Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB)

OLEH :

D-IV KEPERAWATAN TK. 3, SEMESTER VI

NI KADEK DIAN INLAM SARI


NIM.P07120214018

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2017
LAPORAN PENDAHULUANASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB)

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. PENGERTIAN
Abnormal Uterine Bleeding/ Perdarahan Uterus Abnormal
merupakan perdarahan yang terjadi diluar siklus menstruasi yang
dianggap normal. Perdarahan Uterus Abnormal dapat disebabkan oleh
faktor hormonal, berbagai komplikasi kehamilan, penyakit sistemik,
kelainan endometrium (polip), masalah-masalah serviks / uterus
(leiomioma) / kanker. Namun pola perdarahan abnormal seringkali
sangat membantu dalam menegakkan diagnosa secara individual. (Ralph.
C Benson, 2009).
Perdarahan uterus abnormal (PUA) meliputi semua kelainan haid
baik dalam hal jumlah maupun lamanya. Manifestasi klinis dapat berupa
perdarahan banyak, sedikit, siklus haid yang memanjang atau tidak
beraturan
Terminologi menoragia saat ini diganti dengan perdarahan haid
banyak atau heavy menstrual bleeding (HMB) sedangkan perdarahan
uterus abnormal yang disebabkan faktor koagulopati, gangguan
hemostatis lokal endometrium dan gangguan ovulasi merupakan kelainan
yang sebelumnya termasuk dalam perdarahan uterus disfungsional
(PUD).

B. ETIOLOGI

Sebab-sebab organik

Perdarahan dari uterus, tuba, dan ovarium disebabkan oleh kelainan pada:

1) Serviks uteri, seperti polipus servisis uteri, erosio porsionis uteri,


ulkus pada porsio uteri, karsinoma servisis uteri;
2) Korpus uteri, seperti polip endometrium, abortus iminens, abortus
sedang berlangsung, abortus inkompletus, mola hidatidosa,
koriokarsinoma, subinvolusio uteri, karsinoma korporis uteri, sarkoma
uteri, mioma uteri;
3) Tuba Falopii, seperti kehamilan ektoplik terganggu, radang tuba,
tumor tuba;
4) Ovarium, seperti radang ovarium, tumor ovarium.

C. KLASIFIKASI
1. Perdarahan uterus abnormal akut
Perdarahan haid yang banyak sehingga perlu dilakukan penanganan
yang cepat untuk mencegah kehilangan darah. Perdarahan uterus
abnormal akut dapat terjadi pada kondisi PUA kronik atau tanpa
riwayat sebelumnya.
2. Perdarahan uterus abnormal kronik
Merupakan terminologi untuk perdarahan uterus abnormal yang
telah terjadi lebih dari 3 bulan. Kondisi ini biasanya tidak
memerlukan penanganan yang cepat dibandingkan PUA akut.
3. Perdarahan tengah (intermenstrual bleeding)
Perdarahan haid yang terjadi di antara 2 siklus haid yang teratur.
Perdarahan dapat terjadi kapan saja atau dapat juga terjadi di waktu
yang sama setiap siklus. Istilah ini ditujukan untuk menggantikan
terminologi metroragia.

Berdasarkan International Federation of Gynecology and


Obstetrics (FIGO), terdapat sembilan kategori utama yang disusun sesuai
dengan akronim PALM-COEIN yakni; polip, adenomiosis, leiomioma,
malignancy and hyperplasia, coagulopathy, ovulatory dysfunction,
endometrial, iatrogenik dan not yet classified.

Kelompok PALM merupakan kelainan struktur yang dapat dinilai


dengan berbagai teknik pencitraan dan atau pemeriksaan histopatologi.
Kelompok COEIN merupakan kelainan non struktur yang tidak dapat
dinilai dengan teknik pencitraan atau histopatologi.
1) Polip (PUA-P)
Definisi: Pertumbuhan lesi lunak pada lapisan endometrium uterus,
baik bertangkai maupun tidak, berupa pertumbuhan berlebih dari
stroma dan kelenjar endometrium dan dilapisi oleh epitel
endometrium. Biasanya terjadi pada fundus dan dapat melekat
dengan adanya tangkai yang ramping (bertangkai) atau dasar yang
lebar (tidak bertangkai). Kadang-kadang polip prolaps melalui
serviks.
Gejala:
o Polip biasanya bersifat asimptomatik, tetapi dapat pula
meyebabkan PUA, paling umum berupa perdarahan banyak
dan di luar siklus atau perdarahan bercak ringan pasca
menopause.
o Lesi umumnya jinak, namun sebagian atipik atau ganas.
Diagnostik:
o Diagnosis polip ditegakkan berdasarkan pemeriksaan USG dan
atau histeroskopi, dengan atau tanpa hasil histopatologi.
o Histopatologi pertumbuhan eksesif lokal dari kelenjar dan
stroma endometrium yang memiliki vaskularisasi dan dilapisi
oleh epitel endometrium.

Terapi:
o Eksisi, namun cenderung berulang.
o Untuk terapi definitif dapat dilakukan histerektomi, namun
jarang dilakukan untuk polip endometrium yang jinak.

