Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

BAHASA INDONESIA

NAMA : ALDO

KELAS : VIII MOZART


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu dari bangsa Indonesia yang sudah dipakai
oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, namun
tidak semua orang menggunakan tata cara atau aturan-aturan yang benar, salah satunya pada
penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri yang tidak sesuai dengan Ejaan maupun Kamus
Besar Bahasa Indonesia oleh karena itu pengetahuan tentang ragam bahasa cukup penting
untuk mempelajari bahasa Indonesia secara menyeluruh yang akhirnya bisa diterapkan dan
dapat digunakan dengan baik dan benar sehingga identitas kita sebagai bangsa Indonesia
tidak akan hilang.
Sering kali kita mendengar orang-orang Indonesia yang menggunakan bahasa yang
tidak baku dalam kegiatan-kegiatan resmi atau menggunakan kata serapan yang salah, bahkan
dalam penulisanpun masih terjadi kesalahan penggunaan tanda baca, sehingga
mengakibatkan kesalahan makna, padahal Pemerintah Indonesia telah membuat aturan-aturan
resmi tentang tata bahasa baik itu kata serapan maupun penggunaan tanda baca. Pelajaran
Bahasa Indonesia sebenarnya sudah diajarkan sejak dari Sekolah Dasar (SD) sampai ke
perguruan tinggi. Tapi kesalahan ini masih sering terjadi, bahkan berulang-ulang kali.
Ketidakpahaman terhadap tata bahasa dan ang mengkhawatirkan ialah ketika aturan ini
terlalu sering diacuhkan oleh masyarakat Indonesia, karena salah satu dampak negatifnya
ialah hal ini akan dianggap lazim oleh masyarakat Indonesia terlebih lagi oleh anak-cucu
yang akan menjadi penerus negeri ini, karena akan mempersulit masyarakat dalam
berkomunikasi.
Maka dari itu dalam makalah ini, penulis akan memaparkan bagaimana tata bahasa
yang benar tentang kata serapan dan tanda-tanda baca, sehingga kita memahami dan dapat
menerapkan aturan berbahasa yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari terlebih
dalam acara-acara resmi. Selain itu dalam makalah ini juga akan dibahas tentang, kegiatan
diskusi, alur, singkatan dan akronim serta membaca intensif. Diharapkan dengan dibuatnya
makalah ini , dapat menambah pengetahuan kami dalam berbahasa yang nantinya akan
sangat berguna di masa mendatang
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas dapat diketahui rumusan masalah dalam penulisan makalah
ini adalah:
1. Apa kegunaan tanda kurung siku dan tanda petik tunggal?
2. Bagaimana langkah-langkah melakukan kegiatan diskusi?
3. Apa saja struktur alur?
4. Apa yang dimaksud dengan singkatan dan akronim?
5. Bagaimana membaca intensif?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan yang akan dicapai yaitu:
1. Untuk mengetahui kegunaan tanda kurung siku dan tanda petik tunggal?
2. Untuk mengetahui langkah-langkah melakukan kegiatan diskusi?
3. Untuk mengetahui struktur alur?
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan singkatan dan akronim?
5. Untuk mengetahui tujuan membaca intensif?
BAB II
TINJAUAN MATERI

A. Tanda kurung siku dan tanda petik tunggal


Tanda Kurung Siku ([...])
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau
tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan
bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Contoh:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda
kurung.
Contoh:
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman
3538]) perlu dibentangkan di sini.
Tanda Petik ("...")
Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau
bahan tertulis lain.
Contoh:
"Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA"
diterbitkan dalam Tempo.
Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti
khusus.
Contoh:
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".
Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik
yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat
atau bagian kalimat.
Contoh:
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
Tanda Petik Tunggal ('...')
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh:
Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
"Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa
letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.
Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan
asing.
Contoh: feed-back 'balikan'
Jadi dapat disimpulkan kegunaan tanda kurung siku yaitu sebagai penanda bahwa ada
kesalahan pada penulisan sebuah kalimat, sehingga tanda ini digunakan sebagai tambahan
pada kalimat yang ditulis oleh orang lain sebagai hasil dari koreksi. Dengan kata lain,
tanda ini menandakan bahwa kesalahan tersebut memang terjadi pada naskah
aslinya. Sedangkan Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit kutipan yang ada di
dalam petikan lain.

