Anda di halaman 1dari 27

METODE PELAKSANAAN

NAMA PEKERJAAN : Pekerjaan Pangadaan dan Pemasangan Pagar


LOKASIN KEGIATAN :

Metode pelaksanaan kami susun untuk menganalisa gambaran singkat mengenai urutan pekerjaan yang
akan dikerjakan dilapangan. Berdasarkan gambar rencana yang ada serta kondisi lapangan yang ada, maka
urutan metode pelaksanaan yang akan kami uraikan adalah sebagai berikut :

Langkah langkah yang ditempuh dalam pelaksanaan Pekerjaan ini antara lain :

Setelah menerima Surat Perintah Mulai Kerja Pihak Direksi yang terkait akan melakukan PCM (Pra
Construction Meeting) terlebih dahulu, untuk menentukan dan meminta Petunjuk tentang Pelaksanaan di
Lapangan sehingga kelak tidak terjadi hal atau masalah di Lapangan, setelah itu kami akan segera
melakukan uitzet (pengukuran) kembali di Lapangan bersama dengan Pihak Direksi dan Konsultan
Pengawas. Uitzet diperlukan untuk menentukan as as dan peil peil yang sesuai dengan bestek untuk
Pelaksanaan Pekerjaan ini, sehingga di kemudian hari hal ini dijadikan dasar pengukuran dari pelaksanaan
pekerjaan. Setelah melakukan Uitzet, kami akan melakuan uji laboratorium untuk campuran beton / jobmix
dan mortar.

Tahap Pertama dari Pelaksanaan pekerjaan yang kami lakukan adalah Pembuatan Barak Kerja /
Direksi Keet yang sesuai ketentuan, dimana Direksi Keet itu nantinya akan kami tempatkan bahan Material
seperti Besi Beton, Semen dan material lain yang akan kami gunakan, dan Tenaga Kerja yang akan kami
inapkan di tempat tersebut. Seiring dengan Pembuatan Direksi Keet, kami juga akan melaksanakan
Pembayaran Asuransi Tenaga Kerja pada PT. JAMSOSTEK.

Dari beberapa Personil yang sudah kami pilih untuk Pekerjaan ini, maka kami akan menempatkan
Site Manajer, Quality Control, Quantity Control, Tenaga Pelaksana, Tenaga K3, Tenaga Pengelasan, Tim
Logistik dan Tim Administrasi Proyek di Lapangan di bawah Kontrol dari Koordinator Pelaksana kami.
Sebelum pekerjaan dilaksanakan kami akan mulai dengan Pengambilan Dokumentasi 0 % di Lokasi Proyek
dan mempersiapkan Buku Direksi dan mulai membuat Laporan Harian dari Pekerjaan di Lapangan.

Kami juga akan mulai mempersiapkan Pagar Proyek, Papan Nama Proyek, Pengadaan Sumber Air
Bersih (Air Kerja), Pengadaan tenaga listrik (Penerangan Kerja,Daya Listrik dll)

Berikut adalah tahap tahap Pekerjaan yang akan kami laksanakan di Lapangan :

1
A. PERSIAPAN PENANGANAN PEKERJAAN

1. Pekerjaan Pendahuluan
Sebelum pekerjaan persiapan dilaksanakan terlebih dahulu Penyedia jasa dan direksi akan
menghubungi Kepala Desa / Camat / Koramil / Instansi terkait untuk menjelaskan rencana
pekerjaan ( Sosialisasi ) agar dapat mendukung Pelaksanaan Pekerjaan selanjutnya.
Mengadakan Pengukuran sebagai awal perhitungan volume pekerjaan dan sekaligus membuat
jalan kerja, membangun kantor lapangan dan Direksi Keet, memasang papan nama dan
menghitung Mutual Check sebagai pedoman awal volume pekerjaan.
Air bersih dan listrik juga merupakan factor penunjang bagi kelancaran pelaksanaan proyek,
karena berfungsi sebagai kebutuhan untuk hidup dan kebutuhan untuk menggerakkan alat-alat
yang memerlukan listrik. Guna pemenuhan kebutuhan air bersih dan listrik, maka air bersih
dan listrik untuk proyek ini didapatkan dari titik terdekat di lokasi Proyek.

2. Mobilisasi
Tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini antara lain : Koordinator
Pelaksana, Pelaksana Bangunan ,Pelaksana ME, Tim Logistik dan Tim Administrasi Proyek
yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dilapangan.
Alat yang diperlukan dalam pekerjaan ini : Concrete Mixer, Peralatan Las, Peralatan
Pertukangan yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dilapangan.

CONCRETE MIXER

PERALATAN LAS ALAT UKUR

2
Bahan bahan yang diperlukan juga disiapkan dilokasi pekerjaan dimulainya pekerjaan pada
titik awal dimulainya pekerjaan.

Semen menggunakan semen Portland yang


memenuhi syarat dan mendapat persetujuan
Pengawas Lapangan

Batu belah harus keras, padat, berat, dan bersih


dari tanah.

Pasir cor dengan mutu baik, berbutir keras dan


tajam, bersih dari lumpur dan kotoran.

Mobilisai Tenaga, Alat, dan bahan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan
dilapangan yang akan dikerjakan.

B. PENANGANAN PEKERJAAN UTAMA

1. PEKERJAAN PERSIAPAN

a. Pembersihan Lokasi
Lahan lokasi yang direncanakan harus dibersihkan/dibereskan dari segala hal yang akan
mengganggu kelancaran pekerjaan dan atau mempengaruhi kualitas pekerjaan, sesuai arahan /
petunjuk pihak Direksi.
Benda-benda atau barang yang berada di atas lahan yang akan dibangun adalah milik pembersi
tugas. Segala pekerjaan yang mengakibatkan kerugian yang terjadi sebagai akibat pelaksanaan
pekerjaan adalah menjadi tanggung jawab penuh pihak pelaksana.

b. Papan Nama Kegiatan


Papan Nama Kegiatan 1 buah dipasang pada lokasi proyek. Papan nama kegiatan dibuat dengan
ukuran sesuai standart yang disetujui direksi, dan terbuat dari bahan tripleks 4 mm, kaso, palu,
cat, gergaji dan meteran yang sesuai dengan yang di syaratkan dalam spesifikasi. Papan nama
kegiatan berisi Nama Kegiatan, Nomor Kegiatan, Lokasi Kegiatan, Wilayah, Waktu
Pelaksanaan, Nama Penyedia Jasa Pemborongan, Konsultan supervisi dan lain-lain.
Pemasangan Papan Nama Proyek bertujuan sebagai pemberitahuan kepada masyarakat
umum/pengguna jalan bahwa dilokasi tersebut sedang ada kegiatan proyek.

3
c. Mobilisasi dan Demobilisasi
Pekerjaan mobilisasi menyangkut persiapan pelaksanaan pekerjaan di lapangan seperti
pembuatan bangunan owner keet, direksi keet dan kontraktor keet, kemudian pagar proyek dan
perlengkapannya serta mobilisasi peralatan yang dibutuhkan di lapangan.
Lamanya mobilisasi ini akan memakan waktu 2 minggu, yang disesuaikan dengan kebutuhan
peralatan berat di lapangan sehingga tidak perlu menyediakan lapangan khusus untuk parkir alat
berat di proyek.
Untuk bangunan dan fasilitas penunjang akan dipersiapkan segera di proyek dan termasuk pada
kegiatan mobilisasi yang paling awal. Pekerjaan demobilisasi akan dilaksanakan bertahap untuk
peralatan dimana peralatan yang sudah tidak dibutuhkan akan segera dikembalikan ke pool.
Untuk mobilisasi alat-alat berat kontraktor berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan
Kepolisian setempat untuk pengamanan keluar masuk alat dan bahan ke lokasi proyek.

d. Photo Visuil 3 phase (0%-50%-100%)


Titik pengambilan photo yang telah disetujui direksi. Pengambilan photo dilakukan sebanyak
tiga phase yaitu, 0%, 50%-100%. Pengambilan 0% dilakukan pada saat pekerjaan belum
dimulai (kondisi existing), saat pelaksanaan fisik sedang berlangsung dan mencapai 50%
diambil photo 50%. Photo 100% diambil setelah pekerjaan fisik selesai (pekerjaan sudah rapi).
Pengambilan photo kegiatan ini dilengkapi dengan alat Tustel dan film isi 36 asa 200.
Pengambilan photo kegiatan minimal 4 titik pengambilan yang tidak berubah-berubah, sehingga
step-step kemajuan dari proyek ini dapat terlihat.