2) Adenomiosis (PUA-A)
Definisi: Dijumpainya jaringan stroma dan kelenjar endometrium
ektopik pada lapisan miometrium.
Gejala:
o Nyeri haid, nyeri saat senggama, nyeri menjelang atau sesudah
haid, nyeri saat buang air besar, atau atau nyeri pelvik kronik.
o Gejala nyeri tersebut di atas dapat disertai dengan perdarahan
uterus abnormal berupa perdarahan banyak yang terjadi dalam
siklus.
Diagnostik:
o Pemeriksaan Fisik:
Fundus uteri membesar secara difus.
Adanya daerah adenomiosis yang melunak, dapat diamati
tepat sebelum atau selama permulaan menstruasi.
o Kriteria adenomiosis ditentukan berdasarkan kedalam jaringan
endometrium pada hasil histopatologi. Hasil histopatologi
menunjukkan dijumpainya kelenjar dan stroma endometrium
etopik pada jaringan miometrium.
o Adenomiosis dimasukkan dalam sistem klasifikasi berdasarkan
penelitian MRI dan USG. Mengingat terbatasnya fasilitas
MRI, pemeriksaan USG cukup untuk mendiagnosis
adenomiosis. Hasil USG menunjukkan jaringan endometrium
heteropik pada miometrium dan sebagian berhubungan dengan
adanya hipertrofi miometrium.

Diagnosis banding
o Kehamilan.
o Leiomioma submukosa.
o Hipertrofi uteri idiopatik.
o Karsinoma endometrium.
Terapi:
o Simptomatik: diberikan jika masih ingin mempertahankan
kemampuan untuk memiliki anak.
o Reseksi.
o Terapi kuratif: histerektomi.

3) Leiomioma (PUA-L)
Definisi: pertumbuhan jinak otot polos uterus pada lapisan
miometrium.
Jenis berdasarkan lapisan uterus tempat tumbuhnya:
o Submukosa
o Intramural
o Subserosa.
Mioma submukosa dan subserosa ada yang bertangkai
(pedunculated). Mioma submukosa bertangkai seringkali sampai
keluar melewati ostium uteri eksternum yang disebut sebagai
mioma lahir (myoom geburt).

Gejala:
o Perdarahan uterus abnormal berupa pemanjangan periode,
ditandai oleh perdarahan menstruasi yang banyak dan/atau
menggumpal, dalam dan di luar siklus.
o Pembesaran rahim (bisa simetris ataupun berbenjol-benjol).
o Seringkali membesar saat kehamilan.
o Penekanan terhadap organ sekitar uterus, atau benjolan
pada dinding abdomen.
o Nyeri dan/atau tekanan di dalam atau sekitar daerah
panggul.
o Peningkatan frekuensi berkemih atau inkontinensia.
Diagnosis Banding:
o Kehamilan.
o Adenomiosis.
o Karsinoma uteri.
Pemeriksaan Penunjang:
o Darah lengkap dan urine lengkap.
o Tes kehamilan.
o Dilatasi dan kuretase pada penderita yang disertai
perdarahan untuk menyingkirkan kemungkinan patologi
lain pada rahim (hyperplasia atau adenokarsinoma
endometrium).
o USG.
Terapi:
1. Observasi: jika uterus diameternya kurang dari ukuran uterus
pada masa kehamilan 12 minggu tanpa disertai penyulit.
2. Ekstirpasi: biasanya untuk mioma submukosa bertangkai atau
mioma lahir/geburt, umumnya dilanjutkan dengan tindakan
dilatasi dan kuretase.
3. Laparotomi miomektomi: bila fungsi reproduksi masih
diperlukan dan secara teknis memungkinan untuk dilakukan
tidakan tersebut. Biasanya untuk mioma intramural, subserosa,
dan subserosa bertangkai, tindakan tersebut telah cukup
memadai.
4. Laparotomi histerektomi:
Bila fungsi reproduksi tak diperlukan lagi,
Pertumbuhan tumor sangat cepat.
Sebagai tindakan hemostatis, yakni dimana terjadi
perdarahan terus menerus dan banyak serta tidak membaik
dengan pengobatan.

4) Malignancy and hyperplasia (PUA-M)


Definisi: pertumbuhan hiperplastik atau pertumbuhan ganas dari
lapisan endometrium.
Gejala: perdarahan uterus abnormal.
Diagnostik:
o Meskipun jarang ditemukan, namun hyperplasia atipik dan
keganasan merupakan penyebab penting PUA.
o Klasifikasi keganasan dari hiperplasia menggunakan
system klasifikasi FIGO dan WHO.
o Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
histopatologi.

5) Coagulopathy (PUA-C)
Definisi: gangguan hemostatis sistemik yang berdampak terhadap
perdarahan uterus.
Gejala: perdarahan uterus abnormal
Diagnostik:
o Terminologi koagulopati digunakan untuk kelainan
hemostatik sistemik yang terkait dengan PUA.
o 13% perempuan dengan perdarahan haid banyak memiliki
kelainan hemostatis sistemik, dan yang paling sering
ditemukan adalah penyakit von Willebrand.

6) Ovulatory Disfunction (PUA-O)


Definisi: kegagalan ovulasi yang menyebabkan terjadinya
perdarahan uterus.
Gejala: perdarahan uterus abnormal.
Diagnostik:
o Gangguan ovulasi merupakan salah satu penyebab PUA
dengan manifestasi perdarahan yang sulit diramalkan dan
jumlah darah yang bervariasi.
o Dahulu termasuk dalam criteria perdarahan uterus
disfungsional (PUD).
o Gejala bervariasi mulai dari amenorea, perdarahan ringan
dan jarang, hingga perdarahan haid banyak.
o Gangguan ovulasi dapat disebabkan oleh sindrom ovarium
polikistik (SOPK), hiperprolaktinemia, hipotiroid, obesitas,
penurunan berat badan, anoreksia, atau olahraga berat yang
berlebihan.

