Anda di halaman 1dari 22

Makalah Tingkah Laku Sapi (Animal Behavior)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tingkah laku atau etologi hewan praktis telah merupakan hal yang penting sejak masa
prasejarah. Tingkah laku ini dimanfaatkan oleh para pemburu dan kemudian oleh masyarakat
untuk menjinakkan hewan-hewan tersebut. Sampai pada pertengahan abad ini, para ilmuwan di
bidang pertanian tidak banyak mengenal ilmu tingkah laku hewan baik secara praktis sebagai hal
yang penting maupun sebagai hal yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Banyak penelitian yang pada mulanya telah dilakukan memuat deskripsi mengenai aspek-aspek
tingkah laku yang telah didefinisikan dengan baik. Para ilmuwan yang mempelajari hewan dalam
lingkungan asalnya disebut ethologist.Beberapa sumbangan pemikiran dibuat oleh para ilmuwan
psikologi yang mempelajari hewan dalam lingkungan laboratorium yang terkontrol, yang
kemudian mengubah factor-faktor lingkungannya satu demi satu dan mencatat pengaruh tersebut
pada tingkah laku hewan.

Sapi merupakan jenis ternak yang tergolong dalam famili Bovidae atau ruminansia, yang
memiliki sistem pencernaan dan siklus reproduksi kompleks dan terintegras. Pemahaman
perilaku sapi dan respon perilaku terhadap perubahan apapun yang terjadi sangat penting untuk
mengetahui dampak yang akan ditimbulkan akibat perubahan tersebut, baik dari segi kesehatan
maupun tingkat produksinya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai perilaku dan perubahan
perilaku pada hewan ruminansia tersebut.

I.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:

a. Bagaimana tingkah laku normal pada sapi?

b. Bagaimana tanda-tanda yang ditunjukkan pada sapi yang normal?

c. Apa saja penyakit yang sering terjadi pada sapi yang menyebabkan perubahan perilaku?

I.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:


a. Untuk mengetahui tingkah laku atau animal behavior normal pada sapi.

b. Untuk mengetahui dan memahami tanda-tanda sapi yang normal.

c. Untuk mengetahui dan memahami penyakit yang sering terjadi pada sapi.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Perilaku Normal Sapi

Perilaku dasar pada hewan seperti makan, minum, tidur, istirahat, aktivitas seksual, eksplorasi,
latihan, bermain, ekplorasi, aktivitas melarikan diri, pemeliharaan dan sebagainya sangat penting
Makalah Tingkah Laku Sapi (Animal Behavior)
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tingkah laku atau etologi hewan praktis telah merupakan hal yang penting sejak masa
prasejarah. Tingkah laku ini dimanfaatkan oleh para pemburu dan kemudian oleh masyarakat
untuk menjinakkan hewan-hewan tersebut. Sampai pada pertengahan abad ini, para ilmuwan di
bidang pertanian tidak banyak mengenal ilmu tingkah laku hewan baik secara praktis sebagai hal
yang penting maupun sebagai hal yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Banyak penelitian yang pada mulanya telah dilakukan memuat deskripsi mengenai aspek-aspek
tingkah laku yang telah didefinisikan dengan baik. Para ilmuwan yang mempelajari hewan dalam
lingkungan asalnya disebut ethologist.Beberapa sumbangan pemikiran dibuat oleh para ilmuwan
psikologi yang mempelajari hewan dalam lingkungan laboratorium yang terkontrol, yang
kemudian mengubah factor-faktor lingkungannya satu demi satu dan mencatat pengaruh tersebut
pada tingkah laku hewan.

Sapi merupakan jenis ternak yang tergolong dalam famili Bovidae atau ruminansia, yang
memiliki sistem pencernaan dan siklus reproduksi kompleks dan terintegras. Pemahaman
perilaku sapi dan respon perilaku terhadap perubahan apapun yang terjadi sangat penting untuk
mengetahui dampak yang akan ditimbulkan akibat perubahan tersebut, baik dari segi kesehatan
maupun tingkat produksinya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai perilaku dan perubahan
perilaku pada hewan ruminansia tersebut.
I.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:

a. Bagaimana tingkah laku normal pada sapi?

b. Bagaimana tanda-tanda yang ditunjukkan pada sapi yang normal?

c. Apa saja penyakit yang sering terjadi pada sapi yang menyebabkan perubahan perilaku?

I.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui tingkah laku atau animal behavior normal pada sapi.

b. Untuk mengetahui dan memahami tanda-tanda sapi yang normal.

c. Untuk mengetahui dan memahami penyakit yang sering terjadi pada sapi.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Perilaku Normal Sapi

Perilaku dasar pada hewan seperti makan, minum, tidur, istirahat, aktivitas seksual, eksplorasi,
latihan, bermain, ekplorasi, aktivitas melarikan diri, pemeliharaan dan sebagainya sangat penting
untuk diketahui dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dan memberi rasa nyaman serta aman
terhadap diri mereka. Kondisi dimana perilaku dasar tersebut tidak terpenuhi akan berdampak
pada kinerja dan produktivitas dari hewan. Beberapa perilaku dapat merugikan kesehatan dan
produksi bahkan jika penyebab perubahan perilaku semakin meningkat maka secara tidak
langsung dapat menyebabkan kerusakan sehingga kembali perlu ditekankan tentang pentingnya
memahami perilaku normal sapi sebagai indikator untuk mengetahui respon perilaku umum.
Kondisi yang menghambat perilaku dasar memaksa menciptakan suatu penggiatan atau
intensifikasi untuk mengatasi hal tersebut.

