Anda di halaman 1dari 20

Penutup Balik Otomatis (PBO) (Automatic circuit recloser).

Penutup Balik Otomatis (PBO) (Automatic circuit recloser).

Auto-Recloser atau penutup balik (PBO) pada dasarnya adalah pemutus tenaga (circuit breaker)
yang dilengkapi dengan peralatan control (Control Device). Peralatan ini dapat merasakan arus
gangguan dan memerintahkan operasi buka tutup kepada pemutus tenaga (Circuit Breaker).
Recloser merupakan sebuah alat berwadah sendiri, berisi sarana yang diperlukan untuk
mengindera arus lebih, mengatur waktu, dan memutus arus lebih serta untuk menutup balik secara
otomatis dan memberikan tegangan kembali pada saluran.
Penutup balik otomatis (PBO) : dipasang pada saluran utama di GI sebagai pengaman utama
jaringan.Pada jaringan (>20 km) PBO tidak begitu peka untuk menangkap gangguan yang berada
jauh dari ujung hilir, sehingga untuk pengaman gangguan temporer maupun untuk melokalisir
gangguan daerah sekecil mungkin perlu dipasang PBO ke2 atau PBO ke3 pada jarak tertentu.
Koordinasi antara PBO 1 dan PBO 2 dilakukan dengan memilih arus-arus nominal dengan
mengurangi satu tingkat settiing lamanya dan banyaknya buka tutup PBO disisi hilir.
Peralatan Control
Peralatan pengatur Auto-Recloser dibedakan menjadi 2 jenis:
a. Auto-Recloser dengan pengatur Hidrolis
Pada Auto-Recloser dengan pengatur Hidrolis, membuka / menutupnya kontak kontak dilakukan dengan cara
hidrolis (tekanan minyak).
b. Auto-Recloser dengan pengatur elektronis
Auto-Recloser dengan pengatur elektronik lebih luwes, lebih mudah diatur dalam hal
membuka/menutup kontak kontak, mudah dipragakan urutan kerjanya dan lebih akurat
dibandingkan dengan Auto-Recloser pengaturan Hidrolis.

Penyetelan Waktu Kerja Penutup Balik (Auto-Recloser)


Auto-Recloser mempunyai sifat dual timing yaitu dapat melaksanakan operasi cepat
(fast tripping) dan operasi lambat (delayed tripping). Sifat kedua adalah reset otomatis, yaitu
jika Auto-Recloser distel empat kali operasi trip sampai mengunci (lock out). Tetapi bila
gangguan telah hilang pada operasi cepat pertama sampai kedua maka Auto-Recloser akan
reset kembali ke status awal.

Macam Recloser Relay


Berdasarkan jumlah perintah reclosing ke PMT dapat dibedakan dalam dua jenis reclosing relay,
yaitu:
1. Single shot reclosing relay
Relay ini hanya dapat memberikan perintah reclosing ke PMT satu kali dan baru dapat melakukan
reclosing lagi setelah waktu blocking time berakhir. Bila terjadi gangguan pada periode blocking
time, PMT trip dan tidak bisa recloser lagi (lock out). Bila gangguan terjadi lagi setelah periode
blocking time, maka reclosing relai akan melihatnya sebagai gangguan baru dan proses reclose di
atas akan berulang.

2. Multi shot reclosing relay


Relay ini dapat memberikan perintah reclosing ke PMT lebih dari satu kali Dead time antar
reclosing adalah berbeda beda, sebagai contoh gambar 1 diberikan gambar diagram dari relai
reclosing yang diprogram untuk melakukan 3 kali reclosing.
Bila terjadi gangguan, relai GFR memberikan perintah trip ke PMT dan pada saat yang sama juga
menjalankan reclosing relay. Setelah dead time t1 yang sangat pendek (kurang dari 0.6 detik), rele
memberikan perintah reclose
ke PMT. Jika gangguan masih ada maka PMT akan trip kembali dan reclosing relay akan
melakukan reclose yang kedua setelah dead time t2 yang cukup lama (antara 10-60 detik). Jika
gangguan masih ada maka PMT akan trip kembali dan reclosing relay akan melakukan reclose
yang ketiga setelah dead time (t2=t3). Bila terjadi gangguan lagi dalam periode blocking time tB3,
maka PMT akan trip dan lock out.

