Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA
ABSORPSI PERKUTAN OBAT SECARA IN VITRO

Disusun oleh :
1. Surya Indra Kharisma ( FA / 08534 )
2. Anggit Yustitia A ( FA / 08537 )
3. Muhamad Nur Arifin ( FA / 08543 )
4. Putu Dian Marani K. ( FA / 08549 )

Golongan : c.II.d
Kelas : C 2010
Tanggal Praktikum : Jumat, 5 Oktober 2012
Asisten Jaga : Dewa Ayu, Indri, Yudi, Lina
Asisten Koreksi :
Dosen : Dr. rer. nat. Ronny Martien, M.Si

LABORATORIUM BIOFARMASETIKA
BAGIAN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI UGM
2012
PERCOBAAN 5
ABSORPSI PERKUTAN OBAT SECARA IN VITRO

I. TUJUAN
Tujuan percobaan ini adalah untuk mempelajari absorpsi obat secara perkutan secara in
vitro

II. ALAT BAHAN


A. Alat
1. Sel difusi tipe horizontal 12. Gelas ukur 10 ml; 100 ml
2. Sel difusi tipe vertikal 13. Labu takar 5 ml; 250 ml
3. Spektrofotometer + kuvet 14. Gelas Beaker
4. Gunting bedah 15. Pro pipet
5. Pinset 16. Pipet volume 1 ml; 2ml; 5 ml
6. Electric clipper 17. Pipet tetes
7. Neraca analitik 18. Corong kaca
8. Sonikator 19. Cawan petri
9. Magnetic stirrer 20. Kertas saring
10. Stirrer 21. Papan Bedah
11. Tabung reaksi

B. Bahan
1. Membran milipore
2. Kulit tikus
3. Aquadest
4. Fosfat Buffer Saline pH 7.4
5. Isopropyl miristat
6. Asam salisilat

III. CARA KERJA


Penyiapan membran lipid buatan sebagai membran difusi :
Membran millipore dipotong bentuk lingkaran sesuai dengan ukuran

Diimpregnasikan membran tersebut dengan isopropil miristat kurang lebih 15 menit

Ditempatkan di kertas saring selama 5 menit

Penyiapan kulit tikus segar sebagai membran difusi :


Kulit tikus dibagian punggung dipotong dengan electric clipper

Dipisahkan kulit bangian dorsal dari tubuh tikus dengan hati-hati menggunakan gunting
bedah

Lemak yang terdapat dikulit dihilangkan

Dipotong kulit bagian punggung sesuai dengan ukuran

Pelaksanaan uji difusi :


Membran direndam pada larutan dapar fosfat buffer saline pH 7.4 selama 30 menit

Membran diambil dan ditempatkan di sel difusi horizontal (untuk membran buatan) dan
vertikal (untuk membran kulit)

Sel difusi dipasang dengan mengencangkan mur yang ada

Larutan donor asam salisilat ditempatkan pada kompartemen donor dan fosfat buffer
saline pH 7.4 dibagian akseptor

Dijalankan stirrer baik pada sisi donor dan aseptor

Dilakukan pengukuran transport obat ke kompartemen aseptor pada menit ke 0; 15; 30;
45; 60; dan 90

Diukur absorbansi dengan menggunakan spektrofotometer pada 296 nm

Dicatat dan dihitung kadar

Dibuat profil hubungan antara kumulatif transpor terhadap waktu dan ditentukan nilai
Flux
IV. HASIL DAN PERHITUNGAN
DATA PERCOBAAN
Nama obat : Asam salisilat
Bentuk sediaan : Larutan
Bahan pembawa : Aquadest
Bobot sampel : 375 mg
Obat yang diberikan : Asam salisilat
Jenis membran : Buatan (membran milipore) dan kulit hewan
Hewan percobaan : Tikus galur wistar
Diameter membran : milipore= 3,2 cm; Kulit hewan = 2,5 cm
Luas membran : milipore= 32,154 cm2; kulit hewan= 19,625 m2
Persamaan kurva baku : Y = 0,2499 X + 0,0048
Kadar sampel : 1,5 mg/ml

Menggunakan membran buatan : Menggunakan membran dari kulit hewan :


Waktu sampling Waktu sampling
Absorbansi Absorbansi
(menit) (menit)
0 0,050 0 0,048
15 0,318 15 0,038
30 0,580 30 0,042
45 0,758 45 0,056
60 0,398* 60 0,064
90 0,523* 90 0,075
* Setelah pengenceran 2,5X (dari 2 ml
sampel diencerkan dengan dapar phospat
pH 7,4 sampai volume 5 ml)

PERHITUNGAN
Persamaan kurva baku asam salisilat dalam fosfat buffer salin pH 7,4 :
Y = 0,2499 X + 0,0048
Y = absorbansi
X = kadar obat dalam (mg/ml)
PADA MEMBRAN BUATAN
PERHITUNGAN KADAR OBAT
Y0,0048
Kadar obat = 0,2499

Dari perhitungan diperoleh data :

Waktu sampling
Absorbansi Kadar obat (mg/ml)
(menit)

0 0,050 0,1809
15 0,318 1,2533
30 0,580 2,3017
45 0,758 3,1401
60 0,398 3,9336
90 0,523 5,1841