Seiring dengan hal-hal di atas kita harus pula menyiapkan sarana air bersih dengan koordinasi ke
penduduk setempat untuk pemantekan air tanah serta koordinasi keamanan proyek, dan yang
terpenting lagi koordinasi dengan instansi terkait untuk uitzet lapangan (setelah membayar retribusi)
termasuk test kepadatan/ketebalan lapis demi lapis tahapan pekerjaan.
Pemborong wajib menyediakan dan mengisi Buku Harian Lapangan yang berisi :
1. Kuantitas dan macam bahan yang berada di lapangan,
2. Penempatan tenaga kerja untuk tiap dan macam tugasnya,
3. Jumlah jenis dan kondisi peralatan,
4. laporan tentang jumlah tenaga/pekerja,
5. bahan bangunan dan pekerjaan yang dilaksanakan,

4
6. keadaan cuaca termasuk hujan, banjir dan peristiwa alam lainnya yang berpengaruh terhadap
kelancaran pekerjaan,
7. Catatan-catatan lain yang dianggap perlu atas petunjuk dan persetujuan Direksi/ Pengawas.

Selama pelaksanaan pekerjaan pembangunan berlangsung, Pemborong harus memelihara kebersihan


lokasi pembangunan maupun lingkungannya terutama jalan-jalan disekitar lokasi proyek, direksi
keet, gudang, los kerja dan bagian dalam bangunan yang akan dikerjakan harus bebas dari bahan
bekas, tumpukan tanah dan lain-lain.

Kecelakaan yang terjadi selama pelaksanaan pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab pemborong.
Pemborong harus menyediakan alat kesehatan/kotak PPPK yang terisi penuh dengan obat-obatan
sesuai kebutuhan, lengkap dengan seorang petugas yang mengerti dalam penyelamatan pertama
dan kesehatan.

2. PEKERJAAN TANAH

a. Pekerjaan Galian

Pekerjaan penggalian tanah dan pengurugan tanah kembali harus dilaksanakan sesuai dengan
gambar, RKS dan semua petunjuk yang disampaikan oleh pengawas selama berlangsungnya
pekerjaan. Pekerjaan Penggalian harus dilaksanakan secara mekanis dan semua peralatan yang
dibutuhkan harus disediakan oleh Kontraktor, baik yang menyangkut peralatan untuk pekerjaan
persiapannya maupun peralatan untuk pekerjaan penggaliannya sendiri dan alat-alat Bantu yang
diperlukan.
Galian tanah dilaksanakan untuk pembuatan lubang pondasi, lubang-lubang saluran dan
pekerjaan-pekerjaan lain yang menurut kondisinya memerlukan adanya galian tanah. Galian
tanah dilaksanakan setelah kontraktor bersama-sama pengawas lapangan menetapkan as-as +
elevasi yang akan dilakukan galian pada papan bouwplank. Apabila dasar tanah galian untuk
pondasi diperlukan daya dukung yang lebih baik, maka dasar galian harus dipadatkan/ditumbuk.

b. Pekerjaan Urugan

Semua bahan yang dipakai untuk pengurugan kembali harus merupakan bahan pilihan yang
baik, yang diseleksi, bebas dari kotoran, batu-batu besar dan bahan tumbuhan atau bahan lainnya
yang dapat membusuk.
Urugan tanah dilaksanakan pada lubang-lubang sisa pondasi, peninggian tanah untuk nol lantai
dan pada bagian-bagian pekerjaan yang kondisinya mengharuskan adanya pekerjaan urugan
tanah.

5
Untuk pengurugan kembali dilaksanakan selapis demi selapis dengan ketebalan tidak lebih dari
20 cm tiap lapisnya dan harus dipadatkan secara mekanis sampai diperoleh kepadatan yang
cukup. Pemadatan disyaratkan harus memakai alat pemadatan STAMPER, dengan mencapai
kepadatan maximal
Urugan pasir dilaksanakan pada bagian-bagian dasar/bawah pasangan pondasi batu kali atau
pondasi lainnya. Kebetalan urugan pasir ditentukan tebal 10 cm untuk dibawah pondasi,
ketebalan tersebut adalah ukuran ketebalan padat dengan cara ditimbris sambil disiram air.

3. PEKERJAAN PONDASI

Sebelum pelaksanaan pekerjaan pondasi terlebih dahulu diadakan pengukuran dan penggambaran
kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-keterangan mengenai peil ketinggian
tanah, letak pohon, letak batas-batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.
Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya boleh dilakukan dengan alat-alat
waterpass/theodolith yang ketepatannya dapat dipertanggung jawabkan.

Material yang digunakan harus bermutu baik yang sudah disetujui oleh Pengawas / Pemberi Tugas
untuk dipakai.
Pondasi dibuat dari pasangan beton dengan adukan K-175. Mutu beton yang dihasilkan dalam
pelaksanaan harus dibuktikan dengan hasil test laboratorium sesuai dengan ketentuan dari
Peraturan Beton Indonesia (PBI). Pondasi adalah pondasi setempat dengan ukuran dan kedudukan
sesuai gambar.
Hasil pengukuran ditandai dengan Tugu Patokan Dasar (Reference Bench Mark), Tugu patokan
dasar dibuat dari beton berpenampang sekurang-kurangnya 20 x 20 cm, tertancap kuat kedalam
tanah sedalam 1 meter dengan bagian yang menonjol di atas muka tanah secukupnya untuk
memudahkan pengukuran selanjutnya dan sekurang-kurangnya setinggi 40 cm di atas tanah.
Hasil pengukuran kemudian ditandai dengan Papan dasar (bouplank) yang dipasang pada patok
kayu semutu Meranti merah dengan ukuran kaso 5/7 cm, yang tertancap dalam tanah sehingga tidak
bisa digerak-gerakkan atau dirubah-rubah, berjarak maksimum 1,5 meter satu sama lain.
Setelah itu dilaksanakan penggalian tanah untuk pondasi, dilanjutkan dengan urugan pasir urug
darat. Kemudian memasang acuan/Bekisting untuk pengecoran beton pondasi dengan
menggunakan adukan 1pc : 2psr : 3split dengan tulangan besi beton polos. Cetakan beton harus
dipasang sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kebocoran atau hilangnya air semen selama
pengecoran, tetap lurus (tidak berubah bentuk) dan tidak goyang.
Pekerjaan pondasi ini dilakukan dengan menggunakan beton adukan 1pc : 2 pasir : 3 split.
Pengecoran lantai kerja dengan adukan 1 pc:3 pasir beton:5 koral. Pengecoran beton sloof
memanjang, pengecoran sloof melintang, beton galeri extrance, pengecoran poor galeri.
Dilanjutkan dengan pemasangan pondasi dengan menggunakan batu kali adukan 1 portland cemen
: 4 pasir pasang.
Pekerjaan pasangan batu kali dilakukan untuk pondasi dengan bahan-bahan :
Batu kali yang digunakan adalah yang diperoleh dari alam (batu belah) dengan bentuk
bersudut-sudut tajam dan mempunyai ukuran maksimal tidak lebih dari 25x25x25 cm,
keras dan tidak keropos serta bersih dari kotoran/Lumpur.
Adukan untuk pasangan batu kali yang kedap air menggunakan adukan 1 pc : 3 psr,
sedangkan untuk pasangan batu kali yang biasa menggunakan adukan 1pc : 5 psr, dengan
bahan adukan yang digunakan harus mempunyai persyaratan :

6
- Pasir : digunakan pasir pasang atau ekstra beton yang bebas dari kotoran, Lumpur serta
bahan organic. Pasir mempunyai kadar Lumpur tidak lebih dari 5% (berat) dan tidak
lebih dari 15% yang tertahan pada sieve ukuran 2,3 mm.
- Semen : digunakan Portland semen, seperti yang disebut dalam PBI 1971
- Air : Harus sesuai dengan yang disebut dalam PBI 1971

a. Pekerjaan Beton

1. Beton tumbuk :
Permukaan tanah yang akan dilapisi beton tumbuk harus rata dan diperkeras, setelah
permukaan rata dan keras kemudian digelar pasir urug dengan ketebalan minimal 10 cm,
barulah beton tumbuk digelar dengan ketebalan minimal 7 cm.
Bahan yang digunakan :
Air : air yang digunakan harus bersih dan memenuhi syarat untuk diminum (air minum).
Batu split/koral : Batu split/koral yang digunakan harus yang bersih dan bermutu baik
serta mempunyai gradasi serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat teknis.
Pasir : Pasir beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan
sejenisnya dan juga memenuhi komposisi butir serta kekerasan.
Semen : Semen yang digunakan Portland Cement jenis 1 menurut NI-8 1965 atau type
1 menurut ASTM.C.150 dan memenuhi S.400 menurut Standard Cement Portland yang
digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia. Semen yang rusak tidak diperbolehkan
dipakai.

