Anda di halaman 1dari 51

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Setiap perusahaan, apakah itu perusahaan itu bergerak dalam
perdagangan maupun perusahaan yang bergerak dalam industri serta
perusahaan jasa selalu mengadakan persediaan. Tanpa adanya persediaan, para
pengusaha akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya pada suatu
waktu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan yang memerlukan atau
meminta barang atau jasa pada tepat waktu. Persediaan diadakan apabila
keuntungan yang diharapkandari persediaan tersebut hendaknya lebih besar
dari pada biaya-biaya yang ditimbulkan.
Persediaan merupakan barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk
dijual atau diproduksi lebih lanjut menjadi barang jadi sehingga bisa dijual.
Perusahaan dagang maupun perusahaan industri pada umumnya mempunyai
persediaan yang jumlah, jenis, serta masalahnya selalu sama antara perusahaan
yang satu dengan yang lainnya.
Pada umumnya dapatlah dikatakan bahwa hampir pada semua
perusahaan, persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual
kembali, misalnya bahan baku yang dibeli oleh perusahaan industri dan
dikelola kembali menjadi barang jadi.Persediaan juga mencakupi barang jadi
yang telah diproduksi atau bahan baku yang masih dalam penyelesaian
produksi perusahaan, termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan
dalam proses produksi. Kegiatan utama perusahaan industri adalah membeli
bahan baku dari pemasok dan diproduksi kembali menjadi bahan jadi.
Besarnya keuntungan yang mereka raih tergantung pada margin biaya
persediaan bahan baku dengan harga jual hasil produksi bahan baku tersebut.
Biaya persediaan meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, atau biaya
lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dalam kondisi dan
tempat yng siap untuk diproduksi lebih lanjut, contohnya biaya penyimpanan.

1
2

Perusahaan industri khususnya kelas menengah dan ke bawah biasanya


kurang memperhatikan biaya persediaan yang telah mereka habiskan,
akibatnya mereka cenderung sulit untuk berkembang. Padahal jika
pengeluaran untuk biaya persediaan ini mencapai optimal, maka keuntungan
perusahaan akan meningkat dan perusahaan akan mempunyai dana untuk
mengembangkan usahnya. Keadaan optimal tersebut tercapai total biaya
persediaan yang begitu minimal perlu dijalankan manajemen tertentu yang
bertujuan menjaga sedemikian rupa sehingga tingkat persediaan barang bisa
ditekan serendah mungkin, namun harus diusahakan juga agar penjualan tidak
terganggu.
Peramalan penjualan merupakan salah satu cara untuk membantu
menentukan perencanaan pemesanan yang sesuai dengan kebutuhan. Nilai
penjualan yang diramalkan diharapkanmendekati nilai penjualan sebenarnya
yang akan terjadi. Dengan begitu frekuensi dan jumlah pemesanan persediaan
dapat di hitung sedemikian rupa sehingga mencapai optimal.
Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, penulis tertarik melakukan
penelitian mengenai persediaan barang pada UD. Multi Mitra Mandiri Jember
yang bergerak dalam bidang percetakan kalender, undangan, buku LKS.
penelitian yang akan dilakukan penulis mencakup semua kegiatan yang
mendukung sistem persediaan bahan baku dari perencanaan, pengendalian,
pihak yang berperan, serta kebijakan yang diambil dalam sistem persediaan
bahan baku itu sendiri. Dan hasil penelitian itu penulis mengambil judul :
ANALISIS PENENTUAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KERTAS
YANG OPTIMAL PADA PERCETAKAN CV. MULTI MITRA
MANDIRI JEMBER.

1.2 Rumusan Masalah


Bahwasanya selama ini perusahaan melakukan pembelian bahan baku
(kertas) dalam jumlah besar. Sistem seperti ini sangat merugikan sekali bagi
perusahaan, kerena dengan jumlah pembelian yang sangat besar dapat
menyebabkan meningkatnya tingkat kerusakan bahan baku (kertas), begitu
3

pula dengan pembelian yang terlalu sedikit menyebabkan terhambatnya proses


produksi. Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah pelanggan dan
penurunan volume penjulan.
Dari latar belakang dan rumusan masalah yang sudah dipaparkan
diatas, maka penulis merumuskan permasalahan yang ada, yaitu :

Seberapa besarkah kebutuhan bahan baku kertas yang diperlukan dan berapa
jumlah persediaan bahan baku kertas yang minimum dan maksimum pada
perusahaan ?.
4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Peramalah Penjualan

2.1.1 Pengertian dan Kegunaan Peramalan Penjualan

Ramalan/Forecast penjualan merupakan salah satu bahan informasi yang


penting dalam menyusun rencana produksi. Persediaan yang berlebihan
merupakan suatu pemborosan, sedangkan produksi di bawah permintaan
memberikan kesempatan kepada pesaing untuk memasuki daerah penjualan, oleh
karena itu sebelum berproduksi sebaiknya ditentukan terlebih dahulu berapa
jumlah produk yang tepat untuk memenuhi permintaan pasar yang didasarkan atas
kemampuan penjualan produk pada masa yang akan datang.

Pengertian peramalan penjualan ialah : Suatu perkiraan atas ciri-ciri


kuantitatif termasuk harga, dari perkembangan pasar dari suatu produk yang
diproduksi oleh suatu perusahaan pada jangka waktu tertentu dimasa yang akan
datang. (Sofyan Assauri, 2001:140)

Sedangkan kegunaan dari peramalan/Forecast penjualan sebagai berikut :


(Sofyan Assauri, 2007:141)

a. Untuk menentukan kebijakan dalam persoalan penyusunan anggaran


(Budgeting) yang meliputi segala aktifitas yang dijalankan seperti
anggaran penjualan, anggaran pembelian, anggaran pengerjaan,
b. Untuk menentukan kegiatan perencanaan dan pengawasan produksi,
c. Untuk pengawasan persediaan,
d. Untuk memperbaiki semangat kerja para pekerja, karena dengan adanya
perencanaan yang baik,
e. Dapat mengurangi ongkos karena telah diketahuinya aktifitas yang akan
dijalankan, terutama dalam pemesanan persediaan,
5

f. Berguna untuk mengadakan perencanaan perluasan perusahaan,


g. Merupakan ukuran yang baik untuk mengevaluasi kegiatan penjualan
ataupun untuk mengurangi atau mengganti produk yang tidak memberikan
keuntungan,
4
h. Untuk pengawasan pengadaan pembelanjaan bahan baku.

2.1.2 Jenis Ramalan Penjualan

Metode ramalan penjualan dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

a. Ramalan penjualan jangka panjang


Ramalan ini mencankup perkiraan penjualan dari produk yang
dihasilkan oleh suatu perusahaan selama lima tahun yang akan datang.
Ramalan penjualan jangka panjang ini dimaksudkan untuk memungkinkan
membuat informasi dalam membuat keputusan yang akan memakan waktu
dalam pelaksanannya, seperti untuk perkembangan produk, perluasan
kapasitas, dan penanaman modal.
b. Ramalan penjualan jangka pendek
Ramalan ini biasanya mencakup perkiraan tentang penjualan dari
produk dihasilkan yang dalam jangka waktu satu tahunatau kurang.
Ramalan penjualan jangka pendek memberikan dasar pada penyusunan
anggaran penerimaan dan belanja perusahaan, pedoman dalam perencaan
produksi, pengawasan terhadap persediaan barang-barang, penentuan
kebutuhan dimasa yang mendatang akan tenaga kerja dan bahan, serta
patokan terhadap perkembangan prestasi yang akan dinilai.

2.1.3 teknik peramalan

Pengukuran peramalan penjualan dapat dilakukan secara kuantitatif dan


kaulitatif. Pengukuran secara kuanlitatif biasanya menggunakan metode statistik
dan matematika. Sedangkan pengukuran secara kualitatif biasanya menggunakan
pendapat (Judgment).
6

Secara statematis teknik-teknik peramalan penjualan berdasarkan


pendapat, peramalan penjualan dengan metode-metode khusus dan peramalan
penjualan berdasarkan perhitungan-perhitungan statistik adalah sebagai berikut :
(Gunawan Adisaputro, 2003:156)

1. Peramalan berdasarka pendapat (Judgment Method)


Biasanya digunakan untuk menyusun peramalan penjualan maupun
kondisi bisnis pada umumnya. Sumber yang dapat dipakai sebagai dasar
dalam menyusun peramalan ini aadalah pendapat tersebut antara lain :
Pendapat salesman
Pendapat sales manager
Pendapat para ahli
Pendapat konsumen (Survey Consumen)
Pendapat lembaga-lembaga penyalur (Chanel Of Distribution)
2. Peramalan berdasarkan metode khusus
Cara-cara yang digunakan dalam peramalan penjualan dengan metode
khusus antara lain :
a) Analisis Industri
Dalam metode ini mencoba untuk dihubungkan potensi penjualan
perusahaan dengan indutri pada umumnya baik dalam arti volume
maupun posisi persaingan. Analisis indutri ini dibagi menjadi
beberapa tahap dalam penggunaannya, yaitu :
Membuat proyeksi dengan industri untuk mengetahui prospek
perkembangan penjualan industri pada tahun-tahun mendatang.
Menilai posisi perusahaan dalam hubungannnya dengan industri
pada umumnya. Posisi ini dinilai berdasarkan besarnya market
shareyang diliki oleh perusahaan dari tahun ketahun. Proyeksi
posisi perusahaan pada masa mendatang atau menghitung
expected market share.
b) Analisis Product Line
7