Contohnya:
- Ketersediaan pakan yang terbatas akan cenderung meningkatkan perilaku sapi yang
menyentuhkan bagian mulutnya ke benda seperti tempat air, memainkan lidahnya, atau
menggertakkan giginya.

- Terjadi respon pertahanan atau ingin melarikan diri dengan intensif yang ditandai dengan
menendang atau menyapukan ekor pada tiang penyangga secara terus menerus apabila ada hal
yang mengancam atau mengganggu.

- Pedet yang mengisap benda lain yang ada disekitarnya ketika tidak tersedia induk untuk
menyusu.

- Ternak yang tidak dibiarkan keluar dari kandangnya untuk jangka waktu yang lama akan
jauh lebih antusias saat digembalakan untuk pertama kali dibandingkan dengan yang

digembalakan setiap hari.

Adapun perilaku sapi secara umum dibagi menjadi lima kategori yang masing-masing dijabarkan
sebagai berikut :

a. Merumput (Grazing)

1. Pola merumput : stereotip (konstan)

- Berjalan melintasi padang rumput,, hidung selalu dekat dengan tanah pada saat merenggut
rumput, dibulat-bulatkan, lalu ditelan

- Cara : rumput dibelit dengan lidah, ditarik, dipotong dengan gigi dengan dibantu oleh
hentakan kepala

2. Sikap merumput

- Berdiri dengan kepala tunduk

- Anak : kadang-kadang berbaring

- Rumput yang diambil paling pendek 1,25 cm

3. Jarak jelajah : selama 24 jam akan bertambah dua kali, bila ;

- Cuaca jelek

- Padang becek

- Rumput jarang

- Banyak ektoparasit (kutu, caplak, tungau) hinggap di tubuh


4. Siklus merumput

- Dalam 24 jam : 4-5 periode merumput

- Paling lama : saat fajar dan senja

- Dapat berlangsung pada malam hari

- Periode merumput : jalan, lalu istirahat, kemudian ruminasi, dan merumput lagi

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola merumput

- Ras : perah atau potong (pedaging)

- Adaptasi terhadap iklim. Misalnya bison pada musim dingin lebih sangat aktif, sapi Eropa
pada iklim sedang lebih aktif, dan sapi Zebu pada iklim tropis dan sub tropis sangat kurang aktif.

- Kapasitas saluran pencernaan atau kemampuan perut (onase). Misalnya pada sapi Zebu
kapasitas saluran pencernaannya lebih kecil, sehingga lebih efisien menerima bahan organis atau
dengan kata lain proses ruminasinya lebih cepat.

- Spesies. Misalnya pada sapi Frisien Holstein (FH) dan Jersey, suhu nyaman ketika periode
merumput sama dan suhu naik ketika pola merumput Jersey lebih lama daripada Frisien Holstein
(FH)

- Perlakuan oleh manusia. Misalnya sapi perah, setelah diperah di pagi hari kegiatan
merumputnya akan berangsur turun sampai pemerahan sore hari dan pada anak sapi yang
dikurung akan merumput dua jam lebih lama karena selektif memilih hijauan (biasa diberikan).

- Umur. Untuk anak sapi yang baru lahir hanya menyusu saja dan bila merumput belum
secara sempurna maka akan sangat selektif.

- Keadaan cuaca lingkungan. Cuaca yang buruk akan menyebabkan aktivitas merumput
terhenti, sedangkan bila temperature lingkungan meningkat, akan terjadi perubahan struktur
kelompok dimana jarak antar individu menjadi renggang.

Gertakan yang menimbulkan perilaku merumput, antara lain:

1. Defoliasi, yaitu pemilihan bagian-bagian yang paling baik atau spesies tertentu dari rumput
yang ada di padang rumput.

- Defoliasi progresif : memilih rumput muda.

- Defoliasi creaning : memilih spesies rumput yang paling disukai


2. Kebijakan nutrisi

- Tingkah laku khas dari hewan yang kekurangan salah satu zat nutrisi.

- Rangsangan dari dalam tubuh untuk memilih apa yang diperlukan oleh tubuh, dalam
usahanya menjaga keseimbangan mineral dalam tubuhnya.

Rangsangan yang menimbulkan perilaku merumput, antara lain :

1. Rangsangan terhadap indera perasa sapi akan memberikan reaksi terhadap rasa pahit.

2. Rangsangan terhadap penciuman dan perabaan bau suatu spesies rumput dapat
mempengaruhi selektivitas merumput.

b. Meranggas (Browsing)

Sapi menggunakan 40% dari waktu makannya untuk meranggas guna memilih tanaman yang
nilai gizinya tinggi, biasanya makan bagian-bagian dari semak atau pohon.

c. Makan (Feeding)

Yang dimaksud dengan makan disini adalah proses makan di dalam kandang atau makan rumput
segar dan konsentrat (di Indonesia) atau hay, silage (di daerah bermusim empat/temperate/sub-
tropis). Untuk ruminansia yang memiliki empat kompartemen lambung dikenal istilah ruminasi
yaitu dimana hewan golongan tersebut setelah memakan rumput akan memuntahkan
(regurgitasi) kembali rumput dari rumen dan reticulum tersebut, setelah itu akan mengunyah
(mastikasi) kembali makanan yang telah dimuntahkan tersebut yang dilakukan sambil istirahat,
dan menelan kembali makanan yang sudah halus dikunyah tersebut. Kelebihan dari ruminansia
adalah bisa makan lebih banyak dalam waktu singkat.

