9810 = 31,2
30 0,90 . 10-3 x 4,69 x 9810 = 41,4
40 0,75 . 10-3 x 7,71 x 9810 = 56,7

4. Menghitung daya output / keluaran motor


3 v I cos m
Pm ( HP )
746

dimana : m = 75 % = 0,75
cos = 0,7
Katup ( o ) Pm ( HP )
3 200 3. 0,7 0,75
0 1,27
746
3 200 2,8 . 0,7 0,75
10 1,18
746
3 200 2,7 . 0,7 0,75
20 1,14
746
3 200 2,6 . 0,7 0,75
30 1,10
746
3 200 2,5 . 0,7 0,75
40 1,06
746
1 HP = 746 watt

6
5. Daya input motor
Po
Pi
m
Katup ( o ) Pi ( HP )
0,035
0 0,048
0,75
0,033
10 0,044
0,75
0,042
20 0,056
0,75
0,055
30 0,073
0,75
0,076
40 0,101
0,75
1 HP = 746 watt

6. Efisiensi hidrolis dari pompa


po
100 %
pi

Katup ( o )
0,036
0 100 % 75 %
0,048
0,033
10 100 % 75 %
0,044
0,042
20 100 % 75 %
0,056
0,055
30 100 % 75 %
0,073
0,076
40 100 % 75 %
0,101

7. Perhitungan untuk orifice


P
Q 38,06 C A
Sg

Dimana : Diameter orifice = 0,5 = 0,5 x 0,0254 m = 0,0127 m


Sg = gtafik spesifik = 0,9
C = Koefisien orifice = 0,8
A = /4 x d2 = 1,27 . 10-4 m2
P= P6 P5

7
Katup P Q (m3/detik)
7,5
0 7,5 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0111
0,9
7,2
10 7,2 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0109
0,9
7,0
20 7,0 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0108
0,9
6,6
30 6,6 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0105
0,9
7,5
40 4,8 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0089
0,9

Grafik Q vs P pada orifice

Q (m3/S)

0,0140
0,0120
0,0100
0,0080
Q
0,0060
0,0040
0,0020
0
7,5 7,2 7 6,6 4,8

p(kg/m2)

Q (m3/S)

Grafik Q vs h pada kenaikkan permukaan v-notch weir


2 x 00 - 3
1,6 x 10 - 3
Q
1,2 x 10 - 3
0,8 x 10 - 3
0,4 x 10 - 3
0
0,045 0,043 0,053
8 0,042 0,039

h(m)
Seri
1. Perhitungn v-notch weir
Q2 2,5 h5 / 2

Katup ( o ) h(m) Q ( m3/ detik )


0 0,0450 2,5 x 0,04505/2 = 1,07 . 10-3
10 0,0451 2,5 x 0,04515/2 = 1,08 . 10-3
20 0,0452 2,5 x 0,04525/2 = 1,09 . 10-3
30 0,0454 2,5 x 0,04545/2 = 1,10 . 10-3
40 0,0430 2,5 x 0,04305/2 = 0,96 . 10-3

2. Perhitungan head yang dihasilkan pompa



H P H d H S 1,17 105 Q 2
Katup ( o ) Hd - HS HP
0 9,23 9,23 + (1,17 . 105) x (1,07 . 10-3)2 = 9,36
10 9,11 9,11 + (1,17 . 105) x (1,08 . 10-3)2 = 9,25
20 9,08 9,08 + (1,17 . 105) x (1,09 . 10-3)2 = 9,22
30 10,6 10,6 + (1,17 . 105) x (1,10 . 10-3)2 = 10,7
40 12,7 12,7 + (1,17 . 105) x (0,96 . 10-3)2 = 12,8

3. Daya output yang diberikan pompa ke fluida


PO Q H P (watt)
Katup ( o ) Po ( watt )
-3
0 1,07 . 10 x 9,36 x 9810 = 98,2
10 1,08 . 10-3 x 9,25 x 9810 = 98,0
20 1,09 . 10-3 x 9,22 x 9810 = 98,6
30 1,10 . 10-3 x 10,7 x 9810 = 115,5
40 0,96 . 10-3 x 12,8 x 9810 = 120,5

4. Menghitung daya output / keluaran motor

9
3 v I cos m
Pm ( HP )
746

dimana : m = 75 % = 0,75
cos = 0,7
Katup ( o ) Pm ( HP )
3 200 5,9 . 0,7 0,75
0 2,49
746
3 200 5,7 . 0,7 0,75
10 2,41
746
3 200 5,8 . 0,7 0,75
20 2,45
746
3 200 5,6 . 0,7 0,75
30 2,36
746
3 200 5,3 . 0,7 0,75
40 2,24
746
1 HP = 746 watt

5. Daya input motor


Po
Pi
m
Katup ( o ) Pi ( HP )
0,13
0 0,17
0,75
0,13
10 0,17
0,75
0,13
20 0,17
0,75
0,15
30 0,2
0,75
0,16
40 0,21
0,75
1 HP = 746 watt

6. Efisiensi hidrolis dari pompa


HA HB
; dimana H A H B
HA HB
A B
A B

Untuk Head Pompa A

10
00 H A ( 2,3 6,97) 1,17 x105 x(0,00107) 2 9,36 m
100 H A (2,4 6,7) 1,17 x105 x(0,00108) 2 9,25 m
200 H A ( 2,5 6,6) 1,17 x105 x(0,00109) 2 9,22 m
300 H A ( 4,5 6,1) 1,17 x105 x(0,0010) 2 10,7 m
400 H A (7,6 5,1) 1,17 x105 x(0,00096) 2 12,8 m

Untuk Head Pompa B


00 H B (12 1) 1,17 x105 x (0,00107) 2 11,13 m
100 H B (10 1,6) 1,17 x105 x(0,00108) 2 8,5 m
200 H B (13 2) 1,17 x105 x (0,00109) 2 11,1 m
300 H B (14 3,2) 1,17 x105 x(0,0011) 2 10,9 m
400 H B (20 7) 1,17 x105 x(0,00096) 2 13,1 m

Sehingga didapat :
0,00107 x0,045 x9810
00 A B 0,0048 0,48 %
98,2
0,00108 x0,0451x9810
10 0 A B 0,0049 0,49%
98
0,00109 x0,0452 x9810
20 0 A B 0,0049 0,49%
98,6
0,0010 x0,0454 x9810
30 0 A B 0,0025 0,25%
115 ,5
0,00096 x0,043 x9810
40 0 A B 0,0034 0,34%
120,5

Sehingga didapat efisiensi sebesar :

9,36 11,13
00 0,0048 0,48%
9,36 11,13
0,0048

9,25 8,5
10 0 0,0049 0,49%
9,25 8,5
0,0049

9,22 11,1
20 0 0,0049 0,49%
9,22 11,1
0,0049

10,7 10,9
30 0 0,0025 0,25%
10,7 10,9
0,0025

12,8 13,1
40 0 0,0034 0,34%
12,8 13,1
0,0034

11
7. Perhitungan untuk orifice
P
Q 38,06 C A
Sg

Dimana : Diameter orifice = 0,5 = 0,5 x 0,0254 m = 0,0127 m


Sg = gtafik spesifik = 0,9
C = Koefisien orifice = 0,8
A = /4 x d2 = 1,27 . 10-4 m2
P= P6 P5
Katup P Q (m3/detik)
9,1
0 9,1 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0123
0,9
9,9
10 9,9 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0128
0,9
9,9
20 9,9 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0128
0,9
8,5
30 8,5 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,01119
0,9
6,2
40 6,2 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0101
0,9

Grafik Q vs P pada orifice

Q (m3/S)

0,0140
0,0120
0,0100
0,0080
Q
0,0060
0,0040
0,0020
0 Q (m3/S)
9,1 9,9 9,9 8,5 6,2

p(kg/m2)
Grafik Q vs h pada kenaikkan permukaan v-notch weir
2 x 10 - 3
1,6 x 10 - 3
Q
1,2 x 10 - 3
0,8 x 10 - 3
0,4 x 10 - 3
0
0,045 0,0451
12 0,0454
0,0452 0,043

h(m)
Paralel
1. Perhitungn v-notch weir
Q2 2,5 h5 / 2

Katup ( o ) h(m) Q ( m3/ detik )


