Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Disusun oleh :

Nama : Lela Marsela


Npm : E1G016002
Kelompok : 2 (Dua)
Hari/tanggal : Jumat / 10 November 2017
Dosen : 1. Devi Silsia,Dra.,M.Si
2. Syafnil,Drs.,M.Si
3. Hasan B. Daulay, Drs., MS
Coass : 1. Monica A. Simanjuntak (E1G014066)
2. Rimma Sianturi (E1G014032)
Objek praktikum : IDENTIFIKASI LEMAK DAN MINYAK

LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Minyak merupakan campuran dari ester asam lemak dengan gliserol. Jenis
minyak yang umumnya dipakai untuk menggoreng adalah minyak nabati seperti
minyak sawit, minyak kacang tanah, minyak wijen dan sebagainya. Minyak
goreng jenis ini mengandung sekitar 80% asam lemak tak jenuh jenis asam oleat
dan linoleat, kecuali minyak kelapa. Proses penyaringan minyak kelapa sawit
sebanyak 2 kali (pengambilan lapisan lemak jenuh) menyebabkan kandungan
asam lemak tak jenuh menjadi lebih tinggi. Tingginya kandungan asam lemak tak
jenuh menyebabkan minyak mudah rusak oleh proses penggorengan (deep
frying), karena selama proses menggoreng minyak akan dipanaskan secara terus
menerus pada suhu tinggi serta terjadinya kontak dengan oksigen dari udara luar
yang memudahkan terjadinya reaksi oksidasi pada minyak (Sartika, 2009).
Konsumsi lemak berlebihan dapat merugikan kesehatan, misalnya kolesterol
dan lemak jenuh. Dalam berbagai makanan, komponen lemak memegang peranan
penting yang menentukan karakteristik fisik keseluruhan, seperti aroma, tekstur,
rasa dan penampilan. Karena itu sulit untuk menjadikan makanan tertentu menjadi
rendah lemak (low fat), karena jika lemak dihilangkan, salah satu karakteristik
fisik menjadi hilang. Lemak juga merupakan target untuk oksidasi, yang
menyebabkan pembentukan rasa tak enak dan produk menjadi berbahaya
(Lechninger, 1982).
Maka penting bagi kita untuk mengetahui tentang minyak, lemak dan hal-hal
yang berkaitan dengannya, oleh karena itu diadakan praktikum Identifikasi
Minyak Dan Lemak.

1.2 Tujuan Praktikum


1. Menentukan kelarutan lipid pada pelarut tertentu.
2. Menentukan sifat asam basa minyak.
3. Mengidentifikasi sifat ketidakjenuhan minyak.
4. Mengidentifikasi terjadinya hidrolisis pada minyak (safonifikasi).
5. Mengidentifikasi bentuk noda minyak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol, kedua istilah ini
berarti triester (dari) gliserol. Perbedaan antara suatu lemak dan minyak bersifat
sebarang: pada temperatur kamar lemak berbentuk padat dan minyak bersifat cair.
Sebagian besar gliserida pada hewan adalah berupa lemak, sedangkan gliserida
dalam tumbuhan cenderung berupa minyak (Fessenden, 1982).
Senyawa yang termasuk lipid ini dapat dibagi dalam beberapa golongan.
Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar yakni lipid sederhana yaitu ester
asam lemak dengan berbagai alcohol, Lipid gabungan yaitu ester asam lemak
yang mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid dan serebrosida, Derivate
lipid yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam
lemak, gliserol dan sterol (Poedjiadi, 2009).
Lemak merupakan bahan padat pada suhu kamar, diantaranya disebabkan
kandunganya yang tinggi akan asam lemak jenuh yang secara kimia tidak
mengandung ikatan rangkap, sehingga mempunyai titik lebur yang lebih tinggi.
Contoh asam lemak jenuh yang banyak terdapat dialam adalah asam palmitat dan
asam stearat. Minyak merupakan bahan cair diantaranya disebabkan rendahnya
kandungan asam lemak jenuh dan tingginya kandungan asam lemak yang tidak
jenuh, yang memiliki satu atau lebih ikatan rangkap diantara atom-atom
karbonnya, sehingga mempunyai titik lebur yang rendah (Winarno, 2002).
Lipid atau trigliserida merupakan bahan bakar utama hampir semua
organisme disamping karbohidrat. Trigliserida adalah triester yang terbentuk dari
gliserol dan asam-asam lemak. Asam-asam lemak jenuh ataupun tidak jenuh yang
dijumpai pada trigliserida, umumnya merupakan rantai tidak bercabang dan
jumlah atom karbonnya selalu genap. Ada dua macam trigliserida, yaitu
trigliserida sederhana dan trigliserida campuran. Trigliserida sederhana
mengandung asam-asam lemak yang sama sebagai penyusunnya, sedangkan
trigliserida campuran mengandung dua atau tiga jenis asam lemak yang berbeda.
(Muchtadi, 2010).
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan
lipid yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air,
tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,misalnya dietil eter (C2H5OC2H5),
Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat
larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai
polaritas yang sama dengan pelaut tersebut. Bahan-bahan dan senyawa kimia akan
mudah larut dalam pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut. Tetapi
polaritas bahan dapat berubah karena adanya proses kimiawi. Misalnya asam
lemak dalam larutan KOH berada dalam keadaan terionisasi dan menjadi lebih
polar dari aslinya sehingga mudah larut serta dapat diekstraksi dengan air.
Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini dapat dinetralkan kembali dengan
menambahkan asam sulfat encer (10 N) sehingga kembali menjadi tidak
terionisasi dan kembali mudah diekstraksi dengan pelarut non-polar2. Lemak dan
minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti triester
dari gliserol. Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester. Hasil
hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol. Asam
karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang
panjang dan tidak bercabang2 (Miswar, 2001).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat : Bahan :
Tabung reaksi Minyak kelapa
Penjepit tabung reaksi Margarin
Rak tabung reaksi Minyak kelapa tengik
Pipet ukur Alkohol 96%
Sikat tabung reaksi Kloroform
Kertas lakmus Eter
Alat pemanas Aquades
Pipet tetes Larutan Na2CO3 0,5%
Porselen tetes Air brom
NaOH

