Anda di halaman 1dari 19

Cara Pemakaian Fly Ash

Fly ash merupakan bahan bangunan yang baik untuk pembuatan agregat dalam campuran
beton. kegunaannya tak hanya untuk mengirit semen saja yang jelas menambah kualitas
beton, kekedapan air, ketahanan terhadap sulfat dan mudah dalam pengerjaan. Berikut ini
merupakan tata cara penggunaan fly ash sebagai bahan bangunan:

Petunjuk Penggunaan Fly Ash dan Perkiraan komposisi penggunaan fly ash (berat
semen 40kg/ zak) :

1. Untuk campuran mortar beton cor (lantai dak, sloof, kolom) Komposisi :
Perbandingan adonan adalah 70% semen (28kg) : 30% fly ash (12kg) .
2. Untuk pasangan keramik, benangan dan acian. Komposisi : Perbandingan adalah 50%
semen (20kg) : 50% fly ash (20kg) .
3. Untuk pasangan batu pondasi. Komposisi : Perbandingan adalah 40% semen (16kg) :
60% fly ash (24kg) .
4. Untuk pasangan bata merah atau batako. Komposisi : satu zak fly ash (30kg)
dicampur dengan 10-12 keranjang pasir ditambah dengan semen secukupnya yang
disesuaikan dengan kondisi bangunan yang diinginkan.

Penggunaan fly ash ini harus sesuai dengan aturan. Sebab jika penambahan fly ash terlalu
banyak maka mutu dari beton tersebut justru akan turun. Maka dari itu penambahan fly
ash pada campuran pembuatan beton, disesuaikan takaran atau ukuran dalam komposisi
penggunaan fly ash. Oleh karena itu, tercipta acian mortar kondisi bangunan yang diinginkan.
Di sini kami sebagai penjual fly ash dalam bentuk kemasan karung.

PENGARUH PENAMBAHAN FLY ASH


TERHADAP KUAT TEKAN BETON
MUTU TINGGI
Oleh:

Alfred RodriquesJanuarNabal

Lusitania RagilCahyaningsih

HendrikusKakePandong

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan teknologi beton menunjukkan peningkatan yang signifikan dari masa ke masa
(Oscar dkk, 2011). Terminologi beton pada masa purba merujuk pada apa yang disebut
dengan mortar yang tersusun atas campuran batuan, semen yang terbuat dari batu kapur,
pasir, dan air. Sejarah menunjukkan, keberadaan beton pertama kali pada 12 juta tahun
sebelum masehi di Israel (www.auburn.edu). Pada awal abad ke-20, perkembangan kemajuan
teknologi beton sangat pesat, mulai dari pembangunan apartemen August Perret pada tahun
1902, sampai pembangunan waduk Three Gorges Dam di Yiling Districk, Propinsi Hubei
pada tahun 2009. Beton sebagai bahan bangunan banyak digunakan dalam konstruksi karena
sifatnya yang kedap air, mudah dibentuk, relatif murah, dan mudah diperoleh. Kekuatan
tekan beton merupakan salah satu kinerja utama beton. Kuat tekan beton ditentukan oleh
proporsi bahan, yaitu agregat halus, agregat kasar, semen, dan air sebagai komponen
pembentuk beton.

Salah satu tonggak sejarah terpenting dalam teknologi beton adalah ditemukannya Semen
Portland oleh Joseph Aspdin pada tahun 1824 (Engineers Outlook, 2011). Nama Portland
pada Semen Portland merujuk pada suatu bangunan berkualitas prima yang dijumpai di
Portland, Inggris. Joseph Aspdin memperkenalkan metode pabrikasi semen Portland dengan
cara pembakaran batu kapur pecah dengan lempung dan meleburnya hingga memperoleh
bubuk semen. Semen Portland sebagai material dasar pembentuk beton didasari pada sifat
kimiawi semen tersebut yang menunjang proses pembentukan beton.

Dewasa ini, pembuatan beton mutu tinggi menjadi permasalahan utama pada masyarakat
konstruksi. Hal ini didasari adanya urgensitas beton sebagai material utama konstruksi dan
kekuatannya dalam menunjang konstruksi. Untuk menghasilkan beton mutu tinggi, salah satu
hal yang utama untuk dilakukan adalah dengan meningkatkan mutu material pembentuknya,
misalnya kekerasan agregat dan kehalusan butir semen. Adanya kontradiksi kekuatan tekan
beton yang dibutuhkan dengan ketersediaan mutu material memunculkan polemik tersendiri
didalamnya.

Salah satu indikator untuk menghasilkan beton mutu tinggi adalah tingkat porositas beton.
Sifat porositas beton dipengaruhi oleh gradasi agregat dan kehalusan butir semen.
Keterbatasan tingkat kehalusan butir semen menjadi persoalan utama dalam menghasilkan
beton mutu tinggi, jika ditinjau dari segi porositas. Untuk mengatasi hal ini, berbagai
penelitian dilakukan untuk mencari alternatif penggunaan semen sebagai material pembentuk
beton. Material-material yang diuji memiliki sifat kimiawi yang sama dengan semen.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifai Syakuri dan Haryadi (1997), adanya
penambahan fly ash pada campuran beton menghasilkan kuat desak yang paling maksimum
dibandingkan dengan beton normal biasa (..). Penggunaan material fly ash sebagai material
pembentuk beton didasari pada sifat material ini yang memiliki kemiripan dengan sifat
semen. Kemiripan sifat ini dapat ditinjau dari dua sifat utama, yaitu sifak fisik dan kimiawi.
Secara fisik, material fly ash memiliki kemiripan dengan semen dalam hal kehalusan butir-
butirnya. Menurut ACI Committee 226, fly ash mempunyai butiran yang cukup halus, yaitu
lolos ayakan No. 325 (45 mili micron) 5-27 % dengan specific gravity antara 2,15-2,6 dan
berwarna abu-abu kehitaman. Sifat kimia yangdimiliki oleh fly ash berupa silica dan alumina
dengan presentase mencapai 80%. Adanya kemiripan sifat-sifat ini menjadikan fly ash
sebagai material pengganti untuk mengurangi jumlah semen sebagai material penyusun beton
mutu tinggi.
Penggunaan fly ash sebagai material pembentuk beton memberikan dampak positif jika
ditinjau dari segi lingkungan. Fly Ash merupakan sisa pembakaran batu bara yang sangat
halus. Kehalusan butiran fly ash ini berpotensi terhadap pencemaran udara. Selain itu,
penanganan fly ash pada saat ini masih terbatas pada penimbunan di lahan kosong.

