Anda di halaman 1dari 9

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes HANG TUAH PEKANBARU
TA. 2015/2016

LAPORAN PENDAHULUAN
ABSES MANDIBULA

A. KONSEP DASAR
1. DEFINISI
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat atau infeksi
bakteri. Abses adalah kumpulan tertutup jaringan cair, yang dikenal sebagai nanah, di
suatu tempat didalam tubuh. Ini adalah hasil dari reaksi pertahanan tubuh terhadap
benda asing (Mansjoer A, 2005).
Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di mandibula. Abses dapat
terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya sebagai kelanjutan
infeksi dari daerah leher (Smeltzer dan Bare, 2001).

2. ETIOLOGI
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara antara lain:
a. Bakteri masuk kebawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak
steril
b. Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh lain.
c. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup didalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.
Lebih lanjut siregar 2004 menjelaskan peluang terbentuknya suatu abses akan
meningkat jika:
a. Terdapat kotoran atau benda asing didaerah terjadinya infeksi
b. Darah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
c. Terdapat gangguan sistem kekebalan
Menurut Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Henda Utama (2001). Abses
mandibula sering disebabkan oleh infeksi didaerah rongga mulut atau gigi. Peradangan
ini menyebabkan adanya pembengkakan didaerah submandibula yang pada perabaan
sangat keras biasanya tidak teraba adanya fluktuasi. Sering mendorong lidah keatas dan
kebelakang dapat menyebabkan trismus. Hal ini sering menyebabkan sumbatan jalan
napas.
Bila ada tanda-tanda sumbatan jalan napas, maka jalan napas harus segera
dilakukan trakeostomi yang dilanjutkan dengan insisi di garis tengah dan eksplorasi
dilakukan secara tumpul untuk mengeluarkan nanah. Bila tidak ada tanda-tanda
sumbatan jalan napas dapat segera dilakukan eksplorasi tidak ditemukan nanah,
kelainan ini disebutkan angina ludoviva (selulitis submandibula). Setelah dilakukan
eksplorasi diberikan anti biotik dosis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob.
Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rectum
dan otot. Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama
jika timbul di wajah

3. PATOFISIOLOGI
Jika bakteri menusuk kedalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi.
Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel
yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan
infeksi, bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri sel darah putih
akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang mengisi
rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan
terdorong jaringan pada akhirnya tumbuh disekeliling abses dan menjadi dinding
pembatas.
Abses ini merupakan mekanisme tubuh mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut
jika suatu abses pecah didalam tubuh maka infeksi akan menyebar kedalam tubuh
maupun dibawah perrmukaan kulit, tergantung pada lokasi abses.

4. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Smeltzer & Bare (2001) gejala dari abses tergantung pada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gelajanya bisa berupa:
a. Nyeri tekan
b. Teraba hangat
c. Pembengkakan
d. Kemerahan
e. Demam
Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai
benjolan. Adapun lokasi abses antara lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika abses
pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis.
Suatu abses didalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala sering kali terlebih
dahulu tumbuh lebih besar. Abses dalam lebih mungkin menyebarkan infeksi ke
seluruh tubuh. Adapun tanda dan gejala abses mandibula adalah nyeri leher disertai
pembengkakan dibawah mandibula dan dibawah lidah, mungkin berfluktuasi.

5. KOMPLIKASI
Komplikasi atau dampak yang mungkin terjadi akibat dari abses mandibula
menurut Siregar (2004) adalah:
a. Kehilangan gigi
b. Penyebaran infeksi pada jaringan lunak dapat mengakibatkan selulitis wajah dan
Ludwigs angina
c. Penyebaran infeksi pada tulang rahang dapat mengakibatkan osteomyelitis
mandibula atau maksila
d. Peyebaran infeksi pada daerah tubuh yang lain, menghasilkan abses serebral,
endikarditis, pneumonia atau gangguan lainnya.

6. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN


Menurut FKUI (1990), antibiotic dosis tinggi terhadap kuman anaerob harus
diberikan secara parentral. Evaluasi abses dapat dilakukan dalam anastesi lokal untuk
abses yang dangkal dan terlokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses
dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi 0,5
tiroid, tergantung letak dan luas abses. Pasien dirawat inap 1-2 hari gejala dan tana
infeksi reda.
Suatu abses sering kali membaik tanpa pengobatan, abses akan pecah dengan
sendirinya dan mengeluarkan isinya. Kadang abses menghilang secara perlahan karena
tubuh menghancurkan infeksi yag terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi, abses pecah
dan bisa meninggalkan benjolan yang keras.
Untuk menringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses tidak
memiliki aliran darah, sehingga pemberian antibiotik biasanya hanya sia-sia. Antibiotic
biasanya diberikan setelah abses mongering dan hal ini dilakukan untuk mencegah
kekambuhan. Antibiotic juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi kebagian tubuh
lainnya.
7. WEB OF CAUSATION

Bakteri

Jaringan sel terinfeksi

Peradangan Sel darah putih mati

Demam Jaringan menjadi abses


dan berisi pus
Hipertermi Kurang pengetahuan
Pecah tentang penyakit

Kerusakan integritas jaringan Cemas


B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Data yang harus dikumpulkan dalam pengkajian yang dilakukan pada kasus abses
mendibula menurut Doenges (2001) adalah sebagai berikut:
a. Aktivitas/istirahat
DS : Pusing, sakit kepala, nyeri, mulas.
DO : Perubahan masalah dalam keseimbangan cedera (trauma)
b. Sirkulasi
DO : Kecepatan (bradipnue, takipnue), pola napas (hipoventilasi, hiperventilasi,
dll)
c. Integritas Ego
DS : Perubahan tingkah laku / kepribadian (tenang atau dramatis)
DO : Cemas, bingung, depresi
d. Eliminasi
DS : Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami gangguan fungsi
e. Makanan dan cairan
DS : Mual, muntah dan mengalami perubahan selera makan
DO : Mengalami distensi abdomen
f. Neurosensori
DS : Kehilangan kesadaran sementara, vertigo
DO : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental, kesulitan
dalam menentukan posisi tubuh
g. Nyeri dan kenyamanan
DS : Nyeri pada rahang dan bengkak
DO : Wajah meringis, gelisah, merintih
h. Pernapasan
DS : Perubahan pola napas
DO : Pernapasan menggunakan otot bantu pernapasan/otot aksesoris.
i. Keamanan
DS : Trauma baru akibat gelisah
DO : dislokasi gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak
j. Prioritas keperawatan
1) Mengurangi ansietas dan trauma emosional
2) Menyediakan keamanan fisik
3) Mencegah komplikasi
4) Meredakan rasa sakit
5) Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan
6) Menyediakan informasi mengenai proses penyakit/prosedur pembedahan,
prognosis dan kebutuhan pengobatan
k. Tujuan pemulangan
1) Pasien menghadapi situasi yang ada secara realistis
2) Cidera dicegah
3) Komplikasi dicegah/diminimalkan
4) Rasa sakit dihilangkan/dikontrol
5) Luka sembuh/fungsi organ berkembang kea rah normal
6) Proses penyakit/prosedur pembedahan prognosis dan regimen terapeutik
dipahami
Sedangkan menurut dokter Rahajeng (2006) pengkajian pada abses mandibula adalah :
a. Keadaan umum : lemah, lesu, malaise, demam
b. Pemeriksaan ekstraoral : asimetri wajah, tanda radang jelas, fluktuasi positif, tepi
rahang teraba
c. Pemeriksaan intraoral : periodontitis akut, muccobukkal fold, fluktuasi positif

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan abses
mandibula adalah:
a. Nyeri akut b.d agen injuri biologi ditandai dengan laporan nyeri secara verbal, posisi
untuk menahan nyeri, tingkah laku berhati-hati, gangguan tidur, penurunan interaksi
dengan orang dan lingkungan, tingkah laku distraksi, respon autonom, tingkah laku
ekspresif misalnya gelisah, merintih, menangis.
b. Hipertermi b.d proses penyakit, peningkatan metabolisme ditandai dengan kenaikan
suhu tubuh diatas rentang normal, kulit kemerahan, peningkatan RR, takikardi, kulit
teraba panas/hangat
c. Kerusakan integritas kulit b.d trauma mekanik ditandai dengan gangguan pada
bagian tubuh, kerusakan lapisan kulit, gangguan permukaan kulit.
d. Defisit volume cairan dan elektrolit b.d kehilangan volume cairan secara aktif
ditandai dengan penurunan turgor kulit, membrane mukosa kering, peningkatan
denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume/tekanan nadi.
e. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidak mampuan menelan
makanan, nyeri rahang.
f. Gangguan pola tidur b.d rasa nyeri pada area rahang dan luka operasi
g. Gangguan komunikasi verbal b.d adanya peradangan di area mulut.

3. INTERVENSI
No Diagosa NOC NIC
1 Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan tindakan Lakukan pengkajian nyeri
injuri biologi keperawatan selama 1 x 24 secara komprehensif
ditandai dengan jam, pasien tidak mengalami termasuk lokasi,
laporan nyeri secara nyeri dengan kriteria hasil: karakteristik, frekuensi,
verbal, posisi untuk Melaporkan bahwa nyeri kualitas dan faktor presipitasi
menahan nyeri, secara berkurang dengan Observasi reaksi nonverbal
tingkah laku berhati- menggunakan menajemen dari ketidaknyamanan
hati, gangguan tidur, nyeri Bantu pasien dan keluarga
penurunan interaksi Mampu mengenali nyeri untuk mencaari dan
dengan orang dan (skala, intensitas, menemukan dukungan
lingkungan, tingkah frekuensi dan tanda nyeri) kontrol lingkungan yang
laku distraksi, respon Menyatakan rasa nyaman dapat mempengaruhi nyeri
autonom, tingkah setelah nyeri berkurang seperti suhu ruangan,
laku ekspresif Tanda vital dalam rentang pencahayaan dan kebisingan
misalnya gelisah, normal kurangi faktor presipitasi
merintih, menangis. Tidak mengalami nyeri
gangguan tidur kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
ajarkan tentang teknik non
farmakologi : napas dalam,
relaksasi, distraksi, kompres
hangat/dingin
berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
tingkatkan istirahat
berikan informasi tentang
nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi
ketidak nyamanan dari
prosedur
monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesic pertama kali
2 Hipertermi b.d Setelah dilakukan tindakan Monitor suhu sesering
proses penyakit, keperawatan selama 1 x 60 mungkin
peningkatan menit pasien menunjukkan Monitor warna dan suhu kulit
metabolisme suhu dalam rentang normal Monitor tekanan darah, nadi
ditandai dengan dengan criteria hasil: dan RR
kenaikan suhu tubuh Suhu tubuh 36,5 s/d 37,6 Monitor perubahan tingkat
diatas rentang Nadi dan RR dalam kesadaran
normal, kulit rentang normal Monitor WBC, Hb, dan Hct
kemerahan, Tidak ada perubahan Monitor intake dan output
peningkatan RR, warna kulit dan tidak ada Berikan anti piretik
takikardi, kulit pusing Kelola antibiotic
teraba panas/hangat
Selimuti pasien
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada daerah
lipatan
Tingkatkan sirkulasi udara
Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
Monitor TD, nadi, suhu, dan
RR
Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
Monitor hidrasi seperti turgor
kulit, kelembaban mukosa
Daftar Pustaka
NANDA, 2005
NIC, 2005
NOC, 2005
Suzane , C. Smeltzer, Brenda G Bare (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner and Suddarth : EGC