Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM LINGKUNGAN I

PENETAPAN MINYAK DAN LEMAK DAN LEMAK SERTA


DETERGEN SEBAGAI MBAS

Oleh:

Kelompok 2

1. Aulia Ramandha (1142005003)


2. Dessy Fadiilah (1142005008)

Asisten:
Fithri Zakiyah

TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS BAKRIE

JAKARTA

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
1. Penetapan Minyak dan Lemak
Lemak dan minyak termasuk dalam salah satu golongan lipid, yaitu lipid
netral. Lemak dan minyak dapat di komsumsi (edible fat) dan sumbernya dapat
berasal dari hewani dan nabati. Lemak dan minyak nabati merupakan lemak
dan minyak yang bersal dari tumbuh-tumbuhan sedangkan lemak dan minyak
hewani berasal dari hewan.

Lemak dalam tubuh berfungsi sebagai sumber energi dan cadangan


makanan. Lemak merupakan bahan makanan yang kaya energi. Lemak yang
pada suhu kamar berupa cairan, lazim disebut minyak. Minyak biasanya
berasal dari tumbuhan seperti minyak kelapa, minayak jagung dan minyak
zaitun.

Wujud lemak berkaitan dengan asam lemak pembentukannya. Lemak yang


berbentutk cair (minyak) banyak mengandung asam lemak tak jenuh.
Sedangkan lemak yang berbentuk padat lebih banyak mengandung asam lemak
jenuh. Asam lemak jenuh mempunyai titik cair yang lebih tinggi dari pada
asam lemak tak jenuh. Lemak dan minyak memiliki sifat kelarutan yang sama,
yaitu nonpolar. Namun untuk mengetahuinya serta mengetahui beberapa reaksi
lainnya seperti asam lemak bebas dan reaksi penyabunan, maka harus
dilakukan satu percobaan, oleh karena itu mengapa dilakukan percobaan ini.

2. Penetapan Detergen Sebagai MBAS


Air adalah kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk
hidup di muka bumi ini. Tanpa air kehidupan tentunya akan menjadi sulit
sekali. Air juga merupakan sarana utama untuk meningkatkan kesehatan

1
masyarakat. Hal ini dimaksudkan bahwa air adalah media penularan terutama
penyakit perut yang paling sering terjadi di Indonesia.

Selain pemanfaatan air untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari, air juga


dipergunakan dalam kebutuhan industri dan transportasi. Jadi, sudah jelas
bahwa air adalah kebutuhan paling vital dalam kehidupan khususnya
kehidupan manusia.

Dewasa ini tingkat kehidupan masyarakat semakin maju. Dengan semakin


majunya tingkat kehidupan masyarakat ini, maka tingkat kebutuhan air dari
masyarakat itu sendiri tentunya juga akan semakin meningkat pula. Oleh
karena itu, kualitas dan kuantitas air harus dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat. Akan tetapi dari segi kualitas terlihat adanya kenyataan bahwa
kualitas air semakin menurun.

Masalah akan kualitas air yang sering ditimbulkan adalah tidak tersedianya
air yang sesuai dengan peruntukannya. Kualitas air ditentukan oleh berbagai
faktor yang mempengaruhi kualitas air tersebut.

2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk :

1. Penetapan Minyak dan Lemak

1 Mengukur berat minyak dan lemak yang terkandung dalam air


sampel dengan metode Partisi-Gravimetri
2 Membandingkan berat minyak dan lemak dengan baku mutu yang
berlaku.
2. Penetapan Detergen Sebagai MBAS
1. Membuktikan adanya kandungan detergen dalam air sampel
dengan metode MBAS.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Minyak dan Lemak

Secara umum, lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi


ruang berada dalam keadaan padat. Sedangkan minyak adalah trigliserida yang
dalam suhu ruang berbentuk cair. Secara lebih pasti tidak ada batasan yang jelas
untuk membedakan minyak dan lemak ini (Sudarmadji, 1996). Dalam proses
pembentukanya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul
gliserol dengan tiga molekul asam asam lemak (umumnya ketiga asam lemak
berbeda - beda) yang membentuk satu molekul trigliserida dan tiga molekul air
(Ketaren, 2005).

