Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PERSAMAAN NON LINEAR

Persamaan non linear diaplikasikan untuk menentukan akar persamaan suatu


fungsi non linear sehingga f(x) = 0. Volume gas riil dapat ditentukan dari persamaan
seperti BWR menggunakan metoda seperti metoda Bisection, Regula Falsi , Newton dan
Secant.

1.1. METODA BISECTION

Metoda bisection dikenal juta sebagai metoda interval halving. Metoda ini

dipergunakan untuk mendapatkan akar dari suatu persamaan non linear, misalnya f(x) = e x -

3 x = 0. Nilai akar yang baru dihitung sebagai nilai rata-rata dari dua nilai akar yang

diberikan. Metoda ini dapat digunakan apabila nilai dua fungsi yang dihitung pertama kali

memiliki tanda yang berlawanan dengan demikian akar yang dicari berada diantara nilai-

nilai akar yang ditetapkan pertama kali. Metoda bisection dimulai dengan menghitung f(x 1)

dan f(x2) dengan harga awal x1 dan x2 yang diberikan. Apabila harga f(x1) dan f(x2)

berlawanan tanda, maka akar persamaan tersebut akan terletak diantara x 1 dan x2, ini dapat

dilihat pada Gambar 1.1. Selanjutnya perhitungan dilanjutkan untuk menentukan f(x 3)

dimana x3 = (x1+x2)/2. Apabila f(x3) dan f(x1) berlawanan tanda maka harga x3 diset

menjadi x2, tetapi apabila f(x3) dan f(x2) berlawanan tanda maka harga x3 menjadi x1. Iterasi

perhitungan diulangi sampai harga |x1 - x2|/2 < (harga toleransi yang diberikan) atau harga

f(x3) < (harga toleransi yang diberikan) dan akar persamaan (r) didapat apabila salah satu

kriteria ini terpenuhi. Dari tabel 1.1 terlihat bahwa pada x 3 = 1.73025 f(x3) = -0.00000.

Harga x3 ini merupakan akar persamaan yang dibutuhkan.


Gambar 1.1. Metoda Bisection

Algoritma metoda Bisection digunakan sebagai langkah komputasi sebagai berikut:

DO XA XB / 0,5 ( = stopping criteria)

XC = (XA + XB)/2

IF f(XC) berlawanan tanda dengan f (XA) THEN

XB = XC

ELSE

XA = XC

ENDIF

CONTINUE
Contoh penentuan akar persamaan f(x) = x3 + x2 - 3x - 3 = 0 dengan metoda bisection

ditunjukkan pada Tabel 1.1 (Gerald dan Wheatley, 1985).

Tabel 1.1. Penentuan Akar Persamaan f(x) = x3+x2-3x-3 = 0

Nomor X1 x2 x3 f(x1) f(x2) f(x3)


Iterasi
1. 1.0 2.0 1.5 -4.0 3.0 -1.87500
2. 1.5 2.0 1.75 -1.875 3.0 0.17182
3. 1.5 1.75 1.625 -1.875 0.17182 -0.94335
4. 1.625 1.75 1.6875 -0.94335 0.17182 -0.40942
5. 1.6875 1.75 1.71875 -0.40942 0.17182 -0.12478
6. 1.71875 1.75 1.73437 -0.12478 0.17182 -0.02198
7. 1.71875 1.73437 1.72656

Pada iterasi 13 sebagaimana yang ditunjukkan pada output program, diperoleh akar

persamaan x = 1,7321 yang telah memenuhi f(x) = 0,000046015.

Program FORTRAN untuk menentuan akar persamaan dengan metoda Bisection


(Gerald dan Wheatley, 1985).