Dalam makalah ini, penulis akan mengidentifikasi penggunaan Fly Ash sebagai material
tambahan pembentuk beton. Indentifikasi material fly ash menitikberatkan pada pengaruh
penambahan material ini terhadap kuat tekan beton mutu tinggi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu Beton Mutu tinggi?


2. Bagaimana pengaruh penambahan fly ash pada beton mutu tinggi?

1.3 Batasan Masalah

Dalam penulisan Makalah ini,

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Beton

2.1.1 Pengertian

Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidrolik yang lain, agregat halus,
agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang membentuk massa padat
(SNI-03-2847-2002). Seiring dengan penambahan umur, beton akan semakin mengeras dan
akan mencapai kekuatan rencana (fc) pada usia 28 hari.

Kekuatan tekan merupakan salah satu kinerja utama beton. Kekuatan tekan adalah
kemampuan beton untuk dapat menerima gaya per satuan luas (Tri Mulyono, 2004). Nilai
kekuatan beton diketahui dengan melakukan pengujian kuat tekan terhadap benda uji
silinder ataupun kubus pada umur 28 hari yang dibebani dengan gaya tekan sampai mencapai
beban maksimum. Beban maksimum didapat dari pengujian dengan menggunakan alat
compression testing machine.

2.1.2 Material Dasar Pembentuk Beton

Beton dihasilkan dari sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi sejumlah material
pembentuknya (Nawy, 1985: 8). Untuk memahami dan mempelajari perilaku beton,
diperlukan pengetahuan tentang karakteristik masing-masing komponen pembentuknya.
Bahan pembentuk beton terdiri dari sejumlah campuran agregat halus dan agregat kasar
dengan air dan semen sebagai pengikatnya.

2.1.2.1 Agregat

Pada beton biasanya terdapat sekitar 70% sampai 80 % volume agregat terhadap volume
keseluruhan beton, karena itu agregat mempunyai peranan yang penting dalam propertis
suatu beton (Mindess et al., 2003). Agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga
seluruh massa beton dapat berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh, homogen, rapat, dan
variasi dalam perilaku (Nawy, 1998). Dua jenis agregat adalah :

1. Agregat halus (pasir alami dan buatan).

Agregat halus disebut pasir, baik berupa pasir alami yang diperoleh langsung dari sungai atau
tanah galian, atau dari hasil pemecahan batu. Agregat halus adalah agregat dengan ukuran
butir lebih kecil dari 4,75 mm (ASTM C 125 06). Agregat yang butir-butirnya lebih kecil
dari 1,2 mm disebut pasir halus, sedangkan butir-butir yang lebih kecil dari 0,075 mm disebut
silt, dan yang lebih kecil dari 0,002 mm disebut clay (SK SNI T-15-1991-03). Persyaratan
mengenai proporsi agregat dengan gradasi ideal yang direkomendasikan terdapat dalam
standar ASTM C 33/ 03 Standard Spesification for Concrete Aggregates.

Table 2.1 Gradasi Saringan Ideal Agregat Halus

Diameter Saringan (mm) Persen Lolos (%) Gradasi Ideal (%)


9,5 100 100
4,75 95-100 97,5
2,36 80-100 90
1,18 50-85 67,5
0,6 25-60 42,5
0,3 5-30 17,5
0,15 0-10 5

1. gregat kasar (kerikil, batu pecah, atau pecahan dari blast furnance)

Menurut ASTM C 33 03 dan ASTM C 125 06, agregat kasar adalah agregat dengan
ukuran butir lebih besar dari 4,75 mm. Ketentuan mengenai agregat kasar antara lain :

Harus terdiri dari butir butir yang keras dan tidak berpori.
Butir butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur
oleh pengaruh pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
Tidak boleh mengandung zat zat yang dapat merusak beton, seperti zat zat
yang relatif alkali.
Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %. Apabila kadar lumpur
melampaui 1 %, maka agregat kasar harus dicuci

Persyaratan mengenai proporsi gradasi saringan untuk campuran beton berdasarkan standar
yang direkomendasikan ASTM C 33/ 03 (lihat Tabel 2.2).
Diameter Saringan (mm) Persen Lolos (%) Gradasi Ideal (%)
25 100 100
19 90-100 95
12,5
9,5 20-55 37,5
4,75 0-10 5
2,36 0-5 2,5

(Sumber: ASTM 33/03)

2.1.2.2 Semen (Portland Cement)

Portland cement merupakan bahan pengikat utama untuk adukan beton dan pasangan batu
yang digunakan untuk menyatukan bahan menjadi satu kesatuan yang kuat. Jenis atau tipe
semen yang digunakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kuat tekan beton,
dalam hal ini perlu diketahui tipe semen yang distandardisasi di Indonesia. Menurut ASTM
C150, semen Portland dibagi menjadi lima tipe, yaitu :

Tipe I : Ordinary Portland Cement (OPC), semen untuk penggunaan umum, tidak
memerlukan persyaratan khusus (panas hidrasi, ketahanan terhadap sulfat, kekuatan awal).

Tipe II : Moderate Sulphate Cement, semen untuk beton yang tahan terhadap sulfat
sedang dan mempunyai panas hidrasi sedang.

