Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang
limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah untuk masyarakan ini dapat memberikan
manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Tangerang, 12 Oktober 2017

Penulis,

2
BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara periodik darah dan sel-sel
tubuh dari vagina yang berasal dari dinding rahim wanita. Menstruasi dimulai saat pubertas dan
menandai kemampuan seorang wanita untuk mengandung anak, walaupun mungkin faktor-faktor
kesehatan lain dapat membatasi kapasitas ini. Menstruasi biasanya dimulai antara umur 10 dan
16 tahun, tergantung pada berbagai faktor, termasuk kesehatan wanita, status nutrisi, dan berat
tubuh relatif terhadap tinggi tubuh. Menstruasi berlangsung kira-kira sekali sebulan sampai
wanita mencapai usia 45 50 tahun, sekali lagi tergantung pada kesehatan dan pengaruh-
pengaruh lainnya. Akhir dari kemampuan wanita untuk bermenstruasi disebut menopause dan
menandai akhir dari masa-masa kehamilan seorang wanita. Panjang rata-rata daur menstruasi
adalah 28 hari, namun berkisar antara 21 hingga 40 hari. Panjang daur dapat bervariasi pada satu
wanita selama saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan
tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita tersebut.

Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang mempersiapkan tubuh wanita
setiap bulannya untuk kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh
interaksi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar dibawah otak depan, dan indung
telur. Pada permulaan daur, lapisan sel rahim mulai berkembang dan menebal. Lapisan ini
berperan sebagai penyokong bagi janin yang sedang tumbuh bila wanita tersebut hamil. Hormon
memberi sinyal pada telur di dalam indung telur untuk mulai berkembang. Tak lama kemudian,
sebuah telur dilepaskan dari indung telur wanita dan mulai bergerak menuju tuba Falopii terus ke
rahim. Bila telur tidak dibuahi oleh sperma pada saat berhubungan intim (atau saat inseminasi
buatan), lapisan rahim akan berpisah dari dinding uterus dan mulai luruh serta akan dikeluarkan
melalui vagina. Periode pengeluaran darah, dikenal sebagai periode menstruasi (atau mens, atau
haid), berlangsung selama tiga hingga tujuh hari. Bila seorang wanita menjadi hamil, menstruasi
bulanannya akan berhenti. Oleh karena itu, menghilangnya menstruasi bulanan merupakan tanda

3
(walaupun tidak selalu) bahwa seorang wanita sedang hamil. Kehamilan dapat di konfirmasi
dengan pemeriksaan darah sederhana.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah definisi dari macam macam gangguan dalam menstruasi ?


2. Bagaimana patofisiologi dari macam macam gangguan dalam menstruasi ?
3. Bagaimana manifestasi klinis gangguan dalam mentruasi ?
4. Bagaimana penatalaksanaan medis dari macam macam gangguan dalam mentruasi ?
5. Bagaimana Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan dalam Dismenorrhea ?

C. Tujuan

1. Menjelaskan definisi dari macam macam gangguan dalam menstruasi ?


2. Menjelaskan patofisiologi dari macam macam gangguan dalam menstruasi ?
3. Menjelaskan manifestasi klinis gangguan dalam mentruasi ?
4. Menjelaskan penatalaksanaan medis dari macam macam gangguan dalam mentruasi ?
5. Menjelaskan Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan dalam Dismenorrhea ?

D. Manfaat

1. Pembaca dapat memahami definisi, etiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan medis,


serta patofisiologi gangguan yang terjadi pada saat menstruasi.
2. Pembaca khususnya mahasiswa keperawatan dapat memahami asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan pada saat menstruasi.
3. Perawat dapat menerapkan asuhan keperawatan yang tepat pada klien dengan gangguan
dalam menstruasi.

4
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Gangguan Pada Haid dan Pendarahan Pada Uterus


I. Menorrhagia
a. Definisi

Hipermenore adalah perdarahan berkepanjangan atau berlebihan pada waktu menstruasi


teratur. Bisa disebut juga dengan perdarahan haid yang jumlahnya banyak hingga 6-7 hari, ganti
pembalut 5-6 kali/hari tetapi masih memiliki siklus-siklus yang teratur. Pada hipermenore
perdarahan menstruasi berat berlangsung sekitar 8-10 hari dengan kehilangan darah lebih dari
80ml.

b. Etiologi
- 40-60% wanita yang mengaku mengalami perdarahan hebat saat haid tidak ada patologi
pada sistem reproduksinya dan hal ini disebut perdarahan uterus disfungsional.
- Penyebab lokal seperti : myomata, endometril polip, uterus retro versi, first menstrual
period after childbirth or abortion (MPT), tumor sel granulosa di ovarium.
- Penyakit sistemik, seperti hipertiroidisme dan gangguan perdarahan.
- Penggunaan IUCD (Intra Uterine Contraceptive Device). Penggunaan IUCD akan
meningkatkan aliran menstruasi.
- Hypopalsia Uteri, menurut beratnya hipoplasia dapat mengakibatkan amenorrhoe (uterus
sangat kecil), hipermenorrhoe (uterus kecil jadi luka kecil).
- Astheni, Menorrhagia terjadi karena tonus otot pada umumnya kurang.
- Sealama atau sesudah menderita suatu penyakit atau karena terlalu lelah, juga karena
tonus otot kurang.
- Hypertensi.
- Decompensatio cordis.
- Infeksi : endometriosis, salphingitis.
- Retroflexio uteri, karena kandungan pembuluh darah balik.
- Penyakit darah : Hemofili

c. Patofisiologi
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin releasing hormon
(GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH). Hal
ini pada gilirannya menyebabkan folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus,
pelepasan leteinzing hormon (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel
menghasilkan esterogen yang berfungsi menstimulasi endometrium agar berproliferasi. Setelah
ovum dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan
berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan mensekresi progesteron.
Progesteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk berdeferemnsiasi dan stabilisasi. 14 hari
setelah ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari dari peluruhan endometrium
sebagai akibat dari penurunan kadar esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum.

5
Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah menstruasi awal yang
disebabkan oleh HPO axis yang belum matang. Siklus anovulasi juga terjadi pada beberapa
kondisi patologis.
Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya stimulasi dari FSH,
tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum
yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang disekresi. Endometrium berplroliferasi dengan
cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi esterogen menurun dan mengakibatkan perdarahan.
Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung dengan pendarahan yang normal, namun
ketidakstabilan poliferasi endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan
hebat.

d. Manifestasi klinis

Menorrhagia yang berat dapat menyebabkan anemia.


Gejala lain yang dapat menyertainya antara lain :
Sakit kepala
Kelemahan
Kelelahan
Kesemutan pada kaki dan tangan
Meriang
Penurunan konsentrasi

e. Terapi

Terapi spesifik untuk menorrhagia diberikan berdasarkan :

1) Umur dan riwayat kesehatan


2) Kondisi sebelumnya
3) Toleransi pada terapi pengobatan spesifik

Terapi untuk menorrhagia, yaitu :

1) Suplemen zat besi (jika kondisi menorrhagia disertai anemia, kelainan darah yang
disebabkan oleh defisiensi sel darah merah atu hemoglobin)
2) Prostaglandin inhibitor seperti medications (NSAID), seperti aspirin atau ibuprofen.
3) Kontrasepsi oral (ovulation inhibitor)
4) Progesteron (terapi hormon)
5) Hysteroctomy (operasi untuk menghilangkan uterus)

II. Oligomenorrhagia
a. Definisi
Suatu keadaan dimana haid jarang terjadi dan siklusnya panjang lebih dari 35 hari
b. Etiologi
- Perpanjangan stadium folikuler ( lamanya 8 -9 hari dimulai dari hari ke-5 menstruasi )
- Perpanjangan stadium luteal ( lamanya 15 -18 hari setelah ovulasi )

6
- Kedua stadium diatas panjang yang mengakibatkan perpanjangan siklus haid.

c. Manifestasi klinis
- Haid jarang, yaitu setiap 35 hari sekali
- Perdarahan haid biasanya berkurang

III. Adenomiosis Uterus


a. Definisi
Istilah adenomiosis berasal dari istilah adeno (artinya kelenjar), myo makna (otot) dan
osis (artinya kondisi). Dikenal sebagai "Endometriosis rahim," adalah adenomiosis jinak dan
tidak menyebabkan kanker. Paling umum, penyakit tersebut mempengaruhi dinding belakang
(sisi belakang) dari rahim. Sel-sel endometrium menembus jauh ke dalam otot rahim
(miometrium). Ketika ini terjadi pembesaran rahim biasanya lebih dari dua kali ukuran normal
dan sangat keras
Adenomyosis adalah penetrasi dan bertumbuhnya jaringan endometrium (jaringan yang
melapisi dinding dalam rahim) ke dalam myometrium (lapisan otot rahim), sering disebut pula
dengan endometriosis internal

b. Etiologi
Penyebab dari adenomyosis tidak dimengerti dengan baik. Beberapa peneliti-peneliti
percaya bahwa operasi-operasi sebelumnya pada kandungan (termasuk kelahiran-kelahira Cesar)
dapat menyebabkan sel-sel endometrial (lapisan kandungan) untuk menyebar dan tumbuh pada
lokasi yang abnormal (lapisan otot dari dinding kandungan). Kemungkinan lain adalah bahwa
adenomyosis timbul dari jaringan-jaringan dalam dinding kandungan sendiri yang mungkin telah
mengendap disana selama perkembangan dari kandungan. Adenomyosis adalah lebih umum
setelah kelahiran anak.

c. Patofisiologis
Penyakit ini disebabkan oleh tumbuhnya endometrium (selaput lender rahim) di tempat
yang tidak semestinya. Akibatnya jaringan tempat tumbuhnya selaput lendir yang abnormal ini
rusak, meradang, dan menimbulkan rangsang nyeri.
Jadi penyakit ini sejenis dengan endometriosis. Adenomyosis dapat ada bersamaan
dengan endometriosis eksternal. Dan jaringan endometrium yang salah tempat ini, seperti
endometrium yang normal, akan mengikuti siklus menstruasi, jadi cenderung mengalami
pendarahan pada saat menstruasi. Darah yang terkumpul di dalam jaringan otot rahim ini akan
menyebabkan pembengkakan; rahim menjadi lebih besar. Pembengkakan (adenomyosis) ini
dapat merata atau terfokus di satu tempat. Jika pembengkakan ini terfokus di satu tempat maka
disebut sebagai adenomyoma, yang mana menyerupai tumor rahim lainya.
Adenomiosis dapat berupa bercak-bercak di selaput lendir rongga perut (peritoneum),
benjolan (nodul), maupun cairan yang terkumpul dalam bentuk kista indung telur. Adenomiosis
sering kali menimbulkan nyeri yang lebih hebat dan gangguan infertilitas yang lebih berat
Selama wanita tersebut masih mendapatkan haid, maka pada saat yang bersamaan jaringan
endometrium abnormal juga mengalami reaksi peluruhan yang menimbulkan perdarahan.

7
d. Manifestasi Klinis
Bisa saja seseorang memiliki adenomyosis dia tidak merasakan gejala apapun. Gejala-gejala
adenomyosis adalah :
1. Triad gejala yakni pembesaran rahim, nyeri pelvis dan menstruasi yang banyak dan
abnormal.
2. Nyeri, yang dirasakan terutama selama menstruasi disebut dysmenorrhea dapat berupa
kram yang hebat atau seperti disayat pisau.
3. Nyeri dapat juga dirasakan pada saat tidak sedang menstruasi.
4. Pembesaran rahim dapat merata dengan tonjolan-tonjolan rahim yang besar atau dapat
pula seperti tumor yang terlokalisir.
5. Pendarahan pada saat menstruasi dapat banyak sekali dan berhari-hari, mungkin dengan
bekuan-bekuan darah. Pendarahan yang hebat ini dapat menyebabkan anemia
(berkurangnya kadar Hemoglobin dalam sel darah merah). Selain itu diluar saat
menstruasi bisa ada pendarahan abnormal (pendarahan sedikit-sedikit, bercak-bercak).

IV. Endometriosis
a. Definisi
Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang masih berfungsi
terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma, terdapat
dalam miometrium disebut adenomiosis, dan bila di luar uterus disebut endometriosis. Pada
endometriosis jaringan endometrium ditemukan di luar kavum uteri dan di luar miometrium
Adapun pembagian dari endometriosis, yaitu :

1. Endometriosis interna (adenomiosis)


2. Endometriosis tuba uterina
3. Endometriosis ovarium
4. Endometriosis uterosakrum

b. Etiologi
Teori Histogenesis dari endometriosis yang paling banyak penganutnya adalah teori dari
Sampson. Menurut teori ini, endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali
(regurgitasi) melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Teori lain mengenai histogenesis
endometriosis yakni endometriosis terjadi karena rangsangan pada sel-sel epitel berasal dari
selom yang dapat mempertahankan hidupnya di daerah pelvis. Rangsangan ini akan
menyebabkan metaplasi dari sel-sel epitel itu, sehingga terbentuk jaringan endometrium.
Disamping itu masih terbuka kemungkinan timbulnya endometriosis dengan jalan penyebaran
melalui jalan darah atau limfe, dan dengan implnatasi langsung pada saat operasi.

8
c. Patofisiologi
Pada endometriosis, lesi jinak atau lesi dengan sel-sel yang serupa dengan sel-sel lapisan
uterus tumbuh secara menyimpang dalam rongga pelvis di luar uterus, dengan mengacu pada
frekuensinya endometriosis pelvis mengenai ovarium, ligament uterosakral, serviks, permukaan
luar uterus, umbilicus, jaringan parut akibat laparotomi, sakus hernialis, dan apendiks. Letak
endometrium yang tidak tepat berespon dan tergantung pada stimulasi hormonal ovarium.
Selama menstruasi, pertumbuhan jaringan ekropik ini mengalami perdarahan. Sebagian besar ke
dalam area yang tidak mempunyai saluran keluar yang menyebabkan nyeri dan perlekatan. Lesi
biasanya kecil, keriput, dan berwarna cokelat atau kebiru-hitam, yang menandakan perdarahan
yang tidak dapat keluar.
Jaringan endometrium yang terkandung di dalam suatu kista ovarium yang mempunyai
jalan keluar untuk perdarahan; pembentukan ini disebut pseudokist (kista coklat), perlekatan,
kista, dan jaringan parut dapat terjadi yang menyebabkan tidak saja nyeri, tetapi juga infertilitas.

d. Manifestasi Klinik
Gejala-gejala beragam yang berhubungan dengan lokasi jaringan endometrium, seperti :
1. Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selama haid
(dismenorrea).
2. Rasa sakit hebat pada saat melakukan hubungan seksual (dispharemia).
3. Nyeri waktu defekasi, khususnya pada waktu haid.
4. Polimenorrhea dan hipermenorrhea.
5. Infertilitas.

V. Dismenorrhea
a. Definisi
Dismenore adalah perasaan nyeri pada waktu haid dapat berupa kram ringan pada bagian
kemaluan sampai terjadi gangguan dalam tugas sehari-hari. Gangguan ini ada dua bentuk yaitu
dismenorre primer dan dismenorre sekunder.
Dismenore (nyeri haid) merupakan gejala yang timbul menjelang dan selama mentruasi
ditandai dengan gejala kram pada abdomen bagian bawah (Djuanda, Adhi.dkk, 2008).

b. Etiologi

9
Secara umum, nyeri haid timbul akibat kontraksi disritmik miometrium yang
menampilkan satu gejala atau lebih, mulai dari nyeri yang ringan sampai berat di perut bagian
bawah, bokong, dan nyeri spasmodik di sisi medial paha.
Penyebab Dismenorea Primer
a. Faktor endokrin
Rendahnya kadar progesteron pada akhir fase korpus luteum. Menurut Novak dan Reynolds,
hormon progesteron menghambat atau mencegah kontraktilitas uterus sedangkan hormon
estrogen merangsang kontraktilitas uterus.
b. Kelainan organic
Seperti: retrofleksia uterus, hipoplasia uterus, obstruksi kanalis servikalis, mioma submukosum
bertangkai, polip endometrium.
c. Faktor kejiwaan atau gangguan psikis
Seperti: rasa bersalah, ketakutan seksual, takut hamil, hilangnya tempat berteduh, konflik dengan
kewanitaannya, dan imaturitas.
d. Faktor konstitusi
Seperti: anemia, penyakit menahun, dsb dapat memengaruhi timbulnya dismenorea.
e. Faktor alergi
Menurut Smith, penyebab alergi adalah toksin haid. Menurut riset, ada asosiasi antara
dismenorea dengan urtikaria, migren, dan asma bronkiale.
Selain faktor diatas ada juga penyebab dari dismenorre primer dan dismenore sekunder.
Dismenorre primer yaitu nyeri haid yang terjadi tanpa terdapat kelainan anatomis alat kelamin.
Dismenore primer timbul beberapa waktu setelah menarche [ > 12 tahun] dengan gejala mules
pada perut bawah, menyebar kepinggang, paha, mual, muntah, sakit kepala, diare.
Dismenorre sekunder adalah nyeri haid yang berhubungan dengan kelainan anatomi yang
jelas, kelainan anatomis ini kemungkinan adalah haid disertai infeksi, endometriosis, mioma
uteri, polip endometrial, polip servik, pemakai IUD atau AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).
Dismenore sekunder merupakan dismenore yang disebabkan oleh kelainan ginekologis, oleh
karena endometriosis, salpingitis, mioma uteri dll.

c. Patofisiologi
1. Dismenorea Primer (primary dysmenorrhea)

10
Biasanya terjadi dalam 6-12 bulan pertama setelah menarche (haid pertama) segera
setelah siklus ovulasi teratur (regular ovulatory cycle) ditetapkan/ditentukan.Selama menstruasi,
sel-sel endometrium yang terkelupas (sloughing endometrial cells) melepaskan prostaglandin,
yang menyebabkan iskemia uterus melalui kontraksi miometrium dan vasokonstriksi.
Peningkatan kadar prostaglandin telah terbukti ditemukan pada cairan haid (menstrual fluid)
pada wanita dengan dismenorea berat (severe dysmenorrhea). Kadar ini memang meningkat
terutama selama dua hari pertama menstruasi. Vasopressin juga memiliki peran yang sama. Riset
terbaru menunjukkan bahwa patogenesis dismenorea primer adalah karena prostaglandin
F2alpha (PGF2alpha), suatu stimulan miometrium yang kuat (a potent myometrial stimulant) dan
vasoconstrictor, yang ada di endometrium sekretori (Willman, 1976). Respon terhadap inhibitor
prostaglandin pada pasien dengan dismenorea mendukung pernyataan bahwa dismenorea
diperantarai oleh prostaglandin (prostaglandin mediated). Banyak bukti kuat menghubungkan
dismenorea dengan kontraksi uterus yang memanjang (prolonged uterine contractions) dan
penurunan aliran darah ke miometrium. Kadar prostaglandin yang meningkat ditemukan di
cairan endometrium (endometrial fluid) wanita dengan dismenorea dan berhubungan baik
dengan derajat nyeri (Helsa, 1992; Eden, 1998).
Peningkatan endometrial prostaglandin sebanyak 3 kali lipat terjadi dari fase folikuler
menuju fase luteal, dengan peningkatan lebih lanjut yang terjadi selama menstruasi (Speroff,
1997; Dambro, 1998). Peningkatan prostaglandin di endometrium yang mengikuti penurunan
progesterone pada akhir fase luteal menimbulkan peningkatan tonus miometrium dan kontraksi
uterus yang berlebihan (Dawood, 1990). Leukotriene juga telah diterima (postulated) untuk
mempertinggi sensitivitas nyeri serabut (pain fibers) di uterus (Helsa, 1992). Jumlah leukotriene
yang bermakna (significant) telah dipertunjukkan di endometrium wanita dengan dismenorea
primer yang tidak berespon terhadap pengobatan dengan antagonis prostaglandin (Demers, 1984;
Rees, 1987; Chegini, 1988; Sundell, 1990; Nigam, 1991). Hormon pituitari posterior,
vasopressin, terlibat pada hipersensitivitas miometrium, mereduksi (mengurangi) aliran darah
uterus, dan nyeri (pain) pada penderita dismenorea primer (Akerlund, 1979). Peranan
vasopressin di endometrium dapat berhubungan dengan sintesis dan pelepasan prostaglandin.
2. Dismenorea Sekunder Dismenorea sekunder (secondary dysmenorrhea)
Dapat terjadi kapan saja setelah menarche (haid pertama), namun paling sering muncul di
usia 20-an atau 30-an, setelah tahun-tahun normal, siklus tanpa nyeri (relatively painless cycles).

11
Peningkatan prostaglandin dapat berperan pada dismenorea sekunder, namun, secara pengertian
(by definition), penyakit pelvis yang menyertai (concomitant pelvic pathology) haruslah ada.
Penyebab yang umum termasuk: endometriosis, leiomyomata (fibroid), adenomyosis, polip
endometrium, chronic pelvic inflammatory disease, dan penggunaan peralatan kontrasepsi atau
IUD (intrauterine device). Karim Anton Calis (2006) mengemukakan sejumlah faktor yang
terlibat dalam patogenesis dismenorea sekunder. Kondisi patologis pelvis berikut ini dapat
memicu atau mencetuskan dismenorea sekunder :
a. Endometriosis
b. Pelvic inflammatory disease
c. Tumor dan kista ovarium
d. Oklusi atau stenosis servikal
e. Adenomyosis
f. Fibroids
g. Uterine polyps
h. Intrauterine adhesions
i. Congenital malformations (misalnya: bicornate uterus, subseptate uterus)
j. Intrauterine contraceptive device
k. Transverse vaginal septum
l. Pelvic congestion syndrome
m. Allen-Masters syndrome

d. Manifestasi klinik
1. Manifestasi klinis (clinical features) dismenorea primer termasuk:
a. Onset segera setelah menarche (haid pertama).
b. Biasanya berlangsung sekitar 48-72 jam (sering mulai beberapa jam
sebelum atau sesaat setelah haid (menstrual flow).
c. Nyeri perut (cramping) atau nyeri seperti saat melahirkan (laborlike pain).
d. Seringkali ditemukan pada pemeriksaan pelvis yang biasa atau
unremarkable pelvic examination findings (termasuk rektum).
Menurut Laurel D Edmundson (2006) dismenorea primer memiliki ciri khas sebagai berikut:
a. Onset dalam 6-12 bulan setelah menarche (haid pertama).

