Anda di halaman 1dari 26

Tugas Kasus Kebisingan

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Penyakit Berbasis Lingkungan

Dosen: Dr. Ema Hermawati S.Si., M.KM.

Oleh
Kelompok 3
Dwi Sulistyaningsih 1606953820
Indah Febriani 1606953985
Meilania Regina 1606954110
Nadia listiani 1606954161
Nafi Ruhmita 1606954174
Shifa Nur Annisa Y 1706106476
Siska Amalia R 1606954483

S1 EKSTENSI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA

2017
BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki oleh manusia dan merupakan
faktor lingkungan yang dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan. Berdasarkan
Surat Keputusan (SK) Menteri Negara Lingkungan Hidup No: Kep.Men-
48/MEN.LH/11/1996, kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha
atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan
kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan, termasuk ternak, satwa, dan sistem
alam.
Kebisingan dirasakan pada tingkat individu, tetapi ketika individu mengalami
kebisingan sebagai masalah yang menyebabkan masalah pendengaran, mengganggu
fungsi kognitif dan mengurangi kesejahteraan, kebisingan menjadi masalah kesehatan
masyarakat. Paparan kebisingan secara signifikan berdampak pada kesehatan, baik
fisiologis maupun psikologis.
Secara umum polusi suara di daerah perkotaan dihasilkan melalui sumber yang
berbeda, di antaranya lalu lintas jalan, konstruksi dan kegiatan komersial, industri,
bandara dan daerah perumahan. Salah satu contohnya terjadi pada warga sekitar yang
terkena dampak kebisingan setelah peresmian landasan pacu Bandara Kertomukti dan
Jalan Tol oleh presiden beberapa minggu lalu.

2. Tujuan
a. Dapat memahami definisi kebisingan, alat ukur, dan cara mengukur kebisingan.
b. Dapat memahami agen energi fisik yang dipancarkan dan dampak yang
ditimbulkan.
c. Dapat memahami penyakit yang ditimbulkan dan cara mengurangi kebisingan.
d. Dapat memahami high risk group kebisingan dan potensi bahaya kebisingan.
e. Dapat memahami patofisiologi dampak kebisingan.
BAB II

ISI

1. Kasus
Sejak landasan pacu Bandara Kertomukti beserta Jalan Tol diresmikan oleh
Presiden beberapa minggu yang lalu, produksi ayam petelur pak haji Jupri berkurang.
Ketika betina siap-siap mengeluarkan telur, tiba-tiba bunyi suara jet menggelegar
https://civitas.uns.ac.id/titikmuslimah/2017/05
sehingga membuat telurnya tidak bisa keluar. Beberapa telur juga ada yang pecah.
/07/media-audio/Lain lagi pengalaman Paijo yang tidak bia tidur semalaman akibat berisiknya
jalan tol lalu lalang kendaraan, padahal beliau bekerja di pabrik gelas. Mandor sangat
ketat dalam mengabsen karyawan.

2. Kebisingan
a. Definisi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.718/Menkes/Per/XI/1987:
kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak diinginkan sehingga mengganggu dan
atau dapat membahayakan kesehatan. Bising ini merupakan kumpulan nada-nada
dengan macam-macam intensitas yang tidak diinginkan sehingga mengganggu
kesehatan orang terutama pendengaran. Sedangkan menurut Surat Edaran Menteri
Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi No. SE 01/Men/1978, kebisingan di tempat
kerja adalah semua bunyi atau suara-suara yang tidak dikehendaki yang bersumber
dari alat-alat di tempat kerja (Depkes RI, 1993).
Dalam bahasa K3, National Institute of Occupational Safety and Health
(NIOSH) telah mendefinisikan status suara atau kondisi kerja dimana suara berubah
menjadi polutan secara lebih jelas, yaitu : ( Tambunan, 2005)
1) Suara - suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 104 dBA
2) Kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan harus menghadapi tingkat
kebisingan lebih besar dari 85 dBA selama lebih dari 8 jam.

b. Alat ukur dan cara mengukur


Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan sound level meter.
Prinsip kerja alat ini adalah dengan mengukur tingkat tekanan bunyi. Mekasisme
kerja alat ini yaitu apabila ada benda bergetar, maka akan menyebabkan terjadinya
perubahan tekanan udara yang dapat ditangkap oleh alat ini sehingga
menggerakkan meter petunjuk.
Tingkat kebisingan dapat diklasifikasikan berdasarkan intensitas yang
diukur dengan satuan decibel (dB) seperti pada Tabel 1.
c. Populasi Resiko
Population at Risk adalah kelompok yang terkena resiko atau mendapatkan
ancaman penyakit lebih tinggi untuk terjadinya suatu penyakit. Populasi resiko dalam
kasus kebisingan ini adalah Warga dan hewan ternak sekitar Bandara Kertomukti dan
Jalan Tol. Hal tersebut terlihat dengan menurunnya produksi telur pada peternak ayam
salah satu warga.

3. Agen Fisik
a. Definisi
Agen fisik merupakan energi yang diradiasikan/dipancarkan dari sumbernya
melalui sebuah pancaran atau radiasi atau dirambatkan melalui komponen lingkungan,
misalnya benda padat, atau benda cair, bahkan udara. Beberapa agen fisik merupakan
energi yang dipancarkan dan memiliki panjang gelombang serta kekuatan. Suhu panas
dapat dipancarkan melalui media udara, namun dapat pula dirambatkan melalui media
lainnya. Demikian pula kebisingan dan radiasi elektromagnetik (Anies, 2008; Anies,
2009; Lucia et al. 2009).
b. Klasifikasi
Agen fisik dapat dikelompokkan ke dalam berbagai macam ragam klasifikasi.
Namun intinya adalah energi yang diradiasikan. Dari perspektif energi, agen fisik
terbagi menjadi beberapa macam, yaitu :
1) Kebisingan
Bising adalah campuran dari berbagai suara yang tidak dikehendaki
ataupun yang merusak kesehatan. Secara umum kebisingan diartikan sebagai
unwanted sound atau suara yang tidak diinginkan. Saat ini, kebisingan merupakan
salah satu satu penyebab penyakit lingkungan yang penting. Potensi penyakit dari
suara itu sendiri tergantung frekuensi dan intesitasnya. Pada umumnya batasan
kebisingan lebih diartikan kepada suara yang memiliki frekuensi dan intesitas
tinggi yang memiliki energi lebih besar dan cenderung memiliki potensi bahaya
kesehatan.
Di Indonesia yang masih terus membangun, taraf kebisingan akan terus
naik, terutama dari jalan raya dan industri. Untuk itu pemerintah Indonesia telah
mengeluarkan aturan guna mengatur tingkat kebisingan yang diperuntukan di
kawasan tertentu yang tampak pada tabel berikut.

