Anda di halaman 1dari 3

DUNIA ONLINE SEBAGAI PENDORONG BISNIS START-UP DIGITAL

WIRAWAN SETIADI

Wajah dunia sudah mulai banyak berubah dengan hadirnya internet. Begitu banyak kemajuan di
berbagai bidang dengan bantuan internet. Dunia komunikasi maju dengan cepat berkat adanya
internet. Biaya untuk komunikasi jelas lebih murah dan cepat dengan menggunakan internet. Dulu
orang mengirim kabar dan saling bertukar informasi dengan surat, lalu dengan telepon dan SMS.
Kini kita bisa saling berhubungan lewat E-mail, WA, Line, FB, IG dan lain-lain dengan bantuan
internet.
Internet juga membuat transportasi lebih lancar. Mungkin beberapa tahun lalu tak pernah
terbayangkan memesan taksi dan ojek menggunakan aplikasi. Tinggal klik-klik, maka ojek dan
taksi meluncur, langsung menjemput di mana kita berada. Sekarang memesan tiket pesawat dan
kereta api bisa dilakukan dari rumah, langsung secara online. Bahkan untuk menonton tiket
bioskop atau konser pun pemesanannya bisa dilakukan menggunakan bantuan internet. Tidak perlu
antri dan menghabiskan waktu.
Dunia belanja juga tak ingin ketinggalan jaman, dengan ikut memanfaatkan internet agar makin
dekat dengan para pelanggan. Belanja cara modern ini menawarkan kebebasan berbelanja yang
sangat luas. Belanja bisa dilakukan kapan saja tanpa dibatasi jam buka dan tutup toko. Bisa
dibilang toko-toko online siap melayani kebutuhan pembeli selama duapuluh empat jam sehari,
tujuh hari seminggu.
Pola bisnis sudah berubah. Sekarang semua serba online, serba praktis dan mudah. Seluruh sendi
kehidupan seperti tak bisa lepas dari kata online. Dunia online adalah dunia masa kini. Banyak
industri yang muncul saat ini tetapi bukan lagi industri seperti yang ada di era industri, tetapi
industri kreatif dan digital yang tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Sebut saja industri
raksasa digital seperti Facebook dan Google di Amerika Serikat atau Alibaba di China yang tidak
membutuhkan karyawan yang begitu banyak tetapi mempunyai omset yang luar biasa.
Belakangan startup business (perusahaan perintis) terutama di bidang teknologi juga kian
menjamur di Indonesia. Hal ini terlihat dengan semakin maraknya app penyedia layanan
transportasi online seperti Uber, Grab, dan GO-JEK; e-commerce atau marketplace seperti Lazada,
Tokopedia, Jualo, Traveloka, Zeemi.tv sampai Bridestory yang merupakan salah satu online
wedding marketplace di Indonesia dan lain-lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa perangkat seluler berperan penting dalam menentukan keputusan
pembelian mobil di Indonesia. Pembeli mobil menggunakan ponsel di semua tahapan pembelian,
terutama saat ingin mencari informasi tentang mobil. Dahulu kala orang-orang masih memakai
selebaran yang ditempel untuk mempromosikan mobil yang menjadi barang dagangannya. Kini
cara konvensional ini mulai beralih dengan mempromosikan produk melalui situs web, media
online, maupun media sosial seperti Instagram dan Youtube. RajaMobil.com (berdiri tahun 2012)
dulunya masih berbentuk platform iklan baris yang menawarkan ruang bagi penggunanya untuk
menjual mobil bekas. Seiring berjalannya waktu, platform RajaMobil lebih banyak digunakan oleh
para tenaga penjual (sales) dari diler resmi untuk memasarkan mobil baru. Hal ini mendorong
RajaMobil mengubah struktur platformnya dari iklan baris menjadi marketplace pada tahun 2017.
Dengan struktur ini, RajaMobil menampilkan beragam penawaran cicilan mobil baru dari berbagai
sales mobil. Masih ada beberapa platform lain yang berkecimpung di dunia otomotif, misalnya
Carmudi dan Mobil123 yang menyediakan pilihan mobil baru dan bekas, atau e-commerce seperti
Blibli yang belakangan juga menawarkan opsi pembelian mobil baru (id.techinasia.com, 2017).
Tahun 2016 menjadi tahun bagi startup yang bergerak di jasa keuangan atau disebut financial
technology (fintech) untuk mulai merangkak naik ke permukaan, misalnya CekAja, UangTeman,
Pinjam, CekPremi, Bareksa, Kejora, Doku, Veritrans, Kartuku, adalah beberapa di antaranya.
Bahkan, seiring dengan perkembangan startup-startup fintech di Indonesia, September 2015 telah
diluncurkan pendirian asosiasi perusahaan teknologi finansial bernama FinTech Indonesia. Startup
bidang fintech berkembang seiring meningkatnya permintaan proses transaksi keuangan yang
lebih praktis, aman, dan modern, melalui smartphone dan tablet (hitsss.com, 2016).
Kioson merupakan perseroan yang bergerak di bisnis penjualan online. Perusahaan e-commerce
yang baru berdiri sejak 2015 ini memiliki tagline Semua Bisa Online. Dengan tagline tersebut,
Kioson menggandeng seluruh pihak baik supplier, retailer maupun pelanggan untuk dapat
melakukan transaksi secara online. Perseroan berkomitmen untuk meningkatkan para pelaku
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di mana dalam bisnisnya Kioson akan menjadikan
UMKM sebagai mitra usahanya. Hingga saat ini, perseroan telah memiliki 15.000 mitra kios yang
tersebar di 384 kota di Indonesia. Dan saat ini Kioson merupakan startup pertama yang
memutuskan untuk melenggang di pasar modal (kumparan.com, 2017).
Perusahaan retail tanah air Matahari Department Store (MDS) bahkan telah meningkatkan saham
mereka di e-commerce MatahariMall.com (didirikan pada tahun 2015 oleh Lippo Group) hingga
sekitar enam belas persen dengan menambah investasi sebesar US$15,9 juta (sekitar Rp212
miliar). Saat ini, mereka harus bersaing dengan Alibaba, yang telah mengakuisisi Lazada dan
berinvestasi di Tokopedia untuk memenangkan pasar tanah air (id.techinasia.com, 2017).
Bisa dikatakan bahwa potensi Startup Digital sekarang cukup besar dimana saat ini sendiri juga
ada pencanangan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital (1000startupdigital.id), pemerintahan
Jokowi pun juga sedang digiatkan digitalisasi.
Jadi apakah anda juga terdorong untuk memulai terjun di bisnis ini?