12
b. Nyeri pelvis atau perut bawah (lower abdominal/pelvic pain) dimulai
dengan onset haid dan berakhir selama 8-72 jam.
c. Low back pain.
d. Nyeri paha di medial atau anterior.
e. Headache (sakit kepala).
f. Diarrhea (diare).
g. Nausea (mual) atau vomiting (muntah).
2. Berikut ini merupakan manifestasi klinis dismenorea sekunder (Smith, 1993; Smith,
1997), yaitu :
a. Dismenorea terjadi selama siklus pertama atau kedua setelah menarche (haid pertama),
yang merupakan indikasi adanya obstruksi outflow kongenital. Dismenorea dimulai
setelah berusia 25 tahun.
b. Terdapat ketidaknormalan (abnormality) pelvis dengan pemeriksaan fisik: pertimbangkan
kemungkinan endometriosis, pelvic inflammatory disease, pelvic adhesion (perlengketan
pelvis), dan adenomyosis.
c. Sedikit atau tidak ada respon terhadap NSAIDs, kontrasepsi oral,atau keduanya.

e. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk menunjang penegakan diagnosa bagi
penderita Dismenorea atau mengatasi gejala yang timbul diantaranya :
Pemeriksaan berikut ini dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik
dismenorea:
a) Cervical culture untuk menyingkirkan sexually transmitted diseases.
b) Hitung leukosit untuk menyingkirkan infeksi.
c) Kadar human chorionic gonadotropin untuk menyingkirkan kehamilan ektopik.
d) Sedimentation rate.
e) Cancer antigen 125 (CA-125) assay: ini memiliki nilai klinis yang terbatas dalam
mengevaluasi wanita dengan dismenorea karena nilai prediktif negatifnya yang relatif
rendah.
f) Laparoscopy
g) Hysteroscopy

13
h) Dilatation
i) Curettage
j) Biopsi Endomentrium
f. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Berdasarkan MIMS Indonesia (2008) penatalaksanaan untuk Dismenorea,
sebagai berikut :
1. Keperawatan
a) Kompres bagian bawah abdomen dengan botol berisi air panas atau bantal pemanas
khusus untuk meredakan nyeri
b) Minum banyak air, hindari konsumsi garam dan minuman yang berkafein untuk
mencegah pembengkakan dan retensi air
c) Olahraga secara teratur bermanfaat untuk membantu mengurasi dismenore karena akan
memicu keluarnya hormon endorfin yang dinilai sebagai pembunuh alamiah untuk rasa
nyeri
d) Makan makanan yang bergizi, kaya akan zat besi, kalsium, dan vitamin B kompleks.
Jangan mengurangi jadwal makan
e) Istirahat dan relaksasi dapat membantu meredakan nyeri
f) Lakukan aktivitas yang dapat meredakan stres, misalnya pijat,yoga, atau meditasi, untuk
membantu meminimalkan rasa nyeri
g) Pada saat berbaring terlentang, tinggikan posisi pinggul melebihi posisi bahu
untuk membantu meredakan gejala dismenore.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN MENSTRUASI


(DISMENORE)
I. PENGKAJIAN
1. Biodata klien:
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat,
No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat,
Tanggal Pengkajian.
2. Alasan MRS

14
Keluhan utama : Merasakan nyeri yang berlebihan ketika haid pada bagian perut disertai
dengan mual muntah, pusing dan merasakan badan lemas.

3. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus haid,
hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal partus
4. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan, hasil laboraturium : USG , darah, urine, keluhan
selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi keluhan,
tindakan dan pengobatan yang diperoleh.
5. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang dijalani
nya, dimana mendapat pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau
kambuh berulang ulang.
6. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit seperti yang pasien alami.

DATA BIO-PSIKO-SOSIAL-SPIRITUA
a. Pola nutrisi : pada umumnya klien dengan dismenorre mengalami penurunan nafsu
makan,
frekuensi minum klien juga mengalami penurunan.
b. Pola istirahat dan tidur : klien dengan disminorre mengalami nyeri pada daerah perut
sehingga pola tidur klien menjadi terganggu, apakah mudah terganggu dengan suara-
suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum).
c. Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi penggunaan pembalut dan
kebersihan genitalia, pola berpakaian, tata rias rambut dan wajah
d. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan disminorre di
anjurkan untuk istirahat
e. Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang membuat
fresh dan relaks.

