Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
Herpes simpleks merupakan infeksi virus yang ditandai dengan lesi primer
terlokalisir, laten dan adanya kecendurangan untuk kambuh kembali. Ada 2 jenis
virus – yaitu virus herpes simpleks (HSV) tipe 1 dan 2 pada umumnya menimbulkan
gejala klinis yang berbeda, tergantung pada jalan masuknya. Dapat menyerang alat-
alat genital atau mukosa mulut.1
Tersebar di seluruh dunia. Hampir 50%-90% orang dewasa memiliki antibodi
terhadap HSV 1. Infeksi awal HSV 1 biasanya terjadi sebelum usia 5 tahun, namun
saat ini banyak infeksi primer ditemukan terjadi pada orang dewasa. Infeksi HSV 2
biasanya dimulai karena aktivitas seksual dan jarang terjadi sebelum menginjak
dewasa, kecuali kalau terjadi pelecehan seksual pada anak-anak. Antibodi HSV 2
ditemukan sekitar 20%-30% pada orang Amerika dewasa. Prevalensi antibodi HSV 2
meningkat (lebih dari 60%) pada kelompok sosial ekonomi rendah dan pada orang-
orang yang berganti-ganti pasangan.1
Dari enam lokasi di daerah Bali diperoleh 66 sampel darah, 57 sampel
(86,36%) memberikan reaksi positif terhadap antigen HSV-1 dengan frekuensi yang
bervariasi sesuai kelompok umur; Pada kelompok umur remaja, dewasa muda, dan
dewasa ditunjukkan prevalensi antibodi HSV-1 secara berturut-turut 16.7%, 80.9%,
dan 100%. Dari daerah Sumatera Selatan diperoleh 660 sampel darah, 139 sampel
(21.1%) memberikan reaksi positif, dengan variasi menurut kelompok umur remaja,
dewasa muda berturut-turut 2.9%, 19.2%, dan 69.4%.2

1.2 Tujuan
Referat ini diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai
manifestasi herpes simplex tipe I pada rongga mulut.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Virus Herpes Simpleks adalah virus DNA yang dapat menyebabkan infeksi akut
pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang
sembab. Ada 2 tipe virus herpes simpleks yang sering menginfeksi yaituHSV-Tipe I
(Herpes Simplex Virus Type I) dan HSV-Tipe II (Herpes Simplex Virus Type II).1,3,4,5,6
HSV-Tipe I biasanya menginfeksi daerah mulut dan wajah (Oral Herpes),
sedangkan HSV-Tipe II biasanya menginfeksi daerah genital dan sekitar anus (Genital
Herpes). HSV-1 menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri
pada mukosa mulut, wajah, dan sekitar mata. HSV-2 atau herpes genital ditularkan
melalui hubungan seksual dan menyebakan gelembung berisi cairan yang terasa nyeri
pada membran mukosa alat kelamin.3,4,5,6

2.2 Etiologi
Penyebab infeksi adalah Virus herpes simpleks termasuk dalam famili
herpesviridae, subfamili alphaherpesvirinae. genus Simpleksvirus, spesies HSV tipe 1
dan tipe 2, keduanya dapat dibedakan secara imunologis (terutama kalau digunakan
antibody spesifik atau antibody monoklonal). HSV tipe 1 dan tipe 2 juga berbeda kalau
dilihat dari pola pertumbuhan dari virus tersebut pada kultur sel, embryo telur dan pada
binatang percobaan.

2
Pembungkus berasal dari selaput inti sel yang terinfeksi. Pembungkus ini
mengandung lipid, karbohidrat, dan protein, dan dapat menghilangkan eter. Genom
ADN beruntai-untai ganda (BM 85-106 X 106) berbentuk lurus. Tipe 1 dan 2
memperlihatkan 50% urutan homologi.3,4

2.3 Patogenesis
HSV ditularkan melalui kontak dari orang yang peka lewat virus yang
dikeluarkan oleh seseorang. Untuk menimbulkan infeksi, virus harus menembus
permukaan mukosa atau kulit yang terluka (kulit yang tidak terluka bersifat resisten).
HSV I ditransmisikan melalui sekresi oral, virus menyebar melalui droplet pernapasan
atau melalui kontak langsung dengan air liur yang terinfeksi. Ini sering terjadi selama
berciuman, atau dengan memakan atau meminum dari perkakas yang terkontaminasi.
HSV-I dapat menyebabkan herpes genitalis melalui transmisi selama seks oral-
genital.1,3,4,5,6,7

herpetic whitlow

Kontak dengan virus HSV 1 pada saliva dari carrier mungkin cara yang paling
penting dalam penyebaran penyakit ini. Infeksi dapat terjadi melalui perantaraan
petugas pelayanan kesehatan (seperti dokter gigi) yaitu dari pasien HSV
mengakibatkan lesi herpes bernanah (herpetic whitlow). Penularan HSV2 biasanya
melalui hubungan seksual. Kedua tipe baik tipe 1 dan tipe 2 mungkin ditularkan
keberbagai lokasi dalam tubuh melalui kontak oral-genital, oral-anal, atau anal-

3
genital. Penularan kepada neonatus biasanya terjadi melalui jalan lahir yang
terinfeksi, jarang terjadi didalam uterus atau postpartum.1,3,4,5,6,7
Herpes simplex virus dapat diisolasi dalam 2 minggu dan kadang-kadang
lebih dari 7 minggu setelah muncul stomatitis primer atau muncul lesi genital primer.
Setelah itu, HSV dapat ditemukan secara intermittent pada mukosal selama bertahun-
tahun dan bahkan mungkin seumur hidup, dengan atau tanpa gejala klinis. Pada lesi
yang berulang, infektivitas lebih pendek dibandingkan infeksi primer dan biasanya
virus tidak bisa ditemukan lagi setelah 5 hari.1,4

2.4 Gejala Klinis


Episode pertama (infeksi pertama) dari infeksi HSV adalah yang paling berat
dan dimulai setelah masa inkubasi 4-6 hari. Gelala yang timbul, meliputi nyeri,
inflamasi dan kemerahan pada kulit (eritema) dan diikuti dengan pembentukan
gelembung-gelembung yang berisi cairan. Cairan bening tersebut selanjutnya dapat
berkembang menjadi nanah, diikuti dengan pembentukan keropeng atau kerak (scab).
Kira-kira 10% dari infeksi primer, muncul sebagai suatu penyakit dengan
spektrum gejala klinis yang beragam, ditandai dengan panas dan malaise sampai 1
minggu atau lebih, mungkin disertai dengan gingivostomatitis yang berat diikuti
dengan lesi vesikuler pada orofaring, keratoconjunctivitis berat, dan disertai
munculnya gejala dan komplikasi kulit menyerupai eczema kronis,
meningoencephalitis. HSV 1 sebagai penyebab sekitar 2% faringotonsilitis akut,
biasanya sebagai infeksi primer.1,3,4,5,6
HSV I primer biasanya asimptomatik. Gejala prodormal yang diberikan
diantaranya demam, menggigil, terdapat lmphadenopathy servikal, ditemukan ulkus
di dalam mulut pada permukaan ginggiva. Pada HSV I Sekunder (Lesi labial rekuren)
gejala prodormal yang muncul diantaranya gatal, rasa terbakar, kesemutan selama 12-
36 jam. Kemudian ada pembentukan vesikel. Vesikel pecah, menjadi ulkus dan krusta
dalam 48 jam. Lesi dapat sembuh dalam 7-14 hari. Faktor predisposisi HSV I

