Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
WHO memperkirakan bahwa angka persalinan dengan
bedah caesarea adalah sekitar 10% sampai 15% dari semua proses persalinan
di Negara-negara berkembang(Noprianto, 2012).
Pengetahuan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap
pengambilan keputusan. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik
tentang sesuatu hal, maka ia akan cenderung mengambil keputusan yang lebih
tepat berkaitan dengan masalah tersebut dibandingkan dengan mereka yang
pengetahuannya rendah ( permata, 2002 ). Saat ini persalinan dengan sectio
caesaria bukan hal yang baru lagi bagi para ibu dan golongan ekonomi
menengah keatas. Hal ini terbukti meningkatnya angka persalinan
dengansectio caesaria di Indonesia dari 5% menjadi 20% dalam 20 tahun
terakhir. Dan tercatat dari 17.665 angka kelahiran terdapat 35.7% - 55.3% ibu
melahirkan dengan proses sectio caesaria (kasdu, 2003). Peningkatan
persalinan dengan sectio caesaria ini disebabkan karena berkembangnya
indikasi dan makin kecilnya risiko dan mortalitas pada sectio caesaria yang
didukung dengan teknik operasi anastesi serta ampuhnya anti biotika
(mochtar, 1998).
Dampak dan risiko kesehatan pasca sectio caesaria ini cukup berarti
seperti infeksi, perdarahan, luka pada organ, komplikasi dari obat bius dan
kematian ( www. Human Medicine. Com, 2009 ).
Lebih dari 85 % sectio caesaria disebabkan karena adanya
riwayatsectio caesaria sebelumnya, distosia persalinan, gawat janin dan
presentasi bokong. Angka mortalitas ibu pada sectio caesaria elektif adalah
2,8 % sedangkan untuk sectio caesariaemergensi mencapai 30
% ( pangastuti, 2003 )
Menurut Bensons dan Pernolls cit. Adjie ( 2005 ) angka kematian
secara sectio caesaria adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini

1
menunjukkan resiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan pervaginam.
Malahan untuk kasus karena infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi
dibandingkan persalinan pervaginam. Komplikasi tindakan anestesi sekitar 10
% dari seluruh angka kematian ibu. Frigeletto 1980 melaporkan, di Boston
Hospital for women angka kematian ibu nol pada 10.231 kasus. Tetapi mereka
juga mengemukakan bahwa angka kesakitan dan kematian lebih tinggi pada
persalinan dengan sectio caesaria dibandingkan persalinan pervaginam, karena
ada peningkatan resiko yang berhubungan dengan proses persalinan sampai
pada keputusan dilakukan sectio caesaria
( www.infoibu.com, 2009 )

II. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari makalah ini adalah untuk mendapatkan gambaran
tentang ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PERSALINAN SC.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui Definisi persalinan SC
b. Mahasiswa mampu mengetahui Etiologi persalinan post SC
c. Mahasiswa mampu mengetahui Manifestasi Klinis persalinan SC
d. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi persalinan SC
e. Mahasiswa mampu mengetahui Pathways persalinan SC
f. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan Persalinan post SC
g. Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan penunjang Persalianan
post SC
h. Mahasiswa mampu mengetahui Komplikasi persalinan post SC
i. Mahasiswa mampu menegatui Asuhan keperawatan Teori persalinan
post SC
j. Mahasiswa mampu membuat Asuhan Keperawatan Pada pasien
dengan persalinan post SC

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

I. DEFINISI
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono , 2005)
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut
juga histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar,
1998)
SC (Sectio caesarea) adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan melalui insisi pada dinding perut dan dindina rahim dengan syarat
rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Prawirohadjo,
2002).
Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina.
(Muchtar, 1998).
Jadi sectio caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin
lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga
janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut dan dinding rahim agar anak
lahir dengan keadaan utuh dan sehat

II. ETIOLOGI
a. Indikasi Ibu :
1) Panggul sempit
2) Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
3) Stenosis serviks uteri atau vagina
4) Plassenta praevia
5) Disproporsi janin panggul
6) Rupture uteri membakat
7) Partus tak maju

3
b. Indikasi Janin
1) Kelainan Letak :
a) Letak lintang
b) Letak sungsang ( janin besar,kepala defleksi)
c) Letak dahi dan letak muka dengan dagu dibelakang
d) Presentasi ganda
e) Kelainan letak pada gemelli anak pertama
f) Gawat Janin
2) Indikasi Kontra(relative)
a) Infeksi intrauterine
b) Janin Mati
c) Syok/anemia berat yang belum diatasi
d) Kelainan kongenital berat