15
PEMERIKSAAN FISIK
a. Pemeriksaan kesadaran klie, BB / TB, tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu
b. Head To Toe
- Rambut : warna rambut, jenis rambut, bau nya, apakah ada luka lesi / lecet
- Mata : sklera nya apakah ihterik / tdk, konjungtiva anemis / tidak, apakah
palpebra oedema / tidak,bagaimana fungsi penglihatan nya baik / tidak, apakah klien
menggunakan alat bantu penglihatan / tidak. Pada umu nya ibu hamil konjungtiva
anemis
- Telinga : apakah simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat serumen / tidak,
apakah klien menggunakan alt bantu pendengaran / tidak, bagaimana fungsi
pendengaran klien baik / tidak
- Hidung : apakah klien bernafas dengan cuping hidung / tidak, apakah terdapat
serumen / tidak, apakah fungsi penciuman klien baik / tidak
- Mulut dan gigi : bagaimana keadaan mukosa bibir klien, apakah lembab atau
kering, keadaan gigi dan gusi apakah ada peradangan dan pendarahan, apakah ada
karies gigi / tidak, keadaan lidah klien bersih / tidak, apakah keadaan mulut klien
berbau / tidak. Pada ibu hamil pada umum nya berkaries gigi, hal itu disebabkan
karena ibu hamil mengalami penurunan kalsium
- Leher : apakah klien mengalami pembengkakan tyroid
- Paru paru
- I : warna kulit, apakah pengembangan dada nya simetris kiri dan kanan, apakah ada
terdapat luka memar / lecet, frekuensi pernafasan nya
- P : apakah ada teraba massa / tidak , apakah ada teraba pembengkakan / tidak, getaran
dinding dada apakah simetris / tidak antara kiri dan kanan
- P : bunyi Paru
- A : suara nafas
- Jantung
- I : warna kulit, apakah ada luka lesi / lecet, ictus cordis apakah terlihat / tidak
- P : frekuensi jantung berapa, apakah teraba ictus cordis pada ICS% Midclavikula
- P : bunyi jantung

16
- A : apakah ada suara tambahan / tidak pada jantung klien
- Abdomen
- I : keadaan perut, warna nya, apakah ada / tidak luka lesi dan lecet
- P : tinggi fundus klien, letak bayi, persentase kepala apakah sudah masuk PAP /
belum
- P : bunyi abdomen
- A : bising usu klien, DJJ janin apakah masih terdengar / tidak
- Payudara : puting susu klien apakah menonjol / tidak,warna aerola, kondisi mamae,
kondisi ASI pasien, apakah sudah mengeluarkan ASI /belum
- Ekstremitas
- Atas : warna kulit, apakah ada luka lesi / memar, apakah ada oedema / tidak
- Bawah : apakah ada luka memar / tidak , apakah oedema / tidak
- Genitalia : apakah ada varises atau tidak, apakah ada oedema / tidak pada daerah
genitalia klien
- Intergumen : warna kulit, keadaan kulit, dan turgor kulit baik / tidak

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri akut b/d gangguan menstruasi
2. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah,
diare sekunder
3. Intoleransi aktifitas b/d nyeri dismenore
4. Ansietas b/d ineffektif koping individu

IV. INTERVENSI
Dx 1
1. Tujuan : Setelah diberikan askep selama 124 jam diharapkan nyeri pasien berkurang dengan
kriteria hasil : Nyeri berkurang/dapat diadaptasi, Dapat mengindentifikasi aktivitas yang
meningkatkan/menurunkan nyeri, skala nyeri ringan.
2. Intervensi :
a. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.

17
Rasional: Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah
menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
b. Ajarkan penggunaan kompres hangat
Rasional: Meringankan kram abdomen. Panas bekerja dengan pedoman meningkatkan
vasodilatasi dan otot relaksasi,saat menurnnya iskemic uterus.
c. Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat
menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.
Rasional: Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan
terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.
d. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
Rasional: Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
e. Lakukan pijatan punggung bawah.
Rasional: Mengurangi nyeri dengan relaksasi otot vertebra dsn menigkatkan suplai
darah. Banyak perempuan yang mengdapatkan hal positif dengan yoga, biofeedback,
meditasi, dan relaksasi therapy.
f. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ;
misalnya waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.
Rasional: Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan
kenyamanan
g. Anjurkan menurunkan masukan sodium selama seminggu sebelum mens
Rasional: Mengurangi resiko retensi cairan.
h. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama
nyeri akan berlangsung.
i. Rasional: Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat
membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
j. Observasi ulang tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat
analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 2 jam setelah tindakan
perawatan selama 1 2 hari.
Rasional: Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk
mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

18
k. Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik. Kolaborasi pemberian obat seperti
penghambat sintesa prostaglandin ( PGSI), ibuprofen ( Motrin), naproxen sodium (
Anaprox) dan ibuprofen setidaknya 48 jam sebelum terjadi menstruasi.
Rasional: Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang. Kontrasepsi
oral dapat diberikan jika klien menginginkan kontrasepsi sebagai pembebas nyeri.OCs
mencegah ovulasi, menurunkan jumlah darah haid, yang mengurangi jumlah
prostaglandin dan dysmenorrhea.

