Anda di halaman 1dari 18

DARAH

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk memenuhi tugas matakulian Anatomi Fisiologi Manusia


yang dibimbing oleh
Drs. Soewolo, M.Pd dan Nuning Wulandari, S.Si, M.Si

Oleh:
Kelompok 6/ Off C 2010

Rifki Luthfidiyanto (100341404608)


Desy Silvana Manja (100341404620)
Febryna Nurhidayah (100341404622)
Lailatul Qomariah (100341404615)
Prayoga Tri Budiarsa (100341406439)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI BIOLOGI
September 2012
A. Waktu Pelaksanaan
Rabu, 17 Oktober 2012
B. Tujuan
Menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih
Menguji ecepatan pembekuan darah
Menguji golongan darah
Memperkirakan kadar hemoglobin dalam darah
C. Dasar Teori

Sel darah putih dapat dihitung dengan menggunakan pipet sel darah putih (untuk
melakukan pengenceran) dan hemasitometer (keeping kaca dengan kamar-kamar penghitung
yang dikenal luasnya untuk penghitungan). Untuk melakukan penghitungan sel darah putih dan
merah secara langsung, maka perlu dilarutkan sejumlah darah yang diketahhui volumenya
kedalam suatu larutan yang berfita antikogulasi yang juga diketahui volumenya. Dengan caraini
diketahui besarnya penggenceran darah yang dihitung. Darah yang sudah diencerkan
ditempatkan pada hemasitometer. Sel darah kemudian dihitnung dengan dibawah mikroskop.
Larutan untuk pengencaran sel darah merah dan putih berbeda. Prinsipnya larutan itu isotonis
dengan sel darah yang dihitung (Soedjono dkk, 2000).

Haemocytometer adalah perangkat awalnya dirancang untuk penghitungan sel darah.


Sekarang juga digunakan untuk menghitung jenis sel serta partikel mikroskopis lainnya. Yang
hemocytometer diciptakan oleh Louis-Charles Malassez dan terdiri dari tebal kaca mikroskop
slide dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan ruang. Ruangan ini diukir dengan
menggunakan laser-tergores grid dari garis tegak lurus. Perangkat ini disusun dengan hati-hati
sehingga daerah yang dibatasi oleh garis yang diketahui, dan kedalaman ruang juga dikenal.
Oleh karena itu mungkin untuk menghitung jumlah sel-sel atau partikel dalam volume tertentu
cairan, dan dengan demikian menghitung konsentrasi dalam cairan sel-sel secara keseluruhan
(Dharmadi, 2010).

Gelas Objek Kamar Hitung Daerah yang diperintah dari hemocytometer terdiri dari
beberapa, besar, 1 x 1 mm (1 mm 2) kuadrat. Ini dibagi dalam 3 cara; 0,25 x 0,25 mm (0,0625
mm 2), 0,25 x 0,20 mm (0,05 mm 2) dan 0,20 x 0,20 mm (0,04 mm 2 ). Pusat, 0,20 x 0,20 mm
ditandai, 1 x 1 mm persegi dibagi lagi menjadi 0,05 x 0,05 mm (0,0025 mm 2) kuadrat. Yang
mengangkat tepi hemocytometer memegang coverslip 0,1 mm dari grid ditandai. Ini memberikan
setiap persegi volume yang ditetapkan.

Dimensi Area Volume pada kedalaman 0,1 mm

1 x 1 mm 1 mm 2 100 nl

0,25 x 0,25 mm 0,0625 mm 2 6,25 nl

0,25 x 0,20 mm 0,05 mm 2 5 nl

0,20 x 0,20 mm 0,04 mm 2 4 nl

0,05 x 0,05 mm 0,0025 mm 2 0,25 nl

Ukuran sel-struktur yang akan dihitung adalah yang terletak di antara tengah-tengah tiga
baris di bagian atas dan kanan atas kuadrat dan batin dari tiga baris di bagian bawah dan kiri
alun-alun. Dalam peningkatan Neubauer hemocytometer (menengah umum), jumlah sel per ml
dapat ditemukan hanya dengan mengalikan jumlah total sel ditemukan dalam kotak
hemocytometer (daerah sama dengan kotak merah pada gambar di sebelah kanan) oleh 10 4
(10000 ).