C PROGRAM UTAMA UNTUK SUBROUTINE BISEC


C TUJUAN : MENENTUKAN AKAR DARI SUATU FUNGSI F(X) = 0
C MENGGUNAKAN METODA BISECTION
C CONTOH : MENENTUKAN AKAR DARI FUNGSI
C 3 2
C F(X) = X + X - 3 X - 3 = 0
C ------------------------------------------------------------

REAL FCN,X1,X2,XR,XTOL,FTOL
INTEGER I,NLIM
EXTERNAL FCN

OPEN (UNIT=6,FILE='BISEC.OUT',STATUS ='NEW')


DATA X1,X2,XTOL,FTOL,I,NLIM/1.0,2.0,0.0001,0.00001,0,50/
CALL BISEC(X1,X2,XR,XTOL,FTOL,NLIM,I,FCN)

STOP

END

C ------------------------------------------------------------
REAL FUNCTION FCN (X)
REAL X
FCN = X**3 + X**2 - 3.0*X - 3.0
RETURN
END

C ------------------------------------------------------------
SUBROUTINE BISEC (X1,X2,XR,XTOL,FTOL,NLIM,I,FCN)
C PARAMETER :
C FCN ADALAH FUNGSI MENGHITUNG F(X)
C X1,X2 ADALAH HARGA AWAL DARI X
C XR ADALAH HARGA AKAR YANG DIKEMBALIKAN KE
C PROGRAM UTAMA
C XTOL,FTOL ADALAH HARGA TOLERANSI UNTUK X DAN F
C NLIM ADALAH BATASAN JUMLAH ITERASI
C I ADALAH SINYAL PEMUTUSAN RUTIN
C I = 1 TOLERANSI TERCAPAI UNTUK HARGA X
C I = 2 TOLERANSI TERCAPAI UNTUK HARGA F(X)
C I = -1 NLIM TERCAPAI
C I = -2 F(X1) DAN F(X2) TIDAK BERLAWANAN TANDA
C ------------------------------------------------------------

REAL FCN,X1,X2,XR,XTOL,FTOL
INTEGER NLIM,I,J
REAL F1,F2,FR,XERR
C PERIKSA APAKAH F(X1) DAN F(X2) BERBEDA TANDA
F1 = FCN(X1)
F2 = FCN(X2)
IF (F1*F2.GT.0.0) THEN
I = -2
WRITE(6,201)
RETURN
ENDIF
C ----------------------------------------------------
C HITUNG AKAR

XR = (X1 + X2) / 2.0


FR = FCN(XR)
XERR = ABS(X1 - X2) / 2.
IF (I.EQ.0) THEN
WRITE(6,199) J,XR,FR
ENDIF

C -------------------------------------------------------
C PERIKSA KONVERGENSI AKAR
IF (XERR.LE.XTOL) THEN
I=1
WRITE (6,202) J,XR,FR
RETURN
ENDIF

IF (ABS(FR).LE.FTOL) THEN
I=2
WRITE (6,203) J,XR,FR
RETURN
ENDIF

C ------------------------------------------------
IF (FR*F1.GT.0.0) THE
X1 = XR
F1 = FR
ELSE
X2 = XR
F2 = FR
ENDIF

20 CONTINUE

C ------------------------------------------------
I = -1
WRITE (6,200) NLIM, XR,FR
RETURN

199 FORMAT (' PADA ITERASI ',I3,3X,' X = ',E12.5,4X,


+ ' F(X) = ',E12.5)

200 FORMAT (/' TOLERANCE TIDAK TERCAPAI SETELAH ',I4,


+ ' ITERASI X =',E12.5,' F(X) = ',E12.5)

201 FORMAT (/' FUNGSI MEMILIKI TANDA SAMA PADA X1 DAN


+ X2 ')

202 FORMAT (/' TOLERANSI TERCAPAI DALAM ',I4,


+ ' ITERASI X = ',E12.5,' F(X) = ',E12.5)

203 FORMAT (/' F TOLERANSI TERCAPAI DALAM ',I4,


+ ' ITERASI X = ',E12.5,' F(X) = ',E12.5)