7) Endometrial (PUA-E)
Definisi: Gangguan hemostatis local endometrium yang memiliki
kaitan erat dengan terjadinya perdarahan uterus.
Gejala: perdarahan uterus abnormal.
Diagnostik:
o Perdarahan uterus abnormal yang terjadi pada perempuan
dengan siklus haid teratur.
o Penyebab perdarahan pada kelompok ini adalah gangguan
hemostatis local endometrium.
o Adanya penurunan produksi faktor yang terkait
vasokonstriksi seperti endothelin-1 dan prostaglandin F2
serta peningkatan aktivitas fibrinolisis.
o Gejala lain kelompok ini adalah perdarahan tengaha atau
perdarahan yang berlanjut akibat gangguan hemostatis local
endometrium.
o Diagnosis PUA-E ditegakkan setelah menyingkirkan
gangguan lain pada siklus haid yang berovulasi.

8) Iatrogenik (PUA-I)
Perdarahan uterus abnormal yang berhubungan dengan intervensi
medis seperti penggunaan estrogen, progesterin, atau AKDR.
Perdarahan haid di luar jadwal yang terjadi akibat penggunaan
estrogen atau progestin dimasukkan dalam istilah perdarahan sela
atau breakthrough bleeding (BTB).
Perdarahan sela terjadi karena rendahnya konsentrasi estrogen
dalam sirkulasi yang dapat disebabkan oleh sebagai berikut:
o Pasien lupa atau terlambat minum pil kontrasepsi
o Pemakaian obat tertentu seperti rifampisin
o Perdarahan haid banyak yang terjadi pada perempuan
pengguna anti koagulan (warfarin, heparin, dan low
molecular weight heparin) dimasukkan ke dalam klasifikasi
PUA-C.

9) Not yet classified (PUA-N)


Kategori ini dibuat untuk penyebab lain yang jarang atau sulit
dimasukkan dalam klasifikasi.
Kelainan yang termasuk dalam kelompok ini adalah endometritis
kronik atau malformasi arteri-vena.
Kelainan tersebut masih belum jelas kaitannya dengan PUA.
D. PATOLOGI
Schrder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada
uterus dan ovarium pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa
gangguan perdarahan yang dinamakan metropatia hemoragika terjadi
karena persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi
dan pembentukan korpus luteum. Akibatnya, terjadilah hiperplasia
endometrium karena stimulasi estrogen yang berlebihan dan terus
menerus. Penjelasan ini masih dapat diterima untuk sebagian besar kasus-
kasus perdarahan disfungsional.
Akan tetapi, penelitian menunjukkan pula bahwa perdarahan
disfungsional dapat ditemukan bersamaan dengan berbagai jenis
endometrium, yakni endometrium atrofik, hiperplastik, proliferatif, dan
sekretoris, dengan endometrium jenis nonsekresi merupakan bagian
terbesar. Pembagian endometrium dalam endometrium jenis nonsekresi
dan endometrium jenis sekresi penting artinya, kakarena dengan dengan
demikian dapat dibedakan perdarahan yang anovulatoar dan yang
ovulatoar. Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik karena kedua jenis
perdarahan disfungsional ini mempunyai dasar etiologi yang berlainan dan
memerlukan penanganan yang berbeda. Pada perdarahan disfungsional
yang ovulatoar gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor
neuromuskular, vasomotorik, atau hematologik, yang mekanismenya
belum seberapa dimengerti, sedangkan perdarahan anovulatoar biasanya
dianggap bersumber pada gangguan endokrin.
E. FAKTOR RESIKO
Menurut Manuaba edisi 2010 :
1. Gagalnya efek umpan balik positif dari estrogen, pengubahan perifer
yang abnormal dari androgen menjadi estrogen / cacat endometrium
yang dapat berada dalam tingkat reseptor atau dalam sekresi atau
pelepasan prostaglandin.
2. Bila tidak ada sekresi progesteron (anovulasi) & dalam
perangsangan yang terus berlanjut, endometrium akan berproliferasi
,sehingga mencapai tinggi yang abnormal. Terdapat vaskularitas
yang hebat & pertumbuhan kelenjar yang tanpa dukungan stroma.
Endometrium tumbuh melebihi rangsangan yang ditimbulkan
estrogen & perdarahan dengan peluruhan endometrium secara tidak
teratur.
3. Kelainan fungsi poros hipotalamus-hipofise-ovarium.
Usia terjadinya :
Perimenars Masa reproduksi Perimenopouse
(8-16th)
(16-35 th) (45-65 th)