Pada umumnya analisis product line digunakan pada perusahaan-


perusahaan yang menghasilkan lebih dari satu macam produk .
masing-masing produk tersebut tidak dapat diambil kesamaannya
dan harus dibuat peramalan secara terpisah atau sendiri-sendiri.
c) Analisis penggunaan akhir
Analisis ini digunakan pada perusahaan-perusahaan yang
memproduksi barang-barang tidak langsung dapat dikonsumsi,
melainkan masih memerlukan proses lebih lanjut untuk
menjadikan produk akhir. Permintaan akan produk ini dipengaruhi
secara langsung oleh produk akhir yang berasal dari produk
tersebut atau produk akhir yang menggunakannya.
3. Peramalan Berdasarkan Perhitungan Statistik
Pada metode judgment mungkin masih terdapat unsur-unsur
subjektif, sebaliknya pada metode statistik subjektifitas ditekan sedikit
mungkin. Analisis yang digunakan perhitungan statistik adalah analisis
trend.
trend adalah gerakan yang berjangka panjang lamban, seolah-olah
ombak menaik atau menurun. (Gunawan Adisaputro, 2003:158)
Dalam menggambarkan trend tidak selalu dengan garis lurus,
melainkan dapat pula digambarkan dengan garis lengkung (fungsi pangkat
dua). Dalam analisis ini yang digunakan adalah trend dengan garis lurus.
Penerapan garis trend dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
:
a. Penerapa garis trend secara bebas
b. Penerapan garis trend dengan setengah rata-rata
c. Penerapan garis trend secara matematis.

Penerapam garis trend secara bebas merupakan cara penerapan


garis trend tanpa menggunakan rumus matematika, namun demikian
penerapan ini juga masih menngunakan pertimbangan-pertimbangan
tertentu. Penggabaran garis trend dengan cara ini jarang digunakan karena
subjektif dan kurang memenuhi persyaratan ilmiah.
8

Penggambaran garis trend dengan setengah rata-rata sudah


dimulai menggunakan hitungan, unsur subjetifitas sudah dihilangkan
tetapi penggambaran garis trend secara matematis karena ini dianggap
lebih dapat dipertanggungjawabkan jika dibandingkan dengan metode
tersebut. Dalam menggarkan garis trend secara matematis ada dua cara
yang bisa digunakan :

Metode least square


Metode moment
Pedoman yang digunakan untuk mencari persamaan garis lurus pada
metodeleast square dan metode moment sama, yaitu : (Gunawan
Adisaptro, 2003:159)
Y = a + bx
Dimana :
Y = Volume penjualan yang diramalkan
A = Nilai Y pada titik 0
B = Lereng garis lurus/ slope
X = Nilai pada setiap periode waktu
Perbedaan pokok dari kedua metode tersebut adalah dalam mencari
nilai dan b, dimana dalam Metode Least Square rumus yang digunakan
adalah (Gunawan Adisaputro, 2003: 166)

= dan =
2

Sedangkan dalam metode Moment, dalam mencari nilai adan


bdigunakan rumus : (Gunawan Adisaputro, 2003:163)

= . +

= . + . 2

Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah yang sedang


dihadapi adalah Metode Least Square, karena dengan melihat kondisi serta
data penjualan yang ada dalam perusahaan menggambarkan atau
9

menunjukkan gejala semakin meningkat, cenderung mengunakan metode


tersebut.

2.2 Persediaan

2.2.1 Arti dan Manfaat Persediaan

Persediaan bahan baku (Raw Materials) ialah Bahan yang langsung


digunakan untuk diolah, sehingga bahan tersebut nantinya akan menjadi barang
jadi yang merupakan produk dari perusahaan
Menurut Dra. Farah Marghareta ME (2005:145), persediaan adalah
sejumlah barang atau bahan yang disediakan oleh perusahaan. Baik berupa barang
jadi, bahan mentah, ataupun barang dalam proses yang disediakan untuk menjaga
kelancaran operasi perusahaan guna memenuhi permintaan konsumen tiap waktu.
Efisiensi operasional suatu organisasi dapat ditingkatkan karena berbagai
fungsi penting persediaan. Harus diingat bahwa persediaan adalah sekumpulan
phisikal pada berbagai proses transformasi dari bahan mentah kedalam proses,
dan kemudian menjadi barang jadi. Beberapa fungsi penting persediaan dalam
memenuhi kebutuhan perusahaan, sebagai berikut :
1. Menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman bahan baku atau barang
yang dibutuhkan perusahaan
2. Menghilangkan resiko jika material yang dipesan tidak baik sehingga
harus dikembalikan
3. Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga barang atau inflasi
4. Untuk menyimpan barang baku yang dihasilkan secara musiman sehingga
perusahaan tidak akan kesulitan jika bahan itu tidak tersedia dipasaran
5. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas
(quantity uiscounet)
6. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan tersedianya barang yang
diperlukan
10

Dari keterangan tersebut dapat dikatakan bahwa persediaan barang sangat


penting artinya bagi perusahaan karena berfungsi menghubungkan antara operasi
yang berurutan dalam produksi suatu barang.

2.2.2 Jenis - Jenis Persediaan

Setiap perusahaan yang menghasilkan produk akan memerlukan


persediaan bahan baku. Baik disengaja maupun tidak disengaja perusahaan yang
bersangkutan ini akan menyelenggarakan persediaan bahan baku yang menunjang
jalannya proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan. Di dalam hal ini
tidak akan terkecuali, baik perusahaan tersbut merupakan suatu perusahaan kecil,
perusahaan menengah maupun perusahaan besar. Jenis jenis persediaan untuk
perusahaan industri berbeda-beda, dapat dikelompokan menjadi beberapa
kelompok.

Beberapa jenis persediaan didalam perusahaan dagang, industri maupun


perusahaan jasa, yaitu :

1. Persediaan bahan baku


Bahan-bahan yang akan dikelola lebih lanjut.
2. Persediaan barang dalam proses (work in process)
Merupakan barang-barang yang telah diolah antara lain dalam proses
produksi dan lain-lain.
3. Persediaan hasil jadi
Merupakan hasil produksi daru suatu perusahaan industri baik sebagai
hasil produksi selesai, maupun yang akan digunakan pada proses produksi.
4. Persediaan suku cadang
Merupakan persediaan barang yang akan digunakan untuk memperbaiki
atau mengganti bagian yang rusak dari peralatan, maupun mesin antara
lain baut, mur, dan lain-lain.
5. Persediaan bahan bakar
11

Merupakan persediaan yang harus ada didalam perusahaan terutama bagi


perusahaan industri yang menggunakan mesin diesel sebagai pengganti
listrik.
6. Persediaan bahan cetakan,
Merupakan persediaan untuk kebutuhan kantor, memperlancar
kegiatan tata usaha.

7. Persediaan barang dagangan


Merupakan persediaan yang dipergunakan oleh suatu perusahaan
dagang.

2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sistem Persediaan

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan


besarya persediaan yang harus ada antara lain :

1) Daya tahan dari bahan baku atau barang yang akan disimpan
2) Bersifat penawaran (bahan mentah)
3) Besarnya modal kerja yang tersedia
4) Resiko-resiko yang harus ditanggung, baik resiko yang berasal dari
manusia, alam dan sifar bahan baku itu sendiri
5) Biaya-biaya yang ditimbulkan. Beberapa kategori biaya yang ditimbulkan
berkaitan dengan penentuan persediaan seperti biaya pembelian, biaya
penyimpanan, dan biaya resiko penyimpanan di gudang.

2.3 Pengendalian persediaan

Kegiatan pengendalian persediaan merupakan suatu kegiatan yang perlu


dicermati secara terus menerus karena kegiatan ini merupakan suatu hal selain
mengawasi juga meluruskan jika terjadi penyimpangan dari aturan yang telah
ditetapkan.

Faktor pengawasan untuk kegiatan logistik dalam perkembangannya


mengalami kemajuan yang cukup berarti, dengan pengembangan peran sampai
dengan kegiatan pengendalian persediaan. Pengendalian persediaan berarti
12

memastikan secara sistematik sesuatu yang berkaitan denagan persediaan terjadi


secara nyata sesuai dengan yang direncanakan.

