Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejadian gawat darurat dapat diartikan sebagai keadaan dimana seseorang
membutuhkan pertolongan segera karena apabila tidak mendapatkan pertolongan dengan
segera maka dapat mengancam jiwanya atau menimbulkan kecacatan permanen. Keadaan
gawat darurat yang sering terjadi di masyarakat antara lain keadaan seseorang yang
mengalami henti napas, henti jantung, tidak sadarkan diri, kecelakaan, cedera, misalnya
patah tulang, kasus stroke, kejang, keracunan, dan korban bencana. Unsur penyebab
kejadian gawat darurat antara lain karena terjadinya kecelakaan lalu lintas, penyakit,
kebakaran maupun bencana alam. Kasus gawat darurat karena kecelakaan lalu lintas
merupakan penyebab kematian utama daerah perkotaan ( Media Aeculapius, 2007 ).
Menurut American Hospital Association (AHA) dalam Herkutanto (2007), keadaan
gawat darurat adalah suatu kondisi dimana berdasarkan respon dari pasien, keluarga pasien,
atau siapa pun yang berpendapat pentingnya membawa pasien ke rumah sakit untuk diberi
perhatian/tindakan medis dengan segera. Kondisi yang demikian berlanjut hingga adanya
keputusan yang dibuat oleh pelayanan kesehatan yang profesional bahwa pasien berada
dalam kondisi yang baik dan tidak dalam kondisi mengancam jiwa. Penderita gawat darurat
adalah penderita yang oleh karena suatu penyebab (penyakit, trauma, kecelakaan, tindakan
anestesi) yang bila tidak segera ditolong akan mengalami cacat, kehilangan organ tubuh atau
meninggal (Sudjito, 2007).
Pertolongan pertama merupakan pertolongan secara cepat dan bersifat sementara
waktu yang diberikan pada seseorang yang menderita luka atau terserang penyakit
mendadak. Pertolongan ini menggunakan fasilitas dan peralatan yang tersedia pada saat itu
dan tempat yang dibutuhkan. Tujuan yang penting dari pertolongan pertama adalah
memberikan perawatan yang akan menguntungkan pada orang-orang tersebut sebagai
persiapan terhadap penanganan lebih lanjut (Skeet, 1995).
Berdasarkan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), pasal 2 setiap dokter harus
senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi
yaitu sesuai dengan perkembangan IPTEK kedokteran, etika umum, etika kedokteran,

1
hukum dan agama, sesuai tingkat/jenjang pelayanan kesehatan dan situasi setempat.
Selanjutynya berdasarkan KODEKI pasal 13, setiap dokter wajib melakukan pertolongan
darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang
bersedia dan lebih mampu memberikan (MKEK, 2006). Rumah sakit di indonesia memiliki
kewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan gawat darurat 24 jam sehari dimana Dalam
pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang muka sebagai persyaratan
pemberian layanan. Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah
tegas diatur dalam pasal 51 UU No.29/2004 tentang praktik kedokteran, dimana seorang
dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas dasar kemanusiaan (Herkutanto, 2007).
Dapat dilihat bagaimana pentingnya pengetahuan mahasiwa sebagai seorang calon
dokter dalam melakukan penatalaksaan awal kegawatdaruratan yang sering ditemukan
kasusnya dalam melaksanakan tugas.
1.2 Perumusan Masalah
a. Bagaimana konsep pengkajian pada pasien gawat darurat Circulation Airway Breathing
(CAB)
b. Bagaimana system pelayanan gawat darurat

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asuhan Keperawatan


Asuhan keperawatan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan praktek keperawatan
kegawatdaruratan yang diberikan pada klien oleh perawat yang berkompeten untuk
memberikan asuhan keperawatan diruang gawat darurat. Asuhan keperawatan diberrikan
untuk mengatasi masalah secara bertahap maupun mendadak.
Kegiatan asuhan keperawatan dilakukan dengan mengunakan sistematika proses
keperawatan, yang merupakan suatu metode ilmiah dan panduan dalam memberikan asuhan
keperawatan yang`berkualitas dalam rangka mengatasi masalah kesehatan pasien. Adapun
langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi : pengkajian, diagnose, intervensi,
implementasi dan evaluasi. Asuhan keperawatan diruang gawat darurat seringkali
dipengaruhi oleh karakterristik ruang gawat darurat itu sendiri, sehingga dapat menimbulkan
asuhan keperawatan spesifik yang sesuai dengan keadaan ruangan.
Karakteristik unik dari ruangan gawat darurat yang dapat mempengaruhi sistem
asuhan keperawatan, antara lain:
1. Kondisi kegawatan seringkali tidak terprediksi, baik kondisi klien dan jumlah klien yang
dating keruang gawat darurat.
2. Keterbatasan sumber daya dan waktu
3. Pengkajian, diagnosis, dan tindakan keperawatan diberikan untuk seluruh usia, seringkali
dengan data dasar yang sangat terbatas
4. Jenis tindakan yang diberikan merupakan tindakan yang memerlukan kecepatan dan
ketepatan yang tinggi
5. Adanya saling ketergantungan yang tinggi antara profesi kesehatan yang bekerja diruang
gawat darurat
Berdasarkan kondisi diatas, prinsip umum asuhan keperawatn yang diberikan oleh
perawatdiruang gawat darurat meliputi:
1. Penjaminan keamanan diri perawatdan klien terjaga : perawat harus menerapkan prinsip
universal precaution dan mencegah penyebab infeksi

3
2. Perawat bersikap cepat dan tepat dalammelakukan triase, menetapkan diagnosa
keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi yang berkelanjutan
3. Tindakan keperawatanmeliputi resucitasi dan stabilisasi diberikan untuk mengatasi
masalah biologi dan psikososial klien
4. Penjelasan dan pendidikan kesehatan untuk klien dan keluarga diberikan untuk
menurunkan kecemasan dan meningkatkan kerjasama dan klien-perawat
5. Sistem monitoring kondisi klien harus dapat dijalankan
6. Sistem dokumentasi yang dipakai dapat digunakan secara mudah, cepat dan tepat
7. Penjaminan tindakan keperawatan secara etik dan legal keperawatan perlu dijaga.