Tabel tersebut memperlihatkan bahwa terdapat batas maksimum tingkat


kebisingan yang diperbolehkan untuk kawasan/lingkungan kegiatan tertentu dan
apabila batasan tersebut dilanggar, maka di khawatirkan akan menimbulkan
gangguan kesehatan bagi masyarakat yang terpapar oleh kebisingan yang
melampaui ambang batas tersebut.

2) Getaran
Getaran / Vibrasi adalah faktor fisik yang ditimbulkan oleh objek dengan
getaran isolasi misalnya mesin, peralatan kerja yang bergetar dan memajani
pekerjaan melalui transmisi. Getaran dan kebisingan merupakan hal yang
berkaitan satu sama lain. Suara keras dapat menimbulkan getaran atau vibrasi.
Getaran dapat dikelompokkan akibat alamiah atau kegiatan manusia.
Secara alamiah misalnya debur ombak, desir angin, halilintar bahkan gempa bumi
juga menimbulkan getaran hebat. Sedangkan kegiatan manusia banyak
menggunakan alat-alat yang menimbulkan getaran. Misalnya mesin gerindra,
mesin pesawat jet, mesin diesel, dan lain-lain. Banyak jenis-jenis pekerjaan yang
menggunakan mesin menimbulkan getaran yang terus menerus. Misalnya alat
pengeras jalan, drilling, grinding, dan lain sebagainya.
Getaran dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan secara perlahan
tapi pasti, dimulai dari rasa nyeri, perubahan-perubahan otot rangka, tulang,
gangguan sirkulasi organ tubuh dan lain sebagainya dengan cara mempengaruhi
beberapa sistem kerja tubuh manusia antara lain pada sistem peredaran darah,
misalnya kesemutan pada jaringan tangan dan kadang-kadang ujung jari memucat
yang disertai rasa nyeri. Pada sistem tulang sendi dan otot terjadi gangguan
ostevartikuler terutama pada tulang karpal, sendi siku. Dan pada sistem saraf yaitu
kelainan saraf sensoris yang menimbulkan kesemutan.

3) Cahaya
Cahaya merupakan sumber yang memancarakan energi. Sebagian dari
energi diubah menjadi cahaya tampak. Cahaya yang kurang atau terlalu terang
dapat merusak mata. Sering atau terus menerus bekerja di bawah cahaya yang
redup (insufisiensi) dalam jangka pendek menimbulkan ketidaknyamanan pada
mata (eye strain), berupa nyeri atau kelelahan mata, sakit kepala, mengantuk, dan
fatigue, dalam jangka panjang dapat menimbulkan rabun dekat (myopia) atau
mempercepat terjadinya rabun jauh pada usia yang lebih muda (presbyopia).
Biasanya terjadi pada pemahat, tukang emas, tukang jam, tukang pos bagian sortir.
Selain itu, cahaya yang menyilaukan juga dapat menimbulkan eye strain
dan kelainan visus. Semua pekerja berpotensi mengalami insufisiensi cahaya
dalam bekerja bila tidak memerhatikan kecukupan cahaya yang dibutuhkan untuk
pekerjaan tertentu, terutama dalam melaksanakan pekerjaan yang memerlukan
cahaya yang cukup dan ketelitian tinggi. Sedangkan pekerja berisiko terpajan
silaunya cahaya contohnya pekerja yang menggunakan visual display terminal
seperi komputer dan televisi.

4) Temperatur
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indoonesia (KBBI) temperatur adalah
panas dinginnya badan atau hawa; sedangkan suhu adalah ukuran kuantitatif
terhadap temperatur, panas dan dingin, sesuatu yang diukur thermometer. Manusia
memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan temperatur luar jika
perubahannya tidak melebihi 20% untuk kondisi panas dan 35% untuk kondisi
dingin terhadap temperatur normal 24 C.
Perubahan suhu juga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan
antara lain seperti:
a) Chilblain terjadi karena bekerja ditempat yang cukup dingin dalam waktu
yang cukup lama.
b) Frosbite terjadi akibat suhu yang sangat rendah dibawah titik beku.
c) Heat carmp dialami dalam lingkungan suhu yang tinggi sebagai akibat
bertambahnya keringat yang disertai hilangnya Na dari tubuh, yang
selanjutnya hanya diberi air saja tanpa diberi tambahan Na yang hilang.
d) Heat exhaustion terjadi karena cuaca yang sangat panas dan orang yang belum
teraklimatisasi.
e) Heat stroke terjadi pada orang yang melakukan pekerjaan berat didalam
lingkungan yang panas dan belum teraklimitasi.
f) Trenchfoot terjadi karena terendam dalam air dingin yang cukup lama.

5) Radiasi Pengion (Ionizing Radiation)


Radiasi pengion (Ionizing Radiation) merupakan pancaran energi
sedemikian dahsyatnya apabila membentur suatu materi akan terbentuk partikel-
partikel bermuatan listrik (ion) yang berlawanan baik secara alami maupun
buatan. Radasi pengion memiliki dua tipe, yakni tipe elektromagnetik dan tipe
partikel. Tipe elektromagnetik adalah energi non-partikel yang memiliki frekuensi
lebih dari 3,0x1015 dengan panjang gelombang kurang dari 1,0x10-17 m dan energi
perfoton (eV) lebih dari 1,2x101, misalnya sinar X dan sinar gamma. Sedangkan
radiasi partikel terdiri dari partikel alfa dan beta, elektron, proton, deutron,
neutron dan lain-lain. Contoh radiasi pengion antara lain seperti sinar X, sinar
alfa, sinar beta, sinar gamma, Helium-3, energi nuklir dan lain sebagainya.
a) Sinar X atau sinar rontgen
Sinar X mempunyai daya tembus yang tinggi sehingga dapat
menembus bahan dengan daya tembus yang sangat besar, biasanya sinar ini
digunakan dalam radiografi. Pajanan sinar X yang berlebih dapat
menyebabkan berbagai masalah kesehatan antara lain menyebabkan
perubahan struktur genetik, pemusnahan sel-sel dalam tubuh, serta dapat
menyebabkan penyakit kanker.
b) Sinar alfa
Sinar alfa memiliki sifat dapat dibelokkan oleh medan listrik dan
magnetic, memiliki daya tembus kecil dan dapat menembus kulit, sehingga
kelainan yang ditimbulkan pada umumnya bersifat lokal. Selain itu sinar alfa
juga memiliki energi kinetic yang besar serta dapat menghancurkan sel-sel
hidup dan menyebabkan kerusakan biologis. Pajanan sinar alfa yang berlebih
dapat menyebabkan gangguan kulit, gangguan sistem reproduksi, gangguan
mata, memicu timbulnya sel kanker
c) Sinar beta
Sinar beta memiliki daya tembus yang lebih besar dari sinar alfa, dapat
dibelokkan oleh medan listrik dan magnetik, serta menyebabkan kerusakan
radiasi yeng lebih besar karena dapat dengan mudah melewati kulit tubuh.
Pajanan sinar beta yang berlebih dapat menyebabkan gangguan kulit,
gangguan sistem reproduksi, gangguan mata, memicu timbulnya sel kanker.
d) Sinar gamma
Sinar gamma memiliki daya tembus yang sangat besar, tidak dapat
dibelokkan oleh medan listrik dan medan magnet, memiliki panjang
gelombang terpendek, serta memiliki energi yang sangat besar dan sangat
merusak. Pajanan sinar gamma yang berlebih dapat menimbulkan luka bakar,
impotensi, kerusakan hemopoetik, leukimia dan lain sebagainya.