Untuk minum sendiri, perilaku ini dipengaruhi oleh dua daktor, yaitu faktor dalam berupa rasa
haus dan faktor luar yaitu karena melihat air. Adapun jumlah air yang diminum tergantung pada :

- Temperature lingkungan

- Kondisi makanan : kadar air kurang (kering), kadar protein, kadar garam, dan komposisi
ransum.

- Umut kebuntingan

- Bangsa

- Tingkat laktasi
Keseimbangan NaCl (garam dapur) dalam tubuh harus diimbangi dengan banyak minum
sehingga jumlah air disekitar lingkungan sapi harus berlebih atau lebih dikenal dengan
istilah ad-libitum.

d. Perilaku seksual

- Pada sapi jantan

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual sapi jantan, antara lain ; penciuman,
penglihatan, dan pendengaran.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi libido pada sapi jantan, antara lain:

- Ada tidaknya betina birahi

- Seks rasio, dan

- Dominan/subordinan

3. Factor-faktor yang menurunkan libido seksual jantan, antara lain:

- Gangguan psikologis,

- Penyakit,

- Kekurangan nutrisi, dan

- Perubahan iklim

- Pada sapi betina

- Tanda-tanda umum saat estrus, antara lain:

- Sangat reaktif,

- Nafsu makan turun/terganggu,

- Produksi susu turun,

- Tidak tenang/gelisah,

- Ingin dinaiki dan menaiki

- Sering melenguh,
- Mengibas-ibaskan ekornya,

- Frekuensi urinasi meningkat, dan

- Keluar lender berahi dari vulva: liat, bening, dan transparan.

e. Laktasi

- Anak sapi mulai menyusu 2-5 jam setelah kelahiran, yang dimana harus diberikan
colostrums.

- Posisi badan pedet saat menyusu harus sejajar badan induk disebelah kiri atau kanan, tegak
lurus dari samping, dan bisa dari belakang.

- Proses : putting susu dijepit diantara lidah dan langit-langit atas (pallatum) sampai rapat
sehingga tidak tembus udara yang menyebabkan terjadi tekanan dalam mulut sehingga air susu
masuk ke mulut, kemudian ditelan.

- Lama menyusui antara 10-15 menit

- Frekuensi menyusui antara 5-8 kali per 24 jam

- Umumnya makin tua umur anak, maka frekuensi menyusu mulai berkurang karena sudah
mulai makan rumput dan konsentrat.

II.2 Tanda Sapi Normal

Banyak perilaku yang ditunjukkan dengan keras sebagai sebuah respons menuju stimulus fisik
dan fisiologis, tapi pada kenyataannya pengaruh psikologis sekuat fisiologis atau fisik. Sebagai
contoh, sapi alaminya digembalakan, dan konsekuensinya memakan lebih dari apa yang
seharusnya mereka konsumsi.

Hal ini sangat penting untuk dimengerti bahwa pengaruh psikologis dari keterkejutan seperti
mungkin lebih penting daripada terkejut biasa. Pengaruh psikologis sangat besar dampaknya
menimbulkan stress.

Stimulus psikologis menimbulkan tidak hanya beberapa respon hormonal individu, tapi
biasanya menimbulkan sebuah perluasan dari respon ganda yang terjadi bersamaan, sedangkan
stimulus fisik biasanya ditimbulkan dari sebuah respon spesifik yang berusaha untuk
menstabilkan keadaan homeostasis untuk sebuah partikel entitas (seperti tekanan darah atau suhu
tubuh). {3, p. 294}

Efek psikologis biasanya lebih kuat dan lebih persisten dari pengaruh negative lainnya.

Beberapa landasan keadaan psikologis dan fisik sapi yang perlu di pahami dengan baik, antara
lain sebagai berikut :
- Pahami respon pertahanannya (survival response). Sapi dalam evolusi kehidupannya selalu
menjadi hewan yang dimangsa (prey animal). Dengan mengandalkan indera penciuman dan
penglihatan mereka mendeteksi adanya bahaya dari predator, kemudian melakukan reaksi atau
respon dengan cara melarikan diri.

- Sapi selalu merasa khawatir terhadap segala sesuatu yang baru dan belum mereka kenali.
Hal ini merupakan dasar psikologis pertahanan diri sapi. Sapi baru akan merasa tenang setelah
mereka mengenali dan mengetahui bahwa hal tersebut tidak berbahaya. Dilingkungan peternakan
hal ini dapat berupa adanya orang baru yang mendekati atau ada sesuatu hal yang berbeda dari
biasanya pada lingkungan pertenakan tersebut. Hal baru tersebut biasanya tidak disadari oleh
peternak, yang terlihat hanyalah sapi tersebut berperilaku lain dari biasanya, bisa berupa tidak
mau segera makan, berkumpul di sudut kandang, atau menjadi tidak penurut. Sapi yang lebih
tenang biasanya hanya akan menatap sesuatu yang mereka takuti dan hal ini dapat menjadi
petunjuk dimana sumber ketakutan dari sapi tersebut. Untuk sapi yang lebih liar, biasanya akan
secara langsung bereaksi dengan melarikan diri dari sesuatu yang ditakutinya.

