Anda di halaman 1dari 21

PENGGUNAAN TEPUNG LIMBAH UDANG (Tepung Rese) SEBAGAI

PENGGANTI TEPUNG IKAN DALAM RANSUM BROILER


MAKALAH SEMINAR JURUSAN

PENGGUNAAN TEPUNG LIMBAH UDANG (Tepung Rese) SEBAGAI PENGGANTI


TEPUNG IKAN DALAM RANSUM BROILER

Oleh :

ISLAMIYAH SYAH
I 211 07 008

DIBAWAH BIMBINGAN

Ir. Muh. Zain Mide, M.S


Nip.19530309 198503 1 001

JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2010
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ketersediaan pakan yang cukup, berkualitas, dan berkesinambungan sangat
menentukan keberhasilan budi daya ternak. Biaya yang dikeluarkan untuk bahan pakan
(ransum) pada peternakan unggas adalah biaya terbesar yaitu berkisar 60 70 persen dari
seluruh biaya produksinya. Tinggi atau rendahnya harga bahan baku pakan akan sangat
menentukan tingkat keuntungan yang dapat diperoleh dari usaha tersebut. Untuk memenuhi
kebutuhan ternak akan zat gizi tertentu bahan baku pakan yang berkualitas masih didatangkan
dari luar negeri. Oleh karena itu, penggunaan bahan pakan lokal alternatif perlu diupayakan
secara optimal, dengan catatan bahan baku pakan tersebut ditingkatkan kualitasnya dan
terjamin ketersediaannya sepanjang tahun. Tepung ikan adalah bahan baku pakan yang
menyebabkan mahalnya harga ransum, karena tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam
negeri, sehingga lebih dari setengah, yaitu 200 ribu ton/tahun kebutuhan tepung ikan
Indonesia disuplai dari impor. Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan peternak skala
kecil dan menengah perlu bahan pakan alternatif sebagai pengganti tepung ikan ini. Salah
satu bahan pakan alternatif adalah limbah udang (shrimp head waste).
Industri pengolahan udang beku Indonesia berkembang sangat pesat pada beberapa
tahun terakhir ini, sejalan dengan meningkatnya produksi udang. Indonesia termasuk negara
pengekspor udang terbesar di dunia. Data BPS tahun 2004 menunjukkan produksi udang
Indonesia sebesar 240.000 ton dan produksi ini meningkat sebesar 14 % per tahun. Tahun
2005 produksi udang mencapai angka 250.000 ton. Apabila udang segar ini diolah menjadi
udang beku, maka sebesar 35% 70% dari bobot utuh akan menjadi limbah udang,
kualitasnya bervariasi tergantung jenis udang dan proses pengolahannya.
Ekspor udang umumnya berupa udang tidak beku, udang beku dan udang dalam
kaleng. Produk udang beku sebagian besar berupa produk tanpa kepala (headless) dan
produk udang kupasan (peeled). Dari bagian udang yang terbuang tersebut ada bagian yang
masih layak bagi konsumsi, misalnya bagian kepala dan dada udang (cephalothorax). Namun
karena nelayan belum memiliki teknologi mempertahankan kesegaran udangnya, bagian
tubuh udang tersebut tidak tertangani dengan baik sehingga cepat rusak dan membusuk
sehingga daripada menjadi beban, limbah udang tersebut lebih baik dibuang.Oleh karena itu
dirasa perlu dilakukan pembahasan yang lebih mendalam mengenai kemungkinan
penggunaan tepung limbah udang ini untuk menggantikan tepung ikan dalam ransum broiler.
Hal inilah yang melatar belakangi pembuatan makalah ini.

PEMBAHASAN

Gambaran Umum Tepung Limbah Udang

Gambar 1. Limbah Pengolahan Udang

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri

maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu

tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis sehingga perlu
mengalami proses pengolahan. Proses pengelolaan limbah merupakan seluruh rangkaian
proses yang dilakukan untuk mengkaji aspek kemanfaatan benda/barang dari sisa sampai

tidak mungkin untuk dimanfaatkan kembali. Salah satu usaha pengolahan limbah adalah

menjadikannya sebagai pakan ternak. Proses pengolahan limbah menjadi pakan ternak dapat

dilakukan secara kering (tanpa fermentasi) yaitu dengan mengeringkannya, baik

menggunakan alat pengering atau maupun dengan sinar matahari. Kemudian dicincang,

selanjutnya dijemur pada sinar matahari sampai kering yang ditandai dengan cara mudah

dipatahkan atau mudah hancur kalau diremas. Setelah kering limbah ditumbuk menggunakan

lesung atau alat penumbuk lainnya, kemudian dilakukan pengayakan (Anonima, 2008).

Udang sebagai salah satu komoditi ekspor terbagi atas tiga macam, yaitu (1)

produk yang terdiri dari bagian badan dan kepala secara utuh , (2) badan tanpa kepala

dan (3) dagingnya saja. Pengolahan produksi udang berdasarkan ketiga macam produk

tersebut, menyebabkan terdapat bagian-bagian udang yang terbuang seperti kepala, ekor dan

kulitnya. Bagian tersebut merupakan limbah industri pengolahan udang beku yang disebut

limbah udang (Mudjima,1986 dalam Abun 2009).

Pemanfaatan limbah udang sebagai pakan ternak berdasarkan pada dua hal, yaitu

jumlah dan mutunya. Seiring dengan maraknya ekspor udang beku kebeberapa negara,

seperti Jepang, Taiwan, Amerika Serikat maka limbah yang dihasilkan akan bertambah pula.

Limbah udang tersebut pada umumnya terdiri

dari bagian kepala, kulit ekor dan udang kecil -kecil disamping sedikit daging udang

(Parakkasi, 1983 dalam Abun 2009).


Proses Pembuatan Tepung Limbah Udang
Tepung limbah udang (LU) terbuat dari limbah udang sisa hasil pengolahan udang

setelah diambil bagian dagingnya, sehingga yang tersisa adalah bagian kepala, cangkang dan

udang kecil utuh dalam jumlah sedikit. Kualitas dan kandungan nutrien LU sangat tergantung

pada proporsi bagian kepala dan cangkang udang (Djunaidi. dkk, 2009).

Menurut (Mirzah, dkk. 2007) proses pembuatan tepung udang terdiri dari beberapa

tahapan antara lain :

1. Mempersiapkan limbah udang yang dapat diperoleh dari pasar tradisional, industri

pengalengan atau pembekuan udang.

2. Sebelum diolah limbah udang ini dibersihkan dari benda-benda asing yang melekat dan

dicuci dengan air segar.

3. Perendaman dengan larutan filtrat air abu sekam (FAAS) 20 % selama 48 jam. Untuk

memperoleh larutan abu sekam padi 20 % dilakukan dengan melarutkan 200 g abu sekam

padi dalam 1 liter air bersih. Larutan ini dibiarkan selama 24 jam, lalu disaring untuk

memperoleh filtratnya dan siap digunakan.

4. Selanjutnya dipanaskan dengan autoclave selama 45 menit, dan langsung digiling menjadi

bentuk pasta.

5. Dilanjutkan dengan proses fermentasi dengan EM-4 dengan dosis 20 ml/100 gram substrat
dengan lama fermentasi 11 hari.

6. Kemudian di keringkan dengan cahaya matahari lalu digiling

Penggunaan bahan kimia sebenarnya dapat dihindari dengan menggunakan larutan

filtrat air abu sekam (alkali) yang tidak bersifat polutan. Hasil penelitian Mirzah (2006),
menunjukkan bahwa perendaman limbah udang dalam larutan filtrat air abu sekam (FAAS)
10% selama 48 jam dan dikukus selama 45 menit dapat menurunkan kitin dari 15,2%
menjadi 9,87% dan meningkatkan kecernaan protein kasar dari 50% menjadi 70,50%,

sedangkan kandungan zat-zat makanan lain tidak banyak berubah, yaitu bahan keringnya

86,40%, protein kasar 38,98%, lemak 4,12%, kalsium 14,63%, fosfor 1,75%, dan asam amino

kritis seperti metionin 0,86%, lisin 1,15%, triptopan 0,35%, serta retensi nitrogen 66,13% dan

energy termetabolis 2204, 54 kkal/kg. TLU hasil olahan dengan FAAS 10% tersebut lebih

baik dibandingkan TLU tanpa diolah, yaitu dengan kandungan protein kasar 42, 6%, lemak

5,43%, kitin 15,24%, retensi nitrogen 55,23%, energi


termetabolis 1984,87 kkal/kg, dan kecernaan protein 52,00%, namun kualitas TLU olahan itu
perlu dievaluasi secara biologis melalui pemberian ransum kepada ayam broiler.
Pengolahan limbah udang digunakan filtrat air abu sekam (FAAS) 10%. Filtrat air abu
sekam sebagai larutan untuk perendam dibuat dengan cara sekam padi yang telah diabukan
secara sempurna dilarutkan dalam air bersih. Larutan abu sekam padi 10% diperoleh dengan
melarutkan 100 g abu sekam padi dalam 1 liter air bersih. Larutan ini dibiarkan selama 24
jam, lalu disaring untuk memperoleh filtratnya dan siap digunakan. Setelah direndam
selanjutnya limbah udang dikukus selama 45 menit, dan dikeringkan dengan cahaya matahari
dan akhirnya digiling. Kandungan zat-zat makanan TLU tanpa olahan dan diolah
dibandingkan dengan tepung ikan.
Untuk meningkatkan kualitas dan memaksimalkan pemanfaatan limbah udang
ini, maka sebelum diberikan pada ternak perlu dilakukan pengolahan, yaitu yang dapat
meningkatkan kecernaan dan menurunkan kandungan khitinnya. Penggunaan teknologi
pengolahan pakan yang tepat guna, untuk tujuan meningkatkan kualitas nutrisi limbah udang
sangat diperlukan agar pemanfaatan proteinnya maksimal. Berbagai perlakuan pengolahan
dapat dilakukan antara lain perlakuan fisik, kimia dan biologis serta kombinasinya.
Degradasi komplek senyawa protein-khitin-kalsium karbonat dengan sempurna baru
akan terjadi bila limbah udang diperlakukan dengan enzim yang dihasilkan oleh kapang
melalui proses fermentasi. Salah satu caranya adalah menggunakan jasa kapang dari
mikroorganisme penghasil enzim khitinase. Menurut hasil penelitian Nwanna ( 2003), untuk
pengolahan limbah udang secara fermentasi dapat menggunakan inokulum Lactobacillus
sp sebagai fermentor untuk pembuatan silase limbah udang, yaitu dalam waktu 14 hari. Nilai
gizinya (protein kasar) cukup tinggi, yaitu 58,96 %. Namun waktu fermentasi cukup lama,
yaitu sampai 14 hari. Waktu pengolahan yang sangat lama ini tidak efektif dan efisien dalam
penyediaan bahan baku pakan unggas. Selain Lactobacillus sp,juga dapat digunakan
inokulum EM-4, yaitu bakteri fermentasi yang berisi kultur campuran dari mikroorganisme
yang menguntungkan bagi pertumbuhan dan pruduksi ternak, sebagian besar terdiri dari
genus Lactobacillus sp, bakteri fotosintetik, Actinomycetes sp, Sreptomyces sp, jamur
pengurai selulosa dan ragi yang berfungsi menguraikan selulosa atau khitin pada limbah
udang (Kyusey Nature Farming Societies, 1995; Indriani, 2003).

Pengolahan dengan menggunakan kultur campuran EM-4 dapat meningkatkan

kandungan nilai gizi dan kualitas nutrisi TLU dibandingkan TLU hasil preparasi dengan

FAAS saja. Penggunaan inokulum dengan kultur campuran (EM-4) lebih baik

dibandingkan inokulum dengan mono kultur (Lactobacillus sp). Produk TLU olahan terbaik

diperoleh pada pengolahan dengan menggunakan EM-4 dengan dosis 20 ml/100 gram

substrat dngan lama fermentasi 11 hari.


Kandungan Nutrisi Tepung Limbah Udang
Tepung limbah udang mengandung semua asam amino essensial, juga sebagai

sumber asam amino aromatik seperti fenilalanin dan tirosin yang kandungannya lebih tinggi

daripada tepung ikan, lisin cukup tinggi yaitu 4,58% serta sumber asam amino bersulfur (S)

dengan kandungan metionin sebesar 1,26 % (Purwatiningsih,1990). Perbandingan

kandungan nutrisi antara tepung limbah udang dan tepung ikan terdapat pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Antara TLU dan Tepung Ikan.

Nutrien TLU tanpa TLU Tepung

diolah olahan Ikan


Air (%) 8,96 14,60 8,21
Bahan kering (%) 91,04 86,40 91,79
Protein kasar (%) 39,62 39,48 49,81
Lemak (%) 5,43 4,09 4,85
Serat kasar (%) 21,29 18,71 1,78
Abu (%) 30,82 30,94 16,29
Kalsium (%) 15,88 14,63 3,17
Fosfor (%) 1,90 1,75 0,37
Khitin (%) 15,24 9,48 -
Metionina (%) 1,16 0,86 1,58
Lisin (%) 2,02 1,15 3,51
Triptopan (%) 0,53 0,35 0,59
Retensi nitrogen (%) 55,23 66,13 77,20
Energi metabolis (kkal/kg) 1984,87 2204,54 3080,00
Kecernaan protein (in 52,00 70,47 80,62
vitro)

Sumber : Mirzah, 2006.

Berdasarkan tabel 1. Terlihat bahwa kandungan nutrisi yang dimiliki oleh tepung

limbah udang cukup baik meskipun tidak sebaik yang dimiliki oleh tepung ikan. Hal ini
memperlihatkan bahwa potensi tepung limbah udang dapat di rekomendasikan kepada
peternak untuk menggantikan tepung ikan karena selain mudah untuk didapatkan, bahan ini

tentu saja lebih ekonomis dibandingkan bila menggunakan tepung ikan. Terdapat perbedaan

kandungan nutrisi antara tepung limbah udang tanpa diolah dan Tepung limbah udang yang

telah mengalami proses pengolahan.

Hasil penelitian Mirzah (2006), menunjukkan bahwa perendaman limbah udang

dalam larutan filtrat air abu sekam (FAAS) 10% selama 48 jam dan dikukus selama 45 menit

lebih baik dibandingkan TLU tanpa diolah, yaitu dengan kandungan protein kasar 39,62%,

lemak 5,43%, kitin 15,24%, retensi nitrogen 55,23%, energi termetabolis 1984,87 kkal/kg,

dan kecernaan protein 52,00%, namun kualitas TLU olahan itu perlu dievaluasi secara

biologis melalui pemberian ransum kepada ayam broiler.

Bila dihitung secara nominal berdasarkan kandungan protein kasar pada limbah

udang, maka pada tahun 2004 diperoleh limbah udang sebesar 66,3 ribu ton atau setara 88,5

ton protein kasar. Jumlah tersebut merupakan potensi bahan baku pakan sebagai sumber

protein hewani yang sangat besar, namun dibalik beberapa kelebihan yang dimiliki limbah

udang ini memiliki beberapa kekurangan seperti tingginya kandungan serat kasar dan

terdapatnya kandungan zat antinutrisi khitin yang menyebabkan kecernaan terhadap protein

menjadi rendah.

Senyawa Khitin
Tingginya kandungan serat kasar yang berasal dari khitin dan mineral terutama
kalsium, yang berikatan erat dalam bentuk ikatan khitin-protein-kalsium karbonat merupakan
kendala dalam pemanfaatan limbah udang ini. Kandungan protein yang terikat dalam khitin
tersebut bisa mencapai 50-95% dan kalsium karbonatnya sampai 15-30% (Foster dan
Webber, 1960; Walton dan Blackwell, 1973). Adanya ikatan khitinprotein- kalsium karbonat
yang kuat akan menurunkan daya cerna protein limbah udang ini, sehingga pemanfaatannya
belum optimal dibanding dengan potensi nilai gizinya.
Khitin berasal dari bahasa Yunani yang berarti jubah atau penutup. Khitin merupakan
polisakarida yang mengandung gula-gula amino yang tersebar pada tanaman tingkat rendah
(jamur) dan invertebrata. Khitin merupakan senyawa biopolimer berantai panjang dan tidak
bercabang. Tiap rantai polimer pada umumnya terdiri dari 2000 hingga 5000 unit monomer
N-asetil-D-Glukosamin (2-acetamido-2-deoksi-D-Glukosa) yang terpaut melalui ikatan
(1,4) glukosa. Unit monomer khitin memiliki rumus molekul C8H12NO5 dengan kadar C
47%, H 6%, N 7% dan O 40% (Foster dan Webber, 1960; Walton dan Blackwell, 1973;
Bastaman, 1989).

Gambar 2. Struktur Kimia Senyawa Khitin


Khitin adalah polisakarida alamiah yang menyebabkan kerasnya
kulit crustaceae (udang) dan molusca (kerang) serta dinding sel fungi dan alga tertentu. Pada
kulit udang khitin terdapat dalam bentuk senyawa komplek berikatan bersama protein,
garam-garam anorganik, kalsium karbonat dan lipid serta pigmen-pigmen (Austin, 1988).
Khitin merupakan suatu polisakarida struktural yang mengandung nitrogen dan
bergabung dengan protein dan kalsium sebagai bahan dasar pembentuk ker angka
luar (eksoskeleton) hewan invertebrata seperti udang (Walton dan Blackwell, 1973).
Protein yang terdapat dalam limbah udang sebagian nitrogennya adalah dari nitrogen
khitin, yaitu senyawa N-asetil-D-Glukosamin polisakarida yang berikatan erat dengan
khitin dan kalsium karbonat pada kulitnya. Eratnya ikatan tersebut menyebabkan
daya cernanya menjadi rendah (Parakkasi, 1983; Raharjo, 1985). Tetapi khitin ini
tidak bersifat toksik atau racun (Muzzarelli, 1986).
Menurut Watskin (1982), kandungan Nitrogen pada khitin adalah sebesar
6,80%, sedangkan menurut Walton dan Blackwell (1973) kandungan protein pada ikatan
khitin-protein berkisar antara 50-95% dan kandungan kalsiumnya (CaCO3)
sebanyak 75% dari kulit udang. Selanjutnya dikatakan bahwa pemurnian khitin dengan asam
encer untuk melarutkan protein. Khitin merupakan zat yang sukar larut dan sangat stabil
dalam air, larutan asam encer, basa encer dan pekat, dan alkohol, sehingga isolasi khitin
memerlukan metoda yang khusus. Khitin dapat diuraikan dengan asam hidrokhlorik pekat,
asam sulfat pekat dan asam phosfat 78-97% (Foster dan Webber, 1960).

Struktur khitin dan khitosan sama dengan selulosa, yaitu ikatan yang terjadi antara
monomernya terangkai dengan glukosida pada posisi (1,4). Perbedaannya dengan selulosa
adalah gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon nomor dua pada khitin digantikan oleh
gugus asetamina (-NHCOCH3) sehingga khitin menjadi sebuah polimer berunit N-Asetil-D-
Glukosamin sedangkan pada khitosan digantikan oleh gugus amin (NH2). Khitin dapat
dibedakan berdasarkan susunan rantai N-Asetil- Glukosamin yaitu , , , derajat deasetilasi,
adanya ikatan silang seperti dengan protein dan glukan. Khitin dalam tubuh organisme
terdapat dalam tiga bentuk kristal dan dibedakan atas susunan rantai molekul yang
membangun kristalnya yaitu khitin (rantai antiparalel), khitin (rantai paralel) dan khitin
(rantai campuran) (Foster dan Webber, 1960; Walton dan Blackwell, 1973; Bastaman, 1989).
Khitin memiliki bentuk yang padat dan bersifat tidak larut dalam air atau pelarut
organik biasa. Namun khitin dapat dimodifikasi secara kimiawi menjadi turunan-turunannya
yang mempunyai sifat-sifat khas dan kegunaannya sendiri. Khitin dapat dihidrolisis secara
enzimatis oleh enzim khitinase, menghasilkan monomer -1,4 N-setil-D-glukosamin.
Khitinase dapat dihasilkan oleh beberapa macam bakteri, aktinomisetes, jamur dan
tumbuhan. Meskipun sumber khitin bermacam-macam, namun secara komersial khitin
dieksplorasi dari cangkang udang-udangan dan Crstacea. Sebanyak 50 60 % dari limbah
udang, dihasilkan 25 % Khitin dari 32 % berat kering limbah tersebut (Yurnaliza, 2002).

