Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR DAN PROSES

KONTUR TOPOGRAFI DAN BLOK DIAGRAM

ACARA II

Dosen Pengampu :

Ferryati Masitoh, S.Si ,M.Si.

Oleh:

Nama Mahasiswa : Dian Nurma Yunita

NIM : 150722604415

Off : G/2015

Hari/Tanggal : Rabu, 7 September 2016

Asisten : Ahmad Adi Sucipto

Hendra Agus P

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU SOSIAL

PROGRAM STUDI GEOGRAFI

SEPTEMBER 2016
ACARA II

KONTUR TOPOGRAFI DAN BLOK DIAGRAM

I. Tujuan
a. Mahasiswa mampu membuat kontur dengan titik elevasi yang ada.
b. Mahasiswa mampu membuat blok diagram berdasarkan garis
kontur.
II. Alat dan Bahan
a. Alat :- Alat tulis (pensil, penghapus, penggaris)
- Klakulator
b. Bahan :- Peta sebaran titik elevasi sebagian DAS Bogowonto
- Kertas kalkir
- Milimeter blok
III. Dasar Teori

Peta topografi memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang


berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis-garis
kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Peta
topografi mengacu pada semua ciri-ciri permukaan bumi yang dapat
diidentifikasi, apakah alamiah atau buatan, yang dapat ditentukan pada
posisi tertentu. Oleh sebab itu, dua unsur utama topografi adalah
ukuran relief (berdasarkan variasi elevasi axis) dan ukuran planimetrik
(ukuran permukaan bidang datar).
Peta topografi menyediakan data yang diperlukan tentang sudut
kemiringan, elevasi, daerah aliran sungai, vegetasi secara umum dan
pola urbanisasi. Peta topografi juga menggambarkan sebanyak
mungkin ciri-ciri permukaan suatu kawasan tertentu dalam batas-batas
skala. Peta topografi dapat juga diartikan sebagai peta yang
menggambarkan kenampakan alam (asli) dan kenampakan buatan
manusia, diperlihatkan pada posisi yang benar. Selain itu peta
topografi dapat diartikan peta yang menyajikan informasi spasial dari
unsur-unsur pada muka bumi dan dibawah bumi meliputi, batas
administrasi, vegetasi dan unsur-unsur buatan manusia. Peta topografi
mempunyai garisan lintang dan garisan bujur dan titik pertemuannya
menghasilkan koordinat. Koordinat ialah titik persilangan antara
garisan lintang dan bujur (Djauhari Noor,2009).
Peta topografi merupakan model 2D dari permukaan bumi yang
memberikan informasi dunia 3D bumi. Peta Topografi juga dikenal
sebagai Peta Kontur. Peta Topografi memperlihatkan bentuk,
penyebaran roman muka bumi dan dimensinya. Roman muka bumi
antara lain:
a. Relief, yang meliputi gunung, bukit, lembah, daratan, tebing,
dan lain sebagainya.
b. Hidrografi, yang meliputi drainase (pola aliran sungai), danau,
terusan, dan lain sebagainya.
c. Budaya (hasil rekayasa manusia), yang meliputi: kota, jalan,
rel, lapangan terbang, batas daerah, nama tempat, dan lain
sebagainya.
Peta topografi merupakan gambaran vertikal (proyeksi orthogonal)
dari penggambaran angka-angka hasil pengukuran geodetic di lapang.
Sebuah petatopografi yang lengkap selalu disertai hal-hal berikut:

1. Skala peta
2. Nomor lembar peta dan kedudukan lembar peta terhadap
lembar peta yang lain.
3. Deklinasi
4. Garis kontur
5. Relief, drainase, dan culture.
6. Legenda atau keterangan.
Garis kontur umum digunakan sebagai informasi dasar dalam peta
topografi dan peta geologi untuk mengetahui nilai ketinggian di suatu
lokasi. Garis kontur merupakan suatu garis yang sifatnya harus
tertutup (bersambung) baik dalam demensi lokal ataupun dimensi
regional. Sifat garis kontur dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Suatu garis kontur merupakan bentukan garis melingkar atau
lengkungan yang tertutup.
b. Dua garis kontur dapaat sejajar, bila kelerengan bentang alam
dengan landaian relatif teratur.
c. Dua garis kontur letaknya dapat medekat kemudian akan
menjauh bila lereng betangan alam relatif tidak teratur, kadang-
kadang landai, kadang-kadang curam.
d. Dua garis kontur atau lebih letaknya dapat semakin renggang,
bila kelerengan tebing semakin relatif landai.
e. Dua garis kontur atau lebih letaknya dapat semakin rapat, bila
kelerengan tebing semakin relatif curam.
f. Dua garis kontur atau lebih semakin rapat sekali atau bahkan
enjadi berimpitan, bila kelerengan tebing sangat semakin
curam atau merupakan tebing yang vertikal.
g. Apabiladaerahnya semakin tinggi, maka lingkaran yang
terbentuk ditunjukkan oleh luasan lingkaran yang semakin
sempit, ini merupakan bentukan sebuah bukit. Jika sebaliknya,
maka merupakan suatu bentukan depresi.
Relief adalah bentuk kekasaran permukaan bumi baik berupa gunung
pegunungan, bukit, lembah, dataran, atau cekungan yang terjadi
karena adanya pengaruh tenaga-tenaga pembentuk muka bumi, baik
tenaga endogen atau tenaga eksogen. Bentukan relief di daratan akan
mempengaruhi sistem drainase. Misalnya pada daerah dengan relief
gunug akan mempunyai pola aliran radial dengan kerapatan yang
tinggi. Relief dan drainase selanjuutnya dapat mempengaruhi cultur
atau bentukan budaya manusia yang meliputi keberadaan desa, jalan
antar kota, rel kereta api, temat sumur air, dan sebagainya.
Blok diagram merupakan penggambaran secara 3D dari suatu
wilayah yang ada di bumi. Hal ini berbeda dari peta kontur yang
tergambar secara 2D. Blok diagram dapat dibentuk dari peta kontur
dan digambar secara orthografis (Ferryati Masitoh, 2016).
IV. Langkah Kerja
a. Cara membuat garis kontur ketinggian :
1. Buatlah garis yang menghubungkan 2 titik ketinggian!
2. Hitunglah ketinggian antara 2 titik ketinggian tersebut sesuai
dengan kontur interval yangsudah ditetapkan!
3. Hubungkan dengan garis titik-titik yang mempunyai nilai
ketinggian sama!
b. Cara membuat blok diagram :
1. Beri grid dengan ukuran tertentu (misal: 1x1 cm) pada peta
kntur yang telah dibuat. Beri kode pada setiap garis grid
sebagai kode bantu dalam penggambaran blok diagram.
2. Buatlah bidang orthografis dengan sumbu x, y dan z pada
kertas milimeter dengan posisi sumbu z pada sudut 45o dari
sumbux atau y!
3. Salin peta kontur yangg telah diberi grid bantu pada bidang
orthografis x, y dan z!
4. Perbesar elevasi pada sumbu z dengan vertikal exaggeration
sesuai kebutuhan.
5. Hubungkan titik-titik yang mempunyai nilai z yang sama!
Diagram Alir

Menyiapkan alat dan bahan

Membuat garis kontur

Membuat blok diagram

Menganalisis keadaan geologi


berdasarkan blok diagram
V. Hasil Praktikum
a. Gambar kontur (terlampir)
b. Perhitungan interval kontur (terlampir)
c. Gambar blok diagram (terlampir)