e) Zat radioaktif
Sumber-sumber zat-zat radioaktif secara ilmiah selain sinar cosmos,
adalah pertambangan zat-zat radioaktif. Sumber buatan zat radioaktif termasuk
buangan reactor nuklir, sisa-sisa pembakaran batu bara dan minyak bumi
(dalam jumlah kecil), detonasi bom nuklir, serta kebocoran-kebocoran reaktor
nuklir seperti yang baru-baru ini terjadi di Chernobyl. Isotop radioaktif
digunakan di berbagai industri, di bidang pertanian, kedokteran, dan
penelitian. Efek kesehatan radioaktivitas dapat dipelajari dari eksperimen
alam yang terlanjur terjadi sewaktu perang dunia kedua, yaitu dijatuhkannya
bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Mereka yang tidak mati terbakar,
kebanyakan menderita kanker darah (leukemia), termasuk bayi-bayi yang saat
itu masih berada di dalam kandungan. Selain itu didapat banyak anak lahir
cacat, keguguran, katarak karena radiasi, tumor kelenjar ludah, dan lain-lain
penyakit radiasi. Kelainan karena zat radioaktif dalam dosis rendah ditemukan
di antara mereka yang mendapat paparan karena kerja, atau paparan
diagnostik, ataupun terapi.

6) Radiasi Non-Pengion (Non-Ionizing Radation)


Radiasi yang tidak mampu menimbulkan ionisasi lazim dikenal sebagai
non-ionizing radiation atau radiasi non-pengion. Dari aspek energi, kelompok ini
relatif kecil ketimbang bentuk radiasi yang mampu menimbulkan ion-ion. Namun
demikian, dampaknya tergantung kekuatan radiasi dan kondisi biologis kelompok
target. Beberapa energi yang masuk kelompok pengion, namun relatif memiliki
kekuatan dahsyat pada sekelompok spesies memberikan dampak berbeda.
Secara alamiah, jagad raya mengemisikan radiasi yang dikenal sebagai
radiasi kosmis. Selain itu dikenal pula radiasi terrestrial yang berasal dari bumi itu
sendiri. Bahkan beberapa gunung atau bahan tambang uranium juga memancarkan
kekuatan yang diradiasikan ini. Sebagai contoh radiasi terrestrial ini adalah hasil
samping dari proses tambang timah diberbagai wilayah di Indonesia, seperti
Thorium dan Radon. Bahkan dalam jumlah sedikit manusia juga memiliki
kandungan bahan-bahan radioaktif, berasal dari lingkungan yang secara tidak
sengaja masuk ke dalam tubuh manusia.
Contoh radiasi non-pengion antara lain sinar ultra violet, infra merah,
radiasi sinyal elektromagnetik ponsel dan lain sebagainya. Sumber radiasi
nonpengion kini banyak sekali dijumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari,
misalnya VDU- video display unit (layar monitor komputer), telepon seluler,
peralatan listrik seperti micro wave oven, alat pengering rambut, sinar matahari
serta saluran udara tegangan ekstra tinggi (sutet).
a) Sinar UV
Secara alamiah di dalam troposfir terdapat sinar UV, tetapi tidak dalam
jumlah yang besar. Dalam jumlah kecil, sinar ini baik bagi tubuh karena dapat
membantu pembentukan vitamin D. Namun, seiring dengan rusaknya lapisan
Ozon, maka lebih banyak sinar UV dapat memasuki troposfir. Terpaparnya
sinar UV menyebabkan peradangan, terbakar, dan melepuh. Sehingga
menyebabkan penyakit katarak dan konjungtivitis.
Berdasarkan panjang gelombangnya sinar ultraviolet terbagi dalam tiga
kategori, yakni:
Ultraviolet C atau (UVC) range, yang memiliki panjang gelombang antara
100 hingga 280 nm. Istilah ultraviolet karena memiliki frekuensi yang
lebih tinggi disbanding cahaya ungu. UVC ini terfilter, sehingga tidak
semua mencapai permukaan bumi. Salah satu efek baiknya adalah
merupakan germicidal atau pembunuh mikroorganisme terutama virus.
Kini ada teknologi pembunuh kuman dengan menggunakan cahaya
ultraviolet untuk mensterilisasi atau membunuh mikroorganisme, misalnya
dalam penyediaan air minum.
Ultraviolet B atau (UVB) range memiliki panjang gelombang antara 280
hingga 315 nm. Kelompok ini juga banyak terserap oleh atmosfer dan UV
B ini sering menimbulkan reaksi foto kemikal yang merupakan penyebab
produksi Ozone layer.
Ultraviolet A atau (UVA) memiliki rentang panjang gelombang antara 315
hingga 400 nm. Kelompok inilah yang dianggap tidak terlalu berbahaya
atau kurang merusak DNA sehingga sering digunakan sebagai pengobatan
psoriasis.
Visible light atau cahaya yang terlihat (cahaya yang membuat kita bisa
melihat sekeliling kita) memiliki rentang panjang gelombang antara 380
hingga 780 nm.
Radiasi dapat berpotensi membahayakan kesehatan apabila paparannya
melebihi dosis yang wajar. Adapun efek UV terhadap kesehatan tergantung
pada spektrumnya, yakni:
Spectrum elektromagnetik antara 4.000-3.000 disebut sinar hitam,
radiasinya dapat meningkatkan jumlah pigmen pada kulit.
UV panjang gelombang 3.200-2.800 disebut daerah erythema, yaitu
dapat membuat kulit menjadi merah. Pada dosis kecil, UV daerah ini tidak
terlalu berpengaruh, tetapi bila dosis besar, maka kulit dapat terbakar dan
kulit akan melepuh. UV daerah ini juga dapat membuat kornea menjadi
sakit. Mata terasa seolah ada pasir di dalamnya.
UV dengan panjang gelombang antara 2.800-2.200 bersifat bakterial,
dan sering digunakan untuk desinfeksi air ataupun udara.
UV berpanjang gelombang antara 2.200-1.700 adalah yang paling
efisien membentuk Ozon. Efek kronis penyinaran dengan UV adalah
terbentuknya kanker kulit.
b) Gelombang Mikro
Radiasi gelombang mikro adalah radiasi elektromagnetik yang
merupakan jenis radiasi radiofrequency spesifik yang ditemukan pada
frekuensi tinggi. Gelombang mikro dapat menyebabkan radikal bebas,
mempengaruhi kerja jantung, menyebabkan resiko tinggi anemia, serta bersifat
karsinogen (penyebab kanker).
c) Sinar Inframerah
Sumber inframerah berasal dari benda pijar dari dapur atau tanur, misal
pada pada industri pembuatan botol dan gelas atau alat-alat rehabilitasi medis.
Pajanan sinar inframerah yang berlebih dapat menyebabkan katarak, eritema,
terbakar, hingga nekrosis. Saat ini terdapat alat untuk mencegah pajanan
radiasi sinar inframerah yang berlebihan, yaitu dengan cara menggunakan
kacamata kobalt biru.

