Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

SEMINAR MANAJEMEN KEUANGAN

OPTIMAL LAVERAGE

CALIFORNIA PIZZA KITCHEN

Dosen Pengampu:

Erdni Masdupi, SE, M.Si, Ph.D

Oleh

Yolanda Erivo 14059024

Windy Septari 14059051

Dessy Annisyah 14059128

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017

i
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah. Sholawat dan salam kepada Rasulullah.
Berkat limpahan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini.

Dalam menjalankan bisnis, tidak akan selalu instan dan butuh perencanaan
yang terstruktur secara menyeluruh dari internal dan tanggap terhadap perubahan
lingkungan eksternal. Sehingga bisa membawa perusahaan berjalan dengan baik
dan memaksimumkan nilai perusahaan serta mensejahterakan pemegang saham.

Dalam makalah ini kami akan membahas masalah Optimal Laverage pada
perusahaan California Pizza Kitchen, AS. Semoga makalah ini bermanfaat untuk
memberikan kontribusi untuk solusi pemecahan masalah tersebut dan bisa
menjadi referensi bagi mahasiswa.

Dan tentunya makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu
kepada dosen pembimbing kami minta masukannya demi perbaikan pembuatan
makalah kami di masa yang akan datang

Padang, Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Cover

Kata Pengantar ii

Daftar Isi iii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 4

C. Tujuan 4

BAB 2 LANDASAN TEORI

A. Capital Structure 5

B. Laverage 5

C. Leverage Ratio 7

BAB 3 ANALYSIS DAN PEMBAHASAN

A. Effects of Capital Structure of CPK 9

B. Pembelian Saham Kembali 14

BAB 4 PENUTUP

A. Kesimpulan 15

B. Saran 15

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

California Pizza Kitchen merupakan salah satu perusahaan yang focus

pada restoran dan specialis Pizza. Restoran ini didirikan pada tahun 1985 oleh

Attorneys Rick Rosenfield dan Larry Flax di Baverly HillsCalifornia AS.

Pada tahun 2007, California Pizza Kitchen memiliki 213 restoran di 28 area

dan 6 di negara asing (luar negeri). Dengan bentuk restoran yang casual,

ramah lingkungan, serta bahan-bahan bagus, dan innovative menu yang

membuat restoran CPK tumbuh dan berkembang pesat di AS.

Ada tiga sumber utama yang mendorong revenue atau margin di

California Pizza Kitchen, yaitu antara lain:

a. Penjualan yang dilakukan perusahaan CPK


b. Royalty dari waralaba restoran
c. Royalty dari kerjasama yang dilakukan dengan perusahaan Kraft

Foods yamg menjual brand CPK Pizza beku di took-toko swalayan.

Analis memperkirakan adanya full service yang potensial yang dimiliki

oleh 500 unit perusahaan CPK. Sehingga pada tahun 1996, perusahaan CPK

pertama kalinya membangun konsep ASAP dalam persetujuan waralaba

dengan perusahaan HMSHost. Yang mana franchise (waralaba) ASAP

berlokasi di airport dengan menu yang terbatas. Seperti menu pizza, salad,

dan sandwich yang dijual dengan sistem gra

1
b-n-go. Meskipun bukan merupakan sumber pendapatan yang besar, akan

tetapi konsep ASAP cukup sukses dan terdiri dari 16 lokasi.

Di awal tahun 2007, CPK memiliki 15 lokasi waralaba Internasional.

Yang mana dalam persetujuan waralaba tersebut adanya pembayaran awal ke

CPK antara $50.000 sampai dengan $65.000 untuk setiap lokasi pendirian

usaha dan perkiraan penjualan kotor sekitar 5%. Beberapa lokasi tersebut

tersebar di Asia, seperti Indonesia, Malaysia, China (termasuk HongKong),

Jepang, Phillipin, dan Singapore. CPK juga berencana memperluas usahanya

dibeberapa negara lain dalam pertengahan tahun 2007.

Pada tahun 1997, perusahaan CPK melakukan persetujuan licensing

dengan Kraft Foods untuk mendistribusikan pizza beku dengan merk CPK.