Protein atau nitrogen yang ada pada limbah udang ini berikatan erat dengan kitin dan
kalsium karbonat dalam bentuk komplek ikatan senyawa protein-kitin-kalsium karbonat,
sehingga bioavailability oleh ternak unggas sangat rendah, di samping itu, ternak unggas
tidak mempunyai enzim kitinase pada saluran pencernaannya. (Mirzah, 2007)
Kandungan khitin yang tinggi menyebabkan limbah udang mempunyai kecernaan
yang rendah yaitu kadar khitin 3 % dalam ransum ayam broiler yang akan menekan konsumsi
ransum dan pertumbuhan . Oleh sebab itu sebelum digunakan sebagai bahan pakan dalam
ransum broiler limbah udang itu harus mendapat penanganan dan pengolahan yang baik
untuk meningkatkan nilai gizinya. Sebagian besar limbah udang berasal dari kulit, kepala,
dan ekornya. Fungsi kulit udang tersebut pada hewan udang (hewan golongan invertebrata)
yaitu sebagai pelindung Isolasi khitin dari limbah kulit udang dilakukan secara bertahap yaitu
tahap pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa (Neely dan Wiliam, 1969).
Penggunaan limbah udang sebagai bahan pakan ternak perlu sentuhan teknologi untuk
meningkatkan nilai gizinya, karena bahan ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu serat
kasar tinggi, dan memiliki kecernaan protein yang rendah karena mengandung zat anti nutrisi
khitin ( Hartadi et al., 1997). Zat ini merupakan suatu polisakarida yang bergabung dengan
protein sebagai bahan dasar pembentuk kulit luar serangga dan crustaceae yang merupakan
faktor pembatas penggunaan limbah kepala udang (Wanasuria, 1990).

Penggunaan Tepung Limbah Udang dalam Ransum Broiler


Pemanfaatan limbah udang sebagai pakan ayam merupakan hal yang mungkin dapat

dipakai, disamping menambah variasi dan persediaan bahan baku ransum yang tidak

bersaingan dengan manusia, mengurangi pencemaran lingkungan juga dapat menekan biaya

ransum, dimana 6070% dari komponen biaya produksi adalah biaya ransum. Ransum

perlakuan terdiri dari 5 macam ransum yang berbeda tingkat pengantian protein tepung ikan

dengan protein TLU olahan, yaitu R0 sebanyak 0 % TLU (ransum kontrol atau tanpa

penggantian tepung ikan ), R1 penggantian 25 % protein tepung ikan dengan protein TLU

olahan, R2 penggantian 50 % protein tepung ikan dengan protein TLU olahan, R3

penggantian 75 % protein tepung ikan dengan TLU olahan, dan R4 penggantian 100 %
protein tepung ikan dengan TLU olahan.
Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas 5 taraf
perlakuan penggantian tepung ikan dengan TLU olahan dan diulang sebanyak 5 kali. Peubah
yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum dan
persentase karkas, serta income over feed chick cost. Semua data (kecuali income over feed
chick cost) dianalisa secara statistik dengan analisis ragam, dan perbedaan antar perlakuan
diuji dengan Duncans Multiple Range Test (Steel & Torrie, 1991).
Tabel 2. Susunan ransum perlakuan dan kandungan nutriennya
Ransum percobaan
R0 R1 R2 R3 R4
Bahan pakan (%)
Jagung 55 55 55 55 55
Bungkil kedelai 20 20 20 20,50 20
Tepung ikan 16 12 8 4 0
TLU olahan 0 5 10 14 18
Dedak halus 3 2,50 2,50 2 2,50
Bungkil kelapa 3,50 3 2 2 2
Minyak kelapa 2 2 2 2 2
Top mix 0,5 0,50 0,50 0,50 0,50

Jumlah 100 100 100 100 100


Nutrien:
Protein (%) 22,08 22,11 2,14 22,18 22,01
Lemak (%) 5,71 5,69 5,70 5,72 5,67
Serat kasar (%) 3,85 4,28 4,68 5,20 5,62
Kalsium (%) 0,85 1,62 1,40 1,85 2,00
Fosfor (%) 0,31 0,35 0,39 0,47 0,52
ME (kkal/kg) 3013 3017 3016 3005 3009

Penelitian yang dilakukan oleh Mirzah (2006) menguji efektifitas penggunaan tepung
limbah udang (TLU) terhadap performans broiler yang memperoleh hasil seperti pada tabel
3.
Tabel 3. Rataan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan konversi ransum, dan income over
feed cot ayam broiler selama penelitian
Income
Konsumsi Pertambahan Konversi Over Feed
Ransum Bobot Badan Ransum And Chick
Perlakuan
(gram/ekor) (gram/ekor/mgg) Cost
(Rp)
R0 1819,24 954,28 1,91 2459,72
R1 1797,64 957,28 1,88 2595,25
R2 1871,30 997,21 1,88 2790,89
R3 1895,36 1025,33 1,86 2881,56
R4 1780,23 927,69 1,92 2496,34
Rataan 1832,75 972,36 1,89 2644,75
Sumber : Mirza (2006 ).
Keterangan : Angka tanda hitam pada kolom menunjukkan pengaruh berbeda nyata (P < 0,05)

eterangan : R0 : Tepung Ikan : 16 %, Tepung Limbah Udang : 0 %


R1 : Tepung Ikan : 12 %, Tepung Limbah Udang : 5 %
R2 : Tepung Ikan : 8 %, Tepung Limbah Udang : 10 %
R3 : Tepung Ikan : 4 %, Tepung Limbah Udang : 14 %.
R4 : Tepung Ikan : 0 %, Tepung Limbah Udang : 18 %