4. Penyakit yang Timbul dan Cara Mengurangi Kebisingan


Ambang batas kebisingan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup no. Kep-
48/MENLH/11/ 1996 menetapkan baku tingkat kebisingan untuk kawasan tertentu sesuai
Tabel 1. Baku tingkat kebisingan ini diukur berdasarkan rata-rata pengukuran tingkat
kebisingan ekivalen (Leq).
Tabel 1 Baku tingkat kebisingan
Dampak negatif yang timbul sebagai akibat dari kebisingan adalah efek
kesehatan dan non kesehatan. Hal ini dapat terjadi karena telinga tidak diperlengkapi
untuk melindungi dirinya sendiri dari efek kebisingan yang merugikan. Bunyi mendadak
yang keras secara cepat diikuti oleh reflek otot di telinga tengah yang akan membatasi
jumlah energi suara yang dihantarkan ke telinga dalam. Meskipun demikian di
lingkungan dengan keadaan semacam itu relatif jarang terjadi. Kebanyakan seseorang
yang terpajan pada kebisingan mengalami pajanan jangka lama, yang mungkin
intermiten atau terus menerus.
Transmisi energi seperti itu, jika cukup lama dan kuat akan merusak organ korti
dan selanjutnya dapat mengakibatkan ketulian permanen (Harrington dan Gill, 2005).
Secara umum telah disetujui bahwa untuk amannya, pemaparan bising selama 8 jam
perhari, sebaiknya tidak melebihi ambang batas 85 dBA. Pemaparan kebisingan yang
keras selalu di atas 85 dBA, dapat menyebabkan ketulian sementara. Biasanya ketulian
akibat kebisingan terjadi tidak seketika sehingga pada awalnya tidak disadari oleh
manusia. Baru setelah beberapa waktu terjadi keluhan kurang pendengaran yang sangat
mengganggu dan dirasakan sangat merugikan.
Pengaruh-pengaruh kebisingan selain terhadap alat pendengaran dirasakan oleh
para pekerja yang terpapar kebisingan keras mengeluh tentang adanya rasa mual, lemas,
stres, sakit kepala bahkan peningkatan tekanan darah. Gangguan kesehatan lainnya selain
gangguan pendengaran biasanya disebabkan karena energy kebisingan yang tinggi
mampu menimbulkan efek viseral, seperti perubahan frekuensi jantung, perubahan
tekanan darah, dan tingkat pengeluaran keringat. Sebagai tambahan, ada efek psikososial
dan psikomotor ringan jika dicoba bekerja di lingkungan yang bising (Harrington dan
Gill, 2005).
Bising menyebabkan berbagai gangguan terhadap manusia, baik gangguan
auditori (gangguan pendengaran) maupun gangguan-gangguan nonauditori (gangguan
fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi, ancaman bahaya keselamatan,
performa kerja menurun, kelelahan, dan stres).
Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai beberapa gangguan yang terjadi
akibat kebisingan.
a. Gangguan Auditori (Gangguan Pendengaran)
Diantara sekian banyak gangguan yang ditimbulkan oleh bising, gangguan
yang paling serius terjadi adalah gangguan terhadap pendengaran, karena dapat
menyebabkan hilangnya pendengaran atau ketulian. Ketulian ini dapat bersifat
progresif atau awalnya bersifat sementara, tetapi bila bekerja terus- menerus di
tempat bising maka daya dengar pekerja akan hilang secara menetap atau tuli.
b. Gangguan Nonauditori
Gangguan nonauditori dapat disebut juga keluhan yang dirasakan oleh
seseorang (keluhan subyektif) (Siswanto, 1992).
c. Gangguan Fisiologis
Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula timbul akibat
kebisingan. Pembicaraan atau instruksi dalam pekerjaan tidak dapat didengar secara
jelas, pembicara terpaksa berteriak-teriak selain memerlukan ekstra tenaga juga
menambah kebisingan. Misalnya, naiknya tekanan darah, nadi menjadi cepat,
vasokontriksi pembuluh darah (semutan), mempengaruhi keseimbangan, sakit kepala
(pusing), perasaan mual, otot leher terasa tegang atau metabolisme tubuh meningkat
(Buchari, 2007). Selain itu, menurut Sumamur (1996) kebisingan juga dapat
menurunkan kinerja otot yaitu berkurangnya kemampuan otot untuk melakukan
kontraksi dan relaksasi, berkurangnya kemampuan otot tersebut menunjukkan terjadi
kelelahan pada otot.
d. Gangguan Psikologis
Buchari (2007) memaparkan bahwa gangguan psikologis dapat berupa rasa
tidak nyaman, rasa jengkel, kebingungan, ketakutan, emosi meningkat, susah
berkonsentrasi, motivasi untuk berfikir dan bekerja karena bising. Pemaparan jangka
waktu lama juga dapat menimbulkan penyakit psikosomatik seperti gastristis,
penyakit jantung koroner dan lainnya. Eksposur terhadap kebisingan yang berlebihan
dapat menimbulkan pengaruh pada perilaku seperti kehilangan konsentrasi,
kehilangan keseimbangan dan disorientasi (berkaitan dengan pengaruh kebisingan
pada cairan di dalam saluran semisirkular telinga dalam) dan juga kelelahan (Ridley,
2003).
e. Gangguan Komunikasi
Kebisingan berpengaruh pada komunikasi dengan pembicaraan. Risiko
potensial pada pendengaran terjadi, apabila komunikasi dengan pembicaraan harus
dilakukan secara berteriak. Gangguan komunikasi semacam itu dapat menyebabkan
gangguan pada pekerjaan atau bahkan mengakibatkan kesalahan dan kecelakaan kerja
terutama pada pekerja baru (Chandra, 2007).
Analisis Tingkat Kebisingan di Jalan Raya yang Menggunakan Alat Pemberi
Isyarat Lalu lintas (APIL) (Susanti Djalante) Pilih L10 atau L10 (18 jam ) Volume Lalu
Lintas Kecepatan Prosentase Kendaraan Berat Gradien Permukaan Jalan Koreksi
Terhadap A Tahap 3 : Propagasi Koreksi oleh Jarak Apakah tidak ada Koreksi oleh
Penghalang Tahap 4 : Layout Koreksi atas Refleksi Koreksi atas sudut pandangan Ada
Segmen Lain ? Tahap 5 : Kombinasi Kontribusi Semua Segmen Tingkat Kebisingan
Hasil Prediksi
Gambar 2. Bagan Alir Memprediksi Tingkat Kebisingan Lalu Lintas