Dalam analisis lemak, sulit untuk melakukan ekstraksi lemak secara


murni. Hal itu disebabkan pada waktu ekstraksi lemak dengan pelarut lemak,
seperti phospholipid, sterol, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, dan klorofil.
Oleh karena itu, hasil analisis lemak ditetapkan sebagai lemak kasar. Terdapat
dua metode dalam penentukan kadar lemak suatu sampel, yaitu metode ekstraksi
kering (menggunakan soxhlet) dan metode ekstraksi basah. Selain itu, metode
yang digunakan dalam analisis kadar lemak dapat menggunakan metode weibull.
Prinsip kerja dari metode weubull adalah ekstraksi lemak dengan pelarut
nonpolar setelah sampel dihidrolisis dalam suasana asam untuk membebaskan
lemak yang terikat (Harper et.al, 1979).

Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru


yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan
dengan adanya pendingin balik. Soxhlet terdiri dari pengaduk atau granul
antibumping, still pot (wadah penyuling, bypass sidearm, thimble selulosa,
extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet, expansion adapter,

3
condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out (Darmasih,
1997).

Ekstraksi dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi


karena pada cara ini digunakan pemanasan yang diduga memperbaiki kelarutan
ekstrak. Dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi dengan Soxhlet
memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi. Makin polar pelarut, bahan
terekstrak yang dihasilkan tidak berbeda untuk kedua macam cara ekstraksi
(Whitaker 1915).

2.2 Detergen Sebagai MBAS


2.2.1 Surfaktan Anion (Deterjen)

Surfaktan-zat aktif permukaan atau tensides- adalah zat yang


menyebabkan turunnya tegangan permukaan cairan, khususnya air. Ini
menyebabkan pembentukan gelembung dan pengaruh permukaan lainnya yang
memungkinkan zat-zat ini bertindak sebagai zat pembersih atau penghambur
dalam industri dan untuk tujuan rumah tangga (Connell, 1995).

Surfaktan atau surface active agent atau wetting agent merupakan bahan
organik yang berperan sebagai bahan aktif pada deterjen, sabun dan shampoo.
Surfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan sehingga memungkinkan
partikel-partikel yang menempel pada bahan-bahan yang dicuci terlepas dan
mengapung atau terlarut dalam air (Effendi, 2003). Surfaktan dikelompokkan
menjadi empat, yaitu surfaktan anion, surfaktan kationik, surfaktan nonionik dan
surfaktan amphoteric (zwitterionic) (Effendi, 2003).

Untuk keperluan rumah tangga digunakan kelompok surfaktan anion


(deterjen). Telah dikenal dua macam deterjen anion, yakni alkil sulfonat linear
dan alkil benzene sulfonat (Sastrawijaya, 1991). Bentuk deterjen merupakan
salah satu jenis bahan pembersih yang digunakan untuk mengurangi kotoran dari
pakaian, piring, dan barang lainnya (Sawyer, 1967).

4
2.2.2 Deterjen Sintetis

Setelah Perang Dunia II, dikembangkan deterjen sintetis. Seperti sabun,


deterjen adalah surfaktan anion-garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang
dari natrium (RSO3-Na+ dan ROSO3-Na+). Deterjen sintetis mempunyai
keunggulan dalam hal tidak mengendap bersama ion logam dalam air sadah
(Fessenden, 1986). Unsur kunci dari deterjen adalah bahan surfaktan atau bahan
aktif permukaan, yang beraksi dalam menjadikan air menjadi lebih basah
(wetter) dan sebagai bahan pencuci yang lebih baik (Achmad, 2004). Salah satu
deterjen sintetis yang digunakan adalah p-alkilbenzenasulfonat (ABS) dengan
gugus alkil yang sangat bercabang. Bagian alkil senyawa ini disintesis dengan
polimerisasi propilena dan dilekatkan pada cincin benzene dengan reaksi alkilasi
Friedel-Craft. Sulfonasi yang disusul dengan pengolahan basa, menghasilkan
deterjen itu (Fessenden, 1986).