Jumlah persediaan dapat ditentukan dengan dua sistem yang paling umum
dikenal pada akhir periode, yaitu :

a. Periodic system, yaitu setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara


fisik agar jumlah persediaan akhir dapat diketahui jumlahnya secara pasti.
b. Perpectual system atau bookinventory yaitu setiap kali pengeluaran
diberikan catatan administrasi barang persediaan. Dalam melaksanakan
penilaian persediaan ada beberapa yang dapat dipergunakan yaitu :
1. Fist in, Fist out (FIFO) atau masuk pertama keluar pertama. Cara ini
didasarkan atas asumsi bahwa arus harga bahan adalah sama dengan
arus penggunaan bahan. Dengan demikian bila sejumlah unit bahan
dengan harga beli tertentu sudah habis dipergunakan, maka
penggunaan bahan berikutnya harga akan didasarkan pada harga beli
berikutnya. Atas dasar metode ini maka harga atau nilai dari
persediaan akhir adalah sesuai dengan harga dan jumlah pada unit
pembelian terakhir.
2. Last in, fist out (LIFO) atau masuk terkhir keluar pertama. Dengan
metode ini perusahaan beranggapan bahwa harga beli terakhir
dipergunakan untuk harga bahan baku yang pertama keluar sehingga
masih ada (stock) dinilai berdasarkan harga pembelian terdahulu.
3. Rata-rata tertimbang (weighted average). Cara ini didasrkan atas harga
rata-rata perunit bahan adalah sama dengan jumlah harga perunit yang
dikalikan dengan msing-masing kuantitasnya kemudian dibagi dengan
seluruh unit bahan baku perusahaan tersebut.
4. Harga standar. Besarnya persediaan akhir dari suatu perusahaan akan
sama dengan jumlah unit persediaan akhir dikalikan dengan harga
standar perusahaan.
5. Biaya persediaan pada sistem persediaan periodik. Menurut Aria
Farahmita SE (2005), sistem ini hanya pendapatan yang dicatat setiap
13

kali penjualan dilakuka. Tidak ada jurnal yang dibuat pada saat
penjualan untuk mencatat harga jual pokok penjualan dan pada akhir
periode akuntansi, perhitungan fisik dilakukan untuk menentukan
biaya atau harga pokok persediaan dan harga pokok penjualan.
6. Metode laba kotor untuk mengestimasi persediaan. Menurut
Amanagrahani SE (2006), metode laba kotor memungkinkan estimasi
laba kotor yang di realisasikan selama periode dimaksudkan untuk
mengestimasikan persediaan pada akhir periode.
7. Metode ritel untuk perhitungan biaya persediaan. Menurut Taufik
Darmawan SE (2008), metode persediaan ritel mengestimasi biaya
persediaan berdasarkan hubungan antara harga pokok barang dagang
yang tersedia untuk dijual dengan harga ritel dari barang dagang yang
sama.

2.3.1 Tujuan Pengendalian Persediaan

Adapun tujuan dari pengendalian persediaan bahan baku secara singkat dapat
dinyatakan sebagai berikut : (Sofyan Assauri, 2001:186)

a. Untuk menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan yang


dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan perusahaan
b. Menjaga agar persediaan pada perusahaan tidak terlalu besar atau
berlebihan, sehingga biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar
c. Menjaga agar persediaan secara kecil-kecilan dapat dihindari, karena hal
ini akan berakibat pada biaya pemesanan menjadi besar.

Jadi tujuan pengendalian persediaan bahan baku untuk memperoleh


kualitas dan jumlah yang tepat dari bahan-bahan atau barang-barang serta
waktu yang tepat dengan biaya yang minimal, dengan kata lain pengendalian
persediaan bahan baku menjamin terdapatnya persediaan pada tingkat yang
optimal agar produksi berjalan lancar dan biaya persediaan adalah minimal.

2.3.2 Pentingnya Persediaan


14

Adanya pasar yang tidak menentu, persaingan-persaingan, kenaikan-


kenaikan biaya gudang dan biaya-biaya lain, maka pengendalian persediaan bahan
baku perlu mendapat perhatian yang khusus. Sistem pengendalian bahan baku
yang baik memastikan bahwa persediaan ada pada tempat dan waktu yang tepat
serta jumlah yang cukup. Jadi persediaan bahan baku diadakan untuk memenuhi
permintaan para pembeli langsung maupun pemakai dalam industri, yaitu bagian
produksi. Walaupun keputusan pemakai dalam industri merupakan tujuan utama,
namun tak akan efesien tanpa memperhatikan biaya-biaya yang berhubungan
dengan persdiaan bahan baku tersebut.

Pengendian bahan baku yang efektif memberikan keuntungan-keuntungan


antara lain :

a. memungkinkan memesan barang-barang dalam jumlah ekonomis


b. mengurangi hambatan-hambatan dalam produksi yang disebabkan kerena
tidak adanya material
c. mengurangi kerugian-kerugian yang disebabkan karena :
pengendalian yang kurang sempurna
kerusakan pada material
kerusakan yang disebabkan bahan-bahan yang paling lama tidak
dipakai lebih dahulu
pencurian dan sebagainya
d. mengurangi ruang penyimpanan
e. biaya operasi yang lebih rendah.

Yang perlu diperhatian dalam hubungannya dengan pengendalian


persediaan bahan baku adalah agar bahan baku yang dibutuhkan hendaknya
cukup tersedia sehingga dapat menjamin kelancaran produksi, akan tetapi
tidaklah berarti bahwa perusahaan harus mengadakan persediaan dalam
jumlah yang berlebihan, mengingat besarnya biaya-biaya yang timbul karena
jumlah persediaan terlalu besar. Oleh karena itu penting bagi semua jenis
perusahaan untuk mengadakan persediaan bahan baku, karena kegiatan ini
15

akan dapat membantu tercapainnya suatu tingkat efesiensi penggunaan uang


dalam persediaan bahan baku.

2.4 Langkah-Langkah Dalam Analisis Persediaan

Dalam menganalisa persediaan bahan baku, maka langkah-langkah


yang harus dilakukan adalah meramalkan volume penjualan, menyusun budget
produksi, menyusun kebutuhan anggaran bahan baku, menghitung jumlah
pemesanan yang ekonomis setiap kali pesan, menghitung total Inventori Cost,
menghitung Safety Stock, dan menentukan Re Order Point.

2.5 Budget Produksi

2.5.1 Pengertian dan Kegunaan Budget Produksi

Sebelum membahan lebih lanjut tentang budget terlebih dahulu perlu


diketahui tentang apa yang dimaksud dengan budget. Budget adalah suatu rencana
keunagan periode yang disusun berdasarkan program-program yang telah
disahkan, dan merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi
yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam suatuan uang
untuk jangka waktu tertentu. (Navirin, 2009:9)

Budget adalah rencana rinci tentang perolehah dan penggunaan sumber


daya keuangan dan sumber daya lainnya untuk suatu periode tertentu. (Garisson,
2003:342)

Dari beberapa pemikiran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Budget


merupakan rencana manajemen yang disusun secara formal dan sistematis yang
mencakup jangka waktu tertentu (periode) yang dinyatakan dalam unit moneter
dengan tujuan untuk memperoleh hasil yang maksimal sesuai rencana yang telah
ditentukan. Apabila perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan hidup dan
dapat berkembang. Sudah seharusnya apabila perusahaan selalu memikirkan apa
yang mungkin dilakukakn sesuai dengan visi perusahaan untuk jangka panjang
dan menampung semua rencana perusahaan dimasa yang akan datang.
16

Usaha tersebut akan berhasil apabila ditunjang oleh kebijakan-kebijakan


yang terarah dibantu dengan perencanaan yang matang. Dengan perencanaan yang
matang diharapkan manajemen dapat bekerja secara efektif dan efesien sesuai
dengan tujuan yang diharapkan.

Dalam persangain yang semakin ketat dan semakin berkembangnya


perusahaan, maka perusahaan semakin mendapat tantangan untuk selalu dapat
mengatasi masalah masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Oleh karena
itu perlu adanya suatu perencanaan yang baik agar perusahaan dapat berkembang
dan mampu mempertahankan hidupnya. Karena alasan inilah maka perusahaan
perlu menyadari terhadap perencanaan dan mengedalikan aktifitas-aktifitas
perusahaan. Budget sendiri hanya merupakan alat yang dapat membantu
manajemen.

Pengertian budget produksi adalah : taksiran kuantitas barang-barang


yang seharusnya diproduksi selama periode budget. (Welsch,2005:293)

Kegunaan atau pertimbangan budget produksi adalah sebagai alat


perencanaan, pengkoordinir dan pengendalian.

Berkaitan dengan budget produksi sebagai sarana perencanaan semua


aspek perencanaan operasi-operasi pabrik antara lain kebutuhan bahan baku,
kebutuhan tenaga kerja, kapsitas pabrik, aktifitas-aktifitas jasa pabrik dan
sebagainya. Budget produksi adalah faktor yang penting dalam keseleruhan
koordinasi aktifitas-aktifitas fungsional seperti arus uang kas, permodalan,
penelitian dan pengembangan produksi, persediaan dan penambahan-penambahan
modal.

Budget produksi sebagai alat pengendalian yang dimaksudkan untuk


pengendalian telah telah diketahui pada kebanyakan perusahaan, masalah yang
paling berat dihadapi adalah masalah penjualan produk perusahaan, oleh karena
itu budget harus disusun terlebih dahulu dan merupakan dasar dalam penyusunan
budget produksi akan mengakibatkan budget yang lain juga menjadi masalah.

Adapun tujuan dari pembuatan budget produksi antara lain :


17

1. Sebagai landasan dalam memilih sumber dan menggunaan dana perusahaan


2. Mengadakan pembatasan jumlah dana yang dicari dan dipergunakan
3. Mencari jenis sumber dana maupun jenis penggunaan dana sehingga dapat
mempermudah pengawasan
4. Menampung dan menganalisa serta memutuskan setiap usaha yang berkaitan
dengan keuangan
5. Merasionalkan sumber dan penggunaan dana agar dapat mencapai hasil yang
maksimal.