F. Gambaran Klinis
Perdarahan Ovulatoar
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional
dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk
menegakkan diagnosis perdarahan ovulatoar, perlu dilakukan kerokan
pada masa mendekati haid. Jika karena perdarahan yang lama dan tidak
teratur siklus haid tidak dikenali lagi, maka kadang-kadang bentuk kurve
suhu badan basal dapat menolong. Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan
berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab organik, maka
harus dipikirkan sebagai etiologinya:
1. Korpus luteum persistens; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-
kadang bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus
dibedakan dari kehamilan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil
pemeriksaan panggul sering menunjukkan banyak persamaan antara
keduanya. Korpus luteum persistens dapat pula menyebabkan
pelepasan endometrium tidak teratur (irregular shedding). Diagnosis
irregular shedding dibuat dengan kerokan yang tepat pada waktunya,
yakni menurut Mc Lennon pada hari ke-4 mulainya perdarahan. Pada
waktu ini dijumpai endometrium dalam tipe sekresi disamping tipe
nonsekresi.
2. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting,
menoragia, atau polimenore. Dasarnya ialah kurangnya produksi
progesteron disebabkan oleh gangguan LH releasing factor. Diagnosis
dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok
dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari
siklus yang bersangkutan.
3. Apopleksia uteri : pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi
pecahnya pembuluh darah dalam uterus.
4. Kelainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik, dan
gangguan dalam mekanisme pembekuan darah.
Menurut Isselbacher.Harrison, perdarahan Uterus Disfungsional dapat
dibedakan menjadi penyebab dengan siklus Ovulasi dan penyebab
yang berhubungan dengan siklus anovulasi. Namun ada beberapa
kondisi yang dikaitkan dengan perdarahan rahim disfungsional, antara
lain :
a. Alat kontrasepsi IUD / hormonal
Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim
(IUD) untuk pengendalian kelahiran, juga mungkin mengalami
periode yang berlebihan atau berkepanjangan. Jika Anda
mengalami perdarahan berat saat menggunakan IUD, IUD harus
dihapus dan diganti dengan metode pengendalian kelahiran
alternatif. Biasanya terdeteksi segera setelah menstruasi dimulai.
b. Gangguan trombosit
Merupakan kelainan darah yang paling umum yang
menyebabkan perdarahan >>berlebihan, gangguan trombosit
yang paling umum adalah penyakit von Willebrand. Wanita
dengan penyakit von Willebrand umumnya akan mengalami
tidak hanya perdarahan menstruasi yang berat, tapi mimisan,
memar mudah, dan darah dalam tinja.
c. Hormon
Ketidakseimbangan hormon yang mengganggu ovulasi
dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal. Beberapa hal
yang dapat mengganggu keseimbangan hormon yang rumit yang
mempengaruhi ovulasi dan pendarahan, yaitu :
1) Kehamilan Pada wanita usia subur, kehamilan
merupakan penyebab utama dari periode dilewati.
2) Perimenopause Perubahan hormonal yang terjadi
selamamenjelang menopause
(berhentinyamenstruasi)menyebabkan kelainan perdarahan.
3) Stres Stres hormon seperti kortisol yang diketahui
mengganggu ovulasi.
4) Polycystic ovary syndrome (PCOS) suatu kondisi di mana
ovarium menjadi penuh dengan kista kecil dan
memperbesar. Masalah terjadi ketika kelenjar pituitary
memproduksi terlalu banyak hormon yang disebut
luteinizing hormone (LH). Ketidakseimbangan hormon
yang menciptakan hasil meluap-luap lapisan rahim yang
membuat perdarahan tidak teratur.
5) Penyebab Lainnya Masalah yang berasal dari kelenjar
tiroid, kelenjar pituitary, atau kelenjar adrenal dapat
mengganggu ovulasi. Masalah fisik di dalam rahim dapat
menyebabkan perdarahan abnormal, yaitu :
a) Fibroid pertumbuhan non-kanker yang menyerang
dinding rahim di minimal 20% dari wanita berusia di
atas 35. Fibroid dapat muncul secara tunggal atau
dalam kelompok, dan sekecil anggur atau sebesar jeruk.
Mereka terdiri dari otot dan jaringan fibrosa, dan dapat
menyebabkan aliran berlebihan saat menstruasi atau
pendarahan antara periode.
b) Polip pertumbuhan non-kanker yang dapat
menyerang leher rahim atau uterus. Polip mungkin
begitu kecil sehingga mereka tidak diketahui, atau
mungkin cukup besar untuk menyodok ke dalam
rongga rahim atau panggul dan menyebabkan
perdarahan abnormal.
c) Penyakit radang panggul (PID) suatu kondisi di
mana saluran tuba menjadi meradang, biasanya karena
infeksi seksual diperoleh. Perdarahan yang tidak teratur
adalah salah satu dari banyak gejala PID.
d) Kanker rahim pertumbuhan ganas pada rahim. Hal
ini dapat terjadi pada dinding rahim (endometrium) /
dalam dinding otot nya (sarkoma uterus).
e) Kanker endometrium kanker yang paling umum dari
sistem reproduksi wanita, & hampir selalu menyerang
wanita menopause antara usia 50 - 70. Setiap
perdarahan setelah menopause harus diperiksa segera.
f) Gangguan nutrisi Wanita dengan lemak tubuh
sangat rendah karena gangguan makan, diet ketat, atau
olahraga berlebihan sering dapat berhenti ovulasi dan
menstruasi.

Perdarahan anovulatoar

Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium.


Dengan menurunnya kadar estrogen dibawah tingkta tertentu, timbul
perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklis, kadang-kadang tidak
teratur sama sekali.

Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut-pautnya dangan jumlah folikel yang


pada suatu waktu fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan
estrogen sebelum mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel-
folikel baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus, dan
dari endometrium yang mula-mula proliferatif dapat terjadi endometrium
bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran itu dijumpai pada sediaan yang
diperoleh dengan kerokan, dapat diambil kesimpulan bahwa perdarahan
bersifat anovulatoar.

Walaupun perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap waktu dalam


kehidupan menstrual seorang wanita, namun hal ini paling sering terdapat
pada masa pubertas dan pada masa pramenopause. Pada masa pubertas
sesudah menarche, perdarahan tidak normal disebabkan oleh gangguan
atau terlambatnya proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bahwa
pembuatan Releasing Factor dan hormon gonadotropin tidak sempurna.
Pada wanita dalam masa pramenopause proses terhentinya fungsi ovarium
tidak selalu berjalan lancar.

Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada
harapan bahwa lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid
menjadi ovulatoar, pada seorang wanita dewasa dan terutama dalam masa
pramenopause dengan perdarahab tidak teratur mutlak diperlukan kerokan
untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas.

Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan


penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum
yang menahun, tumor-tumor ovarium, dan sebagainya.1,5 Akan tetapi,
disamping itu, terdapat banyak wanita dengan perdarahan disfungsional
tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut diatas. Dalam hal ini stress yang
dialami dalam kehidupan sehari-hari, baik didalam maupun di luar
pekerjaan, kejadian-kejadian yang mengganggu keseimbangan emosional
seperti kecelakaan, kematian dalam keluarga, pemberian obat penenang
terlalu lama, dan lain-lain, dapat menyebabkan perdarahan anovulatoar.
Biasanya kelinan dalam perdarahan ini hanya untuk sementara waktu saja.

Berdasarakan jenis perdarahan yang muncul, yaitu :

Batasan Pola Abnormalitas Perdarahan

Oligomenor Perdarahan uterus yang terjadi dengan interval > 35 hari


ea dan disebabkan oleh fase folikuler yang memanjang.
Polimenorea Perdarahan uterus yg trjadi dgn interval <21 hari &
disebabkan defek fase luteal.
Menoragia Perdarahan uterus yang terjadi dengan interval normal (
21 35 hari) namun jumlah darah haid > 80 ml atau > 7
hari.
Menometror Perdarahan uterus yang tidak teratur, interval non-siklik
agia dan dengan darah yang berlebihan (>80 ml) dan atau
dengan durasi yang panjang ( > 7 hari).
Metroragia/ Perdarahan uterus yang tidak teratur diantara siklus
perdarahan ovulatoir dengan penyebab a.l penyakit servik, AKDR,
antara haid endometritis, polip, mioma submukosa, hiperplasia
endometrium, dan keganasan.
Bercak Bercak perdarahan yang terjadi sesaat sebelum ovulasi
intermenstru yang umumnya disebabkan oleh penurunan kadar
al estrogen.
Perdarahan Perdarahan uterus yang terjadi pada wanita menopause
pasca yang sekurang-kurangnya sudah tidak mendapatkan haid
menopause selama 12 bulan.
Perd.uterus Perdarahan uterus yang ditandai dengan hilangnya darah
abnormal yang sangat banyak dan menyebabkan gangguan
akut hemostasisis (hipotensi , takikardia atau renjatan).
Perdarahan Perdarahan uterus yang bersifat ovulatoir atau
uterus anovulatoir yang tidak berkaitan dengan kehamilan,
disfungsi pengobatan, penyebab iatrogenik, patologi traktus
genitalis yang nyata dan atau gangguan kondisi sistemik.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Wiknjoksastro (2007) & Morgan,Geri dkk (2009), yaitu :
1. Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap
Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya
penyakit sistemik, maka penyelidikan lebih jauh mungkin
diperlukan. Abnormalitas pada pemeriksaan pelvis harus diperiksa
dengan USG dan laparoskopi jika diperlukan.
Perdarahan Durasi
Pervaginam Menorrhagia (Hipermenorrhoe)
Kuantitas Spotting (antar menstruasi, postmenstruasi, post
Penyemburan menopause)
Spotting (diluar
menstruasi)
Warna Gejala Penyerta
Merah segar Demam dan nyeri
Noda cokelat Kram uterus dan kehamilan
Petekiae dan Epitaksis
Riwayat penyakit Interval
dahulu Siklik
Kontrasepsi Non siklik
oral Setelah amenorrhoe
AKDR Perdarahan antar menstruasi (misalnya
setelah koitus atau pembilasan)