III. MANIFESTASI KLINIS


1) Fetal distress
2) His lemah / melemah
3) Janin dalam posisi sungsang atau melintang
4) Bayi besar ( BBL4,2 kg )
5) Plasenta previa
6) Kalainan letak
7) Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala
danpanggul)
8) Rupture uteri mengancam
9) Hydrocephalus
10) Primi muda atau tua
11) Partus dengan komplikasi
12) Panggul sempit

4
IV. PATOFISIOLOGI
SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas
500 gr dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi
dilakukan tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia
jaringan lunak, placenta previa dll, untuk ibu. Sedangkan untuk janin adalah
gawat janin. Janin besar dan letak lintang setelah dilakukan SC ibu akan
mengalami adaptasi post partum baik dari aspek kognitif berupa kurang
pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis yaitu produk
oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar hanya
sedikit, luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh karena
itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril. Nyeri
adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman.
Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa
bersifat regional dan umum. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya
terhadap janin maupun ibu anestesi janin sehingga kadang-kadang bayi lahir
dalam keadaan upnoe yang tidak dapat diatasi dengan mudah. Akibatnya janin
bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu sendiri yaitu terhadap
tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak yang keluar. Untuk
pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif akibat sekret yan
berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup. Anestesi ini juga
mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas usus.
Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan
terjadi proses penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian
diserap untuk metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari
mortilitas yang menurun maka peristaltik juga menurun. Makanan yang ada di
lambung akan menumpuk dan karena reflek untuk batuk juga menurun. Maka
pasien sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu dipasang pipa
endotracheal. Selain itu motilitas yang menurun juga berakibat pada
perubahan pola eliminasi yaitu konstipasi.
(Saifuddin, Mansjoer & Prawirohardjo, 2002)

5
V. PTAHWAYS

VI. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Medis Post SC
a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka
pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung
elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi
pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS
10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan
tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi
darah sesuai kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah
penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan
peroral. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah
boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan
air teh.

6
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
1) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah
operasi
2) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur
telentang sedini mungkin setelah sadar
3) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu
menghembuskannya.
4) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi
setengah duduk (semifowler)
5) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien
dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan
kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca
operasi.
d. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan
tidak enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan
menyebabkan perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam /
lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
e. Pemberian obat-obatan
1) Antibiotik. Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat
berbeda-beda setiap institusi
2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran
pencernaan
3) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
4) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
5) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
6) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita
dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C

7
2. Penatalaksanaan Keperawatan post SC
a. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila
basah dan berdarah harus dibuka dan diganti
b. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah
suhu, tekanan darah, nadi,dan pernafasan.
c. Perawatan payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu
memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang
mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi,
biasanya mengurangi rasa nyeri.
(Manuaba, 1999)

VII. KOMPLIKASI
Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain:
1. infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama
beberapa hari dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya
peritonitis, sepsis dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi apabila
sebelum pembedahan sudah ada gejala - gejala infeksi intrapartum atau
ada faktor - faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu
(partus lama khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal
sebelumnya). Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian
antibiotika, tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali, terutama SC
klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis
profunda.
2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika
cabang arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri

8
3. Komplikasi-komplikasi lain seperti :
a. Luka kandung kemih
b. Embolisme paru paru
Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang
kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan
berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan hal ini lebih
banyak ditemukan sesudah sectio caesarea klasik.

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Test HCG Urine : sebagai Indikator kehamilan apakah Positif /Negatif
2. Ultra Sonografi : untuk mengetahui Kondisi janin/cavum uteria apakah
terdapat janin/sisa janin.
3. Kadar Hematocrit/Ht : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui
adanya Penurunan hematokrit (< 35 mg%).
4. Kadar Hemoglobin : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui
adanya Penurunan hemoglobin atau tidak (< 10 mg%). mengkaji
perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan
darah pada pembedahan.
5. Kadar SDP : untuk mengetahui adanya Resiko Infeksi Meningkat(>10.000
U/dl).
6. Kultur : Untuk mengetahui adanya Kuman spesifik
7. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
8. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
9. Urinalisis / kultur urine
10. Pemeriksaan elektrolit