Sejalan dengan perkembangan dunia usaha pada umumnya, banyak


perusahan-perusahaan berkembang menjadi besar. Sehubungan dengan
perkembangan tersebut kegiatan-kegiatan yang ada dalam suatu perusahaan
menjadi bertambah banyak, baik jenis kegiatan maupun volume kegiatan yang
dilaksanakannya. Hal ini mengakibatkan keterbatasan pemimpin dalam
mengawasi berbagai aktifitas yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan adanya
keterbatasn pemimpin dalam mengawasi berbagai aktifitas ini maka diperlukan
alat pengendalian yang dapat membantu manajemen dalam membuat keputusan-
keputusan atas aktifitas-aktifitas perusahaan sehari-hari. Dalam hal ini budget
produksi adalah salah satu alat yang dapat membantu.

Adapaun manfaat dari pembuatan budget produksi antara lain adalah


sebagai berikut :

1. Sebagai alat perencaan dan pedoman kerja


2. Sebagai alat pengkoordinasi rencana dan tindakan berbagai unit yang ada
dalam organisasi agar dapat berkerja selaras kearah pencapain tujuan
3. Sebagai alat komunikasi meliputi penyampaian informsai yang berhubungan
erat dengan tujuan, strategi, kebijaksanaan, rencana, pelaksanaan, dan
penyimpangan yang timbul
4. Sebagai alat pengendalian dan evaluasi.

Bisa dipahami bahwa bagi manajemen perusahaan yang belum terbiasa


dengan penyusunan budget produksi ini akan memberikan pekerjaan yang sia-
18

sia.Sebaliknya bagi yang telah merasakan manfaatnya maka manajemen


perusahaan akan terus menggunakannya sebagai alat bantu dalam penyususnan
perencanaan, koordiansi, dan pengawasan dalam perusahaannya.

2.5.2 Langkah-Langkah Penyusunan Budget Produksi

Ada beberapa langkah atau tahap yang diperlukan dalam menyusunu


budget produksi yang juga nantinya akan berkaitan dengan pelaksanaannya.

Langkah-langkah yang harus ditempuh antara lain:

1. Tahap perencanaan
Menentukan periode waktu yang akan dipenuhi sebagai dasar dalam
penyusunan bagian produksi untuk menentukan kapan proses produksi akan
dimulai dan berakhir
Menentukan jumlah satuan fisik dari barang yang harus dihasilkan
2. Tahap pelaksanaan
Menetukan kapan barang diproduksi
Menentukan dimana barang diproduksi
Menentukan urutan-urutan proses produksi
Menentukan standard penggunaan fasilitas untuk mencapai efesiensi
Menyusun anggaran program tentang penggunaan bahan mentah, buruh,
service, dan peralatan.
3. Metode penyusunan budget produksi
Anggaran produksi merupakan daasar penyusunan anggran-anggaran lain
seperti anggaran bahan mentah, anggaran tenaga kerja, dan anggaran biaya
overhead pabrik. Dalam penyusunan budget produksi, disesuaikan dengan
ramalan penjualan serta persediaan awal dan akhir barang yang ada. Secara
garis besarnya anggaran (budget) produksi dapat disusun menggunakan
rumus sebagai berikut : (Gunawan Adisaputro, 2003:191)
19

Penjaualan xxx
Persediaan akhir xxx+
Barang yang tersedia xxx
Persediaan awal xxx-
Tingkat produksi xxx
Penjualan yang dimaksud adalah penjualan yang diramalkan untuk tahun
yang akan datang. Persediaan awal merupakn persediaan akhir untuk tahun
yang diramalkan, dapat dicari dengan menggukan rumus sebagai berikut :
(Gunawan Adisaputro, 2003:204)
Inventory turn over = penjualan pertahun
Persediaan rata-rata

Persediaan rata-rata = persediaan awal + persediaan akhir


Persediaan akhir = ( 2) - persediaan awal

ITO tahun yang lalu = ITO tahun sekarang

2.6 Anggaran Kebutuhan Bahan Baku

2.6.1 Tujuan Penyusunan Anggaran Kebutuhan Bahan Baku

Dasar dari penyusunan anggaran kebutuhan bahan baku adalah anggaran


produksi yang telah direncankan untuk tahun yang akan datang. Bermacam-
macam tujuan anggran kebutuhan bahan baku, intinya untuk menjamin tingkat
penyediaan bahan yang mencukupi sehingga dapat mempelancar jalannya proses
produksi perusahaan. Tujuan disusunnya anggaran kebutuhan bahan baku antara
lain : (Welsch,2005:338)

1. Untuk meramalkan kuantitas, sehingga pembelian bahan baku dapat


direncanakan dan dikendalikan dengan baik
2. Untuk memberikan data kuantitas, sehingga bahan baku yang digunakan
dalam produksi di budget menurut produksi
3. Untuk menetapkan kebijakan tingkat persediaan bahan baku guna
perencanaan dan pengendalian efektif tingkat persediaan
20

4. Untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan uang kas (Budget Cash) untuk


pembelian-pembelian bahan baku
5. Untuk mengendalikan pemakaian bahan baku.

2.6.2 Teknik-Teknik Penentuan Anggaran Kebutuhan Bahan Baku

Jumlah bahan baku yang dibutuhkan untuk proses produksi dalam satu
periode waktu dapat ditentukam dengan berbagai cara, antara lain: (Agus Ahyari,
2001:66)

1. Tingkat penggunaan bahan baku


Penentuan kebutuhan bahan baku yang mendasarkan diri pada anggaran
atau perencanaan produksi perusahaan harus disertai dengan dasar tingkat
penggunaan bahan, yaitu seberapa banyak jumlah dan jenis bahan baku
yang dipergunakan untuk memproduksi satu unit produk akhir. Tingkat
penggunaan bahan baku seringnya juga disebut dengan standard
penggunaan bahan baku. Dengan demikian besarnya kebutuhan bahan
baku dapat ditentukan dengan cara mengalihkan rencana produksi dengan
standard penggunaan bahan baku.
2. Rata-rata bergerak
Dengan menggunakan metode ini peramalan kebutuhan bahan
baku didasarkan pada rata-rata dari penggunaan bahan baku pada periode
yang telah lalu. Penggunaan metode ini didasarkan pada anggapan bahwa
penyerapan bahan baku dalam proses produksi secara rutin adalah relatif
konstan, atau fluktuasi dari volume produksi tidak terlalu mencolok.
3. Faktor perata
Faktor perata merupakan bentuk peramalan bahan baku yang
dipergunakan untuk memodifikasikan peramalan kebutuhan bahan baku
dengan menggunakan rata-rata bergerak.
4. Trend garis lurus (fungsi pengukuran satu)
Dasar dari penggunaan metode ini adalah bahwa perusahaan
mempunyai anggapan bahwa kebutuhan bahan baku perusahaan untuk
21

menunjang proses produksi perubahan (pengurangan atau penambahan )


yang tetap dari satu periode berikutnya.
5. Trend garis lengkung (faktor pengkat dua)
Penggunaan metode ini mendasarkan pada anggapan bahwa
perubahan kebutuhan bahan baku dari periode ke periode berikutnya tidak
selalu sama atau pada setiap saat meningkat dengan pesat akan tetapi pada
saat yang lain menurun dengan tajam hingga mencapai titik nol (tidak ada
permintaan bahan baku).
Dengan menganalisa tingkat kebutuhan bahan baku untuk
membaca pemecahan masalah yang dihadapi, menggunakan cara pertama
yaitu dengan tingkat penggunaan bahan. Hal tersebut karena penentuan
anggaran kebutuhan bahan baku didasarkan anggaran produksi atau
perencanaan produksi yang telah disusun sebelumnya.

2.7 Perencanaan yang Ekonomis

Sehubungan dengan pemakaian persediaan barang untuk keperluan proses


produksi, maka bahan-bahan harus disediakan untuk keperluan proses produksi
selanjutnya, maka bahan-bahan tersebut harus dibeli. Pemesanan hendaknya
dilakukan ekonomis, dimana jumlah yang dipesan dilakukan haruslah didasarkan
atas kebutuhan untuk produksi dan pertimbangan biaya yang terjadi akibat
pemesanan dalam jumlah tersebut.

Persediaan pada dasarnya akan menimbulkan biaya-biaya. Biaya-biaya


yang ditibulkan tersebut berupa biaya-biaya dan biaya variabel.