Perdarahan siklik (reguler) didahului oleh tanda premenstruasi


(mastalgia, kenaikan berat badan karena meningkatnya cairan
tubuh, perubahan mood / kram abdomen ) lebih cenderung bersifat
ovulatori. Sedangkan, perdarahan lama yang terjadi dengan interval
tidak teratur setelah mengalami amenore berbulanbulan,
kemungkinan bersifat anovulatori.
Peningkatan suhu basal tubuh ( 0,3 0,6 C ), peningkatan
kadar progesteron serum ( > 3 ng/ ml ) & perubahan sekretorik
pada endometrium yang terlihat pada biopsi yang dilakukan saat
onset perdarahan, semuannya merupakan bukti ovulasi.
Pada pemeriksaan fisik juga ditemukan :Suhu meningkat
menandakan infeksi pelvis, Takikardi dan hipotensi nenandakan
hipovolemia (perdarahan ekstra peritoneal atau intra peritoneal),
sepsis, Petekiae atau ekimosis menandakan kelainan koagulasi.
2. Pemeriksaanabdomen
Inspeksi& palpasi misalnya menunjukkan kehamilan / iritasi
peritoneum. Uterus yang membesar menandakan adanya kehamilan
ektopik maupun missed abortion, uterus yang lebih besar (dari
ukuran kehamilan bila dilihat dari HPHT) kemungkinan
menandakan kehamilan mola, kehamilan ganda / kehamilan dalam
suatu uterus fibroid.
3. Pemeriksaan pelvis
Spekulum digunakan untuk memeriksa kuantitas darah &
sumber perdarahan, laserasi vagina, lesi servik, perdarahan ostium
uteri, benda asing.Bimanual digunakan untuk pemeriksaan
patologis.
4. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid , dan
kadar HCG, FSH, LH, Prolaktin & androgen serum jika ada
indikasi atau skrining gangguan perdarahan jika ada tampilan yang
mengarah kesana.
Deteksi patologi endometriummelalui (a) dilatasi dan
kuretase dan (b) histeroskopi. Wanita tua dengan gangguan
menstruasi, wanita muda dengan perdarahan tidak teratur atau
wanita muda ( < 40 tahun ) yang gagal berespon terhadap
pengobatan harus menjalani sejumlah pemeriksaan endometrium.
Penyakit organik traktus genitalia mungkin terlewatkan bahkan
saat kuretase. Maka penting untuk melakukan kuretase ulang dan
investigasi lain yang sesuai pada seluruh kasus perdarahan uterus
abnormal berulang atau berat. Pada wanita yang memerlukan
investigasi, histeroskopi lebih sensitif dibandingkan dilatasi dan
kuretase dalam mendeteksi abnormalitas endometrium
Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang tidak
berhasil dalam uji coba terapeutik.
5. Data Diagnostik Tambahan
a. Biopsi endometrium atau kuretase yang dapat memberikan
suatu diagnosis histologi spesifik.
b. Biopsi vulva, vagina atau serviks, lesi harus dibiopsi kecuali
jika lesi khas untuk penyakit trofoblastik metastatik dan dapat
berdarah hebat bila dibiopsi.
c. Cairan serviks untuk perwarnaan gram terutama jika dicurigai
adanya infeksi.
d. Tes kehamilan terhadap hCG. Tes positif kuat mengesankan
adanya jaringan trofoblastik baik intra maupun ekstrauterin.
e. Determinasi serangkaian hematokrit.
f. Tes koagulasi dapat dilakukan bila dicurigai adanya kelainan
koagulasi.
g. Tes fungsi tiroid dapat diindikasikan sewaktu evaluasi
lanjutan.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut (Wiknjoksastro, 2007) & (Estephan A. 2005), prinsip secara
umum yaitu :
1. Menghentikan perdarahan Langkah-langkah upaya menghentikan
perdarahan adalah sebagai berikut:
a. Kuret (curettage) Hanya untuk wanita yang sudah menikah.
b. Obat (medikamentosa)
1) Golongan estrogen
Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya:
estradiol valerat (nama generik) yang relatif
menguntungkan karena tidak membebani kinerja liver dan
tidak menimbulkan gangguan pembekuan darah. Jenis lain,
misalnya: etinil estradiol, tapi obat ini dapat menimbulkan
gangguan fungsi liver. Dosis dan cara pemberian :
a) Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 2,5 mg
diminum selama 7-10 hari.
b) Benzoas estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler.
(melalui bokong)
c) Jika perdarahannya banyak, dianjurkan nginap di RS
(opname), dan diberikan Estrogen konyugasi
(estradiol valerat): 25 mg secara intravenus (suntikan
lewat selang infus) perlahan-lahan (10-15 menit),
dapat diulang tiap 3-4 jam. Tidak boleh lebih 4 kali
sehari.
Estrogen intravena dosis tinggi ( estrogen konjugasi
25 mg setiap 4 jam sampai perdarahan berhenti ) akan
mengontrol secara akut melalui perbaikan proliferatif
endometrium dan melalui efek langsung terhadap koagulasi,
termasuk peningkatan fibrinogen dan agregasi trombosit.
Terapi estrogen bermanfaat menghentikan perdarahan
khususnya pada kasus endometerium atrofik atau inadekuat.
Estrogen juga diindikasikan pada kasus DUB sekunder
akibat depot progestogen ( Depo Provera ). Keberatan terapi
ini ialah bahwa setelah suntikan dihentikan, perdarahan
timbul lagi.
2) Obat Kombinasi
Terapi siklik merupakan terapi yang paling banyak
digunakan dan paling efektif. Pengobatan medis ditujukan
pada pasien dengan perdarahan yang banyak atau
perdarahan yang terjadi setelah beberapa bulan amenore.
Cara terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral ; obat ini
dapat dihentikan setelah 3 6 bulan dan dilakukan
observasi untuk melihat apakah telah timbul pola
menstruasi yang normal. Banyak pasien yang mengalami
anovulasi kronik dan pengobatan berkelanjutan diperlukan.
3) Golongan progesterone
Pertimbangan di sini ialah bahwa sebagian besar
perdarahan fungsional bersifat anovulatoar, sehingga
pemberian obat progesterone mengimbangi pengaruh
estrogen terhadap endometrium. Obat untuk jenis ini, antara
lain:
a) Medroksi progesteron asetat (MPA): 10-20 mg per hari,
diminum 7-10 hari.
b) Norethisteron: 31 tablet, diminum selama 7-10 hari.
c) Kaproas hidroksi-progesteron 125 mg secara
intramuskular.
4) OAINS
Menorragia dapat dikurangi dengan Obat Anti
Inflamasi Non Steroid. Fraser dan Shearman membuktikan
bahwa OAINS paling efektif jika diberikan selama 7 hingga
10 hari sebelum onset menstruasi yang diharapkan pada
pasien DUB ovulatori, tetapi umumnya dimulai pada onset
menstruasi dan dilanjutkan selama espisode perdarahan dan
berhasil baik. Obat ini mengurangi kehilangan darah selama
menstruasi ( mensturual blood loss / MBL ) dan manfaatnya
paling besar pada DUB ovulatori dimana jumlah pelepasan
prostanoid paling tinggi.
2. Mengatur menstruasi agar kembali normal Setelah perdarahan
berhenti, langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk mengatur
siklus menstruasi, misalnya dengan pemberian: Golongan
progesteron: 21 tablet diminum selama 10 hari. Minum obat
dimulai pada hari ke 14-15 menstruasi.
3. Transfusi jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr% Terapi yang
ini diharuskan pasiennya untuk menginap di Rumah Sakit atau
klinik. Sekantong darah (250 cc) diperkirakan dapat menaikkan
kadar hemoglobin (Hb) 0,75 gr%. Ini berarti, jika kadar Hb ingin
dinaikkan menjadi 10 gr% maka kira-kira perlu sekitar 4 kantong
darah.