ABS sangat tidak menguntungkan karena ternyata sangat lambat terurai


oleh bakteri pengurai disebabkan adanya rantai bercabang pada strukturnya.
Dengan tidak terurainya secara biologi deterjen ABS, lambat laun perairan yang
terkontaminasi oleh ABS akan dipenuhi oleh busa (Achmad, 2004). Deterjen ini
lolos lewat instalasi pengolahan limbah tanpa berubah, sehingga menyebabkan
sungai berbusa-busa dan dalam beberapa hal, bahkan menyebabkan air PAM
berbusa. Pada tahun 1965, industri mengubahnya menjadi deterjen yang
biodegradable, seperti senyawa Alkil Linear Sulfonat (LAS) dengan rantai
menerus sebagai ganti rantai bercabang (Fessenden, 1986).

Sejak LAS menggantikan penggunaan ABS dalam deterjen, masalah-


masalah yang timbul seperti penutupan permukaan air oleh gumpalan busa dapat
dihilangkan dan toksisitasnya terhadap ikan di perairan telah banyak dikurangi
(Achmad, 2004).

5
Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut :

a. Surfaktan (Surface active agent)

Zat aktif permukaan mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka


air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan
tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel
pada permukaan bahan. Berupa anion (Alkyl Benzene Sulfonate/ABS, Linier
Alkyl Benzene Sulfonate/LAS, Alpha Olein Sulfonate/AOS), kationik (Garam
Ammonium), Nonionik (Nonyl Phenol Polyethoxyle), Amfoterik (Acyl
Ethylenediamines).

b. Builder (Pembentuk)

Zat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan


cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Berupa phosphates
(Sodium Tri Poly Phosphate/STTP). Asetat (Nitril Tri Acetate/NTA, Ethylene
Diamine Tertra Acetate/EDTA) dan Sitrat (asam sitrat).

c. Filler (Pengisi)

Bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan


meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas atau dapat memadatkan dan
memantapkan sehingga dapat menurunkan harga. Contoh: Sodium sulfate.

d. Additivies (Zat Tambahan)

Bahan suplemen/tambahan untuk membuat produk lebih menarik,


misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan sebagainya yang tidak
berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additivies ditambahkan untuk

6
maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride,
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh
deterjen ke dalam larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci.
Wangi-wangian atau parfum dipakai agar cucian berbau harum, sedangkan air
sebagai bahan pelarut (Admin, 2010).

2.2.3 Toksisitas Deterjen

Kemampuan deterjen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang


menempel pada kain atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri
yang menyebabkan infeksi. Tanpa mengurangi makna manfaat deterjen dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari, harus diakui bahwa bahan kimia yang
digunakan pada deterjen dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap
kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen
yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan
tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya (Admin, 2010).

Kadar surfaktan 1 mg/liter dapat mengakibatkan terbentuknya busa


diperairan. Meskipun tidak bersifat toksik, keberadaan surfaktan dapat
menimbulkan rasa pada air dan dapat menurunkan absorpsi oksigen di perairan
(Effendi, 2003). Pengaruh lingkungan yang paling jelas adalah adanya busa pada
aliran sungai. Hynes dan Roberts (1962), dalam studi aliran sungai di Inggris
yang menerima limbah air mengandung surfaktan (2-4 ppm) tidak dapat
mendeteksi perubahan apa pun dalam struktur komunitas biota air karena
surfaktan (Connell, 1995).