9
IX. ASKEP TEORI
1. Pengkajian fokus
a. Identitas klien dan penanggung jawab
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agama,
alamat, status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record,
diagnosa medik, yang mengirim, cara masuk, alasan masuk,
keadaan umum tanda vital.
b. Keluhan utama
Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi kien
multipara
c. Data riwayat penyakit
1) Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau
penyakit yang dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan
setelah pasien operasi.
2) Riwayat kesehatan dahulu
Meliputi penyakit lain yang dapat mempengaruhi penyakit
sekarang, maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit
yang sama (plasenta previa)
3) Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga
pasien ada juga mempunyai riwayat persalinan yang sama
(plasenta previa).
d. Keadaan klien meliputi:
1) Sirkulasi
Hipertensi dan pendarahan vagina yang mungkin terjadi.
Kemungkinan kehilangan darah selama prosedur pembedahan
kira-kira 600-800 mL.
2) Integritas ego
Dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda
kegagalan dan atau refleksi negatif pada kemampuan sebagai

10
wanita. Menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan,
ketakutan, menarik diri, atau kecemasan.
3) Makanan dan cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi (diet ditentukan)
4) Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinal
epidural
5) Nyeri/ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena trauma
bedah, distensi kandung kemih, efek-efek anesthesia, nyeri tekan
uterus mungkin ada.
6) Pernapasan
Bunyi paru-paru vesikuler dan terdengar jelas.
7) Keamanan
Balutan badomen dapat tampak sedikit noda/kering dan utuh
8) Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus. Aliran lokhea
sedang.
2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1) Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d agen cidera fisik
2) Resiko infeksi b/d trauma jaringan
3) Ansietas b/d krisis situasional
4) Hambatan aktivitas fisik b/d ansietas
5) Resiko konstipasi b/dkelemahan otot abdomen
6) Gangguan eliminasi urineb/d gangguan sensori motorik (efek-efek
hormonal/anastesi).

11
3. Rencana keperawatan
DX 1 : Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d agen cidera fisik
Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Kriteria Hasil :
a. Mengungkap kan nyeri berkurang
b. Skala nyeri 0-1
c. Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri
d. TTV dalambatas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR
:18-20x/menit, Nadi : 80-100 x/menit
Intervensi :
a. Kaji intensitas, karakteristik, dan derajat nyeri
R/ Pengkajian yang spesifik membantu memilih intervensi yang tepat
b. Pertahankan tirah baring selama masa akut
R/ Meminimalkan stimulasi atau meningkatkan relaksasi
c. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya.
R/ Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi
nyeri
d. Ajarkan teknik distraksi
R/ Pengurangan persepsi nyeri
e. Kolaborasi pemberian analgetik
f. R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan
pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum
luas/spesifik.

12
DX 2 : Resiko Infeksi b/d trauma jaringan
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil :
a. Tidak ada tanda tanda infeksi, seperti : merah, panas, bengkak,
fungsio laesa
Intervensi :
a. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
dari luka operasi.
R/ Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart
keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak
mungkin merupakan tanda infeksi.
b. Terangkan pada klien pentingnya perawatan luka selama masa post
operasi.
R/ Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan luka..
c. Lakukan perawatan luka
R/ Inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi.
d. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi
R/ Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik
infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala
infeksi.

13
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. N USIA 37 TAHUN DENGAN


PERSALINAN SC DI RUANG ANYELIR RUMAH SAKIT MITRA SIAGA
TEGAL

Nama mahisiswa : Siti Fatimatul Jahro

Pengkajian : 17 Desember 2015 jam 10.45 wib

Tanggal praktek :17 Desember 2015

A.PENGKAJIAN

I. Identitas pasien

Nama : Ny.N

Umur : 37 tahun

Agama : Islam

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Suku : Jawa

Bangsa : Indonesia

Alamat : Maribaya,Keramat Tegal

Diagnosa medis : kpD H : 37 minngu G4P3A0

II.Identitas penanggung jawab

Nama : Tn.R

Umur : 40 tahun

Alamat : Maribaya, Kramat Tegal

14
Pekerjaan : Wirausaha (bengkel)

Hubungan dg pasien : Suami

Riwayat kesehatan

a. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan dahulu pasien tidak pernah ada penyakit yang
berbahaya atau penyakit yang parah sampai sekarang.pasien juga
mengatakan didalam riwayat kelluarga juga tidak memiliki penyakit
menular atau atau parah.
b. Riwayat kehamilan sekarang
Pasien mengatakan kehamilan sekarang sehat,tidak ada keluhan yang
berlebihan,masa ngidam juga tidak lama hanya pada saat bulan pertama.
c. Riwayat kehamilan dahulu
Pasien mengatakan anak pertama prematur dan meninggal setelah 7 jam
dilahirkan secara normal,anak kedua sehat tidak ada masalah kehamilan
atau melahirkan.Anak ketiga pada saat hamil pernah dirawat karena
muntah dan pusing yang berlebih tetapi dilahirkan secara normal.
d. Riwayat obstertri
Pasien mengatakan haid lancar dan teratur,Sering mengalami nyeri pada
saat hait tetapi nyerinya tidak terlalu hebat,darah yang keluar berwarna
merah kehitaman,persalinan dahulu normal semua.G4P3A0
e. Riwayat keluarga berencana
Pasien mengatakan sudah pernah menggunakan KB suntik selama 5 tahun

Pola fungsional

a. Pola persepsi kesehatan dan menejemen

15
Pasien mengatakan kesehatan keshatan sangat penting,pasien mengatakan
selalu menjaga kebersihan dan kesehatan untuk keluarganya,jika ada yang
sakit langsung periksa kedokter.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Pasien mengatakan makan 3x sehari dengan porsi sedang,dan minum air
putih 8 gelas sehari
c. Pola eliminasi
Pasien mengatakan sebelum hamil BAB 1x sehari dan BAK 5x
sehari.Selam hamil pasien mengatakan BAB 1x sehari dan BAK 8x sehari
d. Pola aktivitas dan latihan
Pasien tidak pernah mengikuti senam hamil.Aktivitas pasien sebelum dan
selama hamil sama menjadi ibu rumah tangga dan membantu suami.
e. Pola persepsi
Pasien mengatakan ada sedikit rasa takut karena baru perwakilan
menjalani persalinan SC
f. Pola istirahat tidur
Pasien mengatakan sebelum dan selama hamil tidak mengalami gangguan
tidur,tetapi setelah SC pasien sedikit sulit tidur karena jika bayinya
menangis pasien terbangun dan nyeri pada luka SC
g. Pola peran dan hubungan
Pasien mengatakan senang menjadi istri dan ibu dari ke 3
anaknya,hubungan pasien dengan keluarga juga terjalin bagus
h. Pola seksual dan reproduksi
Pasien mengatakan selama hamil melakukan hubungan suami istri 1
minngu sekali,saat ini pasien mengatakan sudah dipasal alat steril
i. Pola mengatasi stres
Pasien mengatakan jika sedang stres memilih diam tanpa melampiaskan ke
orang lain apalagi ke anaknya

Aspek psikologis

a. Reva rubin

16
Taking in pasien tidak mengalami babby blus,pasien sangat bahagia
dengan kelahiran anak ke 4
Taking hold pasien menerima anaknya dengan perasaan yang bahagia
walaupun harus menahan rasa nyeri akibatpost SC
Letting go pasien mengatakan sangat menerima kehadiran anaknya
danakan dirawat sebaik mungkin.
b. Bonding attachmen
Pasien setelah selesai SC langsung mencari anaknya,kontak mata dengan
anaknya sangat baik,pasien langsung memeluk dan merangsang ASI untuk
bayinya,Pasien terlihat sangat senang melihat kondisi anaknya sehat.

Pemeriksaan fisik ibu

a. Vital sign :TD 110/70 mmhg N :70x/menit,RR :20x/mennit


b. Kepala
Rambut : Hitam,panjang dan bersih
Mata : Konjungtiva Anemis,Seklera tidak ikterik
Mulut : Bersih,tidak ada sariawan,mukosa bibir lembut
Hidung : Bersih
Tenggorokan : Tidak ada pembesaran tonsilitis
Telinga : Bersih,
c. Wajah : bentuk wajah simetris, ekspresi wajah berubah-ubah, terdapat
bintik hitam dibagian wajah
d. Leher : tidak adanya pembesaran kelenjar thyroid dan lymphe
e. Thorak dan paru-paru : dada simetris, suara pernafasan Vaskuler, gerakan
dada saat bernafas teratur.
f. Payudara : hiperpimnetasi pada aerola mame dan puting, peningkatan
ukuran mamae, payudara kotor, belum keluar kolostrum, keadaan puting
meninjol.
g. Abdomen : bentuk perut bulat lonjonng, TFU : 33 cm, tidak adanya
kontraksi uterus.