VI. Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan mengenai kontur
topografi dan blok diagram pada daerah DAS Bogowonto, pembuatan
garis kontur sangat tergantung terhadap ketelitian pembuat peta kontur.
Terutama dalam menentukan titik yang terdapat interval didalamnya.
Seperti yang kita ketahui data elevasi berjumlah cukup banyak namun
tidak semua titik dapat kita hubungkan karena terdapat beberapa titik
yang tidak terdapat interval diantara keduanya sehingga titik-titik
tersebut tidak perlu kita lakukan perhitungan jarak interval dengan
demikian tidak ada pemborosan waktu, tenaga, dan fikiran.
Setelah dilakukan perhitungan dan didapatkan nilai interval
selanjutnya adalah menghubungkan titik-titik yang memiliki nilai
elevasi yang sama. Dalam menghubungkan titik-titik yang memiliki
nilai elevasi yang sama perlu kita ketahui bahwa tidak boleh ada garis
lontur yang memotong garis kontur yang lain sehingga bila diamati
dengan seksama garis kontur membentuk lingkaran yang tidak
beraturan yang semakin memusat bentuk lingkaran tersebut semakin
teratur bentuknya.
Ssebenarnya dari garis topografi saja kita sudah dapat mengetahui
kenampakan apa saja yang ada di daerah tersebut yaitu, pegunungan,
lembah, dan alur sungai. Dimana pegunungan dapat kita ketahui
dengan adanya lingkaran pada suatu wilayah yang semakin memusat
dan jarak antar garis konturnya semakin merapat itu menandakan
bahwa kontur tersebut menunjukkan adanya gunung atau bukit.
Sedangkan untuk kenampakan lembah dapat kita ketahui dengan
adanya garis kontur yang lebih rendah diantara dua garis kontur
disampingnya sehingga apa bila kita buat penampang melintangnya
akan terbentuk seperti cekungan atau lembah. Dan untuk kenampakan
sungai dan alur sungai dapat kita ketahui dengan adanya garis kontur
yang berbentuk V.
Pada peta kontur DAS Bogowonto yang telah dibuat dapat kita
ketahui bahwa daerah yang merupakan kawasan lembah berada pada
bagian timur daya dengan elevasi antara 500-300 m dpl. Sedangkan
pada kawasan barat merupakan kawasan pegunungan dengan elevasi
antara 1200-600 m dpl.
Dari hasil peta kontur yang telah dibuat sebelumnya kita dapat
membuat blok diagram. Dengan cara membuat garis-garis grid pada
peta kontur maka dapat membantu kita dalam menentukan titik
potongnya sehingga kita dapat dengan mudah menarik garis dan
menentukan titiknya. Sebelum menentukan titiknya kita terlebih
dahulu membuat garis bantu x, y, dan z. Setelah itu baru kita dapat
menarik garis dan menentukan titk-titiknya yang kemudian kita
hubungkan titik-titik yang memiliki nilai elevasi yang sama seperti
halnya pada pembuatan garis kontur pada umumnya.
Hasil dari blok diagram tersebut nantinya menyerupai bentuk alam
yang sesungguhnya dalam bentuk 3D. Sehingga dengan blok diagram
tersebut kita dapat mengetahui kemiringan lerengnya curam atau
landai, pola aliran sungainya, dan kenampakan alam lainnya
khususnya kondisi geologi daerah tersebut. Dari hasil pembuatan blok
diagram tesebut dapat kita ketahui kenampakan atau relief dari daerah
tersebut yang memiliki dua puncak bukit atau gunung, lembah, dan
alur sungai yaitu DAS Bogowonto. Dengan dibuatnya blok diagram
tersebut tidak hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memahami
kenampakan yang ada namun orang-orang denngan basic lain juga
dapat memahaminya karena kenampakannya yang sangat mirip dengan
asli. Berbeda dengan garis kontur yang 2D tidak semua orang dapat
memahami kondisi alam yang ada di daerah yang dipetakan tersebut.
VII. Kesimpulan
a. Dengan adanya praktikum mengenai kontur topografi dan blok
diagram mahasiswa mampu membuat kontur dengan titik elevasi
yang ada melalui perhitungan interval yang nantinya titik yang
memiliki nilai yang sama saling dihubungkan.
b. Dari peta kontur yang dihasilkan didapatkan hasil akhir berupa
blok diagram dalam bentuk 3D yang menampilkan keadaan yang
sebenarnya dengan perbandingan skala.

VIII. Daftar Rujukan

Noor, Djauhari. 2009. PETA GEOLOGI. (online),


www.univpgripalembang.ac.id/perpus.../Geografi%20Fisik/Bab
-12+Peta+Geologi.pdf, diakses pada 4 September 2016.
Masitoh, Ferryati. 2016. Panduan Praktikum Geologi Struktur dan
Proses. Universita Negeri Malang.