Anda di halaman 1dari 32

PROPOSAL PENELITIAN

TINDAKAN KELAS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK


MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATA
PELAJARAN GAMBAR TEKNIK SMK NEGERI 1 PAJANGAN

Dosen Pengampu:
Drs. Nuryadin Eko Raharjo

Disusun Oleh:
Andre Arditya Octadio (14505241008)

Guru mata pelajaran Gambar Teknik:


Andrianto H W, S.T.

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN


PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA 2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas limpahan rahmat dan karunia-
Nya atas terelesainya penulisan proposal Penelitian Tindakan Kelas. Proposal ini disusun sebagai
bentuk perhatian penulis terhadap perkembanagn mutu pembelajaran di Indonesia dan sekaligus
untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan penulisan proposal ini tidak lepas dari
dukungan beberapa pihak yang telah membantu terselesaikannya penulisan proposal ini. Oleh
karena itu perkenankanlah pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Drs Nuryadin Eko Raharjo,MT. selaku dosen mata kuliah penelitian tindakan kelas.
2. Akhmad Fuadi S.TP. selaku kepala sekolah SMK Negeri 1 Pajangan.
3. Sugiharjono, S.Pd. selaku ketua jurusan paket keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri
1 Pajangan.
4. Andrianto H W, S.T. selaku guru pembimbing mata pelajaran Gambar Teknik
5. Keluarga besar SMK Negeri 1 Pajangan yang telah menyambut kami dengan baik
Atas segala jerih payah dan jasa yang telah diberikan, penulis mengucapkan terimakasih dan
semoga amal kebaikan semua pihak mendapat imbalan dari Allah Subhanahu Wataala.
Dalam penulisan proposal ini tentunya jauh dari sempurna oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan karya ini. Besar harapan penulis, semoga
laporan ini bermanfaat bagi para pembaca.

Bantul, 23 Maret 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i


KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR ........................................................................ iv
BAB I
PENDAHULUAN ..................................................................................................... 5
A. Latar Belakang Masalah .................................................................................... 5
B. Identifikasi Masalah ........................................................................................... 6
C. Batasan Masalah ................................................................................................. 6
D. Rumusan Masalah ............................................................................................... 7
E. Tujuan Penelitian ................................................................................................ 7
F. Manfaat penelitian .............................................................................................. 7
BAB II
LANDASAN TEORI ................................................................................................ 9
A. Kajian Teori ........................................................................................................ 10
B. Kerangka Pikir .................................................................................................... 18
C. Hipotesis ............................................................................................................. 19
BAB III
METODE PENELITIAN ........................................................................................ 21
A. Jenis dan Desain Penelitian ................................................................................. 21
B. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................................. 26
C. Subjek Penelitian ................................................................................................ 26
D. Jenis Tindakan .................................................................................................... 27
E. Teknik dan Instrumen Penelitian ........................................................................ 29
F. Teknik Analisis Data .......................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 32

3
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Sintaks Model pembelajaran ............................................................... 11

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Gambar desain penelitian model Kemmis and Mc Taggrat ............... 22

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Sekolah Menengah Kejuruan selanjutnya dalam penelitian ini disebut (SMK) diberi
amanah oleh undang-undang untuk menyiapkan sumber daya manusia yang siap memasuki
dunia kerja dan menjadi tenaga kerja yang produktif. Lulusan SMK idealnya merupakan
tenaga kerja yang siap pakai, dalam arti langsung bisa bekerja di dunia usaha dan industri.
Permasalahan SMK saat ini pada umumnya terkait dengan keterbatasan peralatan, masih
rendahnya biaya praktik, dan lingkungan belajar yang tidak serupa dengan dunia kerja.

SMK pada dasarnya mempunyai tujuan untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki
pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang sesuai dengan sifat spesialisasi kejuruan dan
persyaratan dunia industri dan dunia usaha. Di dalam menghadapi era industri dan
persaingan bebas dibutuhkan tenaga kerja yang produktif, efektif, disiplin dan
bertanggungjawab sehingga mampu mengisi, menciptakan, memperluas lapangan
pekerjaan.

Dalam proses belajar mengajar dikelas berlangsung, banyak kendala yang sering
dihadapi oleh guru yaitu diantaranya siswa yang malas, bosan pelajaran gambar, mengantuk,
dan sebagainya. Dari sekian banyak persoalan dalam pembelajaran, guru dituntut dengan
segala kemampuan agar siswa mengerti terhadap materi pelajaran yang diberikan. Salah satu
upaya guru untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengembangkan potensi guru
melalui variasi cara mengajar.
Berdasarkan hasil observasi di SMK N 1 Pajangan mendapatkan hasil/data bahwa
aktivitas siswa kurang aktif dalam merespon informasi mengenai materi yang disampaikan
oleh guru. Sehingga siswa tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai materi yang
sudah disampaikan oleh guru, serta langkah-langkah menggambar yang sesuai dengan
prosedur yang disampaikan oleh guru. Maka pada saat proses menggambar berlangsung
siswa tidak dapat menerapkan materi yang telah disampaikan dengan baik dan juga hasil
gambar yang kurang maksimal.

5
Menanggapai permasalahan yang dihadapi oleh siswa dan begitu pentingnya mata
pelajaran gambar teknik untuk kelas X program keahlian teknik gambar bangunan tentang
dasar-dasar menggambar dan menyajikan gambar konstruksi geometris. Dari permasalahan
diatas menggunakan masalah yang nyata dalam proses pembelajaran dikelas untuk
meningkatkan kemampuan berfikir siswa dalam menyelesaikan masalah dan meningkatkan
keterampilan siswa dalam menggunakan alat-alat gambar dengan menggunakan metode
pembelajaran Problem Based Learning. Model pembelajaran Problem Based Learning
merupakan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata (autentik) sebagai konteks bagi
peserta didik untuk memotivasi, mengidentifikasi dan berpikir kritis dalam menyelesaikan
masalah serta sekaligus membangun pengetahuan yang benar-benar bermakna.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan diatas, maka dapat diidentifikasi pokok-pokok
masalah antara lain sebagai berikut:
1. Masih rendahnya motivasi siswa dalam mengikuti suatu pelajaran. Hal ini
terlihat dari banyaknya siswa yang tidur-tiduran dan tidak memperhatikan
ketika guru mengajar.
2. Masih banyaknya siswa memiliki prestasi belajar rendah dilihat dari tugas
tugas harian yang masih belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal
(KKM).
3. Proses belajar yang dilakukan masih belum banyak variasi, yaitu masih
menggunakan metode ceramah, sehingga membuat siswa merasa tidak
ada motivasi dalam mengikuti pelajaran karena suasana belajar menjadi
lebih tegang.
4. Masih jarang yang menggunakan model pembelajaran problem based
learning pada proses pembelajaran di sekolah.

C. BATASAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah disebutkan,
untuk memperjelas penelitian yang akan dilakukan dan agar mendapatkan hasil penelitian

6
yang tepat, fokus serta penafsiran terhadap hasil penelitian tidak berbeda, maka perlu
dilakukan pembatasan masalah.
Penelitian ini hanya berfokus pada penerapan metode pembelajaran Problem Based
Learning untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri 1 Pajangan
pada mata pelajaran Gambar Teknik. Prestasi belajar yang akan diukur dibatasi hanya pada
aspek kognitif.

D. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian tentang permasalahan di atas dapat dirumuskan permasalahannya sebagai
berikut :
1. Bagaimanakah cara meningkatkan motivasi belajar siswa jurusan teknik gambar
bangunan SMK Negeri 1 Pajangan dalam belajar dan menyelesaikan tugas-tugas
menggambar teknik dengan metode Problem Based Learning?
2. Bagaimanakah cara meningkatkan prestasi belajar siswa jurusan teknik gambar
bangunan SMK Negeri 1 Pajangan dalam belajar dan menyelesaikan tugas-tugas
menggambar teknik dengan metode Problem Based Learning?
3. Bagaimana perkembangan pembelajaran setelah dilakukan dengan metode Problem
Based Learning?

E. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang hal-hal sebagai berikut :
1. Mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa Teknik Gambar Bangunan (TGB)
setelah diterapkannya metode pembelajaran problem based learning pada mata
pelajaran gambar teknik di SMK Negeri 1 Pajangan.
2. Mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa Teknik Gambar Bangunan (TGB)
setelah diterapkannya metode pembelajaran problem based learning pada mata
pelajaran gambar teknik di SMK Negeri 1 Pajangan.

F. MANFAAT PENELITIAN
Dari hasil penelitian ini, peneliti mengharapkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan
tidak hanya untuk satu pihak, namun juga beberapa pihak yang terkait.

7
1. Manfaat bagi siswa, model pembelajaran yang dikembangkan ini diharap
siswa mampu :
a. Mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah dan keterampilan
intelektual.
b. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam pembelajaran.
c. Belajar dalam suasana yang menyenangkan.
d. Sebagai peningkatan belajar siswa dalam bekerjasama.
2. Manfaat bagi Guru
a. Menambah wawasan guru untuk menerapkan model pembelajaran berbasis
masalah.
b. Guru lebih terampil dalam menggunakan metode belajar.
c. Sebagai umpan balik untuk mengetahui kesulitan siswa
3. Manfaat bagi Mahasiswa Peneliti
a. Memperoleh pengalaman strategi pembelajaran
b. Memperoleh wawasan tentang pelaksanaan metode pembelajaran berbasis masalah.
c. Memberi bekal peneliti sebagai calon guru bangunan siap melaksanakan tugas di
lapangan.

8
BAB II
LANDASAN TEORI

A. KAJIAN TEORI
1. Tinjauan Metode Problem Based Learning (PBL)
a. Pengertian Model Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran
yang dapat menolong siswa untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan
pada era globalisasi saat ini. Problem Based Learning (PBL) dikembangkan untuk
pertama kali oleh Prof. Howard Barrows sekitar tahun 1970-an dalam ilmu
pelajaran medis di McMaster University Canada (Amir, 2009). Model
pembelajaran ini menyajikan suatu masalah yang nyata bagi siswa sebagai awal
pembelajaran kemudian diselesaikan melalui penyelidikan dan diterapkan dengan
menggunakan pendekatan pemecahan masalah.
Beberapa definisi tentang Problem Based Learning (PBL) :
1). Menurut Arends (Trianto, 2007), Problem Based Learning (PBL) merupakan
suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah
autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya
sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri,
memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
2). Menurut Trianto (2010: 90), model pembelajran berdasarkan masalah
merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada pada banyaknya
permasalahan yang membutuhkan penyelidikan autentik. Model Problem
Based Learning (PBL) bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata
sebagai suatu yang harus dipelajari siswa. Dengan model Problem Based
Learning diharapkan siswa mendapatkan lebih banyak kecakapan daripada
pengetahuan yang dihafal. Mulai dari kecakapan memecahkan masalah,
kecakapan berfikir kritis. Kecakapan bekerja dalam kelompok, kecakapan
interpersonal dan komunikasi, serta kecakapan pecarian dan pengolahan
informasi. Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran Problem Based Learning adalah pembelajaran yang

9
menggunakan masalah nyata (autentik) sebagai konteks bagi peserta didik
untuk memotivasi, mengidentifikasi dan berpikir kritis dalam menyelesaikan
masalah serta sekaligus membangun pengetahuan yang benar-benar bermakna.
b. Tujuan Problem Based Learning
Tujuan utama Problem Based Learning bukanlah penyampaian sejumlah
besar pengetahuan kepada peserta didik, melainkan pada pengembangan
kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk secara aktif membangun
pengetahuan sendiri. Menurut Trianto (2010: 94) tujuan Problem Based Learning
adalah sebagai berikut:
1) Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan
pemecahan masalah.
2) Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
3) Menjadi pembelajar yang mandiri.
c. Prinsip-prinsip Problem Based Learning
Prinsip utama Problem Based Learning adalah penggunaan masalah nyata
sebagai sarana bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan
sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan
masalah. Masalah nyata adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari
dan bermanfaat langsung apabila diselesaikan. Problem Based Learning
mendorong kemampuan untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan untuk
aplikasi tertentu, di mana dan bagaimana mencari informasi itu, bagaimana
mengatur informasi bahwa dalam kerangka konseptual yang bermakna.
Pemilihan atau penentuan masalah nyata ini dapat dilakukan oleh guru
maupun peserta didik yang disesuaikan kompetensi dasar tertentu. Masalah itu
bersifat terbuka (open-ended problem), yaitu masalah yang memiliki banyak
jawaban atau strategi penyelesaian yang mendorong keingintahuan peserta didik
untuk mengidentifikasi strategi-strategi dan solusi-solusi tersebut. Masalah itu juga
bersifat tidak terstruktur dengan baik (illstructured) yang tidak dapat diselesaikan
secara langsung dengan cara menerapkan formula atau strategi tertentu, melainkan
perlu informasi lebih lanjut untuk memahami serta perlu mengkombinasikan

10
beberapa strategi atau bahkan mengkreasi strategi sendiri untuk
menyelesaikannya.Kurikulum 2013 menurut Permendikbud nomor 81a tahun 2013t
entang implementasi kurikulum, menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan
tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik.
Peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif
mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Di dalam
PBL pusat pembelajaran adalah peserta didik (student-centered), sementara guru
berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi peserta didik untuk secara aktif
menyelesaikan masalah dan membangun pengetahuannya secara berpasangan
ataupun berkelompok (kolaborasi antar peserta didik).
d. Langkah-langkah Problem Based Learning (PBL)
Pada dasarnya, Problem Based Learning diawali dengan aktivitas peserta
didik untuk menyelesaikan masalah nyata yang ditentukan atau disepakati. Proses
penyelesaian masalah tersebut berimplikasi pada terbentuknya keterampilan peserta
didik dalam menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta sekaligus membentuk
pengetahuan baru. Proses tersebut dilakukan dalam tahapan-tahapan atau sintaks
pembelajaran yang disajikan pada Tabel berikut:
Tahapan-tahapan Pembelajaran Problem Based Learning

Tabel. Sintaks Model pembelajaran berdasarkan masalah


Fase Indikator Aktifitas / Kegiatan Guru
1 Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan
logistikyang diperlukan, pengajuan
masalah, memotivasi siswa terlibat
dalam aktivitas pemecahan masalah
yang dipilihnya.
2 Mengorganisasikan siswa untuk Guru membantu siswa mendefenisikan
belajar dan mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan masalah
tersebut.
3 Membimbing penyelidikan Guru mendorong siswa untuk
individual maupun kelompok mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen, untuk
mendapat penjelasan pemecahan
masalah.
4 Mengembangkan dan menyajikan Guru membantu siswa dalam
hasil karya merencanakan dan menyiapkan karya
yang sesuai seperti laporan, video,

11
model dan membantu mereka untuk
berbagai tugas dengan kelompoknya.

5 Menganalisa dan mengevaluasi Guru membantu siswa melakukan


proses pemecahan masalah refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dalam proses-
proses yang mereka gunakan.

e. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)


Menurut Sudjana (1996: 93) kelebihan model pembelajaran Problem Based
Learning adalah sebagai berikut :
1) Siswa memperoleh pengalaman praktis.
2) Kegiatan belajar lebih menarik sehingga tidak membosankan.
3) Bahan pengajaran lebih dihayati dan dipahami oleh siswa.
4) Siswa dapat belajar dari berbagai sumber.
5) Interaksi social antar peserta lebih berkembang.
6) Siswa belajar melakukan analisis dan sintesis secara simultan dan
membiasakan siswa berfikir logis dan sistematis dalam pemecahan masalah.
Menurut Sudjana (1996: 93) kelemahan model pembelajaran Problem Based
Learning adalah sebagai berikut :
1) Menuntut sumber-sumber dan saran belajar yang cukup.
2) Kegiatan belajar siswa bias membawa resiko yang merugikan jika tidak
dikendalikan oleh guru.
3) Siswa cenderung untuk menerima jawaban atau dugaan sementara apabila
masalah tidak berbobot.
2. Tinjauan Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelengaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti
keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada keberhasilan
proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Belajar mempunyai
bentuk dan jenis yang sangat beragam, mengambil ruang di berbagai tempat baik

12
dalam format pendidikan formal, non formal maupun informal dengan komleksitas
yang berbeda mulai dari yang sederhana sampai yang canggih.
Sejalan dengan perubahan paradigma dalam belajar, belajar tidak efektif jika
anak hanya duduk dengan manis di kelas sementara guru menjejali anak dengan
berbagai hal. Oleh karena itu guru dituntut agar dapat merekayasa model
pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan dijadikan proses
pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa. Setelah melakukan
proses belajar maka siswa diharapkan dapat mencapai tujuan belajar yang disebut
juga sebagai hasil belajar yaitu kemampuan yang dimiliki siswa setelah menjalani
proses belajar.
Tujuan belajar adalah ingin mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan
penanaman sikap mental/nilai-nilai. Pencapaian tujuan belajar akan menghasilkan,
hasil belajar yang relevan dengan uraian mengenai tujuan belajar tersebut, maka
hasil belajar itu meliputi:
1). Aspek kognitif
Pada aspek ini memiliki enam jenjang kemampuan yaitu:
a). Pengetahuan (knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan,
definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan
lain sebagainya.
b). Pemahaman (comprehension)
Berisikan kemampuan mendemonstrasikan fakta dan gagasan
mengelompokkan dengan mengorganisir, membandingkan,
menerjemahkan, memaknai, memberi deskripsi, dan menyatakan gagasan
utama.
c). Penerapan (aplication)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan
gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, di dalam kondisi kerja.
d). Analisis (analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang
masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian

13
yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu
mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah
skenario yang rumit.
e). Sintesis (synthesis)
Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu
menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya
tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus
didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan.
f). Evaluasi (evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi,
gagasan, metodologi dengan menggunakan kriteria yang cocok atau
standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.
2). Aspek afektif
Aspek afektif yaitu internalisasi sikap yang menunjuk ke arah
pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta didik menjadi sadar tentang nilai
yang diterima, kemudian mengambil sikap sehingga menjadi bagian dari
dirinya dalam membentuk nilai dan membentuk tingkah laku. Aspek afektif
terdiri dari beberapa jenjang yaitu:
a). Kemauan menerima (receiving)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya.
Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian,
mempertahankannya, dan mengarahkannya.
b). Kemauan menanggapi/menjawab (responding)
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi
persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
c). Menilai (valuing)
Berkaitan dengan nilai atau harga yang diterapkan apda suatu objek,
fenomena atau tingkah laku. Penilaian berdasarkan pada internalisasi dari
serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

14
d). Organisasi (organization)
Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya,
dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
3). Aspek psikomotorik
Aspek psikomotorik yaitu kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan
gerakan tubuh atau bagian-bagiannya, mulai dari gerakan yang sederhana
sampai dengan gerakan yang kompleks. Perubahan pola memakan waktu
sekurang-kurangnya 30 menit. Kata kerja operasional yang digunakan harus
sesuai dengan kelompok keterampilan masingmasing, yaitu:
a). Muscular or motor skill, meliputi: mempertontonkan gerak, menunjukan
hasil, melompat, menggerakkan, menampilkan.
b). Manipulation of materials or objects, meliputi: mereparasi, menyusun,
membersihkan, menggeser, memindahkan, membentuk.
c). Neuromuscular coordination, meliputi: mengamati, menerapkan,
menghubungkan, menggandeng, memadukan, memasang, memotong,
menarik, dan menggunakan (Zainal Arifin, 2009: 21-23).
Ketiga hasil belajar di atas dalam pengajaran merupakan tiga hal yang secara
perencanaan dan progmatik terpisah namun dalam kenyataannya pada diri siswa
merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat.
b. Proses Belajar
Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam
mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang, dalam
hal ini adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik. Salah
satu peran yang dimiliki oleh seorang guru untuk melalui tahap-tahap ini adalah
sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik guru harus berupaya dengan
optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik
anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran. Kualitas pembelajaran atau
pembentukan kompetensi dapat dilihat dari segi proses dan segi hasil.
Segi proses, pembelajaran atau pembentukan kompetensi dikatakan berhasil
dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidaktidaknya sebagian besar tujuh puluh

15
lima persen peserta didik terlibat secara aktif, di samping menunjukkan kegairahan
belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.
Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila
terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau
setidak-tidaknya sebagian besar tujuh puluh lima persen (Mulyasa, dalam
Siswidyawati 2009: 24). Seorang guru melakukan pengukuran hasil menggunakan
alat pengukur yang disebut tes, sedangkan dalam penilaian proses ia menggunakan
alat pengukur yang disebut alat pengukur non tes, seperti observasi, wawancara
kuesioner, skala nilai, daftar cek, catatan anekdote, dan sebagainya (Masidjo, dalam
Siswidyawati 2009: 52).
Sebagaimana yang diungkapkan oleh E.Mulyasa (2007), bahwa tugas guru
tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi
fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning)
kepada seluruh peserta didik, untuk mampu melakukan proses pembelajaran ini si
guru harus mampu menyiapkan proses pembelajarannya. Proses pembelajaran yang
akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan
teori-teori yang melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses
pembelajaran.
c. Hasil Belajar
Hasil belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hasil dapat diartikan
sebagai sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan, dan sebagainya oleh usaha dan
pikiran. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan tersebut
tergantung dari apa yang dipelajar oleh pembelajar. Oleh karena itu jika pembelajar
mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang sesuai
adalah penguasaan akan konsep.
3. Tinjauan Motivasi
a. Motivasi Belajar
Sardiman A.M. (2011: 75) mendefinisikan motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan

16
arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikendaki oleh subjek belajar itu
dapat tercapai.
Hamzah B. Uno (2008: 23) mendefinisikan motivasi belajar yaitu hakikat
motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang
belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan
berbagai indikator-indikator atau unsur yang mendukung.
Sedangkan menurut Iskandar (2009: 181) motivasi belajar adalah daya
penggerak dari dalam diri individu untuk kegiatan belajar untuk menambah
pengetahuan dan ketrampilan serta pengalaman. Motivasi itu tumbuh karena ada
keinginan untuk bisa mengetahui dan memahami sesuatu dan mendorong serta
mengarahkan minat belajar siswa sehingga sungguh sungguh untuk belajar dan
termotivasi untuk mencapai prestasi.
Berdasarkan pengertian diatas maka motivasi belajar dapat diartikan sebagai
dorongan yang timbul dari diri seseorang baik secara fisiologis maupun psikologis
baik dari internal maupun eksternal untuk memperoleh suatu kepandaian yang
ditandai dengan perubahan tingkah laku yang bersifat menetap.
b. Fungsi Motivasi dalam Belajar
Menurut Oemar Hamalik (2011: 161) fungsi motivasi dalam belajar yaitu:
1) Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan
timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.
2) Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan
kepencapaian tujuan yang diinginkan.
3) Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil.
Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
4. Tinjauan Mata Pelajaran Gambar Teknik
Mata pelajaran gambar teknik merupakan salah satu mata pelajaran kejuruan
yangada pada jurusan Teknik Bangunan pada program keahlian Teknik Gambar
Bangunan (TGB) di SMK Negeri 1 Pajangan. Pada mata pelajaran gambar teknik kelas
X TGB SMK Negeri 1 Pajangan materi yang akan diajarkan yaitu tentang gambar
kontruksi garis, konstruksi sudut, konstruksi lingkaran, konstruksi garis singgung, dan
konstruksi gambar bidang. Gambar teknik merupakan alat komunikasi yang

17
mengandung maksud tertentu, perintah-perintah, atau informasi dari pembuat gambar
(perencana) untuk disampaikan kepada pelaksana atau pekerja di lapangan dan bentuk
gambar kerja dilengkapi dengan keterangan-keterangan berupa kode, symbol yang
mempunyai satu arti, satu maksud dan satu tujuan.
Sedangkan menggambar teknik adalah salah satu unsur pokok dalam
perencanaan, selain itu juga suatu metode penuangan ide yang harus dapat dibaca oleh
pihak-pihak lain yang terkait. Presisi, akurasi standarisasi gambar teknik merupakan
syarat utama dalam menggambar dan bagi calon teknisi. Syarat tersebut bukan lagi
merupakan aturan yang harus dipenuhi, tetapi sudah merupakan sikap dan perilaku
dalam menghasilkan karya teknik. Menggambar sebuah garis dalam beberapa bentuk
merupakan salah satu materi yang harus dikuasi oleh siswa. Setiap garis dalam
menggambar memiliki arti tersendiri ketika orang lain yang melihat. Sehingga cara
menggambar garis harus sesuai dengan ketentuan yang sudah ada.
Keterampilan siswa dalam menggambar akan terlihat dari hasil gambar yang
sudah dibuat. Agar sebuah gambar dapat dan mudah dibaca, menggambar konstruksi
garis harus benar. Cara penggunaan penggaris yang harus benar sudah menjadi syarat
wajib ketika proses menggambar dan penggunaan pensil yang sesuai standart. Pada
materi menggambar sebuah lingkaran dapat digambar menjadi segi n beraturan tuntutan
yang harus dipenuhi yaitu cara peralatan gambar jangka yang benar.

B. KERANGKA PIKIR
Tujuan dalam pembelajaran penerapan gambar teknik adalah kompetensi
pembelajaran bisa tercapai dan hasil belajar siswa meningkat dengan mendapatkan hasil
yang optimal. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada guru pengampu mata pelajaran
tersebut diperoleh informasi bahwa tujuan pembelajaran belum menunjukan hasil yang
memuaskan. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa yang masih rendah dan siswa harus
melakukan remidi. Pemahaman siswa mengenai materi juga kurang maksimal. Dalam
proses pembelajaran penyampaikan materi masih menggunakan metode pembelajaran
dengan ceramah, sehingga komunikasi selalu berjalan satu arah dan siswa cenderung pasif.
Penggunaan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran merupakan salah
satu faktor penunjang keberhasilan pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang

18
menarik dan bervariasi akan menumbuhkan kreatifitas dan rasa penasaran siswa. Sehingga
apabila dalam pembelajaran gambar teknik menerapkan model pembelajaran Problem
Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Model pembelajaran Problem Based Learning adalah serangkaian aktifitas
pembelajaran yang dirancang dengan menghadapkan siswa dalam suatu masalah tertentu
dan diharapkan siswa dapat menyelesaikan masalah dengan keterampilan berfikir kritis dan
analisis sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan baru yang bermakna bagi dirinya.
Dalam pelaksanaan model pembelajaran Problem Based Learning dirancang masalah-
masalah yang menuntut siswa aktif untuk mendapatkan pengetahuan yang penting,
membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri
serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Suatu pembelajaran yang dilakukan
secara berkelompok akan memberikan motivasi kepada individu untuk berkompetisi
sehingga akan memberikan hasil belajar yang diinginkan.
Pada kegiatan praktik belajar mengajar didalam kelas banyak permasalahan yang
dihadapi oleh guru dan siswa. Seringnya peran guru yang mendominasi proses kegiatan
belajar mengajar di dalam kelas membuat siswa kurang bisa memahami materi yang
disampaikan. Penggunaan metode pmbelajaran konvensional yang diterapkan oleh guru
membuat guru tersebut lebih memprioritaskan menghabiskan materi secara langsung.
Sehingga menyebabkan hasil belajar siswa yang masih rendah, terutama pada mata
pelajaran gambar teknik. Hal ini memberikan gagasan kepada peneliti untuk menerapkan
model pembelajaran Problem Based Learning.
Perencanaan metode Problem Based Learning ini akan melibatkan siswa pada
masalah yang dihadapi selama proses mengambar. Sehingga penerapan model Problem
Based Learning diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Pada setiap pertemuan evaluasi terhadap proses pembelajaran perlu dikembangkan oleh
guru agar suasana didalam kelas terlihat lebih menarik dan tidak membosankan. Sehingga
ketika suasana suasana didalam kelas terasa menarik bagi siswa, maka hal ini akan
berpengaruh terhadap minat siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan hasil
belajar siswa.
Pada saat proses pembelajaran siswa diminta untuk mengumpulkan informasi atau materi
yang akan disampaikan yang menghadapkan siswa pada permasalahan yang ada. Beberapa

19
siswa yang masih kurang paham dengan materi yang sudah dipelajari guru akan
mengelompokkan menjadi beberapa kelompok. Hal ini akan membuat siswa lebih aktif
dalam kegiatan belajar didalam kelas. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal guru
harus membuat evaluasi dan penilaian terhadap tugas yang sudah diselesaikan.
Model pembelajaran berbasis masalah menuntut keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran. Siswa dihadapkan pada suatu masalah yang autentik yang dapat menantang
siswa untuk dipecahkan dengan bimbingan guru. Model pembelajaran Problem Based
Learning ini dapat menumbuhkan keaktifan berdiskusi siswa karena dalam metode tersebut
siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang
ditemui ketika proses menggambar. Sehingga proses pembelajaran yang dilakukan akan
lebih berpusat pada siswa, sehingga siswa ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran
dan dapat
mengembangkan cara belajar mandiri.

C. HIPOTESIS
Berdasarkan uraian landasan teori diatas, sebagai upaya meningkatkan hasil belajar dasar
gambar teknik siswa melalui model pembelajaran Problem Based Learning pada kelas X
TGB di SMK Negeri 1 Pajangan, maka dirumuskan suatu dirumuskan hipotesis tindakan
sebagai berikut:
1. Penerapan metode pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan motivasi
belajar menggambar Teknik Gambar Bangunan SMK N 1 Pajangan Tahun ajaran
2017/2018.
2. Penerapan metode pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan prestasi
belajar menggambar Teknik Gambar Bangunan SMK N 1 Pajangan Tahun ajaran
2017/2018.

20
BAB III
METODE PENELITIAN

A. JENIS DAN DESAIN PENELITIAN


1. Jenis Penelitian
Penelitian penerapan metode pembelajaran Problem Based Learning untuk
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa SMK Negeri 1 Pajangan program
keahlian Teknik Gambar Bangunan. Penelitian ini termasuk dalam jenis Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas ini dipilih dengan tujuan untuk
memperbaiki pembelajaran. Perbaikan dilakukan secara terus-menerus, selama kegiatan
penelitian berlangsung sampai masalah yang dihadapi terpecahkan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya
kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Penelitian tindakan disini adalah
kolaboratif partisipatoris, yaitu kerja sama antara peneliti dengan guru atau teman
sejawat di lapangan. Peneliti terlibat langsung dalam perencanaan, pelaksanaan,
observasi dan refleksi. Penelitian yang dilakukan berupa penelitian pengembangan
model pembelajaran dan tindakan. Penelitian tindakan terikat dalam perencanaan dan
pengimplementasian perangkat pembelajaran aktif (student center).
Dalam pelaksanaan ada hal penting yang tidak boleh terlewatkan oleh guru adapun
pelaksanaan Problem Based Learning seperti bawah ini:
a. Tugas-tugas perencanaan
1) Penetapan tujuan
Model problem based learning dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran
dan membantu siwa menjadi pelajar yang mandiri. Dalam pelaksanaanya
pembelajaran berdasarkan masalah bisa saja diarahkan untuk mencapai tujuan
tersebut.
2) Merancang situasi masalah
Beberapa guru dalam problem based learning lebih suka member kesempatan dan
keleluasaan kepada siswa untuk memilih masalah yang akan diselidiki, karena
cara ini dapat meningkatkan motivasi siswa. Situasi masalah yang baik seharusnya
autentik, mengandung teka-teki, dan tidak didefinisikan secara ketat,

21
memungkinkan kerja sama, bermakna bagi siswa, dan konsisten dengan tujuan
kurikulum.
3) Organisasi sumber daya dan rencana logistik
Dalam problem based learning siswa dimungkinkan bekerja dengan beragam
material dan peralatan, dan dalam pelaksanaannya bisa dilakukan di dalam
maupun di luar kelas. Oleh karena itu, tugas mengorganisasikan sumber daya dan
merencanakan kebutuhan untuk penyelidikan siswa, haruslah menjadi tugas
perencanaan yang utama bagi guru yang menerapkan pembelajaran berdasarkan
pemecahan masalah.
b. Tugas perencanaan
1) Orientasi siswa pada masalah
Siswa perlu memahami bahwa tujuan pembelajaran berdasarkan masalah adalah
tidak untuk memperoleh informasi baru dalam jumlah besar, tetapi untuk
melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah penting dan untuk menjadi
pembelajaran yang mandiri. Cara yang baik dalam menyajikan masalah untuk
suatu materi pelajaran dalam problem based learning adalah dengan
menggunakan kejadian yang nyata dan menimbulkan masalah sehingga
membangkitkan minat dan keinginan untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi.
2) Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Pada model problem based learning dibutuhkan pengembangan keterampilan
kerja sama di antara siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah secara
bersama.
3) Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Guru membantu siwa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber, siswa
diberi pertanyaan yang membantu mereka berpikir tentang suatu masalah dan
jenis informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa
diajarkan untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode
yang sesuai untuk masalah yang dihadapainya, siswa juga perlu diajarkan apa dan
bagaimana cara menyelidiki masalah yang benar. Selama tahap penyelidikan guru
memberikan bantuan yang dibutuhkan siswa tanpa mengganggu aktivitas siswa.

22
c. Lingkungan belajar dan tugas manajemen
Dalam model problem based learning, guru sering menggunakan sejumlah
bahan dan peralatan dan hal ini biasanya dapat menyulitkan guru dalam
pengelolaanya. Oleh karena itu, untuk efektivitas kerja guru harus memiliki aturan
dan prosedur yang jelas dalam pengelolaannya, penyimpanan, dan pembagian bahan.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, guru harus menyampaikan aturan, tata
karma, dan sopan santun yang jelas untuk mengendalikan tingkah laku siswa ketika
mereka melakukan penyelidikan di luar kelas termasuk di dalamnya ketika
melakukan penyelidikan.
d. Penilaian dan Evaluasi
Teknik penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model problem based
learning adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan siswa yang merupakan hasil
penyelidikan siswa.
Tugas penilaian dan evaluasi yang sasuai untuk model problem based learning
terutama terdiri menemukan prosedur penilaian alternative yang akan digunakan
untuk mengukur pekerjaan siswa, misalnya dengan penilaian kinerja dan peragaan
hasil. Penilaian kinerja dapat berupa penilaian melakukan pengamatan, penilaian
merumuskan pertanyaan, penilaian merumuskan sebuah hipotesis dan sebagainya
(Trianto,2009:102).

2. Desain Penelitian
Desain penelitian yang dipergunakan berbentuk siklus yang mengacu pada model
Kemmis and Mc Taggrat. Siklus ini tidak hanya berlangsung satu kali, tetapi beberapa
kali hingga tercapai tujuan yang diharapkan. Rencana penelitian tindakan kelas ini,
terdiri dari tiga siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin
dicapai. Desain yang dipergunakan dalam penelitian tindakan kelas ini berbentuk spiral
atau siklus diambil dari model Kemmis and Mc Taggrat yang terlihat pada gambar
dibawah ini.

23
Gambar desain penelitian model Kemmis and Mc Taggrat

a. Perencanaan (planning)
Proses perencanaan dimulai dari tahapan menentukan tujuan dan arah penelitian yaitu
mencari tahu mengenai hal-hal yang menjadi faktor penghambat peningkatan
kompetensi siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan pada
identifikasi masalah pada tahapan Pra PTK yang telah dilakukan, rencana tindakan
disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan. Rencana
tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci. Segala keperluan
pelaksanaan PTK, mulai dari materi atau bahan ajar, rencana pengajaran yang
mencakup metode/teknik mengajar, serta teknik atau instrumen observasi/evaluasi,
dipersiapkan dengan matang pada tahap perencanaan menggunakan metode
pembelajaran Student Center.
Dalam tahapan ini juga perlu diperhitungkan segala kendala yang mungkin timbul
pada tahap implementasi berlangsung. Dengan melakukan antisipasi lebih dari harapan
dalam pelaksanaan PTK dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan hipotesis yang
telah ditentukan.

24
b. Pelaksanaan tindakan (action)
Pada tahapan pelaksanaan ini, peneliti melakukan kegiatan pembelajaran didalam
kelas X program keahlian Teknik Gambar Bangunan (TGB) SMK Negeri 1 Pajangan
pada mata pelajaran survei dan pemetaan dan berusaha mengatasi masalah-masalah
yang sudah diidentifikasi di tahapan perencanaan dengan menggunakan metode
pembelajaran Creative Problem Solving. Hasilnya, diharapkan berupa peningkatan
efektifitas belajar mengajar dikelas dan peningkatan kompetensi siswa.
c. Observasi (observation)
Kegiatan atau tahapan observasi dilakukan bersama-sama dengan pelaksanaan
tindakan. Hasil dari data yang terkumpul pada tahapan ini berisi tentang pelaksanaan
tindakan dan rencana yang sudah dibuat, serta efek atau dampaknya terhadap proses
dan hasil intruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen yang telah
dikembangkan. Pada tahapan ini penggunaan beberapa jenis instrumen ukur penelitian
perlu dipertimbangkan untuk kepentingan triangulasi data. Dalam pelaksanaan
observasi seorang peneliti tidak bisa bekerja sendiri, dikarenakan pelaksanaan
observasi bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Maka pada tahapan observasi ini
guru atau peneliti bisa dibantu oleh pengamat dari luar seperti sejawat atau pakar.
Dengan adanya orang kedua atau observator maka akan mempermudah dalam
pelaksanaan dan PTK yang dilaksanakan menjadi bersifat kognitif. Observator
membantu peneliti dalam mengamati, mencatat, dan mendokumentasikan hal-hal yang
terjadi selama tindakan berlangsung untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
dalam penerapan metode pembelajaran Student Center untuk memperoleh data yang
diperlukan.
d. Refleksi (reflection)
Tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat saat dilakukan
pengamatan. Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya,
dianalisis, dan disintesis. Sehingga kekurangan yang ditemui pada siklus pertama
digunakan untuk perbaikan pada tindakan siklus selanjutnya agar lebih baik. Dalam
proses pengkajian data dimungkinkan untuk melibatkan orang kedua sebagai
kolaborator, seperti halnya pada saat observasi. Dalam hal ini, kolaborator hanya
bersifat sebagai pembantu peneliti agar lebih teliti lagi dalam merefleksi dan

25
mengevaluasi. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori
instruksional yang dikuasai dan relevan dengan tindakan kelas yang dilaksanakan
sebelumnya dapat menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan. Proses refleksi ini
memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan suatu keberhasilan dari
PTK. Dengan refleksi yang akurat dan dapat dipercaya akan didapat suatu masukan
yang sangat berharga dan akurat dalam penentuan tindakan selanjutnya. Dalam proses
refleksi ini keakuratan dan keanekaragaman instrumen observasi sangat menentukan
keberhasilan. Untuk memudahkan proses refleksi dapat dimunculkan kelebihan dan
kekurangan setiap tindakan yang dapat dijadikan dasar perencanaan selanjutnya.
Pelaksanaan refleksi diusahakan tidak boleh lebih dari 24 jam, sehingga setelah selesai
observasi langsung diadakan refleksi bersama kolaborator.

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN


1. Tempat Penelitian
Tempat yang digunakan untuk penelitian ini adalah SMK Negeri 1 Pajangan yang
beralamat Kelurahan Triwidadi Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I.
Yogyakarta, Telepon: 02747103821, kode Pos: 55751
2. Waktu PenelitianPelaksanaan penelitian ini ditargetkan akan dilaksanakan pada
semester ganjil mulai dari bulan September sampai dengan tujuan dari penelitian
tercapai.

C. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Negeri 1 Pajangan program studi
keahlian Teknik Gambar Bangunan (TGB). Dalam kompetensi keahlian Teknik Gambar
Bangunan terdapat dua kelas yaitu kelas X TGB 1 dan kelas X TGB 2. Jumlah populasi
murid Teknik Gambar Bangunan sebanyak 36 siswa yang tebagi dari 2 kelas, yaitu kelas A
dan kelas B.
Penentuan atau pemilihan kelas dilakukan melalui pertimbangan dan didapatkan
kelas A (X TGB 1) yang akan dijadikan sebagai kelas untuk penerapan penelitian PBL
(problem Based Learning). Pertimbangan tersebut didasarkan pada kurangnya aktivitas dan
hasil belajar siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Pertimbangan di atas mendasari

26
harus dilakukannya tindakan perbaikan di kelas tersebut, yaitu kelas A (X TGB 1)
mendapatkan perlakuan model pembelajaran Problem Based Learning dengan jumlah
sampel 18 siswa.

D. JENIS TINDAKAN
Dalam menyusun rancangan sebagai rencana untuk tindakan yang akan dilakukan oleh
peneliti beserta guru di sekolah. Dalam penelitian ini, pelaksanaanya direncanakan sampai
tercapainya indikator keberhasilan, tetapi jika belum tercapai akan dilanjutkan dengan
tahapan-tahapan siklus selanjutnya yang berkesinambungan dan berkalanjutan sampai
indikator keberhasilan tercapai. Setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan dengan empat
komponen tindakan, yaitu:

1. Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan ini, peneliti menyusun beberapa lembar kegiatan antara lain
sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi masalah dan menetapkan alternatif pemecahan masalah.
b. Membuat atau merencanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai
pedoman dalam pelaksanaan.
c. Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
d. Memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar.
e. Menentukan skenario pembelajaran sesuai dengan model Student Center.
f. Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan.
g. Menyususn Lembar Kerja Siswa sebagai sarana dalam kegiatan pembelajaran.
h. Menyususn lembar observasi sebagai alat ukur yang digunakan untuk mengukur nilai
afektif siswa ketika proses pembelajaran berlangsung.
i. Membuat format evaluasi yang berupa soal tes untuk mengukur kemampuan siswa
dalam pemecahan masalah yang ada setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan merupakan implementasi atau penerapan perencanaan. Peneliti
sebagai guru diharapkan dapat melaksanakan dan berusaha mengikuti apa yang telah
dirumuskan dalam rencana tindakan. Kegiatan ini dilaksanakan ke dalam dua siklus:

27
a. Rancangan Siklus I
1) Pendahuluan.
a) Membuka pelajaran dengan terlebih dahulu melakukan apersepsi untuk
membentuk pemahaman kepada siswa tentang apa yang akan menjadi bahasan
atau materi yang akan di laksanakan.
b) Membangkitkan motivasi siswa agar lebih semangat dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran.
c) Menyampaikan kompetensi dasar yang ingin dicapai dalam kegiatan
pembelajaran.
2) Kegiatan inti.
a) Menerapkan proses pembelajaran Student Center, yaitu pembelajaran yang
berpusat pada siswa. Diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara
aktif dalam membangun pengetahuan.
b) Memberikan meteri pembelajaran yang akan dipelajari.
c) Kegiatan pembelajaran bisa individual atau dengan pembagian kelompok.
d) Membagikan soal yang akan didiskusikan secara kelompok.
e) Meminta siswa untuk bekerja sama dalam kelompok.
f) Siswa kembali membentuk kelompok seperti langkah awal, setiap kelompok
membuat soal dan kunci soal tersebut yang nantinya akan dikerjakan oleh
kelompok lain.
g) Setiap kelompok mengerjakan soal dari kelompok lain.
h) Meminta kepada kelompok tertentu yang ditunjuk secara acak oleh guru untuk
mempresentasikan hasil diskusi mereka dan siswa lainnya menanggapi. Dalam
hal ini, guru berperan sebagai fasilitator.
i) Melakukan evaluasi hasil kerja dan memastikan bahwa seluruh kelompok telah
memahami materi yang dipelajari.
3) Penutup
a) Guru memberikan rangkuman dari hasil diskusi dalam pertemuan tersebut.
b) Guru memberikan kuis individu sebagai evaluasi akhir atas materi yang telah
dibahas.
c) Memberikan penghargaan pada kelompok yang dinilai memiliki kinerja bagus.

28
3. Observasi
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hal ini didasarkan
pada kondisi ril siswa saat pembelajaran. Ketika pembelajaran sebelum tindakan
dilakukan, aktivitas belajar siswa kurang. Pada tahap ini, guru melaksanakan
pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning.

Pembelajaran tiap siklus dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah dibuat.


Selanjutnya, pembelajaran yang telah dilakukan dianalisis untuk mengetahui kelemahan
dan kelebihan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis dilakukan perbaikan untuk
siklus selanjutnya, hingga diperoleh perkembangan aktivitas belajar siswa dalam
pembelajaran.
Observasi dilakukan selama pelaksanaan tindakan pada saat proses pembelajaran
berlangsung dan merupakan upaya untuk mengumpulkan data. Dalam melakukan
observasi, peneliti dibantu oleh observer (guru pamong dan teman sejawat).
4. Refleksi
Pada tahap ini dilakukan diskusi dan analisis dengan guru dan observer mengenai
hasil pengamatan yang dilakukan selama pembelajaran. Hasil dari diskusi dan analisis
pembelajaran digunakan sebagai pertimbangan untuk merencanakan pembelajaran pada
siklus selanjutnya.

E. TEKNIK DAN INSTRUMEN PENELITIAN


1. Teknik Pengumpulan Data
a. Metode Observasi
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data aktivitas belajar siswa dalam
proses pembelajaran menggunakan model PBL. Observasi dilakukan dengan
menggunakan lembar observasi pengamatan aktivitas belajar siswa yang telah
disiapkan sebelumnya. Observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses
belajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru pada
waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi siswa dalam simulasi, dan
penggunaan alat peraga pada waktu mengajar. Observasi dalam penelitian ini
digunakan untuk menggambarkan sikap siswa atau ranah afektif dalam pembelajaran
gambar teknik menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning.

29
a. Catatan Lapangan
Catatan lapangan berisi hal-hal yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.
Rangkuman data yang ditulis diantaranya yaitu situasi pembelajaran, interaksi antara
guru-siswa dan antara siswa-siswa, serta aspek-aspek lain selama proses
pembelajaran berlangsung.
b. Soal Pre-test dan Post-test
Soal pre-test dan post-test dibuat berdasarkan indikator pembelajaran dari tiap materi
yang disampaikan dan berbentuk pilihan ganda.
c. Analisis Tugas
Dalam hal ini analisis tugas diperoleh melalui hasil tugas gambar siswa, yang
sudah berpedoman pada jobsheet. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan keterampilan siswa. Selanjutnya hasil gambar tersebut akan dinilai
beberapa aspeknya antara lain garis, ukuran, konstruksi, tata letak, kebersihan, dan
ketepatan gambar.
2. Instrumen Penelitian
a. Instrumen Tes (Ranah Kognitif)
Dalam penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar siswa pada ranah kognitif
peneliti menggunakan instrumen tes berupa tes obyektif. Tes obyektif adalah bentuk
tes yang mengandung kemungkinan jawaban atau respon yang harus dipilih oleh
peserta tes, dimana kemungkinan jawaban atau respon disediakan oleh peneliti. Tipe
tes yang digunakan oleh peneliti adalah multiple choice test. Alternatif kemungkinan
jawaban peneliti terdapat 4 kemungkinan. Penskoran instrumen tes ini disesuaikan
dengan kunci jawaban yang telah disediakan. Dimana jika jawaban benar nilainya 1
dan jika jawaban salah atau tidak menjawab nilainya adalah 0. Jumlah soal instrumen
tes adalah 20 butir soal. Pelaksanaan penggunaan instrumen tes dilakukan 2 kali yaitu
ketika pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan ketika posttest untuk
mengetahui kemampuan siswa setelah proses pembelajaran berlangsung.
Sebelum instrumen penelitian diberikan kepada siswa pretest maupun posttest,
instrumen tes dikonsultasikan kepada guru bidang studi dasar gambar teknik di
tempat penelitian. Setelah data hasil uji coba diperoleh, kemudian setiap butir soal
dianalisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, indeks kesukaran dan daya beda.

30
b. Observasi (Ranah Afektif)
Lembar observasi afektif yang digunakan adalah rubrik penilaian observasi.
Tujuan dari pembuatan lembar observasi ini adalah untuk mengetahui hasil belajar
siswa pada ranah afektif, yaitu sikap siswa selama mengikuti pembelajaran gambar
teknik. Bentuk lembar observasi yang digunakan berupa daftar penilaian, penilaian
dilakukan dengan cara check list.
c. Analisis Tugas (Ranah Psikomotorik)
Dalam pengambilan data ranah psikomotorik ini menggunakan analisis tugas, yakni
berupa gambar jobsheet yang digambar oleh siswa. Tujuan dari analisis tugas adalah
untuk mengetahui kemampuan keterampilan masing-masing siswa.

F. Teknik Analisis Data


1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya
tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Analisis data secara deskriptif bertujuan untuk mengetahui mean, median, modus, dan
mendeskripsikan karakteristik data serta efektifitas hasil penelitian guna menjawab
permasalahan deskriptif.
2. Pengujian Prasyarat Analisis
Pengujian prasyarat analisis digunakan sebagai syarat pengujian hipotesis. Hasil dari
pengujian prasyarat nantinya akan menentukan pengujian hipotesis menggunakan
statistik parametrik atau statistik nonparametrik.
3. Analisis Hasil Pretest dan Posttest
Peningkatan prestasi belajar siswa dari hasil pre-test dan post-test dianalisis pada
masing-masing siklus.

31
DAFTAR PUSTAKA

Amir, M. Taufiq. 2009. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.

Anderson, W.Lorin & Krathwhohl, R. David. 2010. A Taxonomy For Learning, Teaching,
And Assessin: A Revision of Bloos Taxonomy of Educational Objectives
(Kerangaka Landasan Untuk Pembelajaran Pengajaran dan Asesmen: Revisi
Taksonomi Pendidikan Bloom). Penerjemah: Agung Prihantoro, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Djamarah, S.B. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Hamzah B. Uno. (2008). Teori Motivasi & Pengukurannya. Jakarta: PT Bumi Aksara

Pasaribu R. (2015). Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Aktivitas dan
Hasil Belajar Siswa. Fisikawansastra (diunduh hari minggu, 28 april 2017. Pukul
20:15)

Rusmono. (2012). Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning itu perlu. Bogor:
Ghalia Indonesia.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi, Arikunto., Suhardjono. & Supardi. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT
Bumi Aksara

32