Anda di halaman 1dari 6

Inovasi Perkuliahan Sejarah Sastra Indonesia

dengan Menggunakan Metode Diskusi Kelompok


Model Kepala Bernomor

Yenni Hayati

Abstract: To make the class activities effective, creative and fun innovation in teaching and learning
process is required. One innovation that can be done is the use of numbered heads in a group
discussion model. This method allows students to be actively and creatively involved in the activities,
so the teaching process can be more interesting for students. This method also causes the students
more responsible in doing the task in groups.

Key words: Innovation, lecture, numbered head together

PENDAHULUAN Beberapa hal yang harus dikuasai mahasiswa yang


berkaitan dengan materi ini adalah di antaranya
Salah Satu matakuliah wajib mahasiswa kecendrungan struktur, kecendrungan tematis, dan
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah kecendrungan stilistis. Untuk poin yang pertama
khususnya pada prodi Pendidikan Bahasa dan mahasiswa bisa mendapatkan dengan membaca
Sastra Indonesia dan prodi Sastra Indonesia materi dan mendengarkan ceramah dari dosen,
adalah matakuliah Sejarah Sastra Indonesia tetapi untuk poin yang kedua mahasiswa tidak bisa
(selanjutnya disebut SSI), dengan bobot 3 SKS. hanya mendengarkan ceramah dari dosen saja, atau
Matakuliah ini merupakan matakuliah yang tidak hanya dengan membaca novel saja, karena hal
bersyarat, karena itu bisa diambil kapan saja oleh tersebut menuntut analisa yang lebih tajam dari
mahasiswa. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia mahasiswa tersebut.
dan daerah menawarkan waktu pengambilan Secara jujur harus diakui, pembelajaran
matakuliah yang berbeda untuk dua prodi tersebut. Sejarah Sastra Indonesia belum berlangsung seperti
Untuk prodi Sastra Indonesia, matakuliah ini yang diharapkan. Dosen cenderung menggunakan
diberikan pada semester ganjil, dan untuk prodi teknik pembelajaran yang bercorak teoretis dan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, hafalan sehingga kegiatan pembelajaran
matakuliah ini diberikan pada semester genap. berlangsung kaku, monoton, dan membosankan.
Matakuliah Sejarah Sastra Indonesia ini Matakuliah ini belum mampu melekat pada diri
berisikan materi tentang perkembangan karya sastra mahasiswa sebagai sesuatu yang rasional, kognitif,
di Indonesia dari periode 1900 (angkatan Balai emosional, dan afektif. Untuk itu diterapkan suatu
Pustaka) sampai kepada periode 2000-an (sastra metode baru yang memungkinkan keterlibatan
Indonesia mutakhir). Ada dua poin materi yang mahasiswa secara aktif dan bermakna. Salah satu
harus dikuasai mahasiswa berkaitan dengan metode yang sering diterapkan adalah metode
perkembangan tersebut yaitu: Pertama, materi yang diskusi kelompok.
berkaitan dengan perkembangan karya sastra Penggunaan metode diskusi kelompok pun
(prosa, sajak, dan drama), aliran sastra, teori sastra, belum mampu melibatkan setiap mahasiswa ke
dan pengaruh sosial budaya dan politik terhadap dalam kegiatan pembelajaran secara aktif, kreatif,
karya sastra. Kedua, dalam mata kuliah ini juga efektif, dan menyenangkan. Hanya mahasiswa
diperkenalkan beberapa karya penting yang tertentu yang terlibat dalam proses diskusi secara
menjadi ikon dari masing-masing periode. dialogis dan interaktif. Akibatnya, materi