Berikut adalah dua metode sederhana untuk menghitung sel berdasarkan luas permukaan
hemacytometer digunakan untuk menentukan jumlah sel.. Pemilihan metode tergantung pada
konsentrasi sel ketepatan prosedur tergantung pada jumlah sel dihitung. Ketika sel konsentrasi
rendah, orang harus menghitung lebih grid (Dharmadi, 2010).

Metode A

Konsentrasi sel dihitung sebagai berikut: Sel konsentrasi per mililiter = Total jumlah sel
dalam 4 kuadrat x 2500 x faktor pengenceran Contoh: Jika salah satu sel 450 dihitung setelah
menipiskan suatu alikuot suspensi sel 1:10, konsentrasi sel asli = 450 x 2500 x 10 = 11.250.000 /
ml

Metode B
Konsentrasi sel dihitung sebagai berikut: Sel konsentrasi per mililiter = Total jumlah sel dalam 5
kuadrat x 50.000 x faktor pengenceran Contoh: Jika salah satu sel setelah 45 dihitung
menipiskan suatu alikuot suspensi sel 1:10, konsentrasi sel asli = 45 x 50.000 x 10 = 22.500.000 /
ml

Pipet Thomma adalah jenis pipet yang digunakan untuk pengenceran sel darah. Ia tidak
mengukur menipiskan darah atau cairan dalam jumlah tertentu (misalnya, dalam mililiter),
melainkan dalam hal bagian dari volume total volume pipet. Yang pipet terdiri dari sebuah
batang yang ditandai dengan 2 divisi. Tanda pertama menunjukkan unit 0,5, dan yang kedua
menunjukkan tanda 1,0 unit. Di atas batang adalah bola lampu pencampuran yang berisi manik-
manik kecil. Alat ini membantu dalam pencampuran darah dan pengencer. Lampu di atas
pencampuran kapiler pendek lain dengan tanda berukir (11,0 di sel putih pipet dan 101,0 pada sel
merah pipet). Sel merah pipet volume 101 unit. Batang setiap pipet berisi 1 unit volume dan bola
lampu berisi bagian sisanya (Dharmadi, 2010).

Hemoglobin (kependekan: Hb) merupakan molekul protein di dalam sel darah merah yang bergabung
dengan oksigen dan karbon dioksida untuk diangkut melalui sistem peredaran darah ke tisu-tisu dalam badan. Ion
besi dalam bentuk Fe+2 dalam hemoglobin memberikan warna merah pada darah. Hemoglobin adalah protein
yang kaya akan zat besi. Memiliki daya afinitas (daya gabung)terhadap oksigen itu membentuk oxihemoglobin di
dalam sel darah merah.Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa ke paru-paru ke jaringan.
Kadar hemoglobin ialah ukuran pigmen respiratorik dalam butiran-butiran darah merah. Dalam keadaan
normal 100 mldarah mengandungi 15 gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0.03 gram oksigen. Terdapat
beberapa cara bagi mengukur kandungan hemoglobin dalam darah, kebanyakannya dilakukan secara automatik
oleh mesin yang direka khusus untuk membuat beberapa ujian terhadap darah. Di dalam mesin ini, sel darah
merah diceraikan untuk mengasingkan hemoglobin dalam bentuk larutan. Hemoglobin yang terbebas ini
dicampur dengan bahan kimia yang mengandungi cyanide yang mengikat kuat dengan molekul hemoglobin
untuk membentuk cyanmethemoglobin. Dengan menyinarkan cahaya melalui larutan cyanmethemoglobin dan
mengukur jumlahcahaya yang diserap (khususnya bagi gelombang antara 540 nanometer), jumlah hemoglobin
dapat ditentukan.( Tim Dosen 2010.)
Kadar Hemoglobin biasanya ditentukan sebagai jumlah hemoglobin dalam gram (gm) bagi setiap
dekaliter (100 mililiter). Kadar hemoglobin normal bergantung kepada usia, awal remaja, dan jantina seseorang
itu.
Kadar normal adalah :
1. Baru lahir : 17-22 gm/dl
2. Usia seminggu : 15-20 gm/dl
3. Usia sebulan : 11-15gm/dl
4. Anak-anak: 11-13 gm/dl
5. Laki-laki dewasa: 14-18 gm/dl
6. Wanita dewasa: 12-16 gm/dl
7. Laki-lakiseparuh usia: 12.4-14.9 gm/dl
8. Wanita separuh usia: 11.7-13.8 gm/dl