0 0,049 2,5 x 0,0495/2 = 1,33 . 10-3
10 0,048 2,5 x 0,0485/2 = 1,26 . 10-3
20 0,048 2,5 x 0,0485/2 = 1,26 . 10-3
30 0,047 2,5 x 0,0475/2 = 1,2 . 10-3
40 0,043 2,5 x 0,0435/2 = 0,96 . 10-3

2. Perhitungan head yang dihasilkan pompa



H P H d H S 1,17 105 Q 2
Katup ( o ) Hd - HS HP
0 8,6 8,6 + (1,17 . 105) x (1,33 . 10-3)2 = 8,8
10 8,4 8,4 + (1,17 . 105) x (1,26 . 10-3)2 = 8,6
20 8,9 8,9 + (1,17 . 105) x (1,26 . 10-3)2 = 9,1
30 9,2 9,2 + (1,17 . 105) x (1,20 . 10-3)2 = 9,4
40 9,7 9,7 + (1,17 . 105) x (0,96 . 10-3)2 = 9,8

3. Daya output yang diberikan pompa ke fluida


PO Q H P (watt)
Katup ( o ) Po ( watt )
-3
0 1,33 . 10 x 8,8 x 9810 = 114,8
10 1,26 . 10-3 x 8,6 x 9810 = 106,3
20 1,26 . 10-3 x 9,1 x 9810 = 112,5
30 1,20 . 10-3 x 9,4 x 9810 = 110,7
40 0,96 . 10-3 x 9,8 x 9810 = 92,3

4. Menghitung daya output / keluaran motor

13
3 v I cos m
Pm ( HP )
746

dimana : m = 75 % = 0,75
cos = 0,7
Katup ( o ) Pm ( HP )
3 200 4,8 . 0,7 0,75
0 2,03
746
3 200 4,8 . 0,7 0,75
10 2,03
746
3 200 4,6 . 0,7 0,75
20 1,94
746
3 200 4,5 . 0,7 0,75
30 1,9
746
3 200 4,4 . 0,7 0,75
40 9,86
746
1 HP = 746 watt

5. Daya input motor


Po
Pi
m

Katup ( o ) Pi ( HP )
0,154
0 0,21
0,75
0,142
10 0,19
0,75
0,151
20 0,20
0,75
0,148
30 0,197
0,75
0,124
40 0,17
0,75
1 HP = 746 watt

6. Efisiensi hidrolis dari pompa

14
QA QB
; dimana Q A Q B
QA QB
A B
A B
0 , 0 Q 0,00133m 3 / s
10 0 Q 0,00126m 3 / s
20 0 Q 0,00126m 3 / s
30 0 Q 0,0012m 3 / s
40 0 Q 0,00096m 3 / s

Sehingga didapat efisiensi hidrolis sebesar:


3,6 10 -3
0,0046 0,46%
00 1,33 10 -3
x2
0,0046

3,4 10 -3
0,0052 0,52%
10 0 1,7 10 -3
x2
0,0052

3 10 -3
0,0049 0,49%
20 0 1,5 10 -3
x2
0,0049

2,8 10 -3
0,0048 0,48%
30 0 1,4 10 -3
x2
0,0048

2,6 10 -3
0,0044 0,44%
40 0 1,3x10 -3
x2
0,0044

7. Perhitungan untuk orifice


P
Q 38,06 C A
Sg

Dimana : Diameter orifice = 0,5 = 0,5 x 0,0254 m = 0,0127 m


Sg = gtafik spesifik = 0,9
C = Koefisien orifice = 0,8
A = /4 x d2 = 1,27 . 10-4 m2
P= P6 P5
Katup P Q (m3/detik)
10,9
0 10,9 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0134
0,9
11,2
10 11,2 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0136
0,9

15
10,3
20 10,3 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0131
0,9
8,2
30 8,2 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0117
0,9
5
40 5 38,06 0,8 1,27 .10 4 0,0091
0,9

Grafik Q vs P pada orifice

Q (m3/S)

0,0150
0,0140
0,0130
0,0120
Q
0,0110
0,0100
0,0090
0,0080
10,5 11,2 10,3 8,2 5

p(kg/m2(
Q (m3/S)

1,5 x 10 - 3
1,2 x 10 - 3
Q
0,9 x 10 - 3
Grafik Q0,6
vsxh pada kenaikkan permukaan v-notch weir
10 - 3
0,3 x 10 - 3
0
0,049 0,048
16
0,048 0,047 0,043

h(m)
IX.. KESIMPULAN DAN SARAN
Praktikum pengukuran debit dengan v-notch dan orifice pada pompa sentrifugal kerja
tunggal, seri dan parallel adalah untuk membedakan dan membandingkan kelebihan dan
kekurangan dari kerja serta hasil kerja maksimum suatu pompa yang disusun secara tunggal,
seri maupun parallel selain itu juga membandingkan jumlah debit air yang dihasilkan dari
masing-masing pompa disusun secara seri, tunggal, maupun parallel.
Dalam praktikum kami dapat melakukan praktek dengan lancer hanya saja alat-alat
ukur tekanan antara alat yang satu dengan yang lainnya belum sama satuannya sehingga saran
kami alangkah baiknya jika alat ukur tersebut di buat yang seragam.

17
BAB II
PRAKTIKUM FENOMENA WATERHAMMER

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Dengan bertambah pesat kemajuan teknologi dewasa ini termasuk didalamnya
teknoligi pompa dan peralatan teknik pengangkut fluida lainnya, maka sebagai seorang
engginer perlu untuk mengimbangi, bahkan ikut melakukan pengembangan teknologi,
terutama yang berhubungan dengan pompa yang didukung dengan intalasi perpipaan. Hal
tersebut banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari, industri besar maupun kecil.
Untuk memindahkan fluida dari tempat ke tempat yang lain diperlukan system
pepipaan. Aliran terjadi karena adanya perbedaan tinggi tekan di kedua tempat, yang dapat
tejadi karena adanya tekanan elevasi muka air, atau karena digunakannya pompa. Apabila
menggunakan pipa dengan diameter tertentu, peningkatan debit akan meningkatkan kecepatan
fluida tersebut, sehingga energi kinetik yang dimiliki fluida akan meningkat pula.
Apabila suatu kondisi aliran permanent didalam suatu system perpipaan berubah,
misalnya karena suatu pengoperasian katup atau pompa atau adanya kerusakan pada system
tersebut, maka perubahan kondisi aliran akan berpengaruh pada seluruh system dengan
terjadinya penjalaran gelombang tekanan ke seluruh system perpipaan. Sesudah beberapa
waktu lamanya kondisi tersebut kembali lagi dalam kondisi seimbang yaitu pada kondisi

18
permanent atau steady. Misalnya, jika di dalam system perpipaan bertambah atau berkurang
selama pengoperasian, kemudian setelah beberapa waktu, aliran kembali lagi pada kondisi
permanent, dengan kondisi aliran (debit, aliran dll ) yang baru pada seluruh system. Tranmisi
dari satu kondisi permanen ke kondisi berikutnya selalu disertai dengan penjalaran tekanan
dan gelombang kecepatan diseluruh system dan berakibat terjadinya perubaha tekanan
didalam system perpipaan tersebut. Besar kecilnya perubahan tekanan tersebut sangat
tergantung pada laju perubahan kacepatan aliran karena adanya perubahan
pengoperasian( ditempat katup atau pompa). Fenomena terjadinya penjalaran tekanan karena
adanya perubahan pengoperasian tersebut dikenal sebagai waterhammer
Dengan demikian dalam perencanaan instalasi perpipaan fenomena waterhammer ini
perlu dipertimbangkan, apakah instalasi perpipaan tersebut dalam menahan tekanan
maksimum dan minimum akibat pengoperasian katup atau pompa. Tekanan waterhammer
akan sangat besar apabila instalasi perpipaan tersebut panjang dan memiliki kecepatan aliran
fluida yang tinggi.
Dalam dunia industri gejala waterhammwr tidak hanya terjadi pada system perpipaan
yang fluidanya dialirkan dengan menggunakan pompa, dan lain-lain. Pada turbin air juga
diperhitungkan tekanan waterhammer. Gejala tekanan ini terjadi apabila beban listrik berhenti
secara mendadak yang kemungkinan terjadi kecelakaan pada saluran trasmisi selama periode
puncak. Sehingga katup-katup turbin akan menutup dengan cepat untuk menghentikan aliran.
Didalam pipa pesat pada instalasi turbin air aliran fluida yang terjadi adalah tinggi dan
tergantunh pada katup-katup yang digunakan untuk mengatur aliran sedemikian sehingga
output pada setiap saat sesuai dengan kebutuhan listrik yang dilayani. Dengan berhentinya
fluida tersebut maka terjadi peningkatan tekanan disekitar katup-katup (waterhammer).
Dari uraian di atas dianggap penting untuk meneliti guna mengetahui fenomena
waterhammer. Yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi positif pada pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama pada ilmu teknik mesin, yang manfaatnya dapat
dinikmati di dunia pendidikan (laboratorium, penelitian, dan lain-lain), dan juga di industri
khususnya yang berkaitan dengan pompa, turbin uap turbin air, alat ukur panas, pendingin
ruangan, kolom distalasi, system injeksi bahan baker, dan sebagainya.

