Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MAKALAH

TEKNOLOGI BERSIH

PRODUKSI BERSIH

Oleh :
KELOMPOK 3
Antung N. R. H1E112204
Fatur Rahman H1E112205
Aulia Rahma H1E113007
Tanty Puspa Sari H1E113011

DOSEN PEMBIMBING
Nova Annisa S.Si, M.S.

KEMENTERIAN TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN

2016
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................ i

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 2

1.3 Tujuan ........................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3

2.1 Konsep Produksi Bersih................................................................ 3

2.1.1 End-of-pipe Treatment Technology ........................................ 3

2.1.2 Cleaner Production................................................................. 3

2.2 Pengertian Produksi Bersih .......................................................... 4

2.3 Prinsip Produksi Bersih ................................................................. 4

2.3.1 Produk .................................................................................... 6

2.3.2 Pemisahan limbah disumber .................................................. 6

2.3.3 Penggunaan raw material ...................................................... 6

2.3.4 Modifikasi proses.................................................................... 6

2.4 Perangkat Produksi Bersih ........................................................... 6

2.5 Penerapan Produksi Bersih pada Industri..................................... 8

2.6 Kendala Penerapan Produksi Bersih .......................................... 10

2.7 Studi Kasus (Penerapan Produksi Bersih pada Industri Tepung


Tapioka) ............................................................................................... 11

BAB III PENUTUP.................................................................................... 13

3.1 Kesimpulan ................................................................................. 13

3.2 Saran .......................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 14

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan industri dan pola kehidupan masyarakat modern
berhubungan langsung dengan peningkatan kebutuhan barang dan jasa,
pemakaian sumber energi, dan sumber daya alam. Penggunaan sumber
daya alam secara besar-besaran tanpa menjaga aspek lingkungan
mengakibatkan berbagai dampak negatif yang akan muncul dalam waktu
yang relatif cepat maupun dalam jangka panjang. Pembangunan
berkelanjutan merupakan suatu upaya dan pola pendekatan dalam
pemanfaatan sumberdaya alam.
Pada era global dan pasar bebas sekarang ini, industri dihadapkan
pada persaingan yang ketat, sehingga keunggulan komparatif yang
menjadi andalan pada masa lalu sudah tak mampu untuk menghadapi
tantangan pasar bebas. Peningkatan efisiensi merupakan salah satu kunci
untuk meningkatkan daya saing terhadap produk-produk sejenis dari
negara lain yang masuk ke Indonesia dan juga dalam melakukan produk
ekspor. Hanya dengan keunggulan kompetitif dan produk yang berkualitas
yang akan mampu berkembang dan memenangkan persaingan dalam
pasar bebas. Berbagai proses produksi dan penyelenggaraan jasa menuju
pada suatu sistem yang mempertimbangkan aspek keunggulan dan
kepuasan konsumen. Harga suatu produk dan layanan jasa bersaing
dengan ketat, sementara tuntutan kualitas semakin tinggi. Produsen pun
mulai dituntut berbagai aturan dan standar yang berhubungan dengan
lingkungan seperti ISO 14001 dan Ecolabelling.
Limbah dan emisi merupakan hasil yang tak diinginkan dari
kegiatan industri. Sebagian besar industri masih berkutat pada pola
pendekatan yang tertuju pada aspek limbah. Bahkan masih ada yang
berpandangan bahwa limbah bukanlah menjadi suatu permasalahan,
pengertian tentang limbah yang terbalik, artinya bahwa limbah merupakan

1
uang atau biaya yang harus dikeluarkan dan mengurangi keuntungan
memang benar bahwa dengan mengabaikan persoalan limbah,
keuntungan tidak akan berkurang untuk jangka pendek. Pihak industri
yang demikian mungkin belum melihat faktor biaya yang berkaitan dengan
image perusahaan dan tuntutan pembeli dari luar negeri yang
mensyaratkan pengelolaan lingkungan dengan ketat. Kita melihat bahwa
ada peluang yang sebenarnya mempunyai nilai ekonomi tinggi tetapi pada
akhirnya terlepas karena mengabaikan aspek lingkungan.
Produksi Bersih merupakan model pengelolaan lingkungan dengan
mengedepankan bagaimana pihak manajemen untuk selalu berpikir agar
setiap kegiatan yang dilakukan memiliki efesiensi tinggi sehingga timbulan
limbah dari sumbernya dapat dicegah dan dikurangi. Penerapan Produksi
Bersih akan menguntungkan industri karena dapat menekan biaya
produksi, adanya penghematan, dan kinerja lingkungan menjadi
lebih baik. Penerapan Produksi Bersih pada industri akan memberikan
keuntungan dan produksi yang berkelanjutan dengan tetap menjaga
aspek lingkungan (Purwanto, 2005).

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam maklah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana konsep produksi bersih dan penerapannya pada industri?
2. Apa saja kendala dalam menerapkan produksi bersih di kawasan
industri?

1.3 Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mampu memahami konsep produksi bersih dan penerapannya pada
kawasan industri.
2. Mampu menemukan solusi setelah mengetahui kendala dalam
penerapan teknologi bersih di kawasan industri.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Produksi Bersih


2.1.1 End-of-pipe Treatment Technology
Pengendalian pencemaran dengan penerapan teknologi yang umum
dilaksanakan pada saat ini adalah teknologi perlakuan akhir atau end-of-
pipe treatment technology. Konsep ini merupakan konsep perintah dan
pengendalian (command and control) yang hanya meninjau pembebanan
pada salah satu media udara, air, atau tanah dan menyelesaikan
menyelesaikan satu masalah yang tertuju pada suatu kegiatan. Pemikiran
yang parsial ini sering menimbulkan masalah, karena penanganan hanya
berdasarkan pada pengelolaan yang paling mudah.
Hal positif dari pengembangan konsep end-ofpipe treatment
technology adalah memacu pertumbuhan konsultan teknik dan pembuat
peralatan yang berkaitan dengan unit pengolahan baik limbah fasa gas
atau limbah cair. Hal yang menggembirakan ini jarang didukung oleh
kemampuan analisis yang memadai dari konsultan untuk menyelesaikan
masalah pada kegagalan operasi, karena seringkali konsultan teknik ini
hanya sebagai penjual teknologi atau peralatan saja. Sebagai akibatnya,
sasaran pengelolaan lingkungan dengan pengendalian pencemaran ini
tidak dapat dicapai secara menyeluruh. Penyebab lainnya adalah
kegagalan sistem cost accounting yang belum dapat menilai biaya
kerugian lingkungan sehingga pengusaha, pemilik, dan pengelola industri
berpendapat bahwa biaya pembangunan dan pelaksanaan suatu
pengolah limbah adalah biaya tambahan (Purwanto, 2009).

2.1.2 Cleaner Production


Konsep ini memiliki hierarchy di mana recycle harus dilakukan
langsung (in-pipe recycle). Jadi penyelesaian masalah lingkungan
ditekankan pada sumber pencemaran bukan pada akhir proses seperti

3
pada end-of-pipe treatment technology. Konsep ini meliputi pemanfaatan
sumber alam secara efisien yang bermakna pula bagi penyusutan limbah
yang dihasilkan, pencemaran, dan penyusutan risiko bagi kesehatan dan
keselamatan manusia. Konsep ini tidak selalu membutuhkan kegiatan
yang mahal atau teknologi canggih tetapi sering kali menghasilkan
penghematan yang potensial sehingga meningkatkan daya saing di pasar.
Konsep ini membutuhkan perubahan sikap, pengelolaan lingkungan yang
bertanggung-jawab dan penilaian pilihan teknologi. Produksi bersih yang
sederhana untuk diterapkan adalah good housekeeping (Purwanto, 2009).

2.2 Pengertian Produksi Bersih


Teknologi Bersih : Strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat
preventif dan terpadu yang diterapkan secara terus menerus pada proses
produksi, produk dan jasa sehingga meningkatkan eko-efisiensi dan
mengurangi terjadinya resiko terhadap manusia dan lingkungan (UNEP,
1999).