Adapun biaya-biaya tersebut antara lain :

1. Ordering Cost
Ordering Cost adalah biaya-biaya yang berubah ubah sesuai dengan
frekuensi pesanan yang terdiri dari :
a. Biaya selama proses pesanan yang terdiri dari persiapan-persiapan yang
diperlukan untuk pemesanan dari penentuan besarnya kuantitas yang akan
dipesan.
22

b. Biaya pengiriman pesanan


c. Baiya penerimaan barang yang dipesan
Pembongkaran dan pemasukan kegudang
Pemeriksaaan material yang diterima
Mempersiapkan laporan penerimaan
Mancatat kedalam Material Recoard Card
d. Biaya-biaya processing pembayaran
Auditing dan perbandingan antara laporan penerimaan dengan pesanan yang
asli
Persiapan pembuatan pembayaran
2. Carrying Cost
Carrying Costadalah biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan
besarnya persediaan. Penentuan besar Carrying Costini didasarkan pada
Average Inventory (persediaan rata-rata), dan biaya ini dinyatakan dalam
presentase dari nilai dalam rupiah dari Average Inventory.
Biaya-biaya yang termasuk dalam Carrying Cost:
a. Biaya penggunaan atau sewa ruangan gedung
b. Biaya pemeliharaan material dan Allowances untuk kemungkinan rusak
c. Biaya untuk menghitung atau menimbang barang yang dibeli
d. Biaya asuransi
e. Biaya modal
f. Pajak pada perusahaan yang digudang

Dalam menentukan jumlah pemesanan yang ekonomis dapat


dilakukan dengan cara : (Sofyan Assauri, 2001:193)

1. Tabular Approach
Penentuan jumlah pemesanan yang ekonomis dengan metode ini
dilakukan dengan cara menyusun suatu daftar jumlah pemesanan dari jumlah
biaya pertahun. Jumlah pemesanan yang mengandung biaya yang terkecil
merupakan jumlah pemesanan yang ekonomis (Economical Order Quality)
2. Graphical Approach
23

Penenetuan jumlah pembelian yang ekonomis dengan graphical approach


dilakukan dengan cara menggabarkan grafik carrying cost, ordering cost, dan
total costdalam satu gambar, dimana sumbu horizontal jumlah pesanan
pertahun dan sumbu vertikal besarnya biaya dari orderrying cost. Carrying
cost, dan total cost. (T. Hani Handoko, 2007:339)


Biaya Total = (TC= 2 +
)


Total Biaya Biaya penyimpanan = 2


Biaya Pemesanan =

EOQ Kuantitas (Q)

Kurva 2.1 Kurva Persediaan Bahan Baku

3. Formular Approach
Penentuan jumlah pemesanan yang ekonomis dalam metode ini
dilakukan dengan cara menurunkan didalam rumus-rumus matematika ,
yaitu :
Dengan memperhatikan bahwa jumlah biaya persediaan yang
minimum, jika Ordering Cost sama dengan Carrying Cost. Rumus-rumus
24

matematika yang dipergunakan sebagai berikut : (Sofyan Assauri, 2001:


174)
Ordering Cost = P

Carrying Cost = 0,5 = 0,5

P = 0,5 RCN 2 = 2

2 2
2 = =

Dimana :
A = Jumlah kebutuhan bahan baku selama satuan (unit) pertahun
R = Harga bahan baku per unit
P = Biaya pemesanan (Ordering Cost) per order
C = Biaya penyimpanan (Carrying Cost) yang dinyatakan dalam satuan % dari
persediaan rata-rata
N = Jumlah pemesanan yang ekonomis.

Jumlah pesanan yang ekonomis tersebut dapat dinyatakan dalam :

a. Jumlah optimum unit per order


b. Jumlah optimum order per tahun
c. Jumlah optimum dari supply per order
d. Jumlah optimum rupiah per order

2.8 Safety Stock


Yang dimaksud dengan safety stock (persediaan pengaman) adalah
persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan
terjadinya kekurangan bahan baku (stock out). (Sofyan Assauri , 2001:198)
Kemungkinan terjadinya stock out dapat disebabkan karena penggunaan
bahan yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya atau keterlambatan dalam
penerimaan bahan baku yang dipesan, oleh karena itu pengadaan persediaan
penyelamat oleh perusahaan dimaksudkan untuk mengurangi kerugiaan yang
ditimbulkan karena terjadinya stock out.
25

1. Faktor-faktor yang menentukan besarnya Safety stock, beberapa faktor yang


menentukan besarnya Safety Stock (persediaan pengaman) antara lain :
(Sofyan Assauri, 2001:198)
a. Penggunaan bahan baku rata-rata
Salah satu dasar untuk memperkirakan penggunaan bahan baku
selama periode tertentu, khususnya selam periode pesanan adalah rata-rata
penggunaan bahan baku pada masa sebelumnya. Hal ini perlu diperhatikan
karena setelah mengadakan pesanan yang bergantian, maka penentuan
kebutuhan atau permintaan pelanggan, akan tetapi ada resiko yang tidak
dapat dihindarkan bahwa persediaan yang telah ditetapkan taksiran tersebut
habis sama sekali sebelum pengganti bahan atau barang dari pemesanan
datang. Dengan melihat dan memperhitungkan penyimpangan-
penyimpangan yang telah terjadi antara perkiraan dengan pemakain
sesungguhnya dalam penggunaan. Persediaan pengaman yang
menguntungkan yaitu pada tingkat yang memberikan total cost atau stock
out dan carrying cost terendah.
b. Level of Service Approach
Apabila stock out tidak ditentukan secara rasional maka pendekatan
ini dapat diterapkan. Penentukan kebijaksanaan yang rasional yang
dilakukan menjamin kelancaran kegiatan produksi, haruslah ditentukan dan
diukur dengan tingkat pelayanan (Level of Service) yang dapat diberikan
oleh adanaya persediaan pengaman tersebut. Tingkat pelayanan dapat
diartikan dalam dua hal, yang tergantung dari keadaan penggunnya: (Sofyan
Assauri, 2001:248)
1. Frekuensi Level of Service
Dalam hal ini secara rata-rata, tingkat jasa atau pelayanan x%
dalam jangka panjang, persediaan akan dapat memenuhi seluruh
permintaan langganan dari setiap 100%.
2. Quality Level of Service
26

Yang dimaksud adalah perbandingan secara rata-rata dalam jangka,


dari seluruh pesanan dapat memenuhi seluruh permintaan pelanggan atau
penangguhan.
Untuk melihat antara tingkat pelayan dengan tingkat persediaan
pengaman yang diadakan untuk tingkat pelayan tersebut, dibutuhkan ukuran
dari frekuensi permintaan yang diharapkan dapat dipenuhi dari adanya
persediaan. Ukuran tersebut menggunakan teori statistik, dengan ketentuan:
Distribusi normal, yang umumnya dipergunakan untuk barang-barang yang
cepat berganti.
Distribusi Cha-square, yang umumnya dipergunakan untuk barang-barang
yang lambat berganti.

Dengan pendekatan, Safety stock dapat ditentukan dengan rumus: (Siswanto


, 2006:111)

Safety stock = safety Factor x standart deviasi

Dimana :

Safety stock adalah angka yang diperoleh dari tabel Z kurva normal
berdasarkan % kemungkinan memenuhi permintaan yang diingkan.

2.9 Re Order Point


Re order point adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan
yang ada pada suatu dimana pesanan harus diadakan kembali. Dalam
menentukan titik pesanan kembali ini, harus diperhatikan jumlah pemakaian
selama Lead Timedan persediaan pengaman. Misalnya penggunaan bahan
selama bahan-bahan yang dipesan belum diterima ditentukan oleh dua faktor,
yatu lead time dan penggunaan rata-rata.
Jadi besarnya penggunaan bahan selama yang dipesan belum diterima,
adalah hasil perkalian antara waktu yang perlukan untuk memesan lead time
dan jumlah penggunaan rata-rata. Dengan demikian titik pemesanan
ditentukan dengan rumus : (Siswanto, 2006:113)
27

ROP = Safety Stock x Penggunaan selama lead time


Dimana :
Penggunaan lead time = Lead time X penggunaan rata-rata bahan baku

EOQ

Q(unit)

t (waktu)
safety

Gambar 2.2 Kurva ROP, LT, dan SS


28

BAB 3

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1 Tujuan penelitian


a. Untuk mengetahui jumlah persediaan yang optimal untuk bahan baku kertas
CV. Multi Mitra Mandiri Jember pada periode 2015
b. Untuk megetahui kapan perusahaan harus melakukan pemesanan kembali
(ROP)
c. Untuk mengetahui jumlah pembelian ekonomis (EOQ)

3.2 Manfaat Penelitian


Bagi perusahaan agar dapat memberikan informasi yang tepat
digunakan oleh CV. Mitra Mandiri Jember dalam pengambilan suatu
keputusan terbaik dalam pengadaan persediaan

27
29

BAB 4
LOKASI DAN METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi Penelitian


Adapun lokasi penelitian tugas akhir ini dilakukan di CV. Mitra
Mandiri Jember yang bertempat di Jln. Manggis No. 74 Jember.
4.2 Metode Penelitian
4.2.1 Metode Pengumpulan Data
Dalam rangka mengumpulkan data-data atau kerangka yang
diperlukan dalam hal ini penulis menggunakan beberapa metode, diantaranya
sebagai berikut :
a. Observasi
Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data secara langsung ke
lapangan dengan melihat objek yang diteliti dalam waktu yang bersamaan.
Metode ini bersifat umum dan menyeluruh sehingga manfaatnya dapat
dipakai sebagai dasar penelitian yang lebih baik.
b. Wawancara (Interview)
Interview yang disebut juga wawancara atau kuesioner lisan adalah
sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interview) untuk
memperoleh informasi dari terwawancara.
Penulis juga melakukan wawancara dalam pengumpulan data, yaitu
mengadakan komunikasi langsung dengan pihak-pihak yang terkait dengan
suatu tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh penulis.
c. Dokumentasi
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan melihat
catatan atau arsip yang ada, terutama bagian pembukuan dan dokumentasi
perusahaan.
d. Studi Pustaka
Selain melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi penulis
juga melakukan pengumpulan data dengan cara studi pustaka. Dalam metode

28
30

ini penulis melengkapi data-data dengan membaca dan mempelajari dari


buku-buku yang relevam serta pendapat dari para ahli yang berkopeten
dengan masalah yang diteliti.
Dalam penelitian ini diperlukan data atau keterangan dan informasi,
untuk itu penelitian mengumpulkan data sebagai berikut :
a. Data Primer
Data primer yaitu pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada
lokasi peneltian, instrumen yang dilakukan antara lain : hasil dari kegiatan
observasi dan wawancara, yaitu informasi yang dihasilkan melihat langsung
objek yang diteliti dan berkomunikasi dengan pihak yang terkait dalam
penelitian ini untuk mendapat data yang dibutuhkan oleh penulis.
b. Data Sekunder
data sekunder yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui pengumpulan
bahan keputusan yang dapat mendukung data primer, instrumen yang
dibutuhkan antara lain :
1. Studi dokumentasi, yaitu data dengan menggunakan catatan-catatan atau
dokumen yang ada dilokasinpenelitian serta sumber-sumber lain yang relevan
dengan objek penelitian.
2. Studi pustaka, yaitu membaca dan mempelajari buku-buku serta pendapat
para penulis yang berkompeten dengan maslaah yang diteliti.