2.2 Pengkajian CAB


Standart : Perawat gawat darurat harus melakukan pengkajian fisik dan psikososial di awal
dan secara berkelanjutan untuk mengetahui masalah keperawatan klien dalam lingkup
kegawatdaruratan.
Keluaran : Adanya pengkajian keperawatan yang terdokumentasi untuk setiap klien gawat
darurat
Proses : pengkajian merupakan pendekatan sistematik untuk mengidentifikasi masalah
keperawatan gawat darurat. Proses pengkajian dibagi dalam dua bagian : pengkajian primer
dan pengkajian sekunder
1. Pengkajian Primer
Pengkajian cepat untuk mengidentifikasi dengan segera masalah actual/potensial dari
kondisi life threatening (berdampak terhadap kemampuan pasien untuk mempertahankan
hidup). Pengkajian tetap berpedoman pada inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi jika
hal tersebut memungkinkan.
Prioritas penilaian dilakukan berdasarkan:
a. Circulation dengan control pendarahan
b. Airway (jalan nafas) dengan control servikal
c. Breathing dan ventilasi
d. Disability
e. Exposure control, dengan membuka pakaian pasien tetapi cegah hipotermi

4
a. Pengkajian secara cepat tentang CAB
1) Apakah sirkulasi pasien efektif?
a) Sirkulasi efektif ketika nadi radialis baik dan kulit hangat serta kering
b) Jika sirkulasi tidak efektif pertimbangkan penempatan-penempatan pasien pada
posisi recumbent, membuat jalan masuk di dalam intravena untuk pemberian
bolus cairan 200 ml
2) Pernyataan pasien tentang kepatenan jalan nafas?
a) Jalan nafas pasien paten ketika bersih saat berbicara dan tidak ada suara nafas
yang mengganggu
b) Jika jalan nafas tidak paten pertimbangkan kebersihan daerah mulut dan
menempatkan alat bantu nafas
3) Apakah pernafasan pasien efektif?
a) Pernafasan efektif ketika warna kulit dalam batas normal dan capillary refill
kurang dari 2 detik
b) Jika pernafasan tidak efektif pertimbangkan pemberian oksigen dan penempatan
alat bantu
4) Apakah pasien merasakan nyeri atau tidak nyaman pada tulang belakang?
a) Immobilisasi leher yang nyeri atau tidak nyaman dengan collar spine jika injuri
kurang dari 48 jam
b) Tempatkan leher pada C-collar yang keras dan immobilisassi daerah tulang
belakang dengan mengangkat pasien dengan stretcher
5) Apakah ada tanda bahaya pada pasien?
a) Gunakan GCS dan hafalan AVPU untuk mengevaluasi kerusakan daya ingat
akibat trauma pada pasien
Pemeriksaan GCS
Bayi Respons Anak/Dewasa
verbal
Spontan 4 Spontan
Terhadap perintah/suara 3 Terhadap perintah
Terhadap nyeri 2 Terhadap nyeri
Tidak ada respons 1 Tidak ada respons

5
Verbal
Bergumam/mengoceh 5 Terorientasi
Menangis lemah 4 Bingung
Menangis karena nyeri 3 Kata-kata yang tidak teratur
Merintih karena nyeri 2 Tidak dapat dimengerti
Tidak ada 1 Tidak ada
Motorik
Spontan 6 Mematuhi perintah
Penarikan karena sentuhan 5 Melokalisasi nyeri
Penarikan karena nyeri 4 Penarikan karena nyeri
Fleksi abnormal 3 Fleksi abnormal
Ekstensi abnormal 2 Ekstensi abnormal
Tidak ada respons 1 Tidak ada respons

b) Pada GCS nilai didapat dari membuka mata, verbal terbaik dan motorik terbaik.
c) AVPU
A : Untuk membantu pernyataan daya ingat pasien, kesadaran respon terhadap
suara dan berorientasi pada orang dan waktu tempat
V : Untuk pernyataan verbal passien terhadap respon suara tetapi tidak
berorientasi penuh pada orang waktu dan tempat
P : Untuk pernyataan nyeri pada pasien yang tidak respon pada suara tetapi
respon terhadap rangsangan nyeri sebagaimana seperti tekanan pada
tangan
U : Untuk yang tidak responsif terhadap rangsangan nyeri.
JIKA SKALA AVPU PADA P ATAU U ATAU GCS KURANG DARI 8,
PASIEN HIPERVENTILASI DENGAN MENGGUNAKAN MASKER
BERKATUP (NRM) DIPERTIMBANGANKAN INTUBASI
ENDOTRACHEAL DAN PEMASANGAN VENTILITATOR MAKANIK
UNTUK MEMPERTAHANKAN JALAN NAFAS SURVAI PRIMER
(PRIMARY SURVEY)

6
Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi dilakukan berdasarkan jenis
perlakuan, stabilitas tanda-tanda vital dan mekanisme ruda paksa, berdasarkan penilaian :
C : Circulation dengan kontrol perdarahan
A : Airway (jalan nafas) dengan kontrol servikal.
B : Breathing dan ventilasi
D : Exposure/ environmental control: buka baju penderita, tetapi cegah hipotermi
Yang penting pada fase pra-RS adalah CAB, lakukan resusitasi dimana perlu,
kemudian fiksasi penderita, lalu transportasi.
1. Circulation dengan Kontrol Perdarahan
a. Volume Darah dan Curah Jantung (cardiac output)
Perdarahan merupakan sebab utama kematian pasca bedah yang mungkin dapat
diatasi dengan terapi yang cepat dan tepat dirumah sakit.
Suatu keadaan hipotensi harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia, sampai
terbukti sebaliknya. Dugaan demikian maka diperlukan penilaian yang cepat dari
status hemodinamik penderita.
Ada 4 observasi yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi
mengenai keadaan hemodinamik ini yakni kesadaran, warna kulit, nadi dan tekanan
darah.
1) Tingkat Kesadaran
Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang, yang akan
mengakibatkan penurunan kesadaran (walaupun demikian kehilangan darah dalam
jumlah banyak belum tentu mengakibatkan gangguan kesadaran).
2) Warna Kulit
Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemia. Penderita trauma yang
kulitnya kemeraha, trauma pada wajah dan ekstremitas, jarang yang dalam keadaan
hipovolemia. Sebaliknya wajah pucat keabu-abuan dan kulit ekstremitas yang
pucat, merupakan tanda hipovolemia. Bila memang disebabkan hipovolemia maka
ini menandakan kehilanagn darah minimal 30% dari volume darah.
3) Nadi
Nadi yang besar seperti a femoralis atau a carotis harus diperiksa bilateral, untuk
kekuatan nadi kecepatan dan irama. Pada syok nadi akan kecil dan cepat.