Gambar 1. Diagram waktu kerja multi shot reclose relay.

Keterangan gambar:
t1 = dead time dari reclosing pertama
t2 = dead time dari reclosing kedua
t3 = dead time dari reclosing ketiga
tb1 = Blocking time dari reclosing pertama
tb2= Blocking time dari reclosing kedua
tb3 = Blocking time dari reclosing ketiga

Berikut merupakan gambar dari penutup balik otomatis (PBO) (Automatic circuit recloser).
(a)
(b)
Gambar 2. Penutup balik otomatis (Automatic Circuit Recloser), (a). Multi shot reclosing relay, (b)
Single shot reclosing relay.

Koordinasi Alat Pengaman


Contoh sistem koordinasi untuk jaringan sistem radial :
Gambar 3. Sistem koordinasi untuk jaringan system radial
Dimana:

SSO 1 = Sakelar seksi otomatis (SSO) sebagai alat pemutus rangkaian untuk dapat memisahkan
saluran utama dalam beberapa seksi, agar pada keadaan gangguan permanen, luas daerah
(jaringan) yang harus dibebaskan di sekitar lokasi gangguan sekecil mungkin. SSO ini membuka
pada saat rangkaian tidak ada tegangan tetapi dalam keadaan bertegangan harus mampu menutup
rangkaian dalam keadaan hubung singkat. SSO juga dipakai untuk membuka dan menutup
rangkaian berbeban, sakelar ini bekerja atas dasar penginderaan tegangan. SSO dilengkapi dengan
alat pengatur dan trafo tegangan sebagai sumber tenaga penggerak dan pengindera.

Sakelar seksi otomatis (SSO) : dipasang sepanjang saluran utama atau pada percabangan untuk
dapat melokalisasi gangguan dalam seksi-seksi yang lebih kecil.SSO yang dipasang pada jaringan
ini membuka pada saat rangkaian tidak ada arus dan tidak menutup kembali. Sakelar ini bekerja

berdasarkan penginderaan dan hitungan arus hubung singkat. SSO hanya dipasang bila mana pada
sisi hulu terpasang PBO.

Penjelasan:
Misalnya gangguan terjadi pada seksi ke III maka urutan kerja alat pengaman alah sebagai berikut:
a. PMB di gardu induk jatuh.
b. Berhubung tidak ada tegangan maka sakelar otomatis S1, S2, dan S3 terbuka setelah selang waktu
T3.
c. Setelah dicapai waktu menutup balik maka PMB di gardu induk masuk kembali (reclosed).
d. S1 mendapat tegangan dan setelah selang waktu T1, S1 masuk secara otomatis.
e. S2 mendapat tegangan dan setelah selang waktu T1, S2 masuk secara otomatis dan seksi III yang
terganggu dialiri listrik.
f. Karena di seksi III masih ada gangguan maka PMB jatuh kembali dan setelah selang waktu T3,
S1 dan S2 terbuka lagi, S2 langsung terkunci karena S2 waktu merasa bertegangannya cepat (lebih
kecil dari waktu T2 yang disetel).
g. PMB gardu induk masuk kembali setelah dicapai waktu menutup balik.
h. S1 mendapat tegangan dan setelah selang waktu T1, S1 masuk secara otomatis. Seksi I dan seksi
II mendapat aliran listrik.
Catatan :
T1 : Waktu mulai kotak pengatur bertegangan sampai dengan sakelar (S) masuk kembali secara
otomatis. Biasanya antara 5 10 detik.
T2 : Waktu yang disetel agar S terkunci bila waktu merasakan bertegangan lebih kecil dari waktu T2
yang disetel. Biasanya 4 7 detik.
T3 : Waktu mulai kotak pengatur tidak bertegangan sampai dengan sakelar terbuka. Biasanya 0,5 2
detik.

