Anda di halaman 1dari 3

Pemberian o2 melalui kanul nasal

ANALISA SINTESA

Tindakan keperawatan

Pemberian o2 melalui kanul nasal

1. Dasar Pemikiran

AMI merupakan salah satu sindrom koroner akut. Gejala subyektif seperti nyeri dada kiri
timbul karena jaringan otot jantung kekurangan oksigen karena adanya infark, sehingga
terjadi metabolisme anaerob dan menimbulkan produksi asam laktat. Asam laktat tersebutlah
yang menimbulkan nyeri.

Pada AMI terdapat penurunan aliran darah dan penggunaan oksigen. Jika iskemia hanya
berakhir beberapa menit, tidak terdapat efek pada otot jantung. Iskemia yang lama
mengakibatkan nekrosis jaringan jantung. Masalah pada jantung mungkin menyebabkan
jantung untuk berdenyut terlalu cepat atau terlalu perlahan. Sehingga dibutuhkan terapi
oksigen dalam jumlah cukup untuk mencukupi tubuh.

2. Tindakan keperawatan yang dilakukan

Pemberian O2 3 L/menit melalui kanul nasal

3. Prinsip-prinsip tindakan

a. Bersih

b. Tindakan dilakukan secara tepat dan benar

c. Tindakan dilakukan sesuai dengan indikasi/advis dokter

d. Prosedur pemberian O2 melalui kanul nasal 2 l/menit

Cara pemasangan :

Terangkan prosedur pada klien

Atur posisi klien yang nyaman(semi fowler)

Atur peralatan oksigen dan humidiflier

Hubungkan kanula dengan selang oksigen ke humidiflier dengan aliran oksigen yang
rendah,beri pelicin(jelly) pada kedua ujung kanula.

Masukan ujung kanula ke lubang hidung

Fiksasi selang oksigen


Alirkan oksigen sesuai yang diingiinkan.

Pastikan O2 yang diberikan bisa masuk ke dalam saluran pernapasan klien.

4. Analisa tindakan keperawatan

Pemberian oksigen pada klien yang memerlukan oksigen secara kontinyu dengan kecepatan
aliran 1-6 liter/menit serta konsentrasi 20-40%, dengan cara memasukan selang yang terbuat
dari plastik ke dalam hidung dan mengaitkannya di belakang telinga. Panjang selang yang
dimasukan ke dalam lubang dihidung hanya berkisar 0,6 1,3 cm. Pemasangan nasal kanula
merupakan cara yang paling mudah, sederhana, murah, relatif nyaman, mudah digunakan
cocok untuk segala umur, cocok untuk pemasangan jangka pendek dan jangka panjang, dan
efektif dalam mengirimkan oksigen. Pemakaian nasal kanul juga tidak mengganggu klien
untuk melakukan aktivitas, seperti berbicara atau makan.

Pemberian oksigen dimaksudkan untuk mensuport transport oksigen yang adekuat dalam
darah sehingga jaringan dalam tubuh tidak kekurangan O2. Dengan mempertahankan oksigen
jaringan yang adekuat diharapkan masalah gangguan pemenuhan oksigen di miokard dapat
teratasi. Faktor yang menentukan oksigenasi jaringan termasuk konsentrasi oksigen alveolar,
difusi gas (oksigen) pada membran alveokapilar, jumlah dan kapasitas yang dibawa oleh
hemoglobin, dan curah jantung.

Pemberian oksigen merupakan salah satu intervensi keperawatan dalam diagnosa nyeri akut
yaitu mengurangi faktor predisposisi dengan pemberian tindakan yang nyaman.Dengan
pemberian oksigen diharapkan akan menurunkan tingkat nyeri dada pada klien AMI.

5. Bahaya yang mungkin muncul

Bahaya yang dapat terjadi untuk pemberian O2 yang berlebihan adalah timbulnya kondisi
Hipokapneu karena konsentrasi O2 dalam darah yang terlalu tinggi. Sedangkan untuk
prosedur yang tidak sesuai dengan teori diantaranya adalah untuk tindakan tidak mencuci
tangan dapat memperbesar penularan penyakit, penggunaan nasal kanul yang tidak steril juga
memperbesar penularan penyakit melalui secret dari satu pasien ke pasien lain. Penggunaan
cairan humidifier yang tidak steril meningkatkan kemungkinan kuman-kuman yang
terkandung dalam air akan terhirup oleh klien.

Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian nasal kanul. Perhatikan jumlah air
steril dalam humidifier, jangan berlebih atau kurang dari batas. Hal ini penting untuk
mencegah kekeringan membran mukosa dan membantu untuk mengencerkan sekret di
saluran pernafasan klien. Pada klien dengan masalah febris dan diaforesis, maka perawat
perlu melakukan perawatan kulit dan mulut secara extra karena pemasangan masker tersebut
dapat menyebabkan efek kekeringan di sekitar area tersebut.

6. Hasil yang di dapat dan maknanya

S:

klien mengatakan tidak nyeri lagi, skala nyeri menjadi 0

O:
Klien tampak nyaman, TTV : TD= 120/80 mmhg, RR= 22x/menit, N= 100x/menit, suhu 37
0
C

7. Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, 2001, EGC, Jakarta.

Doenges E. Marlynn, Rencana Asuhan Keperawatan , 2000, EGC, Jakarta.

Gallo & Hudak, Keperawatan Kritis, edisi VI, 2007, EGC, Jakarta

Noer Staffoeloh et all, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, 2002, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta