Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ANALISA FARMASI

POTENSIOMETRI

DISUSUN OLEH

NAMA : ATIKAH AFIFAH PARINDURI

NIM : 08061181520008

KELAS :B

DOSEN PEMBIMBING : LAIDA NETI MULYANI, S .Si., M.Si,

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI FARMASI

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017

Page | 1
Pengertian Potensiometri

Potensiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari pengukuran perubahan


potensial dari elektroda. Potensiometri adalah suatu cara analisis berdasarkan pengukuran beda
potensial sel dari suatu sel elektrokimia. Metode potensiometri digunakan untuk menentukan
konsentrasi suatu ion (ion selective electrode), pH suatu larutan, dan menentukan titik akhir titrasi.
Keuntungan motode potensiometri
1. Bisa dilakukan untuk semua titrasi
2. Kurva titrasi berhubungan antara potensial terhadap volume titran
3. Digunakan bila :
Tidak ada indikator yang sesuai
Daerah titik equivalen sangat pendek

Kekurangan metode potensiometri:

1. diperlukan pencampuran yang akurat dari volume standar maupun sampel yang
akan diukur.
2. diperlukan perhitungan yang lebih rumit.
3. konsentrasi sampel harus diketahui.

Potensiometri adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pengukuran potensial


atau voltage dari suatu sel elektrokimia yang terdiri dari elektroda dan larutan. Larutan tersebut
berisi komponen utama yang mempunyai kemampuan mengion.
Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu, pertama
(potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial dari suatu aktivitas ion

Page | 2
yang diamati, hal ini terutama diterapkan dalam pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi
langsung), ion dapat dititrasi dan potensialnya diukur sebagai fungsi volume titran. Potensial
sel, diukur sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen. Suatu potensial sel
galvani bergantung pada aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan sel, pengukuran potensial sel
menjadi penting dalam banyak analisis kimia.

Prinsip Kerja Potensiometri


Prinsip Dasar metode potensiometri adalah membuat sel elektrik dari analit suatu larutan
sehingga perbedaan potensial sel tersebut berkaitan dengan konsentrasi larutan. Metode
potensiometri langsung digunakan dalam bidang pengawasan mutu (quality control) di berbagai
industri atau laboratorium pengawasan mutu.pengukuran pH, misalnya di bidang farmasi
diperlukan untuk memastikan stabilitas larutan obat dalam rentang pH tertentu atau menentukan
pH dari media yang cocok bagi pertumbuhan mikroba pada uji mikrobiologi.
Potensial yang stabil, pada pengukuran umumnya dicapai dalam waktu singkat sehingga
metode potensiometri langusng, dapat digunakan untuk memonitor secara kontinyu kualitas
hasil produksi. Sistem elektrode sensistif molekul (molecular-sensitive electrode system) atau
dikenal dengan sensor banyak digunakan untuk pemeriksaan darah atau urin dalam analisis
klinik. Ada dua jenis sensor selektif yang telah dikembangkan untuk penetapan kadar
metabolit tertentu dalam sampel biomedik, yaitu: Gas-Sensinng Probes dan Enzyme-Based
Biosensor.
Metode potensiometri memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya
antara lain: inventasi maupun biaya operasional relatif murah, mudah digunakan, cocok untuk
pengujian di lapangan, non-destruktif, dan tersedia berbagai elektrode atau sensor untuk ion
maupun molekul. Beberapa kelemahan dari metoda ini antara lain: kurang sensitif, kurang akurat
karena: kemungkinan kesalahan karena variasi junction potensial, karena tersumbatnya pori
jembatan garam, potensial larutan lebih ditentukan oleh aktivitas ion sedangkan yang ditetapkan
adalah konsentrasi, dan kemungkinan kesalahan karena ion-ion pengganggu atau matrix effect,
kesalahan kalibrasi karena perbedaan matrik antara sampel dengan larutan standar, hasil
pengukkuran tergantung dari suhu.
Elektrode pembanding yang umum digunakan pada metode ini adlah elektrode kallomel
(SCE) atau elektrode Ag-AgCl. Elektroda indikator yang digunakan adalah elektroda yang
sensitif terhadap ion analit (ISE) atau molekul (Gas-Sensing Probes atau Enzyme-Based
Biosensor). Elektroda jenis selektif ion (ion selective electrode) yaitu: elektrode kaca, elektrode