Dx 2
1. Tujuan : Setelah diberikan askep selama 124 jam diharakan pasien menunjukkan perbaikan
nutrisi dengan kriteria hasil mual muntah teratasi.
2. Intervensi
a. Timbang BB setiap hari
Rasional : agar dapat mengetahui perubahan berat badan setiap harinya
b. Pantau hasil lab
Rasional : memntau perubahan nilai hasil lab
c. Jelaskan pentingnya nutrisi adekuat
Rasional : nutrisi yang adekuat dapat meningkatkan berat badan
d. Beri suasana menyenangkan saat makan
Rasional : dapat meningkatkan nafsu makan
e. Beri porsi kecil tapi sering
Rasional : mengurangi rasa mual dan muntah yang timbul saat makan
f. Beri makanan dengan protein dan kalori yang tinggi
Rasional : meningkatkan asupan energy

Dx 3
1. Tujuan : Setelah diberikan askep selama 124 jam diharapkan kecemasan menurun dengan
kriteria hasil Ps tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya
2. Intervensi:
a. Jelaskan prosedur yang diberikan dan ulangi dengan sering
Rasional : Informasi memperkecil rasa takut dan ketidaktauan

19
b. Anjurkan orang terdekat berpartisipasi dalam asuhan
Rasional: Meningkatkan perasaan berbagi
c. Anjurkan dan berikan kesempatan pada pasien untuk mengajukan pertanyaan dan
menyatakan masalah
Rasional: membuat perasaan terbuka dan bekerja sama
d. Singkirkan stimulus yang berlebihan
Rasional: memberi lingkungan yang lebih tenang
e. Ajarkan teknik relaksasi; latihan napas dalam, imajinasi terbimbing
Rasional : pengalihan perhatian selama episode asma dapat menurunkan ketakutan dan
kecemasan
f. Informasikan tentang perawatan, dan pengobatan
Rasional : menurunkan rasa takut dan kehilangan control akan dirinya
g. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
Rasional : Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan
mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
h. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan
pernapasan lebih lambat dan dalam.
Rasional : Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat
dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
i. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor dismenore.
Rasional: Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien
terhadap rencana teraupetik.
j. Kolaborasi dengan psikiatri

Dx 4
1. Tujuan : Setelah diberikan askep selama 124 jam diharapkan Pasien tahu, mengerti, dan
patuh dengan program terapeutik dengan kriteria hasil pasien mengerti tentang penyakitnya
dan apa yang mempengaruhinya.
2. Intervensi :
a. Bantu pasien mengerti tentang tujuan jangka pendek dan jangka panjang
Rasional : Menyiapkan pasien untuk mengatasi kondisi serta memperbaiki kualitas hidup.

20
b. Ajarkan pasien tentang penyakit dan perawatannya.
Rasional: Mengajarkan pasien tentang kondisinya adalah salah satu aspek yang paling
penting dari perawatannya
c. Berikan dukungan emosional
Rasional : Memudahkan klien agar bersikap positif
d. Libatkan orang terdekat dalam program pengajaran, sediakan materi pengajaran/instruksi
tertulis
Rasional: Membantu meningkatkan pengetahuan dan memberikan sumber
e. tambahan untuk referensi perawatan di rumah
http://www.academia.edu/12164809/Laporan_Pendahuluan_Dan_Askep_Endometriosis

21
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Hipermenore adalah perdarahan berkepanjangan atau berlebihan pada waktu menstruasi


teratur. Bisa disebut juga dengan perdarahan haid yang jumlahnya banyak hingga 6-7 hari, ganti
pembalut 5-6 kali/hari tetapi masih memiliki siklus-siklus yang teratur. Pada hipermenore
perdarahan menstruasi berat berlangsung sekitar 8-10 hari dengan kehilangan darah lebih dari
80ml.

Oligomenorrhagia adalah Suatu keadaan dimana haid jarang terjadi dan siklusnya
panjang lebih dari 35 hari

Adenomyosis adalah penetrasi dan bertumbuhnya jaringan endometrium (jaringan yang


melapisi dinding dalam rahim) ke dalam myometrium (lapisan otot rahim), sering disebut pula
dengan endometriosis internal
Dismenore adalah perasaan nyeri pada waktu haid dapat berupa kram ringan pada bagian
kemaluan sampai terjadi gangguan dalam tugas sehari-hari. Gangguan ini ada dua bentuk yaitu
dismenorre primer dan dismenorre sekunder.

22
Daftar pustaka

https://elfriana.wordpress.com/2012/12/05/asuhan-keperawatan-pada-pasien-menstruasi/
Baraero, Mary, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Reproduksi &
Seksualitas. Jakarta: EGC
Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medica: Jakarta.

23