Anda di halaman 1dari 14

1.

FUNGSI BISNIS DALAM SIKLUS DAN DOKUMEN SERTA CATATAN TERKAIT


Mempelajari siklus persediaan dan penggudangan, kita akan menggunakan contoh
perusahaan manufaktur, yang persediaannya mungkin meliputi bahan baku, suku cadang dan
perlengkapan yang dibeli untuk digunakan dalam produksi, barang dalam proses manufaktur,
dan barang jadi yang tersedia untuk dijual, yang terdiri atas tujuh fungsi bisnis, yaitu:
1. Pembuatan Order Pembelian
Siklus persediaan dan penggudangan dimulai dengan pembelian bahan baku untuk
produksi. Pengendalian yang memadai terhadap pembelian harus diselenggarakan.
Permintaan pembelian adalah formulir yang digunakan untuk meminta departemen
pembelian untuk memesan persediaan. Permintaan tersebut dapat dilakukan oleh personil
ruang penyimpanan bahan baku yang diperlukan, dengan pesanan yang dilakukan atas
bahan baku yang diminta untuk memenuhi pesanan pelanggan, atau melalui pesanan yang
dilakukan atas dasar perhitungaan bahan baku secara periodik.
2. Penerimaan Bahan Baku
Penerimaan bahan baku yang dipesan, yang juga merupakan bagian dari siklus
pembelian dan pembayaran, melibatkan inspeksi atas bahan yang diterima menyangkut
kuantitas dan kualitasnya. Departemen penerimaan akan membuat laporan penerimaan
yang menjadi bagian dari dokumentasi sebelum pembayaran dilakukan. Setelah inspeksi,
bahan itu dikirim ke ruang penyimpanan dan salinan dokumen penerimaan, atau
pemberitahuan atau notifikasi elektronik mengenai penerimaan barang, biasanya
diserahkan ke bagian pembelian, ruang penyimpanan, dan utang usaha. Pengendalian dan
akuntabilitas merupakan hal penting untuk semua transfer tersebut.
3. Penggudangan Bahan Baku
Setelah diterima, bahan itu biasanya disimpan diruang penyimpanan. Ketika
departemen lainnya memerlukan bahan untuk produksi, personil ruang penyimpanan
menyerahkan permintaan bahan yang telah disetujui secara layak, mengerjakan pesanan,
atau dokumen serupa atau pemberitahuan elektronik yang mengindikasikan jenis dan
kuantitas bahan yang diperlukan. Dokumen permintaan ini digunakan untuk
memperbaharui file induk persediaan perpetual dan mencatat transfer dari akun bahan baku
ke akun barang dalam proses.
4. Pengolahan Barang
Pemrosesan persediaan sangat bervariasi dari perusahaan ke perusahaan. Perusahaan
menentukan item dan kuantitas barang jadi yang akan dibuat berdasarkan pesanan khusus
dari pelanggan, peramalan penjualan, tingkat persediaan barang jadi yang telah ditentukan

1
sebelumnya, dan operasi produksi yang ekonomis. Setiap departemen produksi biasanya
bertanggung jawab untuk mereview laporan produksi dan sisa bahan yang dibuat komputer,
yang menyediakan informasi yang bermanfaat bagi akuntansi untuk mencatat transfer
bahan dan menentukan biaya produksi.
5. Penyimpanan Barang Jadi
Ketika barang jadi telah selesai, barang itu ditempatkan diruang penyimpanan
menunggu dikirim. Dalam perusahaan yang memiliki pengendalian internal yang baik,
barang jadi disimpan dibawah pengendalian fisik yang terpisah, disuatu area dengan akses
terbatas dan hal ini dianggap sebagai bagian dari siklus penjualan dan penagihan.
6. Pengiriman Barang Jadi
Pengiriman barang jadi merupakan bagian dari siklus penjualan dan penagihan. Untuk
sebagian besar transaksi penjualan, pengiriman aktual merupakan pemicu untuk mengakui
piutang usaha terkait dan penjualan terkait dalam sistem akuntansi. Jadi, pengiriman barang
jadi harus diotorisasi oleh dokumen pengiriman yang disetujui secara layak.
7. Master File Persediaan Perpetual
Catatan perpetual yang terpisah biasanya disimpan untuk bahan baku dan barang jadi.
Sebagian besar perusahaan tidak menggunakan sistem perpetual untuk barang dalam
proses. Dalam sistem terkomputerisasi yang dirancang dengan baik, file itu juga berisi
informasi mengenai biaya per unit. Untuk pembelian bahan baku, file induk persediaan
perpetual diperbaharui secara otomatis.