Page | 3
membran kristal (solid stateelectrode) dan elektrode membran cair. Gas-sensing probes adalah
sel elektrokimia yang terdiri dari elektrrode ion selektif dan elektrode pembanding yang tercelup
dalam larutan internal yang ditahan dengan film berupa lapisan tipis larutan internal dan
membran tembus gas (gas-permeable membrane) diluarnya. Enzyme-Based Biosensor terdiri dari
lapisan immobilized enzyme pada ujung elektroda selektif ion (ISE) dengan membran pelindung
di bagian luar enzim tersebut.
Pengukuran pada potensiometri langsung dapat dilakukan secara sederhana dan cepat
yaitu dengan membandingkan hasil pengukuran langsung terhadap sampel dengan hasil
pengukuran dari satu atau lebih larutan standar. Perhitungan pada metode ppenetapan kadar
dengan potensiometri langsung dapat dilakukan dengan metode: kalibrasi elektrode, kurva
kalibrasi, dan metode adisi standar (Standard Addition Method).
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan
elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan
menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai
kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir
titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan
titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan
tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume
dimana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Dalam titrasi
secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan, dan hasil
pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu
kurva titrasi.
Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi
pembentukan kompleks, reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada reaksi
pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan membebaskan ion
terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam
dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti
dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.
Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi
redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang
harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990).

Page | 4
Persamaan Nernst memberikan hubungan antara potensial relatif suatu elektroda dan
konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dalam larutan. Potensiometri merupakan aplikasi
langsung dari persaman Nernst dengan cara pengukuran potensial dua elektroda tidak
terpolarisasi pada kondisi arus nol. Dengan pengukuran pengukuran potensial reversibel suatu
elektroda, maka perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat dilakukan (Rivai,
1995).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan sejumlah kecil
volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat automatik. Presisi dapat
dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang digunakan dalam titrasi
potensiometri tentu saja akan bergantung pada macam reaksi yang sedang diselidiki. Jadi untuk
suatu titrasi asam basa, elektroda indikator dapat berupa elektroda hidrogen atau sesuatu
elektroda lain yang peka akan ion hidrogen, untuk titrasi pengendapan halida dengan perak
nitrat, atau perak dengan klorida akan digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi redoks
(misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan kawat platinum semata-mata sebagai elektroda
redoks (Khopkar, 1990).

Instrumentasi potensiometri

1. Ph Meter
Pada prinsipnya pengukuran suatu pH adalah didasarkan pada potensial elektro kimia
yang terjadi antara larutan yang terdapat didalam elektroda gelas (membrane gelas) yang

Page | 5
telah diketahui dengan larutan yang terdapat diluar elektroda gelas yang tidak diketahui.
Hal ini dikarenakan lapisan tipis dari gelembung kaca akan berinteraksi dengan ion
hidrogen yang ukurannya relatif kecil dan aktif, elektroda gelas tersebut akan mengukur
potensial elektrokimia dari ion hidrogen atau diistilahkan dengan potential of hidrogen.