Kadar hemoglobin yang rendah merupakan satu keadaan yang dikenali sebagai anemik. Terdapat
beberapa sebab berlakunya anemia.Sebab utama biasanya kehilangan darah (kecederaan teruk, pembedahan,
pendarahan kanser kolon), kekurangan vitamin (besi, vitaminB12, folate), masalah sum-sum tulang (penggantian
sum-sum tulang oleh barah, pemendaman oleh rawatan dadah chemotherapy, kegagalan buah pinggang (ginjal)),
dan hemoglobin tidak normal (anemia sel sabit).Kadar hemoglobin yang tinggi pula terdapat dikalangan mereka
yang tinggal di kawasan tanah tinggi dan perokok. Pendehidratan menghasilkan kadar hemoglobin tinggi palsu
yang hilang apabila kandungan air bertambah. Sebab lain adalah penyakit paru-paru, sesetengah ketumbuhan,
masalah sum-sum yang dikenali sebagai polycythemia rubra vera dan penyalahgunaan hormon erythropoietin
(Epogen) oleh ahli sukan bagi tujuan meningkatkan prestasi dalam acara sukan masing-masing.

Struktur Hemoglobin
Pada pusat molekul terdiri dari cincin heterosiklik yang dikenal dengan porfirin yang
menahan satu atom besi, atom besi ini merupakan situs/lokal ikatan oksigen.Porfirin yang
mengandung besi disebut heme.Nama hemoglobin merupakan gabungan dari heme dan globin,
globin sebagai istilah generik untuk protein globular.Ada beberapa protein mengandung heme
dan hemoglobin adalah yang paling dikenal dan banyak dipelajari.
Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 submit protein), yang
terdiri dari dari masing-masing dua sub unit alfa dan yang terikat secara non kovalen. Sub
unitnya mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap sub unit memiliki berat
molekul kurang lebih 16.000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi 64.000
Dalton. Tiap sub unit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan
hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen.

Fungsi Hemoglobin
Hemoglobin berfungsi sebagai pengikat oksigen.Pada sebagian hewan tak bertulang
belakang atau invertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma
darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas.Hemoglobin merupakan protein
pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang
atauvertebrata.Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan digunakan oleh
hewancrustaceae.Cumi-cumi menggunakan vanadium kromagen (berwarna hijau muda, biru,
ataukuning oranye).Hemoglobin adalah suatu zat yang memberikan warna merah sel darah
merah.Hemoglobin terdiri dari 4 molekul zat besi (heme), 2 molekul rantai globin dan 2
molekulrantai globin . Rantai globin dan adalah protein yang produksinya disandi oleh gen
globin dan . (Tri Rahardja. 2006 .)