3.2 Prosedur Kerja


A. Uji Kelarutan Minyak
1. Menyiapkan 5 buah tabung reaksi yang bersih dan kering. Berturut-turut
mengisi dengan aquades, alkohol 96%, eter, kloroform dan larutan
Na2CO30,5% sebanyak 1 ml.
2. Menambahkan pada setiap tabung 2 tetes minyak kelapa.
3. Mengocoknya sampai homogen, lalu membiarkan beberapa saat.
4. Mengamati sifat kelarutannya.

B. Uji Keasaman Minyak


1. Meneteskan sedikit minyak kelapa pada porselin tetes.
2. Menguji dengan kertas lakmus.
3. Mengamati perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus merah.
4. Mengulangi percobaan pada margarin dan minyak kelapa tengik.
C. Uji Sifat Ketidakjenuhan Minyak
1. Memasukkan 2 tetes minyak kelapa kedalam tabung reaksi.
2. Menambahkan 2 ml kloroform.
3. Menambahkan setetes demi setetes air brom, sambil dikocok hingga warna
merah air brom tidak berubah.
4. Menghitung jumlah tetesan yang dibutuhkan.
5. Mengulangi percobaan dengan menggunakan margarin
6. Membandingkan jumlah tetesan yang dibutuhkan.

D. Uji Penyabunan Minyak


1. Memasukkan 5 ml minyak kedalam erlenmeyer.
2. Menambahkan 1,5 gr NaOH dan 25 ml alkohol 96%.
3. Memanaskan sampai mendidih selama 15 menit.
4. Untuk mengetahui apakah reaksi penyabunan telah sempurna, mengambil
3 tetes larutan, kemudian melarutkan dalam air. Bila larut berarti reaksi
sudah sempurna.
5. Menguapkan alkohol yang tersisa sampai habis.
6. Mendinginkan, lalu menambahkan 75 ml air dan memanaskan sampai
semua sabun larut.

E. Uji Noda Minyak


1. Memasukkan 2 ml campuran alkohol eter ke dalam tabung reaksi bersih
dan menambahkan 2-3 tetes minyak kelapa. Mengocok kuat-kuat sampai
semua minyak larut.
2. Meneteskan campuran tersebut pada kertas saring dan kertas tulis,
membuarkan pelarut menguap.
3. Melihat noda yang terbentuk.
4. Mencuci nodanya dengan air.
5. Mengeringkan kembali kertasnya dan memperhatikan kembali nodanya.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A. Uji Kelarutan Minyak
Bahan Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3 Tabung 4 Tabung 5
Aquades 1 mL
Alkohol 1 mL
96%
Eter 1 mL
Kloroform 1 mL
Na2CO3 1 mL
0,5%
Minyak 2 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes
kelapa
Kocok tabung sampai homogen, biarkan beberapa saat
Hasil : Tebentuk Terbentuk larut Terbentuk
Larut/tidak gumpalan gumpalan gumpalan
besar kecil ditengah
Tidak larut ditengah
Tidak larut