Perhitungan Kadar Obat (mg/ml):


Y0,0048
Kadar obat = x faktor pengenceran
0,2499
0,0500,0048
menit ke-0 : kadar obat = = 0,1809 mg/ml
0,2499
0,3180,0048
menit ke-15 : kadar obat = = 1,2533 mg/ml
0,2499
0,5800,0048
menit ke-30 : kadar obat = = 2,3017 mg/ml
0,2499
0,7580,0048
menit ke-45: kadar obat = = 3,1401 mg/ml
0,2499
0,3980,0048
menit ke-60 : kadar obat = x 2,5 = 3,9336 mg/ml
0,2499
0,5230,0048
menit ke-90 : kadar obat = x 2,5 = 5,1841 mg/ml
0,2499

Perhitungan kadar terkoreksi :


Kadar terkoreksi (Kt)
volume pengambilan
= Kadar pada waktu t + ( kadar terkoreksi sebelumnya )
volume total
5 ml
Kt0 = 0,1809 mg/ml + ( x 0) = 0,1809 mg/ml
250 ml
5 ml
Kt15 = 1,2533 mg/ml + ( x 0,1809) = 1,2895 mg/ ml
250 ml
5 ml
Kt30 = 2,3017 mg/ml + ( x 1,2533) = 2,5524 mg/ml
250 ml
5 ml
Kt45 = 3,1401 mg/ml + ( x 2,3017) = 3,6004 mg/ml
250 ml
5 ml
Kt60 = 3,9336 mg/ml + ( x 3,1401) = 4,5616 mg/ml
250 ml
5 ml
Kt90 = 5,1841 mg/ml + ( x 3,9336) = 5,9708 mg/ml
250 ml

Jumlah obat yg berdifusi


Perhitungan Jumlah Obat yang Berdifusi
bukan sejumlah yang
Jumlah obat yang berdifusi = Kt x volume pengambilan disampling ( 5ml ) tapi dikali
Volume pengambilan = 5 ml jumlah total akseptor

Waktu Sampling Kt (mg/ml) Jumlah Obat yang Jumlah Obat Kumulatif


(menit) Berdifusi (mg) (mg)
0 0,1809 0,9045 0,9045 Bukan begini seharusnya
15 1,2895 6,4475 7,3520 kadar obat kumulatif
terkoreksi
30 2,5524 12,7620 20,1140
45 3,6004 18,0020 38,1160
60 4,5616 22,8080 60,9240
90 5,9708 29,8540 90,7780

Persamaan Regresi Linear Waktu Sampling (menit) vs Jumlah Obat Kumulatif (mg)
y = 1,0527x-5,7445
A = -5,7445
B = 1,0527
r = 0,9811
waktu sampling (menit) vs jumlah obat kumulatif (mg)
100
y = 1.0527x - 5.7445
R = 0.9811
80

60

40

20

0
0 20 40 60 80 100
-20

Perhitungan slope
Dari grafik hubungan jumlah obat kumulatif vs waktu dapat dibuat persamaan regresi linier.
y = 1,0527x-5,7445
A = -5,7445
B = 1,0527 (slope kurva(mg/menit))
r = 0,9811
mg
slope (menit)
Flux =
luas are difusi (cm2)
1,0527 mg/menit
=
32,154 cm2

= 0,0328 mg/menit.cm2

Perhitungan Cp
T1/2el = 2,5 jam = 150 menit
Clirens total (Cl) = 1,38 L/jam = 0,023 L/menit
0,693 0,693
K= = = 4,62 x 10-3 /menit
T1/2 el 150
Slope
Cp = x (1- e-kt)
Cl
Menit ke-0
1,0527
Cp = x (1- e-4,62.10-3 x 0) = 0 mg/L
0,023

Menit ke-15
1,0527
Cp = x (1- e-4,62.10-3 x15) = 3,0644 mg/L
0,023

Menit ke-30
1,0527
Cp = x (1- e-4,62.10-3 x 30) = 5,9237 mg/L
0,023

Menit ke-45
1,0527
Cp = x (1- e-4,62.10-3 x 45) = 8,5915 mg/L
0,023

Menit ke-60
1,0527
Cp = x (1- e-4,62.10-3 x 60) = 11,0807 mg/L
0,023

Menit ke-90
1,0527
Cp = x (1- e-4,62.10-3 x 90) = 15,5702 mg/L
0,023

Waktu(menit) Cp (mg/L) ln Cp
0 0 0
15 3,0644 1,1199
30 5,9237 1,7790
45 8,59915 2,1517
60 11,0807 2,4052
90 15,5702 2,7454
waktu sampling (menit) vs Ln Cp
3.5
y = 0.0286x + 0.5547
3 R = 0.8565

2.5

1.5

0.5

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Permeabilitas Membran
flux
Permeabilitas =
Kadar awal obat
0,0328 mg/menit.cm2
= 1,5 mg/ml

= 0,0219 ml/menit.cm2
PADA MEMBRAN DARI KULIT HEWAN
PERHITUNGAN KADAR OBAT
Y0,0048
Kadar obat =
0,2499

Dari perhitungan diperoleh data :