2.3 Prinsip Produksi Bersih


Pola pendekatan produksi bersih dalam melakukan pencegahan dan
pengurangan limbah yaitu dengan strategi 1E4R (Elimination, Reduce,
Reuse, Recycle, Recovery/ Reclaim) (UNEP, 1999). Prinsip-prinsip pokok
dalam strategi produksi bersih dalam Kebijakan Nasional Produksi Bersih
(KLH, 2003) dituangkan dalam 5R (Re-think, Reuse, Reduce, Recovery
and Recycle).
1. Elimination (pencegahan), merupakan upaya untuk mencegah
timbulan sampah langsung dari sumbernya, mulai dari bahan baku,
proses produksi sampai produk yang dihasilkan.
2. Re-think (berpikir ulang), merupakan suatu konsep pemikiran yang
harus dimiliki pada saat awal kegiatan akan beroperasi, dengan
implikasi:

4
Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi berlaku baik pada
proses maupun produk yang dihasilkan, sehingga harus dipahami
betul analisis daur hidup produk.
Upaya produksi bersih tidak dapat berhasil dilaksanakan tanpa
adanya perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku dari
semua pihak terkait pemerintah, masyarakat maupun kalangan
usaha.
3. Reduce (pengurangan), merupakan upaya untuk menurunkan atau
mengurangi timbulan limbah dari sumbernya.
4. Reuse (penggunaan kembali), merupakan upaya untuk
memungkinkan penggunaan limbah yang bernilai ekonomis untuk
kembali digunakan tanpa perlakuan fisika, kimia atau biologi.
5. Recycle (daur ulang), merupakan upaya mendaur ulang limbah untuk
dimanfaatkan kembali ke proses semula melalui perlakuan fisika,
kimia dan biologi.
6. Recovery / Reclaim (pungut ulang atau ambil ulang), merupakan
upaya mengambil bahan-bahan yang masih mempunyai nilai ekonomi
tinggi dari suatu limbah, kemudian dikembalikan ke dalam proses
produksi dengan atau tanpa perlakukan fisika, kimia dan biologi
(Purwanto, 2005).
Berikut merupakan beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk
mencapai keberhasilan program produksi bersih dalam mengurangi
penyebab timbulnya limbah :
Sumber daya alam yang semakin langka sumber daya alam yang tak
terbaharukan.
Merubah input bahan baku ke sistem untuk mengurangi penggunaan
bahan-bahan kimia toksik (beracun).
Mereduksi limbah dengan efisiensi konversi bahan baku menjad
produk dan produk samping (by-product) yang bermanfaat.
Merubah rancangan, komposisi atau pengemasan produk.

5
2.3.1 Produk
Mengurangi bahan-bahan yang masuk
Memilih material alternatif yang berdampak paling kecil terhadap
lingkungan dalam daur hidupnya
Menjadikan lebih berguna
Meningkatkan efisiensi dalam proses operasi
Meningkatkan produk untuk agar mudah untuk dilakukan recycle
Mengurangi atau mencari alternatif kemasan
Efisiensi dalam distribusi dan penyaluran

2.3.2 Pemisahan limbah disumber


Hindari campuran limbah B3 dengan non B3
Limbah yang berbentuk padatan : tidak dilembabkan
Pemberian label, tanda pada tumpukan atau kontainer limbah B3

2.3.3 Penggunaan raw material


Meminimalkan penggunaan raw material yang ekstraksi atau
purifikasinya purifikasinya mengahsilkan mengahsilkan residu dalam
jumlah besar.
Menghindari penggunaan raw material yang transportasinya ke
industri menghasilkan residu dalam jumlah besar.

2.3.4 Modifikasi proses


Perubahan dalam bahan baku, peralatan, prosedur operasi, cara
penyimpanan bahan, misalnya penggatian pelarut organik dengan pelarut
lain (air), penggantian bahan baku kualitas lebih tinggi, sehingga limbah
berbahaya dapat dihindari.

2.4 Perangkat Produksi Bersih


Menurut Purwanto (2006), perangkat produksi bersih meliputi:
1. Good Housekeeping / GHK (Tata Kelola yang baik) merupakan
serangkaian kegiatan yang dilakukan perusahaan secara sukarela
dalam memberdayakan sumber daya yang dimiliki untuk mengatur