4
sekunder ini diantaranya stress, sakit demam, terpapar sinar UV, kelelahan dan
menstruasi.1,3,4,5,6
Reaktivasi infeksi laten biasanya menyebabkan herpes labialis (demam blister
atau cold sores) ditandai dengan munculnya vesikula superfisial yang jelas dengan
dasar erythematous, biasanya pada muka atau bibir, mengelupas dan akan sembuh
dalam beberapa hari. Reaktivasi dipercepat oleh berbagai macam trauma, demam,
perubahan psikologis atau penyakit kambuhan dan mungkin juga menyerang jaringan
tubuh yang lain; hal ini terjadi karena adanya circulating antibodies, dan antibodi ini
jarang sekali meningkat oleh karena reaktivasi. Penyebaran infeksi yang luas dan
mungkin terjadi pada orang-orang dengan immunosuppressed.1,3,4,5,6
Dapat menyerang SSP bisa disebabkan oleh infeksi primer ataupun karena
terjadi recrudescence. HSV 1 adalah penyebab utama dari meningoencephalitis.
Dapat timbul gejala panas, sakit kepala, leukositosis, iritasi selaput otak, drowsiness,
bingung, stupor, koma dan tanda-tanda neurologis fokal, dan sering dikaitkan dengan
satu atau wilayah temporal lain. Gejala-gejala ini mungkin dikacaukan dengan
berbagai lesi intrakranial lain seperti abses pada otak dan meningitis TB. Karena
terapi antiviral dapat menurunkan angka kematian yang tinggi, maka pemeriksaan
PCR untuk DNA virus herpes pada LCS atau biopsi dari jaringan otak seharusnya
segera dilakukan pada tersangka untuk menegakkan diagnosa pasti.1,3,4,5,6

2.5 Manifestasi pada Rongga Mulut


Primer Herpes Simplex (HSV-I) tipe 1 merupakan virus yang paling umum
menghasilkan infeksi dalam rongga mulut. Paling sering terjadi pada anak-anak
di bawah usia 6 tahun tetapi dapat terjadi pada pasien yang lebih tua. Infeksi primer
pada sebagian besar anak-anak adalah sub-klinis (tanpa tanda-tanda atau gejala
klinis).Herpes simplex virus hampir di mana-mana di populasi umum; lebih dari 90%
orang dewasa memiliki antibodi terhadap herpes simplex virus oleh dekade
keempat kehidupan. Sekali seseorang terinfeksi, virus menyebar ke daerah massa
jaringan saraf, ganglia (misalnya, trigeminal ganglion), di mana ia tetap laten namun

5
dapat diaktifkan kapan saja sesuai kondisi. Kedua herpes simpleks tipe 1 dan 2 dapat
menyebabkan infeksi orofacial dan infeksi kelamin, tetapi HSV-I lebih sering
bertanggung jawab atas lesi di dalam dan sekitar mulut.

Herpes simplex pada regio kepala

Acute Herpetic Gingivostomatitis


Primary herpetic gingivostomatitis memiliki frekuensi infeksi virus terbesar
di mulut dan menjalar dengan mudah melalui saliva. Sumber infeksi mungkin dari
individu yang virusnya asimptomatik di saliva atau mendapat infeksi kambuhan,
seperti herpes labialis. HSV pada mulanya menginfeksi sel epitel tidak berkeratin
pada mukosa oral untuk menghasilkan intra epithelial blisters. Seperti infeksi primer,
HSV terletak tersembunyi di jaringan saraf dan jaringan orofasial. Pemeriksaan status
antibodi mengungkapkan bahwa lebih dari 60 % populasi di Eropa dan Amerika
Utara menunjukkan infeksi HSV pada anak berumur 16 tahun.
Gingivostomatitis ulseratif akut terjadi sebagai akibat replikasi virus dalam
jaringan yang terkena. Masa inkubasi umumnya 4 hingga 5 hari kemudian gejala
diawali dengan demam. Pasien dapat merasa rasa sakit, panas dan perih atau gatal
terutama pada saat makan dan minum. Gusi dapat membengkak dan mudah berdarah.
Vesikel dapat terjadi di seluruh mulut. Mereka mungkin memiliki penampilan
bintik-bintik di daerah kontak dengan rahang atas. Menyentuhnya atau mencoba
untuk mengkonsumsi makanan bisa menyebabkan rasa sakit parah.