B. Landasan Teori
Proses terjadinya water hammer dapat diuraikan dengan teori elastisitas yang
menganggap bahwa fluida bersifat elastis atau compressible sehingga perubahan tekanan dan
kecepatan yang terjadi karena penutupan katup tidak terasa di sepanjang pipa dengan seremp
ak akan tetapi gelombang tekanan merambat sepanjang pipa dengan kecepatan sangat tinggi.

19
Di pandang suatu sistem pipa seperti ditunjukkan pada gambar 1, dimana pada waktu
t = 0 kondisi aliran adalah permanen. Kemudian katup pada ujung pipa ditutup secara
mendadak Apabila dianggap pipa tidak mempunyai gesekan , maka pada kondisi permanen
tersebut tinggi tekanan disepanjang pipa adalah Ho. Mekanisme penjalaran gelombang
tekanan pada sistem pipa adalah sebagai berikut:

1. 0 < t < L/C (gambar 1. a, b, dan c)


Segera setelah katup di tutup maka akan menyebabkan kenaikan tekanan sebesar
dH.Dengan tambahnya tekanan maka akan terjadi pengembangan padap pipa karena sifat
elastic pip. Zat cair dalam pipa akan terpampatkan oleh karena terjadinya kenaikan tekanan
dan menjalar menuju tabumg pelimpah. Di belakang gelombang tekanan ini kecepatan
menjadi nol dan tinggi tekanan menjadi Ho + dH yang ada sebelumnya energi kinetic di ubah
menjadi anergi tekanan adalah C maka pada saat T + L/C penjalaran gelombang sudah
mencapai tabung pelimpah.

2. L/C < t < 2 L/C (gambar 1. d dan e )


Muka tabung pelimpah adalah Ho sedangkan tinggi tekanan dalam pipa mulut tabung
pelimpah adalah Ho + dH, sehingga tidaknya ketidakstabilan karena terjadi perbedaan
tekanan. Perbedaan tekanan ini yang menyebabkan air mengalir dari pipa menuju ke
tabungpelimpah dengan kecepatan Vo ( arahnya berlawanan dengan arah semula ).
Kecepatan yang tadinya nol berubah menjadi Vo dan menyebabkan penurunan tekanan
dalam pipa dari Ho + dH menjadi Ho. Dengan gelombang tekanan menuju katup sehingga
tinngi tekana dibelakang muka gelombang menjadi Ho dan kecepatan zat cair menjadi Vo.
Pada saat t = 2 L/C tinggi tekanan diseliruh pipa pipa adalah Ho dan kecepatan adalah -Vo.

3. 2 L/C < t < 3 L/C ( gambar 1 .f dan g )


Jika katup tertutup secara sempurna maka kecepatan dikatup sama dengan nol dan
kecepatan berubah secara mendadak dari Vo menjadi nol. Hal ini akan menyebabkan tinggi
tekanan menurun menjadi Ho dH, dan gelombang tekanan negatif akan menjadi ke tabung
pelimpah. Dibelakang gelombang ini tekanan adalah nol dan tinggi tekanan adalah Ho- dH.
Pada saat tekanan 3L/C tinggi tekanan diseluruh pipa menjadi Ho dH dan kecepatannya nol.

4. 3 L/ C < t < 4 L/ C ( gambar 1. h dan I )

20
Setelah gelombang mencapai tabung pelimpah keadaan tidak seimbang rerjadi lagi di
ujung hulu pipa. Tekanan ditabung pelimpah lebih tinggi daripada tekanan dalam pipa ,
sehigga air mulai bergerak menuju kekatup dengan kecepatan Vo dan tinggi tekanan di
belakang gelombang ini menjadi Ho. Pada saat t = 4 L / C tinggi tekanan diseluruh pipa Ho
dan kecepatan adalah Vo . Dengan demikian kondisi aliran sama seperti semula hingga proses
ini terus berulang terus dengan periode ulang 4L/C. (Triatmojo, 1995 )

21
Gambar 1. Urutan Perjalanan Gelombang pada Pipa
(Sumber : Triatmojo : 1995)

22
Dengan perhitungan kehilangan tenaga akibat gesekan pipa, tinggi tekanan sesaat h pada
katup selama periode pengaturan ketup di berikan persamaan berikut ini
L V2 L dv
h HS f .......................( 3 )
D 2g g dt

hfD 2 g
Sedangkan V ..................................................( 4 )
fL

Dalam persamaan lain juga dikatakan bahwa hubungan kecepatan aliran sangat
berpengaruh pada tinggi tekanan waterhammer pada persamaan ( 3 ) dan ( 4 ) :
L dv
Dimana Hs pada persamaan ( 4 ) adalah kerugian akibat gesekan dan g dt adalah

tinggi percepatan dengan aliran tidak permanent di perlambat atau adanya penutup katup.
Akibatnya jika harga V tinggi atau turun maka tinggi percepatan disebelah hulu katup adalah :
L Vo
h
g t

dimana t adalah waktu penutup katup.


Karena adanya kecepatan berkurang maka terjadi kerugian gesekan sebesar
2
V
hf ' hf
Vo

Sehingga tinggi tekanan katup sebelah hulu dapat diketahui dengan persamaan dibawah ini.
H Hs Hf ' h ................................................ 5

Bila pada sebelah hulu katup terpasang surge tank pada pipa horizontal pada tinggi tekanan
pada surge tank tersebut sebesar :
l
Hst h
L
Dimana l adalah panjang pipa dikurangi jarak surge tank dari hulu katup. Bila ada kerugian
akibat gesekan diperhitungkan didapatkan.
l
Hstf hf
L
Sehingga harga tinggi tekanan pada surge tank adalah sebesar
Pwh Hs Hstf Hst .......................................... 6

II. METODE PRAKTIKUM

23
A. Bahan
1. Air bersih
2. Pewarna
3. Gelas ukur
4. Stop watch

B. Tujuan Praktikum
Praktikum ini mempunyai tujuan yaitu mencari kenaikkan tinggi tekanan
waterhammer pada penutupan katup penuh selama 1 detik dengan variasi debit aliran.
C. Gambar instalasi Alat Uji Waterhammer
Skema alat dapat dilihat pada gambar . 2.

Gambar. 2. Skema alat uji Fenomena Waterhammer.


D. Langkah Kerja

24
1. Isi reservoir penampungan air dengan air bersih. Lalu hidupkan pompa dengan
cara menekan tombol On pada panel.
2. Atur ketinggian muka air pada reservoir pelimpah dengan cara memutar katup
dekat pompa pada alt uji dengan ketinggian 30 (cm)
3. Tunggu hingga ketinggian muka air pada tabung pelimpah seimbang yang
tampak pada water level dan tunggu aliran benar-benar dalam keadaan steady.
4. Setelah itu ukurdebit air dengan gelas ukur dan stopwatch.
5. Tutup katup pemukul aliran dekat surge tank dengan waktuy penutupan 1 detik.
6. Catat tinggi tekanan waterhammer yang tampak pada surge tank.
7. Untuk mendapatkan data yang akurat lakukan percobaan minimal 2 kali dan
diambil rata-ratanya.
8. Ulangi langkah 1-7 untuk ketinggian Ho 35, 40, 45, 50 (cm)

E. Pertanyaan dan Tugas


1. Hitung kenaikkan tinggi tekanan waterhammer untuk setiap ketinggian Ho 30,
35, 40, 45, dan 50 (cm)
2. Olah data hasil percobaan dalam bentuk grafik dalam exel dan bandingkan
denganhasil perhitungan.