2. BAGIAN-BAGIAN DALAM PENGAUDITAN PERSEDIAAN


Tujuan dalam audit siklus persediaan dan penggudangan adalah memberikan asurans
bahwa laporan keuangan menyajikan informasi bahan baku, barang setengah jadi, persediaan
barang jadi, dan harga pokok penjualan secara wajar. Audit atas siklus persediaan dan
pergudangan dapat dibagi menjadi 5 (lima) aktivitas yang berbeda, yaitu:
1. Pembelian dan Pencatatan Bahan Baku, Tenaga Kerja Langsung, dan Overhead
Pada bagian ini, audit memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu pemrosesan atas pembelian
pesanan, penerimaan bahan baku, dan penyimpanan bahan baku. Auditor harus
memperoleh pemahaman mengenai pengendalian internal atas ketiga fungsi tersebut dan
kemudian melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, baik
transaksi siklus pembelian dan pembayaran serta siklus penggajian dan personalia.
Pengujian terhadap pengendalian pembelian bahan baku dan biaya manufaktur tersebut
harus berjalan efektif dan transaksi pembelian dinyatakan dengan benar. Bila tenaga kerja

2
langsung merupakan bagian penting dalam persediaan manufaktur, maka auditor harus
melakukan verifikasi proses akuntansi yang benar atas biaya ini dalam siklus penggajian
dan personalia.
2. Transfer Aset dan Biaya Internal
Transfer internal dalam persediaan meliputi fungsi keempat dan kelima dalam tabel
fungsi dalam siklus persediaan dan penggudangan. Klien mencatat aktivitasnya dalam
catatan akuntansi biaya yang independen terhadap siklus lain dan diuji sebagai bagian dari
audit siklus persediaan dan penggudangan.
3. Pengiriman Barang dan Pencatatan Pendapatan dan Biaya
Pencatatan pengiriman barang dan biaya terkait merupakan fungsi terakhir dalam tabel
fungsi dalam siklus persediaan dan penggudangan. Proses ini merupakan bagian dari siklus
penjualan dan pengumpulan piutang, maka auditor memperoleh pemahaman dan pengujian
pengendalian internal atas pencatatan pengiriman sebagai bagian dari audit siklus ini,
termasuk prosedur untuk verifikasi ketelitian pengkreditan atas catatan persediaan dalam
master file persediaan perpetual.
4. Observasi Penghitungan Fisik dan Persediaan
Auditor harus mengamati klien dalam perhitungan fisik persediaan untuk memastikan
bahwa persediaan yang tercatat memang ada pada tanggal neraca dan telah dihitung dengan
benar oleh klien. Pemeriksaan fisik merupakan jenis bukti penting yang dapat digunakan
untuk melakukan verifikasi terhadap keberadaan dan perhitungan persediaan.
5. Penetapan Harga dan Kompilasi Persediaan
Biaya perolehan yang digunakan untuk menilai persediaan harus diuji untuk
menentukan apakah klien menerapkan metode persediaan yang sesuai dengaan SAK dan
konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya. Prosedur yang digunakan auditor untuk
melakukan verifikasi biaya ini disebut pengujian harga. Auditor harus melakukan
pengujian kompilasi persediaan, yaitu suatu pengujian untuk melakukan verifikassi apakah
perhitungan fisik dilakukan dengan benar, kuantitas dan harga persediaan dikalikan dengan
benar untuk kemudian dicocokkan dengan saldo di buku besar.
Adanya saling keterkaitan antara siklus persediaan dan penggudangan dengan siklus
lainnya, beberapa audit atas persediaan akan lebih efisien bila diuji dengan pengujian audit atas
siklus lainnya. Pada tabel pengauditan persediaan, bagian observasi penghitungan fisik
persediaan dan penetapan harga serta kompilasi persediaan diaudit dengan menggunakan
prosedur analitis dan pengujian rinci saldo untuk siklus persediaan dan penggudangan.