Faktor-Faktor Mempengaruhi Kadar Hemoglobin


Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin adalah :
1. Kecukupan Besi dalam Tubuh
Menurut Parakkasi, besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin, sehingga anemia
gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan
hemoglobin yang rendah. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi
hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, untuk
dieksresikan ke dalam udara pernafasan, sitokrom, dan komponen lain pada sistem enzim
pernafasan seperti sitokrom oksidase, katalase, dan peroksidase. Besi berperan dalam sintesis
hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot.Kandungan 0,004 % berat
tubuh (60-70%) terdapat dalam hemoglobin yang disimpan sebagai ferritin di dalam hati,
hemosiderin di dalam limpa dan sumsum tulang.
Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-
senyawa besi sebagai enzim oksidatif seperti sitokrom dan flavoprotein.Walaupun jumlahnya
sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting.Mioglobin ikut dalam
transportasi oksigen menerobos sel-sel membran masuk kedalam sel-sel otot. Sitokrom,
flavoprotein, dan senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya, memegang
peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin Tri Phosphat (ATP) yang
merupakan molekul berenergi tinggi. Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi
maka terjadi penurunan kemampuan bekerja.Pada anak sekolah berdampak pada peningkatan
absen sekolah dan penurunan prestasi belajar.
Menurut Kartono J dan Soekatri M, Kecukupan besi yang direkomendasikan adalah
jumlah minimum besi yang berasal dari makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk
setiap individu yang sehat pada 95% populasi, sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia
kekurangan besi.
2. Metabolisme Besi dalam Tubuh
Besi yang terdapat di dalam tubuh orang dewasa sehat berjumlah lebih dari 4 gram.
Besi tersebut berada di dalam sel-sel darah merah atau hemoglobin (lebih dari 2,5 g),
myoglobin (150 mg), phorphyrin cytochrome, hati, limpa sumsum tulang (> 200-1500 mg).
Ada dua bagian besi dalam tubuh, yaitu bagian fungsional yang dipakai untuk keperluan
metabolik dan bagian yang merupakan cadangan.Hemoglobin, mioglobin, sitokrom, serta
enzim hem dan nonhem adalah bentuk besi fungsional dan berjumlah antara 25-55 mg/kg
berat badan.Sedangkan besi cadangan apabila dibutuhkan untuk fungsi-fungsi fisiologis dan
jumlahnya 5-25 mg/kg berat badan.Ferritin dan hemosiderin adalah bentuk besi cadangan
yang biasanya terdapat dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Metabolisme besi dalam tubuh
terdiri dari proses absorpsi, pengangkutan, pemanfaatan, penyimpanan dan pengeluaran.

D. Alat dan Bahan

Hemasitometer, 1% as. Asetat, pipet sel darah putih, mikroskop cahaya, blood lancet, alcohol
10% , larutan Hayem, alkohol 70%, skala Hemoglobin, kertas hisap talquis dan kapas

E. Langkah kerja
Menghitung sel darah putih

Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan dan hemasitometer yang dipasang dimikroskop
Membersihkan ujung jari yang tengahdengan kapas yang dibasahi alcohol. Mengayunkan tangan
agar allkohol kering. Membersihkan blood lanset dengan alcohol kemudian ayunkan agar kering.
Mengatur panjang lanset dengan tepat.

Menusukkan ke ujung jari dengan cepat dan melepas tusukan. Menghapus tetesan pertama yang
keluar luka dengan kapas bersih. Membiarkan tetesan darah berikutnya keluar

Menempelkan ujung pipet sel darah putih pada darah diujung jari kemudian menghisap sampai
batas 1ml. memasukkan pipet kedalam asetat 1% dengan cepat dan hati-hati sampai batas 11ml.

Mengocok pipet dengan posisi horizontal dengan ujung pipet masing-masing pada ibu jari kedua
selama 2-3 menit. Kemudian membuang pipet 2-3 tetes darah dari pipet.

Manghitung sel darah merah


Menyiapkan alat bahan yang diperlukan (kapas, alkohol, HCl 1%, blood lancet, pipet
sel darah merah, hemasitometer yang telah terpasang pada mikroskop)

Membersihkan salah satu dari 3 ujung jari tengah dengankapas yang telah diberi
alkohol (kipaskan hingga kering) dan membersihkan blood lancet dengan alkohol juga

Mengatur panjang lancet dan kemudian menusukkannnya (menghapus tetes darah


yang pertama kali keluar dengan kapas)

Menggunakan pipet sel darah merah dan menghisap ke dalam pipet dari ujung jari
sampai angka 0,5 ml dan mengencerkannya dengan larutan hayem hingga angka 101