6
Di dalam rongga mulut dapat timbul vesikel (gelembung) berukuran kecil
yang umumnya berkelompok dan dapat dijumpai di bagian dalam bibir, lidah,
tenggorokan, langit-langit dan di bagian dalam pipi. Selanjutnya vesikel ini akan
pecah dan menjadi ulkus (luka) yang dipermukaannya terdapat semacam lapisan
kekuningan. Pada saat inilah rentan terjadi penularan karena vesikel tersebut
mengeluarkan cairan yang mengandung jutaan virus herpes simpleks. Kelenjar getah
bening setempat yaitu di sekitar leher dapat membesar dan saat ditekan terasa lunak.

Herpes gingivostomatitis

Bibir dan gingiva dan mukosa buccal terlibat tetapi kadang-kadang juga lidah
dan retropharynx. Lesi individual dapat dimulai sebagai vesikula tetapi mungkin
meluas ke mukosa dan lapisan kulit dalam, menyukai penyebaran sistemik. Ada
reaksi inflamasi lebih besar dan akibatnya edema dan eritema.
Isolasi dan kultur HSV menggunakan viral swab, metode standard diagnosa.
Infeksi HSV dapat juga diperkuat dengan adanya kenaikan empat kali lipat antibodi.

7
Metode ini membutuhkan 10 hari untuk menghasilkan hasil. Chair- side kits dapat
dengan cepat mendeteksi HSV dalam waktu beberapa menit pada lesi smear/ coreng
menggunakan immunofluoressence yang tersedia, tapi terbatas pada biaya. Biopsi
jarang digunakan tapi jika dilakukan akan memperlihatkan vesikula yang tidak
spesifik atau ulserasi dengan multinucleated giant cells yang menggambarkan viral-
infected keratinocytes.
Pasien, dan anak- anak seharusnya ditenangkan tentang kondisi dasar dan
diberi tahu tentang infeksi lesi. Instruksi seharusnya diberikan untuk membatasi bibir
dan mulut untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi di daerah lainnya. Terapi
suportif simptomatik termasuk obat kumur clorhexidine, terapi analgesik, soft diet,
dan cukup minum. Menggunakan acyclovir, agen antivirus dengan melakukan
perlawanan terhadap HSV. Dosis standard 200mg acyclovir, 5 kali sehari selama 5
hari. Dosis harus dikurangi setengahnya untuk anak dibawah 2 tahun.
Mendukung langkah-langkah yang biasa untuk infeksi virus akut harus
dilakukan. Ini termasuk pemeliharaan kebersihan mulut yang tepat, cukup asupan
cairan untuk mencegah dehidrasi, dan penggunaan analgesik sistemik untuk
mengontrol rasa sakit. Agen antipiretik juga ditentukan ketika demam adalah gejala.
Pada kasus yang parah mungkin perlu untuk menggunakan anestesi topikal seperti
lidokain atau diphenhyclramine. Pasien sering dapat mentolerir cairan dingin, dan
mereka dapat membantu dalam mencegah dehidrasi.3,4,5,6

Chronic Herpetic Simplex


Infeksi ini disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II yang
ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang erimatosa. Penyakit
ini dapat menyerang baik pria maupun wanita. Infeksi primer herpes simpleks tipe I
biasanya menyerang pada usia anak-anak, sedangkan VHS tipe II biasanya terjadi
pada dekade 2 atau 3, dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.
Tempat prediliksi VHS tipe I di daerah pinggang ke atas terutama di daerah
mulut dan hidung. Infeksi primer oleh VHS tipe II mempunyai tempat predileksi di

8
daerah pinggang ke bawah, terutama di daerah genital. Daerah predileksi ini sering
kacau karena adanya aktivitas seksual seperti oro-genital.
Infeksi ini berlangsung kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik,
seperti demam dan malese, serta dapat ditemukan pembengkakkan kelenjar getah
bening regional. Kelainan klinisnya dijumpai berupa vesikel yang berkelompok di
atas kulit yang erimatosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen
(bersifat serosa dan bernanah), dapat menjadi kusta dan kadang-kadang mengalami
ulserasi yang dangkal.