7
Nadi yang tidak cepat, kuat dan teratur biasanya merupakan tanda normo-volomia.
Nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda hipovolemia, namun harus diingat
sebab lain yang dapat menyebabkannya. Nadi yang tidak teratur biasanya
merupakan tanda gangguan jantung. Tidak ditemukannya pulsasi dari nadi sentral
arteri.
4) Tekanan Darah
Jangan terlalu percaya pada tekanan darah dalam menentukan syok karena :
a) Tekanan darah sebelumnya belum diketahui
b) Diperlukan kehilangan volume darah lebih dari 30% untuk dapat terjadi
penurunan tekanan darah.
b. Kontrol Perdarahan
Perdarahan dapat :
1) Eksternal (terlihat)
2) Internal (tidak terlihat)
3) Rongga thoraks
4) Rongga abdomen
5) Fraktur pelvis
6) Fraktur tulang panjang

Syok Jarang Disebabkan Perdarahan Intra-Kranial

Perdarahan hebat dikelola pada survey primer. Perdarahan eksternal


dikendalikan dengan penekanan langsung pada luka JANGAN DIJAHIT DULU.
Spalk udara (pneumatic splinting divice) juga dapat digunakan untuk mengontrol
perdarahan. Spalk jenis ini harus tembus cahaya untuk dapat dilakukannya
pengawasan perdarahan. Tourniquet jangan dipakai karena merusak jaringan dan
menyebabkan distal dari tourniquet. Pemakaian hemostal memerlukan waktu
dan dapat merusak jaringan sekitar seperti saraf dan pembuluh darah. Perdarahn
dalam rongga toraks, abdomen, sekitar fraktur atau sebagai akibat dari luka
tembus, dapat menyebabkan perdarahan besar yang tidak terlihat.

8
2. Penjaga Airway dengan Kontrol Servikal
Yang pertama yang harus dinilai adalah kelancaran airway. Ini meliputi pemeriksaan
adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah,
fraktur madibula atau maksila, fraktur larinks atau trachea. Usaha untuk membebaskan
jalan nafas harus melindungi vertebra servikal karena kemungkinan patahnya tulang
servikal harus selalu diperhitungkan. Dalam hal ini dapat dilakukan chin lift atau jaw
thrust. Selama memeriksa dan memperbaiki jalan nafas, harus diperhatikan bahwa tidak
boleh dilakukan ekstensi, fleksi atau rotassi dari leher.
Kemungkinan patahnya tulang servikal diduga bila ada :
a. Trauma dengan penurunan kesadaran.
b. Adanya luka karena trauma diatas klavikula.
c. Setiap multi-trauma (trauma pada 2 regio atau lebih)
d. Juga harus waspada terhadap kemungkinan patah tulang belakang bila biomekanik
trauma mendukung.
Bila Ragu-Ragu Pasang Kalor!

Dalam keadaan kecurigaan fraktur sevikal, harus dipakai alat imobilisasi. Bila alat
imobilisasiini harus dibuka untuk sementara, maka kepala harus dipakai sampai
kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan.

Bila ada gangguan jalan nafas, maka dilakukan penanganan sesuai BHD.

3. Breathing (ventilasi)
Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Pertukaran gas yang
terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbon
dioksida dari tubuh.
Ventilasi yang baik meliputi : fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan
diafragma. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat.
Dada penderita harus dibuka untuk melihat pernafasan yang baik. Auskultasi
dilakukan untuk memastikan masuknya udara kedalam paru. Perkusi dilakukan untuk
menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. Inspeksi dan palpasi dapat
memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin mengganggu ventilasi.

9
Perlakuan yang mengakibatkan gangguan ventilasi yang berat adalah tension
pneumo-thoraks, flail chest dengan kontusio paru, open pneumothoraks dan
hematohorax-masif.
4. Disability
Menjelang akhir survey primer dievaluasi keadaan neurologist secara cepat. Yang
dinilai disini adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.
GCS (Glasgow Coma Scale) adalah sistem scoring yang sederhana dan dapat
meramal kesudahan (outcome) penderita.
Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi atau/ dan penurunan
perfusi keotak, atau disebabkan perlukaan pada otak sendiri. Perubahan kesadaran
menuntut dilakukannya pemeriksaan terhadap keadaan ventilasi, perfusi dan oksigenasi.
Alkohol dan obat-obatan dapat mengganggu tingkat kesadaran penderita. Walaupun
demikian bila sudah disingkirkan kemungkinan hipoksia atau hipovolemia sebagai sebab
penurunan kesadaran, maka trauma kapitis dianggap sebagai penyebabnya sampai
terbukti sebaliknya.
5. Exposure/ Kontrol Lingkungan
Exposure dilakukan dirumah sakit, tetapi dimana perlu dapat membuka pakaian,
misalnya : membuka baju untuk melakukan pemeriksaan fisik thoraks. Dirumah sakit
penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya untuk evaluasi penderita. Setelah pakaian
dibuka, penting agar penderita tidak kedinginan. Harus dipakaikan selimut hangat,
ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah hangat.

2. Secundary Survey
a. Focus assessment
b. Head to toe assessment
Survai sekunder dilakukan hanya setelah survai primer selesai, resusitasi dilakukan dan
penderita stabil.

Survai sekunder adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination),
termasuk pemeriksaan tanda vital. Pada penderita yang tidak sadar atau gawat,
kemungkinan untuk luput dalam mendiagnosis cukup besar, dan merupakan pertolongan
yang besar bagi dokter yang bertugas dirumah sakit apabila dilaporkan kelainan yang

10
ditemukan pada survey sekunder. Sekali lagi ditekanankan bahwa survey hanya
dilakukan apabila penderita telah stabil.

2.3 Pengkajian Head To Toe


1) Pengkajian kepala, leher dan wajah
a. Periksa wajah, adakah luka dan laserasi, perubahan tulang wajah dan jaringan lunak,
adakah perdarahan serta benda asing
b. Periksa mata, telinga, hidung, mulut.adakah tanda-tanda perdarahan, benda asing,
deformatis, laserasi, perlukaan serta adanya keluaran.
c. Amati bagian kepal, adakah depresi tulang kepala, tulang wajah, kontusio/jejas,
hematom, serta krepitasi tulang
d. Kaji adanya kaku leher
e. Nyeri tulang servikal dan tulang belakang, deviasi trachea, distensi vena leher,
perdarahan, edema,kesulitan menelan, emfisema subcutan dan krepitassi pada tulang.
2) Pengkajian dada
a. Pernapasan : irama, kedalaman dan karakter pernapasan
b. Pergerakan dinding dada anterior dan posteriopr
c. Palpasi krepitas tulang dan emfisema subcutan
d. Amati penggunaan otot bantu napas
e. Perhatikan tanda-tanda injuri atau cedera: petekiae, perdarahan, sianosis, abrasi dan
laserasi.
3) Pengkajian abdomen dan pelvis
Hal-hal yang dikaji pada abdomen dan pelvis
a. Struktur tulang dan keadaan dinding abdomen
b. Tanda-tanda cedera eksternal, adanya luka tusuk, laserasi, abrasi, distensi abdomen,
jejas
c. Masa : besarnya, lokasi dan mobilitas
d. Nadi femoralis
e. Nyeri abdomen, tipe dan lokasi nyeri (gunakan PQRST)
f. Bising usus
g. Distensi abdomen
h. Genitalia dan rectal: perdarahan, cedera pada meatus, ekimosis, tonus, spinker ani