Tipe III : High Early Strength Cement, semen untuk beton dengan kekuatan awal tinggi
(cepat mengeras)

Tipe IV : Low Heat of Hydration Cement, semen untuk beton yang memerlukan panas
hidrasi rendah, dengan kekuatan awal rendah.

Tipe V : High Sulphate Resistance Cement, semen untuk beton yang tahan terhadap
kadar sulfat tinggi.

Susunan oxide dari semen Portland (Antono, 1995), seperti berikut ini:

Oksida % rata-rata
Kapur (CaO) 63
Silika (SiO2) 22
Alumunia (Al2O3) 7
Besi (Fe2O3) 3
Magnesia (MgO) 2
Sulfur (SO3) 2

2.1.2.3 Air
Fungsi dari air disini antara lain adalah sebagai bahan pencampurdan pengaduk antara semen
dan agregat. Pada umumnya air yang dapat diminum memenuhi persyaratan sebagai air
pencampur beton, air ini harus bebas dari padatan tersuspensi ataupun padatan terlarut yang
terlalu banyak, dan bebas dari material organik (Mindess et al.,2003).

Persyaratan air sebagai bahan bangunan, sesuai dengan penggunaannya harus memenuhi
syarat menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Di Indonesia (PUBI-1982), antara lain:

1. Air harus bersih.


2. Tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang dapat dilihat
secara visual. Tidak boleh mengandung benda-benda tersuspensi lebih dari 2 gram/
liter.
3. Tidak mengandung garam-garam yang dapat larut dan dapatmerusak beton
(asam-asam, zat organik dan sebagainya) lebih dari 15 gram / liter. Kandungan
klorida (Cl), tidak lebih dari 500 p.p.m. dan senyawa sulfat tidak lebih dari 1000
p.p.m. sebagai SO3.
4. Semua air yang mutunya meragukan harus dianalisa secara kimia dan dievaluasi.

2.2 Beton Mutu Tinggi

Beton mutu tinggi merupakan beton yang mempunyai sifat khusus yang berbeda dengan
beton biasa, seperti tingkat susut (shrinkage) rendah, permeabilitas rendah, modulus
elastisitas tinggi, dan kuat tekan tinggi. Beton mutu tinggi umumnya memiliki faktor air
semen yang rendah dengan rentang 0,2-0,35. Semakin rendah fas, maka porositas beton juga
cenderung rendah.

Kriteria beton mutu tinggi selalu berubah sesuai dengan kemajuan tingkat mutu yang berhasil
dicapai. Tahun 1950-an, beton dengan kuat tekan 30 MPa sudah dikategorikan sebagai beton
mutu tinggi. Tahun 1960-an hingga awal 1970-an, criterianya lebih lazim menjadi 40 MPa.
Saat ini, disebut mutu tinggi untuk kuat tekan di atas 50 MPa-80 MPa (Supartono, 1998).

Sementara itu, Beton mutu tinggi (high strength concrete) yang tercantum dalam SNI 03-
6468-2000 (Pd T-18-1999-03) didefinisikan sebagai beton yang mempunyai kuat tekan yang
disyaratkan lebih besar sama dengan 41,4 MPa. Upaya untukmendapatkan beton mutu tinggi
yaitu dengan meningkatkan mutu material pembentuknya, misalnya kekerasan agregat dan
kehalusan butir semen.

Menurut Amecican Concrete Institude (ACI) Committee, Beton Mutu Tinggi adalah beton
yang memenuhi kombinasi kinerja khusus sesui dengan yang diinginkan yang tidak ditemui
secara rutin pada beton konvensional, diantaranya:

Mudah pengerjaan
Berkekuatan tinggi di usia dini
Kedap dan padat
Durable terhadap lingkungan, kekerasan yang memadai
Umur layan lebih lama (lebih dari 75 tahun)
Panas hidrasi rendah
Stabilitas volume yang memadai
Kemampuan mengalir yang memadai
Perbedaan perancangan beton mutu tinggi dengan beton normal adalah, bagaimana mencari
susunan gradasi ukuran butir yang dapat mengisi ruang kosong pada matrix semen.
Sedangkan, pada beton mutu tinggi dengan filler nanomaterial ukuran butir yang digunakan
dalam rentang nanometer, yang disingkat nm. Dengan pemilihan degradasi yang tepat, akan
diperoleh kepadatan per satuan volum (packing density).

BAB III

PENGARUH PENAMBAHAN FLY ASH

TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI

3.1 Fly Ash

3.1.1 Pengertian

Sejak Indonesia mengalami krisis bahan bakar minyak, penggunaan batu bara menjadi
alternatif utama sebagai sumber energy masyarakat, baik masyarakat umum maupun
masyarakat industriawan. Semua sumber tenaga yang menggunakan bahan bakar yang
berasal dari minyak bumi jika memungkinkan, dapat digantikan dengan batu bara. Badan
Pusat Statistik Review of Energi (2004) mencatat, Indonesia mempunyai cadangan batu bara
terbesar ke lima dunia, setelah Amerika Serikat, Jerman, Afrika Selatan, dan Ukraina.

Saat ini penggunaan batu bara di kalangan industry semakin meningkat volumenya, karena
harga yang relatif murah dibandingkan harga bahan bakar minyak untuk industri. Penggunaan
batu bara sebagai sumber energy pengganti BBM, di satu sisi sangat menguntungkan, namun
di sisi lain dapat menimbulkan masalah. Masalah utama dari penggunaan batu bara adalah
abu batubara yang merupakan hasil sampingan pembakaran batubara. Sejumlah penggunaan
batubara akan menghasilkan abu batubara sekitar 2-10 %. Pada saat ini, pengelolaan limbah
abu batu bara hanya terbatas pada penimbunan di areal pabrik (ash disposal).