- Indera pendengaran sapi sangat sensitif, jauh lebih sensitive dibanding dengan pendengaran
manusia, terutama pada suara frekuensi tinggi.

- Kedua mata sapi terpisah berjauhan, sehingga masing-masing matanya bisa melihat ke arah
sudut yang berbeda. Letak kedua mata tersebut memungkinkan mereka dapat melihat kebelakang
tanpa menoleh, sehingga mereka bisa tetap waspada terhadap predator yang datang dari belakang
saat merumput.

II.3 Penyakit pada Sapi

a. Penyakit Brucellosis (Keluron Menular)

Brucellosis adalah penyakit ternak menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi,
dan sekunder pada berbagai jenis ternak lainnya serta manusia. Pada sapi penyakit ini dikenal
sebagai penyakit Kluron atau pengakit Bang. Brucellosis yang menimbulkan masalah pada
ternak terutama disebabkan oleh tiga spesies, yaitu Brucella melitensis, yang menyerang
kambing, Brucella abortus, yang menyerang sapi, dan Brucella suis, yang menyerang babi dan
sapi.
- Tanda umum: pada sapi betina akan memperlihatkan perilaku berupa lesu, nafsu makan
menurun dan tubuh yang kurus serta terjadi keguguran.

b. Mastitis atau radang ambing

Mastitis atau radang ambing merupakan penyakit yang sering terjadi pada sapi perah, tidak
hanya di Indonesia namun juga di dunia. Mastitis merupakan peradangan kelenjar susu yang
disertai dengan perubahan fisik, kimiawi, dan mikrobiologi. Secara fisis pada air susu saapi
penderita mastitis klinis terjadi perubahan warna, bau, rasa dan konsistensi.

- Gejala klinis : bentuk ambing yang asimetris, bengkak, ada luka, dan rasa sakit pada sapi
ketika ambing dipegang.

c. Antraks atau radang limpa

Penyakit antraks (Anthrax) merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Bacillus
anthracis.

- Tanda umum pada tipe akut dan kronis: demam, sesak nafas (dyspnea), depresi, dan lemah
serta kadang disertai kejang. Tanda-tanda ini biasanya berbeda pada tiap spesies.

d. Pneumonia (radang paru)

Penyakit radang paru ini terutama disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan virus.
Namun, cuaca yang ektrim dan perubahan lingkungan seringkali mendorong timbulnya
pneumonia.

- Tanda umum: hidung terus-menerus mengeluarkan lendir, cekung hidung kering, demam,
batuk-batuk, frekuensi pernapasan cepat dan dangkal bahkan terkadang terjadi kesulitan
bernapas, nafsu makan dan berat badan menurun.

e. Septicemia Epizootica (SE)/ Ngorok

Penyakit Sepricemia Epizootica adalah penyakit menular terutama pada kerbau, sapi, babi, dan
kadang-kadang pada domba dan kuda yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida tipe
tertentu.

- Tanda umum: kematian, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan serta kehilangan
tenaga untuk membantu pertanian dan pengangkutan.

f. Penyakit Pink Eye

Pink Eye merupakan penyakit mata akut yang menular pada sapi, domba maupun kambing,
biasanya bersifat epizootic dan ditandai dengan memerahnya conjungtiva dan kekeruhan mata.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, virus, ritketsia maupun Chlamydia, namun yang paling
sering ditemukan adalah akibat bakteri Maraxella bovis.

- Tanda umum: mata berair, kemerahan pada bagian mata yang putih dan kelopaknya,
bengkak pada kelopak mata dan cenderung menjulingkan mata untuk menghindari sinar
matahari. Kadang-kadang terjadi borok atau lubang pada selaput bening mata yang dimana borok
tersebut dapat pecah dan mengakibatkan kebutaan.

g. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

Penyakit mulut dan kuku (PMK) disebut juga foot and mouth disease (FMD) atau Aphtae
Epizooticae (AE). Penyakit ini merupakan penyakit akut dan sangat menular yang menyerang
sapi, kerbau, babi, kambing, domba, dan hewan berkuku genap lainnya. Infeksi ditandai dengan
pembentukan lepuh yang kemudian berkembang menjadi erosi pada selaput lendir mulut,
diantara kuku, lekuk koroner kaki dan putting susu. Penyebab PMK adalah virus RNA,
berdiameter 20 mu.

- Tanda umum: lesu, suhu tubuh dapat mencapai 41oC, hypersalivasi (karena erosi selaput
lendir mulut dan lidah), nafsu makan berkurang, enggan berdiri (karena luka pada interdigital),
penurunan produksi susu secara mendadak, penurunan berat badan yang terjadi serentak pada
suatu kelompok hewan. Selain itu gejala khas berupa lepuh-lepuh diruang mulut terutama bagian
atas , bibir bagian dalam, gusi, langit-langit, dan sekali-kali pada selaput lendir mata.

h. Keropos kuku atau kuku busuk

Penyakit ini walaupun tidak mematikan namun mengganggu produksi. Disebabkan oleh
mikroorganisme seperti bakteri atau kuman.

- Tanda umum: kepincangan, kuku koyak, dan berbau busuk.