Infeksi Herpes Simplex Kronis

Pengobatan bersifat simtomatik. Aspirin atau asetaminofen dapat diminum


untuk mengatasi demam dan mengatur keseimbangan cairan tubuh. Untuk pasien
yang mengalami kesulitan makan dan minum, dapat diberikan topikal anastesi,
seperti dyclonine hyrocloride 0,5%. Untuk pengobatan sistemik dapat diberikan
asiklovir 5 x 400 mg/hari selama 5-10 hari.3,4,5,6

Rekuren HSV
Infeksi herpes berulang berkembang di sekitar sepertiga dari pasien yang
memiliki infeksi primer. Herpes labialis adalah jenis infeksi yang paling sering
kambuhan. Biasanya dilihat sebagai sekumpulan vesikel muncul di sekitar bibir
setelah penyakit sistemik atau stres. Sinar ultraviolet dan rangsangan mekanis
mungkin juga bisa menyebabkan kekambuhan.

9
Herpes simplex labialis

Infeksi herpes labialis yang berulang ( recurrent herpes labialis (RHL)


merupakan infeksi recurrent intraoral herpes simplex (RIH) terjadi pada pasien yang
mengalami infeksi herpes simplex sebelumnya dan yang memiliki serum antibody
dalam proteksi infeksi primer. Sebaliknya, infeksi yang berulang ini terbatas pada
daerah di kulit dan membran mukosa. Herpes yang berulang tidak merupakan infeksi
tetapi virus yang aktif kembali dari masa laten di jaringan saraf. Herpes simplex
dikultur dari trigeminal ganglion dari cadavers manusia, dan lesi herpes yang
berulang biasanya tampak setelah pembedahan ganglion. Herpes recurrent mungkin
dapat diaktifkan oleh trauma bibir, demam, sunburn, imunosuresi dan menstruasi.
Perjalanan virus menginfeksi sel epitel, penyebarannya dari sel ke sel untuk
menyebabkan sebuah lesi.
UVR matahari memiliki efek immunoregulatori dimana respons sitokin Th1
ditekan. Sehingga, sensitisasi dan penimbulan imunitas termediasi sel pada manusia,
biasanya dinilai dengan respons hipersensitifitas kontak (CHS) terhambat. Penipisan
jumlah sel Langerhans epidermal yang dipicu oleh UVR, perekrutan makrofag dermal
dan epidermal yang juga bertindak sebagai sel-sel penampak antigen, dan pelepasan
mediator inflammatori seperti faktor pengaktivasi platelet, TNF-α, IL-4, IL-10, TNF-
β, α-MSH, dan CGRP adalah proses-proses yang penting dalam immunomodulasi. Ini
merubah proses penampakan antigen normal, menyebabkan terbentuknya sel T
regulatori yang sangat spesifik yang secara khusus menghambat imunitas yang
dimediasi sel untuk antigen-antigen yang baru ditemukan.9

10
Immunosupresi (penekanan sistem kekebalan) yang dipicu oleh UVR
memiliki peranan utama dalam fotokarsinogenesis, memfasilitasi pertumbuhan dan
munculnya tumor (berdasarkan penelitian pada mencit). Fotoimmunosupresi
(penekanan sistem kekebalan oleh sinar matahari) dianggap memegang peranan
dalam terjadinya kanker pada manusia, dan fakta bahwa pasien transplant organ yang
menjalani terapi immunosupresif memiliki risiko yang sangat meningkat untuk semua
jenis kanker kulit lebih memberikan dukungan terhadap pendapat ini. Keterpaparan
terhadap UVR juga meningkatkan kejadian dan keparahan penyakit infeksi pada
hewan percobaan dan menekan penimbulan imunitas terhadap beberapa penyakit
infeksi pada manusia. Sampai sekarang, bukti terbaik untuk hal ini adalah kerentanan
yang meningkat terhadap lesi virus herpes simplex rekuren pada kulit yang terpapar
akut terhadap sinar matahari.9
Seluruh pasien yang mengalami infeksi herpes primer tidak mengalami herpes
recurrent. Jumlah pasien dengan riwayat infeksi genital primer dengan HSV1 yang
kemudian mengalami infeksi HSV rekuren kira-kira 15%. Rata- rata angka
kambuhan untuk infeksi HSV1 oral antara 20-40%.

Fever blister

Cold sore" atau "fever blister" merupakan suatu lesi vesikuler mukosa
biasanya terletak di sekitar lubang seperti bibir dan hidung. Sering beberapa lesi
muncul secara serentak atau berturut-turut. Sering ada riwayat infeksi saluran
pernafasan sebelumnya atau demam, paparan sinar matahari atau dingin, atau trauma

11
ke daerah, tetapi apakah pada kenyataannya pengaruh ini mengaktifkan virus tetap
tidak jelas.
Cold sore atau fever blisters, diperparah oleh faktor presipitasi demam,
menstruasi, sinar UV, dan mungkin stres emosional. Lesi didahului oleh periode
prodormal yaitu tingling atau burning. Diiringi dengan edema di tempat lesi, diikuti
dengan formasi cluster vesikel kecil. Masing- masing vesikel berdiameter 1-3 mm,
dengan ukuran cluster 1-2 cm. Ukuran lesi secara umum tergantung imun individu.

Lesi pada penderita Herpes

Jika pada tes laboratorium dapat dipastikan, RIH dapat dibedakan dari RAS
dengan cytology smears dari lesi baru. Cairan dari lesi herpes menunjukkan sel
dengan ballooning degeneration dan multinucleated giant cells; sedangkan pada lesi
RAS tidak. Untuk hasil yang lebih akurat, dapat di test dengan cytology smears untuk
HSV dengan menggunakan fluorescein- antigen HSV. Kultur virus juga digunakan
untuk membedakan herpes simplex dari lesi virus lainnya, terutama infeksi varicella
zoster.
Infeksi herpes kambuhan pada bibir dan mulut jarang dibandingkan gangguan
sementara pada individu normal. Pasien yang sering mengalami , besar, nyeri atau
lesi yang kotor harus berkonsultasi. Pertama dokter harus mencoba untuk
memperkecil pemicunya. Beberapa kambuhan dapat dikurangi dengan menggunkan
unblock selama terpapar sinar matahari.
Obat- obatan dapat menekan formasi dan mempercepat waktu penyembuhan
dari lesi recurrent yang baru. Acyclovir, obat antiherpes, aman dan efektif. Obat

12
antivirus yang baru seperti valacyclovir, prodrug dari acyclovir, dan famciclovir,
prodrug dari penciclovir, memiliki bioavailabilitas yang lebih besar dari pada
acyclovir, tapi tidak mengurangi masa laten HSV. Tetapi , pada percobaan tikus,
famciclovir dapat menekan HSV laten. Keefektivan obat antiherpes untuk mencegah
kambuhan genital HSV. Acyclovir 400mg dua kali sehari, valaciclovir 250 mg dua
kali sehari dan famciclovir 250mg yang lebih efektif pada kambuhan genital.
Penggunaan antiherpes nucleoside analog untuk mencegah dan mengobati RHL
namun sangat kontroversial. Terapi sistemik seharusnya tidak digunakan untuk
pengobatan berkala atau RHL yang biasa, tapi kadang- kadang digunakan untuk
mencegah lesi pada pasien mudah terjangkit sebelum resiko yang tinggi seperti
berski dengan ketinggian yang tinggi atau sebelum menjalani prosedur seperti
dermabrasi atau pembedahan nervus trigeminal. Beberapa dokter menganjurkan
menggunakan terapi antiherpes suppressive untuk persentase kecil pada pasien RHL
yang sering mengalami peristiwa deforming pada RHL. Acyclovir 400 mg dua kali
sehari terbukti mengurangi frekuensi dan keganasan RHL. Acyclovir maupun
penciclovir tersedia pada sediaan topical, digunakan pada untuk mempercepat waktu
penyembuhan pada RHL kurang dari 2 hari.3,4,5,6

