Anda di halaman 1dari 2

E.

KONSUMSI KEKUASAAN
1. Konsep Konsumsi Kekuasaan
Menurut Don Slater (1997) kosumsi adalah bagaimana manusia dan aktor sosial dengan
kebutuhan ynag dimilikinya berhubungan dengan sesuatu (dalam hal material, barang simbolis,
jasa, atau pengalaman) yang dapat memuaskan mereka. Berhubungan dengan sesuatu yang dapat
memuaskan mereka dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menikmati, menonton,
melihat, menghabiskan, mendengar, memerhatikan, dan lainnya.

Dengan definisi seperti yang dikemukakan Slater tersebut, maka konsumsi mengacu
kepada seluruh aktivitas sosial yang orang lakukan sehingga bisa dipakai untuk mencirikan dan
mengenali mereka di saming apa yang mereka lakukan untuk hidup (Chaney, 2004). Dengan
demikian, tindakan konsumsi tidak hanya dipahami sebagai makan, minum, sandang dan papan
saja tetapi juga harus dipahami dalam berbagai fenomena dan kenyataan berikut: menggunakan
waktu luang, mendengar radio, menonton televisi, berdandan, berwisata, menonton kosner,
melihat pertandingan olahraga, membeli computer untuk mengetik tugas kuliah atau mencari
informasi, mengendarai kendaraan, dan lain sebagainya.

Dari definisi dan cakupan definisi tentang konsumsi yang telah diterangkan sebelumya,
maka konsumsi kekuasaan dapat dipahami sebagai seluruh aktivitas sosial dan politik untuk
merusak (to destroy), memakai (to use up), membuang (to waste), dan menghabiskan (to
exhaust) kekuasaan.

2. Tujuan Konsumsi Kekuasaan


Berikut ini diajukan beberapa alasan mengapa orang atau kelompok orang mengonsumsi
kekuasaan:

a. Untuk menyejahterakan dan memakmurkan bangsa.


b. Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
c. Untuk memberikan rasa adil dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
d. Utuk menegakkan hak asasi manusia.
e. Untuk menghadirkan rasa aman dan tenteram dalam masyarakat.
f. Untuk menjaga kedaulatan negra, martabat, dan muruah bangsa.
g. Untuk menciptakan perdamaian umat manusia.
h. Untuk melanggengkan kekuasaan.
i. Untuk meraih kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan.

Tujuan mengonsumsi kekuasaan dapat bersifat eksternal maupun internal dari diri
pemegang kekuasaan. Dari sembilan tujuan yang diajukan terdapat tujuh yang bersifat eksternal
dan dua yang bersifat internal bagi diri pemegang kekuasaan.
3. Cara Konsumsi Kekuasaan
Setiap orang atau kelompok orang memiliki cara dalam mengonsumsi kekuasaan. Cara
tersebut berhubungan dengan konteks, baik ruang maupun waktu. Paling tidak terdapat tiga cara
orang atau kelompok orang mengonsumsi kekuasaan.

A. Kerja Sama
Kerja sama merupakan interaksi dari orang-orang yang bekerja untuk mecapai tujuan
bersama. Suatu tujuan dapat dicapai dengan lebih mudah, selamat, dan cepat bila bekerja
bersama-sama dibandingkan dengan bekerja sendiri-sendiri. Kebanyakan hubungan yang sedang
terjadi memiliki unsur kerja sama, termasuk hubungan politik. Proses (re) produksi, distribusi
sampai konsumsi kekuasaan tidak bisa berjalan dengan mudah, selamat dan cepat kalau
melakukannya secara sendiri-sendiri. Oleh sebab itu, setiap proses aktivitas kekuasaan (dari
produksi sampai konsumsi) memerlukan kerja sama dengan pihak lain. Dalam perspektif ini,
kerja sama dapat dipandang juga sebagai berbagai risiko dengan tujuan berbagai kekuasaan.

B. Persaingan
Tidak mungkin orang-orang selalu mencapai tujuan mereka melalui kerja sama. Ketika
tujuan anda dan tujuan saya bersifat mutually exclusive, misalnya suatu jabatan tertentu tersedia
terbatas, maka salah satu di antara kita, saya atau anda memperolehnya, maka di sana bisa
muncul persaingan. Jadi dalam situasi yang kelangkaan, yaitu barang-barang, jasa, termasuk
kekuasaan yang diharapkan tidak tersedia cukup, maka hubungan sosial dan politik yang
mungkin terjadi adalah kompetisi atau konflik. (Brinkerhoff dan White 1989 : 63)
Perjuangan untuk memproleh sumber-sumber langka yang diatur melalui aturan yang
dimiliki secara bersama dikenal dengan kompetisi. Aturan main tersebut menegaskan kondisi
seperti apa suatu kemenangan dipandang fair dan suatu kekalahan dapat diterima dengan
keikhlasan. Apabila norma seperti di atas tidak jalan, maka kompetisi akan berubah menadi
konflik.
Dalam aktivitas politik, termasuk kekukasaan, juga memerlukan persaingan yang sehat dan
adil. Berbagai aturan yang berhubungan dengan persaingan sehat dan adil serta penegakannya
harus menjadi perhatian utama bagi semua stakeholders, sebab persaingan sehat dan adil perlu
bagi pembangunan politik. Dalam aktivitas politik terdapat berbagai macam aktivitas persaingan
kekuasaan, yaitu seperti pemilihan (legislatif, presiden, kepala daerah, atau desa), ujian saringan,
penjagaan citra, dan lain sebagainya.

C. Konflik
Seperti yang disinggung sebelumnya, ketika perjuangan terhadap sumber-sumber langka
tidak diatur dengan aturan bersama, maka konflik akan muncul. Konflik mencakup usaha untuk
menetralkan, merusak, dan mengalahkan lawan. Konflik menghasilkan perpecahan di satu sisi,
tetapi juga dapat meningkatkan solidaritas atau integrasi di sisi lain. Konflik dapat dalam bentuk
peperangan, kudeta, revolusi, pembunuhan, pendudukan, dan sebagainya.