Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM PANGAN TRADISIONAL BALI

LAWAR

KELOMPOK 6
DINDA TESSA LONIKA 1511105062

I GEDE PRIYATNA PUTRA 1511105063

NOVELITA OLIVEA HERMAN 1511105065

SAMUEL SEPTIAN SITORUS 1511105066

PUTU DHYANA NURHIKAYATI 1511105067

MAUREEN SABILA 1511105068

NI KETUT AYU MARTINI 1511105071

HIDAYANTI SUKMANINGRUM 1511105074

ARIANI NISFIN KHOLIFAH 1511105075

I MADE ANANTA D.G. 1511105076

NETTA CLARITA TAMPINONGKOL 1511105077

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2016
DAFTAR ISI

LAWAR
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 2
I. PENDAHULUAN ....................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 3
1.2 Tujuan ....................................................................................................... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 5
2.1 Pengertian Lawar ...................................................................................... 5
2.2 Jenis Lawar ............................................................................................... 5
2.3 Kandungan Zat Gizi Lawar ...................................................................... 6
2.4 Khasiat Lawar ........................................................................................... 8
III. METODELOGI ....................................................................................... 10
3.1 Alat ......................................................................................................... 10
3.2 Bahan ...................................................................................................... 10
3.2.1 Bahan Utama Lawar ........................................................................ 10
3.2.2 Bahan Basa Genep .......................................................................... 10
3.3 Prosedur Kerja ........................................................................................ 11
3.3.1 Tahap Persiapan .............................................................................. 11
3.3.2 Tahap Pencampuran ........................................................................ 12
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 13
4.1 Data Hasil Pengamatan .......................................................................... 13
4.2 Pembahasan ............................................................................................ 15
4.2.1 Uji Warna ........................................................................................ 15
4.2.2 Uji Aroma ....................................................................................... 16
4.2.3 Uji Tekstur ...................................................................................... 16
4.2.4 Uji Rasa ........................................................................................... 17
4.2.5 Uji Penerimaan Keseluruhan.......................................................... 17
V. KESIMPULAN ......................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 20
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bali merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi besar di
bidang pariwisata. Pulau Bali sangat populer di mata dunia internasional
karena keindahan alamnya, kesenian, berbagai ragam budaya dan tradisi
sosial kemasyarakatan yang dijiwai oleh agama Hindu. Tersedianya sarana
dan prasarana penunjang, seperti hotel, restoran, biro perjalanan wisata dan
yang lainnya, membuat kunjungan wisatawan ke Bali semakin meningkat.

Bertolak dari hal-hal tersebut di atas, makanan tradisional Indonesia


sebagai salah satu teknologi budaya fisik diperlukan untuk memperkuat
daya tarik dan identitas bangsa yang besar ini, seperti halnya beberapa
negara yang dengan tegas memiliki identitas makanan nasionalnya yang
secara aktif diperkenalkan kepada dunia dalam rangka memperkuat identitas
bangsanya. Pengembangan aspek teknologi, serta bisnis di bidang makanan,
salah satu cara memperkenalkan kepada dunia agar dapat menambah nilai
ekonomi (devisa) dan ketahanan nasional, serta harga diri bangsa. Salah satu
makanan tradisional Indonesia yang memiliki keunikan dari segi cita rasa
dan penggunaan bumbu adalah makanan tradisional Bali.

Makanan tradisional/khas Bali yang secara harafiah sudah


berkembang sejak masuknya agama Hindu di Bali telah menjadi makanan
asli Bali, bukan saja untuk masyarakatnya, tetapi juga secara religius
diperuntukkan bagi para Dewa-Dewi sesuai kepercayaan mereka. Makanan
khas semacam ini digolongkan dalam lontar Indik Maligia yang sangat
berbeda dengan makanan yang diperuntukkan bagi manusia Bali, yang
dikelompokkan dalam lontar Dharma Caruban.

Salah satu makanan tradisional di Bali yang paling terkenal adalah


lawar. Jika dilihat dari segi kegunaan dan pengolahannya, lawar merupakan
pangan yang selalu disajikan dalam upacara agama, maupun untuk
keperluan konsumsi individu. Pengolahan lawar juga sangat mudah untuk

3
dilakukan dan bahan-bahan yang digunakan sangat mudah ditemukan di
pasar-pasar tradisional.

1.2 Tujuan
1. Menilai sifat sensorik lawar yang dihasilkan.

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lawar


Pulau Bali merupakan tujuan favorit para pelancong baik dari
mancanegara maupun lokal, hal ini dikarenakan Bali memang memiliki
keanekaragaman budaya juga daya tarik alam yang sangat luar biasa. Bali
tidak hanya sebagai pusat pariwisata tetapi menawarkan banyak hal yang
musti dinikmati oleh semua orang yang berlibur ke pulau bali, seperti
budaya bali yang masih kental dan makanan tradisional yang menggugah
selera makan para turis salah satunya adalah makanan tradisional lawar bali.

Menurut Suter (2009), lawar adalah salah satu jenis makanan


tradisional Bali yang saat ini makin populer dan makin luas konsumennya.
Keadaan tersebut diketahui dari makin bertambahnya jumlah warung dan
rumah makan khususnya di Kodya Denpasar yang menjual lawar yang
disebut dengan nama lawar Bali. Namun diakui data tentang jumlah
pedagang atau rumah makan yang menjual lawar di Bali belum ada catatan
yang pasti jumlahnya.

Lawar adalah sejenis lauk pauk yang dibuat dari campuran daging
atau ikan dengan sayur mayur dan bumbu (Panji, 1985 dalam Suter, 2009).
Lawar ini sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat Hindu di Bali, karena
disamping sebagai lauk pauk, lawar menjadi salah satu sarana dalam
melaksanakan upacara adat maupu keagamaan di Bali seperti upacara
pernikahan, kematian dan upacara ditempat-tempat suci (Pura). Masyarakat
Hindu di Bali sejak dulu sampai sekarang tetap membuat lawar dan
menyukai lawar. Oleh karena itu lawar dapat dipakai sebagai identitas
budaya bagi masyarakat Hindu di Bali.

2.2 Jenis Lawar


Jenis-jenis lawar di Bali pada umumnya dikelompokkan
berdasarkan jenis daging yang digunakan yaitu lawar sapi (lawar yang

5
menggunakan daging sapi), lawar babi (lawar yang menggunakan daging
babi), demikian seterusnya untuk lawar penyu, lawar ayam, dan lawar itik
berturut-turut adalah lawar yang menggunakan daging penyu, daging ayam,
dan daging itik. Disamping itu nama lawar juga bisa berdasarkan jenis
sayuran yang digunakan seperti misalnya lawar nangka yaitu lawar yang
dibuat dari buah nangka muda. Berbeda halnya dengan nama yang
diberikan terhadap lawar yang akan dijual, pedagang lawar misalnya di
kota Madya Denpasar memberikan nama lawar tidak berdasarkan jenis
daging ataupun jenis sayur yang digunakan tetapi lebih mengutamakan
nama asal daerah yaitu daerah Bali sebagai identitas produk (Suter, 2009).

2.3 Kandungan Zat Gizi Lawar


Bahan penyusun lawar seperti daging, sayur, kelapa dan darah
mempunyai potensi sebagai zat gizi. Daging merupakan sumber protein
hewani yang penting, sedangkan sayuran yang dipakai seperti kacang
panjang (Vigna sinensis, L.), merupakan sumber protein nabati, vitamin dan
mineral, pepaya (Carica pepaya, L) dan buah nangka (Artocarpus integra,
L) merupakan sumber vitamin dan mineral. Menyimak hasil analisis
terhadap lawar yang dijual di Kodya Denpasar dari 18 pedagang lawar sapi
yang dilaporkan oleh Yusa (1996) diketahui bahwa lawar sapi (lawar putih
dan lawar merah) mengandung protein berkisar antara 8,48 11,14 %,
lemak 17,98 18,54 % dan karbohidrat 3,94 6,61 % dengan kandungan
air lawar yang cukup tinggi yaitu sekitar 65,21 65,63 %. Disamping
mengandung zat gizi utama seperti tersebut di atas lawar juga mengandung
vitamin B1, vitamin B2, vitamin C dan mineral kalsium (Ca), besi (Fe) dan
fosfor (P). Komposisi zat gizi lawar yang dibuat dari daging sapi disajikan
pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi zat gizi lawar sapi (Yusa, 1996).

Jumlah
Kandungan zat gizi
Lawarputih Lawar merah
Air (%) 65,21 65,63

6
Abu (%) 1,16 1,30
Protein (%) 8,84 11,44
Lemak (%) 18,54 17,98
Karbohidrat (%) 6,61 3,94
Vitamin B3 (mg/100g)* 0,68 0,76
Vitamin B2 (mg/100g)* 6,43 1,36
Vitamin C (mg/100g)* 12,34 11,67
Kalsium (Ca) (mg/100g)* 79,25 81,50
Besi (Fe) (mg/100g)* 19,25 24,50
Fosfor (P) (mg/100g)* 464,61 444,23
Keterangan :*) Berat kering

Setelah dilakukan perhitungan lebih lanjut untuk setiap 50 g


lawar (jumlah lawar yang dikonsumsi setiap hari), nilai energi lawar
putih sebesar 114 kkal dan energi lawar merah sebesar 111 kkal.
Ditinjau dari sumbangan energinya maka lawar dapat menyumbangkan
sebesar 3,5 % dari konsumsi energi wanita setiap hari (konsumsi energi
wanita setiap hari 2714 kkal).

Mengenai pengaruh jenis sayuran (buah nangka, kacang panjang


dan campuran buah nangka dan kacang panjang) sebagai bahan baku
lawar terhadap kandungan zat gizi lawar babi dapat dilihat pada Tabel
3. Lawar yang menggunakan sayur kacang panjang secara nyata kadar
proteinnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan lawar yang
menggunakan buah nangka saja. Hal ini disebabkan karena kandungan
protein dari kacang panjang 2,7 % lebih tinggi daripada kandungan
protein buah nangka sebesar 2,0 %. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut di atas maka penggunaan kacang panjang sebagai bahan lawar
lebih baik dibandingkan dengan nangka, bila dilihat dari kandungan
proteinnya disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi zat gizi lawar babi yang dibuat dari berbagai jenis sayuran
(Suter, et al., 1997 b).

7
Protein Lemak Karbohidrat Abu Air
Jenis lawar
(%) (%) (%) (%) (%)

Nangka 5.57 12.41 9.45 0.57 69.03

Kacang panjang 11.37 11.76 3.93 1.35 71.59

Nangka + kacang panjang (1:1) 9.28 13.02 7.12 1.01 69.65

Lawar nangka mengandung energi dan zat gizi untuk setiap 100 g
adalah sebagai berikut : energi 105,45 kkal, karbohidrat, 7,01 g, protein 2,09 g
dan lemak 7,67 g. (Suter, et al., 1999).

2.4 Khasiat Lawar


Khasiat makanan secara umum dimaksudkan adalah bagaimana
hubungan atau pengaruh makanan terhadap kesehatan manusia. Khasiat
makanan terhadap kesehatan manusia disebabkan karena kandungan
senyawa-senyawa kimia yang ada dalam bahan makanan atau senyawa
kimia yang ada pada hasil olahannya. Senyawa-senyawa kimia itu adalah
zat gizi seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral dan
senyawa-senyawa non-gizi seperti serat makanan, antioksidan, pigmen
dan lain-lainnya. Khasiat lawar bila dikaitkan dengan kandungan zat
gizinya terutama karbohidrat, protein dan lemak adalah memperlancar
proses fisiologis dalam tubuh karena zat gizi tersebut sebagai sumber
energi. Kandungan senyawa non-gizi pada lawar belum banyak diketahui
(Suter, 2009).

Berdasarkan bahan baku dan khususnya bumbu yang digunakan


pada pembuatan lawar seperti bawang putih, bawang merah, cabai,
lengkuas, jahe, kunir, lada dan lain-lainnya mengandung senyawa-
senyawa non-gizi, seperti minyak atsiri, anti oksidan dan anti mikroba
yang berfungsi meningkatkan citarasa lawar, mencegah proses oksidasi
dan menghambat atau membunuh mikroba sehingga lawar dalam jangka
waktu tertentu aman untuk dikonsumsi. Secara spesifik bagaimana khasiat
lawar yang disebabkan oleh senyawa non-gizi terhadap penyakit tertentu,

8
misalnya penyakit degeneratif (penyakit jantung koroner/PJK, diabetes
militus, hipertensi dan kanker) belum ada dilaporkan. Masalah ini perlu
mendapat perhatian oleh para peneliti pangan tradisional daerah Bali
dalam rangka pengembangan lawar menjadi pangan fungsional (Suter,
2009).

9
III. METODELOGI

3.1 Alat
Pisau Kecil
Pisau Besar
Baskom
Mangkuk
Piring
Sendok
Talenan
Sarung Tangan Plastik

3.2 Bahan

3.2.1 Bahan Utama Lawar


Daging ayam 250 g (bagian dada/paha)
Buah nangka muda 500 g (tanpa kulit)
Buah kacang panjang 200 g
Daging kelapa 250 g
Bumbu 125 g
Bawang merah goreng 100 g
Bawang putih goreng 50 g
Cabe goreng 10 g
Terasi goreng 50 g
Serbuk lada 5 g
Limao 5 g
Garam 10 g

3.2.2 Bahan Basa Genep


Lengkuas
Jahe
Kunir

10
Kencur
Bawang Merah
Bawang Putih
Lada Putih
Ketumbar
Cabe Rawit
Daun Jinten
Daun Jangar Ulam
Terasi
Sereh
Base Wangen
Minyak Kelapa
Kemiri
Cabe Besar/Lombok
Kulit Daging Kelapa Panggang
Santan Kelapa
Garam

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Tahap Persiapan


Penyiapan/pengolahan bahan-bahan lawar adalah sebagai berikut :

1. Daging dicuci dengan air sampai bersih terus dicincang sampai


halus. Daging yang telah halus direbus di dalam air (rasio daging dan
air adalah 1 : 1) mendidih selama 15 menit.

2. Buah nangka dikupas kulitnya, terus dagingnya dibelah menjadi


empat bagian, direbus sampai matang, didinginkan terus dicincang
halus.

3. Daging kelapa dipanggang di atas bara api sampai agak matang


(kulit daging tampak berarang), didinginkan, kemudian diparut dan
dicincang sampai halus.

11
4. Bumbu yang digunakan adalah bumbu cincang, tanpa menggunakan
base wangen. Cara persiapan/pengolahan bumbu cincang adalah
sebagai berikut: Bahan-bahan bumbu dibersihkan terutama umbi-
umbian dicuci dengan air, kemudian semua bahan dicincang sampai
halus. Bumbu yang sudah halus ditempatkan dalam wadah terus
ditambahkan minyak kelapa dan garam terus dicampur sampai rata.
Selanjutnya digoreng sampai matang.

3.3.2 Tahap Pencampuran


1. Buah nangka dan daging kelapa dicampur (campuran 1)

2. Daging ayam dicampur dengan bumbu sampai merata (campuran 2)

3. Campuran 1 dan campuran 2 dicampur dengan cara diaduk secara


merata, kemudian ditambahkan bawang merah goreng, bawang putih
goreng, terasi goreng, serbuk lada, garam dan perasan air buah jeruk
limau. Pengadukan dilanjutkan sampai merata sampai tercium aroma
khas lawar.

4. Lawar selanjutnya diuji sifat sensoriknya oleh semua mahasiswa.

12
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan


Lawar 301 (Kelompok 4)
Panelis
Warna Aroma Rasa Tekstur P.Kes.*)
1. 4 4 4 5 4
2. 3 6 2 4 5
3. 5 4 4 4 4
4. 6 3 4 4 4
5. 6 5 5 4 4
6. 6 5 5 3 4
7. 5 6 7 6 6
8. 4 4 4 4 4
9. 5 5 6 5 6
10. 6 6 6 4 6
11. 4 4 4 4 4
12. 6 5 6 6 6
59 57 57 53 57
Rata-rata 4,91 4,75 4,75 4,41 4,75
Lawar 302 (Kelompok 2)
Panelis
Warna Aroma Rasa Tekstur P.Kes.*)
1. 3 4 4 4 2
2. 4 5 6 5 6
3. 6 6 5 4 5
4. 5 6 4 4 4
5. 4 4 5 6 5
6. 3 5 5 5 5
7. 6 4 6 6 6
8. 3 4 4 3 4
9. 5 4 5 5 6
10. 5 4 6 3 5
11. 2 3 2 4 3
12. 4 4 4 4 4
52 53 56 53 55
Rata-rata 4,33 4,41 4,66 4,41 4,58

13
Lawar 305 (Kelompok 3)
Panelis
Warna Aroma Rasa Tekstur P.Kes.*)
1. 5 3 3 4 2
2. 4 2 2 3 3
3. 3 3 3 3 3
4. 2 2 2 2 2
5. 4 4 3 4 4
6. 5 3 4 6 4
7. 6 4 3 3 4
8. 4 5 2 3 4
9. 5 5 6 5 6
10. 5 3 5 4 4
11. 4 3 4 4 4
12. 4 4 4 3 5
51/12 41/12 41/12 45/12 45/12
Rata-rata 4,25 3,41 3,41 3,75 3,75
Lawar 306 (Kelompok 6)
Panelis
Warna Aroma Rasa Tekstur P.Kes.*)
1. 4 4 2 2 1
2. 2 2 2 4 3
3. 3 2 2 2 2
4. 1 4 1 2 2
5. 1 3 1 1 1
6. 2 5 3 3 2
7. 4 5 2 2 3
8. 2 3 2 3 2
9. 5 5 5 6 6
10. 2 4 2 1 2
11. 4 3 5 3 4
12. 2 2 2 2 3
33/12 42/12 31/12 29/12 31/12
Rata-rata 2,67 3,5 2,58 2,41 2,58

14
Lawar 303 (Kelompok 5)
Panelis
Warna Aroma Rasa Tekstur P.Kes.*)
1. 3 4 2 5 2
2. 4 4 3 2 4
3. 4 4 4 4 4
4. 6 4 5 4 5
5. 2 4 4 1 2
6. 3 3 4 3 3
7. 4 5 6 6 5
8. 6 4 6 4 5
9. 5 5 6 5 6
10. 6 6 6 5 6
11. 6 4 5 5 5
12. 5 4 5 4 5
54 51 56 48 52
Rata-rata 4,5 4,23 4,66 4,0 4,33
Lawar 304 (Kelompok 1)
Panelis
Warna Aroma Rasa Tekstur P.Kes.*)
1. 3 4 6 5 6
2. 6 6 6 5 7
3. 3 4 3 4 3
4. 6 4 3 5 4
5. 2 5 3 3 3
6. 3 3 4 4 4
7. 3 4 4 5 5
8. 5 5 2 2 3
9. 5 4 5 5 6
10. 3 4 4 5 4
11. 5 4 5 4 4
12. 6 6 5 6 6
50 53 50 53 55
Rata-rata 4,16 4,41 4,16 4,41 4,58

4.2 Pembahasan

4.2.1 Uji Warna


Hasil rata-rata uji warna pada masing-masing kelompok 1, 2, 3, 4,
5, 6 lawar adalah sebesar 4,16, 4,33, 4,25, 4,91, 4,5, dan 2,67. Berdasarkan
nilai rata-rata warna tiap lawar tersebut makan dapat dilihat terdapat

15
perbedaan nilai yang sangat signifikan pada lawar 6. Hal ini dapat
disebabkan oleh campuran bumbu yang digunakan.
Pada lawar 6 warna lawar terlihat pucat tidak seperti lawar pada
umumnya dengan warna lawar khas yang lebih menyala. Bumbu yang
digunakan pada lawar 6 hilang karena adanya tambahan kaldu pada lawar
yang mengakibatkan warna lawar larut dalam kaldu tersebut. Lawar yang
lembek setelah dicampur kaldu menimbulkan warna yang pucat pada
lawar sehingga terlihat kurang menarik. Selain itu juga dapat disebabbkan
oleh bahan-bahan yang terlalu lunak karena terlalu matang seperti kacang
panjang dan sayur nangkanya yang dari awal berwarna pucat.

4.2.2 Uji Aroma


Hasil rata-rata uji aroma lawar pada masing-masing kelompok 1, 2,
3, 4, 5, 6 adalah sebesar 4,41, 4,41, 3,41, 4,75, 4,25, dan 3,5. Berdasarkan
pada data rata-rata nilai tersebut maka dapat dilihat bahwa ada perbedaan
warna yang cukup nyata diantara ke enam lawar tersebut. Lawar 3 dan 6
oleh panelis memiliki warna yang kurang disukai dibandingkan dengan
warna lawar yang lain. Hal ini dapat disebabkan oleh bahan dan bumbu
yang digunakan.

Pada lawar 6 aroma yang timbul kurang memiliki ciri khas aroma
lawar. Bahan-bahan yang digunakan sedikit overcook sehingga dapat
menimbulkan aroma yang berbeda dan bumbu yang dimasukkan dominan
memberikan aroma terasi yang menyengat sehingga aroma bumbu genep
yang ingin ditonjolkan tidak muncul.

4.2.3 Uji Tekstur


Hasil rata-rata uji tekstur lawar masing-masing kelompok 1, 2, 3, 4,
5, 6 adalah sebesar 4,41, 4,41, 3,75, 4,41, 4,0 dan 2,41. Dari hasil ini dapat
dilihat bahwa perbedaan tekstur antara lawar 1 sampai dengan lawar 6
memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Dikarenakan tekstur yang
didapapatkan pada lawar 3 agak tidak disukai dan pada lawar 6 tidak
disukai. Hal ini dapat disebabkan pada saat proses perebusan bahan-bahan
lawar ada yang terlalu matang dan pada saat pemotongan bahan kurang

16
merata sehingga teksturnya ada yang lembek dan ada juga yang masih
keras dibandingkan dengan tekstur lawar pada umumnya yaitu agak keras.
Pada lawar kelompok 6 terdapat penambahan sedikit kuah kaldu
ayam sehingga teksturnya menjadi lebih lembek dari lawar pada
umumnya.

4.2.4 Uji Rasa


Hasil rata-rata uji rasa lawar masing-masing kelompok 1, 2, 3, 4, 5,
6 adalah sebesar 4,16, 4,66, 3,41, 4,75, 4,66 dan 2,58. Pada uji rasa lawar
terjadi juga perbedaan yang sangat signifikan antara kelompok 3 dan
kelompok 6 dengan kelompok-kelompok yang lain. Hal ini dapat
disebabkan pada saat pembuatan lawar, pencampuran bumbu-bumbu pada
saat proses pengolahan kurang merata dan takarannya ada yang berlebih
yang menjadikan lawar kelompok 3 dan kelompok 6 kurang disukai.
Khusus pada lawar kelompok 6 rasa terasinya sangat kuat sehingga
rasanya sedikit menyimpang dari lawar pada umumnya.

4.2.5 Uji Penerimaan Keseluruhan


Dari rata-rata uji penerimaan keseluruhan lawar yang paling enak
menurut para panelis adalah lawar kelompok 4 dengan nilai 4,75 dan yang
paling tidak disukai adalah lawar kelompok 6 dengan nilai 2,58. Hal ini
disebabkan dari uji empat parameter sebelumnya, yakni warna, aroma,
rasa, dan tekstur kelompok 4 konstan mendapatkan nilai rata-rata di atas 4.
Dari segi penerimaan keseluruhan lawar kelompok 4 memang
sudah memenuhi kriteria lawar pada umumnya. Dan dari segi rasa lawar
kelompok 6 juga cukup enak dan daging ayamnya juga terasa saat
dikunyah. Sedangkan pada kelompok 6 memang dari uji empat parameter
sebelumnya rata-rata nilainya sangat tidak disukai karena dari segi aroma
sangat menyimpang dari lawar pada umumnya dikarenakan aroma
terasinya sangat kuat dan mungkin pada saat pengolahan lawarnya terasi
dimasukkan cukup banyak sehingga menimbulkan rasa lawar dengan rasa
terasi yang sangat kuat. Dari segi warna juga lawar ini sangat berbeda dari
kelompok lain karena tidak terlalu berwarna kuning dikarenakan pada

17
bumbunya kandungan kunyitnya mungkin terlalu sedikit sehingga warna
kuningnya tidak terlalu terlihat. Dan untuk lawar kelompok 1, 2, 3, dan 5
rata-rata penerimaan secara keseluurhannya relatif sama dan dari segi rasa,
aroma dan tekstur tidak terlalu berbeda jauh pula.

18
V. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan percobaan lawa ini, kelompok kami menyimpulkan


bahwa :

1. Dari 5 parameter pengujian lawar, yaitu uji warna, aroma, tekstur, rasa,
dan penerimaan secara keseluruhan didapatkan lawar yang paling disukai,
yaitu lawar kelompok 4, sedangkan kurang disukai adalah lawar kelompok
6.

19
DAFTAR PUSTAKA

Suter, I Ketut, dkk. 2010. Pangan Tradisional Bali. Bali: Pusat Kajian Makanan
Tradisional Lembaga Penelitian Universitas Udayana.

20