III. PEMBAHASAN WATER HAMMER

Data yang diketahui:

25
a. Temperatur air T = 28o C
m2
b. Viskositas kinematis v 0,836 10 6
s
m3
c. Debit air pompa, 180 L/min = 0,003
s
d. Diameter pipa flexiglass reservoir pelimpah ke katup, L = 6,19 m
e. Panjang pipa flexiglass dari katup pelimpah sampai surge tank = 6 m = L
f. Koefisien gesek, f = 0,0016 s

Percobaan Ho (m) Debit air rata2 Kenaikan Waktu


2
m3 / s tekanan rata penutupan
(m) (s)
1 0,3 0,00037 0,66 1
2 0,35 0,00028 0,72 1
3 0,4 0,00071 0,795 1
4 0,45 0,00075 0,867 1
5 0,5 0,00035 0,943 1

Penyelesaian

A. Pada Ho = 0,3 m dan Q = 0,00037

Q 0,00037
v 0,82 m / s
1. / 4D 2

0,024 2
4
0,0165 6,19 0,82
2
fLv 2
2. hf 0,146 m
2 gD 2 9,806 0,024
Lv 6,19 0,82
3. h 0,52 m
gt 9,81 1
2 2
v 1
4. hf ' hf 0,146 0,04m
vo 2
5. Hp Ho hf h 0,3 0,04 0,52 0,78
'

l 6
6. hp h 0,52 0,5m
L 6,19
l 6
7. hf ' p hf ' 0,04 0,04m
L 6,19

sehingga H Ho hf ' p hp
0,3 0,04 0,5 0,76m

B. Pada Ho=0,35 dan Q = 0,000285

Q 0,000285
v 0,63 m / s
1. / 4D 2

0,024 2

26
0,0165 6,19 0,63
2
flv 2
2. hf 0,09m
2 gd 2 9,81 0,024
Lv 6,19 0,63
3. h 0,4m
gt 9,81 1
2 2
v 1
4. hf ' hf 0,09 0,02
vo 2
5. Hp Ho hf h 0,35 0,02 0,4 0,73 m
'

l 6
6. hp L h 6,19 0,4 0,39m
l 6
7. hf p L hf 6,19 0,02 0,019m
' '

sehingga H Ho hf ' p hp 0,35 0,019 0,39 0,72

C. Pada Ho = 0,4 dan Q = 0,000356 m 3 / s

Q 0,000356
1. v 0,79 m 3 / s
/ 4D 2
/ 4 0,024 2

0,0165 6,19 0,79


2
fLv 2
2. hf 0,14m
2 gD 2 9,81 0,024
Lv 6,19 0,79
3. h 0,5m
gt 9,81 1
2 2
v 1
4. hf ' hf 0,14 0,035
vo 2
5. Hp Ho hf h 0,4 0,035 0,5 0,87
'

l 6
6. hp h 0,5 0,48
L 6,19
l 6
7. hf ' p hf ' 0,035 0,034
L 6,19

sehingga H Ho hf ' p hp 0,4 0,034 0,48 0,85

D. Pada Ho = 0,45 m dan Q = 0,000377 m 3 / s

Q 0,000377
v 0,84
1. / 4D 2

0,0024 2

4
0,0165 6,19 0,84
2
fLv 2
2. hf 0,15
2 gD 2 9,81 0,024
Lv 6,19 0,84
3. h 0,53m
gt 9,81 1
2 2
v 1
4. hf ' hf 0,15 0,038m
vo
2
5. Hp Ho hf h 0,45 0,038 0,53 0,942 m
'

l 6
6. hp h 0,42 0,41
L 6,19
l 6
7. hf ' p hf ' 0,024 0,023
L 6,19

27
sehingga H 0,45 0,023 0,41 0,84

E. Pada Ho = 0,5m dan Q=0,00345 m 3 / s

0,000345
1. v 0,77m / s
/ 4 0,024 2
0,0165 6,19 0,77
2

2. hf 0,13 m
2 9,81 0,024
6,19 0,77
3. h 0,52m
9,81 1
2
1
4. hf ' 0,13 0,033 m
2
5. Hp 0,5 0,033 0,52 0,99 m
6
6. hp 0,52 0,5 m
6,19
6
7. hf ' p 0,033 0,032m
6,19

sehingga H = 0,5 - 0,032 + 0,5 = 0,97 m

H (m)

Grafik H vs1,0Q pada waterhammer

0,8
teoritis
0,6

0,4

0,2

0
0,00037 0,00029 0,00036 28 0,00038 0,00035

Q (m3/S)
percobaan

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


Didalam kehidupan sehari hari manusia tidak terlepas dari yang namanya pompa,
yang digunakan untuk memindahkan air dari satu tempat ke tempat yang lain. Kalau pada
industri selain pompa juga diperlukan sistem perpipaan untuk memindahkan fluida dari satu
tempat ke tempat yang lain. Fenomena terjadinya penjalaran tekanan karena adanya
perubahan pengoperasian tersebut maka dikenal sebagai waterhammer.

29
Praktikum fenomena waterhammer adalah praktikum yang bertujuan untuk
mempelajari karakteristik suatu fluida, baik dalam keadaan diam maupun mengalir, yang
meliputi debit hambatan alir, viscositas maupun perbedaan dan kenaikan tekanan.
Praktikum fenomena waterhammer kali ini khusus untuk mempelajari suatu transmisi
aliran fluida sehingga diharapkan para praktisi dapat menganalisa dan merancang suatu
instalasi yang dapat meminimalkan adanya fenomena waterhammer sehingga instalasi
tersebut dapat bertahan lama.
Dalam melakukan praktikum, kami dapat melakukan praktikum dengan lancar, hanya
saja tombol-tombol pengontrol ada sedikit gangguan sehingga alangkah baiknya tombol-
tombol pengontrol dibuat yang permanen dan ditingkatkan kualitasnya.

BAB III
KAVITASI

I. PENDAHULUAN
Kavitasi adalah segala menguapnya zat cair yang sedang mengalir, karena
tekanannya berkurang sampai dibawah tekanan uap jenuhnya. Misalnya air pada tekanan 1

30
atmosfer akan mendidih dan menjdi uap jenuh pada temperature 1000C. Tetapi jika tekanan
direndahkan maka air akan mendidih pada temperature yang lebih rendah. Jika tekanannya
cukup rendah maka pada temperature kamar pun air akan mendidih.
Apabila zat cair mendidih, maka akan timbul gelembung-gelembung uap zat cair. Hal
ini dapat terjadi pada zat cair yang sedang mengalir di dalam pompa maupun di dalam pipa.
Tempat-tempat yang bertekanan rendah dan atau yang berkecepatan tinggi di dalam aliran,
sangat rawan terhadap terjadinya kavitasi. Pada pompa misalnya, bagian yang mudah
mengalami kavitasi adalah pada sisi isapnya. Kavitasi akan timbul bila tekana isap terlalu
rendah.
Jika pompa mengalami kavitasi, maka akan timbul suara berisik dan getaran. Selain
itu untuk kerja pompa akan menurun secara tiba-tiba, sehingga pompa tidak dapat bekerja
dengan baik. Jika pompa dijalankan dalam keadaan kavitasi secara terus menerus dalam
jangka waktu yang lama, maka permukaan dinding saluran disekitar aliran yang berkavitasi
akan mengalami kerusakan. Permukaan dinding akan termakan sehingga menjadi berlubang-
lubang atau bopeng. Peristiwa ini disebut erosi kavitasi, sebagai akibat dari tumbukkan
gelembung-gelembung uap yang pecah pada dinding secara terus-menerus.