6
penggunaan bahan baku, air dan energy secara optimal dan bertujuan
untuk meningkatkan produktifitas kerja dan upaya pencegahan
pencemaran lingkungan (KLH, 2013). Good Housekeeping memiliki
manfaat yaitu, dapat menghemat biaya, membuat kinerja lingkungan
menjadi lebih baik, dan penyempurnaan organisasional.
Konsep Good Housekeeping:
a. Rasional pemakaian input bahan baku, air dan energi, sehingga
mengurangi kerugian input bahan berbahaya, oleh karna itu dapat
mengurangi biaya operasional.
b. Mengurangi volume atau toksisitas limbah, limbah cair, dan emisi
yang berkaitan dengan produksi.
c. Menggunakan limbah atau mendaur ulang masukan primer dan
bahan kemasan secara maksimal.
d. Memperbaiki kondisi kerja dan keselamatan kerja dalam
perusahaan.
e. Mengadakan perbaikan organisasi perusahaan.
Sebagai pedoman untuk mengidentifikasi langkah-langkah apa
yang dapat dilaksanakan untuk menerapkan Good Houskeeping
dalam perusahaan maka dapat disusun dalam bentuk daftar periksa
yang mencakup 6 bidang kegiatan yang berkaitan dengan Good
Housekeeping yang meliputi bahan, limbah, penyimpanan dan
penanganan bahan, air dan air limbah, energi, proteksi keselamatan
dan kesehatan tempat kerja. Masing-masing daftar periksa membuat
serangkaian pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi
masalah yang mungkin timbul, penyebabnya dan tingkat korektif yang
dapat diambil dalam lingkungan perusahaan pada keenam bidang
tersebut (Moertinah, 2008).
2. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, merupakan upaya
penangananh bahan yang dapat membahayakan lingkungan,
kesehatan dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup
lainnya.

7
3. Penggantian / substitusi bahan baku, merupakan upaya untuk
mengganti dengan bahan yang kurang berbahaya dan beracun,
bahan yang tidak mudah rusak, dan bahan yang menimbulkan limbah
yang mudah terurai oleh lingkungan.
4. Perbaikan prosedur operasi, merupakan upaya untuk
mengembangkan dan memodifikasi prosedur operasi menjadi lebih
praktis dan efesien.
5. Modifikasi proses dan peralatan, merupakan upaya untuk
memodifikasi proses dan peralatan produksi agar lebih efesien dan
mengurangi timbulan limbah.
6. Penggantian teknologi, merupakan upaya mengganti teknologi
produksi untuk meningkatkan efesiensi dan mengurangi timbulan
limbah, mengubah urutan proses produksi menjadi lebih efesien, serta
memperbaiki tata letak peralatan produksi (lay out) untuk lebih
meningkatkan produktifitas dan penggunaan bahan, air dan energy
yang lebih efesien.
7. Modifikasi dan reformulasi produk, merupakan upaya memodifikasi
spesifikasi produk untuk meminimalkan resiko terhadap lingkungan
selama proses produksi, dan setelah produk tersebut digunakan.

2.5 Penerapan Produksi Bersih pada Industri


Penerapan produksi bersih di industry dipengaruhi oleh faktor
internal dan faktor eksternal. Adanya faktor pendorong dalam pengelolaan
lingkungan khususnya produksi bersih menyebabkan industri lebih
memperhatikan aspek lingkungan dengan dasar peningkatan efesiensi
proses (Kusumawati, 2011).
Produksi bersih menawarkan pemecahan yang paling baik dalam
mereduksi dampak lingkungan dan efisiensi dalam segi ekonomis (reduksi
bahan baku, energi, dan utilitas). Dalam aplikasinya produksi bersih dapat
dijalankan 24 secara parallel dengan program GMP, HACCP, dan
produksi nir limbah (Fransiska, 2010).

8
Menurut Purwanto, (2005), penerapan produksi bersih pada industri
secara sistematis meliputi 5 (lima) langkah, yaitu :
1. Perencanaan dan Organisasi
Langkah ini memerlukan komitmen dari manajemen untuk melakukan
penerapan produksi bersih. Kebanyakan industri kecil tidak
mempunyai struktur organisasi, manajemen perusahaan dilakukan
oleh pemilik perusahaan secara langsung. Komitmen, visi dan misi
perusahaan untuk mengelola lingkungan dikomunikasikan kepada
seluruh karyawan, sehingga karyawan dapat mengetahui dan
bekerjasama dengan pemilik untuk melakukan kegiatan industri yang
dapat mengurangi potensi timbulnya limbah.
2. Kajian dan Identifikasi
Peluang Langkah ini membuat diagram alir proses sebagai metode
untuk memperoleh informasi aliran bahan, energi dan timbulan limbah.
Identifikasi peluang penerapan produksi bersih dilakukan dengan
peninjauan ke lapangan dengan mengamati setiap proses,
kemungkinan peningkatan efisiensi dan pencegahan timbulnya limbah
dari sumbernya. Kajian penerapan produksi bersih dilakukan untuk
mengevaluasi kinerja lingkungan, efisiensi pemakaian bahan dan
timbulan limbah.
3. Analisis Kelayakan
Analisis kelayakan penerapan produksi bersih atau ekoefisiensi
meliputi kelayakan lingkungan, teknis dan ekonomi. Kelayakan
lingkungan untuk mengetahui apakah penerapan produksi bersih
dapat mengurangi timbulnya limbah baik kuantitas maupun kualitas.
Kelayakan teknis berhubungan dengan penerapan teknologi dalam
proses produksi, sedangkan kelayakan ekonomi dilakukan untuk
menghitung investasi, waktu pengembalian modal dan besarnya
penghematan dari penerapan produksi bersih. Dalam membuat
analisis kelayakan ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan
yaitu:

9
a. pertimbangan teknologi diantaranya ketersediaan teknologi yang
dimiliki, keterbatasan fasilitas termasuk kesesuaian operasi yang
ada, syarat untuk membuat suatu produk, keamanan operator dan
pelatihan, potensi terhadap kesehatan dan dampak lingkungan.
b. pertimbangan ekonomi yaitu modal dan biaya operasi, serta pay-
back period (Indrasti & Fauzi, 2009).
4. Implementasi
Langkah implementasi ini memerlukan penanggungjawab pelaksana
dan sumber daya yang diperlukan dalam penerapan produksi bersih.
Sumber daya meliputi dukungan biaya dan kesiapan karyawan untuk
memahami bahwa produksi bersih merupakan bagian dari pekerjaan.
Indikator kinerja, efisiensi, lingkungan, kesehatan dan keselamatan
kerja digunakan untuk mengetahui sejauh mana implementasi
produksi bersih.
5. Monitoring dan Evaluasi
Langkah ini melakukan tinjauan secara periodik terhadap pelaksanaan
penerapan produksi bersih dan dibandingkan dengan sasaran yang
akan dicapai. Evaluasi dilakukan dengan mengumpulkan data
sebelum dan sesudah penerapan produksi bersih.

2.6 Kendala Penerapan Produksi Bersih


Penerapan Produksi Bersih umumnya bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi produksi sehingga akan memberikan peningkatan
keuntungan baik secara finansial, teknik maupun regulasi. Meskipun
demikian, hambatan ekonomi akan timbul bila kalangan usaha merasa
tidak akan mendapat keuntungan dalam penerapan Produksi Bersih.
Sekecil apapun penerapan Produksi Bersih, bila tidak menguntungkan
bagi perusahaan maka akan sulit bagi manajemen untuk membuat
keputusan tentang penerapan Produksi Bersih.
Hambatan pada aspek ekonomi dan teknis antara lain adalah
(Djajadiningrat, 2001) :

10
1. Keperluan biaya tambahan peralatan.
2. Tingginya modal/investasi dibanding kontrol pencemaran secara
konvensional sekaligus penerapan Produksi Bersih.
3. Penghematan proses Produksi Bersih yang belum nyata realisasinya.
4. Kurangnya informasi Produksi Bersih.
5. Sistem yang baru ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang
diharapkan atau malah menyebabkan gangguan.
6. Fasilitas produksi ada kemungkinan sudah penuh tidak ada tempat
lagi untuk tambahan peralatan.
Kendala Sumber Daya Manusia dalam penerapan Produksi Bersih dapat
berupa :
1. Kurangnya komitmen manajemen puncak.
2. Adanya keengganan untuk berubah baik secara individu maupun
organisasi.
3. Lemahnya komunikasi internal.
4. Pelaksanaan organisasi yang kaku.
5. Birokrasi, terutama dalam pengumpulan data.
6. Kurangnya dokumentasi dan penyebaran informasi.
7. Kurangnya pelatihan kepada sumberdaya manusia mengenai
Produksi Bersih.

2.7 Studi Kasus (Penerapan Produksi Bersih pada Industri Tepung


Tapioka)
Penerapan produksi bersih bertujuan agar penggunaan
sumberdaya berupa bahan baku, energi dan air lebih efisien serta
mengurangi adanya limbah dan emisi. Menurut (Berkel, 2000)
pencegahan dalam rangka pelaksanaan produksi bersih terbagi menjadi
lima jenis pencegahan diantaranya modifikasi produk, substitusi input,
modifikasi teknologi, good house keeping, dan daur ulang limbah.