Abu batubara merupakan bagian dari sisa pembakaran batubara yang berbentuk partikel halus
amorf. Abu tersebut merupakan bahan anorganik yang terbentuk dari perubahan bahan
mineral (mineral matter) karena proses pembakaran. Proses pembakaran batubara pada unit
pembangkit uap (boiler) akan membentuk dua jenis abu, yaiti abu terbang (fly ash) dan abu
dasar (bottom ash). Komposisi abu batu bara terdiri dari 10-20 % abu dasar dan 80-90%
berupa abu terbang. Abu terbang ditangkap dengan electric precipitator sebelum dibuang ke
udara melalui cerobong.

3.1.2 Sifat-sifat

3.1.2.1 Sifat Fisik

Menurut ACI Committee 226, dijelaskan bahwa abu terbang (fly ash) mempunyai butiran
yang halus, yaitu lolos ayakan No. 325 (45 mili micron) 5-27 %. Fly Ash umumnya
berbetnuk bola padat atau berongga. Abu terbang memiliki densitas 2,23 gr/cm3, dengan
kadar air sekitar 4%. Fly ash memiliki specific gravity antara 2,15-2,6 dan berwarna abu-abu
kehitaman. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil
dari 0,075 mm. Fly ash memiliki luas area spesificnya 170-1000 m2/kg. Ukuran partikel
rata-rata abu terbang batu bara jenis sub bituminous 0,01 mm 0,015 mm, luas
permukaannya 1-2 m2/g, bentuk partikel mostly spherical, yaitu sebagian besar berbentuk
bola, sehingga menghasilkan kelecakan yang lebih baik (Nugroho, P dan Antoni, 2007).

3.1.2.2 Sifat Kimiawi

Sifat kimia dari fly ash dipengaruhi oleh jenis batubara yang dibakar, teknik penyimpanan,
dan penanganannya. Pembakaran batu bara lignit dan sub-bituminous menghasilkan abu
terbang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih banyak daripada jenis bituminous.
Komponen utama fly ash batu bara adalah silica (SiO2), alumina (AleO3), besi oksida
(Fe2O3), kalsium (CaO); dan magnesium , potassium, sodium, titanium, dan belerang dalam
jumlah yang sedikit. Rumus empiris abu terbang adalah:
Si1.0Al0.45Ca0.51Na0.047Fe0.039Mg0.020K0.013Ti0.011.

Komposisi dan Klasifikasi Fly ash dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.2 Komposisi dan Klasifikasi Fly ash

Komponen Bituminus Sub-bituminus Lignit


SiO2 20-60 40-60 15-45
Al2O3 5-35 20-30 20-25
Fe2O3 10-40 4-10 4-15
CaO 1-12 5-30 15-40
MgO 0-5 1-6 3-10
SO3 0-4 0-2 0-10
Na2O 0-4 0-2 0-6
K2O 0-3 0-4 0-4
LOI 0-15 0-3 0-5

3.1.2.3 Sifat Pozolan

Menurut SK SNI S-04-1989-F (DPU: 1989), pozolan merupakan bahan yang mengandung
silika. Penambahan mineral berupa silika ke dalam campuran beton merupakan salah satu
cara meningkatkan mutu semen, yang berarti juga meningkatkan mutu beton yang dihasilkan.
Adapun persyaratan kimia pozolan yang dapat digunakan sebagai bahan campuran beton
menurut SK SNI S-04-1989-F dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.1 Persyaratan Kimia Pozolan

No Senyawa Kadar (%)


1 Jumlah oksida SiO2 +Al2O3+Fe2O3 70
2 SiO2 Maksimum 5
3 Hilang pijar maksimum 6
4 Kadar air maksimum 3
5 Total alkali dihitung sebagai Na2O maksimum 1,5

Abu terbang tidak memiliki kemampuan mengikat seperti halnya semen, namun dengan
kehadiran air dan ukurannya yang halus, oksida silika yang dikandung di dalam fly ash akan
bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen
dan menghasilkan zat yang memiliki kemampuan yang mengikat (Djiwantoro, 2001).

Abu batubara dapat digunakan pada beton sebagai material terpisah atau sebagai bahan dalam
campuran semen dengan tujuan untuk memperbaiki sifat-sifat beton. Fungsi abu batubara
sebagai bahan aditif dalam beton bisa sebagai pengisi (filler) yang akan menambah internal
kohesi dan mengurangi porositas daerah transisi yang merupakan daerah terkecil dalam
beton, sehingga beton menjadi lebih kuat. Pada umur sampai dengan 7 hari, perubahan fisik
abu batubara akan memberikan konstribusi terhadap perubahan kekuatan yang terjadi pada
beton, sedangkan pada umur 7 sampai dengan 28 hari, penambahan kekuatan beton
merupakan akibat dari kombinasi antara hidrasi semen dan reaksi pozzolan. (Jackson, 1977).

3.1.3 Jenis-Jenis Fly Ash

Berdasarkan ACI Manual of concrete Practice 1993 Part I 226.3R-3), Fly Ash dapat
dibedakan menjadi 3 jenis:

1. Kelas C

Fly ash yang mengandung CaO di atas 10% yang dihasilkan dari pembakaran lignite atau
sub-bitumen batubara (batubara muda). Untuk fly ash tipe C, kadar SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 >
50%. Kadar CaO mencapai 10 %. Dalam campuran beton, jumlahan fly ash yang digunakan
sebanyak 15%-35% dari berat silinder.

1. Kelas F

Fly ash tipe F mengandung CaO lebih kecil dari 10% yang dihasilkan dari pembakaran
anthracite atau bitumen batubara. Fly ash tipe F mempunyai kadar SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 >
70%. Kadar CaO fly ash tipe F kurang dari 5 %. Dalam campuran beton, jumlahan fly ash
yang digunakan sebanyak 15%-25% dari berat silinder.

1. Kelas N

Pozzolan alam atau hasil pembakaran yang dapat digolongkan antara lain tanah diatomic,
opaline chertz, shales, tuff, dan abu vulkanik, baik yang diproses melalui pembakaran atau
tidak melalui proses pembakaran.