2. Beton Bertulang
Bahan Yang digunakan :
Air : air yang digunakan harus bersih dan memenuhi syarat untuk diminum (air minum).
Batu split/koral : Batu split/koral yang digunakan harus yang bersih dan bermutu baik
serta mempunyai gradasi serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat teknis.
Pasir : Pasir beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan
sejenisnya dan juga memenuhi komposisi butir serta kekerasan.
Semen : Semen yang digunakan Portland Cement jenis 1 menurut NI-8 1965 atau type 1
menurut ASTM.C.150 dan memenuhi S.400 menurut Standard Cement Portland yang
digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia. Semen yang rusak tidak diperbolehkan dipakai.
Besi Beton : besi yang digunakan adalah baja polos mutu U-24 dan ulir mutu U-32. Mutu
beton yang digunakan harus berkualitas baik serta ukuran sesuai gambar, bebas dari cacat
besi seperti : retak, karat, gelombang, besi bekas dan sebagainya.
Begesting : Begesting yang digunakan adalah kayu terentang dengan ketebalan 3 (tiga)
cm. Begesting harus kuat tidak bergetar dan tidak lentur waktu pelaksanaan pengecoran
dan mudah dibongkar tanpa merusak konstruksi.

7
Pelaksanaan Pekerjaan

Sebelum pengecoran dilakukan terlebih dipasang pembesian dan bekesting, Semua besi tulangan
harus bebas dari serpihan karat lepas, mimyak gemuk, cat, debu atau zat lainnya yang dapat
mengganggu perlekatan yang sempurna antara tulangan dan beton. Jika diinstruksikan oleh Direksi,
besi harus disikat atau dibersihkan sebelum dipakai. Beton tidak boleh dicorkan sebelum
penulangan diperiksa dan disetujui oleh Direksi.

Tulangan harus dipasang secara tepat pada posisi yang diperlihatkan pada gambar dan harus
ditahan jaraknya dari bekisting dengan memakai dudukan beton atau gantungan logam menurut
kebutuhan, dan pada persilangan persilangan diikat dengan kawat beton yang dipilar dingin
dengan diameter tidak kurang dari 1.6 mm; ujung ujung kawat harus diarakhan ke bagian tubuh
utama beton. Besi tidak boleh ditumpu dengan penahan logam yang menonjol hingga kepermukaan
beton, pada tumpuan kayu atau kepingan kepingan agregat kasar.

Semua bekisting harus dirancang dan dibuat hingga dinilai memuaskan oleh Direksi. Kontraktor
harus menyerahkan rancangannya untuk disetujui, dalam jangka waktu cukup sebelum pekerjaan
dimulai. Semua bekisting harus diperkuat dengan klam dari balok kecil dan harus yangkuat serta
cukup jumlahnya untuk menjaga agar tidak terjadi distrosi ketika beton dicorkan, dipadatkan dan
mengeras. Bekisting dari kayu/ papan terentang harus dibuat dari kayu yang sudah diolah dengan
baik. Semua sambungan harus cukup kencang agar tidak terjadi kebocoran.

8
Agar beton tidak menempel pada bekisting bagian permukaan dalam bekisting diberi selapis
minyak yang jenisnya sudah disetujui, sebelum beton dicorkan. Minyak pelumas baik yang sudah
atau belum dipakai tidak boleh dipakai untuk maksud ini. Harus diperhatikan agar besi tulangan
tidak terkena bahan pelapis semacam ini. Pengikat besi untuk didalam atau diblok antara (spacer)
yang sudah disetujui boleh dipakai. Bagian dari pengikat atau pengantara yang ditanam permanen
dalam beton sekurang kurangnya harus berjarak 5 cm dari permukaan akhir beton. Setiap lubang
dalam permukaan beton yang timbul akibat pengikat atau pengantara harus ditutup dengan rapih
segera setelah bekisting di buka dengan spesi semen yang campuran serta konsistensinya sama
dengan mutu beton induknya.

Pengadukan beton dengan beton mixer/molen tidak boleh kurang dari 1 (satu) menit diputar
setelah seluruh komponen adukan dimasukkan kedalam pengaduk/beton molen. Penyampaian
beton (adukan dari mixer) ketempat pengecoran dilakukan dengan cara yang tidak mengakibatkan
segregasi komponen / adukan beton harus sudah dicor paling lambat 3 (tiga) menit sejak
pencampuran di dalam mixer dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan kualitas beton yang
disyahkan. Jika digunakan bahan tambahan, maka waktu tersebut diperpanjang dalam batas-batas
yang dapat dipertanggung jawabkan. Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan dengan
persetujuan tertulis dari pengawas lapangan.

Pengecoran harus dilakukan dengan baik dengan menggunakan vibrator untuk menjamin
kepadatan beton. Apabila pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan pada hari berikutnya,
maka tempat berhenti pengecoran harus disetujui pengawas.

Pada pengecoran sambungan setelah pengecoran berhenti 1 (satu) hari, maka pada adukan beton
lama (beton yang telah mengeras) harus diberi bahan kimia untuk memperkuat sambungan.
Khusus untuk beton plat lantai tidak boleh terjadi keretakan dan kebocoran dan kemudian akan
ditest bersama.

Setelah pengecoran maka beton harus selalu dalam keadaan basah secara terus menerus selama
tidak kurang dari 7 (tujuh) hari selama masa pengerasan

9
4. PEKERJAAN PAGAR

a. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang tercantum dalam pasal-pasal ini, terdiri dari penyediaan bahan, tenaga ahli,
perlengkapan bantu lainnya yang diperlukan serta pelaksanaan pekerjaan yang berhubungan
dengan pembuatan pagar.
Tempat pelaksanaan pekerjaan pagar pembatas sisi udara ataupun sisi darat sebagaimana yang
tertera dalam gambar layout.
Halaman tanah dan pengukuran diserahkan pada pelaksana pemborong dalam keadaan sesuai
pada saat Pemberi Tugas menyerahkan.
b. Ukuran Tinggi Pagar
Ukuran duga (peil) dan ukuran tinggi ditentukan dalam gambar, pemborong wajib memeriksa
semua ukuran ini dalam pelaksanaan, sehingga betul-betul sesuai dengan gambar.
Apabila terdapat perbedaan ukuran maka pemborong wajib menanyakan pada Pemberi Tugas.
Penentuan semua ukuran harus digunakan pesawat theodolit dan setelah ditentukan harus
disahkan secara tertulis dimuka Pemberi Tugas oleh Pengawas Pekerjaan.
c. Pekerjaan Tanah
Pekerjaan penggalian, perataan, pengukuran dan lain-lain adalah bagian dari pekerjaan tanah
ini.
Untuk galian pondasi disesuaikan dengan gambar yang telah disetujui, dan lubang galian
pondasi harus cukup lebar, sehingga pelaksanaan pekerjaan tidak terganggu.
Apabila galian dasar pondasi terdapat akar-akar atau tanah masih lunak, maka harus digali
sampai memenuhi syarat tanah yang cukup baik.
Dibawah pasangan pondasi (anstamping) diberi lapisan pasir padat setebal 10 cm.
d. Material Yang Digunakan Untuk Pagar
1. Pagar Harmonika
Pagar terbuat dari tiang besi dan kawat harmonika yang digalvanish dengan ukuran sesuai
gambar. Mutu baja tulangan/ baja yang digunakan harus dapat dibuktikan dengan test
laboratorium. Setiap hubungan antara besi di las / di sekrup dengan baut. Sedangkan
hubungan tiang besi dan kawat harmonika dapat disekrup / diikat / diklaim dengan kawat
baja / sekrup.
Bahan harus dalam keadaan baru dan tidak boleh ada karat-karat sebelum pekerjaan
dilaksanakan dan harus di meni dulu sebelum dipasang.
2. Pagar BRC
Pagar terbuat dari tiang besi galvanish yang di galvanish dengan ukuran sesuai gambar.
Mutu baja yang digunakan harus dapat dibuktikan dengan test laboratorium. Setiap
hubungan antara besi disekrup dengan baut, sedangkan hubungan tiang besi dan BRC dapat
disekrup / diklaim dengan plat baja / sekrup.
Bahan harus dalam keadaan bagus dan tidak boleh karat-karat sebelum pekerjaan
dilaksanakan dan harus ditest sebelum dipasang.
Diameter BRC kawat minimal : 6 mm
Jarak wire mesh : 8 10 cm
Tinggi minimum BRC : 1900 mm
Panjang BRC : 2400 mm
BRC jenis hot dip galvanised (Bristish Standard 443 1982) dan produksi pabrik (mesin).
Typical coat galvanized minimal 60 micron, life time 10 th (minimum).
Tiang pagar panjang 2600 mm diameter 2 Hot Dipped Galvanized.