2. Elektroda

(1) elektrode
pembanding (refferen ce electrode)
(2) elektroda indikator ( indicator
electrode )
(3) alat pengukur potensial

Elektoda potensiometri
1. Elektode Pembanding
Di dalam beberapa penggunaan analisis elektrokimia, diperlukan suatu elektrode
pembanding (refference electrode) yang memiliki syarat harga potensial setengah sel yang
diketahui, konstan, dan sama sekali tidak peka terhadap komposisi larutan yang sedang
selidiki. Pasangan elektrode pembanding adalah elektrode indikator (disebut juga working
electrode) yang potensialnya bergantung pada konsentrasi zat yang sedang dianaisis.
Syaratnya adalah:
1. Mematuhi persamaan Nersnt bersifat reversible
2. Memiliki potensial elektroda yang konstan oleh waktu
3. Segera kembali keharga potensial semula apabila dialiri arus yang kecil
4. Hanya memiliki efek hysterisis yang kecil jika diberi suatu siklus suhu
5. Merupakan elektroda yang bersifat nonpolarisasi secara ideal

Elektroda pembanding ada beberapa macam, diantaranya :

a. Elektroda Kalomel (Saturated Calomel Electrode)


Elektroda Kalomel merupakan elektrode yang terdiri dari lapisan Hg yang ditutupi dengan pasta
Merkuri (Hg), Merkuri Klorida /Komel (Hg2Cl2) dan kalium klorida (KCl). Setengah sel
elektrode kalomel dapat ditunjukan sebagai berikut:

Page | 6
KCl || Hg2Cl2 (satd), KCI (x M) | Hg
Dengan x menunjukkan konsentrasi KCl didalam larutan. Reaksi elektroda dapat dituliskan
sebagai:
Hg 2CI2 (s) + 2 e 2 Hg (l) + 2 CI
Potensial sel ini akan bergantung pada konsentrasi klorida x (pada kalomel yang tidak jenuh),
dan harga konsentrasi ini harus dituliskan untuk menjelaskan elektroda. Elektroda kalomel
terbuat dari tabung gelas atau plastik dengan panjang 5 15 cm dan garis tengah 0,5 1 cm.
Pasta Hg/HgCI terdapat di dalam tabung yang lebih dalam, dihubungkan dengan larutan KCI
jenuh melalui lubang kecil. Kontak elektroda ini dengan larutan dari setengah sel lainnya melalui
penyekat yang terbuat dari porselen atau asbes berpori.
b. Elektroda perak / perak klorida
Elektroda perak / perak klorida merupakan electrode yang terdiri dari suatu elektroda perak yang
dicelupkan kedalam larutan KCI yang dijenuhkan dengan AgCI. Setengah sel elektroda perak
dapat ditulis :
KCl | | AgCI (satd), KCI (xM) | Ag
Reaksi setengah selnya adalah
AgCI (s) + e- Ag (s) + CI-
Biasanya elektroda ini terbuat dari suatu larutan jenuh atau 3,5 M KCI yang harga potensialnya
dalah 0,199 V (jenuh) dan 0.205 V (3,5M) pada 250 C. Kelebihan elektroda ini dapat digunakan
pada suhu yang lebih tinggi sedangkan elektroda kalomel tidak.

c. Elektrode Indikator (Indicator Elektrode)


Elektroda indikator (elektroda kerja) adalah suatu elektroda yang potensial elektrodanya
bervariasi terhadap konsentrasi (aktivitas) analit yang diukur. Elektroda indikator harus
memenuhi beberapa syarat antara lain harus memenuhi tingkat kesensitivan yang terhadap
konsentrasi analit. Tanggapannya terhadap keaktifan teroksidasi dan tereduksi harus sedekat
mungkin dengan yang diramalkan dengan persamaan Nernst. Sehingga adanya perbedaan yang
kecil dari konsentrasi analit, akan memberikan perbedaan tegangan.

Elektroda indikator secara umum dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu :


Elektroda indikator logam
Elektroda logam adalah elektroda yang dibuat dengan menggunakan lempengan logam atau
kawat yang dicelupkan ke dalam larutan elektrolit.
Elektroda redoks ( inert )
Logam mulia seperti platina, emas, dan paladium bertindak sebagai elektroda indikator pada
reaksi redoks. Fungsi logam semata-mata untuk membangkitkan kecenderungan system tersebut