Kerena marketing merupakan hal penting, sehingga Kraft wajib

menghabiskan 5% dari penjualan kotor untuk memasarkan merk produk pizza

beku CPK. Manajemen dari perusahaan CPK sangat percaya akan sukses

pertumbuhan perusahaannya secara domestic maupun internasional dengan

cara kerjasama dengan perusahaan Kraft, dengan terus menerus memberikan

pelayanan yang baik terhadap pelanggan, dan juga menyediakan berbagai

macam menu yang sangat innovative. Creaktivitas menu dengan kualitas

tinggi merupakan hal yang utama bagi CPK (menu-menu yang ada di CPK

bisa dilihat di Exhibit 1).

CPK menghabiskan 1% dari pendapatannya untuk advertising, yang

mana sangat jauh lebih rendah jika disbanding dengan pesaing-pesaingnya

yang menghabiskan antara 3% sampai 4% untuk advertising. CPK lebih

2
mengabiskan banyak biaya untuk menciptakan menu baru, yang mana

sekitar 50% biaya yang dibutuhkan dalam membangun menu baru. 50%

sisanya digunakan untuk strategi pemasaran offline dan online.

Dalam beberapa tahun CPK dan industri-industri restoran lainnya

mengalami tantangan, antara lain:

a. Naiknya harga komoditas


b. Tingginya biaya tenaga kerja
c. Melunaknya permintaan akibat tingginya harga gas
d. Memburuknya kekayaan perumahan
e. Kepentingan yang kuat di industry oleh para pemegang saham

Tingginya harga gas tidak hanya berpengaruh pada permintaan untuk

makan diluar (ke restoran), juga akan mendorong naikkan harga komoditas.

Yang otomatis harga-harga menu di restoran akan meningkat dan biaya

tenaga kerja meningkat. sehingga dengan meningkatnya harga pokok

penjualan (COGS), restoran tersebut akan mengalami magin kotor dengan

tekanan dari penururan permintaan.

Pendapatan CPK meningkat lebih dari 16% di pertengahan tahun

2007. Royalty dari kerjasamanya dengan Kraft meningkat 37% dan

beberapa hanya 21%. Strategi CPK meliputi pembukaan 16 sampai 18

lokasi baru di tahun 2007. Biaya modal yang dibutuhkan sekitar

$85.000.000 untuk pembukaan lokasi baru tersebut

B. Rumusan Masalah

3
Dari latar belakang yang diuraikan diatas, diketahui bahwa Susan

Collyns perlu mengambil beberapa keputusan. Terdapat 2 isu utama yaitu

bagaimana membiayai ekspansi dan struktur modal perusahaan yang paling

tepat. Fokus analisis ini akan di perubahan struktur modal melalui pembelian

kembali saham pada harga pasar saat ini dari $ 22,10. Efek dari pembelian

kembali tersebut akan dianalisis dari EBIT impas, ROE, EPS, Biaya Modal,

dan harga saham perspektif. Serta adanya biaya $ 85.000.000 untuk mendanai

ekspansi restoran layanan penuh mereka. Ini adalah beban diketahui bahwa

harus dibiayai dengan menerbitkan ekuitas atau memanfaatkan perusahaan

dengan mengambil utang.

C. Tujuan

Dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, adapun beberapa

Tujuan yang berkaitan dengan Pemecahan permasalahan yang ada. Antara

lain:

1. Apakah CPK perlu membeli kembali sahamnya?

2. Struktur modal yang seperti apa yang paling tepat terkait dengan perlu

tidaknya CPK untuk berhutang?

BAB 2

LANDASAN TEORI

4
A. Capital Structure

Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal

asing dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang

baik jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri

bisa terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan

perusahaan. Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang

mengoptimalkan keseimbangan antara resiko dan pengembalian sehingga

memaksimumkan harga saham.