3
3. PENGAUDITAN AKUNTANSI BIAYA
Pembahasan tentang pengauditan akuntansi biaya akan kita mulai dengan transfer internal,
mulai dari bahan baku ke barang dalam proses dan kemudian ke persediaan barang jadi. Sistem
dan pengendalian akuntansi biaya berbeda-beda antar perusahaan dan sangat bervariasi dan
lebih banyak dibanding dengan bidang audit lainnya karena keanekaragaman unsur persediaan
dan tingkat kecanggihan yang diinginkan manajemen.
3.1 Pengendalian Akuntansi Biaya
Pengendalian akuntansi biaya adalah pengendalian yang berkaitan dengan proses yang
memengaruhi persediaan fisik dan jejak biaya sejak biaya bahan baku diminta hingga
selesainya hasil produksi dan memindahkannya ke gudang. Pengendalian ini dapat dibagi
menjadi dua kategori utama sebagai berikut:
1. Pengendalian fisik atas persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi.
2. Pengendalian atas biaya yang bersangkutan.
Hampir semua perusahaan memerlukan pengawasan fisik atas aset-asetnya untuk
mencegah terjadinya kerugian akibat penyalahgunaan dan pencurian dengan memisahkan
secara fisik dan membatasi akses ke area penyimpanan barang (gudang) untuk mengawasi
pergerakan persediaan untuk mencapai tujuan-tujuan berikut:
1. Menyediakan catatan tentang persediaan yang ada, yang digunakan untuk menginisiasi
produksi atau permintaan tambahan bahan baku atau barang.
2. Menyediakan suatu catatan tentang pemakaian bahan baku dan penjualan barang jadi,
yang bisa direview untuk melihat ada tidaknya barang yang usang atau lambat laku.
3. Menyediakan catatan yang dapat menunjukkan penanggungjawabnya apabila terjadi
selisih antara hasil perhitungan fisik dengan jumlah yang tercantum dalam catatan
perpetual.
Selain itu, pengendalian internal yang memadai yang mengintegrasikan catatan produksi
dan akuntasi untuk menyediakan data biaya yang akurat untuk semua produk sangat penting
untuk membantu manajemen dalam menetapkan harga barang jadi, mengendalikan biaya, dan
menetapkan harga pokok persediaan.
3.2 Pengujian Akuntansi Biaya
Konsep pengauditan akuntansi biaya persediaan tidak berbeda dengan apa yang telah
dibahas untuk siklus-siklus transaksi lainnya, yaitu: memahami pengendalian internal dalam
sistem akuntansi biaya, menilai risiko pengendalian direncanakan, menentukan luasnya
pengujian pengendalian, dan merancang pengujian pengendalian dan pengujian subtantif

4
golongan transaksi untuk memenuhi tujuan audit transaksi. Auditor biasanya menekankan pada
empat aspek akuntansi biaya sebagai berikut:
1. Pengendalian Fisik Atas Persediaan
Pengujian atas pengendalian fisik bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi
yang dilakukan auditor biasanya dibatasi pada observasi dan meminta keterangan. Auditor
dapat memeriksa area gudang bahan baku untuk menentukan apakah persediaan dilindungi
dari kemungkinan pencurian dan penyalahgunaan dengan menggunakan gudang berkunci
atau alat pengaman lainnya, termasuk ada tidaknya penanggungjawab penyimpangan
dalam gudang. Apabila auditor berkesimpulan bahwa pengendalian fisik sangat tidak
memadai sehingga persediaan akan menjadi sulit untuk dihitung dengan tepat, maka auditor
harus memperluas observasi atas pengujian perhitungan fisik persediaan untuk memastikan
bahwa penghitungan yang memadai telah dilakukan.
2. Dokumentasi dan Catatan untuk Perpindahan Persediaan
Pada waktu mengaudit perpindahan persediaan, auditor pertama harus memahami
pengendalian internal klien dalam pencatatan perpindahan sebelum auditor melakukan
pengujian yang relevan. Setelah pengendalian internal dipahami, auditor akan mudah
melakukan pengujian pengendalian atau pengujian subtantif golongan transaksi, dengan
memeriksa dokumen dan catatan untuk menguji keterjadian dan ketelitian perpindahan
barang dari gudang bahan baku ke pabrik.
3. Master File Persediaan Perpetual
Auditor menguji master file persediaan perpetual dengan memeriksa dokumentasi yang
mendukung penambahan dan pengurangan jumlah persediaan dalam master file. Pengujian
ketelitian master file persediaan perpetual relatif mudah setelah auditor menentukan
kecukupan rancangan dan implementasi pengendalian internal persediaan dan menilai
tingkat risiko pengendalian. Auditor menguji catatan perpetual untuk pembelian bahan
baku dalam siklus pembelian dan pembayaran, sedangkan pengurangan dalam barang jadi
karena adanya penjualan diuji dalam siklus penjualan dan penerimaan piutang. Pada
kebanyakan perusahaan, dokumen tradisional yang ada hanya dalam bentuk elektronik dan
sistem pengendalian perpentual diintegrasikan dengan siklus akuntansi lain. Sebagai
akibatnya, auditor bisa menguji pengendalian komputer untuk mendukung pengurangan
dalam risiko pengendalian, yang selanjutnya akan mengurangi pengujian subtansif dan
berdampak pada efisiensi audit.
4. Catatan Harga Pokok Per Unit