A. Head Isap Positif Netto (NPSH)


Seperti yang telah diuraikan, kavitasi akan terjadi bila tekanan suatu aliran zat cair
turun sampai dibawah tekanan uap jenuhnya. Jadi, untuk menghindari kavitasi, harus
diusahakan agar tidak ada bagianpun dari aliran di dalam pompa yang mempunyai tekanan
statis lebih rendah dari tekanan uap jenuh cairan pada temperatur yang bersangkutan. Dalam
hal ini perlu diperhatikan dua macam tekanan yang memegang peranan.
Pertama, tekanan yang ditentukan oleh kondisi lingkungan dimana pompa dipasang,
dan kedua, tekanan yang ditentukan oleh aliran di dalam pompa. Berhubungan dengan hal
tersebut diatas, maka dapat didefinisikan suatu head Isap Positif Netto atau NPSH, yang akan
dipakai sebagai ukuran keamanan pompa terhadap kavitasi. Dengan mengetahui NPSH yang
tersedia pada sistem (intalasi), dan dengan mengetahui NPSH yang diperlukan oleh pompa,
maka bisa merencanakan suatu pompa dana instalasinya.
.
B. NPSH yang Tersedia pada Instalasi
NPSH yang tersedia adalah: head yang dimiliki oleh zat cair pada sisi isap pada
pompa (ekivalen dengan tekanan mutlak pada sisi isap pompa), dikurangi dengan tekanan uap
jenuh zat cair di tempat tersebut.

31
Dalam hal pompa yang menghisap zat cair dari tempat terbuka (dengan tekanan
atmosfer pada permukaan zat cair), maka besarnya NPSH yang tersedia adalah:
Pa Pv
hsv hs hls (1)
Y Y
Dari persamaan (1) dpaat dilihat bajwa NPSH yang tersedia merupakan tekanan
absolut yang masih tersisa pada sisi isap pompa setelah dikurangi tekanan uap. Besarnya
hanya tergantung pada kondisi luar pompa di mana pompa dipasang. Tinggi hisap hs biasanya
diukur dari permukaan zat cair sampai sumbu poros (untuk pompa dengan poros mendatar)
atau sampai titik tertinggi pada lubang isap implelar (pada pompa poros tegak).
Jika zat cair diisap dari tangki tertutup maka tekanan Pa dalam persamaan (1)
menyatakan tekanan mutlak yang bekerja pada permukaan zat cair di dalam tangki tersebut.
Khususnya jika tekanan di permukaan zat cair sama dengan tekanan uap jenuhnya, maka Pa =
Pv sehingga persamaan (1) akan menjadi:
hsv hs hls (2)
hs adalah negatif (-), karena permukaan zat cair dalam tangki jauh lebih tinggi
daripada sisi isap pompa. Pemasangan pompa semacam ini diperlukan untuk mendapatkan
harga hsv (NPSH) positif.

C. NPSH yang Diperlukan


Tekanan terendah dalam pompa biasanya terdapat di suatu titik dekat setelah sisi
masuk sudu impelar. Di tempat tersebut, tekanannya adalah lebih rendah daripada tekanan
pada lubang isap pompa. Hal ini disebabkan oleh kerugian head di nosel isap, kenaikan aliran
karena luas penampang yang menyempit, dan kenaikan kecepatan aliran karena tebal sudu
setempat.
Jadi, agar tidak terjadi penguapan zat cair, maka tekanan pada lubang masuk pompa,
dikurangi penurunan tekanan di dalam pompa, harus lebih tinggi daripada tekanan uap zat
cair. Head tekanan yang besarnya sama dengan penurunan tekanan ini disebut NPSH yang
diperlukan. Besarnya NPSH yang diperlukan berbeda untuk setiap pompa. Untuk suatu
pompa tertentu, NPSH yang diperlukan berubah menurut kapasitas dan putarannya. Agar
pompa dapat bekerja tanpa mengalami kavitasi, maka harus dipenuhi persayaratan berikut:
NPSH yang tersedia > NPSH yang diperlukan
Harga NPSH yang tersedia dapat dihitung kembali dari kondisi instalasi menurut pers.
(1) dan (2), sedangkan harga NPSH yang diperlukan harus diperoleh dari pabrik pompa yang
bersangkutan. Namun, untuk penaksiran secara kasar, NPSH yang diperlukan dapat dihitung
dari konstanta kavitasi seperti diuraikan di bawah ini.

32
Jika head total pompa pada titik efisiensi maksimum dinyatakan sebagai HN, dan
NPSH yang diperlukan untuk titik ini HsvN, maka didefinisikan sebagai:
H svN
(3)
HN

Bilangan ini disebut koefisien kavitasi Thomas.


Dari percobaan diketahui bahwa harga menunjukkan ketergantungan terhadap ns
untuk pompa-pompa yang mempunyai bentuk umum. NPSH diperlukan dapat ditaksir sebagai
berikut:
NPSH yang diperlukan = HsvN = HN
Seringkali orang menggunakan bilangan kecepatan spesifik isap S sebagai pengganti
perhitungan dengan . Adapapun definisi kecepatan spesifik isap adalah sebagai berikut:
1/ 2
QN
Sn 3/ 4 (4)
H svN
Jika QN dinyatakan dalam m3/min., HsvN dalam m, dan n dalam rpm maka harga S
untuk pompa-pompa berbentuk umum adalah sebesar 1200. Harga ini tidak tergantung pada
ns. Maka HsvN ditentukan dari pers (4).
3/ 4
n 2/3
H svN QN (5)
s
Adapun antara S dan O terdapat hubungan sebagai berikut:
1/ 2 3/ 4
QN HN
S n ns
(6)
H svN
3/ 4
(H N ) 3 / 4
Semua rumus di atas berlaku untuk titik efisiensi tertinggi. Jika titik kerja pompa
berada di luar titik efisiensi terbaik ini, maka sudut aliran masuk dan sudut sudu tidak sesuai
lagi. Khususnya, jika kapasitas menjadi lebih besar, maka kecepatan aliran juga bertambah
besar. Dalam hal demikian, penurunan takan pada sisi masuk sudu menjadi lebih besar,
sehingga NPSH yang diperlukan menjadi naik. Hal ini perlu diperhatikan secara khusus jika
pompa harus bekerja pada kapasitas yang lebih daripada kapasitas titik efisiensi optimumnya.
Perubahan NPSH yang diperlukan sangat tergantung pada bentuk pompa.

D. NPSH dan Untuk Kerja Pompa


Ada dua cara untuk memeriksa secara eksperimental pengaruh NPSH pada unjuk kerja
pompa. Cara pertama dengan kapasitas dijaga tetap, harga NPSH yang tersedia divariasikan,
kemudian perubahan head total pompa, daya poros dan efisiensi diperiksa.

33
Cara kedua mengukur efisiensi pompa dengan NPSH sebagai parameter, kemudian
perubahan kurva unjuk kerja karena perubahan NPSH yang diperiksa.
Perubahan unjuk kerja pompa terhadap perubahan NPSH tergantung pada pompa yang
betsangkutan. Pompa dengan ns rendah mempunyai kurva unjuk kerja yang cenderung
menurun secara tiba-tiba di daerah kapasitas besar di mana NPSH menjadi.
Pada kedua metode tersebut di atas, NPSH (Hsv) pada titik di mana unjuk kerja mulai
menurun merupakan harga NPSH yang diperlukan. Namun pengukuran titik ini secara cermat
adalah sangat sukar, sehingga NPSH yang diperlukan dalam banyak hal ditetapkan pada titik
di mana unjuk kerja menurun 3%.

E. Berbagai Pengaruh pada NPSH yang Diperlukan


Seperti telah diutarakan sebelumnya, NPSH yang tersedia tergantung pada berbagai
faktor seperti atmosfer, tekanan yang bekerja pada permukaan zat cair, tekanan uap, dead isap
statis, dan sebagainya. Adapun besar pengaruh faktor-faktor tersebut tidaklah tetap melainkan
tergantung pada berbagai hal, seperti diuraikan di bawah ini.
1. Pengaruh temperatur zat cair.
Karena tekanan uap zat cair dapat berubah menurut temperaturnya maka NPSH yang
tersedia juga dapat bervariasi sesuai dengan perubahan temperatur zat cair yang diisap.
Khususnya, jika temperatur cukup tinggi, beberapa langkah pengamanan tertentu perlu
diambil karena NPSH yang tersedia menjadi sangat rendah. Hubungan antara temperatur air
dan tekanannya ditunjukkan dalam tabel sifat-sifat air, terlampir.
2. Pengaruh sifat zat cair.
Tekanan uap juga tergantung pada jenis zat cair yang dipompa. Jadi NPSH yang
tersedia harus ditentukan dengan menggunakan data tekanan uap zat cair yang bersangkutan.
Harga-harga tekanan uap berbagai zat cair yang sering dijumpai, diberikan pada lampiran.
3. Pengaruh tekanan pada permukaan zat cair yang diisap.
Tekanan ini akan secara langsung mempengaruhi NPSH yang tersedia. Kasus yang
menyangkut zat cair yang diisap dari dalam tangki tertutup telah dibahas dalam uraian
terdahulu. Namun, kewaspadaan perlu dijaga untuk pompa yang dipakai di tempat yang
tinggi, karena tekanan atmosfir di daerah tersebut lebih rendah.
Hubungan antara ketinggian dan tekanan atmosfir standar diberikan menurut rumus
berikut ini: (sumber, Sularso, 1996)
5, 256
0,0065h
Pa 10,331 (7)
288

Hubungan di atas diberikan dalam tabel 3.1.