Deterjen keras berbahaya bagi ikan biarpun konsentrasinya kecil,


misalnya natrium dodesil benzene sulfonat dapat merusak insang ikan, biarpun
hanya 5 ppm. Tanaman air juga dapat menderita jika kadar deterjen tinggi.
Kemampuan fotosintetis dapat terhenti (Sastrawijaya, 1991). Permasalahan juga
ditimbulkan oleh deterjen yang mengandung banyak polifosfat yang merupakan

7
penyusun deterjen yang masuk ke badan air. Poliposfat dari deterjen ini
diperkirakan memberikan kontribusi sekitar 50 % dari seluruh fosfat yang
terdapat diperairan. Keberadaan fosfat yang berlebihan menstimulir terjadinya
eutrofikasi (pengkayaan) perairan (Effendi, 2003).

2.2.4 Penentuan Surfaktan dengan Metilen Biru

Metode ini membahas tentang perpindahan metilen biru yaitu larutan


kationik dari larutan air ke dalam larutan organik yang tidak dapat campur
dengan air sampai pada titik jenuh (keseimbangan). Hal ini terjadi melalui
formasi (ikatan) pasangan ion antara anion dari MBAS (methylene blue active
substances) dan kation dari metilen biru. Intensitas warna biru yang dihasilkan
dalam fase organik merupakan ukuran dari MBAS (sebanding dengan jumlah
surfaktan). Surfaktan anion adalah salah satu dari zat yang paling penting, alami
dan sintetik yang menunjukkan aktifitas dari metilen biru. Metode MBAS
berguna sebagai penentuan kandungan surfaktan anion dari air dan limbah, tetapi
kemungkin adanya bentuk lain dari MBAS (selain interaksi antara metilen biru
dan surfaktan anion) harus selalu diperhatikan. Metode ini relatif sangat
sederhana dan pasti. Inti dari metode MBAS ini ada 3 secara berurutan yaitu:
Ekstraksi metilen biru dengan surfaktan anion dari media larutan air ke dalam
kloroform (CHCl3) kemudian diikuti terpisahnya antara fase air dan organik dan
pengukuran warna biru dalam CHCl3 dengan menggunakan alat
spektrofotometri pada panjang gelombang 652 nm (Franson, 1992). Batas
deteksi surfaktan anion menggunakan pereaksi pengomplek metilen biru sebesar
0,026 mg/L, dengan rata-rata persen perolehan kembali 92,3% (Rudi dkk.,
2004).

2.2.5 Analisis Spektrofotometri pada Metode MBAS

Spektrometri merupakan metode pengukuran yang didasarkan pada


interaksi radiasi elektromagnetik dengan partikel, dan akibat dari interaksi

8
tersebut menyebabkan energi diserap atau dipancarkan oleh partikel dan
dihubungkan pada konsentrasi analit dalam larutan. Prinsip dasar dari
spektrofotometri UV-Vis adalah ketika molekul mengabsorbsi radiasi UV atau
visible dengan panjang gelombang tertentu, elektron dalam molekul akan
mengalami transisi atau pengeksitasian dari tingkat energi yang lebih rendah ke
tingkat energi yang lebih tinggi dan sifatnya karakteristik pada tiap senyawa.
Penyerapan cahaya dari sumber radiasi oleh molekul dapat terjadi apabila energi
radiasi yang dipancarkan pada atom analit besarnya tepat sama dengan
perbedaan tingkat energi transisi elektronnya (Rudi,2004).

Metilen biru digunakan untuk uji coba bahan pewarna organik. Bahan
pewarna organik yang berwarna biru tua ini, akan menjadi tidak berwarna
apabila oksigen pada sampel (air yang tercemar yang sedang dianalisis) telah
habis dipergunakan (Mahida, 1981). Surfaktan anion bereaksi dengan warna biru
metilen membentuk pasangan ion baru yang terlarut dalam pelarut organik,
intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer dengan
panjang gelombang 652 nm. Serapan yang diukur setara dengan kadar surfaktan
anion (Anonim, 2009).