END

Output Hasil Penentuan Akar f(x) = x3 + x2 - 3 x - 3 = 0 dengan Metoda Bisection

PADA ITERASI 1 X= .15000E+01 F(X) = -.18750E+01


PADA ITERASI 2 X= .17500E+01 F(X) = .17188E+00
PADA ITERASI 3 X= .16250E+01 F(X) = -.94336E+00
PADA ITERASI 4 X= .16875E+01 F(X) = -.40942E+00
PADA ITERASI 5 X= .17188E+01 F(X) = -.12479E+00
PADA ITERASI 6 X= .17344E+01 F(X) = .22030E-01
PADA ITERASI 7 X= .17266E+01 F(X) = -.51755E-01
PADA ITERASI 8 X= .17305E+01 F(X) = -.14957E-01
PADA ITERASI 9 X= .17324E+01 F(X) = .35129E-02
PADA ITERASI 10 X= .17314E+01 F(X) = -.57282E-02
PADA ITERASI 11 X= .17319E+01 F(X) = -.11094E-02
PADA ITERASI 12 X= .17322E+01 F(X) = .12012E-02
PADA ITERASI 13 X= .17321E+01 F(X) = .46015E-04
PADA ITERASI 14 X= .17320E+01 F(X) = -.53167E-03

TOLERANSI TERCAPAI DALAM 14 ITERASI X = .17320E+01


F(X) = -.53167E-03

1.2. METODA REGULA FALSI

Metoda regula falsi disebut juga metoda interpolasi linear. Metoda ini
dipergunakan untuk menentukan akar dari suatu fungsi dengan mengasumsi bahwa fungsi

tersebut linear pada interval (x1,x2) dimana f(x1) dan f(x2) berlawanan tanda seperti yang

diperlihatkan pada gambar 1.2. Harga x3 dapat ditentukan dengan persamaan :

f(x2 )
x3 x2 x2 x1 (1.2.1)
f(x2 ) f(x1 )

Selanjutnya ditentukan harga f(x3), dan bila f(x3) berlawanan tanda terhadap f(x1), maka

harga x3 diset menjadi x2, dan apabila f(x3) berlawanan tanda terhadap f(x2), maka harga x3

diset menjadi x1. Iterasi perhitungan diteruskan sampai harga |x1 - x2| / 2 < harga toleransi

atau |f(x3)| < harga toleransi yang ditetapkan.

f(x)

f(x2)

f(x2) f(x1)
x1 x3 x2 x

x2 x3

x2 x1

Gambar 1.2 Metoda Regula Falsi

Algoritma Metoda Regula Falsi

DO WHILE x2 x1 tolerance value 1, and


f(x3) tolerance value 2,

Set x3 = x2 f(x2) (x2 x1)/ (f(x2) f(x1)

IF f(x3) of opposite sign to f (x1):

Set x2 = x3.

ELSE Set x1 = x3.

ENDIF.

ENDO.

Tabel 1.2 memperlihatkan hasil yang diperoleh dengan metoda ini untuk f(x) = x 3 +

x2 - 3x - 3 = 0.

Tabel 1.2. Hasil Perhitungan untuk f(x) = x3+x2-3x-3 = 0

Nomor x1 x2 X3 f(x1) f(x2) f(x3)


Iterasi
1. 1.0 2.0 1.57142 -4.0 3.0 -1.36449
2. 1.57142 2.0 1.70540 -1.36449 3.0 -0.24784
3. 1.70540 2.0 1.72788 -0.24784 3.0 -0.03936
4. 1.72788 2.0 1.73140 -0.03936 3.0 -0.00615
5. 1.73140 2.0 1.73194

Metoda regula falsi lebih cepat mencapai konvergen bila dibandingkan dengan metoda

bisection. Akurasi yang sama dijumpai setelah 3 iterasi untuk metoda ini, sedangkan pada

metoda bisection dijumpai setelah 7 iterasi. Kecepatan konvergen pada metoda regula falsi

tergantung pada selisih fungsi terhadap garis lurus pada suatu interval.