Yenni Hayati adalah dosen Fakultas Bahasa Sastra Seni (FBSS) UNP Kampus FBSS UNP Jl. Prof. Dr. Hamka Air Tawar Padang 25131
JURNAL BAHASA DAN SENI Vol 11 No. 1 Tahun 2010 (56 - 61)

perkuliahan SSI belum mampu menjadi dengan metode ceramah, misalnya, yang selama
matakuliah yang disenangi dan dirindukan oleh ini mendominasi kegiatan perkuliahan. Melalui
mahasiswa. Imbas lebih jauh dari kondisi metode ini, kegiatan perkuliahan tidak lagi
perkuliahan semacam itu adalah kegagalan berpusat pada dosen. Mahasiswalah yang lebih
mahasiswa dalam mengembangkan pengetahuan aktif terlibat dalam kegiatan perkuliahan,
tentang sejarah sastra, dan juga pengetahuan sedangkan dosen hanya memosisikan diri sebagai
tentang perkembangan karya, aliran, dan teori fasilitator perkuliahan.
sastra yang mengakibatkan mahasiswa Menurut Suryosubroto dalam Trianto
menghadapi kendala dalam memahami (2010:123), bahwa diskusi oleh guru digunakan
perkuliahan selanjutnya yang berkaitan dengan apabila hendak: (1) memanfaatkan berbagai
kesusasteraan. kemampuan yang ada (dimiliki) oleh siswa; (2)
Metode diskusi kelompok yang digunakan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
selama ini masih mengandung dua kelemahan menyalurkan kemampuan masing-masing; (3)
yang cukup mendasar, yaitu: (1) belum semua memperoleh umpan balik daripada siswa tentang
mahasiswa terlibat secara aktif dalam kegiatan apakah tujuan yang telah dirumuskan telah
diskusi kelompok; dan (2 )mahasiswa masih tercapai; (4) membantu para siswa belajar berfikir
mengalami kesulitan mengemukakan pendapat teoritis dan praktis lewat berbagai mata pelajaran
dan memberikan tanggapan terhadap pendapat dan kegiatan sekolah; (5) membantu para siswa
teman sekelasnya. Untuk menjawab permasalahan belajar menilai kemampuan dan peranan dir
tersebut, penulis mengusulkan sebuah inovasi sendiri msupun temantemannya; (6) membantu
pembelajaran dengan menggunakan metode para siswa menyadari dan mampu merumuskan
diskusi kelompok model kepala bernomor. berbagai masalah yang dilihat baik dari
Alat bantu yang digunakan dalam metode pengalaman sendiri maupun dari pelajaran
tersebut berupa kartu bernomor dari kertas HVS sekolah; dan (7) mengembangkan motivasi untuk
yang dipotong-potong dengan ukuran 5 cm x 5 cm belajar lebih lanjut. Meskipun pendapat tersebut
agar mudah digulung. Jumlah kartu bernomor dikemukakan untuk siswa sekolah menengah,
disesuaikan jumlah mahasiswa. Dalam kartu namun pendapat tersebut juga bisa
dituliskan dua angka yang dipisahkan dengan diimplementasikan untuk perkuliahan di
tanda titik. Angka depan merupakan nomor perguruan tinggi.
kelompok, sedangkan angka kedua merupakan Berdasarkam uraian tersebut pemamfaatan
nomor anggota kelompok. diskusi oleh dosen mempunyai arti untuk
memahami apa yang ada di dalam pemikiran
RUMUSAN MASALAH mahasiswa dan bagaimana memproses gagasan
dan informasi yag diajarkan melalui komunikasi
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada yang terjadi selama perkuliahan berlangsung baik
bagian pendahuluan, maka masalah yang akan antar mahasiswa maupun komunikasi dosen
dibahas adalah: Bagaimanakah proses penerapan dengan mahasiswa. Sehingga diskusi
inovasi metode diskusi kelompok model kepala menyediakan tatanan sosial di mana dosen dapat
bernomor pada mata kuliah Sejarah Sastra membantu mahasiswa menganalisis proses
Indonesia?. Sejalan dengan rumusan masalah berfikir mereka.
tersebut, tujuan penulisan ini adalah Menurut Zaini, dkk. (2004:123-124),
mendeskripsikan proses penerapan inovasi metode keunggulan yang dimiliki metode diskusi
diskusi kelompok model kepala bernomor pada kelompok, di antaranya: (1) membantu siswa
mata kuliah Sejarah sastra Indonesia. belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu
subjek bahasan dengan memberikan kebebasan
METODE DISKUSI KELOMPOK DENGAN siswa dalam praktik berpikir; (2) membantu siswa
KEPALA BENOMOR mengevaluasi logika dan bukti-bukti bagi posisi
dirinya atau posisi yang lain; (3) memberikan
Berdasarkan pengalaman empirik di kesempatan kepada siswa untuk memformulasikan
lapangan, penggunaan metode diskusi kelompok penerapan suatu prinsip; (4) membantu siswa
memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan menyadari akan suatu problem dan

57
Inovasi Perkuliahan Sejarah Sastra Indonesia dengan Menggunakan Metode Diskusi Kelompok Model Kepala Bernomor
(Yenni Hayati)

memformulasikannya dengan menggunakan teori konstruktivistik adalah ide bahwa mahasiswa


informasi yang diperoleh dari bacaan atau harus menemukan dan mentransformasikan suatu
ceramah; (5) menggunakan bahan-bahan dari informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila
anggota lain dalam kelompoknya; dan (6) dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka
mengembangkan motivasi untuk belajar yang sendiri.
lebih baik Berdasarkan pengalaman penulis dalam
Inovasi metode diskusi kelompok yang menerapkan metode diskusi kelompok pada
diharapkan dapat menciptakan suasana prkuliahan perkulahan SSI dan pada matakuliah yang lain,
yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan metode ini kurang efektif. Hal tersebut disebabkan
untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah karena ada sebagian mahasiswa yang hanya
metode diskusi kelompok model kepala bernomor. mengandalkan temannya sesama anggota
Landasan filosofis penggunaan metode diskusi kelompok untuk mempertanggung jawabkan tugas
kelompok model kepala bernomor dalam kegiatan mereka, sementara dirinya tidak mau tahu dengan
perkuliahan adalah metode konstruktivistik. tugas tersebut. Akibatnya, hanya beberapa
Asumsi sentral metode ini adalah bahwa belajar mahasiswa saja yang mengerti tentang materi
itu menemukan. Meskipun dosen menyampaikan yang didiskusikan, dan mahasiswa yang tidak aktif
sesuatu kepada mahasiswa, mereka melakukan tersebut kurang mengerti dan bahkan ada yang
proses mental atau kerja otak atas informasi yang tidak mengerti sama sekali dengan topik yang
diterima, sehingga informasi tersebut masuk ke sedang didiskusikan. Bertolak dari hal itu penulis
dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik mencobakan metode baru yang inovatif yaitu
dimulai dari masalah untuk selanjutnya diskusi kelompok dengan kepala bernomor, yang
berdasarkan bantuan dosen, mahasiswa dapat merupakan bagian dari pembelajaran kooperratif
menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah (cooverative learning)
pemecahan masalah tersebut. Ada beberapa model diskusi kelompok
Metode konstruktivistik didasarkan pada berbasis pembelajaran kooperatif (Depdiknas
teori belajar kognitif yang menekankan pada 2005:41-42), antara lain sebagai berikut.
pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif, 1. Student Teams-Achievement Divisions
strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan (STAD) yang menggunakan langkah
keterampilan metakognitif lainnya (belajar pembelajaran di kelas dengan menempatkan
bagaimana seharusnya belajar). Pembelajaran siswa ke dalam tim campuran berdasarkan
yang bernaung dalam metode konstruktivistik prestasi, jenis kelamin, dan suku.
adalah kooperatif. Pembelajaran kooperatif 2. Team-Assisted Individualization (TAI) yang
muncul dari konsep bahwa mahasiswa akan lebih menekankan pengajaran individual
mudah menemukan dan memahami konsep yang meskipun tetap menggunakan pola kooperatif.
sulit jika mereka saling berdiskusi dengan 3. Cooperative Integrated Reading and
temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam Composition (CIRC) yang digunakan untuk
kelompok untuk saling membantu memecahkan pembelajaran membaca dan menulis tingkat
masalah-masalah yang kompleks (Depdiknas tinggi.
2005:39). 4. Jigsaw yang mengelompokkan siswa ke
Zahorik (Depdiknas 2004:22) juga dalam tim beranggotakan enam orang yang
menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh memelajari materi akademik yang telah
manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya dibagi-bagi menjadi beberapa subbab.
diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) 5. Learning together (belajar bersama) yang
dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan melibatkan siswa untuk bekerja dalam
bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kelompok beranggotakan empat atau lima
kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. siswa heterogen untuk menangani tugas
Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu tertentu.
dan memberi makna melalui pengalaman nyata. 6. Group Investigation (penelitian kelompok)
Mahasiswa perlu dibiasakan untuk memecahkan berupa pembelajaran kooperatif yang
masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi bercirikan penemuan.
dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Esensi dari

58
JURNAL BAHASA DAN SENI Vol 11 No. 1 Tahun 2010 (56 - 61)

Berdasarkan permasalahan yang ada dalam model kepala bernomor. Metode ini termasuk ke
pembelajaran SSI di jurusan Bahasa dan Sastra dalam jenis metode diskusi kelompok berbasis
Indonesia dan Daerah FBS UNP, khususnya pembelajaran kooperatif yang lebih menekankan
dalam pembelajaran materi Karya Penting pengajaran individual meskipun tetap
Masing-masing Periode Perkembangan (struktur, menggunakan pola kooperatif (Team-Assisted
stilistis, dan tematis) memerlukan kemampuan Individualization).
menanggapi pembacaan karya sastra tersebut. Dalam praktiknya, metode diskusi
Maka jenis metode diskusi kelompok yang diduga kelompok model kepala bernomor didukung oleh
merupakan metode yang tepat untuk memecahkan penggunaan alat bantu berupa nomor kepala yang
masalah tersebut adalah Team-Assisted terbuat dari kertas HVS berukuran 5 cm x 5 cm.
Individualization (TAI). Meskipun tetap Penggunaan kertas HVS ini dimaksudkan agar
menggunakan pola kooperatif, metode ini lebih mudah digulung sehingga mahasiswa tidak dapat
menekankan pengajaran individual. Metode ini melihat nomor kepala yang akan dipilih.
diimplementasikan dengan menggunakan model Kompetensi yang harus dikuasai oleh
kepala bernomor untuk memberikan kesempatan mahasiswa lebih ditekankan pada kompetensi
dan keleluasaan kepada mahasiswa secara individual meskipun dilakukan dalam bentuk
individual untuk menumbuhkembangkan potensi diskusi kelompok. Penggunaan kartu kepala
dirinya. bernomor dimaksudkan sebagai upaya untuk
membangkitkan motivasi mahasiswa secara
MODEL PEMBELAJARAN individual dalam mengemukakan pendapat atau
tanggapan secara lisan. Dengan menggunakan
Tujuan Pembelajaran (Kompetensi yang metode ini, mahasiswa tidak bisa lagi bergantung
Diharapkan) kepada sesama anggota. Setiap anggota memiliki
Ada dua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap setiap
melalui penggunaan metode diskusi kelompok permasalahan yang dibahas dalam forum diskusi.
model kepala bernomor, yaitu tujuan pem- Dengan cara demikian, setiap anggota akan selalu
belajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus. siap jika sewaktu-waktu ditunjuk oleh dosen
Tujuan Pembelajaran Umum: berdasarkan nomor kepala yang dimilikinya.
a. Mahasiswa terlibat secara aktif dalam kegiatan
KEGIATAN PEMBELAJARAN
diskusi kelompok.
b. Mahasiswa mampu mengemukakan pendapat Berdasarkan hasil pengamatan, mahasiswa
dan memberikan tanggapan terhadap pendapat jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
teman sekelasnya. pada semester I dan II memiliki pengetahuan yang
Tujuan Pembelajaran Khusus: terbatas tentang karya sasta. Hal itu menyebabkan
mereka kesulitan dalam mengikuti proses
a. Mahasiswa mampu mengungkapkan struktur
perkuliahan SSI, karena dalam perkuliahan SSI
karya sastra pada perkembangan masing-
menuntut mahasiswa mampu membedakan
masing periode. Contoh; struktur novel Siti
karakteristik karya sastra pada masing-masing
Nurbaya yang lahir pada Perode 1920-an periode.
disertai data tekstual. Berdasarkan hasil refleksi awal, rendahnya
b. Mahasiswa mampu menjelaskan karakteristik
tingkat kemampuan mahasiswa tersebut
masing-masing periode berdasarkan karya
disebabkan oleh kurangnya bahan bacaan sastra
sastra periode tersebut.
mereka dan kurang kreatifnya dosen dalam
c. Mahasiswa mampu membedakan stilistis dan
melakukan inovasi pembelajaran, khususnya
tematis periode tersebut dengan peiode lain dalam memilih metode pembelajaran. Oleh karena
berdasarkan karya sastranya. itu, pada semester ini dicobakan penggunaan
Metode Pembelajaran metode diskusi kelompok model kepala bernomor
pada mahasiswa kelas Non-Kependidikan (Prodi
Sesuai dengan inovasi pembelajaran yang Sastra Indonesia) Jurusan Bahasa dan Sastra
diusulkan, disediakan metode diskusi kelompok Indonesia dan Daerah FBS UNP,