11
4) Ekstremitas
Pengkajian di ekstremitas meliputi:
a. Tanda-tanda injuri eksternal
b. Nyeri
c. Pergerakan dan kekuatan otot ekstremitas
d. Sensasi keempat anggota gerak
e. Warna kulit
f. Denyut nadi perifer
5) Tulang belakang
Pengkajian tulang belakang meliputi
a. Jika tidak didapatkan adanya cedera / fraktur tulangbelakang, maka pasien
dimiringkan untuk mengamati
1. Deformitas tulang belakang
2. Tanda-tanda perdarahan
3. Laserasi
4. Jejas
5. Luka
b. Palpasi deformitas tulang belakang
6) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan meliputi
a. Radiologi dan scaning
b. Pemeriksaan laboratorium : Analisa Gas Darah

2.4 Pelayanan Gawat Darurat


Pelayanan gawat darurat (emergency care) adalah bagian dari pelayanan kedokteran
yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera (imediately) untuk menyelamatkan
kehidupannya (life saving).
Setiap rumah sakit harus memiliki fasilitas pelayanan gawat darurat yang siap
melakukan pelayanan setiap hari 24 jam. Pelayanan gawat darurat merupakan pelayanan
utama di setiap rumah sakit karena merupakan pelayanan yang sifatnya emergency/darurat.

12
Pelayanan gawat darurat yaitu pelayanan kedokteran yang di butuhkan segera oleh
pasien untuk menyelamatkan kehidupannya. Unit yang menyelenggarakan pelayanan gawat
darurat yaitu unit gawat darurat (UGD).
Unit gawat darurat (UGD) adalah layanan yang disediakan untuk kebutuhan pasien
yang dalam kondisi gawat darurat dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk
mendapatkan penanganan darurat yang cepat. Sistem pelayanan yang diberikan
menggunakan sistem triage, dimana pelayanan diutamakan bagi pasien dalam keadaan
darurat (emergency) bukan berdasarkan antrian.

2.5 Tujuan Pelayanan Gawat Darurat


Berdasarkan definisi dari pelayanan gawat darurat maka tujuan dari pelayanan tersebut
yaitu untuk memberikan pertolongan pertama bagi pasien yang datang dan menghindari
berbagai resiko seperti kematian, menanggulangi korban kecelakaan, atau bencana lainnya
yang langsung membutuhkan tindakan. Selain tujuan umum tersebut adapun tujuan utama
dari pelayan gawat darurat yaitu :
1. Memberikan pelayanan komunikatif, cepat dan tepat selama 24 jam terus menerus
2. Tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang optimal, terarah dan terpadu bagi setiap
anggota masyarakat yang berada dalam keadaan gawat darurat
3. Mencegah kematian dan cacat pada pasien gawat darurat sehingga dapat hidup dan
berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya.
4. Menerima dan merujuk pasien gawat darurat melalui sistem rujukan untuk memperoleh
penanganan yang lebih
5. Menanggulangi korban bencana

2.6 Kegiatan
Kegiatan yang menjadi tanggung jawab unit UGD untuk melakukan pelayanan gawat
darurat ada banyak macamnya, secara umum dapat dibedakan menjadi tiga macam (Flynn,
1962) yaitu :
1. Menyelenggarakan pelayanan gawat darurat Bertujuan menyelamatkan kehidupan
penderita, namun sering dimanfaatkan hanya untuk memperoleh mendapatkan pelayanan
pertolongan pertama dan bahkan pelayanan rawat jalan.

13
2. Menyelenggarakan pelayanan penyeringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan
pelayanan rawat inap intensif. Merujuk kasus-kasus gawat darurat yang dinilai berat
untuk memperoleh pelayanan rawat inap intensif.
3. Menyelenggarakan pelayanan informasi medis darurat. Menampung serta menjawab
semua pertanyaan semua anggota masyarakat tentang segala sesuatu yang ada
hubungannya dengan keadaan medis darurat (emergency medical questions).

2.7 Kriteria
Kriteria pelayanan gawat darurat :
1. Pelayanan harus 24 jam
2. Pelayanan pasien yang tidak darurat tak boleh mengganggu pelayanan pasien gawat
darurat
3. Unit gawat darurat harus membatasi diri
4. UGD menyelenggarakan pendidikan pelatihan penanggulangan keadaan gawat darurat
untuk pegawai/perawat RS dan masyarakat sekitarnya
5. Harus diselenggarakan penelitian yang berhubungan dengan fungsi UGD dan unit
kesehatan masyarakat.

2.8 Prinsip pada pelayanan gawat darurat pra RS


Prinsip pelayanan gawat darurat pra rumah sakit ada banyak, namun yang perlu diingat
adalah
1. Jangan membuat cedera lebih lanjut (Do not futher harm). Dimulai oleh Hippocrates, dan
tetap sampai kini, dimulai saat awam datang, terus sampai ke rumah sakit, sampai
akhirnya penderita pulang.
2. Waktu itu penting

2.9 Standar Pelayanan Gawat Darurat


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 856/ Menkes/ SK/IX/2009.Standar
Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit adalah :
Standar 1: Falsafah dan Tujuan

14
Instalasi / Unit Gawat Darurat dapat memberikan pelayanan gawat darurat kepada
masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai dengan standar.
Kriteria :
1. Rumah Sakit menyelenggarakan pelayanan gawat darurat secara terus menerus selama 24
jam, hari dalam seminggu.
2. Ada instalasi / unit Gawat Darurat yang tidak terpisah secara fungsional dari unit-unit
pelayanan lainnya di rumah sakit.
3. Ada kebijakan / peraturan / prosedur tertulis tentang pasien yang tidak tergolong akut
gawat akan tetapi datang untuk berobat di Instalasi / Unit Gawat Darurat.
4. Adanya evaluasi tentang fungsi instalasi / Unit Gawat Darurat disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat.
5. Penelitian dan pendidikan akan berhubungan dengan fungsi instalasi / Unit Gawat
Darurat dan kesehatan masyrakat harus diselenggarakan.

Standar 2: Administrasi dan Pengelolaan


Instalasi / Unit Gawat Darurat harus dikelola dan diintegrasikan dengan Instalasi / Unit
Lainnya di Rumah Sakit.
Kriteria :
1. Ada dokter terlatih sebagai kepala instalasi gawat darurat yang bertanggung jawab atas
pelayanan di instalasi gawat darurat.
2. Ada Perawat sebagai penanggung jawab pelayanan keperawatan gawat darurat.
3. Semua tenaga dokter dan keperawatan mampu melakukan teknik pertolongan hidup
dasar (Basic Life Support).
4. Ada program penanggulangan korban massal, bencana (disaster plan) terhadap kejadian
di dalam rumah sakit ataupun di luar rumah sakit.
5. Semua staf / pegawai harus menyadari dan mengetahui kebijakan dan tujuan dari unit.
6. Ada ketentuan tertulis tentang manajemen informasi medis (prosedur) rekam medik.
7. Semua pasien yang masuk harus melalui Triase. Pengertian : Bila perlu triase dilakukan
sebelum indentifikasi.
8. Triase harus dilakukan oleh dokter atau perawat senior yang berijazah / berpengalaman.