Program Penentuan Akar Persamaan dengan Metoda Regula Falsi

C PROGRAM UTAMA
C PENENTUAN AKAR PERSAMAAN NON LINEAR MENGGUNAKAN
C METODA REGULA FALSI
C
C CONTOH : TENTUKAN AKAR PERSAMAAN
C 3 2
C F(X) = X + X - 3 X - 3 = 0
C ----------------------------------------------------------

REAL X1,X2,XTOL,FTOL
INTEGER I,NLIM
EXTERNAL FCN

OPEN (UNIT = 6,FILE='REGULA.OUT',STATUS='NEW')

DATA X1,X2,XTOL,FTOL,I,NLIM/1.0,2.0,0.0001,0.00001,0,50/

CALL REGFAL(X1,X2,XR,XTOL,FTOL,NLIM,I,FCN)

STOP
END

C ----------------------------------------------------------
REAL FUNCTION FCN(X)
REAL X
FCN = X**3 + X**2 - 3.0*X - 3.0
RETURN
END
C ----------------------------------------------------------

SUBROUTINE REGFAL(X1,X2,XR,XTOL,FTOL,NLIM,I,FCN)
C
C SUBROUTINE REGFAL MENENTUKAN AKAR SUATU FUNGSI,
C F(X) DENGAN INTERPOLASI LINEAR
C PARAMETER ADALAH
C X1,X2 = HARGA AWAL X
C XR = HARGA AKAR YANG DIKEMBALIKAN KE PROGRAM
C UTAMA
C XTOL = HARGA TOLERANSI UNTUK X
C FTOL = HARGA TOLERANSI UNTUK F
C NLIM = BATASAN JUMLAH ITERASI
C I = 1 = TOLERANSI HARGA X DIJUMPAI
C I = 2 = TOLERANSI HARGA F(X) DIJUMPAI
C I = -1 = NLIM SUDAH TERCAPAI
C I = -2 = F(X1) TIDAK BERLAWANAN TANDA DENGAN F(X2)
C ------------------------------------------------------------
REAL FCN,X1,X2,XR,XTOL,FTOL
INTEGER NLIM,I,J
REAL F1,F2,FR,XERR

C PERIKSA APAKAH F(X1) DAN F(X2) BERBEDA TANDA

F1 = FCN(X1)
F2 = FCN(X2)

IF (F1*F2 .GT. 0.0) THEN


I = -2
WRITE(6,201)
RETURN
ENDIF

C HITUNG AKAR DAN FUNGSI X

DO 20 J=1,NLIM
XR = X2 - F2*(X2-X1)/(F2-F1)
FR = FCN(XR)
XERR = ABS (X1 - X2)/2.0
IF (I.EQ.0) THEN
WRITE(6,199)J,XR,FR
ENDIF

C PERIKSA KRITERIA BERHENTI

IF (XERR.LE.XTOL) THEN
I=1
WRITE(6,202) J,XR,FR
RETURN
ENDIF
C
IF (ABS(FR).LE.FTOL) THEN
I=2
WRITE(6,203) J,XR,FR
RETURN
ENDIF

C SET X DAN F(X) BERIKUTNYA


IF (FR*F1 .GT. 0.0) THEN
X1 = XR
F1 = FR
ELSE
X2 = XR
F2 = FR
ENDIF
20 CONTINUE

C BATASAN HARGA ITERASI SUDAH TERCAPAI


I = -1
WRITE(6,200)NLIM,XR,FR
RETURN
199 FORMAT(' PADA ITERASI ',I3,3X,' X = ',E10.5,4X,
$ ' F(X) = ',E12.5)
200 FORMAT(/' TOLERANSI TIDAK DIJUMPAI SETELAH ',I4,
$ ' X = ',E12.5,' F(X) =',E12.5)
201 FORMAT(/' FUNGSI MEMILIKI TANDA SAMA PADA X1
$ DAN X2')
202 FORMAT(/' TOLERANSI DIJUMPAI DALAM ',I4,3X,
$ 'ITERASI X =',E12.5,' F(X) = ',E12.5)
203 FORMAT(/' F TOLERANSI DIJUMPAI DALAM ',I4,3X,
$ 'ITERASI X =',E12.5,' F(X) = ',E12.5)
END

Output Hasil Penentuan Akar f(x) = x3 + x2 - 3 x - 3 = 0 dengan Metoda Regula Falsi

PADA ITERASI 1 X = .15714E+01 F(X) = -.13644E+01


PADA ITERASI 2 X = .17054E+01 F(X) = -.24774E+00
PADA ITERASI 3 X = .17279E+01 F(X) = -.39339E-01
PADA ITERASI 4 X = .17314E+01 F(X) = -.61103E-02
PADA ITERASI 5 X = .17320E+01 F(X) = -.94593E-03
PADA ITERASI 6 X = .17320E+01 F(X) = -.14567E-03
PADA ITERASI 7 X = .17320E+01 F(X) = -.22769E-04
PADA ITERASI 8 X = .17321E+01 F(X) = -.38147E-05

F TOLERANSI DIJUMPAI DALAM 8 ITERASI X = .17321E+01


F(X) = -.38147E-05

1.3. METODA NEWTON

Metoda Newton banyak digunakan dalam penyelesaian persamaan nonlinear.

Gambaran secara grafik dari metoda ini diperlihatkan pada gambar 1.3. Estimasi akar x
dimulai dengan suatu harga x1 yang mendekati akar sebenarnya. Akar berikutnya x 2

ditentukan dari titik yang berpotongan dengan sumbu x yang diperoleh dengan ekstrapolasi

tangent kurva dari x1. Akar x2 dapat dihitung dengan persamaan

f ( x1 )
x2 x1 (1.3.1)
f ' ( x1 )

Secara umum dapat ditulis :

f ( xn )
xn 1 xn , n = 1,2,3, (1.3.2)
f ' ( xn )

Algoritma Metoda Newton

DO WHILE x2 x1 tolerance value 1, or

f(x2) tolerance value 2, or

f(x1) 0,

Set x2 = x1 f(x1)/f(x1)

Set x1 = x2.

ENDO.

Sebagai contoh ingin ditentukan akar dari persamaan f(x) = 3x + sin x - e x = 0.

Turunan dari persamaan ini adalah f'(x) = 3 + cos x - e x. Bila estimasi akar dimulai dengan

x1 = 0.0, didapat

f ( x1 ) 1.0
x2 x1 0.0 0.33333 ;
f ' ( x1 ) 3.0

f(x)
f(x1)


x2 x1 x

x1 x2

Gambar 1.3 Metoda Newton

f ( x2 ) 0.068418
x3 x2 0.33333 0.36017
f ' ( x2 ) 2.54934

f ( x3 ) 6.279 x 10-4
x4 x3 0.36017 0.3604217
f ' ( x3 ) 2.50266

f ( x4 ) 7.41 x 10-9
x5 x4 0.3604217 0.360421703
f ' ( x4 ) 2.501814

Kesalahan yang dijumpai pada iterasi ke empat adalah 2.9x10-9, jadi akar persamaan

tersebut adalah 0.3604217. Dengan metoda Newton, konvergensi lebih cepat tercapai

dibandingkan dengan metoda bisection dan metoda regula falsi, hal ini dapat dilihat pada

Tabel 1.3, dimana konvergensi belum tercapai pada iterasi ke empat bila menggunakan

metoda bisection dan metoda regula falsi, sedangkan dengan metoda Newton konvergensi

tercapai pada iterasi ke empat.

Tabel 1.3. Penentuan Akar Persamaan f(x) = 3x+sin x - ex = 0


No. Iterasi Bisection Regula Falsi
x3 f(x3) x3 f(x3)
1 0.5 0.330704 0.470990 0.265160
2 0.25 -0.286621 0.372277 0.029533
3 0.375 0.036281 0.361598 2.94 x 10-3
4 0.3125 -0.121899 0.360538 2.90 x 10-4
5 0.34375 -0.041956 0.3604334 2.93 x 10-5

Program Penentuan Akar Persamaan dengan Metoda Newton

C PROGRAM UTAMA UNTUK SUBROUTINE NEWTON


C TUJUAN : MENENTUKAN AKAR DARI SUATU FUNGSI F(X) = 0
C MENGGUNAKAN METODA NEWTON
C CONTOH : MENENTUKAN AKAR DARI FUNGSI
C
C F(X) = 3 X + SIN(X) - EXP(X) = 0
C -----------------------------------------------------------

REAL FCN,FDER,X,XTOL,FTOL
INTEGER I,NLIM
EXTERNAL FCN, FDER

C BUKA FILE UNTUK OUTPUT


OPEN (UNIT = 6,FILE ='NEWRAP.OUT',STATUS ='NEW')

C INPUT DATA UNTUK SUBROUTINE NEWTON.

DATA X,XTOL,FTOL,I,NLIM/0.0,0.0001,0.00001,0,50/

C PANGGIL SUBROUTINE NEWTON

CALL NEWTON(X,XTOL,FTOL,NLIM,I,FCN,FDER)

STOP
END
C ---------------------------------------------------------
C TULIS FUNGSI
REAL FUNCTION FCN(X)
REAL X
FCN = 3.0*X + SIN(X) - EXP(X)
RETURN
END
C
C TULIS TURUNAN FUNGSI
REAL FUNCTION FDER(X)
REAL X
FDER = 3.0 + COS(X) - EXP(X)
RETURN
END
C ---------------------------------------------------------

SUBROUTINE NEWTON(X,XTOL,FTOL,NLIM,I,FCN,FDER)
C PARAMETER :
C FCN ADALAH FUNGSI MENGHITUNG F(X)
C FDER ADALAH FUNGSI MENGHITUNG DERIVATIVE F(X)
C XTOL ADALAH HARGA TOLERANSI UNTUK X
C FTOL ADALAH HARGA TOLERANSI UNTUK F
C NLIM ADALAH BATASAN JUMLAH ITERASI
C I ADALAH SINYAL PEMUTUSAN RUTIN
C I = 0 , TULIS AKAR PADA SETIAP TITIK
C SEBELUM TERCAPAI AKAR KONVERGEN
C I = 1 , TOLERANSI UNTUK HARGA X TELAH TERCAPAI
C I = 2 , TOLERANSI UNTUK HARGA F(X)
C TELAH TERCAPAI
C I = -1, BATAS JUMLAH ITERASI SUDAH DILEWATI.

REAL FCN,FDER,X,XTOL,FTOL
INTEGER NLIM,I,J
REAL FX,DELX

FX = FCN(X)
DO 20 J=1,NLIM
DELX = FX/FDER(X)
X = X-DELX
FX=FCN(X)
IF (I.EQ.0) THEN
WRITE(6,100)J,X,FX
ENDIF

C PERIKSA KONVERGENSI AKAR

IF (ABS(DELX).LE.XTOL) THEN
I=1
WRITE(6,110)J,X,FX
RETURN
ENDIF
IF (ABS(FX).LE.FTOL)THEN
I=2
WRITE(6,120)J,X,FX
RETURN
ENDIF

20 CONTINUE

C JUMLAH BATAS ITERASI SUDAH DILEWATI


I = -1
WRITE(6,130)NLIM,X,FX
RETURN

100 FORMAT(1X,' PADA ITERASI = ',I3,3X,


$ ' X =',E12.5,1X,'F(X) =',E12.5)
110 FORMAT(1X,' TOLERANSI TERCAPAI PADA ITERASI =',I3,3X,
$ ' X =',E12.5,1X,'F(X) =',E12.5)
120 FORMAT(1X,' F TOLERANSI TERCAPAI PADA ITERASI =',I3,3X,
$ ' X =',E12.5,1X,'F(X) =',E12.5)
130 FORMAT(1X,' TOLERANSI TIDAK TERCAPAI SETELAH
$ ITERASI=',I3,3X,' X =',E12.5,1X,'F(X) =',E12.5)

END

Output Hasil Penentuan Akar f(x) = 3 x + sin x - ex = 0 dengan Metoda Regula Falsi

PADA ITERASI = 1 X = .33333E+00 F(X) = -.68418E-01


PADA ITERASI = 2 X = .36017E+00 F(X) = -.62791E-03
PADA ITERASI = 3 X = .36042E+00 F(X) = -.17881E-06

F TOLERANSI TERCAPAI PADA ITERASI = 3


X = .36042E+00 F(X) = -.17881E-06
1.4. METODA SECANT

Pada metoda Secant, turunan f diaproksimasi menggunakan dua harga iterasi f yang

berurutan. Turunan f didefinisikan sebagai:

f ( xi ) f ( xi 1 )
f ' ( xi ) (1.4.1)
xi xi 1

f ( xi )
xi 1 xi (1.4.2)
f ' ( xi )