3.1.4 Perbandingan Fly Ash dan Semen Portland

Fly ash digunakan untuk menggantikan semen Portland pada beton, karena mempunyai sifat
pozzolanic. Hal ini memungkinkan terjadinya peningkatan kekuatan dan durabilitas dari
beton. Adanya penggunaan fly ash dapat menjadi faktor kunci pada pemeliharaan beton
tersebut.

Pada umumnya, penggunaan fly ash sebagai pengganti sebagian berat semen terbatas pada fly
ash tipe F. Fly ash tersebut dapat menggantikan semen sampai 30% berat semen yang
dipergunakan dan dapat menambah daya tahan dan ketahanan terhadap kimia. Fly ash juga
dapat meningkatkan workability dari semen dengan berkurangnya pemakaian air. Produksi
semen sedunia pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 2 miliar ton. Hal ini memberikan
sebuah solusi, dimana penggunaan fly ash dapat mengurangi emisi gas carbon secara
signifikan.

Perbandingan fly ash dengan semen Portland dapat ditinjau dari tiga kemiripan sifat ke dua
material tersebut, yaitu sifat fisik, sifat kimia, dan sifat pozzolan.

3.1.4.1 Perb andingan Sifat Fisik

Fly ash dan semen mempunyai kemiripan jika ditinjau dari sifat fisik. Kemiripan sifat fisik ke
duanya dapat ditinjau dari beberapa variabel. Perbandingan sifat fisik fly ash dan semen
Portland dapat dilihat pada tabel berikut:

Variabel pembanding Fly Ash Semen Portland


5-27% lolos saringan 45 mili
Kehalusan butir 80% lolos saringan 44 mikron
micron
Berat jenis 2,15 2,8 g/cm3 3,15 g/cm3
Waktu pengikatan awal 423 menit 60-120 menit
Specific gravity 2,15-2,6 3,15
Suhu pengikatan 24-270 C 350 C

3.1.4.2 Perbandingan Sifat Kimia

Fly ash dan semen Portland mengandung kapur, silika, alumina, dan oksida besi. Ke empat
unsur ini merupakan unsur-unsur poko ke dua material ini, karena unsur-unsur tersebut
mempengaruhi fungsi dari material. Perbandingan sifat kimia antara fly ash dan semen
Portland dapat dilihat pada tabel berikut:

Komponen Pembanding % rata-rata untuk fly ash % rata-rata untuk semen Portalnd
Kapur, CaO 1-12 60-65
Silika, SiO2 20-60 17-25
Alumina, AL2O3 5-35 3-8
Besi, Fe2O3 10-40 0,5-6
Magnesia, MgO 0-5 0,5-4
Sulfur, SO3 0-4 1-2
Soda/Potash, Na2O + K2O 0-7 0,5-1
3.1.5 Berbagai Penelitian Pengaruh Penambahan Fly Ash Pada Pembuatan Beton Mutu
Tinggi

3.1.5.1 Penelitian yang dilakukan oleh Mardiono, Teknik Sipil Universitas Gunadarma
Jakarta

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kuat tekan betonmutu tinggi dan untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh penggantian semen dengan abu terbang (Fly Ash) terhadap
mutu kuat tekan beton. Komposisi penggantian semen dengan abu terbang (Fly Ash)
sebanyak 0%, 10%, 20%, 30% dan 40% dari berat semen, dengan penambahan
Superplasticizer Sika Viscocrete 10 sebanyak 1% dan faktor air semen ditentukan sama pada
semua variasi campuran. Sampel yang digunakan adalah berbentuk kubus (15 cm x 15 cm x
15 cm), mutu beton yang direncanakan 40 MPa pada umur 28 hari. Sampel diuji pada umur
7, 14, 21, dan 28 hari, dengan terlebih dahulu dilakukan perawatan sebelum pengujian.
Jumlah sampel sebanyak 60 sampel, terdiri dari 5 variasi dan masingmasing variasi sebanyak
12 sampel. Dari penelitian diperoleh bahwa kuat tekan beton yang tertinggi terdapat pada
campuran beton penggantian semen dengan Fly Ash 10% (B10), yaitu sebesar 41,57 MPa dan
kuat tekan beton yang terendah terdapat pada campuran beton dengan Fly Ash 40% (B40),
yaitu sebesar 33,91 MPa. Pengaruh Fly Ash dalam beton mutu tinggi adalah butiran Fly Ash
yang halus membuat beton lebih padat karena rongga antara butiran agregat diisi oleh Fly
Ash, sehingga dapat memperkecil pori-pori yang ada dan memanfaatkan sifat pozzolan dari
Fly Ash. Selain itu penggunaan Fly Ash dengan takaran tertentu terbukti dapat meningkatkan
kekuatan beton.

3.1.5.2 Surya Sebayang, Pengaruh Kadar Abu Terbang Sebagai Pengganti Sejumlah
Semen Pada Beton Alir Mutu Tinggi

Beton alir dapat mengalir dan menghasilkan adukan yang homogeny ketika mengisi daerah
penulangan yang padat. Beton alir digunakan untuk mengurangi bahkan meniadakan
kebutuhan pemadatan, mengurangi biaya konstruksi, dan mempercepat waktu konstruksi.
Beton alir mutu tinggi pada penelitian yang dilakukan oleh Surya Sebayang menggunakan
abu terbang yang berasal dari Suralaya Banten sebagai bahan pengganti sejumlah semen.
Pengujian yang dilakukan meliputi kelecakan adukan, waktu pengikatan beton, berat volume
beton, dan kuat tekan beton. Perancangan campuran beton menggunakan metode ACI 211-
4R-1993 yang dikombinasikan dengan metode Hashimoto. Adukan beton terdiri dari 5
variasi, yaitu kadar abu terbang )5, 3%, 6%, 9%, 12%, dan 15%. Dari hasil penelitian,
diperoleh bahwa semakin besar kadar abu terbang pada adukan beton, maka kelecakan beton
semakin bertambah. Penggunaan abu trbang ternyata dapat membuat adukan menjadi kohesif
dan tidak terjadi segregasi pada adukan beton. Penggunaan abu terbang pada adukan beton
memperlambat waktu pengikatan awal dan pengikatan akhir beton. Kuat tekan beton alir abu
terbang pada umur 7 hari, 14 hari, dan 28 hari masih lebih rendah dibandingkan dengan kuat
tekan beton tanpa abu terbang dengan umur yang sama. Kuat tekan optimum beton abu
terbang sebesar 48,607 MPa pada umur 56 hari, dengan kadar abu terbang 9% sebagai bahan
pengganti sejumlah semen