Page | 7
dalam mengambil atau melepaskan electron; logam itu sendiri tidak ikut serta secara nyata dalam
reaksi redoks, potensialnya merupakan fungsi Nersnt dari rasio aktivasi aFe2+/aFe3+. Tentu saja,
inert merupakan ukuran relatif, dan platina tidak kebal dari serangan-seranga oksidator kuat,
terutama dalam larutan dimana kompleksasi bias menstabilkan Pt(II) melalui pembentukan
spesies. Platina juga bisa menimbulkan masalah dengan reduktor-reduktor yang sangat kuat:
reduksi H+ (atau H2O) kadang-kadang berlangsung sedemikian lambat sehingga analit-analit
bias direduksi lebih dahulu dalam larutan air tanpa interfensi dari pelarutnya, tetapi karena H+e =
Hkek2 dikatalis oleh platina, keuntungan kinetik ini mungkin hilang.
Contoh potensial elektroda platina di dalam larutan yang mengandung ion-ion Ce3+dan
Ce4+ adalah,
E = E0 0,059 log [Ce3+]/[Ce4+].
Dengan demikian elektroda platina dapat bertindak sebagai elektroda indikator di dalam titrasi
cerimetri.

Aplikasi Metode Analisis Potensiometri Dalam Bidang Farmasi

1. Penentuan pH secara potensiometri


Pengukuran pH secara elektrik mungkin merupakan pengukuran fisika yang paling sering
digunakan di laboratorium kimia. Pengukuran ini mungkin disebabkan oleh nilai-nilai emf
tertentu berbagai macam sel kimia yang menggunakan konsentrasi larutan ion hydrogen dalam
sel. Hal ini berarti bahwa jika variable-variabel lain dalam sel dikendalikan, maka nilai emf sel
dapat dihubungkan dengan pH dan hubungan ini merupakan dasar pengukuran pH secara
potensiometri. Kita dapat membuat hubungan dengan menggunakan persamaan Nersnt untuk
salah satu sel yang emf-nya berkaitan dengan pH.

2. Titrasi potensiometri
Pada dasarnya semua titrasi (baik titrasi asam basa, titrasi kompleksiometri, titrasi
pengendapan, dan titrasi redoks) dapat diikuti secara potensiometri dengan bantuan elektroda
indikator dan elektroda pembanding. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan
menghubungkan antara potensional terhadap volume titran yang ditambahkan akan mempunyai

Page | 8
kenaikan yang tajam disekitar titik ekivalen, sehingga grafik ini dapat diperkirakan titik akhir
titrasi.

Cara potensiometri ini sangat berguna ketika : (i) tidak ada indikator yang sesuai untuk
menentukan titik akhir titrasi (misalkan ketika sampel yang akan dititrasi keruh atau berwarna) ;
dan (ii) ketika daerah titik ekivalen sangat pendek sehingga tidak ada indikator yang cocok.

Harga potensial yang diperoleh dapat diubah sedemikian rupa sehingga dapat pH, pM
atau pE. Kurva titrasi yang diperoleh dalam percobaan seringkali serupa dengan kurva teoritis.
Untuk titrasi redoks, biasanya digunakan elektroda platina sebagai elektroda indikator dan
elektroda kalomel jenuh (EKJ) sebagai elektroda pembanding. Dengan memakai pasangan
elektroda ini, kurva titrasi yang diperoleh dari percobaan akan bergeser sebanyak 0,24 V dari
kurva toritis. Untuk arsen(III) yang dititrasi dengan bromat. Meskipun demikian, bentuk kurva
keseluruhan tetap sama, dan bagian yang curam dapat digunakan untuk penentuan titik akhir
titrasi, sehingga penggantian elektroda hidrogen baku (EHB) dengan elektroda kolomel jenuh
(EKJ) sebagai elektroda pembanding dalam titrasi redoks tidak menimbulkan masalah.

Pada titrasi pengendapan, elektroda perak sering digunakan sebagai elektroda indikator.
Sebagai contoh , ion ion klorida , bromida, iodida, sianida, tiosianat, sulfida, dan senyawa
senyawa larutan baku AgNO3 dengan memakai elektroda perak sebagai elektroda indikator.