4.2.2 Metode Analisis Data


1. Untuk mengetahui ramalan penjualan dimasa yang akan datang dengan
menggunakan Trend Linear Model Least Square.(Gunawan Adisaputro dan
Marwan Asri, 2003:159)
Y = a + bx

= =
2
Keterangan :
y = Besarnya penjualan yang diramalkan
a = Nilai Y pada titik 0
31

b = Lereng garis lurus


x = Satuan waktu
n = Banyak data

2. untuk mengukur tingka persediaan barang (Bambang Riyanto, 2003: 60)



a. Inventory Time Over (ITO) =
+
b. Persediaan Rata-Rata =
2
2
Persediaan akhir =

Dimana Pada ITO mempunyai asumsi :


ITO tahun lalu = ITO tahun sekarang
3. Untuk menentukan tingkat kebutuhan barang periode yang akan datang
digunakan anggaran kebutuhan barang. (Gunawan Adisaputro dan
Marwan Asri. 2003:183)
Anggaran kebutuhan barang :
Rencana Penjualan xxx
Persediaan akhir xxx +
Barang yang Tersedia xxx
Persediaan Awal xxx -
Rencana Produksi xxx
4. Dengan mengetahui besarnya kebutuhan barang periode mendatang dapat
dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan besarnya jumlah pembelian
paling ekonomis EOQ (economical Order Quantity). (Sofyan Assauri,
2003:175).
Metode EOQ sangat mudah dan sederhana, namun ada beberapa
asumsi yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Permintaan terhadap produk adalah konstan, seragam dan diketahui
b. Harga per unit produk adalah konstan
c. Biaya penyimpanan per unit per tahun adalah konstan
d. Biaya pemesanan per pesanan adalah konstan
32

e. Waktu antara pesanan dilakukan dan barang-barang diterima (Lead


time) adalah konstan
f. Tidak terjadi stockout atau kekurangan bahan baku.

2..
EOQ =

Keterangan :
r = Jumlah unit yang akan di beli per periode
s = Biaya pemesanan atau order cost setiap kali pesan
c = Besarnya biaya penyimpanan per unit per periode
5. Besarnya menghitung biaya Safety Stock (Sofyan Assauri, 2001:177)
Safety Stock = Safety Faktor + Standard Deviasi
Safety faktor adalah faktor pengaman yang diperoleh dari tabel kurva
kepercayaan berdasarkan presentase kemungkinan memenuhi permintaan
(tingkat kepercayaan /Level of Service). Standard deviasi merupakan standard
penyimpanan pemakaian jenis bahan baku yang dihitung dengan rumus :
(Sofyan Assauuri, 2001:177)
()2
S=

Dimana :
S = Standard deviasi pemakaian bahan baku
Xi = Pemakaian bahan baku pada periode i (i=1...n)
X = Rata-rata pemakain bahan baku
6. Untuk mengetahahui penggunaan bahan baku selama lead time
Penggunaan kertas selama lead time = kebutuhan per hari x lead time
Kebutuhan per hari = Jumlah rencana produksi : jumlah hari kerja per tahun
Lead time = EOQ/safety stock
7. Menentukan kapan perusahaan melakukan pemesanan kembali bahan baku
yang diperlukan. (Gunawan Adisaputra dan Marwan Asri, 2003:209)
ROP = LT x SS
Dimana :
33

ROP = Re Order Point


LT = Penggunaan bahan baku selama Lead Time
SS = Safety Stock

4.3 Batasan Masalah


Melihat begitu luasnya ruang lingkup tentang percetakan terutama
pada bahan baku kertas pada kalender, maka penulis hanya akan membahas
mengenai sistem persediaan bahan baku yaitu perencaan bahan baku, metode
persediaan bahan baku, dan menentukan persediaan bahan baku secara
optimal pada produksi kalender dengan kertas yang memiliki tebal 150
dengan ukuran kalender 46x46 dalam satuan cm terdiri dari 4 lembar dengan
merek kertas Art Paper pada percetakan UD. Multi Mitra Mandiri Jember
(3M)

4.4 Definisi Operasional


Forecast penjualan merupakan perkiraan pada suatu waktu yang akan datang
dalam keadaan dan dibuat berdasarkan data-data yang pernah terjadi dan atau
akan terjadi.
Perencanaan adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan dimana
serangkian keputusan yang diambil sekarang untuk dikerjakan pada yang
akan datang.
Optimal/terbaik/tertinggi/paling menguntungkan.
Persediaan merupakan aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan
dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha normal atau
persediaan barang-barang masih baku yang menunggu penggunaannya dalan
suatu proses produksi.
Persediaan yang optimal adalah sejumlah bahan-bahan yang disediakan untuk
proses produksi, untuk permintaan yang disediakan untuk proses produksi,
untuk menerima permintaan konsumen setiap waktu yang jumlahnya
disesuaikan dengan keadaan perusahaan.
34

Observasi langsung adalah pengumpulan data melalui pengamatan dan


pencatatan gejala-gejala pada objek yang dilakukan secara langsung di tempat
kejadian.

4.5 Waktu Penelitian


Penelitian ini diadakan 8 bulan (Delapan bulan), melalui Januari sampai
Agustus 2015 yang mengambil tempat atau lokasi pada percetakan UD. Multi
Mitra Mandiri Jember.

4.6 Kerangka Penelitian Masalah

DATA RAMALAN
START HISTORIS PENJUALAN

ANGGARAN
SAFETY EOQ KEBUTUHAN
STOCK BARANG

ROP KESIMPULAN SARAN

STOP

Gambar 4.1 kerangka pemecahan masalah

Langkah-langkah dari pemecahan masalah :

1. Mengumpulkan data-data menghitung jumlah penjualan yang diramalkan.


2. Menghitung tingkat persediaan akhir yaitu dengan menggunakan ITO
(Inventory Turn Over) sebagai dasar untuk menentukan anggaran kebutuhan
barang.
35

3. Dengan mengetahui besarnya kebutuhan barang maka dapat dihitung jumlah


EOQ, Safety Stock, dan ROP barang.
4. Setelah semua telah diketahui maka dapat ditarik kesimpulan serta saran
untuk perusahaan

34
36

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Perusahaan


5.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan
CV. Multi Mitra Mandiri adalah sebuah perusahaan yang bergerak di
bidang perdagangan umum. Dengan bidang usaha berupa Penerbitan, Percetakan,
Komputer, dan Multimedia.CV. Multi Mitra Mandiri beralamat di Jl. Manggis 72
Jember. Direktur Utama CV. Multi Mitra Mandiri Okky Hudabayu, S.E, Wakil
Direktur Panji Sanjaya, S.E, Direktur Divisi Penerbitan dan Percetakan Bambang
Basuki, SE., MM, Direktur Divisi Teknologi Informasi dan Komunikasi Dhega
Febiharsa, S.ST.
Dengan visi untuk menjadi salah satu pelaku usaha yang turut membawa
perekonomian bangsa dan negara ke arah yang cemerlang serta menciptakan
karya dan produk yang bermanfaat dan berdaya guna di berbagai sisi kehidupan
masyarakat Indonesia pada khususnya dan Dunia pada umumnya.
Dengan misi untuk membantu mensejahterakan Rakyat Indonesia melalui
suatu usaha yang mampu bersaing baik secara regional maupun nasional dan
internasional.Multi Mitra Mandiri memiliki sasaran untuk menjadi pelaku usaha
dan korporasi yang dapat diandalkan bagi masyarakat, bangsa dan negara.

5.1.2. Struktur Organisasi


Struktur organisasi dalam suatu perusahaan mempunyai peranan yang
sangat penting, karena dengan adanya struktur organisasi, setiap karyawan akan
dapat mengetahui jelas bagaimana tugas, tanggung jawab serta wewenang yang
dimiliki dalam perusahaan sehingga fungsi dan tanggung jawab yang ada dapat
diarahkan untuk mencapai tujuan perusahaan. Setiap perusahaan didirikan karena
adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai, tujuan itu menentukan macam dan
luasnya pekerjaan yang harus dilakukan. Segala pekerjaan yang dilakukan dengan
tertib akan bermanfaat dan mempunyai fungsi. Sedangkan yang dimaksud dengan

35
37

fungsi adalah kelompok aktivitas atau pekerjaan yang tergolong pada jenis yang
sama berdasarkan suatu urutan atau secara praktis saling tergantung sama lain.
Adapun Struktur Organisasi CV. Multi Mitra Mandiri tampak seperti pada gambar
berikutini :
Direktur Utama

Administrasi

Direktur Divisi Direktur Divisi Teknologi


Penerbitan dan Informasi dan Komunikasi
Percetakan

Karyawan Teknisi

Gambar 5.1 Struktur Organisasi CV. Multi Mitra Mandiri (Triple M)

Penjelasan dari struktur organisasi CV. Multi Mitra Mandiri (Triple M)adalah
sebagai berikut :

1. Direktur Utama
a. Sebagai pimpinan langsung untuk tema operasional, juga merupakan
pimpinan untuk Team Supporting yang terdiri dari Direktur Divisi
Penerbitan dan Percetakan Direktur, Divisi Teknologi Informasi dan
Komunikasi dan Administrasi.
b. Direktur Utama juga menentukan target penjualan untuk setiap divisi yang
didasarkan pada kemampuan masing-masing Direktur
c. Berhak memberikan discount penjualan.
d. Menentukan strategi penjualan yang perlu diterapkan.