Salah satu alat untuk mengukur sejauh mana efektifitas utang digunakan

untuk membiayai perusahaan adalah debt ratio, yaitu rasio utang terhadap

ekuitas perusahaan. Debt ratio dapat dihitung dengan rumus berikut:

Debt Ratio = Debt / Equity (atau Utang dibagi Ekuitas)

Struktur modal yang dapat memaksimalkan harga saham adalah struktur

modal yang dapat meminimalkan WACC. Karena biasanya lebih mudah

meramalkan bagaimana perubahan struktur modal akan mempengaruhi

WACC daripada harga saham,kebanyakan manajer menggunakan perubahan

WACC yang diramalkan untuk membantu mereka mengambil keputusan

struktur modal.

B. Leverage

Leverage merupakan pengukur besarnya aktiva yang dibiayai dengan

hutang-hutang yang digunakan untuk membiayai aktiva berasal dari kreditur,

bukan dari pemegang saham ataupun dari investor. Leverage atau solvabilitas

suatu perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi

5
segala kewajiban finansialnya apabila perusahaan tersebut likuidasi pada

suatu waktu. Weston dan Copeland (1992) merumuskan rasio leverage

sebagai berikut:

Total Hutang
Leverege =
Total Aktiva

Leverage mengacu pada penggunaan asset dan sumber dana oleh

perusahaan dimana dalam penggunaan asset atau dana tersebut perusahaan

harus mengeluarkan biaya tetap atau beban tetap.

Jenis-jenis leverage:

1. Leverage operasi (operating leverage)


Menurut Syamsuddin (2001:107), leverage operasi adalah

kemampuan perusahaan di dalam menggunakan fixed operating cost

untuk memperbesar pengaruh dari perubahan volume penjualan

terhadap earnings before interest and taxes (EBIT).


Besar kecilnya leverage operasi dihitung dengan DOL (Degree

of operating leverage) yang dirumuskan sebagai berikut:

DOL =

Analisis leverage operasi dimaksudkan untuk mengetahui seberapa

peka laba operasi terhadap perubahan hasil penjualan dan berapa

penjualan minimal yang harus diperoleh agar perusahaan tidak

menderita kerugian.
2. Leverage keuangan (financial leverage)
Financial leverage adalah penggunaan sumber dana yang

memiliki beban tetap dengan beranggapan bahwa akan memberikan

tambahan keuntungan yang lebih besar dari pada beban tetapnya

6
sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang

saham (Sartono, 2008:263).


Besar kecilnya leverage finansial dihitung dengan DFL (Degree

of financial leverage). DFL menunjukkan seberapa jauh perubahan EPS

karena perubahan tertentu dari EBIT. Makin besar DFL nya, maka

makin besar risiko finansial perusahaan tersebut. Dan perusahaan yang

mempunyai DFL yang tinggi adalah perusahaan yang mempunyai utang

dalam proporsi yang lebih besar. DFL (Degree of financial leverage)

dirumuskan sebagai berikut:

DFL =

DFL yang besar menunjukkan bahwa perubahan tingkat EBIT

akan menghasilkan perubahan yang besar pada laba bersih (EAT) atau

pendapatan per lembar saham (EPS). Beban tetap bunga ini pada

kenyataannya dapat berupa beban seluruh utang atau obligasi yang ada

dan biaya deviden untuk saham preferen yang mempunyai beban

pembayaran tetap setelah perhitungan sebelum pajak.


3. Leverage gabungan (combination leverage)
Leverage gabungan adalah pengaruh perubahan penjualan

terhadap perubahan laba setelah pajak untuk mengukur secara langsung

efek perubahan penjualan terhadap perubahan laba rugi pemegang

saham dengan Degree of Combine Leverage (DCL) yang didefinisikan

sebagai persentase perubahan pendapatan per lembar saham sebagai

akibat persentase perubahan dalam unit yang terjual.Combination

leverage terjadi apabila perusahaan memiliki baik baik operating

leverage maupun financial leverage dalam usahanya untuk

7
meningkatkan keuntungan bagi pemegang saham biasa (Sartono,

2008:267).

C. Leverege Ratio

Rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa

besar aktiva yang dimiliki perusahaan berasal dari hutang atau modal,

sehingga dengan rasio ini dapat diketahui posisi perusahaan dan

kewajibannya yang bersifat tetap kepada pihak lain serta keseimbangan nilai

aktiva tetap dengan modal yang ada.

Return on Equity (ROE) adalah jumlah laba bersih yang dikembalikan

sebagai persentase ekuitas pemegang saham. ROE merupakan indikator yang

diminati banyak investor karena, hal itu menunjukkan kemampuan untuk

menghasilkan keuntungan satu dollar yang diinvestasikan investor ke ibukota

perusahaan. Ini dinyatakan sebagai persentase dan dihitung sebagai:

ROE =

Dengan rumus tersebut, ada dua cara untuk meningkatkan Return on

Equity: mengurangi ekuitas atau meningkatkan pendapatan bersih. Alasan

sebenarnya untuk meningkatkan ROE adalah karena laba bersih tersebar di

ekuitas yang kurang.

BAB 3

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Effects of Capital Structure of CPK

8
Efek dari Struktur Hutang (Debt) untuk masing-masing struktur modal

dapat dihitung dengan menggunakan beberapa cara :

1. Return On Equity (ROE)

2. Cost Of Equity (CAPM)

B levered =B unlevered * 1+(1-Tax)(D/E)

Dimana:

Rf = risk-free rate (rate of return on a risk-free investment),


RM = return rate of the market

3. WACC

Dimana:

RE = cost of equity
RD = cost of debt
E/V = percentage of financing that is equity
D/V = percentage of financing that is debt
TC = corporate tax rate

4. Share Price

5. Earnings Per share

EPS =

9
Dalam kasus ini CPK meminjam dana untuk tujuan penggunaan pada

program pembelian kembali sahamnya. Yang mana bergantung pada pasar

pada saat ini, sehingga akan menjadi prediktor kinerja keuangan mereka

dalam memperdebatkan jika meminjam dana adalah ide bagus atau buruk.

Pro Forma Tax Shield Effect of Recapitulization Scenarios (dollars In Thousands, Except
Shares data; figures based on end of June 2017

Debt/Total Capital
Actual Keterangan
10% 20% 30%
Interest rate 6,16% 6,16% 6,16% 6,16%
tax rate 32,50% 32,50% 32,50% 32,50%
EBIT and Interest 30.054 30.054 30.054 30.054
interest expense 0 1.391 2.783 4.174 Interest rate/Debt
EBT 30.054 28.663 27.271 25.880 EBIT-Interest Expense
income taxe 9.755 9.303 8.852 8.400 Taxe Rate*EBIT
Net Income 20.299 19.360 18.419 17.480 EBT-Income Taxes

Book Value
Debt 0 22.589 45.178 67.766 %Debt*Total Capital
Equity 225.888 203.299 180.170 158.122 Total Capital-Debt
Total capital 225.888 225.888 225.348 225.888

Market Value
Debt 22.589 45.178 67.766 Market Value=Book Value
0
market Value Of Capital-
Equity 643.773 628.516 613.259 598.002 Debt
Market value of capital 643.773 651.105 658.437 665.768

ROE 8,99% 9,52% 10,22% 11,05% Net Income/Equity

Shares Outstanding
(before repurchasing) 29.130 29.130 29.130 29.130
Share Price per Share MV 22,10 22,35 22,60 22,86
Share Price per Share BV 7,75 6,98 6,19 5,43
Selisih MV dan BV 14,35 15,37 16,42 17,43

Cost oF Equity 8,43% 8,51% 8,59% 8,68% RE=Rf+B(RM-Rf)


(1-T) 67,50% 67,50% 67,50% 67,50%
Debt Financed=D/V 0,00% 3,47% 6,86% 10,18%
Equity Financed=E/V 100% 96,53% 93,14% 89,82%

10
exibit 8 notes& bonds 30
RF 5,20% 5,20% 5,20% 5,20% years
Beta Awal 0,85 0,85 0,85 0,85 Exibit 7
Beta setelah tambah
BL=BU(1+(1-T)D/E)
hutang 0,850 0,871 0,892 0,915
Rm 9% 9% 9% 9%

RE x (E/E+D) + RD x (1-T) x
WACC 8,43% 8,36% 8,29% 8,22% (D/E+D)
Jumlah saham yang
Hutang/Harga pasar
dibeli=hutang/harga pasar 0 1.011 1.999 2.965
Number of shares Shares Outstanding- Shares
outstanding (after Repurchasing
repurchasing) 29.130 28.119 27.131 26.165
Net income/Number of
EPS 0,697 0,688 0,679 0,668
New Share
Tabel 1. hasil perhitungan Excle

Dari tabel perhitungan, terlihat bahwa ROE meningkat karena turunnya

ekuitas pada nilai buku (book value). Pada akhir Juni 2007, Return on Equity

yang sebenarnya adalah 8,99% (Exhibit 9 Pro Forma). Dengan masing-

masing opsi kenaikan hutang menjadi 10%, 20% dan 30%, ROE masing-

masing meningkat menjadi 9,52%, 10,22% dan 11,05%. Dengan

mendasarkan hal ini, kita dapat menyatakan bahwa menambahkan beberapa

hutang adalah cara untuk menghemat keuntungan bagi pemegang saham.

Namun, pada saat ini, perusahaan tidak memanfaatkan keuntungan dari

memanfaatkan hutang mereka untuk meningkatkan keuntungan mereka

kepada pemegang saham. Sejak go public pada tahun 2002, manajemen

California Pizza Kitchen telah menghindari meletakkan hutang pada neraca

untuk secara konservatif mempertahankan apa yang oleh CEO Rick

Rosenfeld disebut sebagai "daya tahan".

11
Tingginya Financial leverage, maka tinggi pula nilai ROE dimana

artinya resiko juga bertambah besar. Unlevered Beta pada California Pizza

Kitchen adalah 0,85 (tercantum pada exhibit:7). Unlevered beta adalah jenis

metrik yang membandingkan risiko perusahaan yang tidak terpakai dengan

risiko pasar. Beta yang tidak leluasa(unlevered)adalah versi beta dari sebuah

perusahaan tanpa hutang apapun. Unlevered beta menghilangkan efek

finansial dari leverage. Maka dari itu diperlukan perhitungan Beta pada saat

ada penambahan hutang (Levered Beta). Yang mana dihitung dengan: BL = BU

* [1+(1-TC) * D/E]

Dari hasil yang didapat, bahwa dengan bertambahnya hutang, maka

Beta Leverage juga meningkat, artinya resiko perusahaan juga semakin

tinggi.

Biaya modal memperhitungkan biaya ekuitas dan biaya hutang. Yang

mana dihitung dengan menggunakan rumus CAPM, yaitu: RE= Rf + Beta x

(RM Rf), dimana Rf merupakan resiko bebas dari investasi yang tertera pada

T-Bill yang dimiliki CPK, T-Bill yang digunakan dengan jangka waktu lama

yaitu 30 tahun. Sedangkan Rm merupakan tingkat bunga pengembalian

berdasarkan harga di pasar. Yang mana grafik Exhibit 6 menunjukkan bahwa

S&P Small Cap dari 7/3/2006, Stock price = $100 dan ketika pada tanggal

6/3/2007 stock price = $109, selisih antara kedua harga adalah 9. Jadi return

rate on market adalah 9%. Dari perhitungan dapat dilihat bahwa tingginya

financial leverage menghasilkan cost of equity yang tinggi pula.

12
WACC pada menunjukkan semakin besar persentase hutang, maka

semakin rendah nilai WACC. Artinya financial leverage yang lebih tinggi

menyebabkan biaya modal lebih rendah.

Dalam konteks sekuritas, nilai pasar seringkali berbeda dari nilai buku

karena pasar memperhitungkan potensi pertumbuhan di masa depan.

Sebagian besar investor yang menggunakan analisis fundamental untuk

memilih saham melihat nilai pasar perusahaan dan kemudian menentukan

apakah nilai pasarnya memadai atau jika nilainya undervalued dibandingkan

dengan nilai buku, aset bersih atau lainnya.Sehingga dari hasil perhitungan,

bahwa nilai pasar lebih tinggi dari nilai buku, meskipun dalam kenyataannya

stock tidak undervalued.

Ketika perusahaan menggunakan hutang untuk membeli kembali

saham, mereka menerapkan harga saham baru. Sehingga nilai saham baru

juga bertambah.

Harga saham perusahaan naik karena hutangnya meningkatkan. Harga

sahamDitentukan oleh Total Market Value of Equity dibagi dengan jumlah

saham saat ini. Dengan meningkatnya hutang perusahaan, perusahaan

membeli kembali saham, dan juga mengurangi ekuitasnya. Tingkat penurunan

ekuitas lebih kecil dari pada saham yang dibeli kembali,Sehingga

menyebabkan kenaikan harga saham.

B. Pembelian Saham Kembali

Jika dilihat dari kasusnya yang dialami oleh California Pizza Kitchen,

perusahaan sebenarnya tidak masalah jika harus membeli sahamnya kembali.

13
Karena harga saham CPK juga lagi turun sekitar 10%. Selain itu, CPK

memiliki reputasi yang sangat bagus yang memungkinkan jika dia mampu

meningkatkan nilai perusahaannya.

Pembelian kembali saham merupakan salah satu sisa keuntungan yang

tersisa dari perusahaan. Dengan cara ini, CPK dapat mengurangi jumlah

saham yang dimiliki oleh masyarakat(public). Pengurangan saham publik

akan berarti bahwa meskipun keuntungan mereka tetap sama. Jadi, membeli

kembali saham, terutama bila harga saham perusahaan dianggap undervalued

atau tertekan, dapat menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang kuat.

Pembelian kembali juga dapat mengindikasikan kelalaian perusahaan.

Jika CEO CPK, Rick Rosenfield yakin saham perusahaan mereka saat ini

diperdagangkan di bawah nilai dasarnya (nilai pasar adalah $ 22.1 dan nilai

buku adalah $ 7.75) mereka mungkin mempertimbangkan pembelian

kembali. Pembelian kembali pasar terbuka, dimana tidak ada premi yang

dibayarkan di atas harga pasar saat ini, menawarkan investasi yang berpotensi

menguntungkan bagi manajer. Artinya, perusahaan dapat membeli kembali

saham yang saat ini undervalued, menunggu pasar untuk memperbaiki nilai

undervalued.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

14
CPK merupakan perusahaan yang memiliki Strenght yang cukup kuat,

akan tetapi ada weakness yang mungkin bisa dikurangi nantinya. Banyaknya

Opportunity yang dengan cepat ditanggapi oleh CPK merupakan suatu

peluang yang bagus bagi perkembangan perusahaan dalam memperluas

pasarnya dan juga meningkatkan profitnya. Akan tetapi ada beberapa threat

yang kemungkinan menjadi hambatannya.

Dengan kenaikan hutang, imbal hasil ekuitas meningkat. Jadi, ini

berarti bahwa secara keseluruhan, sedikit hutang tidak buruk untuk

dikonsumsi.Dengan adanya hutang aka nada keuntungan pajak untuk

perusahaan. Walaupun, hutang menempatkan tekanan pada perusahaan karena

interest dan pokok pembayaran kewajiban. Sehingga struktur modal yang

tepat untuk CPK berhutang adalah struktur modal yang dapat menghasilkan

keuntungan terbesar bagi perusahaan. Yakni struktur modal 30% hutang, dan

70% modal sendiri. Karena dapat mengoptimalkan ROE dan Nilai saham.

Tapi perlu diingat bahwa resiko perusahaan untuk bangkrut juga akan

meningkat seiring dengan bertambahnya hutang.

B. Saran

Sebaiknya CPK perlu membeli kembali sahamnya karena ketika CPK

menggunakan Debt 10% hingga 30%, maka terjadi kenaikan ROE dan Harga

saham, sehingga untuk menyeimbangkannya perlu mengurangi jumlah saham

yang beredar dengan cara membeli kembali saham yang beredar. Jumlah

saham yang perlu dibeli secara berurutan yakni (1010.62), (1998.73), dan

(2965.03) juta lembar saham untuk komposisi hutang 10%, 20% dan 30%.

15
CPK memiliki Stenght yang cukup banyak, yang mampu merupakan

keunikan dari perusahaan. Serta opportunity yang begitu besar akan membuat

perusahaan mampu bertahan dan berkembang meskipun jika CPK membeli

sahamnya kembali.

16