Kebisingan lalu lintas Kebisingan lalu lintas berasal dari suara yang dihasilkan
dari kendaraan bermotor,terutama dari mesin kendaraan, knalpot, serta akibat interaksi
antara roda dengan jalan.Kendaraan berat (truk, bus) dan mobil penumpang merupakan
sumber kebisingan utama di jalan raya.Secara garis besar strategi pengendalian bising
dibagi menjadi tiga elemen yaitu pengendalian terhadap sumber bising, pengendalian
terhadap jalur bising dan pengendalian terhadap penerima bising.

Gambaran transmisi ganguan akibat kebisingan dijelaskan menurut teori sampul


dibawah ini:
GAMBARAN TEORI SIMPUL
1) SIMPUL A (SUMBER PENYAKIT)
Suara yang dihasilkan oleh mesin Dalam buku Calculation of Road Traffic
Noise yang diterbitkan oleh Departement of Transport ,Welsh Office,HMSO,1988
pada paragraph 6 tentang Requirenment for use with the Noise Insulation Regulations,
disebutkan bahwa kombinasi dari tingkat kebisingan lalulintas maksimum yang di
perkirakan adalah tingkat kebisingan yang terjadi/relevan dari suatu jalan baru atau
yang diperbaiki beserta lalulintas yang lewat diatasnya maupun disekitarnya harus
tidak boleh kurang dari tingkat kebisingan yang ditentukan (68 dB (A),L10(18- jam).
Tingkat kebisingan yang terjadi/relevan paling kurang 1 ,0 dB (A) lebih besar dari
tingkat kebisingan yang ada yaitu total tingkat kebisingan lalulintas yang terjadi
sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi atau perbaikan jalan di mulai.
2) SIMPUL B (MEDIA TRANSMISI)
Suara (bising) yang ditimbulkan merambat melalui udara. Suara bising
ditransmisikan oleh udara pada manusia melalui saluran pendengaran (auditory).

3) SIMPUL C (HOST)
Bagian luar telinga mengumpulkan suara gelombang dari udara dan
menyalurkannya ke dalam liang telinga, di mana mereka diangkut ke gendang telinga.
Dikumpulkan gelombang suara menyebabkan gendang telinga untuk bergerak maju
mundur dalam gerakan mekanik bergetar yang diteruskan ke tulang dari telinga
tengah Gelombang gerakan di udara mengatur getaran simpatik yang ditularkan oleh
gendang telinga dan tiga tulang di telinga tengah ke ruang cairan dari telinga bagian
dalam. Dalam proses ini, yang relatif besar tapi lemah udara-induced getaran gendang
telinga dikonversi menjadi getaran mekanik jauh lebih kecil tetapi lebih kuat oleh tiga
ossicles, dan akhirnya menjadi getaran cairan. Gerak gelombang dalam cairan
dirasakan oleh saraf di koklea, yang mengirimkan pesan saraf ke otak. Suara dengan
intensitas yang tinggi mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-selrambut.
Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya
degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan.Stereosilia
pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap
stimulasi. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih
banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena
adalah daerah basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan
oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut dalam
dan sel-sel penunjang juga rusak. Kerusakan sel rambut luar mengurangi sensitifitas
dari bagian koklea yang rusak . Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel
rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus
pendengaran pada batang otak.
4) SIMPUL D (DAMPAK KESEHATAN)
Kebisingan dapat menyebabkan gangguan pendengaran meliputi tinnitus atau
telinga ber-dengung, kesulitan membedakan kata berfrekuensi tinggi dan dampak
auditory yang paling serius adalah ketulian jenis sensorineural (sensorineural hearing
loss) Tuli syaraf adalah akibat dari kerusakan sel-sel rambut didalam telinga bagian
dalam (inner ear). Tepatnya terletak di membrane basilaris di organ corti di cochlea.
Sel rambut dalam membentuk sebaris sel yang berjalan spiral disepanjang kochlea
dekat aksis sentral. Sedangkan sel rambut luar mempunyai 3-4 baris sel rambut yang
berjalan pada kochlea namun tidak berdekatan dengan axis sentral. Bagian dasar sel-
sel rambut menempel pada membrana basilaris , sedangkan pada bagian permukaan
ditempat stereosilia berada terletak membrana tektorial. Sedangkan membrana
basilaris dan membrana tektorial berhubungan dibagian sentral. Suara akan
mengerakkan kedua struktur ini pada arah yang berlawanan, sehingga stereosilia yang
berada dipermukaan sel rambut akan menekuk. Akibat dari pergerakan stereosilia
akan membuka dan menutup ion channels, yang menghasilkan potensial reseptor di
sel rambut dalam. Bila potensial reseptor ada maka hal ini menyebabkan
neurotransmitter keluar menuju serabut 2 saraf aferen tertentu. Sel-sel rambut kochlea
mempunyai sifat dengan frekwensi yang spesifik , dimana stimulasinya dari input
suara tergantung pada tonotopic map membrana basilaris. Suara dengan frekwensi
tinggi dideteksi dibagian basis koklea, sedangkan suara dengan frekwensi rendah
dideteksi dibagian apeks.Properti mekanik membrana basilaris sendiri kemudian yang
menentukan tonotopik ini. Sel-sel rambut dalam berperan sebagai auditory receptor
cells yang klasik , bertanggung jawab mengirim sinyal dalam bentuk frekwensi suara
yang spesifik keotak . Sedangkan sel-sel rambut luar memberikan efek amplifikasi
dari stimulus suara kepada sel -sel rambut dalam yang terdekat, dan mempertajam
respon frekwensi sel sel- rambut dalam yang terdekat. Sel-sel rambut luar memendek
dan memanjang bila ada stimulasi suara.Gerakan kontraksi seperti ini dapat
mempengaruhi sel-sel rambut dalam dengan merubah gerakan membrana basilaris
dan meningkatkan sensitifitas dan selektifitas frekwensi untuk output kochlear ( sinyal
menuju otak ). Ada protein prestin terdapat pada sel-sel rembut luar yang memberi
kemampuan untuk berkontraksi ini.

Pada kasus pengalaman Paijo yang tidak bisa tidur semalaman gara-gara berisik
jalan tol lalu lalang kendaraan, gambarkan proses kejadian gangguan kesehatan akibat
kebisingan pada kasus, yaitu :
1) Simpul 1 (Sumber agen panyakit) :

Suara berisik yang dihasilkan dari pertambahan atau lalu lalang kendaraan

bermotor menjadi sumber utama pencemaran bunyi. Pemaparan terhadap bahaya

bising dipengaruhi oleh intensitas bunyi kendaraan setiap hari terdengar dalam satuan

decibel (dB), frekuensi tinggi yang membahayakan telinga, durasi (lamanya pajanan)

telinga terpapar efek bising dan sifat distribusi energi bunyi terhadap waktu dimana

kendaraan yang lalu lalang tidak mengenal waktu dan jumlah, termasuk kedalam jenis

bising yang terputus-putus.

2) Simpul II (Wahana/Media Agent) :

Suara bising yang ditimbulkan merambat melalui udara. Suara bising

ditransmisikan oleh udara pada manusia melalui saluran pendengaran (auditory).

Adapun faktor-faktor yang memungkinkan reduksi kebisingan dapat dilihat dari

keadaan tempat tinggal/rumah Paijo yaitu jarak dari kebisingan, layout bangunan

rumah Paijo dan material rumah.

3) Simpul III (Karakteristik Host) :


Karakteristik yang dimiliki Paijo dapat menggangu kesehatannya dalah

perilaku Paijo yang juga dapat terpapar kebisingan di area kerjanya di pabrik gelas,

umur juga dapat mempengaruhi efek kebisingan terhadap kualitas pendengaran.

Namun, dalam kasus ini tidak dijelaskan spesifik umurnya.

Bagaiman telinga mendengar kebisingan. Bagian luar telinga menyalurkan

gelombang sura dari udara ke dalam liang telinga diangkut ke gendang telinga.

Gendang telinga bergerak maju dan mundur, gerakan mekanik ini diteruskan ke tulang

dari telinga tengah. Getaran simpatik dilanjutkan ke ruang cairan dari telinga dalam

(getaran cairan). Getaran cairan dirasakan oleh saraf di koklea dan mengirimkan

pesan saraf ke otak.

Suara dengan intensitas tinggi mempengaruhi organ corti di koklea terutama

sel-sel rambut. Terjadi degenarasi sel-sel rambut luar sesuai dengan intensitas dan

durasi paparan sperti hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati digantikan oleh

jaringan parut. Kerusakan mengurangi sensitifitas dari bagian koklea yang rusak.

Semakin luasnya kematian sel-sel rambut menimbulkan degenarasi pada saraf di

nucleus pendengaran pada batang otak.

4) Simpul IV (Efek/Keadaan Sehat/Sakit) :

Akibat yang dapat terjadi secara badaniah seperti kehilangan pendengaran

yaitu perubahan ambang batas sementara akibat kebisingan, perubahan ambang batas

permanan akibat kebisingan dan akibat fisiologis yaitu rasa tidak nyama, stress

meningkat, tekanan darah meningkat, sakit kepala, bunyi denging.

Akibat-akibat psikologis termasuk dalam gangguan emosional yaitu

kejengkelan dan kebingungan, gangguan gaya hidup seperti gangguan tidur atau
istirahat, hilangnya konsentrasi waktu bekerja, membaca dsb serta gangguan

pendengaran seperti merintangi kemampuan mendengarkan TV, radio, percakapan

atau telepon dsb.

5) Simpul V ( Manajemen Kesehatan Masyarakat) :

Terkait dengan faktor reduksi kebisingan, dapat dilakukan pengurangan


paparan Paijo tehadap kebisingan selain dengan pindah rumah yaitu dengan
memanipulasi halangan rumah dari kebisingan tol secara buatan vegetasi buatan yang
cukup tinggi, cukup lebar dan lebat seperti membuat pagar tumbuhan pepohonan,
material dinding yang digunakan untuk beton rumah.

5. High Risk Group Kebisingan dan Potensi Bahaya


Berdasarkan arti katanya high risk group adalah kelompok resiko tinggi. Dan high
risk group kebisingan merupakan kelompok orang yang beresiko tinggi mendapatkan
dampak negatif akibat terpapar kebisingan. Kelompok berisiko yang paling sering
disebutkan dalam literature adalah anak-anak, orang tua, sakit kronis dan orang-orang
dengan gangguan pendengaran serta orang-orang yang berada disumber kebisingan dalam
jangka waktu lama atau terus-menerus. Kategori lain yang dihadapi adalah mereka orang
yang sensitif, shift workers, orang dengan penyakit mental (misalnya, skizofrenia atau
autisme), orang yang menderita tinnitus, dan janin dan neonatus.
Selanjutnya, sumber bising ialah sumber bunyi yang kehadirannya dianggap
mengganggu pendengaran baik dari sumber bergerak maupun tidak bergerak. Umumnya
sumber kebisingan dapat berasal dari kegiatan industri, perdagangan, pembangunan, alat
pembangkit tenaga, alat pengangkut dan kegiatan rumah tangga. Kebisingan yang timbul
akibat penggunaan alat kerja dalam proses kerja diakibatkan oleh adanya tumbukan atau
benturan peralatan kerja yang pada umumnya terbuat dari benda keras atau logam.
Sedangkan kebisingan yang ditimbulkan oleh pergerakan udara, gas atau cairan
diakibatkan oleh adanya gesekan udara, atau cairan diakibatkan oleh adanya gesekan
molekul gas/udara tersebut yang mengakibatkan timbulnya suara atau kebisingan.
Potensi bahaya kebisingan ada di tempat dengan tingkat kebisingan tinggi,
kebisingan dapat berasal dari banyak tempat. Berikut contohnya:
a. Sumber kebisingan dirumah tangga:
Gadget seperti mixer makanan, grinder, vacuum cleaner, mesin cuci dan pengering,
pendingin, ac, dapat menjadi sangat berisik dan berbahaya bagi kesehatan.
b. Sumber kebisingan ditempat umum:
Di stasiun kereta, terminal, bandara, jalan raya, tempat ibadah, disko dan
pertunjukan, pesta dan acara sosial lainnya juga membuat banyak suara bagi
masyarakat yang tinggal di daerah itu. Di banyak daerah pasar, orang menjual
dengan pengeras suara dan lain-lain.
c. Sumber kebisingan di tempat industri :
Di tempat industri tingkat kebisingannya lebih tinggi dibanding tempat lain karena
industri pasti menggunakan mesin-mesin besar yang menjadi sumberutama
kebisingan. Contohnya industri makanan, percetakan, industri manufaktur, konstruksi
situs, dan lain-lain. Memberikan kontribusi untuk polusi kebisingan kepada
pekerjanya dan lingkungan sekitar. Seperti yang dikutip oleh umaryadi (2006) dari
thaib (2005), sumber bising di industri dibagi menjadi tiga kelompok, antara lain:
a) Mesin, disebabkan oleh karena yang bergetar karena kurang memadainya
damper dan bunyi mesin itu sendiri karena atau putaran.
b) Peralatan yang bergetar/berputar untuk melakukan suatu proses kerja. Bunyi
timbul sebagai efek dari peralatan kerja yang bergetar/bergetar yang terbuat
dari campuran metal
c) Aliran udara atau gas dengan tekanan tertentu keluar melalui outlet
menimbulkan bising. Bila aliran udara terjepit, suara yang keluar akan keras
sekali karena berfrekuensi tinggi.

Kebisingan bersumber dari lalu lintas, kegiatan industry, aktifitas penerbangan,


kereta api dan konstruksi bangunan. Kebisingan pesawat merupakan kebisikn terputus-
putus atau intermittent. Kebisingan yang paling membuat masyarakat tergnggu adalah
kebisingan pesawat dari pada kebisingan lalu lintas jalan dan kereta api ( Munzzel, 2014)

5. Patofisiologi Dampak Kebisingan


Menurut Muhammad Luxson (2010) Bising merupakan suara atau bunyi yang
mengganggu. Bising dapat menyebabkan berbagai gangguan seperti fisiologis, gangguan
psikologis, gangguan komunikasi dan ketulian.
Ada yang menggolongkan gangguannya berupa gangguan auditory, dan gangguan
non auditory seperti gangguan komunikasi, ancaman bahaya keselamatan, menurunnya
performan kerja, stres dan kelelahan. Lebih dampak kebisingan terhadap kesehatan
pekerja dijelaskan sebagai berikut (Muhamad 2010):
a. Gangguan fisiologis
Pada umumnya bising bernada tinggi sangat emngganggu, apalagi bila terputus-putus
atau yang datang tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah
(kurang lebih 10 mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer
terutama pada tangan dan kaki, serta dapat emnyebabkan pucat dan gangguan
sensoris. Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/ sakit kepala. Hal
ini disebabkan bising dapat merangsang situasi reseptor vestibular dalam telinga
dalam yang akan menimbulkan efek pusing/ vertigo. Perasaan mual, susah tidur dan
sesak nafas disebabkan oleh rangsang bising terhadap sistem syaraf, ekseimbangan
organ, kelenjar endokrin, tekanan darah, sistem pencernaan dan keseimbangan
elektrolit.
b. Gangguan psikologis
Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, suah tidur,
dan cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu yang lama dapat
menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis, jantung, stres, kelelahan dan
lain-lain.
c. Gangguan Komunikasi
Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi
pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi
pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan
tergangggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena
tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gagguan komunikasi ini secara tidak
langsung membahayakan keselamatan seseorang.
d. Gangguan keseimbangan
Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau
melayang, yang dapat emnimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing
(vertigo) atau mual-mual.
e. Efek pendengaran
Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera
pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan
diterima secara umum dari zaman dulu. Mula-mula efek bising pada pendengaran
adalah sementara dan pemulihan terajdi secara cepat sesudah pekerjaan sesudah
pekerjaan di area bising dihentikan. Akan tetapi apabila bekerja terus menerus di area
bising maka akan terjadi menetap dan tidak dapat normal kembali. Biasanya dimulai
pada frekuensi 400 Hz dan kemudian makin meluas ke fekuensi sekitarnya dan
akhirnya mengenaifrekuensi yang biasanya digunakan untuk percakapan.
Eksposure terhadap kebisingan yang berlebihan dapat emnimbulkan pengaruh
pada (Muhamad, 2010) :
a. Telinga
Kerusakan permanen pada sel-sel rambut di dalam cochlea mengakibatkan penurunan
kemampuan mendengar (kehilangan pendengaran karena kebisingan) atau (Noise
Induced Hearing Loss); tinnitus ( berdenging di dalam telinga); pergeseran ambang
pendengaran dengan meningkatnya kesulitan mendengar, khusunya semakin kentara
di ruang yang gaduh.
b. Perilaku
Kehilangan konsentrasi, kehilangan keseimbangan dan disorientasi (berkaitan dengan
pengaruh kebisingan pada cairandi didalam saluransemisirkuler telingadalam);
kelelahan.
Kebisingan dapat menyebabkan dua jenis gangguan pada manusia (tigor, 2005)
yaitu:
a. Dampak auditorial
Dampak auditorial cukup banyak jenisnya dengan tingkat keparahan yang
beragam, mulai bersifat sementara dan dapat disembuhkan / sembuh dengan
sendirinya (temporary threshold shift atau TTS) hingga permanen (permanent
Threshold shift atau PTS).
Dalam istilah kedokteran salah satu jenis dampak auditorial yang cukup
etrkenal adalah tinitus. Tinitus terjadi karena durasi kontak antara telinga dengan
kebisingan terlalu lama yang akhirnya bagian dalam telinga mengalami iritasi.
Dampak auditorial juga dapat diklasifikasikan berdasarkan letak atau posisi gangguan
pendengaran manusia. Untuk menentukan apakah seorang pekerja mengalami dampak
tersebut, harus dilakukan analisis terhadap hasil audiometric test (konduksi udara dan
konduksi tulang). Dikenal tiga jenis gangguan (hearing lost) yaitu:
1) Conductive hearing loss
Jenis gangguan ini diklasifikasikan sebagai masalah mekanis (mechanical
hearing loss) karena menyerang bagian luar dan tengah telinga pekerja, tepatnya
selaput gendang telinga dan ketiga tulang utama (hammer, anvil, dan sirrup)
menjadi sulit atau tidak bisa bergetar. Akibatnya, pekerja menjadi agak sulit
mendengar.
2) Sensorineural hearing loss
Sesuai dengan namanya, sensorineural hearing loss diklasifikasikan
sebagai masalah pada sistem sensor, dan bukan masalah mekanis. Berbeda dengan
concuctive hearing loss yang disebabkan oleh ketidakberesan pada bagianluar dan
tengah telinga, sensorineural hearing loss disebabkan ketidakberesan pada bagian
dalam telinga, khususnya choclea. Tingkat keparahan sensorineural hearing loss
cukup beragam, mulai ringan hingga serius namun umumnya bersifat permanen.
3) Mixed hearing loss
Jika kedua threshold konduksi menunjukkan adanya kehilangan/ gangguan
pendengaran, namun porsi kehilangan lebh besar pada konduksi udara.