5
Pada waktu melakukan pengujian atas catatan persediaan, auditor pertama-tama harus
mendapatkan pemahaman tentang pengendalian internal dengan sistem akuntansi biaya.
Pemahaman ini bisa memakan banyak waktu karena aliran biaya diintegrasikan dalam
catatan akuntansi dalam tiga siklus lainnya, yaitu: pembelian dan pembayaran, penggajian
dan personalia, serta penjualan dan pengumpulan piutang.
Setelah auditor memahami pengendalian internal uang memengaruhi catatan, akuntansi
biaya, pendekatan terhadap verifikasi internal atas catatan akuntasi biaya menyangkut
konsep yang sama seperti yang telah kita bahas dalam verifikasi terhadap transaksi
pembelian, penggajian, dan penjualan. Auditor biasanya menguji catatan akuntansi biaya
sebagai bagian dari pengujian atas pembelian, penggajian, dan penjualan untuk
menghindari pengujian catatan lebih dari sekali dan untuk meningkatkan efisiensi audit.
Ketika menguji transaksi pembelian, auditor harus menelusur jumlah unit dan biaya
perolehan bahan baku per unit ke catatan penambahan dalam master file persediaan
perpentual dan total biaya ke akuntansi biaya. Demikian pula, ketika klien
menyelenggarakan data biaya tenaga kerja untuk pesanan yang berbeda, auditor harus
menelusur dari ikhtisar biaya tenaga kerja langsung ke catatan biaya per pesanan pada saat
auditor mengaudit penggajian.
Manajemen biasanya mengalokasikan overhead dengan menggunakan total biaya
tenaga kerja langsung sebagai basis pengalokasian. Dalam situasi demikian, tarif overhead
merupakan rata-rata dari total biaya overhead pabrik dibagi dengan total biaya tenaga kerja
langsung. Bila biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar jam kerja mesin, auditor harus
memeriksa kewajaran jam kerja mesin dalam perusahaan klien.
Karena pengendalian internal atas catatan akuntansi biaya bervariasi sangat signifikan
pada berbagai perusahaan, maka pengujian uang spesifik tidak dibahas disini. Auditor
harus merancang pengujian sesuai berdasarkan pemahamannya tentang catatan akuntansi
biaya dan seberapa jauh bisa dipercaya untuk mengurangi pengujian subtnantif.

4. PROSEDUR ANALITIS
Prosedur analitis sangat penting dalam pengauditan persediaan dan penggudangan. Selain
itu, auditor sering menggunakan informasi non-keuangan untuk menilai kewajaran saldo
persediaan yang bersangkutan dalam hubungannya antara saldo akun persediaan dengan akun
laporan keuangan lainnya.

Tabel Prosedur Analitis Siklus Persediaan dan Penggudangan

6
Prosedur Analitis Kemungkinan Kesalahan Penyajian
Membandingkan persentase laba kotor Lebih saji atau kurang saji persediaan dan
dengan tahun lalu. harga pokok penjualan.
Membandingkan kecepatan perputaran Keusangan persediaan yang mempengaruhi
persediaan dengan tahun lalu. persediaan dan harga pokok penjualan.
Lebih saji atau kurang saji persediaan.
Membandingkan harga pokok per unit Lebih saji atau kurang saji harga pokok per
dengan tahun lalu. unit yang mem[engaruhi persediaan dan
harga pokok penjualan.
Membandingkan biaya produksi tahun ini Kesalahan penyajian harga pokok per unit
dengan tahun lalu. persediaan, terutama biaya tenaga kerja
langsung dan overhead pabrik, yang
mempengaruhi persediaan dan harga pokok
penjualan.

5. OBSERVASI FISIK PERSEDIAAN


Karena persediaan sangat berbeda antara perusahaan yang satu dengan yang perusahaan
lainnya, maka pemahaman tentang bisnis usaha klien menjadi lebih penting baik untuk
observasi fisik persediaan maupun untuk penetapan harga serta kompilasi daripada untuk area-
area audit yang lain. Contoh pertimbangan kunci yang harus dilakukan auditor meliputi metoda
penilaian persediaan yang harus dipilih oleh manajeman, potensi terjadinya keusangan
persediaan, risiko bahwa persediaan barang konsinyasi bercampur baur dengan persediaan
milik perusahaan sendiri.
Auditor seringkali baru mengenal persediaan yang terdapat pada perusahaan klien,
setelah melakukan inspeksi langsung dengan meninjau (tour) ke fasilitas-fasilitas persediaan
klien, seperti misalnya tepat penerimaan bahan baku yang dibeli, penyimpanan di gudang, area
produksi perencanaan, dan pencatatan pembukuan. Peninjau sebaiknya dipandu oleh mandor
(supervisor) yang dapat menjawab pertanyaan tentang produksi, terutama tentang setiap
perubahan dalam pengendalian internal dan proses lainnya sejak tahun lalu.
Dengan memahami pengaruh bisnis klien terhadap persediaan, auditor menilai risiko
bisnis klien untuk menentukan apakah risiko tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya
kesalahan penyajian internal material dalam persediaan. Setelah menilai risiko bisnis klien,
auditor menentukan materialitas pelaksanaan dan menilai risiko inheren untuk persediaan,

7
yang pada umumnya tinggi pada bidang-bidang usaha seperti manufaktur dan perusahaan
dagang. Auditor sering menilai tinggi risiko inheren untuk perusahaan-perusahaan dengan
persediaan yang signifikan, tergantung pada situasi yang dihadapi. Pada waktu menilai risiko
pengendalian, auditor terutama memusatkan perhatian pada pengendalian internal atas catatan
perpetual, pengawasan fisik, penghitungan pengendalian, kompilasi persediaan serta penetapan
harganya. Sifat dan luasnya ini bervariasi antara berbagai perusahaan.