B. Uji Keasaman Minyak


No Zat Uji Perubahan warna Sifat
Lakmus Lakmus biru asam/basa
merah
1 Minyak kelapa Tetap merah Asam
2 Minyak kelapa tengik Tetap merah Asam
C. Uji Ketidakjenuhan Minyak
Bahan Tabung 1 Tabung 2
Minyak Kelapa 2 tetes
Margarin Seujung spatel
Kloroform 2 mL 2 mL
Hasil : jumlah tetes air brom

D. Uji Penyabunan Minyak


Sabun yang semula padat, setelah ditambahkan air 50 mL dan
dipanaskan menjadi cair kembali dan menyatu (homogen) dengan air.
Terbentuk basa pada saat dipanaskan, warna nya kuning keemasan
(bening) dan baunya seperti bau teh kering.

E. Uji Noda
Kertas saring setelah ditetesi larutan alkohol, eter dan minyak kelapa
terlihat bentuk roda, namun setelah dicuci dan dikeringkan noda tidak
terlihat/hilang. Kertas tulis/biasa setelah ditetesi larutan alkohol, eter dan
minyak kelapa sangat terlihat jelas bentuk noda. Setelah kering kami cuci
dengan air bentuk noda tetap pada kertas biasa.
BAB V
PEMBAHASAN
Praktikum ini terdiri dari 5 kali uji yaitu uji kelarutan minyak, uji keasaman
minyak, uji ketidakjenuhan minyak, uji penyabunan minyak dan uji noda. Akan
tetapi uji ketidakjenuhan minyak tidak kita laksanakan karena keterbatasan bahan
yang ada dilaboratorium.
Pada percobaan pertama yaitu Uji Kelarutan Minyak dimana praktikan
memasukkan berturut-turut aquades, alkohol 96%, eter, dan larutan Na2CO3 0,5%
sebanyak 1 ml kedalam 4 (empat) tabung rekasi dan penambahan 2 tetes minyak
kelapa yang kemudian praktikan mencampur dengan baik supaya larutan
homogen. Hasil pengamatan yang didapat bahwa pada aquadest terbentuk
gumpalan besar dan tidak larut, pada alokohol 96% terbentuk gumpalan kecil
ditengah dan tidak larut , pada eter tidak terbentuk gumpalan dan larut, pada
Na2CO30,5% hanya terbentuk gumpalan ditengah. Hasil yang didapat tersebut
sesuai dengan literatur yaitu Lipid didefinisikan sebagai senyawa organik yang
terdapat dialam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut non polar
seperti suatu hidrokarbon atau dietil eter. Berdasarkan sifat demikian, lipid dapat
diperoleh dengan cara ekstraksi dari jaringan hewan atau tumbuhan menggunakan
eter atau pelarut nonpolar lainnya (Tim Dosen, 2017).
Pada percobaan kedua yaitu uji keasaman minyak dimana praktikan
meneteskan minyak kelapa dan minyak kelapa tengik pada porselin tetes yang
kemudian diuji dengan kertas lakmus merah yang hasilnya tidak berubah warna
yang berarti bersifat asam. Literatur yang membenarkan bahwa proses
penyaringan minyak kelapa sawit sebanyak 2 kali (pengambilan lapisan lemak
jenuh) menyebabkan kandungan asam lemak tak jenuh menjadi lebih tinggi.
Tingginya kandungan asam lemak tak jenuh menyebabkan minyak mudah rusak
oleh proses penggorengan (deep frying), karena selama proses menggoreng
minyak akan dipanaskan secara terus menerus pada suhu tinggi serta terjadinya
kontak dengan oksigen dari udara luar yang memudahkan terjadinya reaksi
oksidasi pada minyak (Salirawati, 2007).
Pada percobaan ketiga yaitu uji penyabunan minyak dimana sabun yang
semula padat, setelah ditambahkan air 50 mL dan dipanaskan menjadi cair
kembali dan menyatu (homogen) dengan air. Terbentuk basa pada saat
dipanaskan, warna nya kuning keemasan (bening) dan baunya seperti bau teh
kering.
Pada percobaan keempat yaitu uji noda dimana percobaan dengan kertas
saring setelah ditetesi larutan alkohol, eter dan minyak kelapa terlihat bentuk roda,
namun setelah dicuci dan dikeringkan noda tidak terlihat/hilang. Kertas tulis/biasa
setelah ditetesi larutan alkohol, eter dan minyak kelapa sangat terlihat jelas bentuk
noda. Setelah kering kami cuci dengan air bentuk noda tetap pada kertas biasa.
Pada percobaan uji ketidakjenuhan minyak dimana percobaan ini tidak
dilaksanakan, akan tetapi praktikan juga harus sudah mengerti bagaimana
prosedur kerja dan landasan teori, yaitu praktikan meneteskan 2 tetes bahan
kedalam tabung reaksi lalu ditambahkan 2 ml kloroform dan meneteskan sedikit
demi sedikit air brom dan menghitung jumlah tetesannya. Literatur yang
menyebutkan lemak merupakan bahan padat pada suhu ruang disebabkan
kandungannya yang tinggi akan asam lemak jenuh yang tidak memiliki ikatan
rangkap, sehingga mempunyai titik lebur yang lebih tinggi, sedangkan minyak
merupakan bahan cair pada suhu ruang disebabkan tingginya kandungan asam
lemak yang tidak jenuh, yang memiliki satu atau lebih ikatan rangkap diantara
atom-atom karbonnya, sehingga mempunyai titik lebur yang rendah (David,
1989).
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada
golongan lipid yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak
larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar.
2. Untuk menentukan sifat asam basa minyak yaitu adalah dengan
menggunakan kertas lakmus.
3. Dengan memberikan beberapa tetesan larutan iodium sehingga terbentuk
warna merah yang pekat , Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang
mengandung ikatan tunggal pada rantai hidrokarbonnya. Asam lemak
jenuh mempunyai rantai zig-zig yang dapat cocok satu sama lain
4. Lipida yang tak dapat disaponifikasikan yang berarti bahwa hidrolisis
alkali tak menghasilkan sabun.
5. Mengidentifikasi noda minyak dengan menggunakan kertas saring dan
kertas tulis yang di gunakan sebagai alat untuk mengetahui bentuk dari
noda minyak tersebut.

