Anda di halaman 1dari 106

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

DOSEN : Dra. Refdanita, M.Si.

Disusun oleh:

Wildan Pratama (14334002)

KELAS K

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta

karunia-Nya kepada kami sehingga saya berhasil menyelesaikan laporan praktikum ini.

Diharapkan laporan praktikum ini dapat memberikan informasi kepada kita semua.

Tiada gading yang tak retak, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,

oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya

harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen saya yaitu Ibu Dra. Refdanita.,

M.Si., selaku Dosen Mata Kuliah Farmakologi dan pembimbing praktikum farmakologi yang

telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyusun laporan ini dengan baik.

Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan

serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa

meridhai segala usaha kita. Amin.

Jakarta, Agustus 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ 2

DAFTAR ISI........................................................................................................................................... 3

PERCOBAAN ........................................................................................................................................ 4

1. CARA-CARA PEMBERIAN OBAT ............................................................................................. 4

2. PENGARUH VARIASI BIOLOGIK TERHADAP EFEK OBAT .............................................. 14

3. PENGARUH VARIASI KELAMIN TERHADAP EFEK OBAT ............................................... 20

4. DOSIS DAN RESPON ................................................................................................................. 25

5. HIPNOTIK DAN SEDATIVE...................................................................................................... 34

6. DIURETIK .................................................................................................................................... 40

7. EFEK OBAT PADA MEMBRAN MUKOSA DAN KULIT ...................................................... 49

8. ANESTESI PERMUKAAN ......................................................................................................... 61

9. EFEK ANESTESI LOKAL DENGAN METODE REGNIER .................................................... 68

10. ANESTESI KONDUKSI .......................................................................................................... 75

11. ANESTESI INFILTRASI ......................................................................................................... 81

12. EFEK OBAT ADRENERGIK DAN ANTIKOLINERGIK PADA SEKRESI KELANJAR


LUDAH ................................................................................................................................................ 86

13. EFEK OBAT KOLINERGIK DAN ANTIKOLINERGIK PADA MATA .............................. 93

14. EFEK OBAT PADA SALURAN CERNA............................................................................. 101

3
PERCOBAAN

1. CARA-CARA PEMBERIAN OBAT

4
I. Judul percobaan : Cara-cara pemberian obat
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 17 Juli 2016, Pukul : 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
Mahasiswa dapat mengenal cara dan rute pemberian obat, mengetahui pengaruh
rute pemberian obat terhadap efek farmakologi, memahami konsekuensi praktis dari
pengaruh rute pemberian obat, mengenal manifestasi berbagai efek obat yang diberikan.
IV. Prinsip percobaan
Rute pemberian obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat,
karena karakteristika lingkungan fisiologi, anatomi, dan biokimiawi yang berbeda pada
daerah kontak mula obat dan tubuh.
V. Teori dasar
Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan
biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena
jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat
di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat
mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute
pemberian obat (Katzug, B.G, 1989).
Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta
kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut:
a. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik
b. Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
c. Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
d. Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute
e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter
f. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacam-macam
rute
g. Kemampuan pasien menelan obat melalui oral.

Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat
yang diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi
obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek
sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek
lokal adalah efek obat yang bekerja setempat misalnya salep (Anief, 1990).

5
Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara:

a. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal


b. Parenteral dengan cara intravena, intra muskuler dan subkutan
c. Inhalasi langsung ke dalam paru-paru.

Efek lokal dapat diperoleh dengan cara:

a. Intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan ada mata, hidung, telinga
b. Intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru
c. Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran
kencing dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada keringat badan atau
larut dalam cairan badan

Rute penggunaan obat dapat dengan cara:

a. Melalui rute oral


b. Melalui rute parenteral
c. Melalui rute inhalasi
d. Melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan sebagainya
e. Melalui rute kulit (Anief, 1990).

Cara pemberian obat melalui oral (mulut), sublingual (bawah lidah), rektal (dubur)
dan parenteral tertentu, seperti melalui intradermal, intramuskular, subkutan, dan
intraperitonial, melibatkan proses penyerapan obat yang berbeda-beda. Pemberian secara
parenteral yang lain, seperti melalui intravena, intra-arteri, intraspinal dan
intraseberal, tidak melibatkan proses penyerapan, obat langsung masuk ke
peredaran darah dan kemudian menuju sisi reseptor (receptor site) cara pemberian
yang lain adalah inhalasi melalui hidung dan secara setempat melalui kulit atau mata.
Proses penyerapan dasar penting dalam menentukan aktifitas farmakologis obat.
Kegagalan atau kehilangan obat selama proses penyerapan akan memperngaruhi
aktifitas obat dan menyebabkan kegagalan pengobatan ( Siswandono dan
Soekardjo, B., 1995).

Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang


kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model atau
sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratanpersyaratan tertentu, antara lain
persyaratan genetis / keturunan dan lingkungan yang memadai dalam
pengelolaannya, disamping factor ekonomis, mudah tidaknyadiperoleh, serta mampu
6
memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Tjay,T.H dan
Rahardja,K, 2002).

Cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula
diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah berbeda-beda
dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya.
Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa
sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan
darah, misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya (Katzug, B.G, 1989).

Fenobarbital, asam 5,5-fenil-etil barbiturate merupakan senyawa organik pertama


yang digunakan dalam pengobatan antikonvulsi. Kerjanya membatasi penjalaran aktivitas
bangkitan dan menaikkan ambang rangsang. Efek utama barbiturat ialah depresi SSP.
Semua tingkat depresi dapat dicapai mulai dari sedasi, hipnosis, berbagai tingkat
anesthesia, koma, sampai dengan kematian. Efek hipnotik barbiturate dapat dicapai dalam
waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya merupakan tidur fisiologis,
tidak disertai mimpi yang mengganggu (Ganiswara, 1995).

Barbiturat secara oral diabsorbsi cepat dan sempurna. Bentuk garam natrium lebih
cepat diabsorbsi dari bentuk asamnya. Mula kerja bervariasi antara 10-60 menit,
bergantung kepada zat serta formula sediaan dan dihambat oleh adanya makanan
didalam lambung. Barbiturat didistribusi secara luas dan dapat lewat plasenta, ikatan
dengan PP sesuai dengan kelarutannya dalam lemak, thiopental yang terbesar, terikat
lebih dari 65%. Kira-kira 25% fenobarbital dan hampir semua aprobarbital diekskresi
kedalam urin dalam bentuk utuh (Ganiswara, 1995).

Resorpinya di usus baik (70-90%) dan lebih kurang 50% terikat pada protein;
plasma-t-nya panjang, lebih kurang 3-4 hari, maka dosisnya dapat diberikan sehari
sekaligus. Kurang lebih 50% dipecah menjadi p-hidrokdifenobarbitat yang diekskresikan
lewat urin dan hanya 10-30% dalam kedaan utuh. Efek sampingnya berkaitan dengan
efek sedasinya, yakni pusing, mengantuk, ataksia dan pada anak-anak mudah terangsang.
Bersifat menginduksi enzim dan antara lain mempercepat penguraian kalsiferol (vitamin
D2) dengan kemungkinan timbulnya rachitis pada anak kecil. Pengunaannya bersama
valproat harus hati-hati, karena kadar darah fenobarbital dapat ditingkatkan. Di lain pihak
kadar darah fenitoin dan karbamazepin serta efeknya dapat diturunkan oleh fenobarbital.
Dosisnya 1-2 dd 30-125 mg, maksimal 400 mg (dalam 2 kali); pada anak-anak 2-12 bulan

7
4mg/kg berat badan sehari; pada status epilepticus dewasa 200-300 mg (Tjay dan
Rahardja, 2006).

VI. Bahan/alat/hewan coba Alat


1. Kandang mencit
2. Sarung tangan steril
3. Jarum suntik
4. Sonde oral
5. Kertas Koran
6. Tissue / kapas
7. 5 Ekor Tikus jantan
8. Alkohol
9. Aquadestillata
10. Larutan Phenobarbital
VII. Cara kerja
a. Pemberian secara oral
1. Ambil tikus jantan putih
2. Siapkan Sonde
3. Tikus dipegang pada tengkuknya, jarum oral yang telah dipasang pada alat
suntik berisi diazepam, diselipkan dekat langit langit tikus dan diluncurkan
masuk ke esofagus. Larutan diberikan dengan menekan spuit pendorong sambil
badan spuit ditahan agar ujung jarum oral tidak melukai esofagus.
4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya
b. Pemberian secara intravena
1. Ambil tikus putih jantan
2. Siapkan alat suntik lengkap dengan jarum suntik yang berisi obat
3. Tikus dimasukkan ke dalam alat khusus yang memungkinkan ekornya keluar
sebelum disuntikkan. Sebaiknya pembuluh balik vena pada ekor didilatasi
dengan penghangatan atau pengolesan memakai pelarut organik seperti alkohol.
Penyuntikkan dimulai dari bagian distal ekor.
4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya
c. Pemberian secara intra peritoneal
1. Ambil tikus putih jantan
2. Siapkan alat suntik lengkap dengan jarum suntik yang berisi obat

8
3. Tikus dipegang pada tengkuknya sedemikian sehingga posisi abdomen lebih
tinggi dari kepala, larutan oral obat disuntikkan pada bagian perut sebalah kanan
bawah tepat dibawah jantung diatas rongga hati.
4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya
d. Pemberian secara intramuscular
1. Ambil tikus putih jantan
2. Siapkan alat suntik lengkap dengan jarum suntik yang berisi obat
3. Suntikkan pada bagian paha tikus
4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya
e. Pemberian secara subkutan
1. Ambil tikus putih jantan
2. Siapkan alat suntik lengkap dengan jarum suntik yang berisi obat
3. Lalu suntikkan dilakukan dibawah kulit tengkuk
4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya

VIII. Hasil pengamatan


Perhitungan dosis hewan coba
Faktor konversi
Manusia Mencit BB Mencit 20 gram 0.0026
Manusia Tikus BB Tikus 200 gram 0.018
Manusia Kelinci BB Kelinci 1,5 kg 0.07
Tabel Berat Hewan Coba (Tikus)

NO Hewan Coba Berat Badan

1 Tikus 1 108 gram

2 Tikus 2 81 gram

3 Tikus 3 100,5 gram

4 Tikus 4 110 gram

5 Tikus 5 96,5 gram

9
Perhitungan Dosis Phenobarbital

Phenobarbital Injeksi 50 mg/ml konversi 0.018 x 50 mg/ml = 0.9 mg/ml

Tikus 1

Berat badan = 108 gr x 0.9 mg/ml = 0.486 mg/ml

200 gr \

0.486 mg/ml x 1 ml = 9.72 x 10-3 = 0.0097 ml (Dosis dibuat pengenceran)

50 mg

Pengenceran Injeksi 10x = (1 ml injeksi Phenobarbital + 9 ml aqua dest) = 10 ml

Hasil = 0,0097 ml x 10 = 0,097 ml 0,1 ml

Tikus 2

Berat badan = 81 gr x 0.9 mg/ml = 0,364mg/ml

200 gr \

0,364 mg/ml x 1 ml = 7,28 x 10-3 = 0,0072 ml (Dosis dibuat pengenceran)

50 mg

Pengenceran Injeksi 10x = (1 ml injeksi Phenobarbital + 9 ml aqua dest) = 10 ml

Hasil = 0,0072 ml x 10 = 0,072 ml 0,08 ml

Tikus 3

Berat badan = 100,5 gr x 0.9 mg/ml = 0,452mg/ml

200 gr \

0,452 mg/ml x 1 ml = 9,04 x 10-3 = 0,0090 ml (Dosis dibuat pengenceran)

50 mg

Pengenceran Injeksi 10x = (1 ml injeksi Phenobarbital + 9 ml aqua dest) = 10 ml

Hasil = 0,0090 ml x 10 = 0,09 ml

10
Tikus 4

Berat badan = 110gr x 0.9 mg/ml = 0,495mg/ml

200 gr \

0,495 mg/ml x 1 ml = 9,9 x 10-3 = 0,0099 ml (Dosis dibuat pengenceran)

50 mg

Pengenceran Injeksi 10x = (1 ml injeksi Phenobarbital + 9 ml aqua dest) = 10 ml

Hasil = 0,0099 ml x 10 = 0,099 ml 0,1 ml

Tikus 5

Berat badan = 96,5 gr x 0.9 mg/ml = 0,43mg/ml

200 gr \

0,43 mg/ml x 1 ml = 8,68 x 10-3 = 0,00868 ml (Dosis dibuat pengenceran)

50 mg

Pengenceran Injeksi 10x = (1 ml injeksi Phenobarbital + 9 ml aqua dest) = 10 ml

Hasil = 0,00868 ml x 10 = 0,0868 ml 0,09 ml

Cara Pemberian Obat dan Hasil Pengamatannya :

Hewan Cara Pemberian Dosis Waktu Waktu Waktu Hilang


Pemberian Timbul Efek Efek

Tikus ke-1 Oral 0,014ml 00:02:00 00:02:58

Tikus ke-2 IP 0,014ml 00:03:00 00:07:56 00:30:40

Tikus ke-3 IM 0,014ml 00:06:00 00:07:00 00:28:00

Tikus ke-4 IV 0,014ml 00:02:51 00:03:00

Tikus ke-5 IM 0,013ml 00:03:33 00:03:49

Tikus ke-6 SC 0,012ml 00:03:00 00:03:37

11
Pengamatan ( waktu timbul efek )

Cara
Perubahan aktivitas RR+ Sedasi Hipnotip
Pemberian

Oral Laju pernafasan cepat 00:02:00 00:14:00 00:20:40

Usaha untuk berdiri 00:02:51 00:03:00 00:03:06


IV
gagal

Laju pernafasan cepat 00:06:00 00:12:00 00:15:00


IM lalu lama kelamaan
mulai teratur

Laju pernafasan cepat 00:05:00 00:12:00 00:19:39


lalu lama kelamaan
mulai teratur
IP

Mulai tidak se-aktif 00:03:00 00:03:55 00:04:05


sebelum disuntikkan.

Tidak ada respon 00:03:40 00:04:00 00:04:19


SC
lokomotorik

IX. Pembahasan
Pada hasil percobaan, yaitu pada tikus dengan berat badan yang berbeda-beda
didapatkan bahwa efek yang lebih dahulu timbul adalah rute pemberian obat dengan cara
intravena . Hal ini dikarenakan rute pemberian obat secara intavena berhubungan dengan
pembuluh darah langsung, oleh karena itu rute pemberian ini cepat memberikan efek.
Selain itu akibat faktor individual , efek obat dapat sangat berbeda. Setiap orang dapat
memberikan respons yang berlainan terhadap suatu obat sesuai kepekaannya masing-
masing. Perbedaan respons ini bisa besar sekali, karena untuk setiap obat selalu ada orang
yang rentan dan dengan dosis rendah sekali sudah dapat memberikan efek terapeutik.
Sebaliknya, ada pula orang yang hanya memberikan efek dalam dosis yang amat tinggi.

12
Inilah sebabnya mengapa dosis obat yang diberikan pada suatu pasien dengan hasil baik,
adakalanya tidak ampuh pada pasien lain, yang mungkin dosisnya harus dinaikkan untuk
memberikan efek yang sama.
X. Kesimpulan
Jadi kesimpulannya dari percobaan ini membuktikan bahwa cara pemberian obat
melalui intravena (i.v) memberikan efek lebih cepat dalam menimbulkan efek kerja dari
obat, daripada pemberian oral dan lain lain. Serta dibutuhkan dalam penyuntikan agar obat
masuk kedalam pembuluh darah/ organ target sehingga dapat memberikan efek yang
diharapkan.
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

13
2. PENGARUH VARIASI BIOLOGIK
TERHADAP EFEK OBAT

14
I. Judul percobaan : Pengaruh variasi biologik terhadap efek obat
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 17 juli 2016, Pukul : 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
- Untuk mengetahui pengaruh variasi biologik terhadap dosis obat yang diberikan
kepada hewan percobaan dengan rute pemberian intraperitoneal
IV. Prinsip percobaan
Dosis yang diperlukan untuk mencapai kadar terapeutik efektif berbeda-beda pada
tiap-tiap individu disebabkan karena adanya variasi biologi yang mempengaruhi respons
tubuh terhadap obat.
V. Teori dasar
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Metabolisme Obat :
1. Faktor Genetik atau Keturunan
Perbedaan individu pada proses metabolisme sejumlah obat kadang-kadang terjadi
dalam kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik atau keturunan ikut
berperan terhadap adanya perbedaan kecepatan metabolisme obat.
2. Perbedaan Spesies dan Galur
Pada proses metabolisme obat, perubahan kimia yang terjadi pada spesies dan galur
kemungkinan sama atau sedikit berbeda, tetapi kadang-kadang perbedaan yang cukup
besar pada reaksi metabolismenya. Pengamatan pengaruh perbedaan spesies dan galur
terhadap metabolisme obat sudah banyak dilakukan, yaitu pada tipe reaksi metabolik
atau pebedaan kualitatif dan pada kecepatan metabolisme atau perbedaan kuantitatif.
3. Perbedaan Jenis Kelamin
Pada beberapa spesies binatang menunjukkan ada pengaruh jenis kelamin terhadap
kecepatan metabolisme obat. Banyak obat dimetabolisis dengan kecepatan yang sama
baik pada tikus betina maupun tikus jantan. Tikus betina dewasa ternyata
memetabolisis beberapa obat dengan kecepatan yang lebih rendah dibanding tikus
jantan. Contoh : N-demetilasi aminopirin, oksidasi heksobarbital, dan glukuronidasi O-
aminofenol. Hal ini menunjukkan bahwa selain perbedaan jenis kelamin, metabolisme
juga tergantung pada macam substrat.
Studi efek hormon androgen, seperti testosteron, pada sistem mikrosom hati
menunjukkan bahwa rangsangan enzim oksidasi pada tikus jantan ternyata
berhubungan dengan aktivitas anabolik dan tidak berhubungan dengan efek
androgenik. Pada manusia baru sedikit yang diketehui tentang adanya pengaruh
perbedaan jenis kelamin terhadap proses metabolisme obat.

15
4. Perbedaan Umur
Bayi dalam kandungan dan bayi baru lahir jumlah enzim-enzim mikrosom hati yang
diperlukan untuk memetabolisis obat relatif masih sedikit sehingga peka terhadap obat.
Contoh pengaruh umur terhadap metabolisme obat : Heksobarbital, bila diberikan pada
tikus yang baru lahir dengan dosis 10 mg/kg berat badan, menyebabkan tikus tertidur
selama 6 jam, sedang pada pemberian dengan dosis yang sama pada tikus dewasa
hanya menyebabkan tertidur kurang dari lima menit. Tolbutamid, pada bayi yang baru
lahir mempunyai waktu paruh enam jam, sedang pada orang dewasa delapan jam. Hal
ini disebabkan kemampuan bayi untuk metabolisme oksidatif masih rendah.
Kloramfenikol, pemberian pada bayi yang baru lahir dapat menimbulkan sindrom bayi
kelabu. Hal ini disebabkan bayi mengandung enzim glukuronil transferase dalam
jumlah yang relatif sedikit, sehingga kemampuan memetabolisis kloramfenikol rendah,
akibatnya terjadi penumpukan obat pada jaringan dan menimbulkan efek yang tidak
diinginkan. Bayi yang baru lahir mengandung enzim glukuronil transferase dalam
jumlah yang relative sedikit. Pemberian turunan salisilat, kloramfenikol, dan
klorpromazin dapat menimbulkan neonatal hyperbilirubinemia (kern ichterus). Hal ini
disebabkan terjadi kompetisi pada proses konjugasi antara bilirubin, suatu senyawa
endogen hasil pemecahan hemoglobin dengan obat-obat di atas, sehingga bilirubin
yang tak termetabolisis terkumpul pada jaringan dan menimbulkan efek yang tidak
diinginkan.
5. Penghambatan enzim Metabolisme
Kadang-kadang, pemberian terlebih dahulu atau secara bersam-sama suatu senyawa
yang menghambat kerja enzim-enzim metabolisme dapat meningkatkan intensitas efek
obat, memperpanjang masa kerja obat dan kemungkinan juga meningkatkan efek
samping dan toksisitas.
6. Induksi enzim metabolisme
Kadang-kadang pemberian terlebih dahulu atau secara bersama-sama suatu senyawa
obat dapat meningkatkan aktivitas atau jumlah enzim metabolisme dan bukan karena
perubahan permeabilitas mikrosom atau oleh adanya reaksi penghambatan.
Peningkatan aktivitas enzim metabolisme obat-obat tertentu atau prases induksi enzim
mempercepat proses metabolisme dan menurunkan kadar obat bebas dalam plasma,
sehingga efek farmakologis obat menurun dan masa kerjanya menjadi lebih singkat.
7. Faktor Lain-Lain

16
Faktor lain-lain yang dapat mempengaruhi metabolisme obat adalah diet makanan,
keadaan kekurangan gizi, gangguan keseimbangan hormon, kehamilan, pengikatan
obat oleh protein plasma, distribusi obat dalam jaringan, dan keadaan patologis hati,
misal kanker hati
VI. Bahan/alat/hewan coba
Hewan Percobaan :Tikus Putih Jantan, usia 2 bulan, 3 ekor
Alat : Spuit 1 cc Terumo, beker glass
Bahan : Phenobarbital Inj 100 mg/2 ml, Nacl 0,9%
VII. Cara kerja
1. Siapkan 3 ekor tikus putih, timbang satu per satu dan catat beratnya
2. Siapkan obat yang akan disuntikan
3. Tikus dipegang pada tengkuknya sehinnga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala
4. Suntiklah ke dalam abdomen bawah dari tikus disebelah garis masagital (di perut)
5. Lihat dan catat reaksi dari tikus tersebut setelah disuntikan obat

HEWAN PENYETARAAN PENIMBANGAN KETERANGAN


TIKUS JANTAN 1 298,5 g 188,5g 110g
TIKUS JANTAN 2 307,6 g 197,6 g 110g
TIKUS JANTAN 3 287,6 g 196,5 g 91,1g

Perhitungan dosis
Phenobarbital inj 100mg/2ml

Phenobarbital inj 50mg/ml 0,018x50mg/ml = 0,9mg/ml


Tikus jantan 1
110
0,9 / = 0,495/
200

0,495/
1
50/
= 0,0099 /
0,099 0,1
10(1 +9 0,9%)

17
Tikus jantan 2
110
0,9 / = 0,495/
200

0,495/
1
50/
= 0,0099 /
0,099 0,1
10(1 +9 0,9%)

Tikus jantan 3
91,1
0,9 / = 0,495/
200

0,40995 /
1
50/
= 0,00819 /
0,0819 0,08
10(1 +9 0,9%)

VIII. Hasil pengamatan


Hewan Obat Dosis Cara Pemberiana
Tikus Putih Jantan 1 Phenobarbital 100mg/2ml 0,1 ml IP
Tikus Putih Jantan 2 Nacl 0,9% 0,1 ml IP
Tikus Putih Jantan 3 Phenobarbital 100mg/2ml 0,08 ml IP

Hewan Pengamatan tingkah laku hewan pada menit ke...


0 5 10 15 20 25 30 35
Tikus Putih Aktif Aktif Aktif Aktif Mulai Diam Diam Aktif
Jantan 1 Diam Mata
sayup
Tikus Putih Aktif Aktif Aktif Diam Diam Diam aktif Aktif
Jantan 2
Tikus Putih Aktif Aktif Aktif Mulai Diam Diam Diam Aktif
Jantan 3 diam Mata Mata
sayup sayup

IX. Pembahasan

18
Pada hasil percobaan, yaitu pada tikus dengan berat badan yang berbeda-beda
didapatkan bahwa efek yang lebih dahulu timbul adalah rute pemberian obat dengan cara
intravena . Hal ini dikarenakan rute pemberian obat secara intavena berhubungan dengan
pembuluh darah langsung, oleh karena itu rute pemberian ini cepat memberikan efek.
Selain itu akibat factor individual ,efek obat dapat sangat berbeda. Setiap orang dapat
memberikan respons yang berlainan terhadap suatu obat sesuai kepekaannya masing-
masing. Perbedaan respon sini bias besar sekali, karena untuk setiap obat selalu ada orang
yang rentan dan dengan dosis rendah sekali sudah dapat memberikan efek terapeutik.
Sebaliknya, ada pula orang yang hanya memberikan efek dalam dosis yang amat tinggi.
Inilah sebabnya mengapa dosis obat yang diberikan pada suatu pasien dengan hasil baik,
adakalanya tidak ampuh pada pasien lain, yang mungkin dosisnya harus dinaikkan untuk
memberikan efek yang sama.

X. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa, meskipun tikus yang
digunakan didalam percobaan memiliki jenis kelamin yang sama dan mendapatkan obat
dalam dosis yang sudah diperhitungkan pula ternyata perbedaan tetap nampak terlihat.
Efek efek yang terjadi dari mulai tikus mengalami ketenangan lalu efek sedative timbul
sampai tertidur lalu bangun kembali. Ini dikarenakan adanya factor factor lain yang
mempengaruhi seperti penyerapan obat dan lingkungan, keadaan fisik tikus juga
mempengaruhi seperti stress dan lain lain.

XI. Daftar pustaka


- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999
- Katzung, Bertram G.,(2001), FARMAKOLOGI DASAR DAN KLINIK, Edisi ke-8,
Penerbit Salemba Medika: Jakarta, halaman 53-56.

19
3. PENGARUH VARIASI KELAMIN
TERHADAP EFEK OBAT

20
I. Judul percobaan : Pengaruh variasi kelamin terhadap efek obat
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 17 juli 2016, Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
Setelah menyelesaikan eksperimen ini diharapkan mahasiswa mampu
menereangkan terjadinya perbedaan efek antara hewan coba yang berkelamin sama dan
antara hewan coba jantan dan betina sebagau dasar pertimbangan percobaan dengan
memakai hewan coba.
IV. Prinsip percobaan
Dosis yang diperlukan untuk mencapai kadar terapeutik efektif berbeda-beda pada
tiap-tiap individu disebabkan karena adanya variasi biologi yang mempengaruhi respons
tubuh terhadap obat.
V. Teori dasar
Selama ini variasi kelamin bukan merupakan suatu massalah atau latar belakang
dalam penentuan dosis suatu obat kecuali untuk obat-obat tertentu mungkin harus ada
penyesuaian dosis yang berarti. Variasi kelamin dalam hal ini adalah bagaimana obat akan
memberikan mula efek yang berbeda antara hewan uji coba jantan dan betina. Pengobatan
yang rasional adalah terapi pengobatan yang bersifat aman, efektif, mudah didapat dan
terjangkau oleh pasien. Keamanan dan efektifitas obat dapat diketahui dari beberapa tahap
pada pengembangan dan penilaian obat baru sebelum obat tersebut diregistrasi dan
dipasarkan. Sebelum penggunaan pertama pada manusia, obat harus dilakukan pengujian
pada hewan. Tahap ini dikenal dengan uji pra klinik. Hewan uji yang dipakai adalah
hewan pengerat seperti tikus, mencit, anjing, kera, kelinci. Hewan uji tersebut di observasi
setelah diberikan obat uji, untuk melihat gejala klinis dan efek toksik yang ditimbulkan
obat tersebut.
Rute pemberian obat serta dosis yang disesuaikan terhadap hewan uji dapat
menghasilkan efek yang berbeda-beda yang nantinya dapat dikonversi pada manusia.
Hasil percobaan dapat dipengaruhi oleh faktor internal hewan uji dan faktor lingkungan.
Faktor internal hewan uji yang dapat mempengaruhi hasil percobaan atau efek obat uji
adalah usia, berat badan, kelamin, ras, status kesehatan, dll. Sedangkan faktor lingkungan
dari hewan uji juga memegang peranan penting, salah satunya adalah kondisi kandang,
pemeliharaan, asupan nutrisi, pengalaman hewan sebelum menerima obat.

21
VI. Bahan/alat/hewan coba
1. Mencit jantan 2 ekor
2. Mencit betina 1 ekor
3. Dissposible 1 cc
4. Phenobarbital
5. Larutan NaCl fisiologis (NaCl 0,9%)
6. Timbangan hewan
7. Wadah tempat pengamatan
VII. Cara kerja
1. Siapkan hewan coba jantan dan betina. Hitung dosis dan volume pemberian untuk
masing-masing hewan sesuai dengan berat badan.
2. Lakukan pemberian larutan phenobarbital secara IP (Intra Peritonial). Sebagai
pembanding gunakan larutan NaCl fisiologis pada hewan coba kontrol.
3. Catat waktu pemberian dan mulai terjadinya efek.
4. Tempatkan hewan dalam wadah pengamatan. Amati efek selama 45 menit. Efek
yang diharapkan adalah hewan tertidur, tetapi masih memebrikan respon bila
dirangsang.
5. Catat hasil pengamatan dan tabelkan sesuai dengan data berikut:
a. Mati = sangat peka
b. Tidur, bila diberi rangsangan nyeri tidak tegak = peka
c. Tidur, bila diberi rangsangan nyeri tegak = sesuai dengan efek yang diduga
d. Tidak tidur, tetapi mengalami ataksia = resisten
e. Tidak mengalami perubahan = sangat resisten\

Perhitungan dosis obat

Berat mencit jantan (hewan coba) : 25,9 g

Berat mencit jantan (hewan kontrol) : 19,3 g

Berat mencit betina : 21,2 g

Faktor konversi Manusia ke Mencit : BB mencit 20 g 0,0026

Dosis

Perhitungan dosis phenobarbital : 50 mg/ml x 0,0026 = 0,13 mg/ml


21,2
Dosis untuk mencit betina : x 0,13 mg/ml = 0,14 mg/ml
20

22
0,14 /
Volume pemberian : x 1 ml = 0,0028
50

(pengenceran 10x) = 0,028 ~ 0,03 ml


25,9
Dosis untuk mencit jantan : x 0,13 mg/ml = 0,17 mg/ml
20

0,17 /
Volume pemberian : x 1 ml = 0,0034
50

(pengenceran 10x) = 0,034 ~ 0,03 ml

Pengenceran phenobarbital : 1 ml phenobarbital + 9 ml NaCl 0,9%

VIII. Hasil pengamatan


a. Sebelum penyuntikan

Jenis kelamin Perilaku


Betina Lincah
Jantan Lincah
Jantan (kontrol) Diam

b. Setelah penyuntikan

Jenis kelamin Cara pemberian Waktu Perilaku


obat
Betina I.P Menit ke-30 Lincah
Menit ke-36 Agak tenang
Menit ke-40 Tenang
Jantan I.P Menit ke-12 Mengantuk
Menit ke-20 Tidur
Menit ke-25 Bangun

Kontrol I.P Menit ke-10 sampai Lincah


menit ke-25

23
IX. Pembahasan
Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil percobaan adalah faktor
internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil
percobaan meliputi variasi biologic (usia dan jenis kelamin) pada usia hewan semakin
muda maka semakin cepat reaksi yang ditimbulkan, ras dan sifat genetik, status kesehatan
dan nutrisi, bobot tubuh dan luas permukaan tubuh. Factor eksternal yang dapat
mempengaruhi hasil percobaan meliputi suplai oksigen, pemeliharaan lingkungan
fisologik (keadaan kandang,suasana asing atau baru, pengalaman hewan dalam pemberian
obat, keadaan rangan tempat hidup seperti sush, kelembaban, ventilasi, cahaya, kebisingan
serta penempatan hewan), pemeliharaan keutuhan struktur ketika menyiapkan
jaringan atau organ untuk percobaan
X. Kesimpulan
Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin mencit tidak terlalu berpengaruh
terhadap reaksi dan efek obat yang timbul terhadap masing-masing jenis kelamin mencit
tersebut. Ini bisa terjadi pada beberapa obat yang metabolisme tidak berpengaruh terhadap
aktivitas enzim dan hormon.namun akan berbeda hasilnya apabila kerja obat di dalam
tubuh dipengaruhi oleh faktor tersebut.
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

24
4. DOSIS DAN RESPON

25
I. Judul percobaan : Dosis obat dan respon
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 17 Juli 2016, Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
Setelah menyelesaikan percobaan ini diharapkan mahasiswa :
1. Memperoleh gambaran bagaimana merancang eksperimen untuk memperoleh DE50
dan DL50
2. Memahami konsep indeks terapi dan implikasi- implikasinya
IV. Prinsip percobaan
1. Dosis respon obat
Intensitas efek obat pada makhluk hidup lazimnya meningkat jika dosis obat yang
diberikan juga ditingkatkan.
2. Indeks terapi
a. Yaitu perbandingan antara DE50 dan DL50 yaitu dosis yang menghasilkan efek pada
50% dari jumlah binatang dan dosis yang mematikan 50% dari jumlah binatang
b. Indeks terapi merupakan ukuran keamanan untuk menentukan dosis obat
c. Rumus : Indeks Terapi = DL50/DE50
V. Teori dasar
Mencit digunakan sebagai hewan model hidup dalam berbagai kegiatan penelitan
terutama yang akan diterapkan pada manusia. Hewan ini mudah didapat, mudah
dikembangbiakkan dan harganya relatif terjangkau, ukurannya kecil sehingga mudah
ditangani, jumlah anak peranakannya banyak. Sebagaimana makhluk hidup lainnya selama
pertumbuhan dan perkembangannya mencit tidak dapat lepas dari pengaruh berbagai
faktor lingkungan hidupnya. ( Sundari,2011)
Dosis obat yang harus diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang
diharapkan tergantung dari banyak faktor, antara lain usia, bobot badan, jenis kelamin,
besarnya permukaan badan, beratnya penyakit dan keadaan si pasien (Ganiswarna, 1995).
Dilihat dari usia, dosis dapat memberikan efek-efek yang bervariasi. Pada anak-
anak kecil dan terutama bayi-bayi yang baru lahir (neonati) menunjukkan kepekaan yang
lebih besar terhadap obat, karena fungsi hati dan ginjal serta sistem-sistem enzimnya
belum lengkap perkembangannya. Untuk orang-orang tua dengan usia di atas 65 tahun,
lazimnya lebih peka pula untuk obat, karena sirkulasi darahnya sudah berkurang begitu
pula fungsi hati dan ginjalnya hingga eliminasi obat berlangsung lebih lambat, sementara
jumlah albumin darahnya lebih sedikit maka pengikatan obat lebih berkurang. Hal ini
berarti bahwa bentuk bebas dan aktif dari obat-obat ini menjadi lebih besar dan bahaya

26
keracunan bertambah. Akhirnya pada mereka tidak jarang terjadi kerusakan-kerusakan
umum (difus) pada otak yang mengakibatkan meningkatnya kepekaannya untuk obat-obat
dengan kerja sentral, misalnya obat-obat tidur (khususnya barbital-barbital, nitrazepam),
morfin dan turunannya, neuroleptika dan antidepresiva (Ganiswarna, 1995).
Untuk kebanyakan obat, keseragaman respons pasien terhadap obat terutama
disebabkan oleh adanya perbedaan individual yang besar dalam factor-faktor
farmakokinetik; kecepatan biotransformasi suatu obat menunjukkan variasi yang terbesar.
Variasi dalam berbagai factor farmakokinetik dan farmakodinamik ini berasal dari
perbedaan individual dalam kondisi fisiologik, kondisi patologik, factor genetic, interaksi
obat dan toleransi. Fase farmakokinetik berkaitannya dengan masuknya zat aktif ke dalam
tubuh. Pemasukan in vivo tersebut secara keseluruhan merupakan fenomena fisiko-kimia
yang terpadu di dalam organ penerima obat. Fase farmakokinetik ini merupakan salah satu
unsur penting yang menentukan profil keberadaan zat aktif pada tingkat biofase dan yang
selanjutnya menentukan aktivitas terapetik obat (Setiawati dan Armen, 2007).
Median efektif dosis (ED50) dapat digunakan untuk pemberian dosis obat yang
menyebabkan 50% dari hewan uji :
Berekasi atau tidak bereaksi (reaksi yang diharapkan)
Hidup atau mati (LD50)
Positif atau negative
Masuk dalam kategori yang diharapkan atau tidak (Ninda, 2010).

Indeks Terapi

Hampir semua obat pada dosis yang cukup besar menimbulkan efek toksis dan
pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian (dosis toksis = TD dan dosis letal = LD).
Takaran pada mana obat menghasilkan efek yang diinginkan disebut dosis terapeutik (Tan
& Raharja, 1978).

Untuk menilai keamanan dan efek suatu obat, dalam laboratorium farmakologi
dapat dilakukan percobaan-percobaan binatang dan yang ditentukan adalah khususnya
DE50 dan DL50 yaitu dosis yang menghasilkan efek pada 50% dari jumlah binatang dan
dosis yang mematikan 50% dari jumlah binatang. Perbandingan antara kedua dosis ini
dinamakan indeks terapi yang merupakan suatu ukuran untuk keamanan obat; semakin
besar indeks terapi, semakin aman penggunaan obat tersebut. Akan tetapi, hendaknya
diperhatikan bahwa indeks terapi ini tidak dengan begitu saja dapat dikorelasikan terhadap

27
manusia, seperti halnya dengan semua hasil dari percobaan binatang berhubung
perbedaan-perbedaan metabolism (Ganiswarna, 1995).

Indeks terapi dapat dihitung dengan cara:

Indeks Terapi = DL50/DE50

Fenobarbital

1. Rumus molekul : C12H12N2O3


2. Nama Kimia : Asam 5 etil-fenilbarbiturat
3. Sinonim : Luminal
4. Berat molekul : 232.24
5. Pemerian : Sangat sukar larut dalam air; larut dalam etanol, eter, dan
dalam larutan alkali hidroksida dan dalam alkali karbonat; agak sukar larut dalam
kloroform
6. Kandungan : Fenobarbital mengandung tidak kurang dari 98,0 % dan tidak
lebihdari101,0% C12H12N2O3 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan
7. Stabilitas : Stabil dalam udara, tetapi larutan mengalami hidrolisis
khususnya pada pH tinggi. Karena adanya pemutusan cincin asam barbirturat pada
posisi1,2 atau posisi 1,6 untuk membentuk diamida atau ureida. Dekomposisidiamida
dan ureida lebih jauh dapat terjadi.
8. pKa : 7,4 (25C)
9. Titik lebur : (174-178)C
10. Inkompatibilitas : Fenobarbital akan mengalami presipitasi tergantung pH
campuran dankonsentrasi barbiturat. Apabila campuran bersifat alkali penetapan pH
menjadi penting. Pengendapan asam bebas dilaporkan terjadi pada pH 8,8
11. Polimorfisme : Fenobarbital memiliki 13 jenis bentuk polimorfik yang telah
teridentifikasi. Bentuk yang paling stabil pada suhu kamar adalah bentuk II, yang
merupakan bentuk paling banyak terdapat dalam perdagangan .
12. Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup rapat ( Depkes RI, 1995)

Fenobarbital (asam 5,5-fenil-etil-barbiturat) merupakan senyawa organikpertama yang digunakan


dalam pengobatan antikolvulsi, dan merupakan obatpilihan utama untuk terapi kejang dan kejang demam
pada anak. Dosis dewasayang biasa digunakan ialah 2x120-250 mg sehari. Dosis anak ialah 30-100
mgsehari. Penghentian fenobarbital harus secara bertahap untuk mencegahkemungkinan meningkatnya
frekuensi bangkitan kembali, atau malah bangkitanstatus epileptikus. Penggunaan fenobarbital

28
menyebabkan berbagai efeksampingseperti sedasi, psikosis akut, dan agitasi. Interaksi
fenobarbital dengan obat lainumumnya terjadi karena fenobarbital menoingkatkan aktivitas enzim
mikrosomhati. Kombinasi dengan asam valproat akan menyebabkan kadar
fenobarbitalmeningkat 40%. (Utama dan Gan, 2007)
Mekanisme kerja fenobarbital yang pasti belum diketahui, tetapi memacuproses
peghambatan dan mengurangi transmisi eksitasi. Data menunjukkanbahwa fenobarbital dapat menekan
saraf abnormal secara selektif,menghambata penyebaran, dan menekan pelepasan dari fokus. Seperti
fenitoin,dalam dosis tinggi, fenobarbital dapat menekan melalui konduksi Na+, lepasnyafrekuensi tinggi
renjatan saraf yang berulang dalam kultur. Begitu pula padakonsentrasi tinggi, barbiturat menghambat arus
Ca2+ (tipe L dan M).Fenobarbital terikat pada sisi pengatur alosterik dari reseptor
GABAbenzodiazepin, dan memacu arus yang dirangsang reseptor GABA dengan caraperpanjangan
pembukaan saluran Cl-,. Fenobarbital juga menghambat responeksitatif yang disebabkan glutamat,
terutama yang diakibatkan oleh aktivasireseptor AMPA. Dengan kadar terapi yang relevan,
fenobarbital meningkatkanpenghambatan melalui GABA dan reduksi eksitasi melalui glutamat.
(Katzung,1997).
Fenobarbital memiliki aktivitas antiepilepsi, membatasi penyebaranlepasan kejang di
dalam otak dan meningkatkan ambang serangan epilepsi.Mekanisme kerjanya tidak diketahui
tetapi mungkin melibatkan potensiasi efekinhibisi dari neuron-neuron yang diperantarai oleh
GABA (asam gamaaminobutirat) dosis-dosis yang diperlukan untuk efek antiepilepsi lebih
rendahdaripada dosis yang menyebabkan penekanan saraf pusat yang hebat. (Mycek,2001)

VI. Bahan/alat/hewan coba


Hewan Percobaan : Mencit jantan Bobot badan rata-rata 18-22 gram
Alat yang digunakan : Alat suntik 1 ml, jarum suntik, timbangan hewan, dan stop
watch
Obat yang digunakan : Phenobarbital 50mg/ml, NaCl 0,09%
VII. Cara kerja
1. Ambil dan siapkan hewan percobaan yaitu Mencit sebanyak 5 ekor.
2. Timbang berat badan dari masing-masing mencit dan catat BB mencit, lalu beri tanda
pada mencit agar mudah dikenali.
3. Dosis yang digunakan lazimnya meningkat dengan factor perkalian 2 (untuk obat
tertentu dapat dengan factor perkalian yang berbeda) dosis yang digunakan sebagai
berikut :

29
Kelompok Dosis
(mg/kg)
I 2,190
II 4,375
III 8,750
IV 17,500
V 35,000
VI 70,000
VII 140,000
VIII 280,00
IX 560,000
4. Lakukan pengenceran phenobarbital 10x pengenceran menggunakan larutanNacl
0,09%
5. Hitung pengenceran untuk menentukan dosis yang akan digunakan.
6. Siapkan spuit 1 ml, masing-masing spuit yang sudah berisi obat hasil pengenceran
phenobarbital untuk 5 mencit.
7. Siapkan stop watch untuk menghitung waktu respon mencit sampai efek hipnotik
sedative.
8. Masing-masing mencit disuntikan intra vena, disuntik dibagian buntut mencit.
9. Hitung waktu efek hipnotik sedative mencit, amati dan catat pada ke-lima mencit
tersebut.
VIII. Hasil pengamatan
Perhitungan
Berat badan Mencit
Mencit 1 : 30 gram
Mencit 2 : 34 gram
Mencit 3 : 36,5 gram
Mencit 4 : 38,5 gram
Mencit 5 : 42 gram
Perhitungan dosis Phenobarbital
Faktor konversi Manusia Mencit Berat Badan mencit 20 gram = 0.0026
Phenobarbital = 50 mg/ml
Mencit = 0,0026 x 50 mg/ml = 0.13 mg/ml


x hasil konversi
20
30
30 0.13 mg
x = 0.195 mg/ml
20 ml

0.195/ 10x
x 1ml = 0.0039 > 0.039
50 1

Cara penengenceran :
Ambil 1 ml phenobarbital ampul + aquadest ad 10 ml, kocok ad larut, dan hasil
pengenceran yang di ambil 0.039
Perhitungan dosis masing masing mencit
Mencit 1 : 0.039 ~ 0.04
Mencit 2 : 0.039 x 2 = 0.078 ~ 0.08
Mencit 3 : 0.078 x 2 = 0.156 ~ 0.2
Mencit 4 : 0.156 x 2 = 0.312 ~ 0.3
Mencit 5 : 0.312 x 2 = 0.624 ~ 0.6
Mencit DOSIS
1 0.04
2 0.08
3 0.2
4 0.3
5 0.6
Hasil Pengamatan

RESPON OBAT (menit)


HEWAN
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
tidur
Mencit 1 aktif aktif aktif Aktif diam (Menit diam aktif aktif aktif
ke 25)
tidur
Mencit 2 aktif aktif aktif Diam (Menit diam diam aktif aktif aktif
ke 19)
tidur
Mencit 3 aktif aktif diam (Menit diam diam diam aktif aktif aktif
ke 13)
tidur
Mencit 4 aktif aktif (Menit Diam diam diam diam diam aktif aktif
ke 10)
tidur
Mencit 5 aktif diam (Menit Sedativ sedativ sedativ sedativ sedativ sedativ aktif
ke 7)

31
IX. Pembahasan
Pada percobaan diatas dosis yang diberikan pada masing-masung hewan berbeda
dan bervariasi sehingga menimbulkan efek yang berbeda pada hewan percobaan,efek yang
berlangsung juga berbeda-beda ini disebabkan karena jumlah dosis obat (banyak atau
sedikit) yang diberikan pada mencit.dosis obat yang banyak menimbulkan efek yang lebih
cepat dan lebih besar dibandingkan pada pemberiaan abat yang jumlahnya sedikit.
Keberhasilan terapi obat selama periode tertentu bergantung kepada dicapainya
konsentrasi zat berkhasiat yang terletak pada daerah konsentrasi terapeutik. ED50 (dosis
efektif 50) yang telah sering dikemukakan adalah dosis yang menyebabkan dicapai
separuh (50%) dari efek maksimum atau dosis yang menyebabkan 50% dari obyek
percobaan menunjukkan efek yang diharapkan. LD50 (dosis letal 50) suatu hal yang
berbeda dengan ED50 yaitu dosis yang menyebabkan 50% dari hewan percobaan mati.
Luas terapeutik suatu senyawa merupakan ukuran keamanan antara efek terapeutik dan
efek toksik : makin tidak berbahaya suatu obat makin besar luas terapeutiknya. Biasanya
ini diberikan dalam bentuk koefisien terapeutik (indeks terapeutik) sebagai hubungan dari
LD50 terhadap ED50.
Pontensi menunjukkan rentang dosis obat yang menimbulkan efek. Besarnya ditentukan
oleh :
1. Kadar obat yang mencapai reseptor, yang tergantung dari sifat farmakokinetik obat.

2. Afinitas obat terhadap reseptornya.

Efek maksimal adalah respon maksimal yang ditimbukan obat bila diberikan pada dosis
yang tinggi.

X. Kesimpulan
Banyak atau sedikit dosis pemberian obat sangat mempemgaruhi efek yang
ditimbulkan dan lamanya efek yang dihasilkan. Pada pemberiaan jumlah yang sedikit efek
yang dihasilkan kadang kurang sedangkan pada pemberiaan dengan jumlah yang terlalu
banyak bisa menimbulkan efek letal atau kematiaan Oleh karena itu dosis dalam
pemberian obat sangat mempengahi bagaimana efek obat yang timbul.
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009

32
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999
- Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

33
5. HIPNOTIK DAN SEDATIVE

34
I. Judul percobaan : Hipnotika dan sedative
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 17 Juli 2016, Pukul : 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan

1. Mampu mengevaluasi pengaruh pemberian obat hipnotik sedatif


2. Mampu mengevaluasi pengaruh cara pemberian obat terhadap hewan percobaan

IV. Prinsip percobaan


Obat kelompok barbiturat termasuk yang bekerja depresan umum, berarti bekerja
depresif terhadap sejumlah besar fungsi dan organ-organ sistem tubuh, tidak terbatas
hanya pada system saraf pusat, sama halnya dengan anestetika umum dan anestetika lokal,
efek barbiturat pun tidak spesifik dan reversible.
V. Teori dasar
Hipnotika atau obat tidur (yunani; hypnos : tidur) adalah zat-zat dalam .dosis terapi
diperuntukkan meningkatkan keinginan untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan
tidur. Lazimnya, obat ini diberikan pada malam hari. Bilamana zat-zat ini diberikan pada
siang hari dalam dosis yang rendah untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan sedativa
(obat-obat pereda).
Sedativa adalah obat yang menimbulkan depres, ringan susunan saraf sentral tanpa
menyebabkan tidur (obat pereda).Oleh karena itu, tidak ada perbedaan yang tajam antara
kedua kelompok obat ini, Sedativa berfungsi menurunkan aktifitas, mengurangi
ketegangan dan menenangkan penggunanya. Keadaan sedasi juga merupakan efek
samping dari banyak obat yang khasiat utamanya tidak menekan SSP, misalnya
antikolinergik.
Hipnotika menimbulkan rasa ngantuk (drowsiness), mempercepat tidur, dan
sepanjang malam mempertahankan keadaan tidur yang menyerupai tidur alamiah
mengenai sifat-sifat EEG-nya. Selain sifat-sifat ini, secara ideal obat tidur tidak memiliki
aktivitas sisa keesokan harinya.

Jenis tidur dan fase tidur

Berdasarkan pengukuran neurofisiologik ditemukan berbagai jenis tidur :

1. Tidur ortodoks tersinkronisasi (tidur NREM)


Tidur ortodoks secara elektroensefalografi dibagi lagi dalam berbagai fase tidur :
stadium memasuki tidur (stadium I), stadium tidur ringan (stadium II), stadium tidur
cukup dalam ( stadium III) dan stadium tidur dalam ( stadium IV). Tidur yang seperti

35
gelombang ini diputuskan oleh fase tidur khusus, yaitu terjadi salvo gerakan mata yang
cepat dan arena itu disebut fase REM (Rapid Eye Movements).
2. Tidur paradoks atau tidur REM
Tidur REM ditandai oleh aktivitas listrik kuat, sedang parameter lain sama dengan
parameter tidur dalam (tonus otot minimum, gelombang bangun tinggi)

Gangguan tidur dapat disebabkan oleh :

1. Gangguan organik ( misalnya tumor otak, nyeri, rangsangan gatal, insufisiensi jantung
dengan kesukaran pernafasan ).
2. Beban kejiwaan dan psikhis ( meningkatnya tuntutan antara lain dalam pekerjaan,
masalah keluarga, kasus kematian).
3. Cara hidup yang tak sehat ( perubahan ritme tidur-bangun akibat kerja berganti-
gantian, gangguan bahan-bahan yang merangsang pusat, misalnya kofein; kekurangan
kegiatan jasmani; makan terlalu banyak dan sukar dicerna pada malam hari)
4. Rangsangan yang berlebih-lebihan ( terlalu lama menonton televise, kebisingan
lalulintas).

Persyaratan obat tidur yang ideal :

1. Menimbulkan keadaan yang sama seperti tidur fisiologik, dengan kata lain profil
fisiologik tidak berubah.
2. Jika suatu kelebihan dosis, pengaruh terhadap fungsi lain dari system saraf pusat (atau
fungsi-fungsi organ lainnya) kecil.
3. Tidak tertimbun.
4. Pada pagi berikutnya tidak menyebabkan kerja ikutan yang negative ( yang disebut
hang over).
5. Tidak kehilangan khasiatnya pada pemakaian yang lebih lama.

Senyawa yang mempengaruhi tidur

Turunan asam barbiturat ( kelompok barbiturat ) : secara keseluruhan barbiturate


yang digunakan dalam terapi bekerja secara farmakodinamik kuantitatif sama ; sedative
hipnotik atau narkotik bergantung pada dosis. Begitu pula intensitas kerja dan dengan
demikian pemberian dosis sangat mirip. Selain itu terdapat suatu komponen yang bekerja
antikonvulsif yang khusus mencolok pada fenobarbital dan metilfenobarbital. Sebaliknya
barbiturat tidak memiliki sifat analgetika pada dosis yang berkhasiat hipnotika.

Indikasi barbiturat
36
Gangguan tidur.
Kondisi terangsang ( delirium alcohol, mania, paralisis).
Untuk menunjang penyembuhan penghentian morfin.
Sebagai sedativa antara lain, pada hipertireosis, keluham klimakterium.
VI. Bahan/alat/hewan coba
Obat yang diberikan : Phenobarbital injeksi 50mg/ml
Hewan coba : 3 ekor tikus jantang
Alat yang digunakan : Timbangan hewan, spuit 1 ml, stopwatch
VII. Cara kerja
Timbang berat badan masing-masing hewan percobaan
Tikus 1 sebagai kontrol tidak di suntikan obat
Tikus 2 disuntikan phenobarbital secara IV
Tikus 3 disuntikan Phenobarbital secara IP
Amati efek obat yang terjadi, dan simpulkan mula kerja dan lama kerja obat tersebut

Perhitungan dosis obat

Tikus 2
Berat badan = 101,3 gram
Phenobarbital inj = 50mg/ml
Konversi untuk tikus dengan berat badan 200 gram adalah 0,018
Konversi = 0,018 50/ = 0,9/
101,3
Dosis = 0,9/ = 0,455/
200
0,455/
= 1 = 0,009 (di encerkan )
50/

= 0,009 ml 10 = 0,09 ml (disuntikan ke tikus 2 secera IV)


Tikus 3
Berat badan = 152,3 gram
Phenobarbital inj = 50mg/ml
Konversi untuk tikus dengan berat badan 200 gram adalah 0,018
Konversi = 0,018 50/ = 0,9/
152,3
Dosis = 0,9/ = 0,685/
200
0,685/
= 1 = 0,013 (di encerkan )
50/

= 0,013 ml 10 = 0,13 ml (disuntikan ke tikus 3 secara IP)

37
VIII. Hasil pengamatan
Hewan Pengamatan menit ke
percobaan
0 10 20 30 40

Masih aktif Masih aktif Masih aktif Masih aktif Masih aktif
Tikus 1
bergerak bergerak bergerak bergerak bergerak
(kontrol)
Masih aktif Menit ke 8 Menit ke 17 Mulai Kembali aktif
Tikus 2
bergerak mulai diam masih diam bergerak bergerak
Disuntikan
(mulai kerja (sedative) sedikit-
sacara IV
obat) sedikit
Masih aktif Menit ke 5 Masih diam, Menit ke 27 Mulai
Tikus 3
bergerak mulai diam mulai masih terbangun dan
Disuntikan
(mula kerja tertidur tertidur bergerak
secara IP
obat) (hipnotik) (hipnotik)

IX. Pembahasan
Hipnotik dan sedatif merupakan golongan obat pendepresi susunan syaraf pusat
(SSP), Efeknya bergantung kepada dosis. Beberapa obat dalam golongan hipnotik dan
sedatif, khususnya golongan benzodiazepin diindikasikan juga sebagai pelemas otot,
antiepilepsi, antiansietas (anticemas), dan sebagai penginduksi anestesia. Penggolongan
obat sedatif-hipnotik :
Benzodiazepin : Alprazopam, Klordiazepoksid, Diazepam, Flurazepam, Lorazepam
Barbiturat : Amobarbital, Pentobarbital, Phenobarbital, Sekobarbital, Thiopental
Lain-lain : Propofol, Ketamin, Dekstromethorpan
Dari hasil percobaan, telah dibuktikan bahwa Phenobarbital adalah golongan
barbiturat yang bekerja depresan umum sehingga menimbulkan efek hipnotik dan
sedative. Pada tikus 2 phenobarbital di suntikan secara IV, namun saat penyutikan tidak
semuanya obat masuk ke pembuluh vena karena cara penyuntikan yang kurang tepat,
sehingga efek obat yang timbul pada tikus hanya sampai pada efek sedative saja tidak
sampai menyebabkan hipnotik. Pada tikus 3 phenobarbital di suntikan secara IP, efek yang
timbul pada tikus yaitu sedative sampai menyebabkan hipnotik. Cara penyuntikan dan
dosis obat yang diberikan dapat mempengaruhi efek obat terhadap tubuh, selain itu

38
keadaan lingkungan juga mempengaruhi perilaku tikus yang dapat mempengaruhi efek
dari obat.
X. Kesimpulan
Obat kelompok barbiturat termasuk yang bekerja depresan umum, sehingga dapat
menimbulkan suatu keadaan sedative dan hipnotik yang disesuaikan dengan dosis
terapinya. Mekanisme kerja phenobarbital menghambat kejang kemungkinan melibatkan
potensiasi penghambatan sinaps melalui suatu kerja pada reseptor GABA, rekaman intra
sel neuron cortex atau spinalis kordata tikus menunjukkan bahwa phenobarbital
meningkatkan respon terhadap GABA yang diberikan secara inotoforetik.
Cara pemberian obat juga mempengaruhi efek obat pada hewan coba, selain itu
keadaan lingkungan juga mempengaruhi tingkah laku dan tingkat strees pada hewan.
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

39
6. DIURETIK

40
I. Judul percobaan : Diuretik
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 17 Juli 2016 Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
1. Untuk mengetahui efek dari obat diuretic pada hewan percobaan
2. Untuk mengetahui volume urin yang dihasilkan oleh hewan akibat pemberian obat
diuretic
3. Untuk mengetahui mekanisme kerja dari obat diuretik

IV. Prinsip percobaan


Penentuan efek farmakologi dari obat obat diuretik yaitu furosemid terhadap
tikus yang setelah diberikan air per oral, berupa pengamatan terhadap frekwensi urinasi
dan volume urinasi setiap interval waktu 20 menit selama 3 jam.
V. Teori dasar
Diuretika adalah senyawa yang dapat menyebabkan ekskresi urin yang lebih banyak. Jika
pada peningkatan ekskresi garam-garam, maka diuretika ini dinamakan saluretika atau
natriuretika (diuretika dalam arti sempit). ( Mutschler, 1991)
Walaupun kerja nya pada ginjal,diuretika bukan obat ginjal,artinya senyawa ini tidak
dapat memperbaiki atau menyembuhkan penyakit ginjal,demikian juga pada pasien
insufisiensi ginjal jika diperlukan dialysis,tidak dapat ditangguhkan dengan penggunaan
senyawa ini. Beberapa diuertika pada awal pengobatan justru memperkecil ekskresi zat-zat
penting urin dengan mengurangi laju filtrasi glomerulus sehingga memperburuk
insufisiensi ginjal. ( Mutschler, 1991)
Diuretika adalah zat-zat yang dapat memperbanyak kemih (diuresis) melalui kerja
langsung terhadap ginjal. Obat-obat lainnya yang menstimulasi diuresis dengan
mempengaruhi ginjal secara tak langsung tidak termasuk dalam definisi ini, misalnya zat-
zat yang memperkuat kontraksi jantung (digoksin, teofilin), memperbesar volume darah
(dekstran), atau merintangi sekresi hormon antidiuretik ADH (air, alkohol).
Fungsi utama ginjal adalah memelihara kemurnian darah dengan jalan mengeluarkan
semua zat asing dan sisa pertukaran zat dari dalam darah dimana semuanya melintasi
saringan ginjal kecuali zat putih telur dan sel-sel darah.
Fungsi penting lainnya adalah meregulasi kadar garam dan cairan tubuh. Ginjal
merupakan organ terpenting pada pengaturan homeostasis, yakni keseimbangan dinamis
antara cairan intra dan ekstrasel, serta pemeliharaan volume total dan susunan cairan
ekstrasel. Hal ini terutama tergantung dari jumlah ion Na+, yang untuk sebagian besar
terdapat di luar sel, di cairan antarsel, dan di plasma darah.

41
Mekanisme kerja obat diuretik

Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorbsi natrium, sehingga


pengeluaranya lewat kemih- dan demikian juga dari air-diperbanyak. Obat-obat ini bekerja
khusus terhadap tubuli, tetapi juga ditempat lain, yakni di :

a. Tubuli proksimal, ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang disini


direabsorbsi secara aktif untuk kurang lebih 70%, antara lain ion-Na+ dan air, begitu
pula glukosa dan ureum. Karena reabsorbsi berlangsung secara proporsional, maka
susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plasma. Diuretika
osmosis (manitol, sorbitol) bekerja di sini dengan merintangi reabsorbsi air dan juga
natrium.

b. Lengkungan henle. Dibagian menaik dari Henles loop ini k,l. 25% bsorbsi pasif dari
Na+ dan K+ tetapi tanpa hingga filtrat menjadi hipotonis. Diuretika
lengkungan seperti furosemida, bumetamida dan etakrinat, bekerja terutama di sini
dengan merintangi transpor Cl- dan demikian reabsorbsi Na+. pengeluaran K+dan air
juga diperbanyak.

c. Tubuli distal. Dibagian pertama segmen ini, Na+ direabsorbsi secara aktif pula tanpa
air hingga filtrat menjadi lebih cair dan lebih hipotonis.sentawa
thiazidadan klortalidon bekerja di tempat ini dengan memperbanyak eksreksi
Na+ dan Cl sebesar 5-10%. Dibagian kedua segmen ini, ion Na+ ditukarkan dengan
ion K + atau NH4+; proses ini dikendalikan oleh hormon anak-ginjal
aldosteron antagonis aldosteron (spirolacton) dan zat-zat penghemat kalium
(amilorida, triateren) bertitik kerja disini dengan mengekibatkan ekskresi Na+ (5%)
dan retensi- K+.

d. Saluran pengumpul. Hormon antidiuretika ADH (vasoprin) dari hipofisis bertitik kerja
disini dengan jalan memengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel saluran
ini.(mariska syafri ; 2011)

Penggolongan obat diuretik

Diuretik dapat dibagi menjadi 5 golongan yaitu :

42
1. Diuretik osmotic

Tempat Dan Cara Kerja : Tubuli Proksimal penghambatan reabsorbsi natrium dan air
melalui daya osmotiknya. Ansa Henle penghambatan reasorbsi natrium dan air oleh
karena hiperosmolaritas daerah medula menurun. Penghambatan reasorbsi natrium
dan air akibat adanya kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau adanya faktor lain.
Diuretik osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan cepat
diekskresi oeh ginjal. Contoh dari diuretik osmotik adalah ; manitol, urea, gliserin dan
isosorbid.

2. Diuretik golongan penghambat enzim karbonik anhidrase

Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik ini bekerja pada tubuli Proksimal dengan cara
menghambat reabsorpsi bikarbonat.

Yang termasuk golongan diuretik ini adalah asetazolamid, diklorofenamid dan


meatzolamid.

3. Diuretik golongan tiazid

Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik golongan tiazid ini bekerja pada hulu tubuli distal
dengan cara menghambat reabsorpsi natrium klorida.

Obat-obat diuretik yang termsuk golongan ini adalah ; klorotiazid, hidroklorotiazid,


hidroflumetiazid, bendroflumetiazid, politiazid, benztiazid, siklotiazid, metiklotiazid,
klortalidon, kuinetazon, dan indapamid.

4. Diuretik hemat kalium

Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal
dan duktus koligentes daerah korteks dengan cara menghambat reabsorpsi natrium
dan sekresi kalium dengan jalan antagonisme kompetitif (sipironolakton) atau secara
langsung (triamteren dan amilorida).

Yang tergolong dalam kelompok ini adalah: antagonis aldosteron. triamterenc.


amilorid.

5. Diuretik kuat

43
Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik kuat ini bekerja pada Ansa Henle bagian asenden
pada bagian dengan epitel tebal dengan cara menghambat transport elektrolit natrium,
kalium, dan klorida. Yang termasuk diuretik kuat adalah ; asam etakrinat, furosemid
dan bumetamid.

6. Xantin

Xantin ternyata juga mempunyai efek diuresis. Efek stimulansianya paa fungsi
jantung, menimbulkan dugaan bahwa diuresis sebagian disebabkan oleh
meningkatnya aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerolus. Namun semua derivat
xantin ini rupanya juga berefek langsung pada tubuli ginjal, yaitu menyebabkan
peningkatan ekskresi Na+ dan Cl- tanpa disertai perubahan yang nyata pada
perubahan urin. Efek diuresis ini hanya sedikit dipengaruhi oleh keseimbangan asam-
basa, tetapi mengalami potensiasi bila diberikan bersama penghambat karbonik
anhidrase.Diantara kelompok xantin, theofilin memperlihatkan efek diuresis yang
paling kuat.

Toksisitas diuretic

Pada pengobatan hipertensi, sebagian besar efek samping yang lazim terjadi adalah
deplesi kalium. Walaupun hipokalemia ringan dapat ditoleransi oleh banyak pasien ,
hipokalemia dapat berbahaya pada pasien yang menggunakan digitalis, pasien dengan aritmia
kronis, pada infarktus miokardium akut atau disfungsi ventrikel kiri. Kehilangan kalium
diimbangi dengan reabsorpsi natrium. Oleh karenanya ,pembatasan asupan natrium dapat
meminimalkan kehilangan kalium. Diuretik glukosa, dan peningkatan konsentrasi lemak
serum. Diuretik dapat meningkatkan konsentrasi uric acid dan menyebabkan terjadinya gout
(pirai). Penggunaan dosis rendah dapat meminimalkan efek metabolik yang tidak diinginkan
tanpa mengganggu efek antihipertensinya. (Katzung, 1986).

VI. Bahan/alat/hewan coba

Alat

- Beaker glass

- Alat suntik & Jarum suntik

- Kapas

- Timbangan tikus

44
- Sonde

- Kandang khusus untuk pengamatan

- Tabung berskala untuk penampungan urin

- Gelas ukur

Bahan

Tikus 6 ekor

Aqua Pro Injeksi

NaCl 0,9%

Furosemid Na 10 mg/ml

Alkohol

VII. Cara kerja


1. Tikus dibagi menjadi 2 klompok,klompok 1 adalah klompok uji dan klompok ll
adalah klompok control, masing masing kelompok terdiri dari 3 tikus
2. Timbang masing masing tikus lalu catat
3. Masing masing tikus diberikan air hangat per oral sebanyak 50ml/kg bb
4. 3 tikus percobaan diberikan furosemid sesuai dosis yang telah ditentukan dengan rute
pemberian subcutan (Klompok l)
5. 3 tikus percobaan diberikan nacl sebagai control
6. Segera setelah pemberian obat, tempatkan tikus ke dalam kandang khusus yang
didesain untuk mengumpulkan urine tanpa kontaminasi feses.
7. Kumpulkan urin dan catat pengeluaran urin selama 3 jam Hitung presentase volume
kumulatif urin yang diekskresi.
VIII. Hasil pengamatan
Perhitungan

TIKUS Berat Badan


1 88,6 gram
2 89.8 gram
3 118.6 gram
4 113.6 gram
5 115.4 gram
6 135.4 gram

45
Diketahui : Furosemid 10 mg
Faktor konversi => Manusia => tikus BB 200 gram = 0.08
10 mg/ml x 0.08 = 0.18
88.6
Tikus 1 = x 0.18 = 0.07
200

0.07 /
= x 1 ml = 0.007 ml x 10 = 0.07
10 /

85.6
Tikus 2 = x 0.18 = 0.08 ml
200

0.08 /
= x 1 ml = 0.008 ml x 10 = 0.08
10 /

118.6
Tikus 3 = x 0.18 =0,106 ml
200

0.106
= x 1 ml = 0.1
10

BLANKO ( Nacl 0.9% )


113.6
Tikus 4 = x 0.18 = 0.102 ml
200

115.4
Tikus 5 = x 0.18 = 0.103 ml
200

135.4
Tikus 6 = x 0.18 = 0.12 ml
200

Furosemid 10mg

KLOMPOK I WAKTU VOLUME %

TIKUS I 11.21 15.00


4
TIKUS II 11.21- 15.00 4 ml 100% = 80%
5
TIKUS III 11.21- 15.00

BLANKO (nacl 0,9%)

KLOMPOK II WAKTU VOLUME %


TIKUS 1V 11.21-15.00
TIKUS V 11.21-15.00 0,6 ml 0,6
100% = 72%
TIKUS VI 11.21-15.00 5

46
IX. Pembahasan
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan diuretic dengan menggunakan
obat Furosemid dan tikus sebagai hewan ujinya. Diuretik sendiri berfungsi sebagai obat
yang dapat menambah kecepatan pembentukan urien. Dengan kata lain adalah berfungsi
membuat pruduksi urine meningkat. Hal ini dilakukan dengan maksud mencuci atau
membilas ginjal dari dari zat zat berbahaya.
Sebelum dilakukan percobaan tikus terlebih dahulu dipuasakan selama 16 jam
tetapi tetap di beri minum ini untuk mencegah sebelum diberikan obat untuk
menghilangkan factor makanan. Namun walaupun demikian faktor variasi biologis dari
hewan tidak dapat di hilangkan sehingga factor ini relative dapat mempengaruhi hasil.
Tikus kelompok l diberi furosemid dan tikus klompok ll diberi nacl 0,9% dengan
dosis yang sudah di perhitungkan . Sebelum diberi obat, tikus terlebih dahulu di timbang
dan diberi air hangat menggunakan sonde. Tujuannya adalah untuk membantu
mempercepat atau memperbanyak urin yang dikeluarkan. Setelah masing- masing tikus
disuntikkan, tikus langsung dimasukkan ke sebuah tempat yaitu kandang metabolisme.
Masing masing tikus diletakkan pada kandang yang berbeda. Kemudian urine tersebut di
tampung menggunakan gelas ukur. Setelah itu urin yang telah ditambung menggunakan
gelas ukur tersebut diukur dan dicatat berapa banyak keluarnya. Masing masing urin
tikus diukur dengan selang waktu selama 3 jam.
Dari hasil data pengamatan dapat ditarik kesimpulan bahwa tikus kelompok l
menghasilkan urin lebih banyak di banding tikus klompok ii , ini berarti penggunaan
furosemid pada klompok ii memberikan hasil yang positif .
X. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam penggunaan
obat pada tikus dapat di pengaruhi oleh beberapa factor selain perhitungan dosis yang
tepat , jenis kelamin dan berat badan pada hewan percobaan dapat mempengaruhi efek
yang timbul pada hewan percobaan tersebut ,
Efek terapeutik pada penggunaan furosemid kepada kelompok I menghasilkan efek yang
positif dilihat dari hasil persentase 80% yang melebihi 75% , sedangkan klompok ll
memberikan hasil yang negative pada efek diuretic karna hanya menghasilkan persentase
sebanyak 72% kurang dari 75% dikarnakan hanya sebagai kontrol

47
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

- Tjay, Tan Hoan, Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting Edisi 6 . Jakarta : PT. Elex
Media Komputindo

- Katzung, Bertram G., 1986, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika ; Jakarta.

48
7. EFEK OBAT PADA MEMBRAN MUKOSA
DAN KULIT

49
I. Judul percobaan : Efek obat pada membran mukosa dan kulit mukosa
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 17 Juli 2016, Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
1. Memahami efek lokal dari obat / senyawa kimia terhadap kulit dan membran mukosa
berdasarkan cara kerja masing - masing, serta dapat diaplikasikan efek obat dalam
peraktik dan dampak eefek lokal senyawa kimia digunaan sebagai dasar keamanan
penanganan bahan.
2. Memahami sifat dan intensitas kemampuan merusak kulit dan membran mukosa.
3. Membran mukosa dari berbagai obat dari pekerja lokal.
4. Menyimpulkan ersyaratan-persyaratan farmakologi untuk obat-obat yang dipakai
secara lokal.
IV. Prinsip percobaan
1. Zat-zat yang dapat menggugurkan bulu bekerja dengan cara memecahkan ikatan S - S
pada keratin kulit, sehingga bulu mudah rusak dan gugur.
2. Zat-zat korosif bekerja dengan cara oksidasi, mengendapkan protein kulit, sehingga
kulit/ membran mukosa akan rusak
3. Fenol dalam berbagai pelarut akan menunjukkan efek lokal yang berbeda pula, karena
koefisien partisi yang berbeda-beda dalam berbagai pelarut dan juga karena
permeabilitas kulit akan mempengaruhi penetrasi fenol ke dalam jaringan.
4. Zat-zat yang bersifat astrigen bekerja dengan cara mengkoagulasikan protein, sehingga
permeabilitas sel-sel pada kulit/membran mukosa yang dikenainya menjadi
turun, dengan akibat menurunnya sensitivitas di bagian tersebut
V. Teori dasar

Obat merupakan zat yang digunakan untuk mendiagnosis, mengurangi rasa sakit,
serta mengobati ataupun mencegah penyakit pada manusia dan hewan (Ansel,1985).
Sedangakan menurut keputusan Mentri Kesehatan RI No.193/Kab/B.VII/71, obat
merupakan suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan
dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan
penyakit atau gejala penyakit, atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau
hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian badan manusia.

Mayoritas obat bekerja secara spesifik terhadap suatu penyakit. Namun tidak jarang
juga obat yang bekerjanya secara menyeluruh. Berdasarakan efek obat yang diberikan
obat kepada tubuh, maka obat dibagi menjadi 2, yaitu:

50
A. Obat yang berefek sistemik

Adalah obat yang memberi pengaruh pada tubuh yang bersifat menyeluruh (
sistemik ) dan meggunakan sistem saraf sebagai perantara. Obat ini akan bekerja jika
senyawa obat yang ditentukan bertemu dengan reseptor yang spesifik.

Tindakan anestesi sudah dikenal sejak dahulu ntuk mempermudah tidakan operasi.
Orang-orang Mesir menggunakan Canabis indica, dan pemukulan kepaa dengan tongkat
kayu untuk menghilangkan kesadaran seseorang.

Tahun 1776 ditemukan anestetika gas yang pertama yaitu N2O, karena dirasa kurang
efektif dicarilah zat yang lain. Tahun 1795 eter ditemukan sebagai anestesi inhalasi.

Teknik anestesi modern saat ini sudah merupakan pratek yang biasa dilakukan yaitu
dengan memberikan bebrapa anestetika dengan mekanisme kerja berbeda agar diperoleh
keadaan anestetika operasi dengn resio efek toksik yang mnimal. Anestetika sutikan intra
vena (i.v) biasa dipakai untuk taraf induksi kemudian dilanjutkan dengan anestetik
inhalasi untuk mempertahankan keadaan tidak sadar. Obat khusus sering diberikan untuk
menghasilkan relaksasi otot.

Untuk prosedur tertentu mungkin dibutuhkan hipotensi terkendali, untuk itu


digunakan labetolol dan gliseril trinitrat. Sedang beta bloker seperti adenosin, amiodaron
dan verapamil bisa digunakan untuk mengendalikan aritmia selama anestesi. Dalam
proses anestesi terdapat taraf-taraf narkosa tertentu yaitu penekanan sistem saraf sentral
secara bertingkat dan berturut-turut sebagai berikut :

Taraf - taraf narkose

Anestetika sistemik dapat menekan sususan saraf sentral secara berurutan yaitu :

Taraf analgesia, yaitu kesadaran dan rasa nyeri berkurang.

Taraf eksitasi, yaitu kesadaraan hilang seluruhnya dan terjadi kegelisahan.

Kedua taraf ini disebut taraf induksi

Taraf anestesia, yaitu refleks mata hilang, nafas otomatis dan teratur seperti
tidur serta otot - otot melemas (relaksasi).

Taraf pelumpuhan sum - sum tulang, yaitu kerja jantung dan pernafasan
terhenti.

51
Tujuan narkosa adalah untuk mencapai taraf anastesia dengan sedikit mungkin kerja
ikutan atau efek samping, oleh karena itu taraf peratama sampai ke tiga adalah yang
paling penting sedangkan taraf ke empat harus dihindari. Pada proses recovery (sadar
kembali) terjadi dengan urutan taraf terbalik dari taraf ketiga sampai kesatu.

Persyatan anestetika umum

Beberapa syarat penting yang harus dipenuhi oleh suatu anestetika umum adalah :

Berbau enak dan tidak merangsang selaput lendir.

Mula kerja cepat tanpa efek samping

Sadar kembalinya tanpa kejang

Berkhasiat analgetika baik dengan melemaskan otot - otot seluruhnya.

Tidak menambah pendarahan kapiler selama waktu pembedahan.

Guna mencapai narkosa umum yang cukup dalam dan lama digunakan suatu
anetetika pokok dengan penambahan suatu obat pembantu, yang bertujuan untuk
menghindarkan atau memperkecil kerja ikutan dengan memperkuat salah satu khasiat
anestetika yaitu :

Sebelum narkose (premedikasi), diberikan obat - obat sedatif (klorpromazin,


morfin dan pethidin) guna meniadakan kegeliahan dan obat - obat
parasimpatolitik (atropin) guna memnekan sekresi ludah yang berlebih.

Selama narkose, diberikan obat - obat relaksasi otot (tubokurarin,galamin,dll)

Setelah narkose (post medika), diberikan obat - obat analgetika


(methampyron, dll), sedativa (iminal, dll), dan antiemetika (klorpromazin
HCL).

Kadangkala dipakai kombinasi dari anestetika pokok dengan suatu anestetika


lanjutan untuk memperpanjang lamanya narkose, seperti gas N2O dan siklopropan pada
narkosa pokok serta barbital - barbital.

Efek Samping

Hampir semua anestetika inhalasi mengakibatkan sejumlah efek samping, yang


terpenting diantaranta adalah :

Menekan pernafasan, paling kecil pada N2O, eter dan trikloretiken.

52
Mengurangi kotraksi jantung, terutama halotan dan metoksifluran, yang paling
ringan pada eter.

Merusak hati, oleh karena udah tidak digunakan lagi seperti senyawa klor
(kloroform).

Merusa ginjal, khususnya metoksifluran.

Penggolongan

Menggunakan penggunaannya anetetika sistemik dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :

a) Anestetika injeksi, contohnya diazepam, barbital ultra short acting (tiopental dan
heksibarbital), dll.

b) Anestetika inhalasi, dierikan sebaai uap melalui saluran pernafasan. Contohnya eter
dan lain - lain.

Teknik Pemberian

Pemberian anestetika inhalasi dibagi menjadi 3, yaitu :

1. Sistem terbuka, yaitu dengan peneteesan lansung keatas kain yang menutupimulut
atau hidung penderita, contohnya eter dan trikloretilen.

2. Sistem tertutup, yaitu dengan menggunakan alat khusus yang menyaurkan camputan
gas dengan oksigen dimana sejumlah CO2+ yang dikeluarkan dimasukan kembai
(bertujuan memperdalam perafasan dan mecegh berhentinya pernfasan atau apnoe
yang dapat tejadi bila diberikan dengn sistem terbuka). karena pengawasan
penggunaan anestetika lebh teliti maka cara ini banyak disukai, contohnya
siklopropan, N2O dan halotan.

3. Insuflasi gas, yaitu uap atau gas ditiupkan kedalam mulut, batang tenggorokan atau
trachea dengan memakai alat khusus seperti pada operasi amandel.

B. Obat yang berefek non-sistemik ( lokal )

Merupakan obat yang mempunyai pengaruh pada tubuh bersifat lokal atau pada
daerah yang diberikan obat. Contoh obat ini adalah obat yang bersifat anestesi lokal
ataupun transdermal.

Berbagai produk obat yang bersifat lokal dibuat bertujuan untuk menghilangkan
segala sensasi yang tidak menyakitkan pada bagian yang spesifik ditubuh. Beberapa

53
contoh dari produk tersebut bersifat anastetik ataupun obat-obat yang dberikan secara
transdermal. Istilah Anestetika lokal dikemukakan pertama kali oleh O. W Holmes yang
artinya tidak ada rasa sakit. Anestetika dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

Anestetika umum yaitu rasa sakit hilang disertai dengan kehilangan kesadaran.

Anestetika lokal menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran.

Anestetik lokal ialah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong
natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang
saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari
saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh
kerusakan struktur saraf. (Sari, 2009) Obat ini dapat menyebabkan hilangnya sensasi
panas, dingin, sentuh, dan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran umum.

Anastetik lokal atau yang dikenal dengan zat penghilang rasa setempat adalah obat
yang pada penggunaan lokal merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf ke SSP
dan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau
dingin.

Rute pemberian anestetika lokal berhubungan erat dengan efek anestesi local yang
dihasilkan. Sebagai contoh anestetika lokal yang diberikan pada permukaan tubuh
(topikal) dapat mencapai ujung saraf sensoris dan bekerja menghambat penghantaran
impuls nyeri pada serabut saraf tersebut, sehingga terjadilah anestesia permukaan.
Anestetika local juga dapat diberikan secara injeksi ke dalam jaringan sehingga
menyebabkan hilangnya sensasi pada struktur disekitarnya. Efek yang dihasilkan disebut
anestesia infiltrasi. Salah satu obat anestetika local yang digunakan adalah lidokain. Pada
percobaan akan diamati efek anesthesia permukaan dari obat tersebut dengan metode
yang sederhana.

Anastetika pertama adalah kokain, yaitu suatu alkaloid yang diperoleh dari tanaman
Erythroxylon coca yang dapat memberikan rasa nyaman dan mempertinggi daya tahan
tubuh. Pada awalnya di dunia kedokteran digunakan untuk menghilangkan nyeri
setempat oleh kedokteran gigi dan mata. Karena kemampuannya untuk merintangi
transmisi kebatang otak kemudian di pakai sebagai anestesi blokade saraf pada
pembedahan maupun dalam anestesi spinal/umum. Barulah kemudian dibuat anestesi
lokal sintesis seperti prokain dan derivatnya seperti lidokain, prilokain dan bupivikain.

Penggunaan
54
Anesetika lokal umumnya digunkan secara parenteral misalnya pembedahan kecil
dimana pemakaian anestetika umum tidak dibutuhkan. Anestetika lokal dibagi menjadi 3,
yaitu :

1. Anestetika permukaan, digunakan secara lokal untuk melawan rasa nyeri dan gatal,
mislnya larutan atau tabet hisap untuk menghilangkan rasa yeri di mulut atau leher,
tetes mata untuk mengukur tekanan okuler mata atau mengeluakan benda asing di
mata, salep untuk menghilagkan rasa nyeri akibat luka bakar dan suppositoria untuk
oenderit ambeien atau wasir.

2. Anestetika filtrasi, yaitu suntikan yang diberikan ditempat yang dibius ujung-ujung
sarafnya, misalnya pada daerah kulit dan gusi (pencabutan gigi).

3. Anestetika blok atau penaluran saraf, yaitu dengan penyuntikan disuatu tempat
dimana banyak saraf terkumpul sehingga mencapai daerah aestesi yang luas,
misalnya pda pergelangan tangan atau kaki.

Obat - obat anestetika lokal umumnya yang dipakai adalah garam kloridanya yang
mudah larut dalam air. Untuk memperpanjang daya kerjanya ditambahkan suatu
vaskontriktor yang dapat menciutkan pembuluh darah sehingga absorpsi akan
diperlambat, toksisitas berkurang, mula kerja dipercepat dengan khasiat yang lebih
ampuh dan lokasi pembedahaan praktis tidak berdarah, contohnya adrenalin. Tetapi
kombinasi ini tidak boleh digunakan pada jari - jari tangan karena dapat menyebabkan
gangrein (jaringan mati).

Persyaratan Anestetika lokal :

a) Tidak merangsang jaringan

b) Tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan saraf sentral.

c) Toksisitas sistemik rendah.

d) Efektif pada penyuntikan dan penggunaan lokal.

e) Mulai kerjanya sesingkat mungkin untuk jangka waktu cukup lama.

f) Larut dalam air dengan menghasikanlarutan yang stabil dan tahan pemanasan
(proses sterilisasi).

Penggolongan

Secara kimiawi anestetika lokal dibagi 3 kelompok, yaitu :

55
Senyawa ester, contohnya prokain, benzokain, buvakain, tetrakain dan
oksibuprokain.

Senyawa amida, contohnya lidokain, prilokain,mepivikain, bupivikain, cinchokain,


dll.

Serba - serbi, contohnya jokain dan benzilalkohol.

Selain kokain, semua obat tersebut dibuat secara sintetis.

Selain anastesi, obat-obat yang digunakan melalui transdermal pun mayoritas


menggunakan prinsip efek lokal yang hanya mengobati atau mencegah rasa yang tidak
nyaman pada bagian yang diolesi atau ditempelkan obat.

Transdermal merupakan salah satu cara administrasi obat dengan bentuk sediaan
farmasi atau obat berupa krim, gel atau patch ( koyo ) yang digunakan pada permukaan
kulit, namun mampu meghantarkan obat masuk kedalam tubuh melalui kulit (
trans=lewat, dermal=kulit ).

Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan cedera tepat pada bahan itu bersentuhan
dengan tubuh. Efek lokal ini dapat diakibatkan dengan senyawa-senyawa kaustik,
misalnya pada saluran pencernaan, bahan korosif pada kulit, serta iritasi gas atau uap
pada saluran nafas. Efek lokal ini menggambarkan kerusakan umum pada sel-sel hidup.

VI. Bahan/alat/hewan coba


Bahan : untuk efek
1. menggugurkan bulu = kuitikus
2. Korosif = usus dan kulitikus
3. Fenol dalam berbagai pelarut = jari jari tangan
4. Astringen = mukosa mulut
Alat

1. Alat-alat bedah

2. Batang pengaduk

3. Kertas saring

4. Beaker glass

5. Pipet tetes

56
Obat

Untuk efek Obat


Menggurkan bulu Larutan natrium hidroksida 20% ; larutan natrium
sulfida 20% ; veet cream ( dae healt lab.Ltd.,
London, England ) lainnya;
Korosif Larutan raksa ( II ) klorida 5% ; larutan fenol 5% ;
larutan natrium hidroksida 10% ; asam sulfat pekat
; asam klorida pekat ; tingtura iod ; arutan perak
nitrat 1% .
Fenol dalam berbagai pelarut Larutan fenol 5% dalam air ; larutan fenol 5%
dalam etanol ; larutan fenol 5% dalam gliserin 25%
; larutan fenol 5% dalam minyak lemak.
Astringen Larutan tanin 1%

VII. Cara kerja


1. Efek Menggugurkan Bulu
a. Tikus terlebih dahulu dikorbankan, alu iambil kulitnya kemudian kulit
dibuat potongan masing-masing 2,5 x 2,5cm dan diletakan diatas kertas saring.
b. Keatas potongan-potongan ulit ini ditetean larutan-larutan obat yang digunakan
(veet cream cukup dioleskan)
c. Setelah beberapa menit, dengan batang pengaduk, apakah ada bulu yang gugur
2. Efek Korosif
a. Tikus yang sudah dikorabankan , ususnya diambil, dipotong-potong sepanjang
5cm, letakan diatas kertas saring yang lembab, kemudian diteteskan cairan-cairan
obat.
b. Setelh 15 menit , cairan yang berlebihan pada potongan usus diserap dengan kertas
saring.
c. Potongan-potongan kulit tikus yang sudah diambil, direndam selama 15 menit
dalam cairan-cairan obat.
d. Ptotongan-potongan kulit tersebut kemudian dibilas dengan air dan cairan yang
berlebihan diserap dengan kertas saring
3. Efek lokal Fenol dalam berbagai Pelarut
a. Beaker glass telah disiapkan diisi dengan larutan-larutan fenol.
b. Serentak dicelupkan 4 jari tangan sellama 5 menit, kedalam wadah kaca tersebut.
c. Bila jari terasa nyeri sebelum 5 menit, segera jari diangkat dan dibilas dengan
etanol.

57
4. Efek Astringen
Mulut dibias atau dikumur dengan arutan tanin 1%.
VIII. Hasil pengamatan
1. Efek Menggugurkan Bulu

Percobaan Bahan Larutan obat Efek yang diamati


percobaan diberikan Bau awal Kaustik atau Efek lain
pada kulit gugur bulu
(menit)
Gugur Kulit tikus Veet cream Menyeng 2:20 Kulit menjadi
bulu at lembek dan
warna tetap
K2S 20% menyeng 3:40 Warna kulit agak
at pucat

2. Efek Korosif

Percobaan Bahan Larutan Obat Pengamatan


Percobaan diberikan pada Sifat Korosif Kerusakan pada
Usus jaringan
Korosif Usus tikus Larutan raksa Korosif 17:05 menit usus
(II) klorida 5% mengembung lalu
(HgCl2) robek
Larutan fenol Korosif 15 menit usus
5% mengembang

3. efek lokal fenol dalam berbagai pelarut

Percobaan Bahan Jari tangan Pengamatan


Percobaan dicelupkan pada Rasa sensai jar tangan timbul menit
beker gelas yang ( misalnya, rasa tebal, dingin,panas, dsb
telah diisi )
Fenol dalam Jari tangan Larutan fenol Waktu 3 menit mulai terasa panas,
berbagai 5% dalam air kebas dan pucat.
pelarut
Larutan fenol Waktu 3:28 detik terasa kebas dan
5% dalam etanol dingin .
Larutan fenol Waktu 3:16 detik terasa panas dan
5% dalam kebas.
gliserin 25%
Larukan fenol Waktu 1:10 detik teras panas dan dlam
5% dalam waktu 03:02 menit terasa licin, dan
minyak lemak halus terasa seperti sabun

58
4. efek astringen

Percobaan Bahan Larutan obat Pengamatan


percobaan dikumur pada
mulut
Efek Mulut untuk Tanin 1% Kebas, mulut kering, dan lengkat,
astringen kumur

IX. Pembahasan
Tikus yang digunakan dalam praktikum dilakukan pengorbanan terlebih dahulu.
pengorbanan dapat dilakukan dengan cara anastesi lokal maupun dengan cara dislokasi
lokal. Anastesi lokal dilakukan dengan cara memasukkan tikus kedalam toples yang telah
dijenuhkan dengan larutan eter dan tertutup, tunggu hingga tikus dalam keadaan mati.
Selain anastesi lokal, dislokasi lokal juga dapat digunakan dengan cara
memisahkan/menghambat pengaliran darah ke otak dengan merenggangkan bagian-bagian
tulang belakang dari tikus.
Tikus yang sudah dikorbankan kemudian dikuliti (ambil kulitnya) sesuai dengan
keperluan, baik dari segi jumlah maupun ukurannya. Selain kulit, bagian usus dari tikus
juga digunakan dengan cara membelah usus tikus dan membersihkan dari sisa kotoran
yang ada di usus.
Kulit dan usus yang sudah ada tadi di letakkan diatas kertas saring dan mulailah
dengan pengujian yang sudah ditentukan.
Pada pengujian efek menggugurkan bulu, semua kelompok menghasilkan hasil
yang sama yakni hasil uji menunjukkan adanya kerontokan bulu setelah diberikan larutan
natrium hidroksida 20%. Hal ini terjadi karena garam natrium hidroksida bekerja dengan
cara memecah ikatan S-S pada keratin kulit, sehingga bulu akan rusak dan mudah gugur.
Pada pengujian efek korosif, beberapa hasil yang dapat diamati adalah:

HgCl2 pada usus akan menyebabkan usus menjadi memutih (pucat) dan menipis.

Fenol 5% pada usus tidak menyebabkan efek yang begitu berarti.

X. Kesimpulan
1. Obat yang berefek non-sistemik (lokal) merupakan obat yang mempunyai pengaruh
pada tubuh bersifat lokal atau pada daerah yang diberikan obat. Contoh obat ini
adalah obat-obat yang bersifat anestesi lokal ataupun transdermal.

59
2. Beberapa efek dari obat lokal yang dapat ditemui adalah menggugurkan bulu, korosif,
dan astringen.
3. Tingkat pengguguran bulu tergantung kepada kadar dan jenis dari larutan yang
digunakan
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : DEPKES RI.
- Guyton, A.C & Hall, J. E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
- Riyanti, Sri. dkk. 2010. Buku Ajar Farmakologi ed ke lima. Jakarta.

60
8. ANESTESI PERMUKAAN

61
I. Judul percobaan : Anestesi permukaan
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 24 Juli 2016, Pukul : 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
1. Mengenal teknik anestesi untuk menyebabkan anestesi lokal pada beberapa hewan
coba.
2. Memahami farmakokinetik obat anastesi lokal yang diberikan secara topikal pada
mukosa mata.
IV. Prinsip percobaan
Anastetika lokal ialah obat yang mnghambat konduksi saraf bila dikenakan secara
lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Termasuk dalam golongan anastetika lokal
seperti kokain dan ester ester asam para amino benzoate (PABA), contoh prokain dan
lidokain. Asastesi lokal permukaan tercapai ketika anastetika lokal ditempatkan didaerah
yang ingin dianastesi. Anastetika lokal diberikan dengan berbagai teknik pemberian,
seperti; anastesi permukaan, anastesi spinal, anastesi mukosa.
V. Teori dasar
Anastesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunanian- tidak, tanpa dan aesthtos,
persepsi, kemampuan untuk merasa), secara umum berarti suatu tindakan yang
menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya
yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anastesi digunakan pertama kali oleh
Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
Anastesi lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal
pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Kerja ini dapat digunakan secara klinis untuk
mengurangi rasa sakit dari atau impuls vasokonstriktor simpati menuju daerah tubuh
tertentu.
Anestesi lokal merupakan penetrasi kedalam akson dalam bentuk basa larut lemak yang
bebas. Didalam akson berbentuk molekul berproton, yang kemudian memasuki dan
menyumbat kanal Na+ setelah terikat padareseptor (residu dari heliks transmembran S6)
dengan demikian, anestetik lokal kuaterner (berproton lengkap) hanya bekerja bila
disuntikan ke dalam akson saraf. Obat yang tidak bermuatan (misalnya benzokain) larut
dalam membran tetapi kanal di blok dengan hukum all-or-none (semua atau tidak sama
sekali). Jadi, pada prinsipnya molekul-molekul yang terionisasi dan tidak terionisasi
bekerja dengan cara yang sama (yaitu terikata pada reseptor di kanal Na+). Hal ini
memblok kanal kebanyak dengan mencegah terbukanya gerbang h ( yaitu dengan

62
meningkatkan inaktivasi). Kadang-kadang begitu banyak kanal terinaktivasi sehingga
jumlahnya berada dibawah jumlah minimal yang diperlukan agar depolarisasi mencapa
ambang batas, dan karena aksi tidak dapat dibangkitkan maka terjadi blok saraf. Anestetik
lokal bersifat tergantung pemakaian (use dependent) (artinya derajat blok proposional
terhadap stimulasi saraf). Hal ini menunjukkan bahwa makin banyak molekul obat ( dalam
bentuk terprotonisasi) memasuki kanal Na+ ketika kanal-kanal terbuka dan menyebabkan
lebih banyak terinaktivasi.
Secara kimiawi bahan anestetikum lokal dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan,
yaitu : 12,13,15,16
A. Golongan Ester (-COO-)
1. Prokain
2. Tetrakain
3. Kokain
4. Benzokain
5. Kloroprokain
B. Golongan Amida (-NHCO-)
1. Lidokain
2. Mepivakain
3. Bupivacaine
4. Prilokain
5. Artikain
6. Dibukain
7. Ropivakain
8. Etidokain
9. Levobupivakain

Perbedaan klinis yang signifikan antara golongan ester dan golongan amida adalah ikatan
kimiawi golongan ester lebih mudah rusak dibandingkan ikatan kimiawi golongan amida
sehingga golongan ester kurang stabil dalam larutan dan tidak dapat disimpan lama. Bahan
anestetikum golongan amida stabil terhadap panas, oleh karena itu bahan golongan amida
dapat dimasukkan kedalam autoklaf, sedangkan golongan ester tidak bisa. Hasil
metabolisme golongan ester dapat memproduksi para-aminobenzoate (PABA), yaitu zat
yang dapat memicu reaksi alergi, sehingga golongan ester dapat menimbulkan fenomena

63
alergi. Hal inilah yang menjadi alasan bahan anestetikum golongan amida lebih sering
digunakan daripada golongan ester.

Dalam praktikum ini digunakan anastetik lokal Tetrakain (Pantokain)

1. Tetrakain
Tetrakain (Pontocaine) adalah obat anestesi lokal yang biasanya digunakan
sebagai obat untuk diagnosis atau terapi pembedahan.Akan tetapi, penelitian pada
hewan menunjukkan efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau
lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada
wanita dan hewan belum tersedia.Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan
potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin.Selain itu,
Tetrakain yang potensiasinya lebih tinggi dibandingkan dengan dua obat anestesi local
golongan ester lainnya ini memiliki efek samping berupa rasa seperti tersengat.Namun,
efek ini tidak membuat Tetrakain jarang digunakan, hal ini karena salah satu
kelebihannya adalah tidak menyebabkan midriasis. Tetrakain biasanya digunakan
untuk anestesi pada pembedahan mata, telinga, hidung, tenggorok, rectum, dan dan
kulit.7,8 Berkhasiat 10 kali lebih kuat daripada prokain, tapi juga 10 kali lebih toksik
daripada prokain. Lebih disukai digunakan sebagai anestesi permukaan.Dosis tunggal
maksimum sebesar 20 mg. Sangat cepat diabsorpsi dari membran mukosa yang
terluka, sehingga terdapat bahaya keracunan absorpsi.
Salah satu anastetik lokal yang dapat digunakan secara topikal pada mata
adalah Tetrakain Hidroklorida.

Dosis

Untuk Pemakaian topikal pada mata digunakan larutan Tetrakain Hidroklorida 0,5%.
Kecepatan anastetik Tetrakain Hidroklorida 25 detik dengan durasi aksinya selama 15
menit atau lebih.

2. Lidocaine
Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat ( potensi bagus ) yang
digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesia terjadi lebih
cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh
prokain.Pada konsentrasi yang sebanding.Lidokain merupakan aminoetilamid dan
merupakan prototip dari anestetik lokal golongan amida. Larutan lidokain 0,5%

64
digunakan untuk anestesia infiltrasi, sedangkan larutan 1,0-2% untuk anestesia blok
dan topikal.
Anestetik ini efektif bila digunakan tanpa vaso-konstriktor, tetapi kecepatan
absorpsi dan toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek.Lidokain
merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap anestetik lokal
golongan ester.Lidokain dapat menimbulkan kantuk. Sediaan berupa larutan 0,5-5%
dengan atau tanpa epinefrin (1: 50.000 sampai 1 : 200.000). Setelah disuntikkan, obat
dengan cepat akan dihidrolisis dalam jaringan tubuh pada pH 7,4-4 5.
Indikasi
Lidokain sering digunakan secara suntikan untuk anestesia infiltrasi, blokade
saraf, anestesia spinal, anestesia epidural ataupun anestesia kaudal, dan secara
setempat untuk anestesia selaput lendir. Pada anestesia infiltrasi biasanya digunakan
larutan 0,25-0,50% dengan atau tanpa epinefrin. Tanpa epinefrin dosis total tidak
boleh melebihi 200 mg dalam waktu 24 jam, dan dengan epinefrin tidak boleh
melebihi 500 mg untuk jangka waktu yang sama.
Dalam bidang kedokteran gigi, biasanya digunakan larutan 1-2% dengan epinefrin;
untuk anestesia infiltrasi dengan mula kerja 5 menit dan masa kerja kira-kira 1 jam
dibutuhkan dosis 0,5-1,0 mL. Untuk blokade saraf digunakan 1-2 mL
Efek Samping
Efek samping lildokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP,
misalnya mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental, koma, dan
bangkitan.Mungkin sekali metabolit lidokain yaitu monoetilglisin xilidid dan glisin
xilidid ikut berperan dalam timbulnya efek samping ini.Lidokain dosis berlebihan
dapat menyebabkan kematian akibat fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung.
Dosis
Konsentrasi efektif minimal 0,25%
Infiltrasi, mula kerja 10 menit, relaksasi otot cukup baik
Kerja sekitar 1-1,5 jam tergantung konsentrasi larutan.
Larutan standar 1 atau 1,5% untuk blok perifer
0,25-0,5% + adrenalin 200.000 untuk infiltrasi
0,5% untuk blok sensorik tanpa blok motorik
1% untuk blok motorik dan sensorik
2% untuk blok motorik pasien berotot (muscular)
4% atau 10% untuk topical semprot faring-laring (pump spray)

65
5% bentuk jeli untuk dioleskan di pipa trakea
5% lidokain dicampur 5% prilokain untuk topical kulit
5% hiperbarik untuk analgesia intratekal (subaraknoid, subdural)
VI. Bahan/alat/hewan coba

Alat : Gunting, Pipet Tetes, Spuit 1cc Terumo, Aplikator (bulu mata
kelinci)

Bahan : Pantocain 2% Eye Drop, Lidocain 2% Inj

Hewan coba : 1 ekor kelinci dewasa

VII. Cara kerja


1. Gunting bulu mata kelinci (sebagai aplikator)
2. Teteskan ke dalam kantung konjungtiva larutan anastesi lokal lidokain 2% 0,5 ml
pada mata kanan dan Pantocain 2% 0,5 ml pada mata kiri
3. Tutup masing-masing kelopak mata selama 1 menit
4. Catat ada atau tidaknya reflek mata setiap 5 menit, dengan menggunakan
aplikator(bulu mata kelinci) tiap kali pada permukaan kornea.
VIII. Hasil pengamatan

Hewan Mata Obat Pengamatan pada reflek mata pada waktu ( menit)

Diteteskan
0 5 10 15 20 25 30 35 40

Kelinci kanan Lidocain + + + - - - - (-) kelopak +


2% 0,5 ml gerak

Kelinci kiri Pantocain + - - - - - - (-) kelopak +


2% 0,5 ml gerak

Keterangan :

(+) respons berkedip

(-) tidak ada respon ( tidak berkedip )

66
IX. Pembahasan
Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat
yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan
kadar yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf.
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan anastesi permukaan dengan
menggunakan obat anastetik lokal yaitu lidocain 2% dan pantocain 2%, hasil yang
diperoleh yaitu kerja pantocain lebih cepat dari pada lidocain sebab pada menit ke 5 mata
kelinci sudah tidak lagi merespon rangsangan karena efek anestesi obat sudah mulai
bekerja, sedangkan pada lidocain obat mulai berkerja pada menit ke 15. Selain itu lama
kerja obat pantocain lebih lama dari pada lidocain, dan efek obat pada hewan coba sama-
sama berakhir pada menit ke 40 dimana mata kelinci kembali merespon rangsangan
dengan mengedipkan matanya.
X. Kesimpulan
Pada dasarnya, anestesi terbagi dua menjadi anestesi lokal dan anestesi umum.
Akan tetapi, anestesi lokal lebih sering digunakan karena memiliki tingkat keselamatan
yang lebih tinggi daripada anestesi umum. Anestetik lokal ialah obat yang menghambat
hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat
ini bekerja pada tiap bagian susunan saraf.
Salah satu contoh obat anestesi lokal yang sering digunakan adalah lidokain.
Lidokain diberikan secara suntikan dan cepat diabsorbsi oleh saluran pernapasan maupun
saluran cerna. Dan sebagaimana obat yang memiliki kandungan zat kimia, lidokain pun
tak lepas dari efek samping, yang di antaranya adalah mengantuk, pusing, parestesia,
kedutan otot, gangguan mental, dan koma
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

- Dardjat M T, editor. Obat Anestetik Lokal. Dalam: Kumpulan Kuliah Anestesiologi.


Jakarta: Aksara Medisina;1986.

67
9. EFEK ANESTESI LOKAL DENGAN
METODE REGNIER

68
I. Judul percobaan : Efek anestesi lokal dengan metode regnier
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 24 Juli 2016, Pukul : 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
1. Mengenal teknik pemberian obat anestesi lokal pada hewan percobaan
2. Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam sifat dan potensi
anestetika local

3. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anastetika lokal

4. Menghubungkan potensi kerja anastetika lokal dengan manifestasi gejala toksisitasnya


serta pendekatan rasional untuk mengatasi toksisitas anastetika.

IV. Prinsip percobaan


Anastetika lokal ialah obat yang menghambat konduksi saraf bila dikenakan secara
lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Termasuk dalam golongan anastetika lokal
seperti kokain dan ester ester asam para amino benzoate (PABA), contoh prokain dan
lidokain. Asastesi lokal permukaan tercapai ketika anastetika lokal ditempatkan didaerah
yang ingin dianastesi. Anastetika lokal diberikan dengan berbagai teknik pemberian,
seperti; anastesi permukaan, anastesi spinal, anastesi mukosa.
Mata normal bila di sentuh pada kornea akan memberikan respon refleks okuler
(mata berkedip) apabila mata di teteskan anestesi lokal, refleks okuler timbul setelah
beberapa kali kornea disentuh, sebanding dengan kekuatan kerja anestesi dan besarnya
sentuhan yang diberikan. Tidak adanya refleks okuler setelah kornea disentuh 100 kali
dianggap sebagai tanda adanya anestesi total
V. Teori dasar
Menurut cara pemakaian anestesi lokal dibedakan menjadi:
1. Anestesi permukaan.
Anestetika local digunakan pada mukosa atau permukaan luka dan berdifusi ke organ
akhir sensorik dan ke percabangan saraf terminal. Pada epidermis yang utuh (tidak
terluka) maka anestetika local hampir tidak bekhasiat karena tidak mampu menembus
lapisan tanduk.
2. Anestesi Infiltrasi.
Anestetika local disuntikkan ke dalam jaringan, termasuk juga diisikan ke dalam
jaringan. Dengan demikian selain organ ujung sensorik, juga batang-batang saraf kecil
dihambat.
3. Anestesi Konduksi

69
Anestetika local disuntikkan di sekitar saraf tertentu yang dituju dan hantaran rangsang
pada tempat ini diblok. Bentuk khusus dari anestesi konduksi ini adalah anestesi
spinal, anestesi peridural, dan anestesi paravertebral.
4. Anestesi Regional Intravena dalam daerah anggota badan
Sebelum penyuntikan anestetika lokal, aliran darah ke dalam dan ke luar dihentikan
dengan mengikat dengan ban pengukur tekanan darah dan selanjutnya anestetika local
yang disuntikkan berdifusi ke luar dari vena dan menuju ke jaringan di sekitarnya dan
dalam waktu 10-15 menit menimbulkan anestesi.
Salah satu obat anastetika local dari golongan amida. Lidokain terdiri dari satu
gugus lipofilik (biasanya merupakan suatu cincin aromatik) yang dihubungkan suatu
rantai perantara (jenis amid) dengan suatu gugus yang mudah mengion (amin tersier).
Dalam penerapan terapeutik, mereka umumnya disediakan dalam bentuk garam agar
lebih mudah larut dan stabil. Didalam tubuh mereka biasanya dalam bentuk basa tak
bermuatan atau sebagai suatu kation. Perbandingan relative dari dua bentuk ini
ditentukan oleh harga pKa nya dan pH cairan tubuh, sesuai dengan persamaan
Henderson-Hasselbalch.3
Lidokain merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap
prokain dan juga epinefrin. Biasanya Lidokain digunakan untuk anestesi permukaan
dalam bentuk salep, krim dan gel. Efek samping Lidokain biasanya berkaitan dengan
efeknya terhadap SSP misalnya kantuk, pusing, paraestesia, gangguan mental, koma,
dan seizure.

Cara Kerja obat anestesi

Isyarat dalam serabut saraf dihantarkan melalui impuls listrik yang terbentuk pada
awalnya di setiap membran sel syaraf. Setiap membran sel syaraf ( demikian juga semua
membran sel tubuh lainnya ) mempunyai potensial listrik sebesar -90 mV pada keadaan
istirahat. Potensial listrik ini terbentuk karena adanya perbedaan konsentrasi ion natrium di
dalam dan di luar membran sel, dimana konsentrasi di luar membran ( 142 mEq/L) lebih
besar daripada di dalam membran sel ( 14 mEq/L), sementara konsentrasi anionnya sama (
150 mEq/L). Keadaan ini menyebabkan suasana di dalam membran sel lebih negatif
ketimbang di luar. Pada saat timbulnya rangsangan terhadap sel syaraf ( baik rangsangan
kimia, fisik maupun listrik ) membran sel menjadi lebih permeabel terhadap ion natrium
sehingga terjadi aliran ion natrium dari luar ke dalam sel melalui kanal natrium. Hal ini
menimbulkan situasi dimana konsentrasi ion natrium di dalam membran sekarang menjadi

70
lebih besar ketimbang di luar membran sel dan menyebabkan potensial listrik berubah dari
-90mV menjadi +45mV. Perubahan ini disebut dengan peristiwa depolarisasi. Impuls
listrik inilah yang nantinya menghantarkan isyarat sepanjang serabut syaraf.

Obat anestetik lokal berikatan dengan reseptor khusus di kanal natrium sehingga
menimbulkan blokade yang mencegah aliran natrium. Hal ini lebih lanjut mencegah
terjadinya perubahan potensial listrik yang artinya juga mencegah timbulnya impuls listrik
sehingga hantaran isyarat tidak terjadi.

Sifat ideal yang diinginkan dari sebuah obat anestesik lokal :

1. Tidak mengiritasi
2. Tidak merusak jaringan saraf secara permanen.
3. Batas keamanan harus lebar
4. Mula kerja harus sesingkat mungkin, masa kerja harus cukup lama
5. Harus larut dalam air stabil dalam larutan
6. Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan.

Keuntungan dan kerugian

KEUNTUNGAN :
- Kesadaran (+)
- Gangguan fisiologis rendah
- Angka morbiditas rendah
- Penderita bisa pulang sendiri
- Relatif mudah
- Tidak perlu tenaga tambahan
- Biaya relatif kecil
- Tidak perlu puasa
KERUGIAN :
- Tidak dapat digunakan pada:
- penderita dengan rasa takut tinggi
- Penderita yang tidak kooperatif (anak-anak, retardasi mental)
- Jaringan yang mengalami peradangan akut
- Penderita pecandu alcohol
- Prosedur pembedahan yang luas

71
VII. Bahan/alat/hewan coba
Obat yang diberikan : Lidokain 2% dan Pantocain 2%
Hewan coba : 1 ekor kelinci dewasa
Alat yang digunakan : bulu mata kelinci untuk menyentuh kornea mata

VII. Cara kerja


1. Kelinci ditempatkan ke dalam kotak 1 jam sebelum percobaan dimulai. Gunting bulu
matanya, kemudian periksa reflex normal dari ke dua kornea dengan sentuhan misail
secara tegak lurus.
2. Pada waktu t=0, teteskan 0,1 ml larutan obat yang akan diuji ke dalam mata kelinci,
percobaan ini diulangi setelah 1 menit (gunakan stopwatch).

3. Pada menit ke 8, dengan bantuan misai diperiksa reflex mata, yaitu dengan menyentuh
misai tegak lurus dibagian tengah kornea sebanyak 100 kali dengan kecepatan yang
sama. Jangan terlalu keras menyentuhnya dan ritme harus diatur. Apabila sampai 100x
tidak ada reflex (kelopak mata tertutup) maka dicatat angka 100 untuk respon negative.
Tetapi jika sebelum 100 kali sudah ada reflex, maka yang dicatat adalah respon
negative sebelum mencapai angka 100.

4. Perlakuan yang sama diulang pada menit-menit ke : 15, 20, 25, 30, 40,50, dan 60. Jika
sebelum menit-menit yang ke 60 pada sentuhan pertama sudah ada reflex, maka menit-
menit yang tersisa diberi angka satu.

5. Setelah percobaan di atas mata sebelahnya diperlakukan seperti no. 4, tetapi hanya
diteteskan larutan fisiologis.

6. Jumlah respon negative dimuat dalam sebuah tabel dan dimulai dari menit ke 8,
jumlah tersebut menunjukan angka regnier minimal angka 13.

7. Hitung / jumlahkan untuk waktu-waktu tertentu semua respon negative. Apabila pada
sekali sentuhan terjadi reflex kornea, maka angka yang dicatat adalah 1. Hitung angka
rata-rata yang diberikan untuk masing-masing larutanyang diperoleh pada 8 kali
permeriksaan reflex kornea.

72
VIII. Hasil pengamatan
Jumlah sentuhan member reflex berkedip pada mata di menit ke...
Hewan Mata
0 8 15 20 25 30 40 50 60

Kanan - 25 16 14 12 9 8 1 1
Kelinci
(lidocain 2%)
Kiri - 20 15 13 10 7 1 1 1
Kelinci
(Tetracain 2%)

IX. Pembahasan
Anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang menghambat
hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup.
Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf.
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan anastesi permukaan dengan
menggunakan obat anastetik lokal yaitu lidocain 2%, pantocain 2% dan kelinci sebagai
hewan ujinya. Obat diteteskan kedalam kantong kunjungtiva, larutan anastetika lokal
lidokain 0,5ml pada mata kanan dan larutan pantocain 2% pada mata kiri. Hasil
pengamatan sebagai berikut

Mata kanan :

Pada saat menit ke 8 mata kelinci menunjukkan reflex berkedip saat sentuhan ke
25
Pada saat menit ke 15 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke
16

Pada saat menit ke 20 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke
14

Pada saat menit ke 25 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke
12

Pada saat menit ke 30 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke 9

Pada saat menit ke 40 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke 8

Pada saat menit ke 50 dan 60 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat
sentuhan ke 1

Ini membuktikan efek lidokain 2% sudah habis pada menit ke 50

73
Mata kiri :
Pada saat menit ke 8 mata kelinci menunjukkan reflex berkedip saat sentuhan ke
20
Pada saat menit ke 15 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke
15

Pada saat menit ke 20 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke
13

Pada saat menit ke 25 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke
10

Pada saat menit ke 30 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat sentuhan ke 7

Pada saat menit ke 40, 50 dan 60 mata kelinci menunjukan reflex berkedip saat
sentuhan ke 1

Ini membuktikan pantocain 2% sudah habis pada menit ke 40


Dari hasil percobaan dapat kita buktikan bahwa lidocain dan tetracain mempunyai efek
anestesi lokal paada mata kelinci, hal ini dapat kita liat dari bagaimana reflex kornea mata
kelinci saat di sentuh dengan menggunakan bulu matanya. Pada percobaan ini kerja
lidocain lebih cepat dari pada tetracain.
X. Kesimpulan

Anastetika lokal ialah obat yang menghambat konduksi saraf bila dikenakan
secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Hasil dari percobaan yang kami
lakukan dapat disimpulkan bahwa Lidocain 2% dan pantocain 2% merupakan obat
anastetik lokal yang dapat menghambat konduksi pada saraf mata. Lidocain 2%
mempunyai efek anastetik lokal yang daya kerjanya lebih kuat di bandingkan dengan
pantocain 2 %.

XI. Daftar pustaka


- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

74
10. ANESTESI KONDUKSI

75
I. Judul percobaan : Anestesi konduksi
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 24 Juli 2016, Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
1. Mengenal tiga teknik untuk mencapai anestetika lokal pada berbagai hewan
percobaan
2. Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam sifat dan
potensi anestetika local
3. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anestetika local
4. Dapat mengkaitkan daya kerja anestetika lokal dengan menifestasi gejala keracunan
serta pendekatan rasional untuk mengatasi keracunan
IV. Prinsip percobaan
Anastetika Konduksi adalah Anestetika local yang disuntikkan di sekitar saraf
tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan.
V. Teori dasar
Kontrol nyeri sangat penting dalam praktek operasi kedokteran gigi. Kontrol nyeri
yang baik akan membantu operator dalam melakukan operasi dengan hati-hati, tidak
terburu-buru, tidak menjadi pengalaman operasi yang buruk bagi pasien dan dokter bedah.
Sebagai tambahan pasien yang tenang akan sangat mambantu bagi seorang dokter gigi.
Operasi dentoalveolar dan prosedur operasi gigi minor lainnya yang dilakukan pada pasien
rawat jalan sangat tergantung pada anestesi lokal yang baik.
Menurut istilah, anestesi local (anestesi regional) adalah hilangnya rasa sakit pada
bagian tubuh tertentu tanpa disertai dengan hilangnya kesadaran. Anestesi local
merupakan aplikasi atau injeksi obat anestesi pada daerah spesifik tubuh, kebalikan dari
anestesi umum yang meliputi seluruh tubuh dan otak. Local anestesi memblok secara
reversible pada system konduksi saraf pada daerah tertentu sehingga terjadi kehilangan
sensasi dan aktivitas motorik.
Untuk menghasilkan konduksi anestesi, anestesi local diinjeksikan pada
permukaan tubuh. Anestesi lokal akan berdifusi masuk ke dalam syaraf dan menghambat
serta memperlambat sinyal terhadap rasa nyeri, kontraksi otot, regulasi dari sirkulasi darah
dan fungsi tubuh lainnya. Biasanya obat dengan dosis atau konsentrasi yang tinggi akan
menghambat semua sensasi (nyeri, sentuhan, suhu, dan lain-lain) serta kontrol otot. Dosis
atau konsentrasi akan menghambat sensasi nyeri dengan efek yang minimal pada kekuatan
otot.

76
Anestesi local dapat memblok hampir setiap syaraf antara akhir dari syaraf perifer
dan system syaraf pusat. Teknik perifer yang paling bagus adalah anestesi local pada
permukaan kulit atau tubuh.
Anestesi lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara
lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup obat ini bekerja pada tiap bagian susunan
saraf. Sebagai contoh, bila anestesi lokal dikenakan pada korteks motoris, impuls yang
dialirkan dari daerah tersebut terhenti, dan bila disuntikkan ke dalam kulit, maka transmisi
impuls sensorik dihambat
VI. Bahan/alat/hewan coba
1. Mencit jantan 5 ekor
2. Lidocain 10 mg/ml
3. Tetrakain 20 mg/ml
4. Dissposible 1 cc
5. Phenobarbital
6. Larutan NaCl fisiologis (NaCl 0,9%)
7. Timbangan hewan
8. Pinset
9. Wadah tempat pengamatan
10. Tabung silinder khusus untuk mencit
VII. Cara kerja
1. Semua mencit dicoba dulu respon Haffner (ekor mencit dijepit dan dilihat angkat
ekornya atau mencit bersuara). Dan hanya pilih mencit yang memberi respon
Haffner negatif, artinya hewan mengangkat ekor atau bersuara.
2. Hewan dikelompokkan dan ditimbang, serta diberi tanda.
3. Mencit dimasukkan kedalam silinder, dan hanya ekornya yang dikeluarkan. Jumlah
silinder disesuaikan dengan jumlah mencit dari satu kelompok.
4. Ekor mencit kemudian dijepit 0,5 cm dari pangkal ekor. Manifestasi rasa nyeri
ditunjukkan dengan refleks gerakan tubuh mencit atau dengan suara kesakitan.
Respon dicatat sebagai Haffner negatif.
5. Pada waktu t=0, masing-masing mencit dari kelompok yang sama disuntik.
Kelompok Lidokain dan kelompok Tetrakain di vena ekor . Untuk kelompok
kontrol, hanya disuntik larutan NaCl 0,9%.
6. Setelah waktu t=10 menit, masing-masing mencit diperiksa respon Haffner; dan
selanjutnya dilakukan hal yang sama pada t=15 dan t=20.

77
7. Hasil pengamatan dicatat dan sebuah tabel.

Perhitungan :

Berat badan mencit jantan :


Mencit I = 36 g
Kelompok Lidocain
Mencit II = 37 g
Mencit III = 38 g Kelompok NaCl 0,9%
Mencit IV = 36 g
Kelompok Tetrakain
Mencit V = 37 g

Faktor konversi Manusia ke Mencit : BB mencit 20 g 0,0026

Perhitungan dosis

Lidokain : 10 mg/ml x 0,0026 = 0,026 mg/ml

Tetrakain : 20 mg/ml x 0,0026 = 0,052 mg/ml


36
Perhitungan Mencit I : 20 x 0,026 = 0,0468

0,0468
Volume pemberian : x 1 ml = 0,0047 ml
10

(pengenceran 10x) = 0,047 ~ 0,05 ml


37
Perhitungan Mencit II : 20 x 0,026 = 0,0481

0,0468
Volume pemberian : x 1 ml = 0,0048 ml
10

(pengenceran 10x) = 0,048 ~ 0,05 ml


36
Perhitungan Mencit IV : 20 x 0,052 = 0,094

0,094
Volume pemberian : 20 x 1 ml = 0,0047 ml

(pengenceran 10x) = 0,047 ~ 0,05 ml


37
Perhitungan Mencit V : 20 x 0,052 = 0,0962

0,062
Volume pemberian : 20 x 1 ml = 0,0048 ml

(pengenceran 10x) = 0,048 ~ 0,05 ml

Pengenceran Lidokain : 1 ml Lidokain + 9 ml NaCl 0,9%

78
Pengenceran Tetrakain : 1 ml Tetrakain + 9 ml NaCl 0,9%

VIII. Hasil pengamatan

Respon Haffner sebelum pemberian obat :

Mencit I : bersuara, buntut terangkat sedikit.


Mencit II : buntut terangkat, refleks gerakan tubuh.
Mencit III : buntut terangkat, refleks gerakan tubuh
Mencit IV : buntut terangkat
Mencit V : bersuara, buntut terangkat

Hewan Obat/ kelompok Cara Respon Haffner pada waktu (t=menit)


pemberia 5 10 15 20 40
n
Mencit Lidokain I.V
jantan Mencit I - - - - +
Mencit II + + - - -
NaCl 0,9% I.V
(Mencit III) - - - - -
Tetrakain I.V
Mencit IV + + + + +
Mencit V - - + + +

Keterangan:

(-) : Obat belum berefek

(+) : obat sudah berefek

IX. Pembahasan
Dari percobaan yang telah dilakukan, pemberian obat dilakukan dengan cara
anastesi konduksi yaitu suatu anestesi local yang disuntikkan di tulang belakang dimana
tempat berkumpulnya banyak syaraf, hingga tercapai anestesia dari suatu daerah yang
lebih luas, misalnya lengan atau kakii, juga di gunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat.
Masing-masing tikus disuntikkan denga obat yang berbeda-beda untuk melihat efek
Haffner yang timbul pada waktu tertentu.

Pada mencit I, obat mulai bekerja pada menit ke 40


Pada mencit II, obat mulai bekerja pada menit ke 5
79
Sedangkan mencit III, hanya digunakan sebagai kontrol tanpa diberikan obat anestesi
Pada mencit IV, obat mulai bekerja pada menit ke 5
Pada mencit V obat mulai bekerja pada menit ke 15

Perbedaan mula kerja obat ini di pengaruhi oleh cara penyuntikan yang kurang tepat
sehingga kerja obat pada mencit berbeda-beda walapun dosis yang diberikan sama.
Kesalah yang kami lakukan pada cara penyuntikan di karenakan cara dalam bekerja
masing belum benar terutama dalam teknik/ cara dalam pemberian obat injeksi, selain itu
faktor lingkungan juga mempengaruhi kondisi tingkat strees tikus yang juga
mempengaruhi efek dan lama kerja obat.

X. Kesimpulan
Anestesi konduksi adalah teknik anestetika lokal yang di suntikan di sekitar saraf
tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan. Terdapat
bermacam-macam obat anestesi yang dapat digunakan dengan teknik anestesi konduksi,
dimana masing-masing obat memiliki kekuatan kerja, toksisitas, kecepatan absorpsi yang
berbeda-beda. Pada percobaan yang telah dilakukan dengan teknik anastetika induksi yang
disuntikan disekitar saraf tertentu yang dituju dan hantaran ransang pada tempat ini
diputuskan. Obat yang digunakan pehacain dan tetracain. Dengan jenis obat yang berbeda
efek obat yang di timbulkan pun berbeda-beda.
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

80
11. ANESTESI INFILTRASI

81
I. Judul percobaan : Anestesi infiltrasi
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 24 Juli 2016, Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
1. Mengetahui efek obat anestesi infiltrasi
2. Mengetahui onset dan durasi obat anestesi infiltrasi
3. Mengetahui fungsi adrenalin dalam anestesi infiltrasi
IV. Prinsip percobaan
Obat anastetika lokal yang disuntikkan kedalam jaringan akan mengakibatkan
kehilangan sensasi pada struktur sekitarnya.
V. Teori dasar
Anastesi (pembiusan, berasal dari bahasa Yunanian tidak,tanpa dan aesthtos,
presepsi, kemampuan untuk merasa), secara umum berarti suatu tindakan yang
menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya
yang menimbulkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur
lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anastesi digunakan pertama kali
oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
Anastesi lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara
lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Kerja ini dapat digunakan secara klinis
untuk mengurangi rasa sakit dari atau impuls vasokontriktor simpati menuju daerah tubuh
tertentu.
Anastesi lokal sangat toksik bila diberikan secara suntikan, sehingga
penggunaannya terbatas pada pemakaian topikal dimata, selaput lendir atau kulit.
Beberapa anaestetika lokal lebih tepat untuk anaestesi infiltrasi atau blokade syaraf,
digunakan juga secara topikal.
Respons suatu organ otonom terhadap obat adrenergik ditentukan tidak hanya oleh
efek langsung obat tersebut, tetapi juga oleh refleks homeostatik tubuh. Rangsangan
adrenergik 1 menimbulkan vasokonstriksi yang meningkatkan tekanan darah. Efinefrin
dapat melokalisasi obat pada syaraf yang akan memperpanjang waktu anaestesi,
mengurangi kecepatan absorpsi anaestesi lokal sehingga akn mengurangi toksisitas
sistemiknya. Pada umumnya zat vasokontriktor diberikan dalam kadar efektif minimal.
Anastesi infiltrasi adalah Anestetika local yang disuntikkan ke dalam jaringan,
termasuk juga diisikan ke dalam jaringan. Dengan demikian selain organ ujung sensorik,
juga batang-batang saraf kecil dihambat. Cara infiltrasi yang sering digunakan adalah
blokade lingkar dan obat disuntikkan intradermal atau subkutan.

82
Lidokain adalah salah satu obat anastetika local dari golongan amida. Lidokain
terdiri dari satu gugus lipofilik (biasanya merupakan suatu cincin aromatik) yang
dihubungkan suatu rantai perantara (jenis amid) dengan suatu gugus yang mudah mengion
(amin tersier). Dalam penerapan terapeutik, mereka umumnya disediakan dalam bentuk
garam agar lebih mudah larut dan stabil. Didalam tubuh mereka biasanya dalam bentuk
basa tak bermuatan atau sebagai suatu kation.
Perbandingan relative dari dua bentuk ini ditentukan oleh harga pKa nya dan Ph
cairan tubuh, sesuai dengan persamaan Henderson-Hasselbalch. Lidokain merupakan obat
terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap prokain dan juga epinefrin. Biasanya
Lidokain digunakan untuk anestesi permukaan dalam bentuk salep, krim dan gel. Efek
samping Lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP misalnya kantuk,
pusing, paraestesia, gangguan mental, koma, dan seizure.
VI. Bahan/alat/hewan coba
Hewan percobaan : Kelinci
Alat yang digunakan : Gunting, pisau cukur, spuit 1 ml, spidol, peniti.
Obat yang digunakan : LidokainHcl 2ml/ml, NaCl 0,09%
Cara Pemberian : Intrakutan
VII. Cara kerja
1. Gunting bulu kelinci pada punggungnya dan cukur hingga bersih kulitnya (hindarit
erjadinya luka).
2. Buat daerah penyuntikan dengan menandai punggung kelinci menggunakan spidol
dengan jarak minimal 3 cm.
3. Siapkan stop watch untuk menghitung waktu respon kelinci.
4. Siapkan 2 spuit 1ml, masing-masing spuit sudah berisi obatl idokain injeksi dan Nacl
yang sudah dihitung dosisnya.
5. Sebelum obat disuntikan kepunggung kelinci, kelinci tersebut di uji getaran otot
terlebih dahulu dengan memberikan sentuhan ringan pada daerah penyuntikan dengan
peniti, setiap kali 6 sentuhan.
6. Suntikan larutan-larutan diatas pada daerah penyuntikan secara intra kutan.
7. Hitung waktu dari pertama kali larutan disuntikan menggunakan stop watch
8. Lakukan uji getaran setelah penyuntikan seperti poin 5, amati dan catat waktu respon
kelinci.

83
VIII. Hasil pengamatan Perhitungan
Perhitungan dosis Lidokain
Faktor konversi Manusia kelinci Berat Badan kelinci 1,5 kg = 0.07
Lidokain = 20 mg/2ml
BB Kelinci = 1665 gram = 1,665 kg ~ 1,7kg
Kelinci = 0,07 x 10 mg/ml = 0.7 mg/ml


x hasil konversi
1,5

1.7
x 0.7 mg/ml = 0.793 ~0.8
1.5

0,8/
x 1ml = 0.08
10

Perhitungan dosis NaCl

Ambil NaCl 0,2 ml

Hasil Pengamatan
Getaran otot pungging kelinci dengan 6 sentuhan setiap
Cara
HEWAN Organ kali dengan peniti pada waktu 5 menit setelah pemberian
Obat pemberi
percobaan obat
an
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Punggung Intra
Lidokain - + + + + + + + + -
KELINCI kanan kutan
Punggung Intra
NaCl - - - - - - - - - -
kiri kutan

IX. Pembahasan

Lidokain adalah derivat asetanilida yang merupakan obat pilihan utama untuk anestesi
permukaan maupun infiltrasi. Lidokain adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara
luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih
lama, dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Lidokain ialah obat
anestesi lokal yang banyak digunakan dalam bidang kedokteran oleh karena mempunyai
awitan kerja yang lebih cepat dan bekerja lebih stabil dibandingkan dengan obat-obat anestesi
lokal lainnya. Obat ini mempunyai kemampuan untuk menghambat konduksi di sepanjang

84
serabut saraf secara reversibel, baik serabut saraf sensorik, motorik, maupun otonom. Kerja
obat tersebut dapat dipakai secara klinis untuk menyekat rasa sakit atau impuls
vasokonstriktor menuju daerah tubuh tertentu. Lidokain mampu melewati sawar darah otak
dan diserap secara cepat dari tempat injeksi. Dalam hepar, lidokain diubah menjadi metabolit
yang lebih larut dalam air dan disekresikan ke dalam urin. Absorbsi dari lidokain dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain tempat injeksi, dosis obat, adanya vasokonstriktor, ikatan
obat, jaringan, dan karakter fisikokimianya.
Pada percobaan kali ini, punggung kelinci bagian kanan disuntikkan obat anastesi
pehacain, punggung bagian kiri disuntikkan obat anastesi lidocain, dan punggung belakang
NaCl, berdasarkan data pengamatan pehacain dan lidocain lah yang mempunyai efek obat
yang cepat namun pada percobaan ini, efek kerja pehacain yang mempunyai efek yang paling
lama yaitu selama 90 menit, sedangkan lidocain hanya memiliki efek kerja selama 40 menit,
setelah 40 menit efek anastesi dari lidocain pun hilang. Dan pada punggung belakang yang
disuntikkkan NaCl tidak memberikan efek anastesi sama sekali.
Pada percobaan kali ini mungkin dipengfaruhi dari factor biologis dan factor eksternal
hewan percobaan sehingga mempengaruhi efek kerja dan lama waktu kerja obat tersebut.
Seperti berat badan, cara menyuntikkan, lokasi penyuntikkan, dan tingkat stress dari hewan
percobaan tersebut.

X. Kesimpulan
Anestesi Infiltrasi bertujuan untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui
injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya
rasa di kulit dan jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya daerah kecil di kulit atau
gusi (pada pencabutan gigi).
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

85
12. EFEK OBAT ADRENERGIK DAN
ANTIKOLINERGIK PADA SEKRESI
KELANJAR LUDAH

86
I. Judul percobaan : Efek obat kolinergik dan antikolinergik pada sekresi kelenjar
ludah
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 24 Juli 2016 Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
Mampu menjelaskan efek kholinergik dan anti kholinergik pada kelnjar ludah
IV. Prinsip percobaan
Pemberian zat kholinergik pada hewan percobaan menyebabkan salivasi dan
hipersalivasi, yang dapat diinhibisi oleh zat antikholinergik. Eksperimen ini dapat
digunakan sebagai landasan untuk mengevaluasi efek zat kholinergik pada neuroefektor
dan untuk mengevaluasi aktivitas obat yang dapat berfungsi sebagai antagonisme. Hewan
yang dapat digunakan adalah kelinci dan mencit.
V. Teori dasar
Sistem saraf otonom merupakan bagian system syaraf yang mengatur fungsi
visceral tubuh. Sistem ini mengatur tekanan arteri, motilitas dan sekresi gastrointestinal,
pengosongan kandung kemih, berkeringat, suhu tubuh dan aktivitas lain. Karakteristik
utama adalah kemampuan memengaruhi yang sangat cepat (misal: dalam beberapa detik
saja denyut jantung dapat meningkat hamper dua kali semula, demikian juga dengan
tekanan darah dalam belasan detik, berkeringat yang dapat terlihat setelah dipicu dalam
beberapa detik, juga pengosongan kandung kemih). Sifat ini menjadikan SSO tepat untuk
melakukan pengendalian terhadap meningkatnya gangguan homeostasis yang dapat
memengaruhi seluruh system tubuh manusia. Dengan demikian, SSO merupakan
komponen dari reflex visceral.
Sistem syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetatif,
sistem syaraf visera atau sistem syaraf tidak sadar, sistem mengendalikan dan mengatur
kesimbangan fungsi fungsi intern tubuh yang berada diluar pengaruh kesadaran dan
kemauan. Sistem syaraf ini terdiri atas serabut syaraf- syaraf, ganglion-ganglion dan
jaringan syaraf yang mensyarafi jantung, pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, organ-organ
dalam, otot- otot polos. Meskipun tata penghantaran impuls syaraf di sistem syaraf pusat
belum diketahui secara sempurna, namun ahli-ahli farmakologi dan fisiologi menerima
bahwa impuls syaraf dihantar oleh serabut syaraf melintasi kebanyakan sinaps dan
hubungan dengan neurofektor dengan pertolongan senyawa-senyawa kimia khusus yang
dikenal dengan istilah neurohumor-transmitor. Obat-obat yang sanggup mempengaruhi
fungsi sistem syaraf otonom, bekerja berdasarkan kemampuannya untuk meniru atau

87
memodifikasi aktivitas neurohumor-transmitor tertentu yang dibebaskan oleh serabut
syaraf otonom diganglion atau sel-sel (organ-organ) detektor.

Obat-Obat Kolinergik Dan Antikolinesterase

Obat otonom yang merangsang sel efektor yang dipersarafi serat dapat dibagi menjadi 3 yaitu
:

1. Ester kolin dalam golongan ini termasuk asetilkolin, metakolin, karbakol, beta
karbakol. Indikasi obat kolinergik adalah iskemik perifer (penyakit Reynauld,
trombofleibitis), meteorismus, retensi urin, feokromositoma
2. antikolinesterase, dalam golongan ini termasuk fisostigmin (eserin), prostigmin
(neostigmin) dan diisopropilfluorofosfat (DFP). Obat antikolinesterase bekerja dengan
menghambat kerja kolinesterase dan mengakibatkan suatu keadaan yang mirip dengan
perangsangan saraf kolinergik secara terus menerus. Fisostigmin, prostigmin,
piridostigmin menghambat secara reversibel, sebaliknya DFP, gas perang (tabun,
sarin) dan insektisida organofosfat (paration, malation, tetraetilpirofosfat dan
oktametilpirofosfortetramid (OMPA) menghambat secara irreversibel. Indikasi
penggunaan obat ini adalah penyakit mata (glaukoma) biasanya digunakan
fisostigmin,penyakit saluran cerna (meningkatkanperistalsis usus) basanya digunakan
prostigmin, penyakit miastenia gravis biasanya digunakan prostigmin.
3. Alkaloid termasuk didalamnya muskarin, pilokarpin dan arekolin. Golongan obat ini
yang dipakai hanyalah pilokarpin sebagai obat tetes mata untuk menimbulkan efek
miosis.

Obat Antikolinergik

Obat antikolinergik (dikenal juga sebagai obat antimuskatrinik, parasimpatolitik, penghambat


parasimpatis). Saat ini terdapat antikolinergik yang digunakan untuk

1. mendapatkan efek perifer tanpa efek sentral misalnya antispasmodik


2. Penggunaan lokal pada mata sebagai midriatikum
3. Memperoleh efek sentral, misalnya untuk mengobati penyakit parkinson.

Contoh obat-obat antikolinergik adalah atropin, skopolamin, ekstrak beladona, oksifenonium


bromida dan sebagainya. Indikasi penggunaan obat ini untuk merangsang susunan saraf pusat
(merangsang nafas, pusat vasomotor dan sebagainya, antiparkinson), mata (midriasis dan
sikloplegia), saluran nafas (mengurangi sekret hidung, mulut, faring dan bronkus, sistem
kardiovaskular (meningkatkan frekuensi detak jantung, tak berpengaruh terhadap tekanan
88
darah), saluran cerna (menghambat peristaltik usus/antispasmodik, menghambat sekresi liur
dan menghambat sekresi asam lambung)

Obat antikolinergik sintetik dibuat dengan tujuan agar bekerja lebih selektif dan mengurangi
efek sistemik yang tidak menyenangkan. Beberapa jenis obat antikolinergik misalnya
homatropin metilbromida dipakai sebagai antispasmodik, propantelin bromida dipakai untuk
menghambat ulkus peptikum, karamifen digunakan untuk penyakit parkinson.

VI. Bahan/alat/hewan coba


Timbangan Digital
Spuit 1 cc
Gelas Ukur
Beker Glas
Hewan Percobaan : KelinciJantan
100
Phenobarbital Injeksi 2
Cendo Carpine 2 %5

CendoTropine 1 %5
VII. Cara kerja
1. Timbang kelinci
2. Hitung dosis masing masing bahan yang akan di ujikan
3. Suntikkan phenobarbital injeksi dengan pemberian melalui iv
4. Suntikkan pilocarpin sulfat dengan pemberian melalui im
5. Lakukan pengamatan
6. Suntikkan atropin sulfat dengan pemberian melalui iv
7. Lakukan pengamatan
VIII. Hasil pengamatan
Timbang BB Kelinci dan Hitung Dosis masing masing Bahan Uji
BB KelinciJantan : 2,5 kg
100 50
Phenobarbital Injeksi : 2 = 1
20 4
Cendo Carpine2 %5 : Mengandung Pilocarpin 5 = 1
10 2
Cendo Tropine1 %5 : Mengandung Atropin Sulfat 5 = 1
Rumus :

89

1. Dosis Zat Aktif/ Bahan uji ( ) X Nilai Konversi Hewan Percobaan= Hasil 1 ( )
()
2. X Hasil 1 ( ) = Hasil 2 ( )
()

2 ( )

3. X 1 ml = Hasil 3 ( ml )
( )

100 50
Dosis PhenobarbitalInjeksi 2 = 1

1. 50 ( ) X 0,07 (Kelinci) = 3,5 ( )
2,5 ()
2. X 3,5( ) = 5,83 ( )
1,5 ()

5,83 ( )
3.
X 1 ml = 0,116( ml ) 0,12 (ml)
50 ( )

20 4
Dosis Cendo Carpine2 %5 : Mengandung Pilocarpin 5 = 1

1. 4 ( ) X 0,07 (Kelinci) = 0,28 ( )
2,5 ()
2. X 0,28( ) = 0,467 ( )
1,5 ()

0,467 ( )
3.
X 1 ml = 0,116( ml ) 0,12 (ml)
4 ( )

10 2
DosisCendoTropine1 %5 : MengandungAtropinSulfat 5 = 1

1. 2 ( ) X 0,07 (Kelinci) = 0,14 ( )
2,5 ()
2. X 0,14( ) = 0,233 ( )
1,5 ()

0,233 ( )
3.
X 1 ml = 0,116( ml ) 0,12 (ml)
2 ( )

Jadi, Dosis yang di gunakan untuk percobaan Efek obat Kolinergik dan Anti Kolinergik
pada hewan percobaan Kelinci Jantan dengan BB 2,5 Kg adalah
100
1. Phenobarbital Injeksi 2 = 0,116 ( ml ) 0,12 (ml)
2. CendoCarpine2 %5 =0,116 ( ml ) 0,12 (ml)

3. CendoTropine1 %5 =0,116 ( ml ) 0,12 (ml)

Hasil Pengamatan

Cara Menit ke Menit ke Menit ke


Waktu ( Menit)
PemberianObat 5 10 15
BahanUji

90
IV Tenang
Phenobarbital
Injeksi
IM Saliva yang di keluarkan
Cendo Carpine
dari menit ke 1 sampai
ke 5 sebanyak 15 ml
IV Saliva yang di keluarkan
Cendo Tropine
dari menit ke 1 sampai
ke 5 sebanyak 1 ml

IX. Pembahasan
Dalam praktikum ini di tujukan untuk melihat efek obat kolinergik dan
antikolinergik pada kelenjar tubuh salah satunya kelenjar saliva (kelenjar ludah). Dengan
hewan coba yang di gunakan yaitu kelinci jantan dan beberapa bahan uji ( phenobarbital
injeksi, cendo carpine, dan cendo tropine). phenobarbital injeksi yang di berikan pada
kelinci jantan di gunakan dengan indikasi penenang dengan tujuan kelinci jantan bias lebih
tenang saat praktikan melakukan uji coba cendo carpine dengan zat aktif pilokarpine yang
di berikan pada kelinci jantan merupakan obat golongan kolinergik yang dapat
merangsang saraf parasimpatik, efeknya dapat menyebabkan percepatan denyut jantung
dan mengaktifkan kelenjar pada tubuh salah satunya kelenjar saliva. Efek kolinergik yang
di timbulkan dapat merangsang atau menstimulansi kelenjar ludah sehingga dapat memicu
terjadinya hipersaliva (sekresi air liur berlebih) yang di keluarkan oleh kelinci jantan.
Cendo tropine dengan zat aktif atropin sulfat yang diberikan pada kelinci jantan
merupakan obat golongan antikolinergik simpatomimetik yang berpengaruh pada sso.
Efek atropin sulfat pada saluran cerna yaitu mengurangi sekresi air liur, sehingga
pemberian cendo tropine di lakukan agar produksi saliva menurun.

X. Kesimpulan

91
Pilokarpin dapat berkhasiat sebagai obat kholinergik karena dapat menyebabkan
efek saliva sedangkan atropin sulfas berkhasiat sebagai antikholinergik karena dapat efek
menghentikan efek saliva pada kelinci percobaan tersebut.

XI. Daftar pustaka


- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

92
13. EFEK OBAT KOLINERGIK DAN
ANTIKOLINERGIK PADA MATA

93
I. Judul percobaan : Efek obat kolinergik dan antikolinergik pada mata
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 24 Juli 2016 Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
1. Menjelaskan sistem saraf otonom.
2. Menjelaskan efek farmakodinamik obat otonom.
3. Menggolongkan obat otonom yang digunakan dalam praktikum ini ke dalam obat
kolinergik, antikolinergik, adrenergik, dan antiadrenergik.
4. Menjelaskan dasar kerja obat yang digunakan pada praktikum ini.
IV. Prinsip percobaan
Pemberian zat kholinergik pada hewan percobaan menyebabkan salivasi dan
hipersalivasi, yang dapat diinhibisi oleh zat antikholinergik. Eksperimen ini dapat
digunakan sebagai landasan untuk mengevaluasi efek zat kholinergik pada neuroefektor
dan untuk mengevaluasi aktivitas obat yang dapat berfungsi sebagai antagonisme. Hewan
yang dapat digunakan adalah kelinci dan mencit.
V. Teori dasar
1. KOLINERGIK
Kolinergik atau parasimpatomimetika adalah sekelompok zat yang dapat
menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena
melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Tugas utama
SPadalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya,
singkatnyaberfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang, timbullah sejumlah efek
yang menyerupaikeadaan istirahat dan tidur. Efek kolinergis faal yang terpenting
seperti: stimulasi pencernaandengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar
ludah dan getah lambung (HCl),juga sekresi air mata, dan lain-lain, memperkuat
sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan
penurunan tekanan darah, memperlambat pernafasan,antara lain dengan menciutkan
bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar, kontraksi ototmata dengan efek
penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya
pengeluaran air mata, kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efekmemperlancar
pengeluaran urin, dilatasi pembuluh dan kotraksi otot kerangka, menekan SSPsetelah
pada permulaan menstimulasinya.Reseptor kolinergika terdapat dalam semua ganglia,
sinaps, dan neuron postganglionerdari SP, juga pelat-pelat ujung motoris dan di
bagian Susunan Saraf Pusat yang disebutsistem ekstrapiramidal.

94
Berdasarkan efeknya terhadap perangsangan, reseptor ini dapat dibagimenjadi 2
bagian, yakni:
A. Reseptor Muskarinik
Reseptor ini, selain ikatannya dengan asetilkolin, mengikat pula muskarin,
yaitu suatualkaloid yang dikandung oleh jamur beracun tertentu.Sebaliknya, reseptor
muskarinik ini menunjukkan afinitas lemah terhadap nikotin.Dengan menggunakan
study ikatan danpanghambat tertentu, maka telah ditemukan beberapa subklas
reseptor muskarinik seperti M1,M2, M3, M4, M5. Reseptor muskarinik dijumpai
dalam ganglia sistem saraf tepi dan organefektor otonom, seperti jantung, otot polos,
otak dan kelenjar eksokrin. Secara khususwalaupun kelima subtipe reseptor
muskarinik terdapat dalam neuron, namun reseptor M1ditemukan pula dalam sel
parietal lambung, dan reseptor M2 terdapat dalam otot polos danjantung, dan reseptor
M3 dalam kelenjar eksokrin dan otot polos. Obat-obat yang bekerjamuskarinik lebih
peka dalam memacu reseptor muskarinik dalam jaringan tadi, tetapi dalamkadar
tinggi mungkin memacu reseptor nikotinik pula.
Penghambat tertentu, maka telah ditemukan beberapa subklas reseptor
muskarinik seperti M1,M2, M3, M4, M5. Reseptor muskarinik dijumpai dalam
ganglia sistem saraf tepi dan organefektor otonom, seperti jantung, otot polos, otak
dan kelenjar eksokrin. Secara khususwalaupun kelima subtipe reseptor muskarinik
terdapat dalam neuron, namun reseptor M1ditemukan pula dalam sel parietal
lambung, dan reseptor M2 terdapat dalam otot polos danjantung, dan reseptor M3
dalam kelenjar eksokrin dan otot polos. Obat-obat yang bekerjamuskarinik lebih peka
dalam memacu reseptor muskarinik dalam jaringan tadi, tetapi dalamkadar tinggi
mungkin memacu reseptor nikotinik pula.Sejumlah mekanisme molekular yang
berbeda terjadi dengan menimbulkan sinyal yangdisebabkan setelah asetilkolin
mengikat reseptor muskarinik. Sebagai contoh, bila reseptor M1 atau M2 diaktifkan,
maka reseptor ini akan mengalami perubahan konformasi danberinteraksi dengan
protein G, yang selanjutnya akan mengaktifkan fosfolipase C. Akibatnyaakan terjadi
hidrolisis fosfatidilinositol-(4,5)-bifosfat (PIP2) menjadi diasilgliserol (DAG) dan
inositol(1,4,5)-trifosfat (IP3) yang akan meningkatkan kadar Ca++ intrasel. Kation
ini selanjutnya akan berinteraksi untuk memacu atau menghambat enzim-enzim
ataumenyebabkan hiperpolarisasi, sekresi atau kontraksi. Sebaliknya, aktivasi subtipe
M2 pada otot jantung memacu protein G yang menghambat adenililsiklase dan

95
mempertinggikonduktan K+, sehingga denyut dan kontraksi otot jantung akan
menurun.
B. Reseptor Nikotinik
Reseptor ini selain mengikat asetilkolin, dapat pula mengena
nikotin,tetapiafinitas lemah terhadap muskarin. Tahap awal nikotin memang memacu
reseptor nikotinik,namun setelah itu akan menyekat reseptor itu sendiri. Reseptor
nikotinik ini terdapat di dalamsistem saraf pusat, medula adrenalis, ganglia otonom,
dan sambungan neuromuskular. Obat-obat yang bekerja nikotinik akan memacu
reseptor nikotinik yang terdapat di jaringan tadi.Reseptor nikotinik pada ganglia
otonom berbeda dengan reseptor yang terdapat padasambungan neuromuskulular.
Sebagai contoh, reseptor ganglionik secara selektif dihambatoleh
heksametonium, sedangkan reseptor pada sambungan neuromuskular secara
spesifikdihambat oleh turbokurarin (Mary J.Mycek, dkk,2001). Stimulasi reseptor
ini olehkolenergika menimbulkan efek yang menyerupai efek adrenergika, jadi
bersifat berlawanansama sekali. Misalnya vasokonstriksi dengan naiknya tensi
ringan, penguatan kegiatanjantung, juga stimulasi SSP ringan. Pada dosis rendah,
timbul kontraksi otot lurik, sedangkanpada dosis tinggi terjadi depolarisasi dan
blokade neuromuskuler.Kolinergika dapat dibagi menurut cara kerjanya, yaitu zat-zat
dengan kerja langsungdan zat-zat dengan kerja tak langsung. Kolinergika yang
bekerja secara langsung meliputikarbachol, pilokarpin, muskarin, dan arekolin
(alkaloid dari pinang, Areca catechu). Zat-zatini bekerja secara langsung terhadap
organ-organ ujung dengan kerja utama yang mirip efekmuskarin dari ACh.Semuanya
adalah zat-zat amonium kwaterner yang bersifat hidrofil dansukar larut memasuki
SSP, kecuali arekolin.Sedangkan kolinergika yang bekerja secara tak langsung
meliputi zat-zatantikolinesterase seperti fisostigmin, neostigmin, dan
piridogstimin.Obat-obat ini merintangipenguraian ACh secara reversibel, yakni hanya
untuk sementara.
Pilokarpin HCl
Indikasi
Pilokarpin HCL atau pilokarpin nitrat digunakan sebagai obat tetes mata
untukmenimbulkan miosis dengan larutan 0,5-3 %. Obat ini juga digunakan sebagai
diaforetikdan untuk menimbulkan saliva diberikan per oral dengan dosis 7,5 mg.
Arekolin hanyadigunakan dalam bidang kedokteran hewan untuk penyakit cacing
gelang. Musakrinhanya berguna untuk penelitian dalam laboratorium dan tidak

96
digunakan dalam terapi.Aseklidin adalah suatu senyawa sintetik yang strukturnya
mirip arekolin. Dalam kadar0,5-4% sama efektifnya dengan pilokarpin dalam
menurunkan tekanan intraokular. Obatini digunakan pada penderita glaukoma yang
tidak tahan pilokarpin.
Atropin
Sumber dan Kimiawi :
Atropin (hiosiamin) ditemukan dalam tumbuhan Atropa Belladonna, atau Tirai
MalamPembunuh, dan dalam Datura Stramonium, atau dikenal sebagai biji jimson (
biji Jamestown)atau apel berduri. Atropine alam adalah l- hiosiamin, tetapi
senyawanya sudah campuran (rasemik), sehinggamaterial komersilnya adalah rasemik
d, l-hiosiamin.Anggota tersier kelas atropine sering dimanfaatkan efeknya untuk mata
dan system syarafpusat.
Absorbsi
Alkaloid alam dan kebanyakan obat-obat antimuskarinik tersier diserap dengan baik
dari ususdan dapat menembus membrane konjuktiva.Reabsobsinya diusus cepat dan
lengkap, seperti alkaloida alamiah lainnya, begitu pula darimukosa.Reabsorbsinya
melalui kulit utuh dan mata tidak mudah.
Distribusi
Atropin dan senyawa tersier lainnya didistribusikan meluas kedalam tubuh
setelahpenyerapan kadar tertentu dalam susunan saraf pusat (SSP) dicapai dalam 30
menit sampai 1jam, dan mungkin membatasi toleransi dosis bila obat digunakan untuk
memperoleh efekperifernya. Didistribusikan keseluruh tubuh dengan baik.
Metabolisme dan Ekskresi
Atropin cepat menghilang dari darah setelah diberikan dengan massa paruh sekitar 2
jamkira-kira 60% dari dosis diekskresikan kedalam urine dalam bentuk utuh. Sisanya
dalamurine kebanyakan sebahagian metabolit hidrolisa dan konjugasi.Efeknya
pada fungsiparasimpatis pada semua organ cepat menghilang kecuali pada mata.
Efek pada iris dan ototsiliaris dapat bertahan sampai 72 jam atau lebih.Spesies
tertentu, terutama kelinci memiliki enzim khusus satropin esterase yang
membuatproteksi lengkap terhadap efek toksik atropine dengan mempercepat
metabolisme obat.Ekskresinya melalui ginjal, yang separuhnya dalam keadaan utuh.
Plasma t1/2 nya 2-4 jam.

97
Mekanisme Kerja
Atropine memblok aksi kolinomimetik pada reseptor muskarinik secara
reversible(tergantung jumlahnya) yaitu, hambatan oleh atropine dalam dosis kecil
dapat diatasi olehasetilkolin atau agonis muskarinik yang setara dalam dosis besar.
Hal ini menunjukan adanyakompetisi untuk memperebutkan tempat ikatan.Hasil
ikatan pada reseptor muskarinik adalahmencegah aksi seperti pelepasan IP3 dan
hambatan adenilil siklase yang di akibatkan olehasetilkolin atau antagonis muskarinik
lainnya.
Mekanisme Kombinasi Atropin + Adrenalin
Penambahan adrenalin pada atropine akan memperpanjang masa kerja obat
sertameningkatkan penyebaran molekul yang masuk ke SSP.
Khasiat dan Penggunaan
Khasiatnya
Adapun khasiat daripada atropine antara lain :
a. Mengurangi sekresi kelenjar (liur, keringat, dahak)
b. Memperlebar pupil dan berkurangnya akomodasi
c. Meningkatkan frekuensi jantung dan mempercepat penerusan impuls di berkas
His(bundle of his), yang disebabkan penekanan SSP.
d. Menurunkan tonus dan motilitas saluran lambung-usus dan produksi HCl.
e. Merelaksasi otot dari organ urogenital dengan efek dilatasi dari rahim dan
kandungkemih
f. Merangsang SSP dan pada dosis tinggi menekan SSP (kecuali pada
zat-zatammonium kwatener).
Penggunaan

Adapun penggunaan daripada atropine yaitu :

a. Sebagai spasmolitikum (pereda kejang otot) dari saluran lambung-usus,


saluranempedu, dan organ urogenital.
b. Tukak lambung/ usus,guna mengurangi motilitas dan sekresi HCL
dilambung,khususnya pirenzepin.
c. Sebagai medriatikum, untuk melebarkan pupil dan melumpuhkan akomodasi.
Jikaefek terakhir tidak diingginkan, maka harus digunakan suatu adrenergikum,
misalnyafenilefrin.

98
d. Sebagai sadativum, berdasarkan efek menekan SSP, terutama atropine dan
skolamin,digunakan sebelum pembedahan. Bersamaan dengan anastetika
umum.Antihistaminika dan fenotiazin juga digunakan untuk maksud ini.
e. Sebagai zat anti mabuk jalan guna mencegah mual dan muntah.
f. Pada hiperhidrosus, untuk menekan pengeluaran keringat berlebihan.
g. pada inkontinesi urin, atas dasar kerja spasmolitisnya pada kandung kemih,
sehinggakapasitasnya diperbesar dan kontraksi spontan serta hasrat berkemih
dikurangi.
VI. Bahan/alat/hewan coba
- Hewan Percobaan : Kelinci
- Alat yang digunakan : Penggaris, Lampu Senter
- Obat yang diguanakan : Larutan Pilokarpin 1% dan Larutan Atropin Sulfat 1%
VII. Cara kerja
1. Tiap kelompok bekerja dengan satu kelinci
2. Amati, ukur dan catat diameter pupil mata pada cahaya suram dan pada penyinaran
dengan senter bandingkan
3. Semua obat yang digunakan, diteteskan ke dalam kelopak mata bawah. Setelah
larutan diteteskan, biarkan mata terbuka selama satu menit sambil ditekan saluran
nasolakrimal
4. Bila tidak ada efek setelah 15 menit, ulangi prosedur ini
5. Ke dalam mama kanan teteskan 3 tetes larutan fisotigmin salisilat dan ke dalam mata
kiri diteteskan 3 tetes larutan pilokarpin Hcl. Perhatikan dan catat ebek yang terjadi
6. Tiap kali setelah penetesan obat, refleks pupil mata diuji
7. Setelah terjadi miosis kuat pada kedua mata, ke dalam mata kanan diteteskan 2 tetes
larutan atropin sulfat. Amati pada kedua mata
8. Selang 20 menit kemudian, ke dalam mata kanan diteteskan 6 tetes larutan fisotigmin
salisilat.
VIII. Hasil pengamatan
Berat badan kelinci 2 kg

Diameter awal
Mata Pilokarpin Atropin
mata
Kanan 1,5 cm 1 cm 1 cm
Kiri 1,5 cm 1,5 cm (kontrol) 1,2 cm

99
IX. Pembahasan
Terjadi perubahan ukuran pupil pada mata kelinci dengan data sebagai berikut:
Pilokarpin : 1,5 cm - 1 cm = 0,5 cm
Atropin : 1,5 cm 1,2 cm = 0,3 cm
Kontrol : 1,5 cm 1,5 cm = 0 cm
2 Zat Aktif : 1 cm 1 cm = 0 cm
Dan terdapat bercak putih pada mata kelinci yang menandakan mata kelinci mengalami
sakit atau terdapat penyakit.

X. Kesimpulan
1. Pilokarpin merupakan obat kolinergik dan memberikan efek kolinergik
2. Atropine merupakan obat antikolinergik dan memberikan efek antikolinergik

XI. Daftar pustaka


- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

100
14. EFEK OBAT PADA SALURAN CERNA

101
I. Judul percobaan : Efek obat pada saluran cerna
II. Hari/tgl percobaan : Minggu, 24 Juli 2016, Pukul 14.00 WIB
III. Tujuan percobaan
- Mengetahui sejauh mana aktivitas obat anti diare dapat menghambat diare dengan
metode uji antidiare yaitu metode transit intestinal.
IV. Prinsip percobaan
Aktivitas obat yang dapat memperlambat peristaltik usus dengan mengukur rasio
normal jarak yang ditempuh marker terhadap panjang usus sepenuhnya.
V. Teori dasar
Konstipasi
Konstipasi adalah kesulitan defekasi karena tinja yang mengeras. Otot polos usus
yang lumpuh misalnya pada megakolon congenital dan gangguan refleks defekasi
(konstipasi habitual). Sedangkan obstipassi adalah kesulitan defekasi karena adanya
obstruksi intra / ekstra lumen usus, misalnya karsinoma kolon sigmoid. Faktor penyebab
konstipasi adalah psikis, misalnya akibat perubahan kondisi kakus, perubahan kebiasaan
defekasi pada anak, perubahan situasi misalnya dalam perjalanan / gangguan emosi,
misalnya pada keadaan depresi mental - penyakit, misalnya hemoroid sebagai akibat
kegagalan relaksasi sfingter nyari, miksuden dan skletoderma, kelemahan otot punggung /
abdomen pada kehamilan multipar dan obat, misalnya opium, antikolinergik,
penghambatan ganglion, klonidin, antasida aluminium dan kalsium.
Mekanisme pencahar yang sesungguhnya masih belum dapat dijelaskan, karena
kompleksnya faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi kolon transport air dan elektrolit,
dapat dijelaskan antara lain:
1. Sifat hidrofilik atau osmotiknya sehingga terjadi penarikan air dengan akibat massa
konsistensi dan transit tinja bertambah.
2. Pencahar bekerja langsung ataupun tidak langsung terhadap mukosa kolon dalam
menurunkan (absorpsi) air dan NaCl, mungkin dengan mekanisme seperti pada
pencahar osmotik.
3. Pencahar dapat meningkatkan motilitas usus dengan akibat menurunnya absorpsi
garam dan selanjutnya mengurangi waktu transit tinja.

Contoh obat pencahar adalah:

Pencahar rangsang : minyak jarak

Pencahar garam : magnesium sulfat

102
Pencahar pembentuk massa : metil selulosa

Pencahar emolien : paraffin cair

Laksansia osmotic

Karena air dapat diabsorpsi dengan mudah, maka tak dapat disunakan sebagai
laksansia. Akan tetapi jika ditambahkan garam yang sulit diabsorpsi, sesuai dengan
tekanan osmotik garam ini, pada penggunaan larutan normotoni, absorpsi air dari usus
akan diperkecil, sedangkan pada pemasukan larutan hipertoni, air akan dibebaskan ke
dalam lumen usus dan dengan demikian pengosongan feses dalam jumlah besar dapat
tercapai. Saat mulai kerja tergantung kepada jumlah dan konsentrasi larutan garam : pada
larutan hipertoni waktu relatif lama sampai air cukup banyak yang masuk ke lumen usus
sehingga pengosongan dapat dimulai biasanya sekitar 10-12 jam. Pada larutan normotoni
atau hipotoni, kerja sudah mulai dalam waktu beberapa jam saja. Mengingat akibat
bahaya dehidrasi, harus dihindari larutan hipertoni.

Laksansia garam : magnesium sulfat ( garam pahit ) dan natrium sitrat ( garam
glauber), natrium fosfat dan natrium sitrat. Yang paling banyak digunakan adalah garam
pahit dan garam glauber. GARAM MAGNESIUM (MgSO4 = garam inggris)

Obat yang termasuk didalam golongan laksansia osmotik mekanisme kerjanya


dalam usus berdasarkan penarikan air ( osmosis ) dari bahan makanan karena tiga
perempat dari dosis oral tidak diserap, akibatnya adalah pembesaran volume usus dan
meningkatnya peristaltik di usus halus dan usus besar di samping melunakkan
tinja.merupakan senyawa yang mudah diabsorpsi melalui usus kira-kira 15-30 % dan
diekskresikan melalui ginjal. Dari dosis di serap oleh usus yang dapat
mengakibatkan kadar magnesium dalam darah terlampau tinggi, khususnya bila fungsi
ginjal kurang baik. Oleh karena itu garam inggris jangan digunakan untuk jangka waktu
yang lama. Boleh digunakan selama kehamilan, obat ini masuk ke dalam air susu ibu.

NaCl Fisiologik

Obat ini merupakan cairan yang isotonus terhadap cairan tubuh sehingga tidak
menghasilkan efek apa-apa. Biasanya digunakan untuk membandingkan efek yang
dihasilkan oleh suatu obat pada hewan percobaan. NaCl ini menghasilkan efek yang tidak
begitu berarti didalam tubuh serta penggunaannya tidak dipermasalahkan.

103
Penyalahgunaan pencahar yang banyak terjadi dimasyarakat dengan alasan
menjaga kesehatan sama sekali tidak rasional karena akan menurunkan sensitivitas
mukosa, sehingga usus gagal bereaksi terhadap rangsangan fisiogik. Penggunaan
pencahar secara kronik dapat menyebabkan diare dengan akibat kehilangan air dan
gangguan keseimbangan elektrolit. Disamping itu dapat pula terjadi kelemahan otot
rangka, berat badan menurun dan paralisis otot palos. Pengeluaran kalsium terlalu banyak
dapat menimbulkan osteomalasia.

VI. Bahan/alat/hewan coba Tikus putih jantan

1. Larutan Pentobarbital Natrium 4%

2. Larutan magnesium sulfat 25%,3% dan 0,2%

3. Natrium klorida fisiologik

4. Spuit 1ml atau 2ml

5. Gunting benang steril

6. Kaca arloji

7. Pipet tetes

8. Kleenex

9. Jarum bedah

VII. Cara kerja


1. Tikus dipuaskan makan selama 24 jam, minum tetap diberikan.
2. Tikus dibius dengan pentobarbital Na 40 mg/kg bb secarara ip.
3. Usus dipamerkan melalui torehan ventral sagital, usus jangan sampai terluka, selama
pembedahan da percobaan usus harus basahi dengan NaCI fisiologik.
4. Pada jarak sekitar 2,5 cm dari pilorus, ikat usus dengan benang steril pada jarak lebih
kurang 8 cm, hingga diperoleh tiga segmen terpisah. Pengikatan jangan sampe
menganggu aliran darah usus.
5. Suntikan berturut-turut kedalam segmen masing-masing larutan 1 ml (MgSO4 25%
NaCI 0,9 % dan MgSO4 0,2%)
6. Tempatkan kembali usus ke dalam rongga abdomen dan jahit kembali otot dan kulit
perut tikus. Basaahi terus jahitan dengan NaCI fisiologis.

104
7. Setelah 2 jam, buka jahitan dan isi tiap segmen usus dikeluarkan dan catat volume
yang diperoleh.
8. Tabelkan hasil-hasil eksperimen dan diskusikan pengaruh masing-masing larutan
VIII. Hasil pengamatan
Perhitungan dan Dosis
Faktor konversi : Manusia > Tikus, BB Tikus 200gram > 0.018
Perhitungan dosis Fenobarbital
Tara timbangan : 198.5
Berat tikus : 291
= 291- 198.5 = 92.5
= 92.5/200 x 0.9 = 0.416
= 0.416/50 x 1ml = 0.0083 ml
Diencerkan x10 = 0.08, karena ingin efek anestesi dix 2= 0.16
Jadi, fenobarbital yang disuntikan 0.16ml
MgSO4 25% = 25/100 X 50ML = 12.5 gram /50 ml
MgSO4 0,2% = 0,2/100 X 1OOML = 0.2gram/100ml

Hasil pengamatan

Cairan yang paling banyak didalam usus hewan percobaan yaitu MgSO4 25%, kemudian
MgSO4 0,2%, dan yang paling sedikit adalah NaCl

IX. Pembahasan
Di era yang serba modern ini, manusia sering di tuntut untuk dapat memenuhi
berbagai macam tugas sekaligus di waktu yang bersamaan. Hal ini berakibat pada
menurunnya waktu luang, diantaranya adalah waktu istirahat yang pendek sehingga tidak
jarang manusia modern sekarang lebih memilih untuk memilih makanan cepat saji yang
menfandung banyak karbohidrat, lemak, dan protein namun miskin serat. Hal ini dapat
memicu berbagai masalah kesehatan yang dapat berakibat fatal dikemudian hari.
Masalah yang paling sering timbul dari kondisi kurang serat adalah konstipasi
dimana tubuh mengalami kesulitan defekasi tinja yang mengeras, otot polos yang lumpuh
atau masalah lainnya. Hal ini di perparah dengan kurangnya konsumsi air putih dan
olahraga. Sehingga sebagian orang menggunakan obat pencahar untuk mengatasi masalah
ini. Padahal penggunaan obat pencahar yang sembarangan dapat merugikan si pengguna
karena dapat menyebabkan ketergantungan, pendarahan anus, gas berlebih pada saluran
cerna dan efek lainnya.

105
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan efek garam pada saluran cerna dan
tikus sebagai hewan ujinya. Sebelum dilakukan percobaan tikus terlebih dahulu
dipuasakan selama 24 jam. Tikus disuntikkan secara ip dengan Pentobarbital 0.16 ml,
setelah itu tikus dibiarkan sampai tidak sadar. Kemudian tikus diletakan diatas kayu
dengan kondisi masing-masing kaki diikat, setelah itu dilakukan pembedahan pada jarak
2.5cm dari piloris, usus diikat dengan benang steril pada jarak kurang lebih 8 cm , hingga
diperoleh tiga segmen terpisah. Setelah itu disuntikan berturut-turut ke dalam masing-
masing segmen larutan 1ml ( mgso4 24%, nacl 0,9% dan mgso4 0,2%) pada saat
percobaan usus terus dibasahi dengan larutan Nacl fisiologik. Setelah selesai disuntikan
usus ditempatkan kembali pada rongga abdomen, pada jam 10.39 tikus mulai dijait
kembali dan terus dibasahi Nacl fisiologik,, pada jam 10.45 tikus sudah selesai dijahit.
Sebelum 2 jam setelah tikus dijahit , tikus tersebut MATI.
X. Kesimpulan
Setelah di lihat dari prosedur kerja yang kami lakukan tikus percobaan mati,
penyebabnya adalah beberapa kesalahan yang terjadi dalam percobaan dan tingkat
keterampilan dalam melakukan pembedahan terhadap hewan, selain itu terdapat juga
penyebab lain diantaranya peralatan yang digunakan tidak steril, terlalu banyak tangan
yang melakukan proses pembedahan dan usus tikus yang terlalu lama terbuka sehingga
menungkatkan resiko infeksi
XI. Daftar pustaka
- Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008
- Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2009
- Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

106