6. PERSYARATAN OBSERVASI PERSEDIAAN


Standar audit (SA 501.4) berisi ketentuan sebagai berikut: jika persediaan berjumlah
material dalam laporan keuangan, auditor harus memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat
tentang eksistensi dan kondisi persediaan dengan:
(a) Menghadiri perhitungan fisik persediaan, kecuali jika tidak praktis untuk:
(i) Mengevaluasi instruksi dan prosedur manajemen untuk mencatat dan mengendalikan
hasil penghitungan persediaan fisik;
(ii) Mengobservasi pelaksanaan prosedur penghitungan yang dibuat oleh manajemen;
(iii) Menginspeksi persediaan; dan
(iv) Menguji penghitungan fisik (test count)
(b) Melaksanakan prosedur audit atas catatan persediaan final untuk menentukan apakah
catatan tersebut mencerminkan hasil penghitungan fisik aktual.
Hal penting dalam standar audit di atas adalah pemisahan antara siapa yang
bertanggungjawab untuk melakukan penghitungan fisik dan siapa yang melakukan observasi
atas penghitungan fisik tersebut. Klien bertanggungjawab untuk menetapkan prosedur
penghitungan fisik yang akurat dan melaksanakan serta mencatat hasil penghitungan tersebut.
Auditor bertanggungjawab untuk mengevaluasi dan mengobservasi prosedur klien, termasuk
melakukan pengujian penghitungan (test-count) persediaan, dan menarik kesimpulan tentang
kecukupan penghitungan fisik persediaan.
6.1 Mengevaluasi Instruksi dan Prosedur Yang Dibuat Manajemen
Pengendalian yang memadai atas penghitungan persediaan, antara lain meliputi adanya
instruksi dan prosedur yang dibuat manajemen tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
pelaksanaan penghitungan fisik tersebut. Sebelum penghitungan fisik dilakukan klien, auditor
harus mengevaluasi apakah instruksi dan prosedur tersebut cukup memadai sehingga
daripadanya dapat diharapkan hasil penghitungan fisik yang akurat.
Hal-hal yang relevan bagi auditor dalam mengevaluasi instruksi dan prosedur tersebut
antara lain meliputi: (a) Penerapan aktivitas pengendalian yang tepat dalam penghitungan fisik;

8
(b) Identifikasi yang tepat atas persediaan yang ada; (c) Prosedur yang digunakan untuk
mengestimasi kuantitas fisik; (d) Pengendalian terhadap pergerakan persediaan di antara are;
dan (e) Pengiriman dan penerimaan persediaan sebelum dan sesudah tanggal penghitungan
fisik.
Selain hal-hal tersebut, instruksi dan prosedur juga harus secara jelas menetapkan siapa
(atau tim) yang bertugas melakukan penghitungan, pengawasan (supervisi) oleh personel
perusahaan yang bertanggungjawab, verifikasi independen internal atas penghitungan oleh
personel lain, dan rekonsiliasi independen antara hasil penghitungan fisik dengan masterfile
persediaan perpetual.
6.2 Mengobservasi Pelaksanaan Prosedur Penghitungan
Hal terpenting dalam mengobservasi persediaan adalah menentukan apakah penghitungan
fisik dilakukan sesuai instruksi yang telah ditetapkan klien. Untuk mencapai hal tersebut,
auditor wajib hadir pada saat penghitungan fisik berlangsung. Apabila personil klien tidak
mengikuti instruksi, auditor harus memberitahu pengawas (supervisor) untuk memecahkan
masalah atau memodifikasi prosedur observasi fisik.
6.3 Keputusan Auditor
Keputusan auditor dalam observasi fisik persediaan adalah serupa dengan keputusan yang
dilakukan auditor dalam bidang audit yang lain. Keputusan itu meliputi: pemilihan prosedur
audit, keputusan saat prosedur akan dilakukan, ukuran sampel, dan pemilihan unsur-unsur.
1. Saat Penghitungan Fisik
Auditor memutuskan apakah penghitungan fisik dapat dilakukan sebelum akhir tahun
terutama berdasarkan ketelitian dalam master file persediaan perpetual. Apabila klien
melakukan perhitungan fisik interim, yang akan disetujui auditor hanya apabila
pengendalian internal efektif, auditor melakukan observasi penghitungan fisik pada saat
itu, dan juga menguji transaksi-transaksi yang dicatat dalam catatan perpetual sejak tanggal
penghitungan fisik hingga akhir tahun. Apabila catatan perpetual diselenggarakan dengan
teliti dan pengendalian yang bersangkutan berjalan efektif, maka klien tidak perlu
menghitung seluruh persediaan pada akhir tahun.
2. Ukuran Sampel
Jumlah unsur persediaan yang harus dihitung auditor sulit untuk ditentukan karena
auditor berkonsentrasi pada observasi atas prosedur klien, bukan pada pemilihan unsur
yang akan diuji. Untuk mudahnya, ukuran sampel dalam observasi fisik lebih ditentukan
oleh berapa jam waktu yang disediakan daripada jumlah unsur persediaan yang akan
dihitung. Faktor yang menentukan jumlah waktu yang diperlukan untuk menguji