Jika elektroda perak digunakan sebagai elektroda indikator, maka elektroda


pembandingnya harus dipilih elektroda yang cocok: karena jika elektroda kalomel jenuh (EKJ)
dipakai sebagai elektroda pembanding, maka elektroda ini bisa menimbulkan kesalahan yang
cukup besar karena jembatan garamnya mengandung larutan KCl jenuh. Ion ion klorida yang
merembes melalui jembatan garam itu bisa dititrasi bersama sama dengan ion ion lain yang akan
ditetentukan sehingga terjadi kesalahan positif . Untuk mengatasi hal ini maka EKJ harus
disambung dengan jembatan gamar kedua ( misalnya KNO3), atau lebih baik digunakan
elektroda pembanding Hg/HgSO4.

3. Analisis ion dengan sistem potensiometri

Page | 9
Analisis ion Fluorida (F-) dalam air minum olahan
Analisis Kadar Kalsium (Ca2+) dalam beer

Penentuan Kadar nitrat (NO3-) dalam Jaringan Tumbuhan

Penentuan natrium (Na+) dalam sampel Air Minum

Penentuan Ion Perak dalam Air Minum

Penentuan ion tembaga (II) dalam air minum

Pengukuran sulfida secara potensiometri

Penentuan L-Tirosin

Contoh Penentuan natrium (Na+) dalam sampel Air Minum

Air minum biasanya mengandung sejumlah mineral diantaranya termasuk natrium. Kandungan
natrium dapat dimonitor dengan analisis sistem potensiometri dengan menggunakan elektroda
gelas. Di pasaran banyak dijual elektroda gelas natrium dari berbagai pabrik misalnya, ORION
80-03, AMEL 201-Na, Beckman 39278, Corning 47621000 dan masih banyak lagi. Instrumen
untuk pengukuran natrium biasanya dirancang secara khusus baik secara otomatis maupun secara
manual, dengan menghindari pemakaian alat-alat gelas (bisanya dipakai plastik atau
stenlessteel). Reagen yang diperlukan untuk analisis adalah larutan standar natrium 23 ppm yang
dibuat dengan melarutkan 0,117 gram NaCl kering (telah dipanaskan pada temperatur 250-
350oC selama 1-2 jam) dengan akuades hingga volume 2 liter. Larutan disimpan dalam botol
polietelen dan dapat bertahan stabil paling tidak untuk jangka waktu 6 bulan. Untuk pengukuran
biasanya ditambahkan basa aditif untuk mengatur pH dan kekuatan ion. Berbagai bahan basa
aditif yang dapat dipakai antara lain, amonia, tris (hidroksimetil) aminometan, sikloheksilamin,
dimetlamin, dietilamin dan amina-amina primer dan sekunder yang lain. Penambahan basa aditif
ini hingga diperoleh pH antara 10 11.

Adapun prosedur analisis secara lengkah adalah sebagai berikut:


a) semprot elektroda dengan akuades sebelum dimasukkan dalam tabung sel.
b) Ukur potensial sejumlah larutan standar antara 1 30 ppm dan catat datanya.
Page | 10
c) Buatlah grafik kurva kalibrasi antara konsentrasi ion natrium dengan potensial yang terukur.
d) Ukurlah potensial larutan sampel, kemudian hitung konsentrasi ion nitrat dalam sampel.

DAFTAR PUSTAKA

Atika, dkk. 2011. Proyek Makalah Potensiometri. http://www.scribd.com. Januari,2011


Basset, J, et al. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku
Kedokteran EGC : Jakarta.
Day Underwood. 2002. Analisis Kuantitatif edisi keenam. Jakarta: erlangga. P 654
Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI Press. Jakarta.
Sudjadi. 2008. Kimia analisis farmasi. Yogyakarta: Pustaka pelajar. P 172, 173, 175, 176, 179,
188, 190
Suyanta. 2013. Potensiometri. Penerbit UNY Press. Yogyakarta.

Page | 11