3.1.5.3 I Wayan Suamita, Kuat Tekan Beton dengan Penambahan Fly Ash dari PLTU
Mpanau Tavaeli

Kebutuhan bahan bangunan makin meningkat seiring dengan meningkatnya laju


pembangunan fisik. Perlu diusahakan adanya bahan bangunan pengikat alternatif yang
diperuntukan pada bangunan struktural dan nonostruktural. Salah satu bahan pengikat
alternatif adalah fly ash (abu terbang). Abu terbang memiliki sifat pozzolan dan dapat
bereaksi dengan kapur pada suhu ruang dengan media air dan membentuk senyawa yang
bersifat mengikat. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh abu terbang terhadap kuat
tekan beton. Penentuan komposisi campuran berdasarkan SK SNI T-15-1990-03. Penelitian
ini memvariasikan bahan tambah abu terbang antara 5%, 10%, 15%, 20% dan 25% sebagai
bahan tambah Hasil pengujian di laboratorium menunjukkkan bahwa beton dengan
penggunaan abu terbang sebagai bahan tambah dalam campuran beton mengalami
peningkatan kuat tekan antara 5,088%, 9,473%, 12,103%, 14,034% hingga 15,437% dari
beton normal.

3.2 Lomba Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi

3.2.1 Perencanaan Campuran (Mix Design)

3.2.2 Prosedur Lomba

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Beton merupakan material utama konstruksi. Kekuatan tekan beton merupakan salah satu
sifat utama yang menjadikannya sebagai material penting dalam konstruksi Beton sebagai
material konstruksi banyak digunakan karena sifatnya yang mudah dibentuk, kedap terhadap
air, mudah diperoleh, dan biaya yang murah.

Pada masa sekarang, beton mutu tinggi merupakan suatu kebutuhan urgen pada masyarakat
konstruksi. Tuntutan material menjadi permasalahan mendasar untuk menciptakan kekuatan
beton dengan mutu tinggi. Adanya faktor pembatas dari jenis material yang digunakan dalam
pembuatan beton mutu tinggi menuntut untuk digunakannya material-material tambahan. Fly
ash merupakan solusi alternatif yang dapat digunakan untuk menciptakan beton mutu tinggi.

Fly ash merupakan bagian dari sisa pembakaran batubara yang berbentuk partikel halus
amorf. Fly ash memiliki sifat fisik berupa bentuk partikel yang halus, yaitu lolos ayakan 45
mili micron. Sifak kimiawi pada fly ash memiliki kemiripan dengan sifat pada semen
Portland. Adanya kemiripan sifat fisik dan kimiawi antara fly ash dan semen Portland
menjadikan material fly ash dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembuatan beton mutu
tinggi. Lebih lanjut, bentuk partikel fly ash yang lebih halus memberikan keuntungan, dimana
penggunaannya dapat memperkecil porositas beton. Hal ini memberikan keuntungan dalam
hal peningkatan kekuatan beton.
Berbagai penelitian memberikan kesimpulan yang positif terhadap kegunaan material fly ash
dalam produksi beton mutu tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan, kadar optimum fly ash
yang dapat digunakan dalam pembuatan beton berkisar antara 9%- 16 % dari berat semen.

Dalam lomba kuat tekan beton mutu tinggi yang diadakan oleh Universitas Atma Jaya
Yogyakarta, kami menggunakan kadar fly ash sebesar 15% dari berat semen untuk kuat
rencana 45 MPa. Adanya jumlahan persentase yang digunakan dilandaskan pada kadar
optimum yang disarankan jika menggunakan fly ash kelas F. Selain itu, pemilihan persentase
tersebut juga didasarkan pada hasil penelitan yang telah dilakukan.

4.2 Saran

1. Penambahan material fly ash dalam memproduksi beton mutu tinggi merupakan
hal yang penting, karena sifat fisis dan kimiawi fly ash menunjukkan kapasitas
sebagai material alternatif untuk menggantikan sejumlah berat semen yang
direncanakan.
2. Kegunaan fly ash dalam produksi beton mutu tinggi dapat memberikan
keuntungan dalam hal mengurangi pencemaran udara yang diakibatkan oleh fly ash.
Selain itu, emisi CO2 yang dihasilkan dari proses pembuatan semen dapat dikurangi
dengan cara mengurangi produksi semen.
3. Persentase penggunaan fly ash harus dalam kadar yang optimum, agar beton yang
dihasilkan tidak mengalami reduksi kekuatan.

DAFTAR PUSTAKA

Oscar dkk. 2009. Sustainability in the Construction Industry: A Review of Recent


Developments Basen on LCA. Construction dan Building Materials, vol. 23.

www.auburn.edu, diunduh pada tanggal 18 Maret 2014

Engineers Outlook. 2011. History of Reinforced Concrete and Structural Design.


Engineersoutlook.wordpress.com

Sebayang, Surya. 2002. Pengaruh Kadar Abu Terbang Terhadap Kuat Tekan Beton Alir
Mutu Tinggi. Jurnal Penelitian Rekayasa Sipil dan Perencanaan. Edisi Ke enam
Mulyono,Tri,Ir,MT, Teknologi Beton, Andi Yogyakarta,2004.