B. Kegiatan diskusi
Langkah-langkah Melaksanakan Diskusi:
Agar penggunan diskusi berhasil dengan efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Langkah Persiapan
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam persiapan diskusi di antaranya:
a. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan yang bersifat umum maupun tujuan
khusus.
b. Menentukan jenis diskusi yang dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai.
c. Menetapkan masalah yang akan dibahas.
d. Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan diskusi,
misalnya ruang kelas dengan segala fasilitasnya, petugas-petugas diskusi seperti
moderator, notulis, dan tim perumus, manakala diperlukan.
2. Pelaksanaan Diskusi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan diskusi adalah:
Memeriksa segala persiapan yang dianggap dapat memengaruhi kelancaran diskusi.
a. Memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi, misalnya menyajikan tujuan yang
ingin dicapai serta aturan-aturan diskusi sesuai dengan jenis diskusi yang akan
dilaksanakan.
b. Melaksanakan diskusi sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Dalam
pelaksanaan diskusi hendaklah memerhatikan suasana atau iklim belajar yang
menyenangkan, misalnya tidak tegang, tidak saling menyudutkan, dan lain sebagainya.
c. Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk mengeluarkan
gagasan dan ide-idenya.
d. Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang sedang dibahas.
Hal ini sangat penting, sebab tanpa pengendalian biasanya arah pembahasan menjadi melebar
dan tidak fokus.
3. Menutup Diskusi
Akhir dari proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi hendaklah dilakuan hal-
hal sebagai berikut:
a. Membuat pokok-pokok pembahasan sebagai kesimpulan sesuai dengan hasil diskusi.
b. Me-review jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh peserta sebagai
umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.

C. Struktur alur
Secara umum, alur/ jalan cerita disampaikan dengan urutan sebagai berikut.
1. Tahap pengenalan
Tahap ini merupakan tahap awal. Dalam tahap ini, pengarang biasanya mengenalkan
tokoh-tokoh cerita dan latar cerita (tempat dan waktu cerita tersebut akan berlangsung).
2. Masalah
Setelah tahap pengenalan, pengarang akan mulai memberi permasalahan pada tokoh.
Masalah merupakan sesuatu yang mengganggu yang membutuhkan solusi. Tentu saja
masalah di sini adalah masalah yang memiliki sangkut paut dengan tokoh cerita.
3. Konfliks
Seperti halnya dalam dunia nyata, setiap masalah pasti memiliki potensi menimbulkan
konfliks. Begitu juga dalam cerita. Tahap konfliks dalam cerita merupakan tahap ketika para
tokoh yang terkena masalah saling bersinggungan.
4. Klimaks
Klimaks merupakan tahap cerita yang di situ diceritakan puncak dari persinggungan
para tokoh. Dengan kata lain, klimaks merupakan bagian cerita yang paling menarik dan seru.
Klimaks biasa juga disebut sebagai puncak cerita.
5. Antiklimaks
Tahap antiklimaks merupakan tahap pencarian solusi terhadap masalah yang ada.
Dalam tahap ini, ketegangan cerita mulai menurun. Ada juga yang menyebut tahap ini
sebagai tahap peleraian karena memang dalam tahap ini masalah yang menimbulkan konfliks
dan klimaks mulai terleraikan.
6. Selesaian
Tahap ini merupakan tahap akhir cerita. Entah masalah selesai, entah tokoh yang
bertikai dihilangkan. Entah berakhir bahagia (happy ending), entah berakhir tragis. Tahap-
tahap tersebut biasa juga disebut sebagai piramida alur yang jika digambarkan tahap klimaks
berada di puncak piramida.

D. Singkatan dan akronim


Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan postingan tentang perbedaan
Singkatan dan Akronim. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, terkadang kita perlu
menyingkat suatu kalimat sehingga mudah untuk disampaikan dan mudah pula untuk di
ingat. Dalam bahasa Indonesia pemendekan atau penyingkatan kalimat terbagi menjadi dua
macam, yaitu singkatan dan akronim. Kita akan membahas perbedaan serta contoh keduanya.
Berikut pembahasan lengkapnya.
1. Singkatan
Yang disebut dengan singkatan yaitu bentuk pemndekan kata atau kalimat yang terdiri
atas satu huruf atau lebih.
Jenis-jenis singkatan
a. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik sedangkan
jika hanya dua huruf diselingi oleh titik.
Contoh :
dll. dsb.dst. hlm. Yth.
b. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Contoh :
S.A. Saiful Anwar (nama orang)
Bpk. (sapaan)
Sdr.
Kol. (pangkat)
c. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi,
serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan
tidak diikuti dengan tanda titik.
Contoh :
DPR,PGRI,GBHN,SMP,PT,KTP,
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti
dengan titik.
Contoh;
Cu (kuprum)
TNT (trinitroluen)
2. Akronim
Yang disebut dengan akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal dan
suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. akronim bisa dibaca secara
langsung. Ada beberapa aturan dalam penulisan akronim, yaitu :
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal ditulis seluruhnya dengan huruf
kapital.
Contoh :
ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
SIM (Surat Izin Mengemudi)
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata
ditulis ditulis dengan huruf awal kapital.
Contoh :
Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)
Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional)
Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional)
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh :
ormas (organisasi masyarakat)
raker (rapat kerja)
rudal (peluru kendali)
tilang (bukti pelanggaran)
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa singkatan dan akronim memiliki
perbedaan. Beberapa perbedaan tersebut di antaranya adalah :
1. Penulisan singkatan diikuti titik kecuali yang cetak kapital dan lambang kimia sedangkan
akronim tidak diikuti titik.
2. Akronim merupakan gabungan huruf kata yang dibaca layaknya kata pada umumnya
sedangkan singkatan dibaca huruf demi huruf

E. Membaca intensif
Membaca intensif adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara cermat dan teliti
terhadap teks yang dibaca. Membaca intensif ini diterapkan dalam upaya mencari informasi
secara detail atau diterapkan pada pencarian informasi sebagai bahan diskusi. Membaca
intesif selain bertujuan untuk mendapatkan informasi sebagai bahan diskusi, juga dapat
dijadikan sebagai sarana untuk menentukan sebuah pokok persoalan atau perihal yang
menarik dari suatu teks bacaan untuk dapat atau layak dijadikan sebagai bahan diskusi.
Membaca intensif juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memilih salah satu atau
beberapa pokok pikiran yang paling tepat untuk dijadikan sebagai bahan diskusi bersama
teman. Selain dengan cara itu, kita juga dapat menentukan bahan diskusi dengan cara
membuat kesimpulan dari pokok-pokok pikiran itu kemudian mengambil inti sari
persoalannya.
Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan berkenaan dengan informasi yang layak
untuk menjadi bahan diskusi, antara lain dapat menambah pengetahuan atau wawasan,
bermanfaat, dan akan lebih baik jika sedang menjadi bahan pembicaraan masyarakat. Dalam
menyimpulkan mengenai informasi atau perihal yang layak dijadikan sebagai bahan diskusi
dari suatu teks, kita perlu melakukan hal-hal di antaranya berikut.
1. Membaca dengan jeli sehingga dapat menentukan hal yang paling menarik dari hal-hal
yang lain. Akan lebih baik jika kita menemukan pokok-pokok pikiran yang ada kemudian
memilih yang paling layak untuk dijadikan sebagai bahan diskusi.
2. Mempertimbangkan kemampuan diri dan kemampuan teman diskusi berkenaan dengan
kemampuan diri menguasai atau memahami perihal yang akan kalian diskusikan. Jangan
sampai kita menentukan bahan diskusi yang menarik, tetapi kita sendiri tidak memahami
persoalan tersebut.
3. Mempertimbangkan referensi yang dimiliki oleh peserta diskusi terkait perihal yang akan
didiskusikan.
4. Keutuhan informasi dapat terjaga apabila informasi yang didapatkan benar-benar
dipahami. Cermatilah informasi yang diterima secara teliti dan pahamilah pokok-pokok
pentingnya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Tanda kurung siku digunakan sebagai penanda bahwa ada kesalahan pada penulisan
sebuah kalimat, Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit keterangan pada kalimat
penjelas yang sudah ada pada tanda kurung biasa. Tanda petik tunggal () juga
berfungsi sebagai pengapit petikan yang ada pada sebuah tulisan.
2. Langkah-langkah kegiatan diskusi yaitu langkah persiapan, pelaksanaan diskusi, penutup
diskusi
3. Struktur alur yaitu pengenalan, konflik, klimaks, antiklimaks, pemecahan masalah
4. Singkatan adalah bentuk singkat dari beberapa kata yang terdiri dari satu huruf atau lebih
yang dibaca per huruf. Akronim addalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal,
gabungan suku kata.
5. Tujuan membaca intensif adalah emahaman inferensial, pemahaman kritis dan
pemahaman kreatif.

B. Saran
Perlu adanya tambahan materi lain karena makalah ini masih terdapat beberapa
kekurangan dan diharapkan pembaca untuk mencari materi-materi yang lainnya
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional
peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan
budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat
yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis
dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap
hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Tanda baca adalah tanda yang dipakai dalam sistem ejaan (seperti titik, koma, titik
dua). Tanda baca berguna bagi pembaca untuk membantu memahami setiap bacaan. Tanpa
tanda baca, pembaca akan sulit mengerti maksud dari penulis melalui bacaan itu. Bayangkan
saja apabila tidak ada tanda baca, misalnya saja tanda titik (.), tentu para pembaca
kebingungan menentukan antarhubungan kalimat dan maksud dari kalimat itu karena
semuanya tersambung tanpa jeda. Dengan demikian, tanda baca sangat dibutuhkan dalam
sebuah penulisan artikel sebagai kunci atas apa yang ingin disampaikan oleh penulis kepada
pembaca.
Namun sayangnya, masih banyak orang yang sudah mengerti tanda baca, tetapi belum
memahami dan menggunakan tanda baca dengan baik dan benar, terutama masalah kurang
atau salah meletakkan tanda titik (.) dan tanda koma (,). Kesalahan yang sering terjadi,
misalnya kurangnya tanda titik (.) pada suatu singkatan. Contoh, singkatan St pada SMAK
St. Louis Surabaya, yang seharusnya disingkat "St. dengan tanda titik (.) setelahnya.
Tak hanya itu, masih banyak kesalahan lain, seperti salah memberi atau meletakkan
tanda dan kelebihan memberi tanda. Kesalahan tersebut disebabkan oleh beberapa, salah
satunya kesalahan yang banyak dibuat oleh para penulis artikel, terutama di artikel-artikel
internet dan makalah, yang secara tak langsung ditiru oleh para pembaca. Kesalahan bisa juga
disebabkan oleh pengaruh dari bahasa lain, misalnya bahasa Inggris, karena memang
peraturan penggunaan tanda baca antrabahasa bisa berbeda. Namun, masyarakat Indonesia
wajib menggunakan apa yang sesuai dengan peraturan penggunaan tanda baca di Indonesia
Selain itu dalam makalah ini juga akan dibahas tentang, kegiatan diskusi, alur,
singkatan dan akronim serta membaca intensif. Diharapkan dengan dibuatnya makalah ini ,
dapat menambah pengetahuan kami dalam berbahasa yang nantinya akan sangat berguna di
masa mendatang Oleh karena itu, makalah ini ditujukan untuk memberikan pemahaman
mengenai jenis-jenis tanda serta diharapkan dapat membantu masyarakat dan pembaca
sekalian dalam memahami tanda baca sehingga dapat menggunakannya dengan baik dan
benar sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.

B. Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas dapat diketahui rumusan masalah dalam penulisan makalah
ini adalah:
1. Apa kegunaan tanda kurung siku dan tanda petik tunggal?
2. Bagaimana langkah-langkah melakukan kegiatan diskusi?
3. Apa saja struktur alur?
4. Apa yang dimaksud dengan singkatan dan akronim?
5. Bagaimana membaca intensif?