Waktu sampling Absorbansi Kadar Obat (mg/mL)
0 0,048* 0,1993
15 0,038 0,1032
30 0,042 0,2233
45 0,056 0,1793
60 0,064 0,1993
90 0,075 0,2953
*: direject
Perhitungan Kadar Obat (mg/ml):
Y0,0048
Kadar obat = x faktor pengenceran
0,2499
0,0480,0048
menit ke-0 : kadar obat = = 0,1729 mg/ml (direject)
0,2499
0,0380,0048
menit ke-15 : kadar obat = = 0,1329 mg/ml
0,2499
0,0420,0048
menit ke-30 : kadar obat = = 0,1489 mg/ml
0,2499
0,0560,0048
menit ke-45: kadar obat = = 0,2049 mg/ml
0,2499
0,0640,0048
menit ke-60 : kadar obat = = 0,2369 mg/ml
0,2499
0,0750,0048
menit ke-90 : kadar obat = = 0,2809 mg/ml
0,2499

Perhitungan kadar terkoreksi :


Kadar terkoreksi (Kt)
volume pengambilan
= Kadar pada waktu t +( kadar terkoreksi sebelumnya )
volume total
2 ml
Kt0 = 0,1729 mg/ml + ( x 0) = 0,1729 mg/ml (direject)
17 ml
2 ml
Kt15 = 0,1329 mg/ml + ( x 0,1729) = 0,1532 mg/ ml
17 ml
2ml
Kt30 = 0,1489 mg/ml + ( x 0,1532) = 0,1669 mg/ml
17 ml
2 ml
Kt45 = 0,2049 mg/ml + ( x 0,1669) = 0,2245 mg/ml
17 ml
2 ml
Kt60 = 0,2369 mg/ml + ( x 0,2245) = 0,2633 mg/ml
17 ml
2 ml
Kt90 = 0,2809 mg/ml + ( x 0,2633) = 0,3119 mg/ml
17 ml

Perhitungan Jumlah Obat yang Berdifusi


Jumlah obat yang berdifusi = Kt x volume pengambilan
Volume pengambilan = 2 ml
Waktu Sampling Kt (mg/ml) Jumlah Obat
(menit) yang Berdifusi Jumlah Obat
Kalo direject kenapa
(mg) kumulatif (mg)
dijumlahkan?
0 0,1729 0,3458 0,3458*
15 0,1532 0,3064 0,6522
30 0,1669 0,3338 0,9860
45 0,2245 0,4490 1,4350
60 0,2633 0,5266 1,9616
90 0,3119 0,6238 2,5854
*: direject

waktu sampling (menit) vs jumlah obat


kumulatif (mg)
3
y = 0.0258x + 0.2939
2.5 R = 0.9927

1.5

0.5

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Perhitungan slope
Dari grafik hubungan jumlah obat kumulatif vs waktu dapat dibuat persamaan regresi linier.
y = 0,0258x+0,2939
A = 0,2939
B = 0,0258 (slope kurva(mg/menit))
R = 0,9927
slope
Flux =
luas area difusi
0,0258 mg/menit
=
19,625 cm2

= 1,3146 x 10-3 mg/menit.cm2

Perhitungan Cp
T1/2el = 2,5 jam = 150 menit
Clirens total (Cl) = 1,38 L/jam = 0,023 L/menit
0,693 0,693
K= = = 4,62 x 10-3 /menit
T1/2 el 150
Slope
Cp = x (1- e-kt)
Cl

Menit ke-0

0,0258
Cp = 0,023
x (1- e-4,62.10-3 x 0) = 0 mg/L

Menit ke-15

0,0258
Cp = 0,023
x (1- e-4,62.10-3 x 15) = 0,0751 mg/L

Menit ke-30

0,0258
Cp = 0,023
x (1- e-4,62.10-3 x 30) = 0,1452 mg/L

Menit ke-45

0,0258
Cp = 0,023
x (1- e-4,62.10-3 x 45) = 0,2106 mg/L

Menit ke-60
0,0258
Cp = 0,023
x (1- e-4,62.10-3 x 60) = 0,2716 mg/L

Menit ke-90

0,0258
Cp = 0,023
x (1- e-4,62.10-3 x 90) = 0,3816 mg/L

Waktu(menit) Cp (mg/L) ln Cp

0 0 0

15 0,0751 -2,5889

30 0,1453 -1,9290

45 0,2106 -1,5578

60 0,2716 -1,3034

90 0,3816 -0,9634

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
-0.5
waktu sampling (menit) vs Ln Cp
-1

-1.5

-2

-2.5

-3

Permeabilitas Membran
flux
Permeabilitas =
Kadar awal obat

1,3146 x 103 mg/menit.cm2


=
1,5 mg/ml

= 8,764 x 10-4 ml/menit.cm2


V. PEMBAHASAN
Percobaan pada praktikum ini bertujuan untuk mempelajari absorpsi obat perkutan
secara in vitro. Dalam absorpsi obat perkutan, terdapat fungsi stratum korneum sebagai
penghalang mekanik. Diharapkan, melalui percobaan ini akan dapat diketahui fungsi stratum
korneum tersebut sebagai penghalang mekanik absorpsi obat perkutan.
Kulit sebagai organ tubuh terbesar memiliki beberapa susunan yang berlapis-lapis
dengan struktur dan fungsi yang kompleks.