Substitusi persamaan (1.4.1) ke persamaan (1.4.2)

xi xi 1
xi 1 xi f ( xi ) i = 2, 3, ....... (1.4.3)
f ( xi ) f ( xi 1 )

Untuk memulai proses aerasi dibutuhkan dua harga x 1 dan x2 pada persamaan (1.4.3).

Secara grafik, metoda Secant digambarkan pada Gambar 1.4.1.

Gambar 1.4.1. Metoda Secant


Garis yang menghubungkan titik (x1, f(x1)) dan (x2,f(x2)) memotong sumbu x untuk

mendapatkan x3 untuk aproksimasi nilai x berikutnya. Proses iterasi dilanjutkan sampai

tercapai kriteria konvergensi f(xi+1) .

Proses Iterasi dengan metoda Secant:

a. Dengan harga x1 dan x2 yang diberikan, tentukan f(x1) dan f(x2). Set i = 2. Nilai

diberikan.

b. Tentukan xi+1 dengan persamaan (1.4.3).

xi xi 1
xi 1 xi f ( xi )
f ( xi ) f ( xi 1 )

c. Iterasi dihentikan jika f(xi+1) dan (xi+1) diambil sebagai akar persamaan. Jika

kriteria belum terpenuhi, set i = i + 1, ulangi langkah b.

Contoh:

Carilah akar persamaan:

1,5 x 1 0,65 x
f ( x) 0,65 tan 1 ( ) 0
(1 x )
2 2
x (1 x 2 )

Gunakan x1 = 0,0 dan x2 = 0,5 sebagai apkroksimasi awal dengan = 10-5.

Penyelesaian:

f(x1) = f(0,0) = -1,0210

f(x2) = f(0,5) = 0,0204.

Nilai f(x1) > dan f(x2) > sehingga kriteria belum terpenuhi.
x2 x1
x3 x2 f ( x2) = 0,4902 dan f(x3) = f(0,4902) = 0,0102.
f ( x2 ) f ( x1 )

Karena f(x3) > , dilanjutkan dengan perhitungan harga aproksimasi untuk x4. Tabel

1.4.1. menunjukkan hasil proses iterasi. Pada iterasi ke 13 memenuhi kriteria

konvergensi, yaitu x = 0,4809 dengan f(x) = 0,00000721.

Tabel 1.4.1. Hasil Proses Iterasi

i titik xi f xi | f xi | ? xi 1
1 0.0 -1.02101707 tidak -
2 0.5 0.02035314 tidak 0.49022764
3 0.49022764 0.01015013 tidak 0.48540229
4 0.48540229 0.00496507 tidak 0.48305339
5 0.48305339 0.00240600 tidak 0.48191774
6 0.48191774 0.00116086 tidak 0.48137063
7 0.48137063 0.00558020 tidak 0.48110777
8 0.48110777 0.00026876 tidak 0.48098111
9 0.48098111 0.00012833 tidak 0.48092049
10 0.48092049 0.00006276 tidak 0.48089087
11 0.48089087 0.00002861 tidak 0.48087740
12 0.48087740 0.00001460 tidak 0.48027082
13 0.48087072 0.00000721 ya -
1.4. Soal-soal

1. Persamaan ex - 3x memiliki akar pada r = 0.61906129. Gunakan 6 iterasi untuk mencari

akar persamaan ini, mulai dengan interval [0,1] menggunakan metoda bisection.

2. Carilah akar persamaan f(x) = x2 + x 12 dengan metoda Bisection, Regula Falsi,

Newton dan Secant dengan ketelitian 0.0001. Gunakan x1 = 2.5 dan x2 = 3.5.