34
Ketinggian (m) 0 100 200 300 400 500 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 2.000
Tekanan 10,33 10,21 10,09 9,97 9,85 9,73 9,62 9,39 9,16 8,94 8,73 8,51 8,31 8,10
atmosfir
(mH2P)

II. CARA PENELITIAN


Dalam penelitian dilakukan percobaan dengan menggunakan beberapa variasi antara
lain perubahan debit aliran, perubahan arah aliran dengan menggunakan belokan. Di samping
itu juga dilakukan dengan menggunakan variasi perubahan diameter impeler pompa.
Penelitian pada instalasi ini, suhu air ditingkatkan mencapai 40500C, agar tekanan uap jenuh
zat cair meningkat.
Cara melakukan percobaan dalam penelitian ini dengan mengikuti prosedur berikut:
Pertama pompa dihidupkan, maka akan terjadi sirkulasi aliran zat cair dari reservoir
pompa dan alat-alat ukur tekanan yang dipasang di sepanjang pipa isap dan pipa tekan,
kemudian menuju reservoir kembali. Langkah berikutnya adalah pembacaan alat ukur tekanan
pada sisi isap (P1, P2, P3, P4) dan pada sisi tekan (P5 dan P6). Kemudian dilakukan pengukuran
debit aliran zat cair dengan menggunakan stopwatch dan gelas ukur.
Pada percobaan dengan variasi perubahan arah aliran dengan menggunakan belokan,
dilakukan dengan menutup stop kran pipa saluran by-pass dan membuka stop kran untuk
setiap belokan (sampai belokan ketiga), kemudian dilakukan pembacaan alat ukur tekanan
dan pengukuran debit aliran zat cair dengan variasi debit aliran pada katup sisi tekan.

A. Cara Analisis Data


Berdasarkan percobaan di atas, maka diperoleh data mengenai tekanan terukur (P gauge)
dan Q (debit aliran) untuk tiap-tiap variasi percobaan, sedangkan tekanan uap jenuh (Pjenuh)
diambil dari tabel berdasarkan suhu zat cairnya.
Dari data di atas dapat dibuat grafik karakteristik pompa dan sistem pompa yang
merupakan hubungan Q (debit) dengan head (tekanan). Dari data di atas juga dapat ditentukan
awal terjadinya fenomena kavitasi, jika Pjenuh > Pgauge.

B. HASIL PERCOBAAN
Table Pengambilan Data Pengukuran Karakteristik Pompa Sentrifugal Aliran Satu
Fasa pada Fenomena Kavitasi

Variasi Sirkulasi Langsung

35
Percobaan/Variasi : I
Belokan : Tidak ada / Lurus

Tekanan Sisi
Tekanan Sisi Hisap
Tekan Temp.
Debit
likuid
P1 P2 P3 P4 P5 P6 likuid
Putaran (C)
mm mm mm 2 2 (M3/S)
mmHg Kg/cm Kg/cm
Hg Hg Hg
Buka Penuh -400 0,1 1250/1,1 25
Tutup 1
-150 0 1350/1,2 25
Putaran
Tutup 2
-400 0,2 1600/1,41 25
Putaran
Tutup 3
-420 0,15 1100/0,91 25
Putaran
Tutup 4
-360 0,12 1400/1,31 25
Putaran
Tutup 5
-380 0,15 1300/1,35 25
Putaran
Tutup 6
-340 0,2 1550/1,62 25
Putaran

Variasi Perubahan Arah ( Belokan I )


Percobaan/Variasi : belokan
Belokan :I

Debit Temp.
Tekanan Sisi
Tekanan Sisi Hisap Likuid likuid
Tekan 3
Putaran (M /S) (C)
P1 P2 P3 P4 P5 P6

36
mm mm mm
mmHg Kg/cm2 Kg/cm2
Hg Hg Hg
Buka Penuh -260 -340 1280/1,56 25
Tutup 1
-260 -340 1210/1,22 25
Putaran
Tutup 2
-270 -320 1320/1,62 25
Putaran
Tutup 3
-260 -320 1250/1,41 25
Putaran
Tutup 4
-260 -310 1360/1,72 25
Putaran
Tutup 5
-270 -300 1150/1,50 25
Putaran
Tutup 6
-260 -250 1030/1,63 25
Putaran

37
V. PEMBAHASAN
Data yang diketahui
Pa = 1,0332 105 N/m2
kg
Pv pada temperatur 250C = 0,3354
m
kg
= 9810
m3
hs = 190 cm = 1,9 m
h15 lurus = 0
h15 belokan = P3 P4
n= 2850 rpm
s = 1200
Maka dapat ditektuhui hsv dan HSVN
a) Variasi sirkulasi langsung
- Buka penuh dengan QN = 1,1 10-3 (m3/S)
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,03354
= 1,9 0
9810
= 8,63 m
3/4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(1,1 10 3 ) 2 / 3 0,0035 m
1200
- Tutup 1 putaran dengan QN = 1,1 10-3 (m3/s)
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0
9810
= 8,63 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(1,1 10 3 ) 2 / 3 0,0035 m
1200
- Tutup 2 putaran dengan QN = 1,1 x 10-3 (m3/s)

38
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0
9810
= 8,63 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(1,1 10 3 ) 2 / 3 0,0035 m
1200
- Tutup 3 putaran dengan QN = 1,2 10-3 (m3/s)
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0
9810
= 8,63 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(1,2 10 3 ) 2 / 3 0,0037 m
1200
- Tutup 4 putaran dengan QN = 1,1 10-3 (m3/s)
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0
9810
= 8,63 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(1,1 10 3 ) 2 / 3 0,0035 m
1200
- Tutup 5 putaran dengan QN = 1,1 10-3 (m3/s)
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0
9810
= 8,63 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s

39
3/ 4
2850
= .(1,1 10 3 ) 2 / 3 0,0035 m
1200
- Tutup 6 putaran dengan QN = 0,96 10-3 (m3/s)
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0
9810
= 8,63 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(0,96 10 3 ) 2 / 3 0,0032 m
1200
b) Variasi perubahan Arah
- Buka penuh dengan QN = 0,9 10-3 (m3/s)
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0,8
9810
= 7,83 m
3/4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(0,9 10 3 ) 2 / 3 0,003 m
1200

- Tutup 1 putaran dengan QN = 1,03 10-3 (m3/s)


Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0,8
9810
= 7,83 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(1,03 10 3 ) 2 / 3 0,0034 m
1200

- Tutup 2 putaran dengan QN = 0,92 10-3 (m3/s)

40
Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0,5
9810
= 8,13 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(0,92 10 3 ) 2 / 3 0,0031 m
1200

- Tutup 3 putaran dengan QN = 0,87 10-3 (m3/s)


Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0,6
9810
= 8,03 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(0,87 10 3 ) 2 / 3 0,00295 m
1200

- Tutup 4 putaran dengan QN = 0,85 10-3 (m3/s)


Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0,5
9810
= 8,13 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(0,85 10 3 ) 2 / 3 0,0029 m
1200

- Tutup 5 putaran dengan QN = 0,83 10-3 (m3/s)


Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 0,3
9810

41
= 8,33 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(0,83 10 3 ) 2 / 3 0,0029 m
1200

- Tutup 6 putaran dengan QN = 0,85 10-3 (m3/s)


Pa Pv
hSV = h s h1s
J J
1,0332 10 5 0,0354
= 1,9 ( 10)
9810
= 18,63 m
3/ 4
n 2/3
HSVN = QN
s
3/ 4
2850
= .(0,65 10 3 ) 2 / 3 0,0025 m
1200

UNIT IV
ALIRAN DALAM PIPA

42
I. ALAT DAN BAHAN
1. Pipa.
2. Pompa.
3. Tangki penampung air.
4. Katup dan fitting.
5. Alat pengukur aliran.
6. Alat pengukur tekanan (manometer diferensial).
7. Pipa dari tembaga tipe I.