Mengocok cairan yang ada di dalam pipet selama 2-3 menit dan membuang tetes
pertama dengan menggunakan kertas hisap

Memasang kaca penutup pada hemasitometer dan meneteskan tetesan darah dari pipet
ke batas antara hemasitometer dan kaca penutup

Menjaga agar jangan sampai tetesan darah yang ada terlalu banyak, bila terjadi maka
dapat menggunakan kertas penghisap

Memasang himasitometer pada meja mikroskop dalam posisi mendatar dengan


perbesaran 10 x dan memfokuskan bidang padang ke kotak penghitungan sel darah
merah

Menunggu sampai darah dalam bidang pandang tenang (tidak ada aliran), baru
kemudian menghitung sel darah merah pada 5 daerah perhitungan sel darah merah

Mencatat hasil pengamatan di lembar data pengamatan

Kecepatan pembekuan darah

Menyiapkan kaca benda


Membersihkan ujung jari dan lanset menggunakan alkohol 70%. Menusuk ujung jari
dengan lanset sampai keluar darah. Membersihkan tetes darah pertama dan meneteskan
darah berikutnya pada kaca benda. Secara bersamaan memencet stopwatch.

Menggunakan jarum pentul untuk menusuk-nusuk darah sampai benang-benang fibril


muncul. Menghentikan stopwatch bersamaan munculnya

benang fibril muncul. Waktu yang ditunjukkan merupakan waktu pembekuan darah.

Waktu pembekuan darah yang normal berkisar antara 5-15 menit

Menguji golongan darah

Menyiapkan kaca benda bersih, serum anti A serum anti B , tusuk gigi, alkohol 70%, kapas

Mengambil satu kaca benda, memberi tanda A disebelah kiri tanda B di sebelah kanan

Membersihkan ujung jari dan lanset dengan alkohol 70%, menusuk ujung jari dengan lanset
sampai keluar darah

Menghapus tetes darah pertama dengan kapas

Meneteskan tetes darah berikutnya satu tetes pada kaca benda sebelah kiri (A) dan sebelah kanan
(B)

Meneteskan serum anti A di sebelah kiri dan anti serum B di sebelah kanan

Mengaduk darah yang telah diberi anti serum tersebut dengan tusuk gigi (masing-masing dengan
tusuk gigi baru)

Mengamati terjadinya penggumpalan darah

Bila pada A menggumpal, maka golongan darahnya adalah golongan darah A. Bila pada B
menggumpal, maka golongan darahnya adalah golongan darah B

Memperkirakan kadar Hb

Menyiapkan kertashisap talquis

Membersihkan ujung jari dan lanset yang digunakan


dengan alkohol 70%, biarkan kering sendiri.

Menusuk ujung jari dengan lanset sampai keluar darah

Menghapus tetes pertama dengan kapas,


kemudian teteskan tetes darah berikutnya diatas kertas hisap talquis

Biarkan sedikit kering dan cocokkan dengan skala Hemoglobin

F. Data pengamatan
Menghitung sel darah putih

W1=75, W2= 89, W=90, W=78

= 432-> X
Menghitung sel darah merah

Total jumlah sel darah merah dari kelima kotak tersebut adalah 547 sel darah merah

Memperkirakan kadar Hb

Hasil pencocokan sample


darah dengan skala Hb
yang menunjukkan kadar
60%

Menguji golongan darah

Darah yang diberi tanda A dan B tidak mengalami penggumpalan. Sehingga golongan
darah O

Menguji kecepatan pembekuan darah

Darah yang tidak diberi anti koagulan terbentuk benang fibrin pada 2 menit 43 detik

Darah yang diberi anti koagulan membeku pada 9 menit 20 detik

G. Analisis d Data
Menghitung Sel darah putih

Pengenceran:
Volume darah (1ml) x as. Asetat (10) ml = 10 ml
Volume darah
Volume sel darah putih (1 mm2) x 4 daerah (4mm2) x tinggi cairan dibawah kaca penutp
(1 mm) = 0,4 mm3
Jumlah sel darah putih
X.10=4/10 mm3
1mm3 = 100X/4
X =25.432
X =10800 butir