Konsumsi ransum, Tingginya kandungan khitin akan menyebabkan ransum bersifat


amba (volumenous), sehingga akan menurunkan konsumsi ransum ayam. Kandungan khitin
dalam ransum perlakuan R4 (18 % TLU) adalah 1,98 %. Jumlah persentase tersebut masih
berada dibawah ambang batas yang dapat ditolerir ayam broiler. Razdan and Petterson
(1994), menyatakan bahwa kadar khitin 3 % dalam ransum ayam broiler akan menekan
konsumsi ransum dan pertumbuhan, sedangkan menurut Reddy et al. (1996) pertumbuhan
ayam akan terganggu bila kadar khitin dalam ransum lebih dari 2,32 %. Tetapi dengan
persentase khitin yang masih dalam batas ditolerir tersebut tidak mempengaruhi konsumsi
ayam selama penelitian. Selain itu, tidak berbedanya konsumsi ransum juga disebabkan
ransum yang diberikan mempunyai palatabilitas yang baik, karena TLU olahan tidak berbau
busuk dan amis, sehingga ternak ayam broiler menyukai ransum tersebut. Sesuai dengan
pendapat Wahju (1992) yang menyatakan bahwa palatabilitas menentukan banyaknya
makanan yang dikonsumsi. Bahan pakan yang diolah dengan cara fermentasi biasa akan
meningkatkan kualitas dan palatabiltasnya. Hal ini terjadi karena dalam pengolahan bahan
makanan ternak dengan tekanan uap (dikukus) dapat mengubah struktur kimia dan ikatan zat
makanan dengan faktor pembatas (Sundstol, 1988), sedangkan proses fermentasi akan
meningkatkan kualitas dan palatabiltas serta daya simpan bahan makanan (Winarno, 1980),
sehingga palatabilitas ransum R4 tidak berbeda dengan ransum kontrol (R0). Tidak berbeda
nyatanya perlakuan terhadap konsumsi ransum juga disebabkan oleh kandungan energi dan
protein ransum yang sama, sehingga ayam menyesuaikan konsumsi ransum berdasarkan
kandungan energi dan protein dalam ransum (Wahju, 1978).
Pertambahan Bobot Badan, terlihat bahwa semakin tinggi penggunaan tepung
limbah udang pengganti protein tepung ikan dalam ransum menyebabkan menurunkan
pertambahan bobot badan ayam yang dipelihara selama 4 (empat) minggu, dan secara
statistik perlakuan memberikan pengaruh berbeda nyata (P < 0,05) terhadap pertambahan
bobot badan ayam broiler. Hasil uji lanjut DMRT menunjukkan bahwa antara perlakuan R0,
R1, R2, dan R3 tidak berbeda nyata (P > 0,05), tetapi berbeda nyata (P < 0,05) lebih besar
dibandingkan dengan perlakuan R4.
Berbeda tidak nyatanya (P> 0,05) perlakuan R0, R1, R2 dan R3
terhadap pertambahan bobot badan disebabkan konsumsi ransum yang sama pada setiap
perlakuan, karena menurut Winarno (1980), makanan yang difermentasi mempunyai nilai
gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan asalnya serta memiliki daya cerna dan
palatabiltas yang lebih baik dan memberikan aroma dan flavor lebih disukai oleh ayam,
sehingga dihasilkan pertambahan bobot badan yang sama pula pada akhir penelitian. Selain
itu, pertambahan bobot badan yang sama pada setiap perlakuan juga disebabkan tepung
limbah udang olahan yang digunakan mempunyai daya cerna yang optimal dari perlakuan
perendaman dengan FAAS dan pengukusan serta fermentasi dengan EM-4 akan menguraikan
ikatan komplek protein-khitin-kalsium karbonat menjadi glukosamin oleh enzim khitinase
yang dihasilkan bahteri Actimomycetes sp (Indriani, 2003). Tinggi rendahnya kualitas suatu
bahan makanan antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya daya cerna bahan makanan
tersebut, sehingga protein yang ada pada tepung limbah udang olahan dapat digunakan
sebagai pengganti protein tepung ikan dalam ransum. Disamping itu, kecepatan pertumbuhan
juga ditentukan oleh tinggi rendahnya retensi nitrogen dari makanan atau ransum yang
diberikan, sehingga daya cerna protein tinggi, retensi nitrogennya juga akan tinggi (Wahju,
1972). Daya cerna protein kasar dan retensi nitrogen pada produk TLU olahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah berturut-turut sebesar 80,83 % dan 66,60 %, dan
kandungan asam amino kritisnya, yaitu metionin, lysin dan triptophan tidak terlalu jauh
berbeda dengan tepung ikan, yaitu sebesar 1,44 %; 0,66 % dan 0,51 %.
Peningkatan kecernaan protein kasar ini juga tidak terlepas dari pengaruh menurunnya
kandungan khitin. Peningkatan dosis dan lama waktu fermentasi mengakibat semakin banyak
mikroba dan produksi enzim khitinase serta semakin lama waktu kontak dengan substrat,
sehingga terjadi perombakan komplek ikatan khitin-protein- kalsium karbonat dan perubahan
komposisi zat-zat makanan, terutama pada karbohidrat dan khitin. Enzim khitinase yang
diproduksi oleh bakteri Actinomycetes dan Streptomyces akan mendegradasi ikatan (1,4)
glikosidik dan akan membebaskan sebagian Nitrogen dalam bentuk monomer N-Asetil-D-
glukosamina serta asetil amino. Sesuai pendapat Nwanna et al. (2003); Harnentis (2004) dan
Mahata (2007), bahwa pengolahan limbah udang menggunakan bakteri penghasil khitinase
akan meningkatkan kecernaan atau kelarutan protein kasarnya. Di samping itu, preparasi
yang dilakukan secara kemis dan fisik pada limbah udang sebelum fermentasi juga sangat
berpengaruh besar terhadap kecernaan protein kasar, karena ikatan komplek antara khitin-
protein-kalsium karbonat telah direnggangkan, sehingga akan memudahkan penetrasi enzim