BAB III
KESIMPULAN

III.1 Kesimpulan

1. Perilaku dasar pada hewan seperti makan, minum, tidur, istirahat, aktivitas seksual,
eksplorasi, latihan, bermain, ekplorasi, aktivitas melarikan diri, pemeliharaan dan sebagainya
sangat penting untuk diketahui dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dan memberi rasa
nyaman serta aman terhadap diri mereka. Kondisi dimana perilaku dasar tersebut tidak terpenuhi
akan berdampak pada kinerja dan produktivitas dari hewan.

2. Perilaku sapi secara umum dibagi menjadi lima kategori, yaitu: Merumput (Grazing),
Meranggas (Browsing), Makan (Feeding), Perilaku seksual, dan Laktasi.

3. Efek psikologis biasanya lebih kuat dan lebih persisten dari pengaruh negative lainnya.

4. Adapun beberapa penyakit pada sapi, antara lain:

- Penyakit Brucellosis (Keluron Menular)

- Mastitis atau radang ambing,

- Antraks atau radang limpa

- Pneumonia (radang paru)

- Septicemia Epizootica (SE)/ Ngorok

- Penyakit Pink Eye

- Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

- Keropos kuku atau kuku busuk

DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar. 2012. Pedoman Pelaksanaan Pengawalan Dan Koordinasi Perbibitan Tahun 2012.
Direktorat Perbibitan Ternak Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian 2012.

Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor Barat. 2010. Syarat Kesehatan Hewan Sapi Bibit Ditinjau
dari Penyakit Bakteri. Diakses http://www.bbalitvet.org/index.php?option=com_conte
nt&task=view&id=298&Itemid=1 pada tanggal 02 Oktober 2013 pukul 16.00 WITA.
Dellmeier, G.R., et al. 1985.Comparison of Four Methods of Calf Confinement:
II)Behavior. Journal of Animal Science, 60(5):1102-1109.

Friend, T. 1991. Behavioral Aspect of Stress. Journal of Dairy Science, 74:292-303.

http://tonysapi.multiply.com. Diakses pada tanggal 02 Oktober 2013 pukul 16.20 WITA

Krohn, C.C. 1994. Behavior of Dairy Cows Kept in Extensive (loose housing/pasture) or
Intensive (tie stall) Environments:III) grooming, Exploration and Abnormal Behavior. Applied
Animal Behavior Science.

Munksgaard, 1995. Conversation on Dairy-L electronic bulletin boars.

Vande, Nursholeh. 2011. Human Physiology. Company, Tanjung Jabung Timur. Unja Nanda,
2012. Fakultas Peternakan Universitas Haluoleo.

untuk diketahui dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dan memberi rasa nyaman serta aman
terhadap diri mereka. Kondisi dimana perilaku dasar tersebut tidak terpenuhi akan berdampak
pada kinerja dan produktivitas dari hewan. Beberapa perilaku dapat merugikan kesehatan dan
produksi bahkan jika penyebab perubahan perilaku semakin meningkat maka secara tidak
langsung dapat menyebabkan kerusakan sehingga kembali perlu ditekankan tentang pentingnya
memahami perilaku normal sapi sebagai indikator untuk mengetahui respon perilaku umum.
Kondisi yang menghambat perilaku dasar memaksa menciptakan suatu penggiatan atau
intensifikasi untuk mengatasi hal tersebut.

Contohnya:

- Ketersediaan pakan yang terbatas akan cenderung meningkatkan perilaku sapi yang
menyentuhkan bagian mulutnya ke benda seperti tempat air, memainkan lidahnya, atau
menggertakkan giginya.

- Terjadi respon pertahanan atau ingin melarikan diri dengan intensif yang ditandai dengan
menendang atau menyapukan ekor pada tiang penyangga secara terus menerus apabila ada hal
yang mengancam atau mengganggu.

- Pedet yang mengisap benda lain yang ada disekitarnya ketika tidak tersedia induk untuk
menyusu.

- Ternak yang tidak dibiarkan keluar dari kandangnya untuk jangka waktu yang lama akan
jauh lebih antusias saat digembalakan untuk pertama kali dibandingkan dengan yang

digembalakan setiap hari.

Adapun perilaku sapi secara umum dibagi menjadi lima kategori yang masing-masing dijabarkan
sebagai berikut :
a. Merumput (Grazing)

1. Pola merumput : stereotip (konstan)

- Berjalan melintasi padang rumput,, hidung selalu dekat dengan tanah pada saat merenggut
rumput, dibulat-bulatkan, lalu ditelan

- Cara : rumput dibelit dengan lidah, ditarik, dipotong dengan gigi dengan dibantu oleh
hentakan kepala

2. Sikap merumput

- Berdiri dengan kepala tunduk

- Anak : kadang-kadang berbaring

- Rumput yang diambil paling pendek 1,25 cm

3. Jarak jelajah : selama 24 jam akan bertambah dua kali, bila ;

- Cuaca jelek

- Padang becek

- Rumput jarang

- Banyak ektoparasit (kutu, caplak, tungau) hinggap di tubuh

4. Siklus merumput

- Dalam 24 jam : 4-5 periode merumput

- Paling lama : saat fajar dan senja

- Dapat berlangsung pada malam hari

- Periode merumput : jalan, lalu istirahat, kemudian ruminasi, dan merumput lagi

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola merumput

- Ras : perah atau potong (pedaging)

- Adaptasi terhadap iklim. Misalnya bison pada musim dingin lebih sangat aktif, sapi Eropa
pada iklim sedang lebih aktif, dan sapi Zebu pada iklim tropis dan sub tropis sangat kurang aktif.