Menghitung sel darah merah

Pada percobaan yang kedua, yakni di mana praktikan diminta untuk menghitung sel darah merah
yang ada pada bidang pandang sel darah merah pada hemasitometer. Berdasarkan hasil
praktikum diperoleh total sel darah merah yang merupakan akumulasi dari 5 bidang padang
yakni 547 sel darah merah. Pada kotak/ bidang pandang pertama dan kedua didapat jumlah sel
darah merah masing-masing sebanyak 107 sel, bidang ketiga 103 sel, bidang keempat 100 sel
dan bidang yang terakhir sebanyak 130 sel darah merah. Dan dari data tersebut dicari jumlah sel
darah merah dalam 1 mm3 (cc) dengan rumus:
1 mm3 = 50X x 200
dengan X merupakan total sel darah merah dari kelima bidang tadi yakni 547 sel, maka:
1 mm3 = 50X x 200
1 mm3 = 50 (547) x 200
1 mm3 = 27350 x 200
1 mm3 = 5.470.000 sel
Menguji golongan darah

Dari hasil percobaan yang kami lakukan untuk mengetahui penggolongan darah, kami
mendapatkan data bahwa tidak terjadi penggumpalan pada kedua darah yang ditetesi serum A
dan serum B. Dari data tersebut dapat disimpulkan darah tesebut golongannya adalah O
Kecepatan pembekuan darah

Pada percobaan kali ini kami menguji kecepatan pembekuan darah. Kami
membandingkan kecepatan pembekuan darah yang telah diberi anti koagulan dan daah tanpa anti
koagulan. Dari percobaan kami mendapatkan data bahwa darah tanpa anti koagulan membeku
setelah diaduk-aduk setelah 2 menit 43 detik, sedangkan daah yang diberi anti koagulab beku
setelah diaduk selama 9 menit 20 detik. Dari data tersebut diketahui bahwa darah yang tidak
diberi anti koagulan akan membeku lebih cepat daripada darah yang diberi anti koagulan.

Memperkirakan kadar Hb

Dari hasil pengamatan yang kami lakukan terhadap kadar Hb dari salah satu anggota
kelompok kami, kemudian dicocokkan dengan skala Hb, terlihat bahwa warna darah anggota
kelompok tadi cocok dengan warna merah yang menunjukkan kadar Hb dalam darah 60%.

H. Pembahasan
Menghitung sel darah putih

Pengenceran yang terjadi dengan pipet adalah 10x. jumlah sel yang dihitung dalam keempat
bidang dibagi 4 menunjukan laukosit bdalam 0,1 L. angka tersebut dikalikan 10 (untuk tinggi)
dan 10 (untuk pengenceran) untuk mendapatkan jumlah leukosit dalam I L darah. Singkat:
jumlah sel dihitung dikali 50= jumlah leukosit per L darah.

Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh jumlah leukosit setelah dihitung adalah 10.800
butir. Hal ini sesuai dengan literature yang menunjukkan bahwa jumlah leukosit normal pada
mamalia adalah rata-rata 4000-11.000 sel/cc. factor tersebut karena praktikum yang dilakukan
sesuai dengan prosedur. Larutan yang digunakan sebagai member warna leukosit dan memecah
eritrosit serta trombosit, tetapi tidak memecah leukosit maupun eeritrosit berinti

Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh bahwa jumlah eritrosit

Menghitung sel darah merah


Pada praktikum ini kami menghitung jumlah darah merah. Menghitung jumlah eritrosit
yang terkandung dalam darah memang bukan suatu hal yang mudah karena sel-sel darah merah
yang terkandung dalam darah berukuran sangat kecil sehingga dibutuhkan seperangkat alat yang
dinamakan dengan Haemocytometer dengan bantuan mikroskop dan juga counter. Dalam proses
penghitungan sel-sel darah merah dibutuhkan juga ketelitian dan konsisten dalam cara
menghitung. Dalam penghitungan digunakan larutan hayem yang digunakan sebagai larutan
pengenceran dan berbeda antara pengamatan sel darah merah dan sel darah putih. Prinsipnya
larutan tersebut isotonis dengan sel darah yang akan dihitung dan menyebabkan lisisnya sel-sel
darah yang tidak dihitung. Pada larutan hayem menyebabkan lisisnya sel darah putih, sehingga
tidak nampak dalam pengamatan.