43
II. LANDASAN TEORI
Percobaan-percobaan aliran fluida dalam pipa ini mempergunakan FLUIDA
CIRCUIT SYSTEM EXPERIMENT, TECHNOVATE model 9009 yang skemanya
dapat dilihat pada lampiran.
Pada dasarnya alat ini terdiri dari empat buah pipa yang pada gambar diberi
nomor 1 sampai 4, pompa dengan nomor 5, tangki penampung air 6, sejumlah katup dan
fitting, alat pengukur aliran 7,8 dan 9, lubang-lubang pengukur tekanan 22, 23, 34,
dampai 41 dan alat pengukur tekanan 42, 43. Empat buah pipa dari tembaga tipe I, yang
disebutkan di atas berukuran:
Ukuran Nomonal Outlet Diameter Intlet Diameter
1 inch 1,125 inch 1,025 inch
3
/4 inch 0,875 inch 0,785 inch
1
/2 inch 0,625 inch 0,545 inch
3
/8 inch 0,500 inch 0,430 inch
s
Katup-katup 10 /d 19, fitting tertentu (20 21) dan tangki dapat dihubungkan
satu sama lain dengan pipa-pipa tersebut di atas dengan menggunakan kombinasi-
kombinasi katup yang lain sedemikian rupa sehingga jalur aliran dapat berlangsung
seperti yang dikehendaki. Dengan cara ini dapat disusun lebih kurang 22 sirkuit.
Masing-masing sirkuit dapat dibuat sebagai sirkui terbuka atau tertutup.
Pengukuran tekanan atau perbedaan tekanan dilakukan dengan dua pasang
manometer diferensial (42 43) yang terpasang pada 1 kerangka. Lubang-lubang
pengukuran ditempatkan pada ujung masing-masing pipa, yaitu lubang-lubang (22
30), (24 32), dan (25 33), sedang kalau diperlukan tersedia pula lubang pengukuran
di tengah pipa, yaitu lubang 26 s/d 29.
Untuk katup 16, T 20 dan Elbow 21, tersedia pula lubang-lubang pengukuran
untuk mengukur penurunan tekanan pada fitting-fitting ini. Demikian pula untuk
orficemeter dan venturimeter, tersedia pula lubang-lubang pengukurannya.
Katup 44 dan 45 dipakai untuk mengatur sirkuti sesuai dengan yang
dikehendaki, sirkuit terbuka atau tertutup. Tangki 47 dibuat dari bahan transparent,
dimaksud untuk mengamati sifat aliran yang mengalir di dalamnya, laminar atau
turbulen.
Untuk memperkirakan atau menentukan sifat aliran dapat pula dilakukan
dengan mengukur kecepatan aliran dengan alat-alat yang tersedia

44
45
1. Sifat-sifat orficemeter.
a. Setelah tangki diisi air dan manometer dipersiapkan sesuai dengan petunjuk,
susun kombinasi katup-katup sebagai berikut:
Tutp katup 44, 45, 48, 50 dan 52. Buka katup-katup yang lain. Katup 45 dipakai
untuk mengatur jumlah air yang mengalir keluar dari pipa pelimpahan 46.
b. Hubungan manometer dengan lubang pengukuran (40 41) untuk mengukur
perbedaan tekanan di antara kedua titik tersebut.
c. Jalankan motor dan buka sedikit katup 45.
d. Ukurlah air yang keluar dari tangki dengan mengamati penurunan permukaan
air pada gelas penduga untuk selang waktu tertentu.
e. Ulangi pengukuran di atas untuk berbagai kedudukan katup 45.
f. Debit teoritis:

A2 P P
Qth 2 g Z 1 1 Z 2 2

2
A
1 2
A1
Dengan asumsi: steady flow, incompressible flow, uniform flow dan uniform
pressure pada seksi (1) dan (2).
A =

luas penampang pada seksi orifice.


A1 = luas penampang pada seksi (1).
A2 = luas penampang pada seksi vena contracta.
Koefisien vena contracta:
A2
Cc =
A
A2 2
= 0,60 0,40 ( ) ..(2)
A
Q
Cv = (3)
Qth

46
Koefisien kecepatan:
Q = debit nyata (terukur).
Koefisien orifice:
Cv Cc
2
C = A (4)
1 Cc 2

A1

Debit nyata dapat juga dicari dengan persamaan:

P P
Q = C . A 2 g Z 1 1 Z 2 2 (5)

2. Sifat-sifat venturi.
a. Ulangi cara-cara pengukuran dan analisa matematik pada percobaan (1) untuk
percobaan venturimeter ini, akan tetapi manometer dihubungkan dengan lubang
(38 39) pada venturimeter.
b. Debit teoritis:

A2 P P
Qth 2 g Z 1 1 Z 2 2
..(1)
2
A
1 2
A1
Dengan asumsi: steady flow, incompressible flow, uniform flow dan
uniform pressure pada seksi (1) dan (2).

47
3. Faktor geseran.
a. Manometer pertama tetap terhubung pada orifice, sedang manometer kedua
dihubungkan pada:
- Katup 25 dan 33 untuk pipa 1.
- Katup 24 dan 32 untuk pipa 3/4.
- Katup 23 dan 31 untuk pipa 1/2.
- Katup 22 dan 30 untuk pipa 3/8.
b. Tentukan faktor geseran (f) untuk masing-masing pipa. Harga (f) tiap pipa
dihitung dengan dua harga debit yang berbeda. Sebagai pengatur debit dipakai
katup 52.
c. Persamaan rugi-rugi geseran menurut DARCY:
L V2
hf f
D 2g

Dimana:
L = panjang pipa.
D = Diameter pipa.
V = kecepatan aliran.
f = koefisien geseran.
g = percepatan gravitasi.
d. Untuk mencari kecepatan aliran pergunakan grafik orifice.
e. Bandingkan harga-harga (f) tersebut dengan perhitungan memakai diagram
MOODY.
4. Gate valve.
a. Untuk mengukur head loss pada gate valve maka manometer pertama tetap
terhubung pad aorifice sedang manometer kedua dihubungkan pada katup 32
dan 35.
b. Kita atur pembukaan gate valve (15) yaitu: 2,5 putaran, 5 putaran, 7,5 putaran,
10 putaran dan 11 putaran.
c. Untuk setiap posisi pembukaan gate valve dibaca lima macam debit, sebagai
pengatur debit dipakai katup 52.
d. Susun hasil pengukuran dalam tabel dan buat satu grafik h vs untuk kelima
posisi gate valve di atas.
5. T 20.
a. Manometer pertama tetap terhubung pada orifice sedang manometer kedua
dihubungkan pada katup 34 dan 36.

48
b. Hitung faktor (k) dan T 20 untuk lima macam debit, sebagai pengatur debit
digunakan katup 52.
6. Elbow 21.
Seperti pada percobaan T 20 hanya manometer kedua yang dihubungkan pada katup
36 dan 37.

III. TATALAKSANA PERCOBAAN


Apabila dalam unit ini dipakai untuk pertama kali atau lama tidak dipakai, di dalam
pipa-pipa akan terdapat udara yang harus dikeluarkan lebih dahulu. Demikian pula
dengan udara yang terdapat di dalam manometer serta pipa-pipa penghubungnya.
Biarpun udara ini tidak dapat dikeluarkan seluruhnya, tetapi dengan cara di bawha ini,
dapat diperoleh hasil yang memuaskan.
1. Isi tangki (6) dengan 13 gallon air bersih.
2. Saklar pada pompa dalam posisi off.
3. Tutup katup 44, 45, 48 dan 50, sedang yang lainnya terbuka.
4. Pasang pipa-pipa karet (pipa penghubung) dari manometer ke lubang-lubang
pengukuran yang dikehendaki dan buka katup-katupnya.
5. Tutuplah kedua buah sekrup ventulasi di bagian atas manometer dan hidupkan motor.
6. Udara dan air dalam sistem akan mengalir melalui tangki transparan, di sini terlihat
gelembung-gelembung udara masuk ke dalam tangki ini. Setelah air bebas dari
gelembung udara, tutup katu 52 dan matikan motor.
7. Tutup salah satu katup yang dijelaskan pada nomor 4, dan lepaskan pipa karet dari
lubang pengukuran, kemudian masukkan ujungnya ke ember penampung air.
8. Hidupkan motor, udara dan air dalam manometer atau dalam pipa karet akan
mengalir keluar. Setelah air bebas dari gelembung udara, tutup ujung pipa karet di
atas dan matikan motor. Kemudian pasanglah pipa karet itu di tempat semula dna
buka katupnya.
9. Jika salah satu sisi manometer serta pipa penghubungnya telah bebas dari gelembung
udara, ulang langkah (7 8) untuk sisi manometer yang lain.
10. Dengan perlahan-lahan bukalah sekrup ventilasi pada manometer satu per satu.
Udara akan masuk dari bagian atas pipa manometer ini dan permukaan air di dalam
manometer akan turun. Biarkan permukaan air turun sampai kira-kira mencapai
pertengahan skala pada manometer, kemudian tutuplah kembali sekrup ventulasinya.
11. Sampai langkah ini, permukaan air di dalam manometer sepasang-sepasang harus
sama tingginya, dan sistem siap untuk percobaan.