- Kapasitas saluran pencernaan atau kemampuan perut (onase). Misalnya pada sapi Zebu
kapasitas saluran pencernaannya lebih kecil, sehingga lebih efisien menerima bahan organis atau
dengan kata lain proses ruminasinya lebih cepat.
- Spesies. Misalnya pada sapi Frisien Holstein (FH) dan Jersey, suhu nyaman ketika periode
merumput sama dan suhu naik ketika pola merumput Jersey lebih lama daripada Frisien Holstein
(FH)

- Perlakuan oleh manusia. Misalnya sapi perah, setelah diperah di pagi hari kegiatan
merumputnya akan berangsur turun sampai pemerahan sore hari dan pada anak sapi yang
dikurung akan merumput dua jam lebih lama karena selektif memilih hijauan (biasa diberikan).

- Umur. Untuk anak sapi yang baru lahir hanya menyusu saja dan bila merumput belum
secara sempurna maka akan sangat selektif.

- Keadaan cuaca lingkungan. Cuaca yang buruk akan menyebabkan aktivitas merumput
terhenti, sedangkan bila temperature lingkungan meningkat, akan terjadi perubahan struktur
kelompok dimana jarak antar individu menjadi renggang.

Gertakan yang menimbulkan perilaku merumput, antara lain:

1. Defoliasi, yaitu pemilihan bagian-bagian yang paling baik atau spesies tertentu dari rumput
yang ada di padang rumput.

- Defoliasi progresif : memilih rumput muda.

- Defoliasi creaning : memilih spesies rumput yang paling disukai

2. Kebijakan nutrisi

- Tingkah laku khas dari hewan yang kekurangan salah satu zat nutrisi.

- Rangsangan dari dalam tubuh untuk memilih apa yang diperlukan oleh tubuh, dalam
usahanya menjaga keseimbangan mineral dalam tubuhnya.

Rangsangan yang menimbulkan perilaku merumput, antara lain :

1. Rangsangan terhadap indera perasa sapi akan memberikan reaksi terhadap rasa pahit.

2. Rangsangan terhadap penciuman dan perabaan bau suatu spesies rumput dapat
mempengaruhi selektivitas merumput.

b. Meranggas (Browsing)

Sapi menggunakan 40% dari waktu makannya untuk meranggas guna memilih tanaman yang
nilai gizinya tinggi, biasanya makan bagian-bagian dari semak atau pohon.

c. Makan (Feeding)
Yang dimaksud dengan makan disini adalah proses makan di dalam kandang atau makan rumput
segar dan konsentrat (di Indonesia) atau hay, silage (di daerah bermusim empat/temperate/sub-
tropis). Untuk ruminansia yang memiliki empat kompartemen lambung dikenal istilah ruminasi
yaitu dimana hewan golongan tersebut setelah memakan rumput akan memuntahkan
(regurgitasi) kembali rumput dari rumen dan reticulum tersebut, setelah itu akan mengunyah
(mastikasi) kembali makanan yang telah dimuntahkan tersebut yang dilakukan sambil istirahat,
dan menelan kembali makanan yang sudah halus dikunyah tersebut. Kelebihan dari ruminansia
adalah bisa makan lebih banyak dalam waktu singkat.

Untuk minum sendiri, perilaku ini dipengaruhi oleh dua daktor, yaitu faktor dalam berupa rasa
haus dan faktor luar yaitu karena melihat air. Adapun jumlah air yang diminum tergantung pada :

- Temperature lingkungan

- Kondisi makanan : kadar air kurang (kering), kadar protein, kadar garam, dan komposisi
ransum.

- Umut kebuntingan

- Bangsa

- Tingkat laktasi

Keseimbangan NaCl (garam dapur) dalam tubuh harus diimbangi dengan banyak minum
sehingga jumlah air disekitar lingkungan sapi harus berlebih atau lebih dikenal dengan
istilah ad-libitum.

d. Perilaku seksual

- Pada sapi jantan

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual sapi jantan, antara lain ; penciuman,
penglihatan, dan pendengaran.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi libido pada sapi jantan, antara lain:

- Ada tidaknya betina birahi

- Seks rasio, dan

- Dominan/subordinan

3. Factor-faktor yang menurunkan libido seksual jantan, antara lain:


- Gangguan psikologis,

- Penyakit,

- Kekurangan nutrisi, dan

- Perubahan iklim

- Pada sapi betina

- Tanda-tanda umum saat estrus, antara lain:

- Sangat reaktif,

- Nafsu makan turun/terganggu,

- Produksi susu turun,

- Tidak tenang/gelisah,

- Ingin dinaiki dan menaiki

- Sering melenguh,

- Mengibas-ibaskan ekornya,

- Frekuensi urinasi meningkat, dan

- Keluar lender berahi dari vulva: liat, bening, dan transparan.

e. Laktasi

- Anak sapi mulai menyusu 2-5 jam setelah kelahiran, yang dimana harus diberikan
colostrums.

- Posisi badan pedet saat menyusu harus sejajar badan induk disebelah kiri atau kanan, tegak
lurus dari samping, dan bisa dari belakang.

- Proses : putting susu dijepit diantara lidah dan langit-langit atas (pallatum) sampai rapat
sehingga tidak tembus udara yang menyebabkan terjadi tekanan dalam mulut sehingga air susu
masuk ke mulut, kemudian ditelan.