b. Dampak non auditorial


Selain menimbulkan dampak negatif (permanen atau sementara) terhadap
sistem pendengaran, kebisingan juga dapat mengganggu:
1) Sistem keseimbangan kardiovaskuler
Tekanan darah menjadi naik, denyut jantung meningkat (secara visual
dapat dilihat dari cara seseorang bernafas yang semakin cepat dan mudah
terengah-engah saat bekerja di tempat bising).
2) Kualitas tidur (noise induced sleep)
Tingkat gangguan tidur sangat bervariasi [ada setiap orang, mulai dari
ringan hingga berat, misalnya sering terbangun tanpa sebab yang jelas, tidak
tenang/ sering berpindah posisi tidur/ frekuensi gerakan tubuh cukup tinggi,
perubahan pada gerakan mata (rapid eye movement).
4) Kondisi kejiwaan pekerja (stres)

Gambar 1 Patofisiologi Dampak Kebisingan

Paparan suara yang berlebihan mungkin merupakan penyebab paling umum


gangguan pendengaran. Secara umum, paparan kebisingan yang berkepanjangan
dengan kekuatan suara lebih dari 85 dB (A) sangat berpotensi menimbulkan
berbahaya meskipun faktor penting adalah jumlah total pemaparan suara, Baik tingkat
dan lamanya pemaparan, dan keduanya saling terkait.
Pada kasus ini paparan yang di dapatkan karena suara bising akibat industri
mugkin menyebabkan kebisingan dengan nilai 8 dB untuk 8 jam kerja per harinya
yang menyebabkan telinga menjadi menurun fungsinya dan dapat berkembang
menjadi sebuah pergeseran ambang sementara (temporary threshold shift / TTS).
Patofisiologi kerusakan kebisingan pada telinga telah dipelajari secara luas
pada manusia dan hewan. Diketahui bahwa mekanisme kerusakan pemaparan suara
yang berlebihan pada telinga dapat menghasilkan TTS. Jika TTS terjadi dari hari ke
hari, pemulihan menjadi kurang lengkap dan menjadi permanen Ambang batas (PTS)
yang terjadi karena adanya paparan kebisingan yang terus menerus.
BAB III
Kesimpulan

Berdasarkan kasus kebisingan landasan pacu Bandara Kertomukti dan Jalan Tol,
menimbulkan dampak negatif baik pada warga sekitar maupun populasi lain seperti hewan
ternak milik pak Haji Jupri. Kebisingan merupakan terjadinya bunyi yang tidak diinginkan
sehingga mengganggu dan atau dapat membahayakan kesehatan. Alat ukur yang digunakan
antara lain sound level meter. Populasi risiko akibat kebisingan antara lain warga sekitar dan
hewan ternak milik warga.
Agen fisik merupakan energi yang diradiasikan/dipancarkan dari sumbernya melalui
sebuah pancaran atau radiasi atau dirambatkan melalui komponen lingkungan, misalnya
benda padat, atau benda cair, bahkan udara. Klasifikasi agen fisik antara lain, yaitu
kebisingan, getaran, cahaya, radiasi pengion, dan radiasi non-pengion.
Gangguan yang ditimbulkan akibat kebisingan yaitu gangguan pendengaran, fisiologi,
psikologis, dan komunikasi. Kelompok berisiko yang paling sering disebutkan dalam
literature adalah anak-anak, orang tua, sakit kronis dan orang-orang dengan gangguan
pendengaran serta orang-orang yang berada disumber kebisingan dalam jangka waktu lama
atau terus-menerus.
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Umar Fahmi. 2014. Dasar-dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. PT Rajagrafindo


Persada: Jakarta.
Analisis Tingkat Kebisingan Di Jalan Raya Yang Menggunakan Alat Pemberi Isyarat Lalu
Lintas (Apil) (Studi kasus: Simpang Ade Swalayan) Susanti Djalante* dalam
file:///C:/Users/Hp/Downloads/647-2290-1-PB%20(1).pdf diunduh tanggal 12
November 2017
Giyanti, Devi Arifatin. 2015. Efek Kebisingan Mesin Penghalus Garam Terhadap Gangguan
Fungsi Penengaran Pada Pekerja. Stikes Widyagama Husada. Diakses pada :
https://dokumen.tips/documents/1-teori-simpul-efek-kebisingan-terhadap-gangguan-
pendengaran.html
Luxson, Muhamad, Sri Darlina dan Tan Malaka. Agustus 2010. Kebisingan di Tempat
Kerja. Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol.6 No. 2
Munzel T, Gori T, Babisch W, Basner M. 2014. Cardiovascular effect of environmental noise
exposure. Eropean Heart Journal 2014; 35. 829-836. Di unggah di:
http://www.digilib.ui.ac.id/file?file=digital/125420-s-5631-gambaran%20kebisingan-
literatur.pdf pada tanggal 25 september 2016
Nizam, Subhi Jamaludin. 2006. Analisis Faktor Reduksi Kebisingan Jalan Tol Terhadap
Rumah Tinggal (Studi Kasus Perumahan Komplek Pengairan, Bekasi Selatan).
Universitas Gunadarma. Diakses pada :
http://www.gunadarma.ac.id/library/abstract/gunadarma_20303034-ssm_ftsp.pdf
Slamet, Juli Soemirat. 2000. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Sumantri, Arif. 2015. Kesehatan Lingkungan. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.

https://dokumen.tips/documents/1-teori-simpul-efek-kebisingan-terhadap-gangguan-
pendengaran.html diunduh tanggal 12 November 2017
http://library.usu.ac.id/download/ft/07002749.pdf
http://www.pu.go.id/uploads/services/service20130717122457.pdf diunduh tanggal 12
November 2017
http://www.who.int/occupational_health/publications/noise3.pdf