Lapisan-lapisan tersebut secara umum dapat dibagi menjadi 3, yaitu epidermis,


dermis, dan jaringan subdermis yang berlemak.
Epidermis merupakan lapisan terluar kulit yang berfungsi untuk menghalangi
hilangnya air, elektrolit, nutrient tubuh, dan juga berfungsi sebagai penahan masuknya
senyawa asing dari luar. Epidermis tersusun dari 5 lapisan dari bawah ke atas, yaitu
stratum corneum (lapisan tanduk), stratum lucidum (daerah sawar), stratum
granulosum (lapisan seperti butir), stratum spinosum (lapisan sel duri), dan stratum
germinativum (lapisan sel basal). Stratum corneum merupakan lapisan teratas
epidermis yang mempunyai 10-15 lapis sel dengan ketebalan sekitar 10 m (dalam
keadaan kering), dan akan mengambang sampai beberapa kalinya jika terkena air.
Sel-sel stratum corneum merupakan sel mati yang rata dan mengandung keratin, yaitu
suatu protein hasil diferensiasi dengan kandungan 65%. Sel-sel ini memiliki bobot
jenis 1,5 g/cm3 dengan ketebalan tiap selnya adalah 0,5-1,5 m. Karena stratum
corneum merupakan lapisan teratas dari epidermis, oleh karena itu fungsinya adalah
sebagai penghalang terhadap masuknya benda-benda asing kedalam kulit sehingga
memegang peranan penting dalam mengontrol absorbsi perkutan molekul-molekul
obat. Permeabilitas selektif stratum corneum merupakan tema sentral dalam berbagai
aspek untuk studi biofarmasetika produk-produk topikal.
Dermis merupakan lapisan kulit yang terletak diantara epidermis dan jaringan lemak
subkutan. Memiliki tebal sekitar 3-5 mm. Lapisan dermis mengandung jaringan padat
dari serabut protein, seperti kolagen, reticulum, dan elastin yang disimpan dalam
substansi dasar amorf dari mukopolisakarida. Di dalam dermis terdapat pembuluh-
pembuluh darah, syaraf, limfatik, kelenjar apokrin, kelenjar ekrin, folikel rambut, dan
kelenjar sebasea. Dermis berfungsi sebagai pelindung tubuh dari luka, membuat
lapisan epidermis menjadi lebih fleksibel, penghalang terhadap infeksi, dan sebagai
organ penyimpan air.
Kelenjar keringat merupakan komponen kulit yang bertugas untuk mensekresi suatu
larutan encer garam dan beberapa komponen lain, yaitu dalam bentuk keringat dimana
95% nya berupa air. Keringat yang dihasilkan oleh kelenjar keringat berfungsi sebagai
pertahanan terhadap zat asing yang masuk karena keringat memiliki pH yang cukup
asam yaitu 4,5-5,5. Kelenjar keringat sendiri berfungsi sebagai pengontrol panas dan
sekresinya dirangsang oleh temperature luar yang tinggi dan proses dalam tubuh yang
menghasilkan panas.
Kelenjar sebasea terdapat pada bagian leher tiap folikel rambut dengan diameter 200-
2000 m. Kelenjar sebasea mensekresi material minyak dengan komposisi trigliserida
57,5%, ester-ester lilin 26%, squalane 12%, ester-ester kolesterol 3% dan kolesterol
1,5%. Komposisi ini bervariasi tergantung umur, jenis kelamin, dan bangsa. Sebum
yang disekresikan ini menyebabkan terbentuknya lapisan tipis diskontinyu bahan
lipofil pada beberapa permukaan kulit oleh karena itu sebum merupakan rute absorbsi
obat untuk obat-obat larut lemak.
Karena kulit terdiri dari berbagai lapisan seperti yang telah diuraikan diatas, maka
kulit yang utuh merupakan rintangan/ penghalang terhadap absorpsi obat melalui kulit.
Langkah-langkah absorpsi obat melalui kulit yaitu:
1) Difusi bahan aktif (obat) pada lapisan batas antara pembawa (basis) dengan kulit.
2) Penetrasi melalui stratum corneum.
3) Permeasi obat ke dalam korium.
4) Resorpsi ke dalam peredaran darah.
5) Pengangkutan dan distribusi oleh darah.
Sedangkan penetrasi obat melalui kulit dapat terjadi dengan 2 cara:
1) Rute transepidermal, yaitu difusi obat menembus stratum corneum.
2) Rute transfolikular, yaitu difusi obat melewati pori kelenjar keringat dan sebum.
Secara skematis, dapat digambarkan sebagai berikut,
Disolusi obat ke dalam pembawa

Difusi obat melalui pembawa ke permukaan kulit

Rute transepidermal Rute transfolikuler

Partisi ke dalam stratum korneum Partisi ke dalam sebum

Difusi melintasi matriks protein-lipid dari Difusi melintasi lipid di dalam pori
stratum korneum sebasea

Partisi ke dalam epidermis

Difusi melintasi massa seluler dari epidermis

Difusi melintasi massa fibrous ke epidermis


atas

Masuk ke dalam kapiler dan difusi sistemik

Skema absorpsi obat perkutan


Rute transepidermal merupakan rute yang penting dikarenakan permukaan epidermis
memiliki luas beberapa kali dari rute transfolikuler. Rute penembusan secara transepidermal
disebut juga dengan transeluler. Rute transepidermal dan transfolikuler merupakan fungsi
dari sifat dasar molekul yang dioleskan pada kulit. Difusi dapat terjadi jika ukuran molekul
obat kecil yaitu ditentukan dari bobot molekulnya. Selain itu, obat juga bersifat lipofil
sehingga obat dapat cepat tersebar pada lapisan tanduk dan dalam lipida yang terdapat dalam
kelenjar sebasea. Penyerapan terjadi pada kedua tahap tersebut dengan intensitas yang
tergantung pada permukaan relatif kedua struktur tersebut. Obat yang berdifusi dalam jumlah
sedikit akan lebih cepat melintasi sebum dibandingkan dengan melalui lapisan tanduk. Pada
tahap awal, yang paling menentukan adalah rute transfolikuler, selanjutnya pada tahap kedua
yang paling menentukan adalah rute transepidermal karena terjadinya perbedaan difusi pada
lapisan tanduk.
Absorpsi obat perkutan dipengaruhi oleh faktor fisiologi kulit dan faktor dari obat dan
pembawanya.
Faktor fisiologis dari kulit diantaranya adalah:
a. Keadaan dan umur kulit
Stratum korneum merupakan penghalang utama absorpsi obat perkutan karena
stratum korneum terdiri dari sel-sel mati yang keras. Adanya kerusakan/ delipidasi
pada stratum korneum akan meningkatkan efektivitas difusi obat kedalam kulit,
kerena terjadinya delipidasi akan membentuk shunts buatan dalam membrane,
sehingga mengurangi tahanannya terhadap difusi. Umur kulit ditentukan dari umur
manusia itu sendiri. Kulit anak-anak yang masih lentur akan lebih mudah
mengabsorpsi obat dibandingkan dengan kulit orang dewasa.
b. Aliran darah
Perubahan debit darah ke kulit secara nyata mengubah kecepatan penembusan
molekul. Semakin cepat aliran darah maka semakin cepat proses absorpsi.
c. Tempat pengolesan
Jumlah yang diserap untuk suatu molekul yang sama, akan berbeda tergantung
pada anatomi tempat pengolesan, yaitu pada ketebalannya. Perbedaan ketebalan
terutama disebabkan ketebalan lapisan tanduk yang berbeda pada setiap bagian tubuh.
Beragamnya ketebalan membran, sesuai dengan hukum Fick, pada satu sisi
menyebabkan peningkatan waktu laten yang diperlukan untuk mencapai
kesetimbangan konsentrasi pada lapisan tanduk, di sisi lain menyebabkan
pengurangan aliran darah.
d. Kelembapan dan suhu
Stratum korneum yang lembab mempunyai afinitas yang sama terhadap
senyawa-senyawa yang larut dalam air atau dalam lipida. Sifat ini disebabkan oleh
struktur histologi sel tanduk dan terutama oleh helai-helai keratin yang dapat
mengembang dalam air dan pada media lipida amorf yang meresap di sekitarnya.
Kelembapan dapat mengembangkan lapisan tanduk dengan pengurangan bobot
jenisnya atau tahanan difusi. Suhu yang semakin tinggi akan meningkatkan laju
penyerapan dikarenakan permeabilitas kulit yang meningkat. Hal ini disebabkan oleh
vasodilatasi dan kenaikan aliran darah ke kulit sehingga difusi obat akan meningkat.
Kemampuan penembusan dan penyerapan perkutan obat terutama tergantung pada
sifat-sifat fisiko-kimia dan pemilihan pembawanya. Peran bahan pembawa pada peristiwa ini
sangat kompleks, pada keadaan bila senyawa tidak mengganggu fungsi fisiologis kulit, maka
dapat dipastikan kulit tidak dapat melewatkan senyawa-senyawa yang tidak diserap.
1. Faktor fisiko-kimia
a. Tetapan difusi
Tetapan difusi suatu membran berkaitan dengan tahanan yang menunjukkan
keadaan perpindahan. Dikaitkan dengan gerakan Brown, tetapan difusi
merupakan fungsi bobot molekul senyawa dan interaksi kimia dengan
konstituen membran, dapat pula tergantung pada kekentalan media dan suhu.
b. Konsentrasi zat aktif
Menurut hukum Fick tentang difusi pasif, jumlah yang diserap setiap satuan luas
permukaan dan satuan waktu adalah sebanding dengan konsentrasi senyawa
dalam media pembawa. Maka, semakin besar konsentrasi zat maka difusi akan
menjadi lebih cepat.
c. Koefisien partisi
Koefisien partisi antara stratum korneum-pembawa ditentukan dengan
keseimbangan pembagian molekul, keadaan ini tercapai setelah kontak yang
lama antara lapisan tanduk dengan pembawa. Koefisien partisi yang tinggi
mencerminkan afinitas senyawa yang diteliti dengan pembawanya. Koefisien
partisi yang mendekati 1 menunjukkan bahwa molekul bergerak dalam jumlah
yang sama menuju lapisan tanduk dan pembawa. Maka, senyawa yang
mempunyai afinitas yang tinggi terhadap pembawanya tidak akan berdifusi
dalam lapisan tanduk. Kelarutan senyawa dalam pembawanya berpengaruh
terhadap koefisien partisi.
2. Pemilihan pembawa
Bahan pembawa dapat mempengaruhi struktur sawar kulit dan meningkatkan
penyerapan senyawa yang terkait. Pemilihan bahan pembawa perlu diperhatikan
agar bahan aktif dapat berdifusi dengan mudah ke dalam struktur.
Dalam percobaan ini digunakan bahan obat asam salisilat yang dilarutkan ke dalam
aquadest. Adapun pemerian dari asam salisilat adalah sebagai berikut:
Acidum Salicylicum