59
Inovasi Perkuliahan Sejarah Sastra Indonesia dengan Menggunakan Metode Diskusi Kelompok Model Kepala Bernomor
(Yenni Hayati)

Adapun langkah-langkah kegiatan yang e. Dosen menunjuk mahasiswa bernomor tertentu


dilakukan antara lain sebagai berikut. pada setiap kelompok untuk menyampaikan
hasil diskusi kelompoknya.
Persiapan f. Anggota kelompok memberikan tanggapan
Ada dua hal yang dilakukan dalam tahap terhadap hasil diskusi kelompok lain dengan
persiapan, antara lain sebagai berikut. memberikan alasan yang logis. Anggota
a. Pembuatan Kartu Kepala Bernomor: kartu ini kelompok yang ditunjuk untuk menyampaikan
digunakan sebagai alat bantu untuk memotivasi hasil diskusi kelompok atau anggota kelompok
dan melatih keberanian dan tanggung jawab yang lain diperbolehkan untuk menanggapi
siswa secara individual. balik terhadap tanggapan kelompok lain.
b. Penyusunan Instrumen Penilaian: (1) lembar g. Mahasiswa dibawah bimbingan dosen
tugas diskusi kelompok; (2) lembar penilaian menyimpulkan hasil diskusi dan memberikan
sikap (afektif); (3) rubrik penilaian; dan (4) penilaian terhadap kelompok yang jawabannya
daftar nilai. paling bagus. Dosen meminta mahasiswa yang
menjadi anggota kelompok terbaik untuk maju
Pelaksanaan Kegiatan ke depan kelas. Semua anggota kelompok yang
lain berdiri dan memberikan aplaus meriah
Langkah-langkah penggunaan metode diskusi
kepada anggota kelompok terbaik.
kelompok model kepala bernomor dalam
perkuliahan SSI dapat dideskripsikan berikut ini. h. Mahasiswa di bawah bimbingan dosen
a. Mahasiswa diberi waktu satu minggu untuk menyimpulkan hasil diskusi.
membaca novel yang sesuai dengan periode
yang sudah ditentukan (judul novel dan EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN
pengarangnya sudah dicantumkan dalam Ada dua jenis penilaian yang digunakan,
silabus), dan mencatat data tekstual yang yaitu penilaian proses dan penilaian hasil.
berkaitan dengan struktur novel. Sebagai Penilaian proses dilakukan selama kegiatan
contoh mahasiswa ditugaskan membaca novel diskusi kelompok berlangsung untuk menilai sikap
Siti Nurbaya yang merupakan karya sastra mahasiswa dalam mengikuti kegiatan pem-
periode 1920-an (angkatan Balai Pustaka). belajaran. Penilaian hasil dilakukan berdasarkan
Kepada mahasiswa diminta untuk unjuk kerja yang dilakukan mahasiswa ketika
mengidentifikasi unsur intrinsik dan ekstrinsik memaparkan hasil diskusi kelompok.
novel tersebut. Minggu berikutnya mahasiswa Dalam penilaian proses digunakan lembar
diminta mendiskusikan secara berkelompok penilaian sikap (afektif) yang terdiri dari aspek:
tentang hasil bacaannya terhadap novel Siti (1) kedisiplinan; (2) minat; (3) kerja sama; (4)
Nurbaya tersebut. keaktifan; dan (5) tanggung jawab. Dalam
b. Mahasiswa memilih gulungan kartu bernomor penilaian hasil digunakan rubrik penilaian untuk
yang disediakan dosen. mengetahui kompetensi mahasiswa dalam
c. Mahasiswa berkelompok sesuai dengan nomor menanggapi hasil diskusi. Ada beberapa aspek
depannya masing-masing. Mahasiswa yang dinilai, yaitu (1) kelancaran menyampaikan
bernomor 1 berkelompok dengan mahasiswa pendapat/tanggapan; (2) kejelasan vokal; (3)
nomor depan 1, dan seterusnya, hingga ketepatan intonasi; (4) ketepatan pilihan kata
terbentuk menjadi delapan kelompok. (diksi); (5) struktur kalimat (tuturan); (6) kontak
d. Setiap mahasiswa terlibat aktif dalam diskusi mata dengan pendengar; (7) ketepatan
kelompok untuk mengerjakan tugas sebagai mengungkapkan struktur novel disertai data
berikut: 1) mengungkapkan tokoh-tokoh tekstual; (8) kemampuan mengungkapkan
disertai data tekstual; 2) menjelaskan penggunaan bahasa dengan data yang mendukung;
kecendrungan penggunaan bahasa dengan data (9) kemampuan menjelaskan alur, latar cerita dan
yang mendukung; 3) menjelaskan tema dan amanat dengan data yang mendukung,
kecendrungan tema dan amanat dengan data dan (10) kemampuan menjelaskan karakteristik
yang mendukung; 4) menjelaskan karya pada periode tersebut, disertai dengan data
kecendrungan sudut pandang, dan alur disertai pendukung.
data teks yang mendukung.