9
persediaan adalah: kecukupan pengendalian internal atas penghitungan fisik, ketelitian
master file persediaan perpetual, jumlah rupiah dan dan tipe persediaan, jumlah lokasi
persediaan yang signifikan, sifat dan luasnya kesalahan penyajian yang ditemukan pada
tahun lalu, dan data inheren lain.
3. Pemilihan Unsur
Ketika auditor mengobservasi penghitungan persediaan yang dilakukan klien, auditor
harus cermat untuk: Mengobservasi penghitungan atas unsur yang paling signifikan dan
sampel yang representatif dari unsur-unsur yang tipikal; Meminta keterangan tentang
unsur-unsur yang mungkin usang atau rusak; dan Membahas dengan manajemen, alasan
tidak mengikutsertakan unsur yang material.
6.4 Pengujian Observasi Fisik
Tujuan audit untuk pengujian rinci saldo memberi kerangka acuan yang sama untuk
membahas pengujian observasi fisik. Tabel tujuan audit saldo dan pengujian rinci saldo untuk
observasi fisik persediaan menunjukkan berbagai prosedur audit untuk pengujian rinci saldo
atas observasi persediaan fisik. Di sini kita berasumsi bahwa klien melakukan penghitungan
fisik persediaan pada tanggal neraca dan mencatat hasil penghitungan dalam label bernomor
urut tercetak (prenumbered tags). Apabila mereka mencatat hasil penghitungan persediaan
dengan cara lain, audit prosedurnya perlu diubah. Selain prosedur rinci seperti dilukiskan
dalam Tabel tersebut, auditor harus menginspeksi semua area fisik di mana persediaan
disimpan untuk memastikan bahwa bahwa semua persediaan telah dihitung dan dicantumkan
dalam label dengan benar. Kotak-kotak dan bungkusan-bungkusan lain yang berisi persediaan
harus dibuka selama penghitungan berlangsung untuk memastikan bahwa persediaan ada
secara fisik. Sebagai bagian dari prosedur analitis yang dilakukan setelah klien menyelesaikan
penghitungan persediaan, auditor membandingkan persediaan bernilai rupiah tinggi dengan
penghitungan tahun lalu dan master file persediaan untuk menguji kewajaran.

7. AUDIT PENETAPAN HARGA DAN KOMPILASI


Auditor harus memeriksa bahwa penghitungan fisik atau catatan kuantitas perpetual telah
ditentukan harganya dan dikompilasi dengan benar. Pengujian harga persediaan mencakup
semua pengujian atas harga perunit yang digunakan klien untuk memastikan bahwa harga-
harga tersebut benar. Kompilasi persediaan meliputi pengujian atas pengikhtisaran
penghitungan fisik persediaan yang dibuat klien, penghitungan ulang harga dikalikan kuantitas,
penjumlahan vertikal ikhtisar persediaan, dan menelusur totalnya ke buku besar.
7.1 Pengendalian Penetapan Harga dan Kompilasi

