Anda di halaman 1dari 8

Kepada Suami yang Ingin Ditaati & Kepada Istri yang

Ingin Dimengerti
(Manjanik, 9 Januari 2017)

Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu temui bahwa taat


kepada suami dan menjunjung tinggi hak-haknya adalah sama dengan perang
di jalan Allah. Sayangnya, hanya sedikit diantara kamu yang mau
melaksanakan seperti ini. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (Saw).

Mentaati suami adalah wajib. Sebuah fikih klasik yang sudah berulang-ulang
kita dengar. Sebagian mencemoohnya membosankan. Tapi bukankah akan
menjadi menarik, jika sebagian di antara kita membenturkannya dengan
perasaan seorang istri yang lebih nyaman melakukan satu cabang kebenaran,
sementara suami menghendaki istri untuk memilih cabang kebenaran yang lain.
Untuk lebih menyederhanakan apa yang disebut dengan cabang kebenaran
maka kita biasa menyebutnya, khilafiyah. Karenanya duduklah sejenak,
luangkan sedikit waktu untuk sekadar menyeruput secangkir pengetahuan. Kita
berkongsi pemahaman.

Dalam Fiqih Sunnahnya Sayyid Sabiq menyatakan, Kewajiban suami terhadap


istrinya adalah menghormatinya, bergaul dengan baik, memperlakukannya
dengan wajar, mendahulukan kepentingannya yang memang patut didahulukan
untuk menyenangkan hatinya, lebih-lebih bersikap menahan diri dari sikap yang
kurang menyenangkan di hadapannya, dan sabar ketika menghadapi setiap
permasalahan yang ditimbulkan oleh istri.

Kita tentu masih ingat kisah seorang lelaki yang hampir saja menggebu-gebu
mengadukan kelakuan istrinya, namun seketika ia berbalik arah sebab orang
yang diharap mampu menyelesaikan masalahnya, tertimpa masalah yang
serupa.

Khalifah Umar bin Khaththab r.a lantas memanggilnya, Apa keperluanmu?


Ia menjawab, Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya saya datang untuk
mengadukan sikap dan perbuatan istri saya, namun saya mendengar hal yang
sama pada istri Tuan, akhirnya saya pulang dan berkata dalam hati, Jika
keadaan Amirul Mukminin seperti itu lalu bagaimana dengan saya?

Umar bin Khaththab tersenyum sembari melangkah mendekatinya. Wahai


saudaraku, tuturnya lembut, saya tetap sabar, karena itu memang kewajiban
saya. Istri sayalah yang memasakkan makanan saya, membuatkan roti untuk
saya, mencucikan pakaian dan menyusui anak saya, sedangkan semua itu
bukanlah kewajibannya. Disamping, hati saya merasa tenang (untuk tidak
melakukan perbuatan haram). Karena itu saya tetap sabar atas perbuatannya
itu.

Subhanallah, Umar bin Khaththab r.a yang terkenal dengan wataknya yang
keras itu, nyatanya beliau memperlakukan istrinya dengan sangat baik.

Allah Swt. berfirman, Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian
bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu
tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang
banyak. (QS. An-Nisa: 19)

Perempuan mana yang tidak menginginkan suami yang berakhlak, yang


senantiasa menjaganya, memeliharanya dari segala sesuatu yang menodai
kehormatannya dan menjauhkannya dari pembicaraan yang tidak baik.

Sabda Rasulullah Saw., Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah
orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling baik di antara kalian yaitu
orang (suami) yang berakhlak baik terhadap istrinya.

Bahkan dalam sabdanya yang lain, Rasulullah Saw. dengan sederhana menilai
perangai seorang laki-laki.
Tidak seorang pun yang memuliakan (perempuan) kecuali orang yang mulia
dan tidak seorang pun yang menghina mereka melainkan orang yang hina.

Maka sederhana saja, bahwa suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik
dan sebaliknya istri berhak mendapat perlakukan baik dari suaminya. Tak perlu
berpanjang-panjang saya menerangkannya. Tentang tabiat seorang
perempuan, cukuplah hadits yang sering diperdengarkan berikut ini yang akan
menjawabnya.

Berbuat baiklah kepada kaum perempuan karena mereka diciptakan dari


tulang rusuk yang paling bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok terletak
pada bagian yang paling atas. Jika engkau dengan keras meluruskannya,
niscaya engkau akan mematahkannya, tetapi jika engkau biarkan, niscaya akan
tetap bengkok. (HR. Bukhari dan Muslim)

Masih dalam Fiqih Sunnah, diterangkan bahwa, Di antara hak istri ialah
menaati suami selama dalam hal-hal yang bukan maksiat-. Istri menjaga
kehormatan dirinya dan harta suami, menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu
yang dapat menyusahkan suami, tidak bermuka masam di hadapannya dan
tidak menunjukkan sikap yang tidak disenangi.

Saya ingin menceritakan satu kisah. Kisah tentang sepupu saya yang sejak lahir
adalah perempuan, tetapi lelakipun, segan berhadapan dengannya untuk
beradu kekuatan. Singkat kata alhamdulillah- hidayah Allah turun kepadanya,
ia rutin mengikuti kajian di mahad dan subhanallah- sampai saat ini ia
istiqomah dengan jilbab besarnya. Ia menikah dengan seorang pakar tafsir Al-
Quran. Hanya, kisahnya kepada saya, suaminya memiliki kecemburuan besar
hingga tak mengizinkannya melepas _niqab_ kecuali terhadap orang-orang
yang semahram dengannya. Selebihnya, tidak boleh. Termasuk kepada saya,
haha.

Kemudian, ia juga tidak diperkenankan mengikuti lagi kajian di mahad, dibatasi


ketat komunikasinya dengan ustadz-ustadzah dan teman-teman lamanya,
terlebih yang laki-laki. Dengan penjelasan yang diutarakan suaminya, akhirnya
pun ia menaatinya.

Mengerut?

Saya juga. Tapi ia benar-benar menaatinya, meski suatu ketika ia pernah


sedikit mengeluhkannya. Mengapa? Ia paham perintah suaminya tidak untuk
bermaksiat. Ia mengerti larangan suaminya telah memiliki alasan meski dirasa
berat. Sepakat atau tidak, saya cukupkan cerita ini sampai di sini dan tidak
untuk dibahas lagi.

Terlepas dari itu Aisyah r.a pernah bercerita, Aku bertanya kepada Rasulullah
Saw., Siapakah orang yang wajib diutamakan haknya oleh seorang
perempuan? Rasulullah menjawab, Suaminya. Aku bertanya lagi, Siapakah
orang yang wajib diutamakan haknya oleh seorang laki-laki? Rasulullah
menjawab, Ibunya. (HR. Hakim)

Menguatkan hal itu Rasulullah Saw. bersabda, Jika aku dibolehkan menyuruh
seseorang supaya sujud kepada orang lain, niscaya aku memerintahkan
perempuan agar sujud kepada suaminya karena begitu besar haknya
kepadanya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Jika seorang suami yang shalih, kemudian memerintahkan istri untuk


meninggalkan maksiat dan beralih kepada ketaatan syariat, maka tidak ada
secuilpun alasan yang berhak dilesatkan bagi istrinya untuk membangkang.
Suami yang shalih adalah ia yang berusaha memelihara dirinya dan
keluarganya, dari kobaran api neraka.

Allah Swt. berfirman, Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)
Namun bagaimana jika perkaranya adalah antara dua hal yang sama-sama
dibenarkan dalam Islam: suami menghendaki pilihan yang satu, sedangkan istri
menginginkannya yang lain.

Lebih jelas saya merangkai pertanyaan: mana yang dibenarkan, istri yang
membantah untuk memilih pilihan yang ia yakini benar, atau istri yang menaati
kebenaran suami meski sebetulnya ia merasa kurang nyaman?

Tak perlu dijawab.

Adalah Rasulullah Saw. sendiri yang menyatakan, puasa sunnah seorang istri
tanpa seizin suaminya adalah tidak sah, bahkan bernilai dosa. Selengkapnya
sebagaimana hadits berikut,

Hak suami yang wajib dipenuhi istrinya adalah tidak menolak suaminya
meminta dirinya sekalipun sedang berada di atas punggung onta, tidak
berpuasa walaupun sehari tanpa izin darinya kecuali puasa wajib. Jika ia tetap
berbuat demikian, ia berdosa dan tak diterima puasanya. Ia tidak boleh
memberi sesuatu dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika ia tetap
memberi, pahalanya bagi suaminya dan dosanya itu untuk dirinya sendiri. Ia
tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika ia berbuat
demikian, Allah akan melaknatnya dan para malaikat murka kepadanya sampai
tobat dan insaf sekalipun suaminya itu zalim. (HR. Abu Dawud)

Suatu ketika Rasulullah Saw. berkata kepada putrinya, Fathimah, anakku,


maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budinya dan istri yang
dicintai suaminya?

Tentu saja wahai Ayahku. Jawabnya berbinar.

Tak jauh dari rumah ini, tunjuk Rasulullah Saw., berdiam seorang perempuan
yang sangat baik budi pekertinya. Ia bernama Muthiah. Temuilah ia,
teladanilah budi pekertinya yang baik itu.
Seketika Fathimah mengerutkan kening, penasaran. Apa gerangan amal
Muthiah hingga Rasul pun memujinya sebagai perempuan teladan? Maka
bergegaslah Fathimah ke rumah Muthiah. Seketika Muthiah begitu gembira
mengetahui tamunya adalah putri Sang Nabi.

Sungguh, ucapnya kepada Fathimah, bahagia sekali aku menyambut


kedatanganmu. Namun maafkanlah aku, suamiku telah beramanat, aku tidak
boleh menerima tamu tanpa seizinnya. Kembalilah esok hari sesudah aku
menyampaikan kepadanya.

Fathimah pun pulang sebelum kemudian kembali pada esok harinya, tetapi kali
ini dengan membawa putra kecilnya, Hasan. Dan apa yang terjadi? Untuk kedua
kalinya, Muthiah harus menyampaikan maaf sebab izin yang disampaikan
kepada suaminya adalah untuk Fathimah seorang, tidak dengan yang lain.
Fathimah sempat menjelaskan bahwa Hasan adalah putranya yang masih anak-
anak.

Dan inilah jawaban Muthiah kepadanya, Sekali lagi maafkan aku, aku tak ingin
mengecewakan suamiku, Fathimah.

Fathimah kembali pulang untuk kedua kalinya. Bukan menyimpan penyesalan,


tetapi justru mulai merasakan keutamaan Muthiah. Ia kagum dan berhasrat
menyelami lebih dalam akhlak wanita tersebut. Setelah ia mengantarkan Hasan
pulang, ia kembali bergegas mendatangi Muthiah.

Aku menjadi berdebar-debar. Heran Muthiah. Gerangan apakah yang


membuatmu begitu ingin kerumahku, wahai putri Nabi?

Fathimah tersenyum menunduk. Memang benar, Muthiah. Ada berita gembira


buatmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku ke sini. Ayahku mengatakan
bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karenanya aku ingin
meneladanimu.
Betapa berbunga hati Muthiah mendengar ucapan itu. Namun ia sendiri masih
tak yakin. Engkau bercanda, Fathimah? Aku hanya wanita biasa yang tak
memiliki keistimewaan apapun seperti yang telah engkau lihat sendiri.

Aku tidak berbohong, wahai Muthiah. Ucap Fathimah serius. Karenanya


ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya.

Muthiah lantas terdiam. Hening sejenak sebelum tanpa sengaja Fathimah


melihat sehelai kain kecil, selembar kipas dan sebilah rotan yang berada di
ruangan kecil itu. Fathimah bertanya kepadanya, Buat apa ketiga benda ini,
wahai Muthiah.

Muthiah tersenyum malu, tapi pada akhirnya ia menjelaskan. Engkau tahu,


Fathimah, suamiku seorang pekerja keras, memeras keringat dari hari ke hari.
Aku sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat
kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil
ini hingga kering keringatnya. Ia pun berbaring di tempat tidur melepas lelah,
lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas.

Kemudian aku berpakaian semenarik mungkin untuknya. Setelah ia


bangun dan mandi, kusiapkan makan dan minum untuknya. Setelah semua
selesai, aku berkata kepadanya, Kakanda, andaikata pelayananku sebagai
seorang istri dan masakanku tidak berkenan di hatimu, aku ikhlas menerima
hukuman. Pukullah badanku dengan rotan ini dan sebutlah kesalahanku agar
tidak kuulangi.

Fathimah menatapnya berdecak kagum. Tak sadar ia bertanya, Apakah engkau


sering dipukul olehnya, Muthiah?

Tidak pernah, Fathimah, desisnya meneduhkan. bukan rotan yang


diambilnya, tetapi justru akulah yang ditarik dan didekapnya penuh kemesraan.
Itulah kebahagiaan kami sehari-hari.
Allahu Akbar, Allahu Akbar. Kesederhanaan itu melegakan. Kesederhanaan itu
membebaskan. Dan kesederhanaan itu tak lain adalah ketaatan, taat dalam
jalan kebenaran.

Renungilah hadis Rasulullah berikut, diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., Seorang
perempuan datang kepada Rasulullah dan berkata, Ya Rasulallah, aku ini
utusan dari kaum perempuan kepadamu. Jihad telah diwajibkan Allah kepada
kaum laki-laki. Jika mereka menang, mereka mendapat pahala. Jika mereka
terbunuh syahid, mereka tetap hidup di sisi Allah dan mendapat rezeki. Kami,
kaum perempuan, selalu membantu mereka. Karena itu, apakah bagian kami
dalam hal ini?

Maka Rasulullah Saw. bersabda, Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan


yang kamu temui bahwa taat kepada suami dan menjunjung tinggi hak-haknya
adalah sama dengan perang di jalan Allah. Sayangnya, hanya sedikit di antara
kamu yang mau melaksanakan seperti ini.

Tetapi memang tidak selamanya suami mampu untuk bersabar dan bersikap
baik terhadap istrinya, sebagaimana istri yang tak selalu baik melayani dan taat
kepada suaminya. Ini wajar, sebab mereka sepasang manusia. Sepasang
makhluk yang, sebagaimana Rasulullah sabdakan, tempat salah dan lupa. Lebih
jauh bahwa makna sakinah, merupakan kedamaian yang dicapai setelah adanya
letupan. Mengapa ada letupan? Sebab letupan adalah keniscayaan. Tinggal saja
bagaimana mereka mampu menyelesaikannya dengan cara yang baik. Maka di
sinilah diperlukannya musyawarah dan saling bernasehat dalam
kebaikan. Wallahu alam bish-shawab.