Rumus Molekul : C7H6O3


Berat Molekul :138,12
Pemerian : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih, hampir
tidak berbau, rasa agak manis dan tajam. Hablur putih, biasanya ber-
bentuk jarum halus, atau serbuk hablur putih, tajam, dan stabil di
udara.
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan dalam benzena, mudah larut dalam etanol
dan dalam eter, larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam klo-
roform.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat (Anonim, 1995).

Sebanyak 375 mg asam salisilat dilarutkan ke dalam 250 ml aquadest sehingga


kadarnya adalah 1,5 mg/ml. Pelarutan asam salisilat menggunakan sonikasi untuk
mempercepat proses pelarutan karena asam salisilat merupakan bahan obat yang sukar larut
dalam air.
Pada percobaan ini digunakan membrane milipore sebagai membrane buatan, dan kulit
tikus sebagai membrane asli. Langkah awal yang dilakukan adalah, menyiapkan tikus putih
yang telah dimatikan untuk dicukur bulunya menggunakan electric clipper. Bulu-bulu tikus
harus dicukur dahulu agar tidak mengganggu dalam pengamatan. Perlu diperhatikan juga
bahwa pada saat mencukur, harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengenai stratum
korneumnya karena stratum korneum merupakan bagian kulit yang berperan sebagai barrier
pertama dan utama dalam absorpsi obat perkutan sehingga bila mengenai stratum korneum
maka data pengamatan yang diperoleh tidak valid. Pencukuran bulu dilakukan di kulit bagian
dorsal (punggung) dari tubuh tikus. Kulit yang telah dicukur bulunya kemudian dipisahkan
dari bagian lemak subkutan. Pemisahan lemak perlu dilakukan agar tidak menghambat
absorpsi obat karena adanya lemak dapat menyebabkan terbentuknya lapisan diskontinyu
bahan lipofil pada beberapa permukaan kulit sehingga lemak dapat menjadi rute absorpsi obat
untuk obat-obat larut lemak. Lemak yang menempel dipisahkan dengan menggunakan
gunting bedah. Kulit kemudian dipotong melingkar yang sebelumnya ukurannya ditentukan
dengan menggunakan malkulit, yaitu berukuran sesuai dengan bentuk dan luas kontak sel
difusi.
Kulit yang sudah dipotong kemudian direndam menggunakan buffer fosfat salin pH
7,4 untuk proses hidrasi membrane kulit sehingga akan terjadi partisi buffer fosfat kedalam
membrane, akibatnya pori-pori kulit akan membuka dan kulit akan menjadi lembap. Proses
hidrasi ini dilakukan selama 30 menit. Setelah 30 menit, membrane kulit diangkat dan
selanjutnya dipasangkan pada alat sel difusi vertical. Membrane kulit ditempatkan diantara
kompartemen donor dan aseptor. Kompartemen donor dan aseptor dihubungkan
menggunakan ring karet yang berguna untuk mencegah kebocoran. Kebocoran yang terjadi
akan mengurangi volume cairan yang terdapat baik di dalam kompartemen donor maupun
aseptor sehingga nantinya kadar obat yang diperoleh menjadi berkurang (tidak valid).
Kemudian, sel difusi dipasang dengan menggunakan mur yang ada sehingga akan terbentuk
suatu sistem sel side by side. Pemasangan mur harus dilakukan secara bersamaan agar sel
difusi dapat terpasang dengan baik dan tidak terjadi kebocoran cairan. Larutan asam salisilat
sebanyak 17 mL dengan kadar 1,5 mg/mL kemudian ditempatkan ke dalam kompartemen
donor, sedangkan buffer fosfat salin pH 7,4 sebanyak 17 mL ditempatkan ke dalam
kompartemen akseptor. Pemasukan kedua larutan tersebut dilakukan secara perlahan dan
hati-hati, dan dicegah agar tidak timbul gelembung udara. Adanya gelembung udara dapat
mengganggu proses difusi. Ke dalam kompartemen aseptor juga dimasukkan magnetic stirrer
yang dijalankan. Magnetic stirrer digunakan dengan tujuan untuk menghomogenkan obat
(asam salisilat) yang berdifusi dari kompartemen donor ke kompartemen aseptor melalui
membrane kulit. Kecepatan putar magnetic stirrer harus dijaga agar alirannya tidak turbulen
karena hal ini dapat menyebabkan zat terkonsentrasi di satu titik saja. Setelah itu, alat sel
difusi dinyalakan, dan dianggap sebagai menit ke-0, kemudian dilakukan sampling dengan
mengambil 2 mL larutan buffer fosfat salin pH 7,4 yang terdapat di dalam kompartemen
aseptor. Pengambilan sampel dilakukan dengan pipet volume 1 mL dan dilakukan dengan
hati-hati. Larutan yang telah diambil lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Setiap kali