Dari perhitungan diperoleh jumlah eritrosit dari praktikum ini adalah 5.470.000 /cc. Hasil
yang diperoleh sesuai dengan kajian dari literatur, yaitu pada keadaan normal jumlah eritrosit
pada mamalia sekitar 5 juta-6 juta sel/cc. Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu yang
satu dengan yang lainnya. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila terjadi perubahan atau pada
waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan. Jumlah
eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress.
Dan dalam kegiatan praktikum ini subjek yang melakukan adalah laki-laki. Banyaknya jumlah
eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri (Schmidt dan Nelson, 1990). Dallman
dan Brown (1987) menyatakan bahwa, hewan yang memiliki sel darah kecil, jumlahnya banyak.
Sebaliknya yang ukurannya lebih besar akan mempunyai jumlah yang lebih sedikit. Jumlah sel
darah merah yang banyak, juga menunjukkan besarnya aktivitas hewan tersebut.

Memperkirakan kadar Hb

Kadar Hb 60% menunjukkan bahwa anggota yang darahnya kami jadikan sample tidak
normal kandungan Hbnya. Biasanya hal ini disebabkan karena seseorang menderita anemia.
Anemia adalah berkurangnya kadar eritrosit (sel daah merah) dan kadar Hemoglobin (Hb) dalam
setiap milimeter kubik darah dalam tubuh manusia. Hampir semua gangguan pada sistem
peredaran darah disertai dengan anemia yang ditandai dengan warna kepucatan pada tubuh,
penurunan kerja fisik, penurunan daya tahan tubuh.Penyebab anemia bermacam-macam diantaranya
adalah anemia defisiensi zat besi.Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh
kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi untuk eritropoesis tidak cukup, yang
ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum dan jenuh
transferin menurun, kapasitas ikat besi total meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta
ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali.
Untuk mencegah maupun menangani anemia dapat dilakukan melalui makanan.Makanan
yang banyak mengandung zat besi adalah bahan makanan yang berasal dari daging hewan.Selain
banyak mengandung zat besi, serapan zat besi dari sumber makanan tersebut mempunyai angka
keterserapan sebesar 20-30%.Sebagian besar penduduk di negara yang sedang berkembang tidak
mampu menghadirkan bahan makanan tersebut.Kebiasaan konsumsi makanan yang dapat
mengganggu penyerapan zat besi seperti kopi dan teh secara bersamaan pada waktu makan
menyebabkan serapan zat besi semakin rendah.

Menguji golongan darah

Membran eritrosit mengandung dua antigen, yaitu tipe-A dan tipe-B. Antigen ini disebut
aglutinogen. Sebaliknya, antibodi yang terdapat dalam plasma akan bereaksi spesifik terhadap
antigen tipe-A atau tipe-B yang dapat menyebabkan aglutinasi(penggumpalan) eritrosit. Antibodi
plasma yang menyebabkan penggumpalan aglutinogen disebut aglutinin. Ada dua macam
aglutinin, yaitu aglutinin-a (zat anti-A) dan aglutinin-b(zat anti B).
Aglutinogen-A memiliki enzim glikosil transferase yang mengandung asetil glukosamin
pada rangka glikoproteinnya. Sedangkan aglutinogen-B mengandung enzim galaktosa pada
rangka glikoproteinnya. Ahli imunologi (ilmu kekebalan tubuh) kebangsaan Austria bernama
Karl Landsteiner (1868-1943) mengelompokan golongan darah manusia. Berdasarkan ada atau
tidaknya aglutinogen, golongan darah dikelompokan menjadi :
Golongan darah A, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-A dan aglutinin-b dalam
plasma darah.
Golongan darah B, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-B dan aglutinin-a dalam
plasma darah.
Golongan darah AB, yaitu jika eritrosit mengandung glutinogen-A dan B, dan plasma darah
tidak memiliki aglutinin.
Golongan darah O, yaitu jika eritrosit tidak memiliki aglutinogen-A dan B, dan plasma
darah memiliki aglutinin-a dan b.
Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan darah memiliki golongan O karena tidak terjadi
penggumpalan ketika diberi serum anti A dan serum anti B. artinya darah tidak memiliki
aglutinogen A dan aglutinogen B karena tidak menggumpal ketika diberi serum anti A dan anti
B. golongan darah ditentukan oleh aglutinogennya.
Kecepatan pembekuan darah

Pembekuan dimulai ketika keping-keping darah dan faktor-faktor lain dalam plasma
darah kontak dengan permukaan yang tidak biasa, seperti pembuluh darah yang rusak atau
terluka.Pada saat terjadi luka pada permukaan tubuh, komponen darah, yaitu trombosit akan
segera berkumpul mengerumuni bagian yang terluka dan akan menggumpal sehingga dapat
menyumbat dan menutupi luka. Di dalam plasma darah terdapat trombosit yang akan pecah
apabila menyentuh permukaan yang kasar. Jika trombosit pecah, enzim tromboplastin yang
dikandungnya akan keluar bercampur dengan plasma darah. Selain trombosit, di plasma darah
terdapat protombin. Protombin akan diubah menjadi trombin oleh enzim tromboplastin.
Perubahan protombin menjadi trombin dipicu oleh ion kalsium (Ca2+). Protombin adalah suatu
protein plasma yang pembentukannya memerlukan vitamin K. Trombin akan berfungsi sebagai
enzim yang dapat mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrinogen adalah suatu protein yang
terdapat dalam plasma. Adapun fibrin adalah protein berupa benang-benang yang tidak larut
dalam plasma. Benang-benang fibrin yang terbentuk akan saling bertautan sehingga sel-sel darah
merah beserta plasma akan terjaring dan membentuk gumpalan. Kecepatan penggumpalan darah
secara normal terjadi selama 2 sampai 6 menit apabila darah dikelurkan dari tubuh.
Pada darah yang diberi anti koagulan membeku lebih lama karena darah tersebut diberi
zat yang dapat menunda pembekuan darah. Sehingga pada praktikum ini darah yang diberi anti
koagulan membeku lebih lama dari pada darah yang tidak diberi anti koagulan.

I. Kesimpulan
Jumlah leukosit setelah dihitung adalah 10.800 butir berarti normal.
Jumlah eritrosit dari praktikum ini adalah 5.470.000 /cc berarti normal.
Golongan darah O, yaitu jika eritrosit tidak memiliki aglutinogen-A dan B, dan plasma
darah memiliki aglutinin-a dan b.
Dari percobaan kami mendapatkan data bahwa darah tanpa anti koagulan membeku
setelah diaduk-aduk setelah 2 menit 43 detik berarti normal
Kadar Hb 60% menunjukkan bahwa anggota yang darahnya kami jadikan sample tidak
normal kandungan.
J. Daftar pustaka

Anonim. 2010. Hemoglobin. (online). (http:/// wikipedia. Org. wiki/Hemoglobin-html/). Di akses


pada tanggal 19 Februari 2010.
Endi, Adauchi. 2011. Praktikum Kadar Hemoglobin. (online).
(http://www.scribd.com/doc/46845030/Praktikum-Kadar-Hemoglobin). Diakses
tanggal 23 Oktober 2012
MedanRahardja, Tri .2006 .Histologi Dasar .Erlangga : Jakarta
Prawirohartono, Selamet. 1996. Sains Biologi. Bumi Aksara : Jakarta
Rusdi dan Bambang K.Karnoto . 2004. Biologi Dasar Untuk Umum. Erlangga : Jakarta
Tim Dosen .2010 .Anatomi Fisiologi Manusia. Jurusan Biologi FMIPA UNIMED