17
h. Genetalia : bersih, tidak ada luka episiotomi, tidak adanya tanda-tanda
REEDA.
i. Anus : tidak ada hemoroid, warna coklat kehitaman
j. Waskularisasai ekstremitas atas dan awah : warna merah muda, tidak
pucat, kapilari lefil kembali <3 dietik.
k. Ekstremitas bawah : tidak ada varises dan oedema.

Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium
HbsAg (-)
Lyhm 2,2 uL
RBC 3,76 x-6uL
MCV 65,9 FL
MCHC 32,7 g/dL
b. Therapi
Ceftriaxon 2x1
Dexa 20 mg
Ranitidin 1amp
Criac 2x1

DIAGNOSA KEPERAWATAN

A. Analisa Data
No Data Problem Etiologi
1. Ds: pasien mengatakan nyeri pada Nyeri Akut Agens cidera
bagian perut bekas operasi SC (00132) sisik: luka post
P : pasien mengatakan nyeri SC
karena operasi SC
Q : pasien mengatakan nyeri
seperti ditusuk-tusuk
R : pasien mengatakan nyeri pada
bagian perut

18
S : pasien mengatakan skala nyeri
7
T : pasien mengatakan nyeri
hilang timbul
Do : Hasil pemeriksaan fisik
- Ttv (Td: 120/100 mmHg, N:
70 x/menit, RR: 20 x/menit,)
- Pasien terlihat melindungi
area nyeri
- Pasien terlihat menahan nyeri
2. Ds: pasien mengataka ASI sudah Ketidakcukupan Menyususi
keluar tapi sedikit ASI (00216) dalam waktu
Do: hasil pemeriksaan fisik singkat
- TTV (TD : 120/100 mmHg,
N: 70 x/menit, RR: 20
x/menit,)
- Bagian payudara terlihat kotor
- Puting menonjol, aerola coklat
kehitaman
- Kolostrum sudah keluar
3. Ds: pasien mengatakan sulit untuk Hambatan Nyeri
bergerak karena nyeri, pasien mobilitas fisik
mengatakan ignin duduk (00085)
Do: hasil pemeriksaan fisik
- TTV: 120/100 mmHg, N: 70
x/menit, RR: 20 x/menit,)
- Pasien terlihat belum dapat
mobilisasi secara mandiri
- Pasien sudah bisa geser-geser
dan miring kana kiri secara

19
perlahan

B. Priritas Diagnosa
1. Nyeri akut ( 00132) b.d Agens cidera fisik : luka post SC
2. Hambatan mobilitas fisik (00085) b.d nyeri
3. Ketidakcukupan Air susu ibu (00216) b.d menyusui dalam waktu singkat

C. Perencanaan
No dx.kep Tujuan dan KH Rencana Keperawatan
1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji PQRST
Keprawatan 2x24 jam 2. Monitor TTV
masalah keperawatan Nyeri 3. Latih pasien untuk
akut pada pasien dapat melakukan relaksasi
berkurang dengan KH: jika nyeri datang
1. Pasien tidak terlihat 4. Kolaborasi dengan
menahan nyeri dokter untuk
2. P : pasien mengatakan pemberian analgesik
nyeri karena operasi
post SC
Q : pasien mengatakan
nyeri seperti ditusuk-
tusuk dapat berkuarng
R : pasien mnegtakan
Nyeri pada bagian
perut
S : pasien mengatakan
skala nyeri 7 menjadi 4
T : pasien mnegtakan
nyeri hilang timbul
dalam rentan waktu

20
yang lama
3. Pasien dapat mengatasi
nyeri dengan Relaksasi
2. Hambatan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji kemampuan
mobilitas fisik keperawatan selama 2x24 mobilisasi
jam masalah keperawatan 2. Monitor TTV
pada pasien hambatan 3. Latih pasien untuk
mobilitas fisik dapat mobilisasi post SC
teratasi dengan KH:
1. Pasien dapat secara
mandiri melakukan
mobilisasi post SC
2. Pasien dapat miring
kanan-kiri geser-geser
3. Ketidakcukupan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji pengeluaran
ASI keperawatan selama 2x24 ASI
jam masalah keperawatan 2. Monotor TTV
ketidakcukupan ASI dapat 3. Lakukan breatscare
teratasi dengan KH: post SC
1. ASI dapat keluar 4. Kolaborasi dngan
dengan lancar dokter untuk
2. ASI dapat memenuhi pemberian obat
kebutuhan bayi pelancar ASI
3. Pasien dapat menjaga 5. Lakukan penkes
kebersihan payudara nutrisi pada ibu
mneyusui

D. Implementasi
Hari/ No. Tindakan Respon Ttd
tgl/jam Dx

21
Sabtu 1. 1. mengkaji skala dan 1. pasien mengatakan
18/12/15 qualitas nyeri dengan nyeri seperti
menggunakan skala 1-10 ditusuk-tusuk,
pada pasien pasien mengatakan
2. mengukur TTV skala nyeri
3. melatih pasien untuk 2. hasil pemeriksaan
melakukan relaksasi Fisik TTV: :
dengan cara nafas dalam 120/100 mmHg, N:
4. memberikan injekksi 70 x/menit, RR: 20
Analgesik, criac, ceftri x/menit,)
3. pasien ,mengatakan
lebih releks jika
nyeri datang dengan
melakukan nafas
dalam
4. pasien mangaatakan
sedikit pegal saat
disuntik obat llewat
infus

2. 1. menanyakan kepada 1. pasien mnegatkan


pasien tentang kemampuan sudah bisa miring kana
mobillitas yang sudah dapat kiri tetapi perlahan dan
dilakukan pasien dengan bantuan
2. mengukur TTV keluarga atau perawat
3. membantu dan melatih 2. hasil TTV : 120/100
pasien untuk mobilitas mmHg, N: 70 x/menit,
(duduk) RR: 20 x/menit,)
3. pasien terlihat sudah
bisa duduk secara
perlahan dan sedikit

22
dibantu

3. 1. melihat dan menyakan 1. Asi sudah sedikit


pengeluaran ASI keluar, kolostrum sudah
2. melakukan braetscare post keluar
SC 2. pasien mengatakan
3. melakukan penkes pada senang dilakukan
pasien tentang nutrisi ibu pemijatan pada
menyusui payudara
3. ibu mengatakan jelas
dengan apa yang sudah
dijelaskan dan
menambah informasi
bagi ibu

E. Evaluasi / catatan perkembangan


Tgl / No. Perkembangan Tdd
jam Dx
1. S : pasien mengatakan nyeri skala berkurang menjadi 4,
pasien mengtakan jika nyeri datang selalu melakukan
nafas dalam
O : - pasien mengtakan sudah tidak sering meringis
kesakitan
- Pasien terlihat sudah bisa menegemen nyeri dengan
nafas dalam
- Pasien masih mendapat injeksi criac 2x1
A : - Masalah teratasi sebagian
1. Nyeri akut (+)
P : Lanjutkan intervensi
2. S : pasien mengtakan sudah bisa duduk secara mandiri

23
dengan perlahan-lahan
O : - pasien terlihat sudah bisa mandiri
- Bantuan minimal untuk mobilisasi
A : masalh tertasi sebagian
1. Hambatan Mobilitas fisik (+)
P : lanjutkan intervensi dengan
1. Anjurkan pasien untuk terus berlatih mobilisasi
3. S : pasien mengatakn ASI sudah lancar
Pasien mengatakan badannya lebih terasi enak stelah
dilakukan breatscare
Pasien mengtakan setelah diberi penkes informasi
tentang nutrisi ibu mneyusi bertambah
O : pasien sudah dilakukan breatscare post SC dan ASI
sudah keluar lancar
Pasien terlihat releks saat dilakukan breatscare
A : Maslah teratasi

24
DAFTAR PUSTAKA

Mochtar, 1998. Sinopsis Obstetri, Obstetri Operatif, Obstetri Sosial. Jakarta :


EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Abdul bari, Saifuddin. 2002. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal.YBPSP. Jakarta
Aria wibawa dept obstetri dan ginekologi FKUI-RSUPN CM
Cunningham, F.G., Et all. 2005. William Obstetrics, 22nd edition. Chapter 21
Disorders of Aminic Fluid Volume. Pages 525-533. USA: McGRAW
HILL
Chandranita Manuaba, Ida Ayu, dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri .
Jakarta. EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. . Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal . Jakarta: YBP-SP

25

Anda mungkin juga menyukai