60
JURNAL BAHASA DAN SENI Vol 11 No. 1 Tahun 2010 (56 - 61)

Dari hasil pengamatan tentang penggunaan 4. Kegiatan perkuliahan benar-benar berpusat


metode diskusi kelompok dengan kepala pada mahasiswa sehingga dapat menemukan
bernomor ini didapatkan bahwa mahasiswa yang jawaban sendiri (inkuiri) terhadap
masuk dalam perkulahan SSI telibat secara aktif permasalahan yang didiskusikan. Dosen
dalam perkuliahan. Tidak ada lagi mahasiswa hanya sebatas menjadi fasilitator yang
yang hanya mengandalkan teman dalam membantu mahasiswa dalam
mengerjakan tugas kelompok mereka. Rata-rata menumbuhkembangkan potensi dirinya.
mahasiswa memahami apa yang mereka
lakukakan dan mereka mampu menjawap DAFTAR RUJUKAN
pertanyaan yang diajukan dosen, baik pada saat
kuliah berlangsung, maupun di saat ujian tengah Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004: Standar
semester. Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia. Jakarta: Depdiknas.
PENUTUP -. 2004. Kurikulum 2004: Naskah
Akademik Mata pelajaran Bahasa
Keunggulan dari pembaharuan metode Indonesia. Jakarta: Depdiknas.
pembelajaran diskusi kelompok model kepala
bernomor, antara lain sebagai berikut. -. 2005. Materi Pelatihan
1. Praktis dan mudah dilaksanakan oleh setiap Terintegrasi: Bahasa dan Sastra Indonesia.
dosen karena alat bantunya mudah diperoleh Jakarta: Direktorat PLP, Direktorat Jenderal
dan mudah diterapkan dalam kegiatan Dikdasmen, Depdiknas.
pembelajaran. Sawali, dkk. 2005. Bahasa dan Sastra Indonesia:
2. Cukup efektif untuk menumbuhkembangkan untuk SMP/MTs Kelas VII. Yogyakarta: PT
kedisplinan, minat, kerjasama, keaktifan, dan Citra Aji Parama.
tanggung jawab mahasiswa karena metode Trianto.2010. Mendesain Model Pembelajaran
diskusi kelompok model kepala bernomor Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana
menekankan kemampuan mahasiswa secara Prenada Media Group.
individual meskipun dilaksanakan secara
berkelompok. Zaini, Hisyam, dkk. 2004. Strategi Pembelajaran
3. Cukup efektif untuk menumbuhkan budaya Aktif. Yogyakarta: CSTD.
kompetetif di kalangan mahasiswa karena
secara kejiwaan mahasiswa memiliki motivasi
yang tinggi untuk tampil sebaik-baiknya
secara individual dan memiliki keterlibatan
emosional untuk menjaga solidaritas
kelompok ketika menyampaikan hasil diskusi.

61