10
Pagar Bandar Udara dari wire mesh harus memenuhi standar spesifikasi diatas dengan
jaminan mutu (factory sertificate).
3. Tiang BRC
Tiang BRC mempunyai ukuran mesh 190 mm x 240 mm, dibuat dari PVC coated wire dan
diameter 2. PVC coating yang berkualitas baik U.V. stabilized Coating yang membungkus
keliling dari inti kawat. Pagar tersebut dari besi siku dan kawat duri dengan ukuran sesuai
gambar. Mutu baja tulangan / baja siku yang digunakan harus dapat dibuktikan dengan test
laboratorium. Setiap hubungan tiang besi siku dilas atau disekrup dengan baut. Sedangkan
hubungan tiang besi siku dan kawat duri dapat disekrup / diikat dengan kawat baja.
4. Kawat Pengaman (Kawat Duri)
Untuk pagar batas bandara disisi batas lahan diatas pagar ada kawat duri sebagai sistem
pengaman (security system) tambahan. Berikut jenis kawat duri :

Tabel 6.4.1 Kawat duri standart / barbed wire:


Standart Heavy
No Material Type PVC Coated Color
Galvanized Galvanized
1 Core Wire Diameter 2.0 mm 2.0 mm 1,0 mm 2,7 mm
2 Barb Wire Diameter 2,7 mm 2,7 mm 2,0 mm 3,2 mm
3 Barb Spacing 10 cm 10 cm 10 cm
4 Length per coil 50 m 50 m 50 m
40-70 g/32 PVC
5 Galvanized Weight 40-70 g/m2 260-300 g/m2
Coated

Tabel 6.4.2 Spesifikasi kawat duri bentuk silet (razor blade wire) :
Blade Core Wire Barb Barb Barb
No Thickness Diameter Length Width Spacing
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
1 0.5+0.05 2.5+0.1 22+1 14+1 35+1
2 0.5+0.05 2.5+0.1 30+1 21+1 42+1
3 0.5+0.05 2.5+0.1 65+2 21+1 100+1

Tabel 6.4.3 Spesifikasi gulungan kawat (razor wire) atau berbentuk spiral:

No Keterangan Minimum
1 Coll Diameter 450 mm
2 Recommended Strecth length 8 - 12 m
3 Call Diameter when Stretched 400 mm
4 Spiral Turn per Coll 54
5 Clip per Spiral 3

11
e. Material
1. Produk Pagar
Produk terbuat dari galvanized steel wire atau polyvinyl chloride (PVC)-coated steel atau
aluminium alloy atau zinc-5% aluminium mischmetal dengan ukuran bukaan 50 mm dan
harus memenuhi persyaratan di bawah ini.
Galvanized steel fabric harus sesuai dengan ASTM A 392, Class 2.
Polyvinyl chloride-coated steel harus sesuai dengan ASTM F 668, Class 2b.
Aluminum alloy fabric harus sesuai dengan ASTM F 1183.
Zinc-5% aluminum mischmetal alloy coated steel sesuai dengan ASTM F 1345, Class 2.
2. Tiang, Batang Dan Pengaku
Tiang, batang dan pengaku harus sesuai dengan ASTM F-1043 or ASTM F 1083 sebagai
berikut :
Galvanized tubular steel pipe harus memenuhi persyaratan Group IA, (Schedule 40) dengan
pelapisan sesuai dengan Type A, atau Group IC ( High Strength Pipe), pelapisan luar Type
B, dan pelapisan dalam Type B atau D.
Roll Formed Steel Shapes ( C-Sections) harus sesuai Group IIA, dan harus digalvanis
sesuai persyaratan F 1043, Type A.
Hot-Rolled Shapes ( H Beams) harus sesuai Group III, dan digalvanis sehingga memenuhi
persyaratan F 1043, Type A.
Pipa Aluminum harus memenuhi persyaratan Group IB.
Aluminum Shapes harus memenuhi persyaratan Group IIB.]
Vinyl atau polyester coated steel harus memenuhi persyaratan ASTM F 1043
Kekuatan tiang harus memenuhi persyaratan ASTM F 1043 or ASTM F 1083. Kehilangan
kekuatan dari tiang tidak boleh lebih dari 10 persen setelah kena sinar matahari dan hujan
selama 3,600 jam sesuai dengan ASTM G 23, ASTM G 26, and ASTM G-53.
Tiang, palang dan pengaku yang dipasang pada campuran produk aluminum harus terbuat
dari campuran aluminium.
3. Pintu Gerbang
Pintu Gerbang galvanized steel pipe atau polymer-coated steel pipe atau aluminum alloy
pipe atau composite post harus sesuai gambar dan spesifikasi dan terbuat dari bahan yang
sama dengan bahan pagarnya.
4. Batang Tarik
Batang tarik harus terbuat dari bahan yang sama. Kawat batang tarik harus dilapisi dengan
bahan yang sama dengan produk pagar dan sesuai dengan ASTM A 824.

12
f. Pekerjaan Kunci/Alat Penggantung
Daun Pintu pagar menggunakan kunci gembok sesuai gambar dan rencana anggaran biaya.
Daun pintu harus dipasang engsel besar sesuai rencana, satu set pintu pagar lengkap dengan
accessoriesnya (termasuk engsel dan kait kunci).

g. Pekerjaan Pintu Pagar


Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang
diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga pekerjaan besi pagar ini dikerjakan dengan
yang baik dan bermutu.
Bahan yang dipakai harus kondisi baik dan kami serahkan contoh untuk mendapat persetujuan
dari Pengawas Lapangan.
Lingkup pekerjaan adalah pekerjaan logam non structural dalam hal ini meliputi : pemasangan
pagar dengan pembuatan kolom-kolom / tiang pagar besi hollow dengan bentuk dan bahan yang
sesuai petunjuk Direksi.
Bahan dari besi pipa galvanis ukuran diameter 1,5 inch tebal 2 mm dengan teralis beton diameter
12 mm, jarak 5 cm dengan ukuran sesuai dengan ukuran sesuai dengan yang tertera di gambar
kontrak.
Pelaksanaan Pekerjaan :
Besi dipotong-potong sesuai panjang yang dibutuhkan dan dikerjakan di luar proyek (work
shop). Pelaksanaan di lokasi hanya merakit dan memasang pada dudukannya. Besi harus dibuat
sesuai bentuk dan ukuran seperti yang tertera dalam gambar detail.
Pengelasan sambungan besi harus baik dan rapi, serta memenuhi persyaratan AWS D10-69,
Sedangkan penyambungan dengan bolts, nuts screws, dan rings harus menggunakan bahan yang
sama serta memenuhi Standard ASTM A307.
Besi pagar yang dipasang akan dilindungi selama 3 x 24 jam. Sesudah pekerjaan ini selesai
dilaksanakan, akan dijaga dari kemungkinan tumbukan/benturan dari benda-benda keras, dari
pekerjaan lain. Hubungan besi pagar pada dinding/pilar dengan cara dicor.

13
h. Pekerjaan Penyelesaian
Setelah semua pelaksanaan pekerjaan selesai, maka Lapangan harus ditinggalkan dalam
keadaan bersih dan siap digunakan oleh Pemberi Tugas. Kontraktor juga harus memulihkan
keadaan, kondisi semula bagian-bagian lapangan yang tidak direncanakan berubah menurut
kontrak. Membuang semua bahan-bahan yang tidak terpakai dan yang berlebihan, sampah, alat-
alat perlengkapan dan mesin-mesin harus dikeluarkan / dipindahkan. Sehingga lokasi proyek
bersih seperti sebelum dilaksanakan proyek.

C. PENANGANAN MASA PEMELIHARAAN

MC. 100%
Setelah semua pekerjaan dilaksanakan, dilakukan perhitungan Mutual Check Akhir (MC.100%)
yang dilakukan bersama-sama antara penyedia jasa, pengawas lapangan dan direksi. Apabila dalam
perhitungan Mc.100% masih ada kekurangan segera penyedia jasa menyelesaikan pekerjaan yang
masih kurang.
Setelah disepakati bersama maka dibuat berita acara perhitungan Mutual Check Akhir yang
ditandatangani bersama oleh Penyedia jasa, pengawas lapangan dan direksi.

Asbuilt drawing
Penyedia jasa membuat gambar purna pelaksanaan (Asbuilt drawing) sesuai dengan pekerjaan
yang telah dilaksanakan dilapangan. Gambar Asbult drwing dibuat dengan kertas A3 dan dicopy
rangkap 4 yaitu untuk Pengawas lapangan, Direksi dan Pengguna Jasa dan arsip.

Laporan laporan yang disampaikan selama masa Kontrak :


1. Laporan Mingguan, memuat antara lain :
- Hasil kemajuan fisik pekerjaan Mingguan
- Hal hal penting lainnya
2. Laporan Bulanan, memuat antara lain :
- Rangkuman laporan Mingguan
- Hasil kemajuan fisik pekerjaan bulanan
- Hal hal penting lainnya

Foto Dokumentasi 100%


Foto dokumentasi 100% diambil dari titik awal foto 0% dan 50% serta di buat album ukuran 3R.

Penyerahan I
Setelah semua pekerjaan fisik selesai dan jangka waktu pelaksanaan telah habis maka dilakukan
penyerahan pekerjaan pertama (PHO).

Pemeliharaan
Pemeliharaan dilaksanakan selama 180 hari kalender. Selama masa pemeliharaan kami selaku
penyedia jasa akan selalu memantau lokasi pekerjaan dan menjaga serta memperbaiki apabila
terjadi kerusakan di sekitar lokasi pekerjaan.

Masa pemeliharaan adalah suatu masa (jangka waktu) tertentu setelah suatu proyek selesai
dilaksanakan dan diserah-terimakan ke user (pengguna) untuk dioperasikan/digunakan. Dalam

14
masa pemeliharaan, tanggung jawab pemeliharaan sebagian besar masih berada di pihak
Kontraktor, termasuk penyediaan spare parts. Tujuan diadakannya masa pemeliharaan ini adalah:

1) Sebagai masa pembelajaran bagi user untuk mengoperasikan, memelihara dan menjaga agar
peralatan/sistem yang dipasang dalam proyek tersebut tetap bekerja sesuai dengan yang
diinginkan; Ini penting, terutama untuk peralatan/sistem yang baru dimana user belum
memiliki pengalaman sebelumnya.
2) Masa untuk menyiapkan sumber daya yang akan digunakan untuk mengoperasikan dan
memelihara peralatan/sistem yang terpasang melalui proyek (diantaranya: anggaran
operasi/pemeliharaan, SDM yang melaksanakan pemeliharaan, spare part, consummable
material, dsbnya).
3) Masa untuk menyiapkan sistem pengoperasian dan pemeliharaan terhadap peralatan/sistem
yang dipasang melalui proyek (termasuk menyipakan Sistem tatakerja pengoperasian maupun
pemeliharaan).

Walaupun tanggung jawab pemeliharaan selama masa pemeliharaan ini masih berada di pihak
Kontraktor, namun demikian keterlibatan secara langsung dari user juga sangat diperlukan, karena
proses pembelajaran yang paling efektif adalah dengan cara melakukannya secara langsung.

Lingkup Masa Pemeliharaan.

Melimpahkan semua kewajiban/kegiatan pemeliharaan kepada Kontraktor selama masa


pemeliharaan, menurut pendapat saya kurang bijaksana. Karena, selain biaya yang mahal, juga
proses pembelajaran yang merupakan salah satu tujuan diadakannya masa pemeliharaan tidak akan
berjalan dengan baik. Tidak ada rumusan yang baku dalam menentukan lingkup kerja masa
pemeliharaan proyek, karena sangat bergantung dari jenis pekerjaan/peralatan yang disupply,
kompleksitas serta tingkat kesulitannya. Untuk proyek dengan teknologi yang baru dengan tingkat
kesulitan yang tinggi, mungkin sebaiknya porsi kontraktor lebih besar, Sebaliknya, jika teknologi
yang disupply sudah pernah digunakan user, maka porsi kontraktor bisa dikurangi, misalnya hanya
menyediakan tenaga supervisor atau hanya melakukan kunjungan rutin, sedangkan eksekutor
hariannya dilakukan oleh user sendiri.

Satu hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penentuan lingkup masa pemeliharaan adalah
jangan sampai terjadi duplikasi dengan lingkup garansi. Garansi suatu peralatan merupakan
tanggung jawab pabrikan/vendor sedangkan masa pemeliharaan adalah tanggung jawab
Kontraktor. Untuk itu, sebelum membuat lingkup kerja masa pemeliharaan, perlu
diidentifikasi/diuraikan terlebih item-item pekerjaan yang masuk dalam garansi, sehingga tidak
terjadi duplikasi, yang pada akhirnya akan merugikan kita/user sendiri.

Apapun lingkup kerjanya, yang paling penting adalah lingkup tersebut harus diuraikan secara jelas
dalam Scope of Work sehingga tidak terjadi pertentangan (gray area) pada saat pelaksanaan. Dan
jika sudah jelas lingkup kerja-nya, maka selanjutnya agar masing-masing pihak, baik itu
Kontraktor, Pengelola Proyek maupun User agar komit terhadap kewajibannya, sehingga
sistem/peralatan yang dipasang dapat digunakan secara optimal.

Penyerahan II
Setelah masa pemeliharaan selesai dilakukan Penyerahan II (FHO).

15
D. PENANGANAN SISTEM MANAGEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
(SMK3)

Implementasi mengenai keselamatan & kesehatan kerja secara praktis dirancang melalui suatu
sistem yang dinamakan dengan Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja (SM-K3) atau
dalam paradigma modern dikenal dengan istilah "HSE / SHE " (Health Safety &
Environment). Setiap perusahaan idealnya wajib menerapkan sistem manajemen K3 yang
terintegrasi dan sistematis untuk menjamin faktor resiko terhadap keselamatan & kesehatan di
lingkungan kerja. Penerapan sistem manajemen K3 dimulai dari:

Pembentukan komitmen
Komitmen merupakan modal utama dalam penerapan K3 secara riil mengenai arti penting
keselamatan & kesehatan kerja. Pembentukan komitmen tentang arti pentingnya K3 harus dimulai
dari level TOP MANAGEMENT supaya penerapan sistem K3 berjalan efektif dan optimal. Sesuai
dengan UU No 1 tahun 1970 dijelaskan bahwa unsur pimpinan (direktur) bertanggungjawab untuk
melaksanakan keselamatan & kesehatan kerja. Unsur pimpinan inilah yang nantinya diharapkan
mampu membuat kebijakan-kebijakan yang positif tentang K3 dan mampu menggerakan aspek-
aspek penunjang/fasiltas sampai dengan karyawan-karyawan level bawah untuk menjalankan
fungsi K3 untuk mencapai "ZERO ACCIDENT"

Perencanaan
Perencanaan disini dimaksudkan sebagai dasar penerapan program kerja K3 yang nantinya akan
dilaksanakan secara menyeluruh oleh seluruh karyawan. Dalam menentukan program kerja K3,
idealnya komite K3 melakukan assessment di area kerja mengenai maslah-masalah K3 di
perusahaan tersebut. Cara mudah biasanya menggunakan teknik.tools berupa HIRARC (High
Identification Risk Assessment & Risk Control), yaitu suatu cara/teknik mengidentifikasi potensi-
potensi bahaya yang kemungkinan bisa menimbulkan kecelakaan kerja/penyakit kerja dan
melakukan langkah penanggulangan sebagai kontrol/preventif. Dapat dilakukan dengan
identifikasi potensi, penilaian faktor resiko dan pengendalian faktor resiko.