- Lama menyusui antara 10-15 menit

- Frekuensi menyusui antara 5-8 kali per 24 jam

- Umumnya makin tua umur anak, maka frekuensi menyusu mulai berkurang karena sudah
mulai makan rumput dan konsentrat.
II.2 Tanda Sapi Normal

Banyak perilaku yang ditunjukkan dengan keras sebagai sebuah respons menuju stimulus fisik
dan fisiologis, tapi pada kenyataannya pengaruh psikologis sekuat fisiologis atau fisik. Sebagai
contoh, sapi alaminya digembalakan, dan konsekuensinya memakan lebih dari apa yang
seharusnya mereka konsumsi.

Hal ini sangat penting untuk dimengerti bahwa pengaruh psikologis dari keterkejutan seperti
mungkin lebih penting daripada terkejut biasa. Pengaruh psikologis sangat besar dampaknya
menimbulkan stress.

Stimulus psikologis menimbulkan tidak hanya beberapa respon hormonal individu, tapi
biasanya menimbulkan sebuah perluasan dari respon ganda yang terjadi bersamaan, sedangkan
stimulus fisik biasanya ditimbulkan dari sebuah respon spesifik yang berusaha untuk
menstabilkan keadaan homeostasis untuk sebuah partikel entitas (seperti tekanan darah atau suhu
tubuh). {3, p. 294}

Efek psikologis biasanya lebih kuat dan lebih persisten dari pengaruh negative lainnya.

Beberapa landasan keadaan psikologis dan fisik sapi yang perlu di pahami dengan baik, antara
lain sebagai berikut :

- Pahami respon pertahanannya (survival response). Sapi dalam evolusi kehidupannya selalu
menjadi hewan yang dimangsa (prey animal). Dengan mengandalkan indera penciuman dan
penglihatan mereka mendeteksi adanya bahaya dari predator, kemudian melakukan reaksi atau
respon dengan cara melarikan diri.

- Sapi selalu merasa khawatir terhadap segala sesuatu yang baru dan belum mereka kenali.
Hal ini merupakan dasar psikologis pertahanan diri sapi. Sapi baru akan merasa tenang setelah
mereka mengenali dan mengetahui bahwa hal tersebut tidak berbahaya. Dilingkungan peternakan
hal ini dapat berupa adanya orang baru yang mendekati atau ada sesuatu hal yang berbeda dari
biasanya pada lingkungan pertenakan tersebut. Hal baru tersebut biasanya tidak disadari oleh
peternak, yang terlihat hanyalah sapi tersebut berperilaku lain dari biasanya, bisa berupa tidak
mau segera makan, berkumpul di sudut kandang, atau menjadi tidak penurut. Sapi yang lebih
tenang biasanya hanya akan menatap sesuatu yang mereka takuti dan hal ini dapat menjadi
petunjuk dimana sumber ketakutan dari sapi tersebut. Untuk sapi yang lebih liar, biasanya akan
secara langsung bereaksi dengan melarikan diri dari sesuatu yang ditakutinya.

- Indera pendengaran sapi sangat sensitif, jauh lebih sensitive dibanding dengan pendengaran
manusia, terutama pada suara frekuensi tinggi.

- Kedua mata sapi terpisah berjauhan, sehingga masing-masing matanya bisa melihat ke arah
sudut yang berbeda. Letak kedua mata tersebut memungkinkan mereka dapat melihat kebelakang
tanpa menoleh, sehingga mereka bisa tetap waspada terhadap predator yang datang dari belakang
saat merumput.

II.3 Penyakit pada Sapi

a. Penyakit Brucellosis (Keluron Menular)

Brucellosis adalah penyakit ternak menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi,
dan sekunder pada berbagai jenis ternak lainnya serta manusia. Pada sapi penyakit ini dikenal
sebagai penyakit Kluron atau pengakit Bang. Brucellosis yang menimbulkan masalah pada
ternak terutama disebabkan oleh tiga spesies, yaitu Brucella melitensis, yang menyerang
kambing, Brucella abortus, yang menyerang sapi, dan Brucella suis, yang menyerang babi dan
sapi.

- Tanda umum: pada sapi betina akan memperlihatkan perilaku berupa lesu, nafsu makan
menurun dan tubuh yang kurus serta terjadi keguguran.

b. Mastitis atau radang ambing

Mastitis atau radang ambing merupakan penyakit yang sering terjadi pada sapi perah, tidak
hanya di Indonesia namun juga di dunia. Mastitis merupakan peradangan kelenjar susu yang
disertai dengan perubahan fisik, kimiawi, dan mikrobiologi. Secara fisis pada air susu saapi
penderita mastitis klinis terjadi perubahan warna, bau, rasa dan konsistensi.

- Gejala klinis : bentuk ambing yang asimetris, bengkak, ada luka, dan rasa sakit pada sapi
ketika ambing dipegang.

c. Antraks atau radang limpa

Penyakit antraks (Anthrax) merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Bacillus
anthracis.

- Tanda umum pada tipe akut dan kronis: demam, sesak nafas (dyspnea), depresi, dan lemah
serta kadang disertai kejang. Tanda-tanda ini biasanya berbeda pada tiap spesies.
d. Pneumonia (radang paru)

Penyakit radang paru ini terutama disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan virus.
Namun, cuaca yang ektrim dan perubahan lingkungan seringkali mendorong timbulnya
pneumonia.