15
9. Triase sangat penting untuk penilaian ke gawat daruratan pasien dan pemberian
pertolongan / terapi sesuai dengan derajat ke gawat daruratan yang dihadapi.
10. Petugas triase juga bertanggung jawab dalam organisasi dan pengawasan penerimaan
pasien dan daerah ruang tunggu.
11. Rumah Sakit yang hanya dapat memberi pelayanan terbatas pada pasien gawat darurat
harus dapat mengatur untuk rujukan ke rumah sakit lainnya.
Kriteria :
1. Ada ketentuan tertulis indikasi tentang pasien yang dirujuk ke rumah sakit lainnya.
2. Ada ketentuan tertulis tentang pendamping pasien yang di transportasi.
3. Pasien dengan kegawatan yang mengancam nyawa harus selalu diobservasi dan
dipantau oleh tenaga terampil dan mampu.
Pengertian :
Pemantauan terus dilakukan sewaktu transportasi ke bagian lain dari rumah sakit
atau rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lainnya dan pasien harus di dampingi
oleh tenaga yang terampil dan mampu memberikan pertolongan bila timbul
kesulitan. Umumnya pendamping seorang dokter.
1. Tenaga cadangan untuk unit harus di atur dan disesuaikan dengan kebutuhan.
2. Ada jadwal jaga harian bagi konsulen, dokter dan perawat serta petugas non
medis yang bertugas di IGD.
3. Pelayanan radiologi, hematologi, kimia, mikrobiologi dan patologi harus di
organisir / di atur sesuai kemampuan pelayanan rumah sakit.
4. Ada pelayanan transfusi darah selama 2 jam.
5. Ada ketentuan tentang pengadaan peralatan obat-obatan life saving, cairan infus
sesuai dengan stndar dalam Buku Pedoman Pelayanan Gawat Darurat Depkes
yang berlaku.
6. Pasien yang di pulangkan harus mendapat petunjuk dan penerangan yang jelas
mengenai penyakit dan pengobatan selanjutnya.
7. Rekam Medik harus disediakan untuk setiap kunjungan.
Pengertian :

16
1. Sistem yang optimum adalah bila rekam medik unit gawat darurat menyatu
dengan rekam medik rumah sakit. Rekam medik harus dapat melayani selama
24 jam.
2. Bila hal ini tidak dapat diselenggarakan setiap pasien harus dibuatkan rekam
medik sendiri. Rekam medik untuk pasien minimal harus mencantumkan :
a. Tanggal dan waktu datang (tempat bertemu secara pribadi)
b. Catatan penemuan klinik, laboratorium, dan radiologik.
c. Pengobatan dan tindakan yang jelas dan tepat serta waktu keluar dari
instalasi gawat darurat.
d. Identitas dan tanda tangan dari dokter yang menangani.
e. Ada bagan / struktur organisasi tertulis disertai uraian tugas semua
petugas lengkap dan sudah dilaksanakan dengan baik.

Standar 3 : Staf Dan Pimpinan


Instalasi Gawat Darurat harus dipimpin oleh dokter, dibantu oleh tenaga medis keperawatan
dan tenaga lainnya yang telah mendapat Pelatihan Penanggulangan Gawat Darurat (PPGD).
Kriteria :
1. Jumlah, jenis dan kualifikasi tenaga yang tersedia di instalasi / unit gawat darurat harus
sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
2. Unit harus mempunyai bagan organisasi yang dapat menunjukkan hubungan antara staf
medis, keperawatan, dan penunjang medis serta garis otoritas, dan tanggung jawab.
3. Instalasi Gawat Darurat harus ada bukti tertulis tentang pertemuan staf yang dilakukan
secara tetap dan teratur membahas masalah pelayanan gawat dan langkah
pemecahannya.
4. Rincian tugas tertulis sejak penugasan harus selalu ada bagi tiap petugas.
5. Pada saat mulai diterima sebagai tenaga kerja harus selalu ada bagi tiap petugas.
6. Harus ada program penilaian untuk kerja sebagai umpan balik untuk seluruh staf No.
Telp. petugas.
7. Harus ada daftar petugas, alamat dan nomor telephone.

17
Standar 4 : Fasilitas Dan Peralatan
Fasilitas yang disediakan di instalasi / unit gawat darurat harus menjamin efektivitas dan
efisiensi bagi pelayanan gawat darurat dalam waktu 24 jam, 7 hari seminggu secara terus
menerus.
Kriteria :
1. Di instalasi gawat darurat harus ada petunjuk dan informasi yang jelas bagi masyarakat
sehingga menjamin adanya kemudahan, kelancaran dan ketertiban dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
2. Letak unit / instalasi harus diberi petunjuk jelas sehingga dapat dilihat dari jalan di dalam
maupun di luar rumah sakit.
3. Ada kemudahan bagi kendaraan roda empat dari luar untuk mencapai lokasi instalasi
gawat darurat (IGD) di rumah sakit, dan kemudahan transportasi pasien dari dan ke
instalasi gawat darurat (IGD) dari arah dalam rumah sakit.
4. Ada pemisahan tempat pemeriksaan dan tindakan sesuai dengan kondisi penyakitnya.
5. Daerah yang tenang agar disediakan untuk keluarga yang berduka atau gelisah.
6. Besarnya rumah sakit menentukan perlu tidaknya :
a. Ruang penyimpanan alat steril, obat cairan infus, alat kedokteran serta ruang
penyimpanan lain.
b. Ruang kantor untuk kepala staf, perawat, dan lain-lain.
c. Ruang pembersihan dan ruang pembuangan.
d. Ruang rapat dan ruang istirahat.
e. Kamar mandi.
f. Ada sistem komunikasi untuk menjamin kelancaran hubungan antara unit gawat
darurat dengan :
1) Unit lain di dalam dan di luar rumah sakit terkait.
2) Rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya.
7. Pelayanan ambulan.
8. Unit pemadam kebakaran.
9. Konsulen SMF di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
10. Harus ada pelayanan radiologi yang di organisasi dengan baik serta lokasinya berdekatan
dengan instalasi gawat darurat.

18
Standar 5 : Kebijakan Dan Prosedur
Harus ada kebijakan dan prosedur pelaksanaan tertulis di unit yang selalu di tinjau dan di
sempurnakan (bila perlu) dan mudah di lihat oleh seluruh petugas.
Kriteria :
1. Ada petunjuk tertulis / SOP untuk menangani :
a. Kasus perkosaan
b. Kasus keracunan massal
c. Asuransi kecelakaan
d. Kasus dengan korban massal
e. Kasus lima besar gawat darurat murni (true emergency) sesuai dengan data
morbiditas instalasi / unit gawat darurat
f. Kasus kegawatan di ruang rawat
2. Ada prosedur media tertulis yang antara lain berisi :
a. Tanggung jawab dokter
b. Batasan tindakan medis
c. Protokol medis untuk kasus-kasus tertentu yang mengancam jiwa
3. Ada prosedur tetap mengenai penggunaan obat dan alat untuk life saving sesuai dengan
standar.
4. Ada kebijakan dan prosedur tertulis tentang ibu dalam proses persalinan normal maupun
tidak normal.
Standar 6 : Pengembangan Staf Dan Program Pendidikan
Instalasi Gawat Darurat dapat di manfaatkan untuk pendidikan dan pelatihan (in service
training) dan pendidikan berkelanjutan bagi petugas.
Kriteria :
1. Ada program orientasi / pelatihan bagi petugas baru yang bekerja di unit gawat darurat.
2. Ada program tertulis tiap tahun tentang peningkatan keterampilan bagi tenaga di
instalasi gawat darurat.
3. Ada latihan secara teratur bagi petugas instalasi gawat darurat dalam keadaan
menghadapi berbagai bencana (disaster).
4. Ada program tertulis setiap tahun bagi peningkatan keterampilan dalam bidang gawat
darurat untuk pegawai rumah sakit dan masyarakat.

19
Standar 7 : Evaluasi Dan Pengendalian Mutu
Ada upaya secara terus menerus menilai kemampuan dan hasil pelayanan Instalasi Gawat
Darurat.
Kriteria :
1. Ada data dan informasi mengenai :
a. Jumlah kunjungan
b. Kecepatan pelayanan (respon time)
c. Pola penyakit / kecelakaan (10 terbanyak)
d. Angka kematian

2.10 Prosedur Instalasi Gawat Darurat


Menurut Apriyani (2008) adapun adapun Prosedur Instalasi Gawat Darurat adalah :
1. Pasien masuk ruang gawat darurat.
2. Pengantar mendaftar ke bagian administrasi (front liner).
3. Instalasi Gawat Darurat (IGD) menerima status pasien dari rekam medik dan map
plastik merah.
4. Paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien.
5. Paramedik dan dokter melakukan tindakan yang diperlukan sesuai SPM emergensi
dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan di setujui oleh pasien/keluarga
(informed consent).
6. Bila pasien menolak pemeriksaan dan atau tindakan (medik, penunjang, ranap),
pasien/keluarga menandatangani surat penolakan.
7. Pasien tanpa pengantar dan dalam kondisi tidak sadar, dokter atau paramedis berhak
melakukan tindakan penyelamatan bila terdapat kondisi yang mengancam jiwa pasien.
8. Bila diperlukan pemeriksaan penunjang, dokter membuat pengantar ke unit terkait dan
mengonfirmasi lewat telpon, pengambilan sampel laboratorium dilakukan di ruang
gawat darurat, untuk pemeriksaan rontgen, paramedik mengantarkan pasien ke unit
radiologi.
9. Dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan disetujui oleh pasien/keluarga
(informed consent).

20
BAB III
KASUS
Tn D berusia 23 tahun mengalami kecelakaan motor dan dibawa kerumah sakit oleh
keluarga di IGD, pasien diterima di IGD RSUD Gunungsitoli pada tanggal 04 April 2017 , pukul
20.30 Wib. Pasien mengalami penurunan kesadaran (E2M3V2), terdapat hematoma pada kepala
dan krepitasi pada paha bagian kanansepertiga medial dextra keluar darah dari mulut ,telinga dan
hidung pasien sesak. CRT>3, TD : 80/60 mmHg, N : 110 x/i, RR : 32 x/I, dan T : 37,80C.

21
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Identitas pasien


Ruangan : IGD
Tanggal masuk : 04 April 2017
Tanggal pengkajian : 04 April 2017
No registrasi : 532350
Dx : Cidera kepala berat (CKB)

A. Pengkajian
1. Identitas pasien
Nama : Tn D
Umur : 23 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Ombolata
2. Penanggung jawab
Nama : Tn A
Umur : 63 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Hubungan dengan pasien : ayah

Riwayat kesehatan
1. Keluhan utama
Pasien datang ke RSUD Gunungsitoli pada tanggal 04 April 2017, dengan kecelakaan
motor, pasien mengalami penurunan kesadaran. Terdapat hematome di kepala dan
krepitasi pada paha bagian kanan sepertiga medial dextra.
2. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien datang ke IGD dibawa oleh keluarganya pada jam 20 .30 wib tanggal 04 April
2017. Pasien tabrakan dengan kendaraan bermotor dengan penurunan kesadaran, terdapat

22
hematome pada kepala dan krepitasi pada paha bagian kanan sepertiga medial dextra dan
wajah hematome, keluar darah dari mulut ,telinga dan hidung pasien sesak.

3. Primary survey
a. Circulation : Akral dingin,kulit pucat,terdapat perdarahan di telinga, hidung,mulut,
CRT > 3 detik, akral dingin
b. Airway : terdapat sumbatan jalan nafas berupa darah dan lendir.
c. Breathing
Look : adanya pengembangan dinding dada .frekuensi 32 /menit
Listen : terdengar suara nafas stidor.
Feel : terasa hembusan nafas ,terlihat otot bantu pernafasan
d. Disability : GCS 7 (E2,M3,V2) dan kesadaran sopor.
4. Secondary survey
Kesadaran : Sopor
Keadaan umum : Jelek
GCS : 7
TTV : TD: 80/60 mmhg
N : 110 X/m
P : 32 X/m
S : 37.8 c
5. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Inspeksi : bentuk simetris ,rambut tampak kusam,terdapat hematome dibagian wajah
dan kepala
Palpasi : tidak ada ketombe,benjolan ,terdapat nyeri tekan pada bagian oksipital.
b. Mata
Inspeksi : bentuk simetris,klien selalu memejamkan matanya karna mata terdapat
hematom, blue eyes dikedua mata.
Palpasi : ada nyeri tekan dikedua mata.
c. Hidung
Inspeksi : bentuk simetris,tidak ada polip, keluar darah dari hidung