Pengorganisasian
Bentuk komitmen dari pimpinan perusahaan selain melalui kebijakan tertulis, dapat juga
memfasilitasi pembentukan komite K3 yang khusus menangani permasalahan K3 yang terdiri dari
berbagai wakil dari divisi yang terlibat sesuai dengan kompetensinya masing-masing.
Selain itu yang paling penting untuk menggerakan orhganisasi/komite K3 tersebut diperlukan
seorang "ahli K3" yaitu seseorang yang berkompeten di bidang K3 yang telah tersertifikasi sebagai
ahli K3. Mengapa demikian? karena dala penerapan program kerja serta aktivitas-aktivitas K3
tidak bisa lepas dari visi dan misi ahli K3 tersebut yang mampu menggerakan jalannya oranisasi

16
kerja. Efektivitas komite K3 tentu saja diperhitungkan dari penerapan program-program K3 yang
tersistematis dan mendapatkan support dari seluruh level karyawan.

Penerapan
Penerapan K3 tentu saja berkaitan dengan pelaksanaan aktivitas program-program kerja K3 secara
optimal. Harus disertai evidence serta bukti-bukti lapangan mengenai penerpan program kerja
tersebut. Contoh program kerja yang bisa dilakukan yaitu semacam safety campaign, safety sign,
safety training, safety talk, safety for visitor, safety for contractor, simulasi & evakuasi, safety alert,
dll.

Pengertian Kecelakaan
Bila dalam suatu proses terjadi kesalahan, orang cenderung mengatakan bahwa itu adalah suatu
kecelakaan yang kebetulan terjadi. Jawaban itu seolah olah sudah cukup, sehingga bila suatu
saat terjadi kecelakaan, hal itu yang wajar terjadi. Setiap kontraktor kadang kadang membuat
kesalahan, walaupun dia cukup berpengalaman. Akan tetapi, beberapa kontraktor lebih berbakat
mendapat kecelakaan dibanding yang lain. Bagi mereka, nampaknya hukum rata rata tidak
berlaku, apapun yang dilakukan selalu salah.

Kecelakaan yang Umum Terjadi


Kecelakaan biasanya disebabkan oleh ketidaktahuan dan kecerobohan. Pekerja tidak melihat hal
hal seperti paku mencuat pada kayu, pecahan material, pinggiran pinggiran yang tajam atau
oli yang tercecer. Untuk itu diperlukan penjaga atau pemeliharaan lapangan yang baik.
Lapangan yang rapi biasanya berhasil guna. Pekerja dapat meluangkan waktunya beberapa jam
untuk melepas paku paku pada kayu, marapikan sisi bahan, pembersihan daerah sirkulasi dan
membuang sampah. Hal tersebut akan mempercepat pekerjaan dan lebih memberikan kesan
yang baik bagi tamu yang kebetulan datang.

Pengangkatan dan Pengangkutan


Pekerja kasar akan mengangkat, membawa material maupun peralatan ke sekeliling lapangan.
Di antara pekerjaan tersebut banyak yang kelihatan berat dan susah untuk ditangani. Kecelakaan
pada punggung yang berbahaya dapat terjadi karena prosedur mengangkat yang tidak benar.
Anjuran sederhana seperti tahan dengan lutut jangan dengan punggung perlu diberikan.
Sebaiknya pekerja tidak diminta mengangkat beban diluar kemampuannya. Pekerjaan lebih
ekonomis dan aman bila dilakukan oleh kelompok, dua atau tiga orang akan menyelesaikan
pekerjaan lebih cepat. Jika pengangkatan oleh kelompok, perlu ditunjuk pemimpin untuk
mengkoordinasi bagaimana cara mengangkat, memindah dan meletakkan barang tersebut
sedemikian rupa sehingga beban terbagi merata.

Tangga
Tangga masuk dan atau cara menggunakan tangga yang salah sering menimbulkan kecelakaan.
Tangga perlu diperiksa dengan teratur dan anak tangga yang rusak diganti. Tangga tidak boleh
dicat. Lapisan cat sangat berbahaya karena bisa membuat pekerja yang membawa beban berat
terjatuh. Tangga Sebaiknya diletakkan di atas dasar dengan perbandingan sudut 1 : 4 terhadap
dinding, seperti contoh pada gambar. Lebih baik lagi bila kaki tangga ditahan dengan pasak dan
meletakkan bagian atas tangga dengan aman tanpa bahaya slip. Bagian atas tangga sekurang
kurangnya disisihkan 1 meter dan hendaknya tidak menggunakan drum, timba, atau tumpuan
bata sebagai tumpuan untuk menjangkau tempat yang lebih tinggi.

17
Pekerjaan Sementara dan Perancah
Arsitek dan ahli teknik bertanggungjawab terhadap rancangan bangunan dan struktur utamanya,
sedangkan kontraktor bertanggungjawab menyediakan rancangan untuk pekerjaan pekerjaan
sementara. Meskipun nantinya pehitungan akan diuji oleh konsultan, kontraktor tetap
bertanggungjawab akan kekurangan kekurangan bila pekerjaan sementara tersebut gagal.
Pekerjaan sementara seperti perancah dan acuan membutuhkan cara yang khusus. Beban berat
akibat penuangan dan pemadatan adukan beton dapat mengakibatkan rusak atau runtuhnya
acuan. Penempatan perancah hendaknya dilakukan oleh ahli bukan oleh tukang dan perancah
yang sudah jadi harus diperiksa sebelum digunakan. Seperti pada masalah tangga, perancah
kayu tidak boleh dicat. Perhatian penuh diperlukan pada sambungan dan tempat mematikan ke
dinding penahan dan angker atau jangkar. Pagar pengaman perlu dibuat sepanjang tempat
pejalan kaki, demikian pula papan penahan kaki hendaknya disediakan agar perancah tidak
tersandung kaki.

Penggerak, Lift, dan Perancah Gantung


Tali, rantai, dan alat pengangkut yang digunakan sebagai penumpu dan pengangkat verikal
harus diperiksa secara teratur oleh ahlinya, sehingga perlu ada aturan aturan khusus pula.
Biasanya, penggunaan alat alat ini diasuransikan tetapi kontraktor tetap bertanggungjawab agar
alat alat ini tetap bekerja dengan baik. Pekerja yang mengoperasikan tidak akan mampu
mengerti apakah alat yang dioperasikan bekerja dengan baik atau tidak, maka peraturan akan
mengenakan hukuman yang keras kepada kontraktor yang membiarkan alat yang berbahaya itu
tetap dijalankan. Jika kecelakaan terjadi, kontraktor mungkin akan dikenai tindak kriminal
disamping ganti rugi kerugian akibat kecelakaan tersebut disamping kerugian langsung.

Peralatan dan Mesin mesin


Peralatan dan mesin hendaknya dioperasikan dengan benar sesuai dengan buku petunjuknya.
Pemeliharan harus dilakukan secara teratur oleh ahlinya. Untuk mempercepat jalannya mesin,
pekerja cenderung untuk melepas tabir pengaman : hal seperti ini harus dilarang dan selalu
diperiksa. Cara tersebut memperbesar resiko kecelakaan, dan mungkin menyebabkan pihak
asuransi tidak bersedia mengganti kerugian. Sikap lain yang tidak benar, seperti menumpang
dibagian bagian tertentu kendaraan berat, seperti dumper dan yang lainnya sering
menimbulkan kecelakaan. Dalam situasi apapun pengawas lapangan harus melarangnya.