6.2 Saran
Untuk alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum hendaknya
dipersiapkan serta ditambah, agar setiap melakukan praktikum para praktikan
tidak kekurangan alat atau bahan yang diperlukan.
JAWABAN PERTANYAAN

PERTANYAAN :
1. Dalam ilmu kimia untuk mengetahui kelarutan zat dalam pelarut tertentu dikenal
istilah like dissolves like, jelaskan maksud istilah tersebut !
2. Jelaskan mengapa minyak sedikit larut dalam alkohol, tetapii larut sempurna
dalam eter dan kloroform.
3. Pada percobaan manakah yang membutuhkan air brom lebih banyak ? mengapa ?
4. Tulis reaksi lengkap safonifikasi.

JAWABAN :
1. Istilah like dissolves like berarti senyawa polar hanya akan larut pada senyawa
polar, dan senyawa nonpolar hanya akan larut dalam senyawa non polar.
2. Karena eter dan kloroform merupakan pelarut non polar, dan minyak hanya dapat
larut didalam senyawa non polar. Sedangkan alkohol merupakan pelarut polar.
3. Pada uji ketidakjenuhan minyak, karena air brom dapat mengadisi suatu ikatan
rangkap.
4. Reaksi safonifikasi:
DAFTAR PUSTAKA
David. 1989. Prinsip-prinsip Biokimia. Jakarta : Erlangga
Fessenden. 1982. Kimia Organik II Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga
Lechninger, A. 1982. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy
Thenawidjaya. Jakarta : Erlangga
Miswar et al, 2001. Uji Kualitatif Untuk Identifikasi Karbohidrat I dan II.
Jakarta : Laboratorium Kimia Universitas Nasional
Muchtadi, Tien R, dkk 2010. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bogor :Alafabeta
Poedjiadi, Anna. 2009. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI- Press
Salirawati, etal. 2007. Belajar Kimia Menarik. Jakarta : Grasindo
Sartika. 2009. Modul Praktikum Biokimia. Sukabumi : Universitas
Muhammadiyah Sukabumi
Tim Dosen, 2017. Penuntun Praktikum Biokimia. Laboratorium Teknologi
Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu
Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia