Anda di halaman 1dari 3

1. Jelaskan mengenai proses Merger Bank secara singkat?

Apabila beberapa Bank Umum hendak melakukan merger, wajib terlebih dahulu
memperoleh izin dari Pimpinan Bank Indonesia (Pasal 4 ayat (1) PP Nomor 28 Th.
1999 tentang Merger, Konsolidasi, dan Akuisisi Bank). Izin merger dapat diberikan
apabila memenuhi persyaratan: (Pasal 8 PP 28/1999)

a. Telah memperoleh persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham;


b. Pada saat terjadinya merger jumlah Aktiva Bank hasil merger setinggi-tingginya
20% dari jumlah aktiva seluruh Bank di Indonesia;
c. Permodalan Bank hasil merger memenuhi ketentuan rasio kewajiban pemenuhan
modal minimum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;
d. Calon Dewan Komisaris dan Direksi hasil merger memenuhi persyaratan (tidak
tercantum dalam daftar orang yang melakukan perbuatan tercela di bidang
perbankan) sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia yang
mengatur kepengurusan Bank.

Secara singkat, yang menjadi langkah-langkah dalam proses merger sebagai berikut:

A. Tahapan Sebelum Merger


Penandatanganan Naskah Kesepakatan, pada proses ini para pemegang saham
dari tiap-tiap Bank mengajukan kesepakatannya untuk dilakukan merger;
Pembentukan Tim Merger, para pengurus Bank-bank membetuk suatu tim guna
mengurusi penggabungan antara Bank-bank tersebut;
Penunjukan pihak-pihak independen, pada proses ini, tim merger akan
menunjuk para pihak independen yang mengurusi penggabungan Bank sesuai
dengan kewenangannya menurut peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini
pihak independen atau pihak yang berprofesi sebagai penunjang dalam proses
merger adalah Akuntan Publik, Konsultan Hukum, Appraisal Company, Financial
Advisor, dan Notaris;
Proses Due Diligence, proses ini bertujuan untuk mendapatkan suatu gambaran
atau informasi aspek hukum mengenai suatu Bank, harta kekayaan tertentu atau
hubungan hukum tertentu sehingga hasil due diligence merupakan salah satu
bahan pertimbangan bagi pihak yang berkepentingan (misalnya investor) dalam
mengambil keputusan sehubungan dengan merger yang akan dilakukan.
Pelaksanaan RUPS untuk persetujuan Merger, persetujuan RUPS mengenai
persetujuan merger baru dapat berlangsung jika paling sedikit bagian dari
jumlah seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili dalam RUPS dan
keputusan adalah sah jika disetujui paling sedikit bagian dari jumlah suara
yang dikeluarkan.
B. Tahapan saat Merger
Penandaanganan Akta Merger, keberlakuan merger atau kekuatan mengikat
suatu merger setelah penandatanganan akta merger didasarkan pada ada atau
tidaknya perubahan anggaran dasar dari perseroan. Artinya, apabila merger
mengakibatkan perubahan anggaran dasar yang memerlukan persetujuan menteri
maka merger berlaku setelah tanggal persetuan menteri keluar.
Pengesahan merger, berlaku secara yuridis setelah permohonan perubahan
anggaran dasar yang menjadi akibat terjadinya merger mengakibatkan adanya
perubahan. Permohonan perubahan tersebut diajukan oleh pelaku usaha atau
diwakili notaris kepada Menteri Hukum dan HAM untuk mendapat persejutuan.

2. Jelaskan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab dari masing-masing
profesi penunjang yang terlibat dalam proses merger Bank?

- Notaris, berdasarkan Pasal 15 ayat (2) PP No. 28 Tahun 1999, notaris memiliki
tugas dan tanggung jawab untuk membuat Akta Merger yang berisi persetujuan
RUPS mengenai rancangan Merger. Tanggung jawab notaris dalam proses
merger, khususnya dalam pembuatan akta merger, hanya bersifat administratif.
Tanggung jawab administratif tersebut wajib dilaksanakan oleh notaris. Jika
notaris lalai melaksanakannya, maka dapat merugikan pelaku usaha dan akibatnya
notaris tersebut dapat dituntut oleh pelaku usaha sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1366 KUHPerdata.

- Akuntan Publik, berdasarkan Pasal 11 huruf e PP No. 28 Tahun 1999, bertugas


dan bertanggung jawab dalam melakukan penilaian terhadap neraca perhitungan
laba rugi yang meliputi 3 tahun buku terakhir dari semua bank yang akan
melakukan merger; neraca proforma bank hasil merger sesuai dengan standar
akuntansi keuangan; kegiatan utama bank dan perubahan selama tahun buku yang
sedang berjalan; dan rincian masalah yang timbul selama tahun buku yang sedang
berjalan yang mempengaruhi kegiatan bank.

- Appraisal Company, berdasarkan Pasal 11 huruf c PP No. 28 Tahun 1999,


bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan penilaian/penaksiran terhadap
tata cara konversi saham dari masing-masing bank yang akan melakukan merger
terhadap saham bank hasil merger.

- Financial Advisor, berdasarkan Pasal 11 huruf f butir 1 dan 7 PP No. 28 Tahun


1999, bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan penilaian terhadap
perkiraan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian serta
masa depan bank; dan laporan mengenai keadaan dan jalannya bank serta yang
telah dicapai.

- Konsultan Hukum, bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan


pemeriksaan memperhatikan dan menyesuaikan pemeriksaan dengan tujuan
transaksi yang akan dilakukan dalam melakukan pemeriksaan untuk pemberian
pendapat hukum mengenai aspek hukum merger bank.
3. Mengapa dalam pendirian BPR pihak asing dilarang?

Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 20/POJK.03/2014
tentang Kelembagaan Badan Perkreditan Rakyat (BPR), BPR hanya dapat didirikan
dan dimiliki oleh:
a. warga negara Indonesia;
b. badan hukum Indonesia yang seluruh pemiliknya warga negara Indonesia; dan/atau
c. Pemerintah Daerah.

BPR hanya dapat didirikan dan melakukan kegiatan usaha dengan izin Otoritas Jasa
Keuangan (OJK). BPR tidak dapat dimiliki oleh asing dalam hal pendiriannya
karena pengembangannya lebih mengutamakan investor lokal. Hal tersebut guna
melindungi industri BPR dengan membatasi bank asing dan bank umum sehingga dana
yang dihimpun dari masyarakat tidak jatuh ke tangan pihak asing. Namun demikian,
peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan bagi pihak asing untuk bekerja sama
dengan BPR melalui Perbarindo.

4. Jelaskan jenis badan usaha yang dapat digunakan oleh Bank Syariah?
Bagaimana persyaratan dan prosedur pendirian Bank Umum Syariah dan UUS?

Sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008


tentang Perbankan Syariah, Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan
usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum
Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Bentuk badan hukum dari Bank
Syariah adalah perseroan terbatas.

Setiap pihak yang akan melakukan kegiatan usaha Bank Syariah atau Unit Usaha
Syariah (UUS) wajib memperoleh izin usaha sebagai Bank Syariah atau UUS dari
Bank Indonesia dengan memenuhi persyaratan terkait susunan organisasi dan
kepengurusan, permodalan, kepemilikan, keahlian di bidang Perbankan Syariah; dan
kelayakan usaha. Modal disetor untuk mendirikan Bank Syariah paling kurang sebesar
Rp 1.000.000.000.000,- (satu triliun Rupiah), sedangkan modal kerja UUS ditetapkan
dan dipelihara paling kurang sebesar Rp100.000.000.000,- (seratus miliar Rupiah).
Mengingat bahwa UUS merupakan unit kerja dari Bank Umum Konvensional
(BUK) yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor yang melaksanakan kegiatan
usaha berdasarkan prinsip syariah, setiap BUK yang akan melakukan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah wajib membuka UUS dan dicantumkan dalam rencana
bisnis BUK. Setelah mendapatkan izin usaha, UUS wajib melakukan kegiatan usaha
paling lambat 60 hari sejak izin diberikan dan melaporkan pelaksanaan kegiatannya
paling lambat 10 hari setelah tanggal pelaksanaan kegiatan usaha.

P.S.: kalau nomor 4 kurang jelas, ini list peraturannya for your reference:
1. PBI No. 11/3/PBI/2009 tentang Bank Umum Syariah;
2. PBI No. 11/10/PBI/2009 tentang UUS.

Anda mungkin juga menyukai