9
BAB III

METODE

3.1 Waktu dan Tempat


3.1.1 Waktu
Pukul 07.00 WIB
3.1.2 Hari/Tanggal
Selasa, 31 Mei 2016
3.1.3 Tempat
Sungai disebrang pos polisi Tanjung Duren
061024LS dan 1064705BT

Lokasi
pengambilan
sampel

Gambar 3.1 : Lokasi pengambilan sampel Pos Polisi Tanjung Duren


3.2 Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Pengambilan sampel

No. Alat Ukuran Jumlah Bahan Konsentrasi Jumlah


Sampai
Botol dan Sampel
1. - 1 - jirigen
batu air
penuh

2. Jirigen 2L 1

10
Tabel 3.2 Alat dan Bahan Uji Penetapan Minyak dan Lemak

No Alat Jumlah Bahan Jumlah


1 Pipet volum 50 ml 1 buah Air sampel 100 ml
2 pH meter 1 buah Larutan HCL 1:1 secukupnya
3 Corong piash 1 buah Larutan hexane 60 ml
4 Labu didih 1 buah
5 Labu erlenmeyer 1 buah
6 Destilasi 1 buah
7 Timbangan 1 buah
8 Oven 1 buah
9 Desikator 1 buah

Tabel 3.3 Alat dan Bahan Uji Penetapan Detergen Sebagai MBAS

No Alat Jumlah Bahan Jumlah


1 Bulb 1 buah Air sampel 300 ml
2 Labu kocok 1 buah Indikator PP 2 tetes
3 Labu Erlenmeyer 1 buah Larutan NaOH secukupnya
4 Pipet volumetri 50 ml 1 buah Larutan H2SO4 secukupnya
5 Spektrofotometri 1 buah Ind. metilen blue 15 ml
6 Kloroform 10 ml
7 Larutan pencuci 25 ml

3.3 Metode
3.3.1 Metode Partisi-Gravimetri Untuk Penetapan Minyak dan Lemak
Minyak dan lemak dalam contoh uji air diekstraksi dengan pelarut
organik dalam labu kocok dan untuk menghilangkan air yang masih tersisa
digunakan Na2SO4 anhidrat. Ekstrak minyak dan lemak dipisahkan dari

11
pelarut organik secara destilasi. Residu yang tertinggal pada labu destilasi
ditimbang sebagai minyak dan lemak.
Gravimetri dalam ilmu kimia merupakan salah satu metode analisis
kuantitatif suatu zat atau komponen yang telah diketahui dengan cara
pengukuran berat komponen dalam keadaan murni setelah melalui proses
pemisahan. Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat
suatu unsur atau senyawa tertentu.

3.3.2 Metode Jar Test Untuk Penetapan Detergen Sebagai MBAS Untuk
Mengukur Kadar Surfaktan Anionik Dalam Air
Analisis kadar kandungan surfaktan anionik pada deterjen yang
terdapat dalam air deterjen dapat dilakukan dengan menggunakan metode
spektrofotometri. Pereaksi yang digunakan untuk analisis surfaktan anionik
secara spektrofotometri adalah metilen biru. Reaksi yang terjadi antara
surfaktan dan metilen biru merupakan reaksi pasangan ion yang terjadi
akibat gaya elektrostatis antara ion logam dengan counter ion (ion lawan).
Reaksi asosiasi ion dalam proses ekstraksi pelarut berdasarkan pada
interaksi elektrostatis antara komponen penyusunnya dan sifat hidrofobik
kompleks asosiasi ion.
Reaksi gabungngan sulfunat dan jenis sulfat surfaktan dalam analisis
MBAS, tetapi sulfunat dan jenis sulfunat surfaktan dapat juga dibedakan.
Jenis penguraian sulfat terjadi pada peristiwa hidrolisis asam. Hasil
penurunan dalam penyesuaian MBAS untuk sulfat surfaktan asli, sedangkan
MBAS tersisa sesuai dengan sulfunat surfaktan.

3.4 Cara Kerja

12
Tabel 3.6 Cara Kerja Pengambilan Sampel

No. Keterangan Gambar

Menyiapkan alat berupa water sampel


1.
vertical

Alat pengambilan sampel dimasukan


2. ke dalam sungai dengan kedalaman
atau 2/3.