11
Produksi bersih juga terbukti memberikan nilai tambah secara langsung
kepada industri misalnya penjualan onggok dan limbah tapioka kasar.
Penerapan teknologi bersih dapat dilakukan setiap hari
setelah proses produksi, misalnya saja pencucian bak, perbaikan
produksi seperti penggunaan alat pencucian yang menggunakan baling-
baling, serta recovery limbah cair yang masih layak pakai untuk
digunakan proses produksi. Penerapan teknologi bersih pada industri
tapioka dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3. 1 Penerapan Teknologi Produksi Bersih pada Industri Tapioka
Strategi Aktivitas
Pengendapan air untuk proses
produksi.
Pencucian bak: 3 hari sekali.
Perawatan silinder pemarut.
Penggunaan jam dinding di pabrik
(tepat waktu dalam pengendapan).
Penggunaan alas untuk
Good House keeping
menampung butiran pati yang
tercecer.
Penggunaan pengaman kepala
untuk pekerja jemur.
Product layout: sesuai urutan
proses produksi.
Lantai plester semen, keramik.
Penggunaan mesin pemarut,
gobekan, mesin penghancur,
dan tapir.
Penggunaan mesin diesel yang
Modifikasi teknologi
sama untuk pompa air dan mesin
produksi sekaligus.
Penggunaan bak bilas untuk
proses pencucian.
Pemanfaatan kulit untuk pupuk atau
pakan ternak.
On site recovery Penjualan onggok
Penjualan tapioka kasar kotor (hasil
sapuan).

12
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
1. Konsep Produksi Bersih bermula dari kendala yang muncul dari
pendekatan kapasitas daya dukung dan end of pipe treatment
sehingga diperlukannya alternative lain yaitu clean production.
Sedangkan penerapan produksi bersih pada industri terdapat lima
langkah menurut Purwanto (2005) yaitu perencanaan dan organisasi,
kajian dan identifikasi, analisis kelayakan, implementasi serta
monitoring dan evaluasi.
2. Kendala dalam penerapan produksi bersih pada industri ada tiga yaitu
kendala biaya, kendala teknis, dan kendala sumber daya manusia.

3.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan sebagai berikut:
1. Perlu kajian mendalam mengenai strategi produksi bersih untuk
industri lainnya yang lebih spesifik.
2. Kajian mengenai kendala penerapan produksi bersih pada industri
juga perlu dijelaskan lebih dan diberikan contoh implementasi pada
industri tertentu agar lebih jelas.

13
DAFTAR PUSTAKA

Berkel R.V, 2000, Overview of The Cleaner Production Concept and


Relation with Other Environmental Management Strategies, Curtin
University of Technology, Australia.
Djajadiningrat, S.T, 2001, Pemikiran Tantangan dan Permasalahan
Lingkungan untuk Generasi Masa Depan, Studio Tekno Ekonomi
ITB, Bandung.
Fransiska,, E, 2010, Karakteristik, Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Ibu
Rumah Tangga dalam Penggunaan MInyak Goreng Berulang Kali
Desa Yanjung Selamat, Kecamatan Sunggal tahun 2010. Skripsi.
USU. Medan.
Indrasti, N. S dan Fauzi, A. M, 2009, Produksi Bersih. IPB Press, Bogor.
KLH (Kementerian Lingkungan Hidup), 2003, Kebijakan Nasional Produksi
Bersih, Jakarta.
Kusumawati, Hetty, 2011, Kajian Penerapan Eko-Efesien Pada Industri
Kecil Kerajinan Kulit Kerang Sabila Handicraft Kota Magelang,
Tesis Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Universitas
Diponegoro, Semarang.
Purwanto, 2005, Pemanfaatan Katalis Bekas yang Mengandung Logam
Berat Menjadi Produk yang Berguna, Simposium dan Kongres
Teknologi Katalis Indonesia, Jakarta, Februari.
Purwanto, 2006, Pendekatan Bisnis Dalam Pengelolaan Limah Industri,
Tema Konsultasi Anggota APINDO, Semarang, 14 Agustus.
Purwanto, 2009, Penerapan Teknologi Produksi Bersih untuk
Meningkatkan Efesiensi dan Mencegah Pencemaran Industri,
Universitas Diponegoro, Semarang.
UNEP Working Group for Cleaner Production, 1999, Cleaner Production
Guidelines Cleaner Production in The Queensland Foundry
Industry.

14