Penggalian
Kecelakaan sering terjadi pada galian parit atau pondasi. Tanah adalah material yang mudah
bergerak dan harus dikendalikan. Galian parit mungkin akan dibiarkan selama berminggu

18
minggu tanpa penopang kayu dan mungkin akan runtuh dengan tiba tiba. Buku ini tidak akan
membahas teori mekanika tanah yang cukup rumit, akan tetapi kontraktor hendaknya cukup
mengerti sifat alami, karakter khusus dan bahaya yang dihadapi dalam mengerjakan material
tertentu.

Cara terbaik untuk mengerjakan pekerjaan tanah adalah berjaga jaga dan mengurangi
kesalahan sebanyak mungkin sebelum terjadi kecelakaan. Kecelakaan selalu terjadi tanpa
gejala apapun dan sangat berbahaya bagi pekerja yang terjebak. Berikut ini beberapa petunjuk
bagi kontraktor.
a. Penggalian di dekat bangunan
Penanganan lebih serius harus dilakukan bila penggalian berada di dekat sebuah
bangunan, karena kegiatan ini mungkin akan membahayakan kestabilan bangunan yang
ada. Bila perlu, jika situasinya meragukan, minta petunjuk arsitek atau ahli teknik, apakah
perlu memasang besi pancang ( sheet pile ) atau pencegahan lain.
b. Pengawasan
Di beberapa negara, galian saluran, parit, atau terowongan diawali oleh orang orang
ahli, setiap hari. Hal tersebut dituangkan dalam peraturan resmi. Dalam kegiatan seperti
ini, laporan dan pengujian pengujian yang telah dilakukan dan ditanda tangani harus
selalu ada di lapangan. Jika terjadi kecelakaan, laporan tersebut dilakukan sebagai
referensi dan pengawas akan diperiksa kemampuan dan pengalamannya.
c. Perhatikan tepi galian
Tepi galian merupakan bagian galian yang mudah runtuh, dengan demikian aturan yang
jelas adalah jangan berdiri di tepi galian. Hal ke dua yang perlu diingat bahwa
penimbunan beban di tepi galian menyebabkan tegangan tanah tepi galian semakin tinggi
yang besarnya sebanding dengan dalamnya galian parit tersebut. Oleh karena itu, pipa
pipa maupun hasil galian hendaknya diletakkan jauh dari tepi galian, lebih lebih pada
galian terbuka, terutama bila ada pekerja di bawahnya. Jika kestabilan tanah meragukan
dan masih mempunyai cukup ruang, tinggi bibir tepi galian dapat dikurangi dengan
membentuk tangga.

d. Jalan masuk ke dalam galian


Pencapaian ke dalam galian hendaknya menggunakan tangga dan sekurang kurangnya
tangga yang disandarkan pada tepi galian bersisa 1 meter di atas tanah, agar para
pengawas dan peninjau dapat melalui tangga dengan baik dan aman. Jembatan kayu yang
baik perlu disediakan untuk menyeberang galian, bila jaraknya memungkinkan. Tangga
tersebut memerlukan tangga pengaman. Galian yang berlangsung di jalan raya hendaknya
diberi pengaman dan tanda tanda khusus dan pada waktu malam seluruh galian perlu
diterangi.

19
Penatusan
Supaya parit tetap stabil, perlu dibuat penatusan yang baik dengan membuat sedikit
kemiringan dan sumur atau bak kecil di tempat paling rendah. Kalau ada kemungkinan banjir,
disediakan beberapa tangga untuk menyelamatkan diri.

Penopang Kayu untuk Penahan Tanah


Parit yang dalam dan galian yang dangkal pada tanah yang mudah runtuh, harus ditopang atas
petunjuk ahli atau orang yang berpengalaman. Material yang diginakan harus diperiksa
sebelum dipasang. Demikian pula penopang yang selesai dipasang harus diperiksa untuk
menjamin bahwa penopang terpasang dengan baik dan aman. Perubahan dan pembukaan kayu
penopang harus dilakukan oleh orang orang yang berpengalaman saja. Ilustrasi berikut
adalah contoh teknik penahan tanah yang sederhana yang sebaiknya dekerjakan oleh orang
yang ahli.

Pertolongan pertama pada kecelakaan.


Meskipun standar prosedur pengamanan yang tinggi sudah diikuti, kecelakaan masih mungkin
terjadi, karena itu kotak obat sebagai sarana pertolongan pertama harus selalu tersedia di
lapangan. Bila kegiatan berlangsung di lahan yang luas, hendaknya beberapa anggota staf di
tunjuk untuk bertanggung jawab bila terjadi kecelakaan dan sebaiknya mendapat latihan
mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan P3K. Kotak obat harus diberi tanda sejelas-
jelasnya seperti tanda palang merah dengan tulisan P3K dan hendaknya tidak digunakan untuk
tujuan-tujuan lain. Data-data seperti nomor telepon, alamat dokter terdekat dan rumah sakit
terdekatharus tersedia di lapangan.

Kesejahteraan.
Fasilitas yang memadai untuk para staf dan pekerja hendaknya disediakan agar tercipta
semangat kerja yang baik dan terjadi peningkatan produktifitas. Kebutuhan dasar tesebut
adalah penyediaan air yang cukup untuk minum, cuci, fasilitas sanitasi (KM/WC) dan
bangunan sementara untuk menyimpan baju, makanan dan lain-lain. Bila kontraktor tidak
memberikan perhatian untuk hal-hal ini suatu saat pekerja menjadi tidak bersungguh-sungguh
dan cenderung ceroboh dalam bekerja. Motto yang baik seperti kerjakan yang seharusnya
Anda kerjakan dapat diterapkan disini.
Kontraktor sebaiknya sudah menyadari perlunya meluangkan beberapa waktu untuk
membayangkan bagaimana menjadi pekerja kasar di lokasi kerjanya. Jika ternyata pekerja
sudah merasa tidak puas, kontraktor harus melakukan tindakan sebelum kehilangan pekerja-
pekerja yang baik.

Keselamatan : urusan semua orang.


Kontraktor dan para pengawas lapangan harus memimpin usaha dibidang keselamatan kerja
dan untuk menjadi pemimpin mereka harus memberi contoh dengan memakai alat-alat
pelindung dan tidak melakukan tindakan berbahaya. Namun, keselamatan kerja tetap
merupakan tanggung jawab semua orang dan setiap orang harus sadar akan pentingnya
masalah ini. Komunikasi mengenai masalah ini dapat dilakukan dalam berbagai cara, misalnya

20
poster gambar yang dipasang di tempat strategis. Kalau dibuat tidak berlebihan dan tepat,
poster ini merupakan peringatan yang baik.
Contoh-contoh dapat dilihat pada ilustrasi berikut:

Pengendalian kerusakan.
Tidak semua kecelakaan mengakibatkan luka pada pekerja, keuangan kontraktor juga akan
menderita kalau ada alat, bahan dan perlengkapan yang rusak atau hancur. Kecelakaan
semacam ini dapat menghabiskan sebagian besar keuntungan dan hanya dapat dicegah apabila
seluruh pekerja menyadari, mengerti dan melakukan tindakan pencegahan. Operator alat-alat
mekanik harus dipilih dengan hati-hati dan diawasi, karena kelalaian sedikit saja, misalnya
lupa membersihkan pengaduk beton setelah selesai bekerja, dapat menghabiskan banyak biaya
untuk membereskan kembali. Kontraktor yang pandai akan selalu mencatat semua kecelakaan

21
termasuk yang tidak melukai pekerja, sehingga prosedur kerja dapat selalu diperjelas dan
diperketat dan kesalahan yang sama tidak akan berulang berkali-kali.