Lihat Juga..!!!!
Posted by Muhammad Ridwan at 16:07 5 comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest

Friday, 16 December 2011


Sistem Perlindungan Distribusi
SISTEM PERLINDUNGAN DISTRIBUSI

Sistem tenaga listrik adalah rangkaian proses pembangkitan energi listrik dan penyalurannya maupun
distribusinya hingga sampai ke pelanggan selaku pengguna tenaga listrik, dimana satu dengan lainnya saling
berhubungan sehingga dapat menghasilkan tenaga listrik yang dibutuhkan.
Dalam pelaksanaannya, semua unsur tersebut diatas harus saling mendukung dan bekerja
sama agar dapat mencapai hasil yang diharapkan yaitu tersedianya tenaga listrik yang efisien dan
andal. Untuk mengurangi gangguan tersebut sangat diperlukan pelindung atau pengaman
yang dapat menahan tegangan sistem agar
kontinuitas pelayanan ke pusat beban (load center) tidak terganggu hingga
waktu yang tidak terbatas. Dan harus dapat melakukan atau mengalirkan arus
lebihdengan tidak merusak alat pengaman dan peralatan jaringan yang lain. Oleh karenaitu fung
si alat pengaman adalah :

1. Melindungi sistem terhadap kondisi beban lebih (over load) dan hubung
singkat (chort circuit).
2. Melindungi sistem terhadap gangguan fisik dari luar terutama untuk
saluran udara (overhead line). Misalnya karena sambaran petir.
3. Mengisolir bagian sistem yang terkena gangguan.
4. Melindungi public/personal terhadap adanya jaringan tegangan tinggi,
terutama pada tempat-tempat yang padat penduduknya atau tempat-
tempat dimana jaringan listrik melintasi jalan lalu lintas umum.

Kegunaan sistem pengaman tenaga listrik, antara lain untuk :


a. Mencegah kerusakan peralatan-peralatan pada sistem tenaga listrik
akibat terjadinya gangguan atau kondisi operasi sistem yang tidak normal.
b. Mengurangi kerusakan peralatan-
peralatan pada sistem tenaga listrikakibat terjadinya gangguan atau kondisi operasi sist
em yang tidak normal.
c. Mempersempit daerah yang terganggu sehingga gangguan tidak melebar
pada sistem yang lebih luas.
d. Memberikan pelayanan tenaga listrik dengan keandalan dan mutu tinggi kepada konsumen.
e. Mengamankan manusia dari bahaya yang ditimbulkan oleh tenagalistrik.
f. Menjaga kestabilan sistem tenaga
Adapun beberapa alat pelindung sistem distribusi akan dijelaskan sebagai berikut:

A. KAWAT PEMBATAS ARUS (FUSE)


Fusa merupakan kombinasi alat pelindung dan pemutus rangkaian. Berfungsi sebagai pangaman apabila
terjadi gangguan beban lebih atau gangguan hubung singkat antar fasa. Berdasarkan kemampuannya Fuse terbagi
menjadi:
1. Fuse tegangan tinggi
Fuse tegangan tinggi merupakan fuse yang mempunyai kemampuan putus diatas 16kA. Berdasarkan jenisnya
terbagi menjadi:
Fuse Pembatas Arus.
Fuse-fuse ini yang mempunyai kapasitas pemutusan tinggi adalah sedikit silikat padat diletakkan pada pembungkus
porcelain dengan seluruh elemennya dimampatkan dalam alat pengisi yang mungkin udaraatau minyak secara
rapat tergantung pada penggunaan yang diinginkan.
Jenis fuse yang kawatnya dapat diganti yaitu jenis corong berlubang. Ini mempunyai kemampuan putus rendah.
Corong umumnya dibuat dari baja. Untuk pendinginan yang efektif dari kawat yang melengkung maka sudut
corongnya dibuat 60 dan fuse dipasang horizontal.kerja fuse ini terpengaruh oleh polusi, angin dan keadaan
atmosfer yang lain, karena itu tidak memberikan perlindungan yang lengkap, walaupun murah. Jenis fuse ini
umumnya digunakan dalam system distribusi untuk melindungi saluran transmisi dan transformator.