Departemen Pekerjaan Umum, SK SNI T- 15-1991-03 Tata cara Pembuatan Rencana


Campuran Beton Normal, J

Fly Ash
Penentuan Kadar
Pemakaian
Pengaruh kadar pemakaian fly ash dalam
campuran beton terutama tergantung dari
jenis/tipe semen dan kelas fly ash yang
digunakan.

Yang perlu diperhatikan adalah kualitas


fly ash yang digunakan, karena fly ash
yang beredar banyak di pasaran saat ini
belum merupakan produk yang
terkontrol dengan baik seperti halnya
semen atau bahan additive pozolan yang
sudah dikemas dan ber-merk lainnya.

Perhitungan kandungan fly ash harus


memperhitungkan pula kandungan fly
ASTM, ACI dan SNI meberikan nilai ash yang sudah dicampurkan dalam
penggunaan fly ash sebagai pengganti semen semen (misal jenis PPC dan PCC).
dalam campuran beton adalah 15-25%
Secara prinsip, pemakaian fly ash dan
penentuan kandungannya tidak dapat
disamakan antar negara, daerah maupun
Kadar penggunaan fly ash yang banyak
batching plant, karena sifat dan karakter
dipraktekkan saat ini :
beton segar dan beton setelah mengeras
fly ash kelas F : 15-25%
adalah sangat tergantung dari :
fly ash kelas C : 15-40%
tipe/jenis semen yang digunakan
kelas fly ash yang digunakan dan
kualitas pengontrolan mutunya
kandungan senyawa kimia dalam
fly ash, yang tidak diatur dalam
ASTM, ACI maupun SNI bisa
berbeda dalam tiap material fly
ash yang digunakan dan
pengaruhnya yang bervariasi pada
sifat dan karakter beton
agregat halus yang digunakan dan
kandungan senyawa kimia yang
terbawa di dalamnya
agregat kasar yang digunakan dan
kandungan senyawa kimia yang
terbawa di dalamnya

Oleh karena itu sangat disarankan


penentuan kadar fly ash adalah melalui
analisa data pengaruh dari berbagai
kadar pemakaian fly ash dalam
campuran beton secara jangka
panjang, untuk tiap area dan batching
plant,
karena perbedaan jenis semen, sumber fly
ash dan quarry agregat mempengaruhi
beton yang dihasilkan

Cara menghitung kadar fly ash


Perhitungan
kadar fly ash
dilakukan
dengan
membagi
berat fly ash
(termasuk
berat fly ash
yang sudah
ada dalam
semen yang
digunakan)
dengan berat
total fly ash +
semen.

Contoh :
Jika
kandungan
semen OPC
dalam desain
mix adalah 255
kg dan
kandungan fly
ash adalah 45
kg, maka kadar
fly ash dalam
desain mix
tersebut adalah
15% :

kandungan
fly ash = [(45)
/ (255+45)] x
100% = 15
%

Berbagai kadar pemakaian fly ash dalam campuran beton


Dengan teknologi yang ada saat ini, sebenarnya dengan
berbagai kadar penggunaan fly ash untuk menggantikan
semen dalam campuran beton, campuran beton dapat
dirancang untuk tetap memenuhi kuat tekan karakteristik yang
dituntut oleh Konsultan Perencana/Desain, dengan tetap harus
Beberapa penelitian mewaspadai pengaruh jangka panjangnya.
menunjukkan hasil kadar
10% atau 20% sebagai Di bawah ini beberapa pandangan dan rekomendasi umum
kadar optimum fly ash kadar pemakaian fly ash sebagai bahan pertimbangan,
untuk peningkatan mutu keputusan nilai kadar yang akan dipakai dalam proyek
beton. disarankan ditetapkan berdasar pertimbangan data dari
batching plant atau literatur pengujian yang menggunakan
bahan yang berasal dari daerah yang sama dengan batching
plant yang menyuplai beton ke proyek, dengan memperhatikan
efek jangka panjang penggunaan fly ash yang telah diamati
pada data referensi tersebut.

Pandangan konvensional dalam penentuan kadar fly ash menetapkan


kadar maksimal 10% untuk pemakaian dalam beton konstruksi
bangunan, yang tidak terpengaruh oleh lingkungan korosif (sulfat, air
laut, dsb), dengan pertimbangan :

hampir semua penelitian memastikan bahwa dengan kadar fly


Kadar maksimum
ash 10% memberikan kepastian peningkatan mutu beton
fly ash yang
beberapa penelitian menunjukkan penambahan fly ash di atas
direkomendasikan
10% beresiko mengalami penurunan kuat tekan/mutu beton
untuk permukaan
secara jangka panjang (walaupun cukup banyak pula
beton yang
penelitian yang menunjukkan kadar fly ash di atas 10% masih
dilapis dengan
meningkatkan mutu beton sampai umur 90 hari)
keramik adalah
relatif aman terhadap susut, karena walaupun secara teoritis
15%
penambahan fly ash seharusnya mengurangi susut beton
terutama susut plastis dan pengeringan, dalam prakteknya
masih ditemui penambahan fly ash justru memperbesar susut
beton

Peraturan standar ACI, ASTM, SNI memberikan rentang nilai


15% - 25% penggantian semen dengan fly ash.