terhadap substrat. Kondisi inilah yang menyebabkan tidak berbedanya pertambahan bobot
badan antara R0 dengan R1, R2 dan R3.
Terdapatnya perbedaan yang nyata antara R0, R1, R2 dan R3 dengan perlakuan R4
disebabkan semakin menurunnya konsumsi ransum dan jumlah penggunaan TLU yang
tinggi, sehingga menyebabkan kandungan khitin ransum semakin mendekati 2 %, yaitu batas
toleransi kandungan khitin ransum. Di samping itu ransum R4 makin bersifat amba
(volumenous), sehingga akan menurunkan konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan.
Hasil pertambahan bobot badan pada penelitian ini lebih baik dibandingkan hasil
penelitian Mirzah (1990), bahwa penggunaan tepung limbah udang yang diolah dengan asam
HCL sebagai pengganti tepung ikan dalam ransum ayam broiler hanya dapat mengganti 50
persen saja. Dari penelitian ini diperoleh bahwa penggunaan tepung limbah udang yang
diolah dengan cara perendaman 48 jam dengan filtrat air abu sekam 20 % dan dikukus selama
45 menit, kemudian difermentasi menggunakan EM-4 dengan dosis 20 ml/100 gram substrat
selama 11 hari dapat digunakan dalam ransum ayam broiler sebagai pengganti protein tepung
ikan sebesar 14 % (menggantikan 75 % protein tepung ikan dalam ransum).
Konversi Ransum, merupakan perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi
dengan pertambahan berat badan ayam. Angka konversi ransum menunjukkan suatu prestasi
penggunaan ransum seekor ayam, dimana semakin rendah nilai konversi ransum semakin
effisien penggunaan ransum tersebut oleh ternak ayam. Konversi ransum ayam broiler pada
penelitian ini memperlihatkan berbeda tidak nyata (P>0,05). Hal ini desebabkan karena
perlakuan berbeda tidak nyata terhadap konsumsi ransum. Walau pertambahan bobot badan
memberikan pengaruh yang nyata, namum peningkatannya sebanding dengan peningkatan
konsumsi ransum ayam broiler, sehingga diperoleh hasil pembandingan yang sama antara
konsumsi dan pertambahan bobot badan, dan akhirnya memperlihatkan hasil konversi ransum
yang berbeda tidak nyata ada setiap perlakuan.
Konversi ransum yang menggunakan tepung limbah udang olahan sampai 18 % dalam
ransum, yaitu menggantikan 100 % protein tepung ikan dalam ransum menghasilkan angka
konversi yang tidak berbeda nyata (P>0,01) dengan R0, R1, R2 dan R3. Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian Mirzah (1997) yang dapat menggunakan tepung limbah udang
untuk menggantikan protein tepung ikan sampai 100% dalam ransum dengan tingkat
pemakaian tertinggi 18 % yang menghasilkan konversi yang sama dengan ransum kontrol.
Dari tabel 1 dapat diketahui bahwa kandungan asam amino TLU olahan secara
kuantitatif tidak jauh berbeda dengan TLU tanpa diolah, namun secara kualitatif tlu olahan
lebih baik dibandingkan tlu tanpa diolah, terutama dalam kandungan khitin, retensi nitrogen,
daya cerna protein dan energi termetabolis. . Peningkatkan kualitas nilai gizinya yaitu
pada peningkatan daya cerna protein sebesar 35,10 %, retensi nitrogen sebesar 19,74 % dan
energi termetabolis sebesar 11,07 %. Keunggulan kualitas ini sudah cukup mampu
menggantikan 75 % protein tepung ikan dalam ransum ternak ayam broiler
Over Feed And Chick Cost, Usaha peternakan adalah salah satu kebijakan dalam
ekonomi yang juga memperhitungkan setiap biaya yang dikeluarkan, guna memperoleh
pendapatan yang sebesar besarnya. Dalam usaha peternakan ayam broiler faktor ransum
perlu mendapat perhatian khusus, sebab 60 80 persen biaya produksi terserap oleh ransum.
Oleh sebab itu, income over feed chick cost atau pendapatan kotor merupakan salah satu
cara untuk mengetahui kelayakan usaha peternakan ayam broiler. Pendapatan kotor adalah
selisih hasil penjualan ayam broiler dengan biaya ransum dan anak ayam. Walaupun
komposisi ransum lebih banyak dari bahan makanan nabati yang lebih murah, namun harga
dan kualitas ransum terutama ditentukan oleh bahan pakan asal hewani. Karena harga setiap
gram protein hewani cukup mahal, maka perlu dilakukan upaya untuk menggantikannya
dengan bahan pakan alternatif yang harganya lebih murah dengan kandungan protein atau
nilai gizi yang cukup tinggi.
Berdasarkan tabel 3, terlihat bahwa semakin tinggi penggunaan limbah udang olahan
dalam ransum, semakin tinggi keuntungan yang diperoleh ransum tersebut. Hal ini
disebabkan karena ransum yang menggunakan tepung limbah udang olahan harganya lebih
murah dibandingkan dengan tepung ikan, sehingga dapat menekan biaya pakan atau biaya
produksi. Menurut behrends (1990), apabila harga ransum dapat ditekan sebanyak 2 % saja,
maka keuntungan dari penjualan produk peternakan (karkas) meningkat sampai sebesar 8
persen. Namun pada tingkat penggantian 75 dan 100 % menunjukkan keuntungan kotor yang
semakin menurun. Hal ini disebabkan semakin menurun pula berat hidup atau berat karkas
yang didapat. Hasil akhir yang diharapkan dari penggunaan tepung limbah udang olahan
adalah dapat meningkatkan keuntungan atau pendapat kotor. Sesuai dengan pendapat rasyaf
(1994), bahwa yang sangat menentukan tinggi rendahnya harga ransum adalah
bahan makanan sumber protein yang berasal dari bahan asal hewani.