23
Palpasi : ada nyeri tekan.

d. Telinga
Inspeksi : bentuk simetris, terdapat darah
Palpasi : ada nyeri tekan
e. Mulut
Inspeksi : keluarnya darah segar,dan lender
f. Leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,getah bening dan vena jugolaris,
dicurigai adanya fraktur servikal.
g. Thorak
Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, terdapat otot bantu pernapasan ,bentuk
dada simetris
Palpasi : tidak ada nyeri tekan , dan tidak ada benjolan
Perkusi : resonan
Auskultasi : bunyi nafas stridor ,frekuensi 32 x/menit, tidak ada wheezing dan ronhci
h. Jantung
Perkusi : mur-mur(-), gallop (-), bj1 dan bj2 normal
i. Abdomen
Inspeksi : bentuk simetris, tidak terdapat jejas
Auskultasi : bissing usus normal(10 x/menit)
Palpasi : turgor kulit elastis, ada nyeri tekan.
Perkusi : timpani (redup pada organ)
j. Genetalia
Inspeksi : Bersih, tidak ada kelainan, terpasang kateter
k. Kulit
Turgor kulit elastis, warna kulit sama dengan warna kulit lainnya
l. Ekstremitas
Atas: reflek bisep dan trisep normal ,tidak ada kelainan,ada bekas luka ditangan kanan,
terpasang infus ditangan kanan,fleksi dan ekstensi(+)

24
Bawah : tidak ada kelainan,jari-jari lengkap

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratoorium
No Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
1 Haemoglobin 9,4
2. Hematokrit 33
3 Leukosit 21.200
4 Trombosit 198000

b. Pemeriksaan CT- Scan


Terdapat edema serebral pada daerah kepala
7.Therapi pengobatan
IVFD RL 30 tts/m
Dexa metahson 3x1,injeksi ampul (iv)
Citicolin 3x1 ampul,injeksi (iv)
Asam transamin 3x1 ampul,injeksi (iv)
Vit k 3x1 ampul ,injeksi (iv)
Keterolac 3x1 ampul, injeksi(iv)
Cefotaxime 2x1 gr,injeksi ST (-) / IV
Kateter polay
NGT
Suction

Analisa data
No Data senjang Interpretasi data Masalah
1. DO : Trauma kepala Pola nafas tidak
-suara nafas stridor efektif
-terdapat sumbatan berupa darah Kerusakan pada
dan lendir tulang tengkorak
-pasien terlihat sesak frekuensi

25
pernafasan 32 x / m Perdarahan

DS :
-keluarga mengatakan pasien belum
proses desak ruang
sadar
pada area otak

herniasiasi otak
/otak terdesak
kebawah melalui
tentorium

menekan pusat
vasomotor ,cerebral
posterior ,N
III,serabut RAS

menekan untuk
pertahankan:
kesadaran,TD,HR

pusat nafas
terganggu

pola nafas tidak


efektif

2. D O:
trauma kepala
-tingkat kesadaran sopor Gangguan perfusi
-GCS 7(E 2,M3,V2) jaringanserebral
kerusakan pada
-akral dingin tulang tengkorak
-CRT > 3 detik
perdarahan

DS:

26
-keluarga mengatakan pasien masih penambahan
belum sadar volume intakranial
pada cavum
serebral

proses desak ruang


pada area otak

kompresi pada vena


sehingga terjadi
stagnasi aliran
darah

peningkatan TIK

penurunan aliran
darah ke otak

perubahan perfusi
jaringan serebral

4.2 Diagnosa Keperawatan


1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya darah dan secret d/d suara nafas
stridor, terdapat sumbatan berupa darah dan lender, pasien terlihat sesak frekuensi
pernafasan 32 x / m, keluarga mengatakan pasien belum sadar
2. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema otak d/d tingkat
kesadaran spoor, GCS 7(E 2,M3,V2), akral dingin, CRT > 3 detik, keluarga mengatakan
pasien masih belum sadar

27
4.3 Intervensi Keperawatan

NO Tanggal NOC NIC


DX
1. 04 April Setelah dilakukan Pertahankan kepala dan leher tetap
2017 tindakan keperawatan posisi datar atau tengah ( posisi
selama 1x24 jam pola supinasi).
nafas dapat efektif Observasi fungsi pernafasan, catat
dengan kriteria hasil : frekuensi pernafasan, dispnea atau
1. Tidak ada penggunaan perubahan tanda-tanda vital.
otot bantu pernafasan. Evaluasi pergerakan dinding dada dan
2. Tidak sianosis auskultasi bunyinya.
3. CRT < 3 detik Berikan terapi O2 sebanyak 3 liter
4. RR < 24x/menit Pemasangan gudele dan lakukan
5. Tidak terpasang oksigen penghisapan lender
6. Secret dan lender Evaluasi nilai GCS klien
berkurang Pantau TTV klien
Pertahankan kepala dan leher tetap
posisi datar (posisi supinasi)
Evaluasi keadaan pupil, ukuran,
ketajaman, kesamaan antara kiri dan
kanan dan reaksi terhadap rangsangan
cahaya

2. 04 April Setelah dilakukan Kolaborasi dalam pemberian obat


2017 tindakan keperawatan sesuai indikasi
selama 1x24 jam Anjurkan pada keluarga untuk batasi
gangguan perfusi pengunjung
jaringan dapat teratasi
dengan criteria hasil :
1. Nilai GCS meningkat Pemberian terapi O2 dan penghisapan

28
yaitu 12 lender
2. Kesadaran membaik Lakukan pemasang NGT
yaitu compos mentis Lakukan pemasangan kateter
3. Tanda-tanda vital normal
TD :1/80
Mmhg,
N: 90 x/menit
RR : 24 x/menit
S : 37 C

4.4 Implementasi Keperawatan


No Tanggal / jam Implementasi Respon hasil Para
DX f
1,2 04 April 20171. Mempertahankan kepala dan1. Tidak terjadi peningkatan
Pukul 20.38 leher tetap posisi datar atau JVP pada aliran darah ke
wib tengah ( posisi supinasi). otak

2. 2.
O2 diberikan sebanyak 3 liter
Memberikan terapi O2
1 04 April 2017 dengan menggunakan
Pukul 20.40 nasal kanul, CRT > 3detik
wib

29
3. Daerah hidung dan telinga
04 April 2017 tertutup tampon dan tidak
Pukul 3. Melakukan tampon pada meneluarkan darah
20.45wib daerah hisdung dan telinga
4. Gudele telah terpasang,
04 April 2017 jalan nafas tidak tertutup
Pukul 20.50 Melakukan pemasangan dan lendirberkurang
wib gudle dan penghisapan lendir
5. Darah diambil sebanyak
04 April 2017 3cc dan lansung dikirim
1,2 Pukul 21.00 5. Melakukan pengambilan kelaboratorium
wib sample darah( hematologi)
6.