Pemakaian umum fly ash, memberikan kadar yang bervariasi


tergantung manfaat yang diinginkan dari penggunaan fly ash :

untuk pemakaian pada gedung pada umumnya


direkomendasikan nilai maksimal 10% atau mengikuti
Jangan aturan SNI 15-25%
memakai fly ash
jika pada namun tidak direkomendasikan pemakaian fly ash pada
permukaan lantai atau dinding beton atau elemen struktur beton yang
beton lain, yang memakai bahan finishing yang bisa bereaksi
diaplikasikan dengan kandungan kimia fly ash yang belum bereaksi
material dengan komponen sisa hidrasi semen pada waktu
finishing, pengaplikasian material finishing tersebut (mis. floor
yang akan hardener, epoxy, cat, waterproofing dsb), karena akan
bereaksi mengakibatkan cacat pada pengaplikasian finishing akibat
dengan fly ash kandungan kimia fly ash yang diharapkan bereaksi dengan
(floor hardener, senyawa sampingan hasil reaksi hidrasi semen, justru
epoxy, cat, bereaksi dengan senyawa kimia dalam bahan finishing
waterproofing, (jangka waktu reaksi bahan kimia fly ash dengan bahan
dsb) sisa hidrasi semen dapat berlangsung sampai 90 hari atau
bahkan lebih lama)
tanyakan kepada
produsen atau untuk pemakaian pada jalan beton, pada umumnya dipakai
aplikator tentang kadar fly ash 15% - 40%, dengan pertimbangan utama
pengaruh peningkatan kekuatan abrasi dan kepadatan beton, selain
pemakaian fly memperlambat waktu setting yang memberi waktu untuk
ash terhadap finishing alur permukaan jalan beton.
aplikasi produk untuk pemakaian di lingkungan korosif (serangan sulfat
mereka atau air laut) pada umumnya dipakai kadar yang lebih tinggi,
dapat mencapai 60%, dengan pertimbangan utama
Jangan memakai penambahan ketahanan terhadap serangan sulfat dan
fly ash untuk reaktifitas alkali-silika serta peningkatan kekedapan air.
struktur atau untuk pemakaian di pembetonan massal pada elemen
elemen struktur struktur yang berdimensi besar dapat dipakai kadar yang
yang cukup tinggi pula, antara 40-60%, dengan pertimbangan
memerlukan utama mengurangi panas hidrasi dan memperlambat waktu
kekuatan awal setting.
yang tinggi

Jangan Yang perlu diingat dan diperhatikan adalah bahwa walaupun berbagai
menggunakan fly penelitian memberikan hasil yang berbeda tentang penurunan mutu
ash untuk beton pada pemakaian fly ash yang berlebihan (ada yang menyatakan
lantai yang di atas 10%, 15%, 20%, 25% maupun 30%), hampir semua
difinish trowel penelitian sepakat bahwa penggantian semen dengan fly ash di
atas 25% memberikan efek penurunan kuat tekan jangka
panjang, hal ini perlu diperhatikan dalam merancang mutu beton
yang digunakan jika memakai kadar fly ash di atas 25% harus
memperhitungkan penurunan mutu dalam jangka panjang.
Sedangkan untuk kadar sampai 25% masih terdapat perbedaan hasil
penelitian, ada yang menyatakan masih memberikan peningkatan
mutu dan ada yang menunjukkan penurunan mutu pada kadar di atas
10%.

Fly ash tidak


Restraints on the Use of Fly Ash Concrete in boleh digunakan
Highway Constructions sebagai pengganti
(Commentary on FHWA website) sebagian
semen tipe "IP",
It is well known now that both classes of fly ash improve the tipe "I" (PM)
properties of concrete, but several factors and cautions should be atau
considered when using fly ashes especially in highway construction, tipe "P"
where fly ash is heavily used.
In a report prepared by the Virginia Highway and Transportation Research Council Selalu perhatikan
(VHTRC) and summarized by Halstead (1986), several restraints relating to the use dan pelajari efek
of fly ash concrete for construction of highways and other highway structures were
jangka panjang
discussed.
atas pemakaian
These restraints include the following: fly ash dengan
1) special precautions may be necessary to ensure that the proper amount of data dari
entrained air is present; batching plant
2) not all fly ashes have sufficient pozzolanic activity to provide good results in
yang digunakan,
concrete;
3) suitable fly ashes are not always available near the construction site, and karena perbedaan
transportation costs may nullify any cost advantage; and jenis material
4) mix proportions might have to be modified for any chance in the fly ash yang digunakan
composition. antar batching
plant dapat
Since the cement-fly ash reaction is influenced by the properties of the cement, it is
important for a transportation agency not only to test and approve each fly ash
memberikan efek
source but also to investigate the properties of the specific fly ash-cement yang berbeda
combination to be used for each project (Halstead 1986). pula

Article

Pengaruh penggunaan fly ash pada beton


ditinjau dari segi shrinkage

DAVID ARYANTO

01/2005;
Source: OAI

ABSTRACT

Fly-ash yang merupakan sisa-sisa pembakaran batu bara telah digunakan sebagai bahan
campuran pada beton. Namun akhir-akhir ini, seringkali dijumpai kenyataan di lapangan
yaitu timbulnya retak-retak pada beton yang komposisinya menggunakan fly-ash dimana
mutu betonnya sudah memenuhi persyaratan mutu beton rencana. Penelitian ini meneliti
bagaimana efek pemakaian fly-ash pada beton ditinjau dari segi shrinkage. Pengujiannya
dilakukan pada dua mutu, yaitu mutu fc? 25 MPa dan mutu fc? 32 MPa, dengan masing ?
masing mutu terdiri dari komposisi fly-ash 0%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 45%,
dan 50% dari berat semen. Beton tanpa fly-ash (0%) digunakan sebagai acuan akan baik-
buruknya hasil pengujian shrinkage dan strength pada masing - masing komposisi mutu.
Pemakaian fly-ash pada beton mutu fc? 25 MPa dan fc? 32 MPa mempunyai shrinkage yang
lebih besar dibandingkan pada beton normal tanpa menggunakan fly-ash. Pada beton mutu
fc? 25 MPa dan fc? 32 MPa, pemakaian fly-ash mempunyai pengaruh memperlemah
kekuatan awal beton, namun pada umur 28 hari keatas, kekuatan beton yang didapat dapat
lebih tinggi dibandingkan dengan beton tanpa menggunakan fly-ash.