2. Fuse tegangan rendah


Fuse ini mempunyai batas tegangan sampai 650 V. IS:3106-1966. Fuse tegangan rendah terbagi menjadi tiga
jenis:
a. Jenis Setengah Tertutup
Jenis fuse ini merupakan fuse pelindung sangat murah yang dapat diganti kawatnya untuk rangkaia-rangkaian
yang mempunyai batas putus yang rendah. Kawat yang sering digunakan adalah kawat timah. Penampilan fuse yang
dapat diganti tidak dijamin sehingga bila dibutuhkan pembedaan yang pantas jenis fuse ini tidak dianjurkan
dipakai karena hanya memberikan perlindungan secara kasar.

b. Fuse-fuse jenis kontak


Fuse jenis ini biasanya dalam kotak yang betul-betul tertutup, berisi satu atau banyak elemen fuse dan diisi
dengan alat pemadam nyala kawat, biasanya pasir silica. Dalam penggunaan fuse ini perlu diperiksa batas
tegangan arus dan kelas fasa, yaitu kecepatan reaksinya cepat ato lambat dan kemampuan memutus yang
memadai.

c. Fuse-fuse sangat kecil


ini banyak digunakan untuk melindungi peralatan rumah tangga dan karena kemampuan memutusnya yang
relative kecil tidak digunakan dalam system distribusi tetapi digunakan pada alat-alat pengatur yang berhubungan
dengan system distribusi, khususnya yang terdiri dari rangakaian elektrinika. Jenis fuse ini bervariasi dari yang
bereaksi cepat dan jenis lambat dalam kotak gelas dengan tanpa penyaring tanpa penyaring yang mempunyai
kemampuan memutus tinggi dalam wadah porselin yang diisi pasir silikat.

B. Pemutus Rangkaian Tenaga (Circuit breaker)


Berfungsi untuk memutuskan saluran secara keseluruhan pada tiap out put. Pemutusan dapat terjadi karena
adanya gangguan sehingga secara otomatis PMT akan membuka ataupun secara manual diputuskan karena
adanya pemeliharaan jaringan. Jenis PMT berdasarkan media pemadam busur apinya diantaranya:
1. Pemutus daya udara (Air Circuit breaker).
2. Pemutus minyak (Oil Circuit breaker)
3. Pemutus Daya Udara Tekan (Air blast Circuit breaker)
4. Pemutus hampa udara.
5. Pemutus gas elektronegatif (SF6)

1. Pemutus daya udara (Air Circuit breaker).


PMT jenis ini menggunakan metode yang paling sederhana, yaitu memperpanjang lintasan
busur api (arc). Karena efek pemanjangan lintasan ini diharapkan busur api (arc) dapat segera
dipadamkan. Adapun beberapa bentuk pemanjangan lintasan pada kontak PMT yang umum
dikenal adalah sebagai berikut :

Kontak Sela Tanduk


Pada PMT ini arc dihilangkan dengan memperpanjang lintasan busur api (arc) hingga ujung
terjauh kontak. PMT jenis ini biasa digunakan pada instalasi listrik AC dan DC tegangan rendah
dengan arus pemutusan hingga ratusan ampere.

Gambar 1. Air CB Kontak Sela Tanduk

Kontak Tabir Konduktor


Pada PMT ini, konduktor metal yang terletak di antara kontak memotong busur api (arc) yang
muncul sehingga hasil pemotongan arc pada tiap tabir mengalami pemanjangan lintasan dan
pendinginan dan arc dapat segera dipadamkan. PMT jenis ini dapat digunakan hingga tegangan
beberapa ribu volt dan arus hingga beberapa ribu ampere.
Gambar 2. Air CB Tabir Konduktor

Kontak Tabir Isolator


Pada PMT ini, tabir isolator yang terdapat di antara kontak membuat busur api (arc) terpaksa
menelusuri permukaan tabir untuk bias mencapai kontak. Pada PMT jenis ini pemadaman busur
api (arc) terjadi karena efek pemanjangan lintasan, pendinginan, dan peluang partikel bermuatan
untuk mengadakan rekombinasi. PMT jenis ini dapat digunakan hingga tegangan 10kV dan arus
hingga 50kA.

Gambar 3. Air CB tabir isolator

2. Pemutus Minyak
Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus arus sampai 10 kA dan pada rangkaian
bertegangan sampai 500 kV. Pada PMT jenis ini, ketika kontak dipisahkan (terbuka), busur api
akan terjadi didalam minyak, sehingga minyak menguap dan menimbulkan gelembung gas yang
menyelubungi busur api (arc), karena panas yang ditimbulkan busur api (arc). Gelembung ini
membuat minyak terdekomposisi sehingga menimbulkan gas hidrogen yang menghambat arc.
Dengan adanya media minyak ini, diharapkan busur api (arc) dapat segera dipadamkan. Oleh
karena itupemadaman busur api tergantung pada pemanjangan dan pendinginan busur api dan juga
tergantung pada jenis gas hasil dekomposisi minyak.
Minyak yang berada diantara kontak sangat efektif memutuskan arus. Kelemahannya adalah
minyak mudah terbakar dan kekentalan minyak memperlambat pemisahan kontak, sehingga tidak
cocok untuk sistem yang membutuhkan pemutusan arus yang cepat.
Kelemahan dari penggunaan PMT minyak ini adalah karena minyak mudah terbakar,
kekentalan minyak menghambat pemisahan kontak sehingga tidak cocok untuk sistem yang
membutuhkan pemutusan arus yang cepat dan dimensi PMT yang terlalu besar, karena alasan
inilah PMT jenis ini jarang dipergunakan untuk wilayah yang hanya menyediakan tempat yang
tidak cukup besar.

Gambar 4. Pemadaman busur api pada pemutus daya minyak

Sakelar PMT minyak terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Sakelar PMT dengan banyak menggunakan minyak (Bulk Oil Circuit Breaker), pada tipe ini
minyak berfungsi sebagai peredam loncatan bunga api listrik selama terjadi pemutusan
kontak dan sebagai isolator antara bagian-bagian yang bertegangan dengan badan, jenis PMT
ini juga ada yang dilengkapi dengan alat pembatas busur api listrik.

2. Sakelar PMT dengan sedikit menggunakan minyak (Low oil Content Circuit Breaker), pada tipe
ini minyak hanya dipergunakan sebagai peredam loncatan bunga api listrik, sedangkan
sebagai bahan isolator dari bagian-bagian yang bertegangan digunakan porselen atau
material isolasi dari jenis organic.
Tabel 1. Batas-batas pengusahaan minyak pemutus tenaga

3. Pemutus Daya Udara Tekan (Air blast circuit breaker)


Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus arus sampai 40 kA dan pada rangkaian bertegangan sampai
765 kV. PMT udara hembus dirancang untuk mengatasi kelemahan pada PMT minyak, yaitu dengan membuat media
isolator kontak dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak menghalangi pemisahan kontak, sehingga
pemisahan kontak dapat dilaksanakan dalam waktu yang sangat cepat. Saat busur api timbul, udara tekanan tinggi
dihembuskan ke busur api melalui nozzle pada kontak pemisah dan ionisasi media diantara kontak dipadamkan
oleh hembusan udara tekanan tinggi itu dan juga menyingkirkan partikel-partikel bermuatan dari sela kontak,
udara ini juga berfungsi untuk mencegah restriking voltage (tegangan pukul ulang).

Gambar 5. Pemadaman busur api pada pemutus daya udara hembus


Gambar 6. Air blast CB Rating 500kV

4. PMT hampa udara (Vacuum Circuit Breaker)


Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus rangkaian bertegangan sampai 38 kV. Pada
PMT vakum, kontak ditempatkan pada suatu bilik vakum. Untuk mencegah udara masuk kedalam
bilik, maka bilik ini harus ditutup rapat dan kontak bergeraknya diikat ketat dengan logam
fleksibel.Pemakaian logam fleksibel menyebabkan jarak antar kontak ketika lepas tidak terlalu
jauh, sehingga tegangan kerja-nya pun tidak dapat terlalu tinggi dan elektron-elektron bebas ini
tidak bertemu dengan molekul udara sehingga tidak terjadi proses ionisasi. Akibatnya, tidak ada
penambahan elektron bebas yang mengawali pembentukan busur api. Dengan kata lain, busur api
dapat dipadamkan.. Umumnya ukuran PMT jenis ini sedikit lebih kecil dari PMT udara tekan dan
PMT SF6. Pada gambar 9 terdapat contoh produk PMT vakum berikut karakteristiknya..

Gambar 7. Kontak pemutus daya vakum.


Gambar 8. Vacuum CB Rating 12-24kV buatan VEI

Tabel 2. Karakteristik PMT udara vakum

5. PMT Gas SF6 (SF6 Circuit Breaker)


PMT jenis ini memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan PMT udara tekan.
Perbedaannya terletak pada penggantian penggunaan udara dengan gas SF6 dan sistem yang
tertutup dari udara luar.PMT ini dapat digunakan untuk memutus arus sampai 40 kA dan pada
rangkaian bertegangan sampai 765 kV. Media gas yang digunakan pada tipe ini adalah gas SF6
(Sulphur hexafluoride). Sifat gas SF6 murni adalah tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun
dan tidak mudah terbakar. Pada suhu diatas 150 C, gas SF6 mempunyai sifat tidak merusak metal,
plastic dan bermacam bahan yang umumnya digunakan dalam pemutus tenaga tegangan tinggi.
Sebagai isolasi listrik, gas SF6 mempunyai kekuatan dielektrik yang tinggi (2,35 kali udara) dan kekuatan
dielektrik ini bertambah dengan pertambahan tekanan. Sifat lain dari gas SF6 ialah mampu mengembalikan
kekuatan dielektrik dengan cepat, tidak terjadi karbon selama terjadi busur api dan tidak menimbulkan bunyi pada
saat pemutus tenaga menutup atau membuka.

Gambar 9. SF6 CB Rating 500kV

Tabel 3. Karakteristik gas SF6

Selama pengisian, gas SF6 akan menjadi dingin jika keluar dari tangki penyimpanan dan akan panas kembali
jika dipompakan untuk pengisian kedalam bagian/ruang pemutus tenaga. Oleh karena itu gas SF6 perlu diadakan
pengaturan tekanannya beberapa jam setelah pengisian, pada saat gas SF6 pada suhu lingkungan.

Tabel 4. Batas tekanan gas SF6 pada pemutus tenaga, pada suhu 20C, tekanan atmosphir 760 mmHg.
Sakelar PMT SF6 ada 2 tipe, yaitu:
1. PMT Tipe Tekanan Tunggal (Single Pressure Type), PMT SF6 tipe ini diisi dengan gas SF6 dengan tekanan kira-kira 5
Kg/cm2 . selama pemisahan kontak-kontak, gas SF6 ditekan kedalam suatu tabung yang menempel pada kontak
bergerak. Pada waktu pemutusan kontak terjadi, gas SF6 ditekan melalui nozzle dan tiupan ini yang mematikan
busur api.
2. PMT Tipe Tekanan Ganda (Double Pressure Type), dimana pada saat ini sudah tidak diproduksi lagi. Pada tipe ini, gas
dari sistem tekanan tinggi dialirkan melalui nozzle ke gas sistem tekanan rendah selama pemutusan busur api.
Pada sistem gas tekanan tinggi, tekanan gas SF6 kurang lebih 12 Kg/cm2 dan pada sistem gas tekanan rendah,
tekanan gas SF6 kurang lebih 2 kg/cm2. Gas pada sistem tekanan rendah kemudian dipompakan kembali ke sistem
tekanan tinggi.

C. DISCONNECTING SWITCH
Disconnecting switch (DS) atau Pemisah (PMS) adalah peralatan pada sistem tenaga listrik
yang berfungsi sebagai saklar pemisah yang dapat memutus dan menyambung rangkaian dengan
arus yang rendah (5A), biasa dipakai ketika dilakukan perawatan atau perbaikan. PMS terletak
di antara sumber tenaga listrik dan PMT serta di antara PMT dan beban.
Berdasarkan posisinya, PMS dibagi menjadi 3 macam yaitu PMS jaringan, PMS bus, dan PMS
trafo. Pada dasarnya PMS dipakai untuk membebaskan PMT dari tegangan yang tersambung
kepada PMT tersebut. Agar dapat dilakukan perawatan ataut perbaikan pada PMT tersebut, maka
PMS harus dibuka agar pada PMT tidak terdapat tegangan dan PMT aman bagi teknisi.
di mana,
SP = Saklar Pemutus
PD = Pemutus Daya
SB = Saklar Bumi

Gambar 10. Diagram Sistem PMS

Pada PMS terdapat mekanisme interlocking yang befungsi untuk mengamankan pembukaan
dan penutupan PMS. Mekanisme interlocking tersebut adalah :
PMS tidak dapat ditutup ketika PMT dalam posisi tertutup.
Saklar pembumian (Earthing Switch) dapat ditutup hanya ketika PMS dalam keadaan terbuka.
PMS dapat ditutup hanya ketika PMT dan ES terbuka.
PMT dapat ditutup hanya ketika PMS dalam kondisi telah terbuka atau telah tertutup.

Beberapa macam PMS yang umum digunakan pada sistem jaringan listrik :
PMS Dua Isolator Pemisah Tunggal
Gambar 11. PMS Dua Isolator Pemisah Tunggal
PMS Tiga Isolator Pemisah Ganda

Gambar 12. PMS Tiga Isolator Pemisah Ganda

Contoh PMS yang digunakan pada jaringan sistem tenaga listrik :


Vertical Rotary Center-break Disconnecting switch

Gambar 13. Vertical Rotary Center-break DS Rating 420Kv buatan Electroputere


Tabel 5. Karakteristik Vertical Rotary Center-break Disconnecting switch
Vertical Rotary Disconnecting switch

Gambar 14. Vertical Rotary Disconnecting switch Rating 12-36 kV buatan Electroputere

Tabel 6. Karakteristik Vertical Rotary Disconnecting switch

D.LIGHTNING ARRESTER
Lightning arrester (LA) adalah peralatan pada sistem tenaga listrik Yang berfungsi sebagai pengaman
terhadap tegangan surja yang terjadi ketika terjadi sambaran petir. Sambaran petir pada jaringan hantaran udara
sistem tenaga listrik merupakan suntikan muatan listrik yang menimbulkan kenaikan tegangan sesaat yang cukup
besar pada jaringan. Agar tegangan lebih tersebut tidak merusak isolasi peralatan pada jaringan, maka dipasang
pelindung yang akan mengalirkan surja petir tersebut ke tanah. Terdapat dua macam arrester yang umum
dipergunakan, yaitu :
Jenis Ekspulsi
Arrester jenis ini mempunyai dua jenis sela, yaitu sela luar dan sela dalam. Sela dalam diletakkan di dalam
tabung serat. Ketika pada terminal arrester tiba suatu surja petir, maka kedua sela tepercik. Arus susulan
memanaskan permukaan dalam tabung serat, sehingga tabung akan mengeluarkan gas. Arus tersebut merupakan
arus yang berbentuk sinusoidal, sehingga suatu saat pasti akan mencapai siklus dengan nilai nol. Ketika mencapai
nol, maka gas pada tabung akan menjadi isolasi yang akan memadamkan arus tersebut. Arrester jenis ini mampu
melindungi trafo distribusi dengan rating tegangan 3-15kV, tetapi belum mampu melindungi trafo daya yang
memiliki rating daya lebih besar. Arrester jenis ekspulsi ini dapat juga dipasang pada saluran transmisi hantaran
udara untuk mengurangi gangguan surja petir yang masuk ke gardu induk.

Gambar 15. Arrester Jenis Ekspulsi

Jenis Katup
Arrester jenis ini berupa beberapa sela percik yang dihubungkan seri dengan resistor tak linier.
Resistor tak linier akan memiliki tahanan yang rendah ketika dialiri arus besar dan tahanan akan
menjadi besar ketika arus kecil. Resistor yang umum digunakan berasal dari bahan silikon karbid.
Sela percik dan resistor tak linier ditempatkan pada tabung isolasi sehinggaarrester ini tak
dipengaruhi udara luar.
Metode pengamanan pada arrester ini adalah, ketika terjadi surja petir dan
sela arrester akan tepercik maka akan ada arus masuk yang cukup besar pada arrester. Karena
resistor yang digunakan adalah resistor tak linier, maka ketika awal surja nilai tahanan akan
mengecil karena arus yang membesar. Hal ini akan membatasi tegangan maksimal pada
terminalarrester, namun ketika arus mulai turun maka tahanan resistor membesar, sehingga arus
susulan dapat dihambat oleh nilai tahanan yang besar ini. Biasanya arus dapat dikendalikan hingga
mencapai arus nominal yang dikenal sebagai arus kendali sebesar 50A. Saat tegangan sesaat sistem
nol, percikan akan padam dan arus kendali menjadi nol serta arus susulan tidak berlanjut lagi.
Secara umum arrester jenis katup dibagi menjadi empat jenis, yaitu :
a. Jenis Gardu
b. Jenis Saluran (15-39kV)
c. Jenis Gardu untuk Mesin (2,4-15kV)
d. Jenis Distribusi untuk Mesin (120-750V)

Gambar 16. Arrester Jenis Katup