3. Gunakan metoda bisection untuk mencari akar positif terkecil dari persamaan-

persamaan ini. Gunakan interval yang tepat untuk setiap persamaan, kemudian hitung

akar dengan ketelitian 0.005.

a) ex - x - 2 = 0 b) x3 - x2 - 2 x + 1 = 0
c) 2e-x - sin x = 0 d) 3 x3 + 4 x2 - 8 x - 1 = 0

4. Tentukan akar persamaan menggunakan metoda Secant

0 exp x 2 x

Dengan pO q O 1,0 , 1,8

5. Tentukan akar persamaan menggunakan metoda Secant

0 ln x 5 x
pO 3,2
qO 4,0

6. Gunakan metoda Regula Falsi untuk menyelesaikan soal 2.

7. Carilah akar didekat x = -0.5 dari ex - 3 x2 = 0 dengan metoda Newton dengan ketelitian

sampai dengan 6 angka.

8. Gunakan metoda Newton untuk menyelesaikan soal 2.

9. Carilah akar persamaan f(x) = x3 4x + 2 dengan x1 = 0,0 dan x2 = 1,0 menggunakan

metoda Secant.

10. R. DeSantis telah menurunkan hubungan faktor kompresibilitas dari gas nyata (Real

Gas) (I.E.C. Fundamentals, 15, 184(1976)) dari bentuk :

1 y y 2 y3
z
1 y 3

b
dimana : y 4 v , b = van der waals correction, v adalah volume molar. Jika z =

0.892, berapakah harga y menggunakan metoda regula falsi?

11. Dalam studi koleksi energi matahari dengan memfokuskan bidang kaca datar pada
pusat kolektor, L.L. Vant-Hull (Solar Energy, 18,33 (1976) menurunkan persmaan untuk

faktor konsentrasi geometri, C :


2
h
cos A
F
C
0.5 D 2 1 sin A 0.5 cos A

dimana A adalah sudut tepi dari bidang, F adalah fraksi tertutup dari bidang oleh cermin,

D adalah diameter kolektor, dan h adalah tinggi kolektor. Carilah A jika h = 300, C =

1200, F = 0.8, dan D = 14 dengan metoda Secant.

12. Lee dan Duffy (A.I.Ch.E. Journal, July, 1976) menghubungkan faktor friksi untuk aliran

suspensi partikel berserat terhadap bilangan Reynold melalui persamaan empiris :

1 1

ln RE f 14 5k.6
f k

dimana f adalah faktor friksi, RE bilangan Reynold, k adalah konstanta yang ditentukan

oleh konsentrasi dari suspensi. Untuk konsentrasi 0.08 %, k = 0.28. Berapa harga f jika

RE = 3750 ?

13. Persamaan Redlich-Kwong diberikan oleh

RT A(T )
P
vb v (v b )

Jika P = 87.3, T = 486.9, v = 2.005, A(T) = 0.0837, R = 1.98, carilah harga b yang

memenuhi persamaan ini dengan metode newton.

14. Persamaan gas ideal menunjukkan hubungan tekanan volume temperature (PVT)

gas pada tekanan rendah (mendekati atmosfir). Pada tekanan yang lebih tinggi

digunakan persamaan keadaan yang lebih kompleks seperti persamaan keadaan van der

Waals:
a
(P )(V b) RT
V2

Dimana :

2
27 R 2Tc
a ( )
64 Pc

RTc
b
8 Pc

P = tekanan, atm

V = volume reactor, L/g-mol

T = temperature, K

R = konstanta gas (R = 0,08206 atm. L / g-mol.K)

Tc = temperatur kritis, K (untuk ammonia, Tc = 405 K)

Pc = tekanan kritis, atm (untuk ammonia, Pc = 111,3 K).

Tekanan reduksi:

P
Pr
Pc

Faktor kompressibilitas:

PV
Z
RT

(a). Hitunglah V dan Z untuk gas ammonia pada P = 56 atm, T = 450 K menggunakan

persamaan van der Waals

(b). Ulangi perhitungan untuk Pr = 1, 2, 4, 10 dan 20


(c). Bagaimana variasi Z sebagai fungsi Pr. (Tulis dalam Tabel: P, Pr, V dan Z)