frekuensi pernafasan 32
1 04 April 2017 Mengobservasi fungsi
x/menit
Pukul 21.35 pernafasan, catat frekuensi
wib pernafasan, dispnea atau
perubahan tanda-tanda vital.
2 04 April 2017
7. Luka pasien bersih dan
Pukul 22.00 7. Membersihkan luka dan
luka klien dijahit sehingga
wib melakukan Heacting
darah tidak kelua

22-12-2011
2` Pukul 21.20
8. pergerakan dinding dada
wib
dalam pernapasan cepat
8. Mengevaluasi pergerakan
dan dangkal
22-12-2011 dinding dada dan auskultasi
Pukul 21.30 bunyinya.
9. Klien tampak lemah dan
2 wib
nilai GCS =7( E2 V2 M3)

22-12-2011 9. Mengevaluasi nilai GCS

30
Pukul 22.50 klien dan keadaan umum
2 wib klien 10. NGT terpasang, cairan
lambung keluar melalui
NGT berwarna kehitaman
10. Melakukan pemasangan NGT
2 22-12-2011 11. kateter terpasang, urine
pukul keluar dengan jumlah
23.00 wib urine 300 cc
11. Melakukan pemasangan
2 kateter
22-12-2011 12. TD : 100/60 mmhg,
Pukul 23.30 a. N : 102 x/menit
wib b. S : 37,8 C
2 12. Memantau TTV klien c. RR : 32 x/menit

13. Pupil isokor dan miosis

2
22-12-2011
Pukul 23.30 13. Evaluasi keadaan pupil, 14. Obat telah masuk melalui
wib ukuran, ketajaman, kesamaan IV dan tidak ada reaksi
antara kiri dan kanan dan alergi.
22-12-2011 reaksi terhadap rangsangan
Pukul 23.30 cahaya
wib
14. Kolaborasi dalam pemberian
obat yaitu
22-12-2012 Dexa metahson 3x1 (IV)
1,2
Pukul 03.00 Citicolin 3x1 amp (IV) Asam
wib transamin 3x1 amp (IV) 15. Keluarga bisa menerima

31
Vit k 3x1 amp (IV) dan akan melakukannya
Keterolac 3x1 amp (IV)
1,2

16. TD : 100/60 mmhg,


15. Menganjurkan keluarga a. N : 90 x/menit
unruk membatasi b. S : 37 C
1,2 pengunjung dan tidak terlaluc. RR : 28 x/menit
ribut dalam ruangan 17. erdapat Edema Serebral pada
bagian kepala
16. Memantau TTV klien

17. Mengantar Pasien melakukan


CT-Scan

4.5 Evaluasi Keperawatan


No Tanggal / Catatan perkembangan Paraf
Jam
1. 04 April S :-
2017
O : - Suara napas stridor
- Masih terdapat sumbatan berupa darah dan lendir
- pasien terlihat sesak napas

32
A : masalah teratasi sebagian ((nomor 5)
yaitu : pemasangan gudele)

P : intervensi di lanjutkan ( ( nomor 1, 2, 3, dan 4 ) yaitu :


1. Pertahankan kepala dan leher tetap posisi datar atau
tengah ( posisi supinasi)
2. observasi fungsi pernafasan, catat frekuensi
pernafasan,dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
3. Evaluasi pergerakan dinding dada dan auskultasi
bunyinya.
4. Berikan terapi O2)

S : - keluarga mengatakan anaknya belum sadar

O : - tingkat kesadaran sopor


2. 04 April - GCS = 7 ( E2 V2 M3)
2017 - TD: 100/60 mmhg , N: 90 x/menit, S : 37 C
RR : 28 x/menit

A : masalah teratasi sebagian (( nomor 5, 6, 8, dan 9 )


yaitu
5. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
6. Anjurkan pada keluarga batasi pengunjung
8. Lakukan pemasangan NGT
9. Lakukan pemasangan kateter)
P : intervensi di lanjutkan ( ( nomor 1, 2, 3, 4 dan 7 )
1. Evaluasi GCS klien
2. pantau TTV klien
3. Pertahankan kepala dan leher tetap posisi datar ( posisi
supinasi)

33
4. Evaluasi keadaan pupil, ukuran, ketajaman , kesamaan
antara kiri dan kanan dan reaksi terhadap rangsangan
cahaya
7. Pemberian terapi O2 dan penghisapan lender )

34
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Asuhan keperawatan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan praktek keperawatan
kegawatdaruratan yang diberikan pada klien oleh perawat yang berkompeten untuk
memberikan asuhan keperawatan diruang gawat darurat.
Pengkajian cepat untuk mengidentifikasi dengan segera masalah actual/potensial dari
kondisi life threatening (berdampak terhadap kemampuan pasien untuk mempertahankan
hidup). Pengkajian tetap berpedoman pada inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi jika hal
tersebut memungkinkan.
Prioritas penilaian dilakukan berdasarkan:
a. Airway (jalan nafas) dengan control servikal
b. Breathing dan ventilasi
c. Circulation dengan control pendarahan
d. Disability
e. Exposure control, dengan membuka pakaian pasien tetapi cegah hipotermi
Pelayanan gawat darurat (emergency care) adalah bagian dari pelayanan kedokteran
yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera (imediately) untuk menyelamatkan
kehidupannya (life saving).
Setiap rumah sakit harus memiliki fasilitas pelayanan gawat darurat yang siap
melakukan pelayanan setiap hari 24 jam. Pelayanan gawat darurat merupakan pelayanan
utama di setiap rumah sakit karena merupakan pelayanan yang sifatnya emergency/darurat

5.2 Saran
Sebagai seorang calon perawat yang nantinya akan bekerja di suatu institusi Rumah
Sakit tentunya kita dapat mengetahui mengenai konsep pengkajian pada pasien gawat
darurat Circulation Airway Breathing (CBA) dan sistem pelayanan gawat darurat .
kelompok mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, karena manusia tidak ada yang
sempurna, agar kelompok dapat belajar lagi dalam penulisan makalah yang lebih baik. Atas
kritik dan saran dari pembaca, penulis ucakan terimakasih.

35
DAFTAR PUSTAKA
Dermawan Deden, Tutik Rahayuningsih. Keperawatan Medikal Bedah. Cetakan Pertama,
Yogyakarta : Gosyen Publishing, 2010
Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta : Nuha Medika

Krisanty Paula, Dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta : CV. Trans Info Media
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/49525/4/Chapter%20II.pdf
http://sardjitohospital.co.id/sardjitowp/wp-content/uploads/2015/12/kepmenkes-856-thn-2009-
standar-IGD.pdf
https://www.google.com/search?q=standar+pelayanan+gawat+darurat&ie=utf-8&oe=utf-
8&client=firefox-b-ab#q=standar+pelayanan+gawat+darurat+pdf&*

36

Anda mungkin juga menyukai