Penatalaksanaan berdasarkan tipe AUB


1. Perdarahan uterus disfungsi yang anovulatoir
Pil kontrasepsi oral digunakan untuk mengatur siklus haid dan
kontrasepsi. Pada penderita dengan siklus haid tidak teratur akibat
anovulasi kronik (oligo ovulasi), pemberian pil kontrasepsi
mencegah resiko yang berkaitan dengan stimulasi estrogen
berkepanjangan terhadap endometrium yang tidak diimbangi dengan
progesteron (unopposed estrogen stimulation of the
endometrium). Pil kontrasepsi secara efektif dapat mengendalikan
perdarahan anovulatoir pada penderita pre dan perimenopause. Bila
terdapat kontraindikasi pemberian pil kontrasepsi ( perokok berat
atau resiko tromboflebitis) maka dapat diberikan terapi dengan
progestin secara siklis selama 5 12 hari setiap bulan sebagai
alternatif.
DOSIS MAKSUD
Etinil estradiol 20 35 Mengatur siklus haid
mcg + progestin Kontrasepsi
monofasik tiap hari Mencegah hiperplasia
Pil 35 mcg 2 4 kali endometrium
sehari selama 5 7 hari Penatalaksanaan perdarahan
sampai perdarahan yang banyak namum tidak
berhenti dan diikuti bersifat gawat darurat
dengan penurunan secara
bertahap sampai 1 pil 1
kali perhari dan
dilanjutkan dengan
pemberian pil kontrasepsi
selama 3 siklus
5 10 mg / hari selama 5 Mengatur siklus haid
10 hari @ bulan Mencegah hiperplasia
endometrium

2. Perdarahan uterus disfungsi ovulatoir


Terapi medikamentosa untuk kasus menoragia terutama adalah
NSAID (asam mefenamat) dan AKDR-levonorgesterel (Mirena).
Efektivitas asam mefenamat, pil kontrasepsi, naproxen, danazol
terhadap menoragia adalah setara.
Efek samping dan harga dari androgen (Danazol atau GnRH
agonis) membatasi penggunaannya bagi kasus menoragia, namun
obat-obat ini dapat digunakan dalam jangka pendek untuk
menipiskan endometrium sebelum dikerjakan tindakan ablasi
endometrium.
Obat antifibrinolitik secara bermakna mengurangi jumlah
perdarahan, namun obat ini jarang digunakan dengan alasan yang
menyangkut keamanan ( potensi menyebabkan tromboemboli).
3. Pembedahan
Bila terapi medis gagal atau terdapat kontraindikasi maka
dilakukan intervensi pembedahan. Terapi pilhan pada kasus
adenokarsionoma adalah histerektomi, tindakan ini juga
dipertimbangkan bila hasil biopsi menunjukan atipia.

TINDAKAN ALASAN
Histeroskopi Abnormalitas struktur intra uteri.
operatif
Mimektomi Mioma uteri.
(abdominal,
laparoskopik,
histeroskopik)
Reseksi Terapi menoragia atau menometroragia
endometrial resisten.
transervikal
Ablasi Terapi menoragia atau menometroragia
endometrium resisten dalam rangka penatalaksanaan
(thermal perdarahan uterus akut yang resisten
balloon/roller
ball)
Embolisasi arteri Mioma uteri.
uterina
Histerektomi Hiperplasia atipikal, karsinoma endometrium.
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klienMeliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, agama dan alamat, serta data penanggung jawab
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakitBiasanya klien merasa nyeri
pada daerah perut & terasa ada massa di daerah abdomen, menstruasi
yg tidak berhenti-henti.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang Keluhan yang dirasakan klien
adalah nyeri pada daerah abdomen bawah, ada pembengkakan
pada daerah perut, menstruasi yang tidak berhenti, rasa mual dan
muntah.
b. Riwayat kesehatan keluarga kaji riwayat keluarga dlm
kelainan ginekologi
4. Riwayat kehamilan dan persalinanDengan kehamilan dan
persalinan/tidak
5. Riwayat menstruasikadang-kadang terjadi digumenorhea dan
bahkan sampai amenorhea. menarche, lama, siklus, jumlah, warna
dan bau
6. Pemeriksaan FisikDilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas
bawah secara sistematis.
a. Abdomen Nyeri tekan pada abdomen, Teraba massa pada
abdomen.
b. Ekstremitas Nyeri panggul saat beraktivitas, Tidak ada
kelemahan.
c. Eliminasi, urinasi Adanya konstipasi, Susah BAK
7. Data Sosial Ekonomikaji golongan masyarakat dan tingkat umur,
baik sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
8. Data PsikologisOvarium merupakan bagian dari organ reproduksi
wanita, dimana ovarium sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi
dari ovarium tersebut sementara pada klien dengan perdarahan
abnormal pervaginam hal ini akan mempengaruhi mental klien yang
ingin hamil
9. Pola kebiasaan Sehari-hariBiasanya klien mengalami gangguan
dalam aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri
10. Pemeriksaan Penunjang
a. Data laboratorium pemeriksaan darah lengkap (NB, HT, SDP)
b. Pemeriksaan fisiki ada tidaknya benjolan dan ukuran benjolan

B. ANALISA DATA
DATA ETIOLOGI DIAGNOSA
DO : Klien tampak Factor resiko Nyeri b/d
gelisah, perilaku kerusakan
berhati-hati, ekspresi G3 keseimbangan hormone jaringan otot,
tegang, TTV. uterus system saraf
DS : - &gangguan
Perdarahan abnormal sirkulasi
darah
Perpindahan cairan ke intrasel

Penekanan ujung syaraf
DO : adanya Factor resiko Resiko tinggi
perdarahanpervaginam kekurangan
DS: - G3 keseimbangan hormone cairan tubuh
uterus b/d
perdarahan
Perdarahan abnormal pervaginam
berlebihan.
Kehilangan banyak cairan &
elektrolit
DO : klien tampak Factor resiko Ansietas b/d
cemas, TTV Kurangnya
DS : - G3 keseimbangan hormone pengetahuan
uterus tentang
penyakit,
Perdarahan abnormal prognosis &
kebutuhan
Kurangnya pajanan informasi pengobatan.