49
Selain hal pekerjaan di atas, ada juga hal-hal yang perlu diperhatikan untuk
mempermudah pelaksanaan percobaan selanjutnya.
1. Tutup katup (52) sebelum motor dimatikan dan jangan dibuka sebelum motor
dihidupkan lagi. Hal ini akan memperkecil kemungkinan masuknya udara ke dalam
sistem pada saat alat tidak dipakai.
2. Katup (52) dipakai sebagai pengatur debit seluruh sirkui sedang katup yang lain
untuk mengatur bagian-bagian tertentu dari sirkuit.
3. Jika grafik head loss vs debit untuk orifice dan venturi telah dibuat, keduanya dapat
dipergunakan sebagai alt pengukuran debit pada sistem tertutup.

IV. HASIL PERCOBAAN


PENGUKURAN DALAM PIPA (panjang 5 feet)

Pipa 1 Pipa Pipa 1/2 Pipa 3/8


Orifice Pipa Orifice Pipa Orifice Pipa Orifice Pipa
7 2 3 2,5 2 2 3 0,7
4 2 2 2,5 3 1,5 2 0,5
4 2 1 2 3 1,7 3 0,5
5 1,5 0,5 1,5 4 1,5 3 0,8
4 0,5 2 2 3 1,8 3 0,9
4 0,7 2 1,5 3 1,8 2,5 0,8

50
PENGUKURAN GATE VALVE PADA PIPA 3/4"

1 Putaran 2 Putaran 3 Putaran 4 Putaran


Orifice Valve Orifice Valve Orifice Valve Orifice Valve
10 0,3 9 0,5 10 0,8 10,5 1
10,5 0,2 9 0,6 10 1 9 1
10,5 0,4 10 0,5 10,5 0,9 10 0,8
11 0,3 10,5 0,5 11 1 9 0,9
10 0,3 9,5 0,6 10,5 2,1 10 0,9
10 0,3 10 0,6 10 1 9,5 0,8
T 20 Pipa 1 Elbow 900
Orifice T 20 Orifice Elbow
1 2,5 1 1,5
1,5 2,6 1 1,7
1 2,5 1 1,6
1,5 2,4 1 1,5
1 2,5 1 1,6
1,5 2,5 1 1,6

V. PEMBAHASAN DAN TUGAS


Menghitung luas penampang masing-masing pipa.
a. Pipa 1 inch.
D1 = 1 x 0,0254 = 0,0254 m.

A1 = 2 2
4 (0,0254) = 0,00051 m .
D2 = 1 x 1/2 x 0,0254 = 0,0127 m.

A2 = 2 2
4 (0,127) = 0,00013 m .
b. Pipa 3/4 inch.
D1 = 3/4 x 0,0254 = 0,0190 m.
51
A1 = 2 2
4 (0,0190) = 0,00038 m .
D2 = 3/4 x 1/2 x 0,0254 = 0,0095 m.

A2 = 2 2
4 (0,0095) = 0,000071 m .
c. Pipa 1/2 inch.
D1 = 1/2 x 0,0254 = 0,0127 m.

A1 = 2 2
4 (0,0127) = 0,00013 m .
D2 = 1/2 x 1/2 x 0,0254 = 0,0064 m.

A2 = 2 2
4 (0,0064) = 0,000032 m .
d. Pipa 3/8 inch.
D1 = 3/8 x 0,0254 = 0,0095 m.

A1 = 2 2
4 (0,0095) = 0,000071 m .
D2 = 3/8 x 1/2 x 0,0254 = 0,0048 m.

A2 = 2 2
4 (0,0048) = 0,000018 m .
Menghitung debut teoritis untuk pipa.
a. Pipa 1 inch.
- p = 7
0,00013 7
x 2 9,81
Q = 0,00013
2
9810
1
0,00051

= 15,9 x 10 -6 m3/s.

- p = 4
0,00013 4
x 2 9,81
Q = 0,00013
2
9810
1
0,00051

= 12,4 x 10 -6 m3/s.
- p = 5
0,00013 5
x 2 9,81
Q = 0,00013
2
9810
1
0,00051

= 13,9 x 10 -6 m3/s.

52
Grafik p Vs Qth untuk pipa 1 inch
p
12
10
8
6
4
2
0
0,000016 0,000012 0,000012 0,000013 0,000012 0,000012

Qth

b. Pipa 3/4 inch.


- p = 1
0,000071 1
x 2 9,81
Q = 0,000071
2
9810
1
0,00038

= 3,29 x 10 -6 m3/s.
- p = 2
0,000071 2
x 2 9,81
Q = 0,000071
2
9810
1
0,00038

= 4,65 x 10 -6 m3/s.

- p = 0,5
0,000071 0,5
x 2 9,81
Q = 0,000071
2
9810
1
0,00038

= 2,3 x 10 -6 m3/s.
- p = 3
0,000071 3
x 2 9,81
Q = 0,000071
2
9810
1
0,00038

= 5,7 x 10 -6 m3/s.

Grafik p Vs Qth untuk pipa inch

53
p

3
2,5
2
1,5
1
0,5
0
0,000057 0,000047 0,000033 0,000023 0,000047 0,000047

Qth
1
c. Pipa /2 inch.
- p = 2
0,000032 2
x 2 9,81
Q = 0,000032
2
9810
1
0,00013

= 2,15 x 10 -6m3/s.
- p = 3
0,000032 3
x 2 9,81
Q = 0,000032
2
9810
1
0,00013

= 2,6 x 10 -6 m3/s.
- p = 4
0,000032 4
x 2 9,81
Q = 0,000032
2
9810
1
0,00013

= 3,04 x 10 -6 m3/s.
Grafik p Vs Qth untuk pipa inch
p

7
6
5
4
3
2
1
0
0,000022 0,000026 0,000026 0,000030 0,000026 0,000026
54 Qth
d. Pipa 3/8 inch.
- p = 2,5
0,000018 2,5
x 2 9,81
Q = 0,000018
2
9810
1
0,000071

= 1,3 x 10 -6 m3/s.

- p = 2
0,000018 2
x2 9,81
Q = 0,000018
2
9810
1
0,000071

= 1,2x10 -6 m3/3.
- p = 3
0,000018 3
x 2 9,81
Q = 0,000018
2
9810
1
0,000071

= 1,5 x 10 -6 m3/s.

Grafik p Vs Qth untuk pipa 3/8 inch


p
5
4,5
4
3,5
3
2,5
2
3
1,5
1
0,5
0
0,000015 0,000012 0,000015 0,000015 0,000015 0,000003

Qth

55
56
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Praktikum aliran dalam pipa ini yang terpenting adalah mempelajari masalah besarnya
rugi aliran fluida bila melewati katup, sambungan T, maupun sambungan L (Elbow), selain itu
juga mempelajari rugi aliran fluida yang diakibatkan dari kekasaran dari dinding saluran
sehingga diharapkan setelah praktikum dapat menghitung besarnya rugi aliran dan dapat
merancang instalasi yang dapat meminimalkan besarnya rugi aliran.
Dalam praktikum kami banyak mendapatpan kendala karena saluran-saluran alat yang
digunakan banyak terjadi kebocoran sehingga dalam praktikum menghasilkan data yang
kurang akurat.

57