10
Pengendalian internal sekitar penetapan harga pokok per unit yang terintegrasi dengan
catatan produksi dan akuntansi lainnya memberikan asurans bahwa klien menggunakan biaya
perolehan yang benar untuk persediaan akhir. Catatan biaya standar yang menunjukkan selisih
(variances) biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik bermanfaat untuk
menilai kewajaran catatan produksi apabila manajemen memiliki prosedur yang diterapkan
agar standar termutahirkan apabila terjadi perubahan dalam proses dan biaya produksi.
Manajemen harus memiliki seseorang yang independen dari departemen yang
bertanggungjawab dalam penentuan review biaya untuk menentukan kewajarannya.
Untuk mencegah dicantumkannya nilai persediaan yang sudah usang, klien harus memiliki
review formal dan pelaporan tentang barang usang, lambat perputarannya, rusak, dan barang
dinilai terlalu tinggi. Review harus dilakukan oleh pegawai yang memiliki pengetahuan untuk
mereview master file persediaan perpetual untuk menilai kecepatan perputaran (turn over) dan
mendiskusikannya dengan personel engineering dan produksi. Klien perlu memiliki
pengendalian internal untuk kompilasi persediaan untuk memastikan bahwa hasil
penghitungan fisik diikhtisarkan dengan tepat. Pengendalian internal terpenting untuk
ketepatan adalah verifikasi internal oleh pegawai yang kompeten dan independen yang
mengandalkan pada dokumen dan catatan yang memadai yang digunakan untuk perhitungan
fisik persediaan.
7.2 Prosedur Penetapan Harga dan Kompilasi
Prosedur penetapan harga dan kompilasi bertujuan untuk pisah batas yang dilakukan
sebagai bagian dari penjualan dan pembelian. Auditor dapat menerapkan tujuan dengan
menggunakan informasi yang diperolah dari klien sebagai kerangka acuan, termasuk deskripsi
masing-masing persediaan, kuantitas, harga pokok per unit, dan nilai persediaannya. Total dari
daftar tersebut harus sama dengan saldo di buku besar. Adapun tujuan audit dan pengujian
terkait atas penetapan harga dan kompilasi persediaan, yaitu kecocokan, keberadaan,
kelengkapan, dan sebagainya. Salah satu tujuan audit saldo ini misalnya kecocokan, dimana
persediaan yang tercantum dalam daftar persediaan cocok dengan hasil penghitungan fisik,
perkaliannya benar, penjumlahannya cocok, dan saldo nya sesuai dengan buku besar, maka
akan dilakukan prosedur observasi persediaan seperti melakukan pengujian kompilasi,
menjumlahkan daftar persediaan untuk manufaktur, menelusuri totalnya ke buku besar, hingga
dihasilkan komentar untuk membatasi pengujian kebenaran perkalian dan penambahan,
kecuali pengendalian internal lemah.
7.3 Penilaian Persediaan

11
Auditor harus memperhatikan tiga hal dalam melakukan pengujian penilaian persediaan.
Pertama, metodenya harus sesuai dengan SAK. Kedua, penerapan metode harus konsisten dari
tahun ke tahun. Ketiga, biaya perolehan dengan nilai pasar harus dipertimbangkan. Dalam
verifikasi penentuan harga persediaan bergantung pada barang yang dibeli atau diproduksi.
1. Penetapan Harga Persediaan yang Dibeli
Tipe utama persediaan yang termasuk disini adalah bahan baku, suku cadang, dan
perlengkapan. Dalam penilaian persediaan yang dibeli, auditor harus menetukan apakah
klien menggunakan metode LIFO, FIFO, rata-rata tertimbang, atau metode penilaian
lainnya. Auditor juga harus menentukan biaya-biaya yang dimasukkan dalam penilaian
suatu jenis persediaan. Setelah itu, auditor harus berfokus pada persediaan dengan nilai
rupiah yang besar dan produk yang harganya berfluktuasi tinggi. Auditor juga harus
mendaftar jenis persediaan untuk diverifikasi atas penetapan harga dan meminta faktur
penjualan kepada klien, lalu memeriksa faktur yang memadai untuk menjadi bukti
pendukung atas seluruh akun persediaan atas jenis yang diuji, terutama yang menggunakan
metode penilaian FIFO. Terakhir, auditor harus menguji biaya per unit tercatat dalam
pencatatan perpetual ke faktur penjual sebagai bagian dari pengujian transaksi siklus
pembelian dan pembayaran.
2. Penetapan Harga Persediaan yang Diproduksi
Dalam menetapkan harga persediaan yang diproduksi, auditor harus
mempertimbangkan biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Dalam
hal biaya bahan baku, auditor harus mempertimbangkan biaya perolehan per unit atas
bahan baku dan jumlah unit yang diperlukan dalam memproduksi satu unit output. Auditor
juga harus memeriksa faktur penjual atau master file persediaan perpetual, lalu memeriksa
spesifikasi teknis, menginspeksi barang jadi, atau mencari metode yang sama untuk
menentukan jumlah unit yang diperlukan untuk membuat sebuah produk.
Dalam hal tenaga kerja langsung, auditor harus melakukan verifikasi biaya per jam atas
tenaga kerja dan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk membuat sebuah produk, dengan
memeriksa daftar gaji atau upah dan kontrak kerja.
Dalam overhead pabrik, auditor harus mengevaluasi metode yang digunakan secara
konsisten dan kewajarannya serta menghitung kembali biaya untuk memastikan bahwa
pembebanan biaya overhead sudah benar. Jika klien memiliki pencatatan biaya standar,
maka metode yang efisien dan bermanfaat untuk menentukan penilaian adalah dengan
mereview dan menganalisis selisih.
Biaya Perolehan atau Harga Pasar

12
Dalam menetapkan harga persediaan, auditor harus mempertimbangkan biaya pokok
pengganti atau nilai realisasi bersih yang lebih rendah daripada biaya perolehan historis. Lalu,
auditor dapat menguji biaya penggantian dengan memeriksa faktur dari penjual pada periode
berikutnya atau faktur terakhir jika tidak terdapat pembeliaan persediaan setelah akhir tahun.
Auditor juga harus mempertimbangkan harga jual persediaan dan kemungkinan dampak
fluktuasi harga yang cepat untuk menetapkan nilai realisasi bersih.