Asuransi.
Bila pencegahan-pencegahan diatas dilaksanakan, resiko akan dapat dikurangi, tetapi perlu
disadari bahwa resiko pada setiap pekerjaan akan tetap ada. Untuk mengatasi hal ini perlu
mengansurasikan pekerjaan pada perusahaan asuransi yang dipercaya dan sudah mapan.
Perusahaan asuransi adalah bisnis sehingga bila resiko yang diasuransikan sedemikian besar,
semakin tinggi pula biaya premi yang dibayarkan. Kontraktor yang sering mengalami
kecelakaan dan sering melakukan klaim atau tuntutan ganti rugi kepada asuransi akan segera
melihat bawah, premi yang dibayarkan semakin lama semakin tinggi. Bagi kontraktor yang
baik dan sedikit melakukan klaim akan lebih murah membayar preminya. Dengan demikian
ia dapat menutup resiko kecelakaannya dengan biaya yang lebih rendah.

Definisinya.
Definisi asuransi adalah kontrak yang tertulis, yakni pihak pertama disebut pengasuransi,
setuju untuk menerima pembayaran baik kontan atau angsuran yang disebut premi. Untuk
mengganti kerugian pihak kedua yang disebut sebagai penerima asuransi, bila terjadi kerugian
atau kerusakan sebagaimana yang disebutkan dalam perjanjian.

Jenis Asuransi.
Berikut ini adalah jenis asuransi yang bisa digunakan kontraktor,yang dapat dijadikan
pertimbangan untuk mendapatkan jenis asuransi yang tepat sesuai dengan tujuannya.
Secara garis besar asuransi dikelompokkan dalam:
a. Asuransi kendaraan majikan.
b. Asuransi tanggung jawab terhadap umum.
c. Asuransi peralatan.
d. Asuransi resiko semua kejadian yang menimpa kontraktor (All risk).
e. Asuransi lainnya.
f. Jaminan pelaksanaan.
5.2 Pengerjaan Tanah
5.2.1 Lereng.
Untuk menghindari longsoran pada dinding bangunan atau parit, harus diperhatikan
kemiringan dinding tanah (angka perbandinghan kecuraman) berikut:

Pengendalian
Setiap penerapan program-program K3 harus dilakukan pelaporan sebagai bukti evidence sehingga
dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dilakukan perbaikan secara bertahap. Pelaporan K3 harus
disusun secara rapi sebagai penunjang administrasi K3 yang terintegrasi.

22
Evaluasi
Proses evaluasi memang sangat diperlukan sebagai bentuk pengukuran efektivitas
program/oenerapan K3 sudah sedemikian efektif atau belum. Secara praktis biasanya dibentuk
suati tim auditor untuk melakukan audit dan verifikasi mengenai penerapan yang dijalankan
mengenai sistem manajemen K3.

Berbagai jenis perlengkapan kerja standar untuk melindungi pekerja dalam melaksanakan
tugasnya antara lain sebagai berikut:

1. Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama
mengoperasikan.
2. Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau melindungi
kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.
3. Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi pekerjaan
yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya.
4. Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup rapat,
masker ini dianjurkan tetap dipakai.
5. Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan
bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya.
6. Penutup telinga, diperlukan pada waktu mengerjakan pekerjaanyang berhubungan dengan alat
yang mengeluarkan suara yang keras/bising, misalnya pemadatan tanah dengan stamper dan
sebagainya.
7. Dan pada awal pekerjaan, kita akan segera membuat Asuransi Tenaga Kerja pada
JAMSOSTEK.

23
PRA - RENCANA
K3 KONTRAK

RENCANA K3 KONTRAK
PEKERJAAN : Pekerjaan Pangadaan dan Pemasangan Pagar

LOKASI KEGIATAN :

DAFTAR ISI RENCANA K3 KONTRAK

LEMBAR PENGESAHAN
1. KEBIJAKAN K3 PERUSAHAAN PENYEDIA JASA

2. PERENCANAAN
2.1 Identifikasi Bahaya, penilaian Risiko dan Pengendaliannya
2.2 Pemenuhan Perundang - undangan dan Persyaratan lainnya
2.3 Sasaran dan Program

3 PENERAPAN dan OPERASI


3.1 Sumber Daya, Struktur Organisasi dan Pertanggungjawaban
3.2 Kompetensi, Pelatihan dan Kepedulian
3.3 Komunikasi, Partisipasi dan Konsultasi
3.4 Dokumentasi

3.5 Pengendalian Dokumen


Pengendalian
3.6 Operasional
3.7 Kesiagaan dan Tanggap Darurat

4 PEMERIKSAAN
4.1 Pengukuran dan Pemantauan
4.2 Evaluasi Kepatuhan
Penyelidikan Insiden, Ketidaksesuaian, Tindakan Perbaikan dan
4.3 Pencegahan
4.4 Pengendalian Rekaman
4.5 Audit Internal

5 TINJAUAN MANAJEMEN
5.1 Tinjauan Manajemen

24
KEBIJAKAN K3

Kebijakan K3 dalam melaksanakan kegiatan ini.

1. Pengguna Pekerjaan Konstruksi dan penyedia bertanggungjawab atas keselamatan dan kesehatan
kerja (K3) bagi karyawan dan pekerja di tempat pekerjaannya, masyarakat umum di sekitar
lokasi pekerjaan, kegiatan konstruksi termasuk alat, bahan dan hasil pekerjaan dan kondisi lingkungan
2. Pengguna Konstruksi dan penyedia wajib melaksanakan semua peraturan perundang-undangan
dan standar yang terkait dengan teknilogi konstruksi, mutu, K3 dan lingkungan yang berlaku.
3. Melaksanakan Peraturan Perundangan terkait teknologi Konstruksi dan K3 yang berlaku,
persyaratan dan standar lingkungan yang mutakhir.
4. Pengguna Pekerjaan Konstruksi dan Penyedia wajib menyepakati tersusunnya dan terlaksananya
Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K).
5. Penyedia setiap saat harus selalu melakukan tindakan yang patut diambil untuk menjaga keselamatan
dan kesehatan Personil/tenaga kerjanya.
6. Penyedia harus merencanakan, menerapkan, memelihara tempat kerja sesuai dengan semua persyaratan
kesehatan dan kebersihan yang diperlukan.
7. Penyedia harus menunjuk Ahli K3 Konstruksi atau Petugas K3 di lapangan sesuai ketentuan resiko
pekerjaan yang dilaksanakan.

25
IDENTIFIKASI BAHAYA, RESIKO DAN PENGENDALIAN

IDENTIFIKASI PENILAIAN RESIKO PENGENDALIAN PENANGGUNG


NO URAIAN PEKERJAAN PERALATAN TENAGA KERJA
BAHAYA PELUANG AKIBAT RESIKO RESIKO JAWAB
1. Pekerjaan Persiapan Alat Ukur Benang, Tukang kayu, Saat Pengukuran Terpeleset, terjatuh Luka ringan Cacat Menggunakan alat Mandor,
Patok ukur tukang gali dan dan pemasangan dan luka berat keselamatan Kerja : Pelaksana
tenaga kerja patok uitset, Helm, sepatu,
bowplank bisa sarung tang an
terpeleset.

2. Pekerjaan Renovasi Pagar Pacul, Cetok, Tukang batu dan Saat pembongkaran Terjadi kecelakaan Luka-luka Cacat, tdk bisa Menggunakan alat Mandor,
Area Concrete Mixer, tenaga bangunan, saat saat melakukan bekerja kembali keselamatan Kerja : Pelaksana
Peralatan Las dll melangsir bongkaran, Helm, sepatu,
material,saat kejatuhan sarung tangan.
pemasangan batu bongkaran saat
bata melangsir, kaki
terkena besi,paku
saat memasang

26
SASARAN DAN PROGRAM
PT. .......................................................

1. SASARAN K3
Tenaga Kerja dan karyawan yang terlibat secara langsung mapupun tidak langsung pada
Pekerjaan ini.
2. PROGRAM K3 DALAM MENCAPAI SASARAN
Memperkenalkan, Menjelaskan, sehingga Tenaga kerja dan karyawan bisa dan mampu
Menjalankan K3

ORGANISASI KEGIATAN
(Dalam Hubungan antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa)

PENGGUNA
ANGGARAN

KUASA PENGGUNA
ANGGARAN

PEJABAT PEMBUAT
PENYEDIA JASA KOMITMEN

KOORDINATOR PEJABAT PELAKSANA


PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN

PELAKSANA
LAPANGAN PENGAWAS LAPANGAN

27