Air sampel yang dibotol dipindahkan


kedalam jerigen dan langsung ditutup
3.
agar tidak masuk oksigen kedalam
sampel.

Mengamati keadaan lingkungan


4.
sekitar pada saat pengambilan sampel.

Tabel 3.7 Cara Kerja Uji Minyak dan Lemak

13
No. Keterangan Gambar

Meletakkan labu didih kosong ke


1 dalam oven, kemudia menimbang labu
didih kosong yang telah di oven

Memipet 100 ml sampel ke dalam


2
gelas piala

Mengatur pH larutan dengan


3
menambahkan HCl 1:1 hingga pH = 2

Memindahkan larutan ke dalam labu


4 kocok, kemudian menambahkan 30 ml
hexane

14
No. Keterangan Gambar

Mengocok labu kocok sebanyak 3x,


5 kemudian memisahkan hexane ke
dalam labu didih

Menambahkan kembali 30 ml hexane


6
ke dalam labu kocok

Mengocok labu kocok sebanyak 3x,


7 kemudian memisahkan hexane ke
dalam labu didih

8 Melakukan destilasi

15
No. Keterangan Gambar

Memasukkan labu didih ke dalam


oven selama 30 menit. Kemudian
9
memindahkan labu didih ke desikator
selama 1 jam

Menimbang labu didih yang telah


10
berisi residu

Gambar 3.8 Cara Kerja Uji Detergen Sebagai MBAS

16
17
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Pengamatan Insitu

No Parameter Keterangan Gambar


Pada pengambilan sampel,
cuaca di sekitar Sungai
Sekretaris cerah. Lokasi
Kondisi tepatnya di sebrang pos
1
lingkungan polisi tanjung duren
dengan koordinat
061024LS dan
1064705BT

Pengukuran suhu secara


insitu dengan menggunakan
2 Temperatur
termometer menghasilkan
suhu air sungai 27,6C

Pengukuran Daya Hantar


Listrik (DHL)
menggunakan
3 DHL
konduktometer
menghasilkan nilai DHL air
sungai 637 S/cm

18
No Parameter Keterangan Gambar

Pengukuran pH
menggunakan pHmeter
4 pH
menghasilkan nilai pH air
sungai 7,28

Pengukuran DO
menggunakan DOmeter
5 DO
menghasilkan nilai DO air
sungai 1,03 mg/L

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Uji Minyak dan Lemak

No Parameter Gambar Keterangan

Pengukuran Minyak dan


Lemak menggunakan
Minyak
metode partisi-gravimetri
1. dan
menghasilkan berat
Lemak
minyak dan lemak =
3313 mg/L
Labu Kosong Labu + Residu

19
Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Detergen Sebagai MBAS

No Parameter Gambar Keterangan

Pengukuran Detergen
sebagai MBA Suntuk
Detergen
mengukur kadar surfaktan
1. Sebagai
anionik dalam air
MBAS
menghasilkan konsentrasi
MBAS = 0,29052 mg/L

4.2 Hasil Perhitungan


4.2.1 Minyak dan Lemak
Dik : A = 110488,5 mg
B = 110157,2 mg
V sampel = 100 ml
Dit : Berat Minyak dan Lemak (mg/L)
1000
Jawab : Berat (mg/L) = ( )
1000
= (110,4885 110,1572) 100

= 3,313 mg/L

4.2.2 Detergen Sebagai MBAS

Dik : a = -0.02513
b = 0.58560
r = 0.99833
r2 = 0.99667
abs = 0,145
Dit : Konsentrasi MBAS

20

Jawab : ( )=

0,145(0,02513)
= 0,58560

= 0,29052 mg/L
Tabel 4.4 Konsentrasi dan Abs Detergen Sebagai MBAS

Konsentrasi Abs
0 0
0.4 0.183
0.8 0.418
1.2 0.705
2.0 1.145

Grafik Konsentrasi Detergen Sebagai


MBAS
1.4
1.2
1
0.8 Konsentrasi Detergen
Abs

0.6 Sebagai MBAS


0.4 Konsentrasi Detergen
0.2 Sebagai MBAS klm 2
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5
Konsentrasi (mg/L)