8. PENGINTEGRASIAN PENGUJIAN
8.1 Pengujian Siklus Pembelian dan Pembayaran
Auditor melakukan verifikasi pembelian persediaan dan juga mengumpulkan bukti atas
ketelitian pembelian bahan baku dan seluruh biaya overhead pabrik, kecuali biaya tenaga kerja.
Biaya perolehan pembelian mengalir ke harga pokok penjualan atau menjadi bagian terbesar
dari persediaan akhir bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Untuk audit yang
kliennya menggunakan persediaan perpetual, auditor melakukan pengujian ini sebagai bagian
dari prosedur pengujian pengendalian dan pengujian substantif golongan transaksi yang
dilakukan dalam siklus pembelian dan pembayaran.
8.2 Pengujian Siklus Penggajian dan Personalia
Auditor melakukan verifikasi pada biaya tenaga kerja langsung pada kondisinya sama juga
diterapkan seperti dalam pembelian. Kebanyakan pencatatan akuntansi biaya untuk biaya
tenaga kerja langsung dan tidak langsung dapat diuji sebagai bagian dari audit siklus
penggajian dan personalia.
8.3 Pengujian Siklus Penjualan dan Pengumpulan Piutang
Kebanyakan pengujian audit dalam penggudangan barang jadi, dan pengiriman serta
pencatatan penjualan, akan terjadi bila siklus penjualan dan penagihan diuji. Saat klien
menggunakan catatan akuntansi biaya, auditor dapat menguji standar harga pokok penjualan
bersamaan dengan pelaksanaan pengujian penjualan.
8.4 Pengujian Akuntansi Biaya
Pengujian atas catatan akuntansi biaya dilakukan untuk memverifikasi pengendalian yang
memengaruhi persediaan yang tidak diperiksa auditor sebagai bagian dari pengujian atas ketiga
siklus sebelumnya. Auditor menguji pengendalian fisik, pemindahan biaya bahan baku ke
barang dalam proses, pemindahan biaya produksi barang yang sudah selesai ke barang jadi,
master file persediaan perpetual, dan catatan biaya per unit.
8.5 Persediaan Fisik, Penetapan Harga dan Kompilasi

13
Penghitungan fisik persediaan, penetapan harga, dan kompilasi adalah penting dalam audit
persediaan karena salah saji salah satu aktivitas dapat menghasilkan salah saji pada persediaan
dan harga pokok penjualan. Dalam kebanyakan audit, harga pokok penjualan merupakan nilai
sisa dari persediaan awal ditambah pembelian bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan
biaya overhead pabrik dikurangi persediaan akhir.
Pada pengujian persediaan fisik, auditor sangat menitikberatkan pada master file
persediaan perpetual jika master file sudah diuji sebagai bagian dari satu atau lebih siklus yang
telah dianggap andal atau bisa dipercaya. Oleh karena itu, auditor dapat mengobservasi dan
menguji penghitungan fisik persediaan pada waktu di luar akhir tahun dan mengandalkan
catatan perpetual agar pencatatan jumlahnya memadai. Ketika menguji harga pokok per unit
sampai pada batas tertentu, auditor juga bisa mengandalkan pada pengujian catatan biaya yang
dilakukan selama pengujian substantif golongan transaksi, dimana catatan standar biaya
berguna untuk pembandingan dengan harga pokok per unit yang sesungguhnya.
Saat auditor menguji pengendalian dan melakukan pengujian substantif atas transaksi dan
saldo persediaan terkait, mereka juga mengintegrasikan pengujian yang berhubungan dengan
tujuan audit saldo dengan pengujian yang dilakukan untuk memenuhi keempat tujuan
penyajian dan pengungkapan. Standar akuntansi mensyaratkan pengungkapan atas metode
penilaian persediaan dan informasi persediaan lainnya yang relevan, seperti informasi FIFO
dalam catatan kaki. Auditor harus memperoleh pemahaman atas pengendalian klien
sehubungan dengan pengungkapan persediaan yang melakukan pengujian pengendalian
tersebut dan pengujian substantif lain untuk memperoleh bukti memadai bagi keempat tujuan
penyajian dan pengungkapan.

14

Anda mungkin juga menyukai