- Tanda umum: hidung terus-menerus mengeluarkan lendir, cekung hidung kering, demam,
batuk-batuk, frekuensi pernapasan cepat dan dangkal bahkan terkadang terjadi kesulitan
bernapas, nafsu makan dan berat badan menurun.

e. Septicemia Epizootica (SE)/ Ngorok

Penyakit Sepricemia Epizootica adalah penyakit menular terutama pada kerbau, sapi, babi, dan
kadang-kadang pada domba dan kuda yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida tipe
tertentu.

- Tanda umum: kematian, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan serta kehilangan
tenaga untuk membantu pertanian dan pengangkutan.

f. Penyakit Pink Eye

Pink Eye merupakan penyakit mata akut yang menular pada sapi, domba maupun kambing,
biasanya bersifat epizootic dan ditandai dengan memerahnya conjungtiva dan kekeruhan mata.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, virus, ritketsia maupun Chlamydia, namun yang paling
sering ditemukan adalah akibat bakteri Maraxella bovis.

- Tanda umum: mata berair, kemerahan pada bagian mata yang putih dan kelopaknya,
bengkak pada kelopak mata dan cenderung menjulingkan mata untuk menghindari sinar
matahari. Kadang-kadang terjadi borok atau lubang pada selaput bening mata yang dimana borok
tersebut dapat pecah dan mengakibatkan kebutaan.

g. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

Penyakit mulut dan kuku (PMK) disebut juga foot and mouth disease (FMD) atau Aphtae
Epizooticae (AE). Penyakit ini merupakan penyakit akut dan sangat menular yang menyerang
sapi, kerbau, babi, kambing, domba, dan hewan berkuku genap lainnya. Infeksi ditandai dengan
pembentukan lepuh yang kemudian berkembang menjadi erosi pada selaput lendir mulut,
diantara kuku, lekuk koroner kaki dan putting susu. Penyebab PMK adalah virus RNA,
berdiameter 20 mu.

- Tanda umum: lesu, suhu tubuh dapat mencapai 41oC, hypersalivasi (karena erosi selaput
lendir mulut dan lidah), nafsu makan berkurang, enggan berdiri (karena luka pada interdigital),
penurunan produksi susu secara mendadak, penurunan berat badan yang terjadi serentak pada
suatu kelompok hewan. Selain itu gejala khas berupa lepuh-lepuh diruang mulut terutama bagian
atas , bibir bagian dalam, gusi, langit-langit, dan sekali-kali pada selaput lendir mata.

h. Keropos kuku atau kuku busuk

Penyakit ini walaupun tidak mematikan namun mengganggu produksi. Disebabkan oleh
mikroorganisme seperti bakteri atau kuman.

- Tanda umum: kepincangan, kuku koyak, dan berbau busuk.

BAB III

KESIMPULAN

III.1 Kesimpulan

1. Perilaku dasar pada hewan seperti makan, minum, tidur, istirahat, aktivitas seksual,
eksplorasi, latihan, bermain, ekplorasi, aktivitas melarikan diri, pemeliharaan dan sebagainya
sangat penting untuk diketahui dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dan memberi rasa
nyaman serta aman terhadap diri mereka. Kondisi dimana perilaku dasar tersebut tidak terpenuhi
akan berdampak pada kinerja dan produktivitas dari hewan.

2. Perilaku sapi secara umum dibagi menjadi lima kategori, yaitu: Merumput (Grazing),
Meranggas (Browsing), Makan (Feeding), Perilaku seksual, dan Laktasi.

3. Efek psikologis biasanya lebih kuat dan lebih persisten dari pengaruh negative lainnya.

4. Adapun beberapa penyakit pada sapi, antara lain:

- Penyakit Brucellosis (Keluron Menular)

- Mastitis atau radang ambing,

- Antraks atau radang limpa


- Pneumonia (radang paru)

- Septicemia Epizootica (SE)/ Ngorok

- Penyakit Pink Eye

- Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

- Keropos kuku atau kuku busuk

DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar. 2012. Pedoman Pelaksanaan Pengawalan Dan Koordinasi Perbibitan Tahun 2012.
Direktorat Perbibitan Ternak Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian 2012.

Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor Barat. 2010. Syarat Kesehatan Hewan Sapi Bibit Ditinjau
dari Penyakit Bakteri. Diakses http://www.bbalitvet.org/index.php?option=com_conte
nt&task=view&id=298&Itemid=1 pada tanggal 02 Oktober 2013 pukul 16.00 WITA.

Dellmeier, G.R., et al. 1985.Comparison of Four Methods of Calf Confinement:


II)Behavior. Journal of Animal Science, 60(5):1102-1109.

Friend, T. 1991. Behavioral Aspect of Stress. Journal of Dairy Science, 74:292-303.

http://tonysapi.multiply.com. Diakses pada tanggal 02 Oktober 2013 pukul 16.20 WITA

Krohn, C.C. 1994. Behavior of Dairy Cows Kept in Extensive (loose housing/pasture) or
Intensive (tie stall) Environments:III) grooming, Exploration and Abnormal Behavior. Applied
Animal Behavior Science.

Munksgaard, 1995. Conversation on Dairy-L electronic bulletin boars.

Vande, Nursholeh. 2011. Human Physiology. Company, Tanjung Jabung Timur. Unja Nanda,
2012. Fakultas Peternakan Universitas Haluoleo.