2.6 Penatalaksanaan
Beberapa obat antivirus telah terbukti efektif melawan infeksi HSV. Semua obat
tersebut menghambat sintesis DNA virus. Obat-obat ini dapat menghambat
perkembangbiakan herpesvirus. Walaupun demikian, HSV tetap bersifat laten di ganglia
sensorik, dan angka kekambuhannya tidak jauh berbeda pada orang yang diobati dengan
yang tidak diobati.3
Salah satu obat yang efektif untuk infeksi Herpes Simpleks Virus adalah
Asiklofir dalam bentuk topikal, intravena, dan oral yang kesemuanya berguna untuk
mengatasi infeksi primer. Asiklovir (zovirax®) digunakan secara oral, intravena atau
topical untuk mengurangi menyebarnya virus, mengurangi rasa sakit dan
mempercepat waktu penyembuhan pada infeksi genital primer dan infeksi herpes

13
berulang, rectal herpes dan herpeticwhitrow (lesi pada sudut mulut bernanah).
Preparat oral paling nyaman digunakan dan mungkin sangat bermanfaat bagi pasien
dengan infeksi ekstensif berulang. Namun, telah dilaporkan adanya mutasi strain
virus herpes yang resosten terhadap acyclovir. Valacyclovir dan famciclovir baru-
baru ini diberi lisensi untuk beredar sebagai pasangan acyclovir dengan efikasi yang
sama. Pemberian profilaksis harian obat tersebut dapat menurunkan frekuensi infeksi
HSV berulang pada orang dewasa. Infeksi neonatal seharusnya diobati dengan
acyclovir intravena.1
Beberapa kasus yang ringan mungkin tidak membutuhkan pengobatan.
Orang-orang yang telah parah atau lanjut, orang dengan masalah sistem kekebalan,
atau mereka yang sering mengalami rekuren akan baik jika diberikan obat antivirus
seperti asiklovir, famciclovir, dan valacyclovir. Orang-orang yang telah lama
menderita oral rekuren atau herpes genital atau manifestasi klinis berat dapat
melanjutkan penggunaan obat antivirus untuk mengurangi frekuensi dan tingkat
keparahan rekuren.7,8
Pengobatan spesifik pada infeksi herpes, misalnya gejala akut dari herpetic
keratitis dan stadium awal dendritic ulcers diobati dengan trifluridin atau adenine
arabisonide (vidarabine, via-A® atau Ara-A®) dalam bentuk ophthalmic ointment
atau solution. Corticosteroid jangan digunakan untuk herpes mata kecuali dilakukan
oleh seorang ahli mata yang sangat berpengalaman. Acyclovir IV sangat bermanfaat
untuk mengobati herpes simpleks encephalitis tetapi mungkin tidak dapat mencegah
terjadinya gejala sisa neurologis.1

2.7 Prognosis
Lesi oral atau genital biasanya sembuh sendiri dalam 7 sampai 14 hari. Infeksi
mungkin lebih parah dan bertahan lebih lama pada orang yang memiliki kondisi yang
melemahkan sistem kekebalan tubuh.7
Setelah infeksi terjadi, virus menyebar ke sel-sel saraf dan menetap dalam
tubuh seumur hidup seseorang. Mungkin akan kembali dan menyebabkan gejala, atau

14
kambuh. Rekuren dapat dipicu oleh kelebihan sinar matahari (UV), demam, stres,
penyakit akut, obat-obatan atau kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh
(seperti kanker, HIV/AIDS, atau penggunaan kortikosteroid).7