2. Administrasi
a. Melakukan memeriksa terhadap hasil penjualan baik penjualanvolume
38

maupun penjualan value.


b. Melakukan memeriksa persediaan barang yang disesuaikan dengan report
penjualan.
c. Menghitung jumlah Effective Call dalam satu periode penjualan. Membuat
rekapitulasi pengeluaran bonus yang telah dikeluarkan.
d. Membuat laporan penjualan baik penjulan dalam bentuk volume maupun
dalam bentuk value, yang setiap periodenya dilaporkan pada Direktur
Utama.
e. Adm bertanggung jawab secara langsung pada Direktur Utama.

3. Direktur Divisi Penerbitan Dan Percetakan


a. Melakukan perencanaan terhadap jumlah eksemplar buku yang akan
diterbitkan.
b. Melakukan perencanaan terhadap eksemplar buku yang akan dicetak.
c. Menentukan strategi penjualan buku yang perlu diterapkan.
d. Bertanggungjawab langsung kepada Direktur Utama.

4. Direktur Divisi Teknologi Informasi Dan Komunikasi


a. Menentukan Strategi penjualan peralatan Teknologi Informasi Dan
Komunikasi.
b. Melakukan negoisasi harga dengan konsumen atas pertimbangan Direktur
Utama.
c. Bertanggungjawab langsung kepada Direktur Utama.

5. Teknisi
a. Melakukan pemasangan, penginstalan dan perbaikan terhadap peralatan
Teknologi Informasi Dan Komunikasi.
b. Bertanggungjawab langsung kepada Direktur Divisi Teknologi Informasi
Dan Komunikasi.

5.2. Aspek Personalia

5.2.1 Jumlah Tenaga Kerja


39

Hingga saat ini CV. Multi Mitra Mandiri (Triple M) memiliki tenaga kerja
sebanyak 10 orang, dengan perincian sebagai berikut :

Tabel 5.1. Jumlah Tenaga Kerja Produk yang dipasarkan oleh CV. Multi Mitra
Mandiri (Triple M) Berdasarkan Jabatannya.
Tabel 5.1
Jumlah tenaga kerja
No. Jabatan Jumlah
1. Direktur Utama 1 orang
2. Direktur Divisi Penerbitan Dan Percetakan 1 orang
3. Direktur Divisi Teknologi Infonnasi Dan Komunikasi 1 orang
4. Administrasi 2orang
5. Karyawan Divisi Penerbitan Dan Percetakan 2orang
6. Teknisi 3 orang
Jumlah 10 orang
Sumber : CV. Multi Mitra Mandiri 2014

5.2.2 Hari dan Jam Kerja


CV. Multi Mitra Mandiri (Triple M)menetapkan hari kerja sebanyak 6 hari
kerja dengan 42 jam kerja selama satu minggu. Adapun jam kerjanya adalah
sebagai berikut
11) Senin s/d Kamis.
Jam 08.00 Masuk kerja
Jam 12.00s/d 13.00 Istirahat
17.00 Selesai
12) Khusus Jum'at
Jam 08.00 Masuk kerja
Jam 11.00 s/d 13.00 Istirahat
17.00 Selesai
3). Khusus Sabtu
Jam 08.00 Masuk kerja
40

Jam 12.00 s/d 13.00 Istirahat


15.00 Selesai

5.2.3 Biaya Tenaga Kerja


Biaya tenaga kerja langsung atau upah langsung (direct labor). merupakan
biaya tenaga kerja yang digunakan dalam produksi yang dapat diidentifikasikan
secara langsung kepada produk yang dihasilkan. Tenaga kerja langsung,
merupakan salah satu faktor produksi yang utama dan yang selalu ada dalam
perusahaan, meskipun pada perusahaan tersebut sudah digunakan mesin-mesin.
Tenaga Kerja yang bekerja di percetakan Triple M dikelompokkan menjadi dua
yakni: tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tak langsung
Adapun jumlah tenaga kerja, jenis pekerjaan, besarnya gaji per bulan serta
upah tenaga keja lepas nampak dalam Tabel 5.2berikut :
Tabel 5.2
Beban Gaji Tenaga Kerja Tahun 2010 2014(Dalam Rp)
Jenis Jm Gaji/Oran
Pekerjaan l g
2010 2011 2012 2013 2014
1,750,00
Designer 3 Per Bln 1,150,000 1,300,000 1,450,000 1,600,000
0
Operator 2,250,00
2 Per Bln 1,250,000 1,500,000 1,750,000 2,000,000
Mesin 0
Co-Operator 1,200,00
2 Per Bln 800,000 900,000 1,000,000 1,100,000
Mesin 0
Pemotong 1,200,00
1 Per Bln 800,000 900,000 1,000,000 1,100,000
Kertas 0
Tenaga
5 Per Lbr 40 45 50 60 75
Finishing
Bagian 1,600,00
2 Per Bln 1,000,000 1,150,000 1,300,000 1,450,000
Pemasaran 0
Akuntansi & 1,700,00
1 Per Bln 1,200,000 1,300,000 1,400,000 1,550,000
Adm 0
Bagian 1,200,00
1 Per Bln 800,000 900,000 1,000,000 1,100,000
Pengiriman 0
Sumber : CV. Multi Mitra Mandiri

5.3 Aspek Pemakaian Gedung


CV. Mitra Mandiri Jember dalam pemakaian gedung untuk usaha
produksi kalender ini menggunakan dari luas gedung untuk digunakan dalam
ruang penyimpanan.
41

5.4 Pembahasan
Berikut adalah data-data penjualan yang diperoleh dari CV. Mitra Mandiri
Jember :

Tabel 5.3
CV. Mitra Mandiri Jember
Volume Penjualan Periode 2010 s/d 2014 (Dalam Lembar)

Tahun Penjualan
2010 76800
2011 91200
2012 91200
2013 100800
2014 115200
Sumber : CV. Mitra Mandiri Jember

Tabel 5.4
CV. Mitra Mandiri Jember
Persediaan Kertas Periode 2010 s/d 2014 (Dalam Lembar)

Tahun Persediaan Awal Pembelian Penjualan Persediaan Akhir


2010 3500 78000 76800 4700
2011 4700 90000 91200 3500
2012 3500 90000 91200 2300
2013 2300 100000 100800 1500
2014 1500 114000 115200 4300
Sumber : CV . Mitra Mandiri Jember

5.4.1 Ramalan Penjualan


Dari tabel penjualan pada periode tabel 5.1 dapat di hitung ramalan
penjualan untuk tahin 2015. Untuk mengitung peramalan penjualan digunakan
analisis trend Linear model least square.
42

Tabel 5.5
CV. Mitra Mandiri Jember
Ramalan Volume Penjualan Periode 2010 s/d 2014 (Dalam Lembar)

Tahun Y X XY X2
-
1536
2010 76800 -2 00 4
2011 91200 -1 -91200 1
2012 91200 0 0 0
2013 100800 1 100800 1
2014 115200 2 230400 4
Jumlah 475200 0 86400 10
Sumber : Tabel 5.1 diolah

Y = a + bx

= = 475,200/5 = 95.040


= = 86.400/10 = 8.640
2

Jadi ramalan penjualan untuk tahun 2015 adalah sebagai berikut :


Y = a + bx
= 95.040 +(8,640(3))
= 120.960 lembar

5.4.2 Menentukan Tingkat persediaan Produk


Untuk menentukan persediaan produk dapat ditempuh dengan langkah
sebagai berikut :
a. ITO (Inventory Turn Over)
Sebagai dasar untuk menentukan ITO 2015 adalah tahun 2014, dari data
persediaan awal dan persediaan akhir pada tabel 5.2 dapat ditentukan ITO
untuk tahun 2015.
43


Inventory Time Over (ITO) 2014 = 1

+
Persediaan Rata-Rata =
2
1500+4300
Persediaan Rata-Rata = = 2900 lembar
2

120960
ITO tahun 2014 = 1 = 41,71kali atau 42 kali
2900

Diasumsikan ITO tahun 2015 sama dengan ITO tahun 2014 yaitu 42 kali
perputaran pemakaian bahan baku kertas.

b. Persediaan Akhir
Untuk mengetahui besarnya persediaan akhir tahun 2015 dapat dicari
dengan cara :

ITO = 1
+
Persediaan rata-rata = 2
+
Maka, =
2
2
Jadi, persediaan a khir = +Persediaan awal

Dengan menggunakan rumus tersebut dan dengan asumsi ITO tahun 2014
sama dengan tahun 2015, maka dapat dihitung bersarnya persediaan akhir
tahun 2015 sebagai berikut :
2 120960
Persediaan akhir tahun 2015 = + 4300 = 1460 lembar
42