4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengambilan Sampel
Air sampel diambil di sungai dekat pos polisi Tanjung Duren
pada hari Selasa, 31 Mei 2016 pukul 07.00. Air sungai yang diambil
keruh dengan banyak Minyak dan Lemak dan sampah plastik di

21
permukaan air sungai. Terdapat pemukiman di kolong jembatan di
dekat sungai. Pada saat pengambilan sampel dilakukan kondisi langit
cerah. Sampel diambil sebanyak tiga kali sampai jerigen terisi penuh
dan tidak terdapat oksigen di dalamnya.
4.3.2 Temperatur
Saat melakukan pengambilan sampel, praktikan melakukan
pengamatan terhadap suhu dengan menggunakan termometer.
Termometer dicelupkan ke dalam air sampel dan didapatkan besar
suhu adalah 27,6C. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No
582 tahun 1995, kadar maksimum temperatur untuk air sungai
golongan D yaitu suhu air normal 3C. Sehingga suhu air di Sungai
Sekertaris memenuhi batasan baku mutu untuk air sungai golongan
D.
4.3.3 pH
Setelah melakukan pengecekan suhu, praktikan melakukan
pengamatan terhadap besar pH dengan menggunakan alat pH meter,
dan didapatkan besar pH 7,28. Menurut Keputusan Gubernur DKI
Jakarta No 582 tahun 1995, kadar pH untuk air sungai golongan D
yaitu 6-8,6. Sehingga pH air di Sungai Sekertaris masih memenuhi
batasan baku mutu untuk air sungai golongan D
4.3.4 DO
Selain itu praktikan juga mengecek besar DO, yaitu 1,03 mg/L.
Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun 1995,
kadar DO untuk air sungai golongan C yaitu lebih besar dari 3 (<3).
Sedangkan menurut PP No 82 Tahun 2001 DO untuk air minum
golongan IV adalah 0. Dapat dikatakan kandungan DO dalam
sampel air Sungai Sekertaris masih memenuhi batasan baku mutu
untuk air sungai golongan IV menurut PP No 82 Tahun 2001,
sedangkan menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun
1995 tidak memenuhi baku mutu untuk sungai golongan D.

22
Rendahnya nilai DO dapat menyebabkan reproduksi dan
pertumbuhan ikan di dalam sungai terhambat. DO yang baik
besarnya lebih dari 5 mg/L.
4.3.5 DHL
Selain itu praktikan juga mengukur konduktifitas atau daya
hantar listrik di dalam sampel air. Setelah diukur, didapatkan besar
konduktivitas 637 s/cm. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta
No 582 tahun 1995, kadar DHL untuk air sungai golongan D yaitu
1000 umhos/cm. Sehingga konduktivitas air di Sungai Sekertaris
masih memenuhi batasan baku mutu untuk air sungai golongan D
4.3.6 Minyak dan Lemak
Berdasarkan praktikum yang praktikan lakukan, sungai
sekertaris di depan pos polisi mempunyai berat minyak dan lemak
sebesar 3,313 mg/L. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No
582 tahun 1995, kadar minyak dan lemak untuk air sungai golongan
C (pertanian dan peternakan) yaitu 0,5 mg/L. Jadi kandungan minyak
dan lemak di sungai sekertaris di depan pos polisi Tanjung Duren
telah melebihi baku mutu yang ditentukan untuk sungai golongan C.
Adanya lapisan minyak pada permukaan air menyebabkan penetrasi
cahaya matahari dan oksigen ke dalam air menjadi berkurang
sehingga mempersulit kerja mikroorganisme pengurai. Minyak dan
lemak yang jenuh akan sulit diuraikan oleh mikroorganisme.
Namun besar nilai konsentrasi sampel tidak selalu akan stabil
dibawah standar baku mutu, bisa jadi dilain waktu ketika praktikan
mengukur kadar minyak dan lemak pada sampel yang diambil di titik
yang sama besar konsentrasinya bisa saja berada diatas baku mutu
yang telah ditetapkan, kondisi suhu dan cuaca saat pengambilan
sampel juga dapat mempengaruhi hasil pengamatan.
Adanya kandungan lemak dan minyak selain dilihat dari
hasil akhir konsentrasi dapat dilihat pula secara fisik pada saat