2.8 Pencegahan
1. Berikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dan tentang kebersihan
perorangan yang bertujuan untuk mengurangi perpindahan bahan-bahan
infeksius.
2. Mencegah kontaminasi kulit dengan penderita eksim melalui bahan-bahan
infeksius.
3. Petugas kesehatan harus menggunakan sarung tangan pada saat berhubungan
langsung dengan lesi yang berpotensi untuk menular.
4. Disarankan untuk melakukan operasi Cesar sebelum ketuban pecah pada ibu
dengan infeksi herpes genital primer yang terjadi pada kehamilan trimester
akhir, karena risiko yang tinggi terjadinya infeksi neonatal (30-50%).
Penggunaan elektrida pada kepala merupakan kontra indikasi. Risiko dari
infeksi neonatal yang fatal setelah infeksi berulang lebih rendah (3-5%) dan
operasi Cesar disarankan hanya jika terjadi lesi aktif pada saat persalinan.
5. Menggunakan kondom lateks saat melakukan hubungan seksual mengurangi
risiko infeksi; belum ada anti virus yang dapat digunakan untuk mencegah
terjadinya infeksi primer meskipun acyclovir mungkin dapat digunakan untuk
pencegahan untuk menurunkan insidensi kekambuhan, dan untuk mencegah
infeksi herpes pada pasien dengan defisiensi imunitas.1

15
BAB III
KESIMPULAN

Virus Herpes Simpleks adalah virus DNA yang dapat menyebabkan infeksi akut
pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang
sembab. Ada 2 tipe virus herpes simpleks yang sering menginfeksi yaitu HSV-Tipe I
(Herpes Simplex Virus Type I) dan HSV-Tipe II (Herpes Simplex Virus Type II). HSV-
Tipe I biasanya menginfeksi daerah mulut dan wajah (Oral Herpes). Gejala klinis yang
ditimbulkan beragam, dari yang tidak menimbulkan gejala sama sekali hingga yang
berakibat fatal. Manifestasi yang ditimbulkan dalam rongga mulut diantaranya herpes
ginggivostomatitis, herpes simplex kronis dan herpes labialis. Penggunaan antivirus
efektif untuk pengobatan HSV. Pencegahan yang perlu dilakukan antara lain
meminimalisir penularan virus HSV dengan cara menjaga kebersihan dan menggunakan
alat pengaman diri bagi mereka yang beresiko tinggi untuk tertular.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. Herpes simplex. 2010. (http://www.scribd.com/doc/20911610/Herpes-


Simplex)
2. Pamungkas dkk. Prevalensi Antibodi Herpes Simplex Virus 1 Pada Macaca
fascicularis Dari Beberapa Lokasi Di Indonesia. 2002.
(http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?
view=penelitian/hasilcari&status=buka&id_haslit=X017)
3. Anonim. Manifestasi Oral dari Penyakit Infeksi Karena Virus dalam Makalah
Tutorial FKG Unpad. 2007. (http://www.scribd.com/doc/20853525/Manifestasi-
Oral-Dari-Penyakit-Infeksi-Karena-Virus)
4. Sardjito R. Herpesviridae dalam Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Binarupa
Aksara. Jakarta. 2003. Hal: 303-323.
5. Brightman V. Sexually Transmitted and Bloodborne Infection dalam Buku
Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment Edisi 9. Lippincott-Raven
Publisher. Philadelphia. 1997. Hal: 629-713.
6. Cawson dan Odell. Disease of the Oral Mucosa : Introduction and Mucosal
Infection dalam Buku Cawson’s Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine
Edisi 7. Churchill Livingstone. London. 2002. Hal: 178-191.
7. Dugdalle. Herpes Simplex. 2009.
(http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001324.htm)
8. Moses S. Oral Herpes. 2008.
(http://www.fpnotebook.com/ent/mouth/orlhrps.htm)
9. Masdin. Pengaruh Sinar Ultraviolet terhadap Kulit: Efek Akut dan Kronis. 2010.
(http://www.pajjakadoi.co.tv/2010/01/pengaruh-sinar-ultraviolet-terhadap.html)

17