5.4.3 Anggaran Kebutuhan Barang persediaan akhir


Setelah diketahui persediaan awal dan periode 2015, maka dapat disusun
anggaran kebutuhan barang sebagai berikut :
Rencana penjulan 120960lembar
Persediaan akhir 1460 lembar
Barang yang tersedia 122420 lembar
Persediaan awal ( 4300) lembar
Rencana produksi 118120 lembar
44

Ket : Rencana produksi = Rencana Pembelian

5.4.4 EOQ (Economical Order Point)


Pesanan hendaknya dilakukan secara ekonomis, dimana jumlah yang
dipesan haruslah didasarkan atas kebutuhan untuk proses distribusi dan
pertimbangan biaya yang terjadi akibat pemesanan barang dalam jumlah
tersebut.
Berdasarkan data yang diperoleh dari UD. Multi Mitra Mandiri Jember
dalam
Standard penggunaan kertas :
- Satu rem = 500 plano
- Satu plano = 2 lembar kalender
- Harga/lembar Rp 1,456
Dalam proses pemesanan barang, perusahaan dikenakan biaya pesananan
sebesar Rp 20,000 tiap kali pesan.
Biaya penyimpanan di gudang diperkirakan sebesar Rp 105,-/lembar dari
nilai barang yang disimpan. Biaya penyimpanan ini meliputi biaya kuli dan
listrik. Dari anggaran yang telah disusun diatas, terlihat bahwa tahun 2015 UD.
Multri Mitra Mandiri Jember membutuhkan barang sebanyak 118120 lembar.
Dari data tersebut dapat dihitung jumlah pembelian yang paling ekonomis
(EOQ) sebagai berikut :

2..
EOQ =

(2 118120)(20,000)
=
105

4.724.800.000
=
105

= 44.998.095,238
45

= 67.08,06lembar atau 6.708 lembar

118120 lembar
Frekuensi pembelian dalam satu tahun = 1 kali
6708 lembar

= 17,6 atau 18 kali pemesanan

5.4.5 Safety Stock


Yang dimaksud dengan safety stock (persediaan pengaman) adalah
presediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan
terjadinya kekurangan bahan (stock out). Pada saat melakukan pemesanan barang
kembali (Re Order Point) harus diperhitungkan secara tepat agar kedatangan
barang yang dipesan tepat pada saat diperlukan. Apabila pemesanan dilakukan
sesudah melewati Re Order Point maka barang akan diterima pada saat
perusahaan sudah menggunakan sebagian barang pengaman (Safety stock). Selain
persediaan barang, dalam menentukan Re Order Point perlu dipertimbangkan juga
Lead Time, yakni waktu sejak dimulainya usaha-usaha pemesanan barang sampai
barang diterima di gudang penyimpanan. Lead time dari perusahaan ini 7 hari.

Persediaan pengaman dalam hal ini adalah jumlah persediaan barang yang
harus ada di dalam perusahaan untuk menjaga kemungkinan terjadinya
kekurangan barang. Besarnya Safety Stock didapat dengan cara mengalihkan
Safety Factor dengan Standart Deviasi. Safety Faktor dalam perhitungan ini
besarnya didasarkan pada Level Of Service 90% atau / 2 = 5%

Adapun penentuan besarnya Standard Deviasi didasarkan pada pemakaian


barang selam 5 tahun yaitu dari tahun 2010-2014 sebagai berikut :

Tabel 5.6
UD. Mitra Mandir Jember
Penggunaan Barang Selama Tahun 2010-2014 (Dalam Lembar)
Tahun Penggunaan barang
2010 78000
2011 90000
2012 90000
2013 100000
46

2014 114000
Jumlah 472000
Rata-rata 94400
Sumber : UD. Mitra Mandiri Jember

Dari data penggunaan barang tersebut dapat dicari Standard Deviasi sebagai
berikut :

Tabel 5.7
UD. Mitra Mandiri Jember
Standard Deviasi Penggunaan Barang (Dalam Lembar)
Tahun Penggunaan barang (X) X (X-X) ( )2
2010 78000 -16400 268960000
2011 90000 -4400 19360000
2012 90000 94400 -4400 19360000
2013 100000 5600 31360000
2014 114000 19600 384160000
Jumlah 472000 0 723200000
Sumber : Tabel 5.4 diolah

()2
Standard Deviasi =

723.200.000
=
5

= 144.640.000
= 12.026,64 lembar atau 12.027 lembar

Berdasarkan tabel kurva besarnya tingkat kepercayaan (Level Of Service)


sebesar 90% atau /2 = 5% akan memberikan nilai Safety Factor sebesar 1,65
(50%-5% = atau 0,4500. Angka yang mendekati dengan 0,4500 adalah 0,4505,
nilai ini terletak denga angka di bawah Z sebesar 1,65 ), jadi besarnya Safety Stock
barang sebagai berikut :

Safety Stock = Safety Factor X Standard Deviasi


47

Safety Stock = 1,65 X 12.027 lembar = 19.844,55 lembar atau 20 lembar

Jadi lead time pada perusahaan UD. Mitra Mandiri Jember ialah :

Penggunaan per-hari = 118.120/360 hari = 328,11 atau 328 lembar/hari

Lead time : 7 hari

Jadi penggunaan selama lead time= 328 lembar x 7 hari = 2.296 lembar/hari

5.4.6 ROP (Re Order Point)


Re Order Point adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang
ada pada suatu saat dimana pesanan harus diadakan kembali. Dalam menentukan
titik pemesanan kembali ini, harus diperhatikan jumlah pemakaian selama Lead
Time dan persediaan pengaman.
Besarnya penggunaan bahan selama bahan-bahan yang dipesan belum
diterima ditentukan dua faktor yaitu Lead Time dan penggunaan rat-rata. Jadi
besarnya penggunaan bahan selama bahan yang dipesan belum diterima, adalah
hasil perkalian antara waktu yang dibutuhkan untuk memesan (Lead Time) dan
jumlah rata-rata bahan tersebut. ROP ini harus dilakukan sebelum persediaan
barang di gudang habis dipakai. Berdasarkan data diatas dapat dicari ROP
perusahaan sebagai berikut :
ROP = penggunaan selama Lead Time +Safety Stock
= 2.296 + 20 = 2.316 lembar
5.4.7 Hubungan EOQ, Safety Stock, dan ROP
Dari pembahasan-pembahasan diatas diperoleh data-data sebagai berikut :
Rencana pembelian bahan baku kertas pada periode 2015 = 118120
lembar
EOQ = 6708 lembar dengan frekuensi pembelian sebanyak 18 kali
Penggunaan barang selama Lead Time satu bulan = 2.296 lembar
ROP = 2.316 lembar
Safety Stock = 20 Lembar
48

Q ()

118.120

EO
Q

ROP = 348 ROP ROP ROP

Safety Stock = 20

Safety Stock

1 7 8 14 15 21
LT (Hari)

LT LT LT

Gambar 5.2
UD. Mitra Mandiri Jember
Kurva EOQ, Safety Stock dan ROP
49

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Persediaan bahan baku yang optimal untuk tahun 2015 122.420 lembar
2. Re order point dilakukan apabila persediaan kertas di gudang sebanyak
2.316 lembar
3. Pembelian barang yang paling ekonomis (EOQ) untuk periode 2015
adalah sebanyak 6.708 lembar, dengan frekuensi pembelian selama
setahun sebanyak 18 kali.

6.2 Saran
Di dalam perencanaan pembelian kertas 2015, CV. Multi Mitra
Mandiri Jember harus memperhatikan hal-hal berikut :
1. Diusahakan pembelian barang tahun 2015 sebesar 118.120 lembar,
karena hal ini merupakan jumlah pembelian barang yang paling
ekonomis (EOQ) dengan frekuensi sebanyak 18 kali setahun untuk
mencapai biaya yang minimum,
2. Pemesanan barang kembali harusnya dilakukan apabila persediaan
tinggal 2.316 lembar agar perusahaan mampu memenuhi kebutuhan
pembelian.
50

DAFTAR PUSTAKA

48
Agus Ahyani, (2001). Manajemen Produksi II (Pengendalian Produksi), Fakultas
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Amanugrahani, S.E (2006). Pengantar Akuntansi. Jakarta : Salemba Empat.

Bambang Riyanto (2003), Dasar Dasar Pembelajaran Perusahaan, BPFE,


Yogyakarta.

Farahmita, Aria S.E (2005), Pengantar Akuntansi, Jakarta : Salemba Empat.

Gunawan Adisaputro dan Marwan Asri (2003), Anggaran Perusahaan, Fakultas


Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Hendrawan, Taufik S.E (2008). PengantarAkuntans. Jakarta : Salemba Empat.

Marghareta, Farah Dra. M.E (2005). Teori dan Aplikasi Manajemen Keuangan.
Jakarta : Grasindo.

Siswanto, (2006). Persediaan Modal dan Analisis. Andi Offiset dan Pusat
Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya. Yogyakarta.

Soemarso S.R (2001). Akuntansi Suatu Pengantar, Edisi 5. Jakarta : Salemba


Empat.
51

Sofyan Assauri, (2001). Manajemen Produksi. Fakultas Ekonomi Universitas


Indonesia, Jakarta.

T. Hani Handoko, (2000). Dasar Dasar Manajemen Produksi dan Operasional.


BPFE UGM, Yogyakarta.

49