DO : Sekresi eritropoitis turun Intoleransi


Pasien tampak lemah Aktivitas
Konjungtiva pucat Produksi Hb turun
Eritrosit

Hemoglobin Oksihemoglobin turun

DS :

Klien mengatakan ketika Suplai O2 turun

beraktivitas cepat

merasa lemas dan letih Intoleransi aktivitas

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
DIAGNOSA TUJUAN & KH INTERVENSI
Nyeri Tujuan : Nyeri berkurang Kaji riwayat nyeri, mis :
setelah dilakukan tindakan lokasi nyeri, frekuensi,
keperawatan selama 1 x 24 durasi dan intensitas (kala
jam. 0-10) dan tindakan
Kriteria Hasil: pengurangan yang
Klien menyatakan dilakukan.
nyeri berkurang (skala Bantu pasien mengatur
3-5) posisi senyaman mungkin
Klien tampak tenang, (posisi fowler atau posisi
eksprei wajah rileks. datar atau miring kesalah
TTV normal : Suhu : satu sisi)
36-37 0C, N : 80- Kaji tanda vital :
100 x/m, RR : 16- tachicardi,hipertensi,
24x/m, TD : Sistole pernafasan cepat.
: 100-130 mmHg, Ajarkan pasien
Diastole : 70-80 penggunaan keterampilan
mmHg manajemen nyeri mis :
dengan teknik relaksasi,
tertawa, mendengarkan
musik dan sentuhan
terapeutik.
Evaluasi/ kontrol
pengurangan nyeri
Ciptakan suasana
lingkungan tenang dan
nyaman.
Kolaborasi untuk
pemberian analgetik
sesuai indikasi.
Laksanakan pengobatan
sesuai indikasi seperti
analgesik intravena.
Observasi efek analgetik
(narkotik )
Kolaborasi : anjurkan
dilakukannya
pembedahan
Motivasi klien untuk
mobilisasi dini setelah
pembedahan bila sudah
diperbolehkan.
Resiko tinggi Tujuan: Setelah dilakukan Kaji tanda-tanda
kekurangan cairan tindakan keperawatan kekurangan cairan.
tubuh selama 2 x 24 jam tidak Pantau masukan dan
terjadi kekurangan volume haluaran/ monitor balance
cairan tubuh. cairan tiap 24 jam.
Kriteria Hasil : Monitor tanda-tanda vital.
Tidak ditemukan tanda- Evaluasi nadi perifer.
tanda kekuranga cairan. Observasi pendarahan
Seperti turgor kulit Anjurkan klien untuk
kurang, membran minum + 1500-2000
mukosa kering, demam. ,l/hari
Pendarahan berhenti, Kolaborasi untuk
keluaran urine 1 cc/kg pemberian
BB/jam. cairanparenteral dan kalau
TTV normal : Suhu : perlu transfusi sesuai
36-37 0C, N : 80-100 indikasi, pemeriksaan
x/m, RR : 16-24x/m, laboratorium. Hb, leko,
TD : Sistole : 100- trombo, ureum, kreatinin.
130 mmHg, Diastole :
70-80 mmHg
Ansietas Tujuan : Kecemasan dapat Dorong klien untuk
berhubungan berkurang setelah mengekspresikan
dengan perubahan diberikan askep selama 3 X perasaannya..
gambaran tubuh 24 jam Dorong dan dukung klien
Kriteria Hasil : untuk menyadari dan
Klien tampak tenang berusaha menerima
Mau berpartisipasi diagnosa
dalam program terapi Diskusikan tanda dan
gejala depresi.
Diskusikan kemungkinan
untuk bedah rekonstruksi
atau pemakaian prostetik.
Beri informasi tentang
hasil-hasil lab dan
perkembangan penyakit
klien, serta treatment
yang mungkin, seperti
kemoterapi, radioterapi,
pembedahan
Informasikan tentang
dukungan sosial/
kelompok bagi klien,
misalnya perkumpulan
penyandang kanker
mammae
Intoleransi Tujuan : Pasien dapat Observasi faktor yang
aktivitas melakukan aktivitas menimbulkan keletihan.
berhubungan mandiri tanpa keluhan Pantau kondisi umum dan
dengan setelah diberikan askep ukur TTV pasien secara
ketidakseimbangan 3x24 jam. berkala
antara kebutuhan Kriteria Hasil : Tingkatkan kemandirian
dan suplai oksigen Pasien tidak cepat dalam perawatan diri.
merasa lemas dan letih Latih pasien melakukan
saat melakukan ROM aktif.
aktivitas Anjurkan aktivitas
Eritrosit dan alternatif sambil istirahat
hemoglobin dalam Anjurkan untuk
batas normal : eritrosit : beristirahat setelah
4,5 5,5 10e6/ul dialisis
Hemoglobin : 13,0
16,0 gr/dl
Konjungtiva merah
muda
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta : EGC


Carpenito, Lynda Juall. 2010. Diagnosa keperawatan Aplikasi pada Praktek
Klinik. Jakarta : EGC
Ida Bagus Gde Manuaba. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB
untukPendidikan Bidan. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif,dkk. 2001.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta: FKUI
Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000),
Rencana AsuhanKeperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta
NANDA Internasional. 2013. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klarifikasi
2012 2014. Jakarta : EGC
NANDA. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA NIC NOC. Jakarta : ECG
Denpasar, April 2017

Mengetahui,

Pembimbing CI Mahasiswa

( ) (Ni Made Desi Sugiani)

NIP. NIM. P07120214017

Mengetahui,

Pembimbing CT

( )

NIP.