23
analisa di laboratorium yaitu timbulnya lapisan minyak pada air
sample. Agar air tersebut dapat digunakan sebagai air minum maka
perlu pengolahan lebih lanjut yang tujuannya mereduksi kadar
lemak, minyak yang ada di perairan tersebut. Sumber pencemar yang
ada di pada irigasi tersebut kemungkingan berasal dari kotoran
manusia tersebut (minyak dan lemak).

4.3.7 Detergen Sebagai MBAS


Berdasarkan praktikum yang praktikan lakukan, sungai
sekertaris di depan pos polisi mempunyai konsentrasi kadar detergen
sebagai MBAS sebesar 0,29052 mg/L. Menurut Keputusan Gubernur
DKI Jakarta No 582 tahun 1995, kadar senyawa aktif biru metilen
(surfaktan) untuk air sungai golongan C (pertanian dan peternakan)
yaitu 0,20 mg/L. Jadi kandungan minyak dan lemak di sungai
sekertaris di depan pos polisi Tanjung Duren telah melebihi baku
mutu yang ditentukan untuk sungai golongan C.

Praktikum ini dapat dilakukan penanggulangan apabila


terjadi kelebihan kadar surfaktan pada detergen tersebut. Meskipun
tidak bersifat toksik , keberadaan surfaktan dapat menimbulkan rasa
pada air dan dapat menurunkan absorpsi oksigen di perairan . dengan
demikian akan menyebabkan kematian biota air. Dengan
diketahuinya kadar detergen pada suatu sampel air maka kita dapat
mengetahui kualitas air tersebut dan memudahkan kita untuk
menentukan perlakuan pengolahan yang tepat pada air tersebut
sehingga dapat diolah kembali menjadi air baku yang dapat
dimanfaatkan.

24
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan

Dari hasil analisa yang dilakuakan dan telah dibahas pada bab
pembahasan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Besar konsentrasi atau berat minyak dan lemak pada air sampel
sebesar 3,313 mg/L.
2. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun 1995,
kadar minyak dan lemak untuk air sungai golongan C (pertanian
dan peternakan) yaitu 0,5 mg/L.
3. Kadar detergen yang didapat pada air sampel sebesar 0,29052
mg/L.
4. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun 1995,
kadar senyawa aktif biru metilen (surfaktan) untuk air sungai
golongan C (pertanian dan peternakan) yaitu 0,20 mg/L. Jadi
kandungan minyak dan lemak di sungai sekertaris di depan pos
polisi Tanjung Duren telah melebihi baku mutu yang ditentukan
untuk sungai golongan C.

5.2 Saran
1. Jika air sampel tersebut ingin digunakan sebagai air minum maka perlu
dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan tujuannya mereduksi kadar
lemak, minyak yang ada di perairan tersebut.
2. Jika air sampel tersebut ingin digunakan kan untuk air minum perlu
perlakuan khusus untuk menurunkan atau menghilangkan kadar detergen
dalam air tersebut

25
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Trisakti. 2016.


Penuntun Praktikum Laboratorium Lingkungan. Jakarta: Trisakti.
Keputusan Gubernur No.582 tahun 1995 tentang penetapan peruntukan dan baku
mutu air sungai / badan air serta baku mutu air limbah cair di wilayah
DKI Jakarta

Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air

Winarno. 1992. Dasar-Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Binarupa Aksara. ( Diakses


pada tanggal 09 Mei 2016, pukul 19:00 WIB)

26
LAMPIRAN

27
Sumber : Keputusan Gubernur Nomor 582 tahun 1995

28
Sumber : Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001

29