PENUTUP

Kesimpulan
Penggunaan tepung limbah udang (tepung rese) sebagai pengganti tepung ikan secara
statistik sampai 100% dalam ransum ayam broiler tidak mempengaruhi konsumsi ransum,
konversi ransum, dan Income Over Feed And Chick Cost ayam broiler namun berpengaruh
terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler.

Saran
Sebaiknya tingkat penggantian protein tepung ikan dengan tepung limbah udang
olahan dengan Filtrat Abu Air Sekam 20 % dan fermentasi dengan EM-4 dalam ransum
ayam broiler dapat dilakukan sampai 75 persen yaitu dengan peenggantian tepung ikan 4%
dan tepung limbah udang olahan 14%.

DAFTAR PUSTAKA
Abun. 2009. Pengolahan Limbah Udang Windu Secara Kimiawi Dengan NaOH dan H2SO4 Terhadap
Protein dan Mineral Terlarut. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran .Jatinangor.

Anonima. 2008. Limbah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Sumatra Utara. Medan.

Bastaman, S. 1989. Studies on Degradation and Extraction of Chitin and Chitosan from Prawn shell.
The Queens University of Belfast, Belfast

Djunaidi, I. H, T. Yuwanta, Supadmo dan M. Nurcahyanto. Pengaruh Penggunaan Limbah Udang Hasil
Fermentasi dengan Aspergillus niger terhadap Performan dan Bobot Organ Pencernaan
Broiler. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Foster, A.B. and J.M. Webber. 1960. Advances in Carbohydrate Chemistry. Vol. 15. Academic press.
Inc., New York, London.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, dan A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Harnentis. 2004. Pengaruh Lama Fermentasi Limbah Udang dengan Effective Microorganism 4 (EM4)
terhadap Kuatitas dan Kualitas Tepung Limbah Udang. Laporan Penelitian. Fakultas
Peternakan Universitas Andalas ,Padang.

Indriani, Y.H. 2003. Membuat Kompos Secara Kilat. Cetk. I, Penebar Swadaya. Jakarta.

Mirzah, Yumaihana dan Filawati. 2006, Pemakaian Tepung Limbah Udang Hasil Olahan Sebagai
Pengganti Tepung Ikan Dalam Ransum Ayam Broiler. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak
Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Padang. Sumatra Barat.

Mirzah. 2007. Penggunaan Tepung Limbah Udang yang Diolah dengan Filtrat Air Abu Sekam dalam
Ransum Ayam Broiler. Media Peternakan, Desember 2007, hlm. 189-197, ISSN 0126-0472,
Vol. 30 No. 3. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Andalas. Padang. Sumatra Barat.

Mahata, M.E. 2007. Perbaikan kualitas gizi limbah udang sebagai pakan unggas melalui hidrolisis
enzim kitosanase dan kitinase dari bacterium Serratia marcescens. Disertasi, Program
Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.

Nwanna, L.C., A.M. Balogun, Y.F. Ajenifuja and V.N. Enujiugha. 2003. Replacement of fish meal
with chemically preserved shrimp head meal in the diets of African catfish, Clarias
gariepinus. J. Food Agri. And Environment 2) 1.

Neely, M.C.H and William, 1969, Chitin and Its Derivates in Industrial, Gums Kelco Company
California. 193 212.

Purwatiningsih. 1990. Isolasi Khitin dan Komposisi Kimia dari Limbah Udang Windu. Tesis
Pascasarjana. ITB. Bandung.

Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Cetakan I. Kanisius, Yogjakarta. Hal : 120 212.

Razdan, A and D. Petterson. 1994. Effect of chitin and chitosan on nutrient digestibility and plasma lipid
concentration in broiler chicken. British Journal of Nutrition 72 : 277-288.

Reddy, V.R., V.R. Reddy and S. Quddratullah. 1996. Squilla: A novel animal protein, Can it be Used as
a Complete Subtitute For Fish in Poultry Ration. Feed International no. 3 vol. 17 : 18 - 20.

Yurnaliza. 2002. Senyawa Khitin dan Kajian Aktivitas Enzim Mikrobial Pendegradasinya. Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Biologi Universitas Sumatera Utara.
Medan.

Wahju, j. 1992. Ilmu nutrisi unggas, edisi ke 3. Gadjah mada university press. Yogyakarta.
Wanasuria, S. 1990 Tepung Kepala Udang dalam Pakan Broiler. Poultry Indonesia.

Winarno, F.G dan D. Fardiaz. 1980. Penangan Teknologi Pangan. PT. Gramedia, Jakarta.

Diposkan oleh Islamiyah Syah di 21.18