pengambilan sampel, harus dilakukan juga penambahan larutan buffer fosfat salin pH 7,4
sebanyak volume pengambilan sampel, yaitu 2 mL. Penambahan ini bertujuan untuk
mengembalikan buffer fosfat yang diambil pada saat sampling sehingga volume larutan di
dalam kompartemen aseptor tetap (tidak berkurang). Karena adanya penambahan ini, maka
perlu diperhatikan juga adanya faktor pengenceran terhadap sampel (asam salisilat).
Membran buatan yang digunakan dalam percobaan ini adalah membran millipore.
Membran dipotong melingkar dengan diameter 3,2 cm menyesuaikan cincin penghubung
antara kompartemen donor dan kompartemen akseptor pada sel difusi dan diletakkan pada
cincin penghubung tersebut. Membran tersebut ditetesi dengan isopropyl miristat ke semua
bagiannya secara merata dan didiamkan kurang lebih 5 menit. Hal ini bertujuan untuk
memberikan kondisi yang sama terhadap kondisi adanya lipid pada membran kulit pada
manusia. Kelebihan lipid dihilangkan dengan cara meletakkan membran di atas kertas saring.
Membran dimasukkan ke dalam beker glass yang berisi buffer fosfat salin dengan pH
7,4 untuk proses hidrasi membran sehingga akan terjadi partisi buffer fosfat ke dalam
membran selama 10 menit. Membran hasil hidrasi lalu diletakkan di antara kompartemen
donor dan akseptor. Untuk mencegah kebocoran, ditempatkan ring karet diantara
kompartemen tersebut. Sel difusi dipasang dengan mengencangkan mur yang ada sehingga
terbentuk suatu sistem sel side by side. Larutan donor asam salisilat sebanyak 250 ml
ditempatkan pada kompartemen donor dan larutan buffer fosfat salin pH 7,4 ditempatkan
pada kompartemen akseptor. Pemasukan larutan hendaknya secara perlahan dan hati-hati
melalui dinding kompartemen agar tidak keluar dan menyebabkan adanya gelembung udara
yang akan mengganggu proses difusi. Jika terdapat adanya gelembung udara pada sel difusi
maka alat dapat dimiringkan ke arah yang berlawanan agar gelembung udara tersebut hilang.
Sebelum masing-masing cairan pada kompartemen diaduk dengan mesin pengaduk
listrik, dilakukan sampling sebagai menit ke-0. Sampel diambil dari kompartemen akseptor.
Ketika mulai dilakukannya pengadukan, diusahakan posisi pengaduk adalah sedemikian rupa
dengan kecepatan yang tidak menyebabkan aliran turbulen karena dapat menyebabkan zat
terkonsentrasi pada satu titik saja atau bahkan cairan keluar dari wadah kompartemen.
Perlakuan pengadukan terhadap dua kompartemen tersebut harus sama agar zat aktif dapat
terdistribusi merata ke semua bagian.
Selain sampling pada menit ke-0, pengukuran transpor dari kompartemen donor ke
kompartemen akseptor ini dilakukan pada menit ke-15, 30, 45, 60, 75, dan 90. Pengukuran
kadar asam salisilat dilakukan dengan pembacaan absorbansi dengan mengunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang 296 nm (spektrofotometer UV). Blangko yang
digunakan adalah buffer fosfat salin. Pengambilan sampel sebanyak 5 ml dan setiap kali
pengambilan dilakukan pengembalian dengan menggunakan buffer fosfat salin pH 7,4
sebanyak 5 ml. Hal ini dimaksudkan agar volume larutan tetap (tidak berkurang) dan tetap
dalam keadaan sink (Cs >> C).
Pada praktikum kali ini, percobaan dilakukan dengan asumsi:
1. Lag time kinetik asam salisilat in vivo dapat diabaikan.
2. Fluks asam salisilat dari donor ke akseptor menggambarkan fluks asam salisilat dari
donor menembus kulit menuju plasma.
3. Luas area difusi menggambarkan luas kontak antara sediaan transdermal dengan
permukaan kulit.
Berdasarkan kurva baku yang telah tersedia, maka dapat dihitung kadar asam salisilat
yang terkandung dalam kompartemen akseptor per satuan waktu dengan memasukkan nilai
absorbansi yang diperoleh setelah pengukuran dengan spektrofotometer. Kurva baku untuk
pelarut buffer fosfat salin pH 7,4 yaitu:
Y = 0,2499 X + 0,0048
Untuk kulit tikus setelah terbaca absorbansi pada menit ke-0, kemudian dilakukan
pembacaan absorbansi pada menit ke-15, 30, 45, 60, 90, dan 120. Namun pengukuran pada
menit ke-120 tidak dilakukan karena waktu praktikum sudah hampir berakhir. Dari hasil
pengukuran, diperoleh absorbansi pada menit ke-0, 15, 30, 45, 60, dan 90 secara berturut-
turut adalah 0,048; 0,038; 0,042; 0,056; 0,064; dan 0,075 mg/ mL. Namun hasil pengukuran
absorbansi pada menit ke-0 direject sehingga yang digunakan adalah absorbansi dari menit
ke-15, 30, 45, 60, dan 90 saja. Dari kurva baku yang telah ditentukan yaitu
y=0,2499x+0,0048, maka dapat dihitung kadar asam salisilat yang berada di kompartemen
akseptor per satuan waktu dengan memasukkan nilai absorbansi yang diperoleh. Dari hasil
perhitungan, dapat dilihat bahwa dari menit ke-0 sampai menit ke-90, jumlah obat yang
berdifusi semakin meningkat, atau dengan kata lain, semakin lama kecepatan absorpsi obat
melewati membrane kulit semakin cepat. Hal ini kemungkinan disebabkan karena terjadinya
hidrasi pada membrane kulit yang mengakibatkan pengurangan densitas pori sehingga
mengurangi ketahanan untuk ditembus molekul obat.
Kadar asam salisilat per satuan waktu semakin lama semakin bertambah, begitu pula
pada nilai Cp yang diperoleh sampai menit ke-90 yang mencapai 0,3119 mg/ mL. Pada
percobaan in vitro, proses eliminasi tidak terjadi sehingga kadar obat di kompartemen
akseptor akan selalu bertambah hingga tercapai kesetimbangan konsentrasi diantara
kompartemen donor dengan kompartemen akseptor. Sedangkan pada percobaan in vivo,
berlangsung proses distribusi dan eliminasi sehingga proses absorpsi akan terus berlangsung
karena proses gradient konsentrasi selalu berjalan sehingga asam salisilat dapat terabsorpsi
seluruhnya.
Melalui perhitungan dengan kurva baku tersebut, diperoleh kadar obat untuk membran
buatan, yaitu sebagai berikut:
Waktu sampling (menit) Kadar obat (mg/ml)
0 0,1809
15 1,2533
30 2,3017
45 3,1401
60 3,9336
90 5,1841
Adanya proses pengambilan dan pengembalian volume dikhawatirkan dapat
mempengaruhi kadar yang diperoleh. Oleh karena itu, pada pengolahan data dilakukan
penghitungan kadar terkoreksi untuk mengantisipasi hilangnya sebagian asam salisilat oleh
karena pencuplikan, serta pengukuran jumlah kumulatif asam salisilat sehingga tetap
menggambarkan jumlah asam salisilat yang seharusnya. Dengan demikian, diperoleh hasil
sebagai berikut:
Kadar Terkoreksi Jumlah Obat yang
Waktu Sampling (menit) Jumlah Obat Kumulatif (mg)
(mg/ml) Berdifusi (mg)
0 0,1809 0,9045 0,9045
15 1,2895 6,4475 7,3520
30 2,5524 12,7620 20,1140
45 3,6004 18,0020 38,1160
60 4,5616 22,8080 60,9240
90 5,9708 29,8540 90,7780
Apabila ditarik hubungan antara waktu sampling (menit) dengan jumlah obat kumulatif
(mg), maka diperoleh persamaan:
Y = 1,0527 X 5,7445
Berdarkan tabel hasil perhitungan, dapat dilihat bahwa jumlah obat yang berdifusi bertambah
tiap satuan waktu. Dengan kata lain semakin lama kecepatan absorpsi melewati membran
millipore semakin besar (cepat), kemungkinan disebabkan karena terjadi hidrasi pada
membran millipore yang akan mengurangi densitas (kerapatan) dari pori sehingga
mengurangi ketahanan untuk ditembus oleh molekul obat. Hal ini dapat pula berpengaruh
terhadap nilai Cp. Cp dihitung dengan unsur-unsur yaitu waktu paruh eliminasi (T1/2el),
konstanta kecepatan eliminasi (K), dan klirens total (Cl). Hasil perhitungan nilai Cp yaitu:
Waktu(menit) Cp (mg/L)
0 0
15 3,0644
30 5,9237
45 8,59915
60 11,0807
90 15,5702
Pada tabel dapat dilihat bahwa ternyata Cp juga mengalami kenaikan tiap satuan
waktunya. Dalam percobaan secara in vitro tidak terjadi proses eliminasi, sehingga kadar obat
di kompartemen akseptor akan selalu bertambah sampai dengan dicapainya keadaan
kesetimbangan konsentrasi obat antara kompartemen donor dan akseptor. Proses difusi terjadi
karena adanya gradien konsentrasi sebagai driving force (tenaga pendorong). Sedangkan
dalam percobaan in vivo berlangsung proses distribusi dan eliminasi sehingga proses absorpsi
terus berlangsung karena akan selalu terdapat gradien konsentrasi, sehingga asam salisilat
dapat habis terabsorpsi semua.
Dengan persamaan yang telah disebutkan sebelumnya, slope yang diperoleh (1,0527
mg/menit) dapat digunakan untuk menentukan fluks (kecepatan transfer obat melewati
membran per satuan luas tempat pengaplikasian) yang menggambarkan jumlah obat yang
melewati sawar fisik.
mg
slope ( menit)
Fluks = luas are difusi (cm2)

Fluks yang diperoleh untuk percobaan menggunakan membran ini adalah 0,0328
mg/menit.cm2. Sedangkan nilai fluks untuk membran kulit adalah 1,3146x10-3 mg/menit.cm2.
Semakin besar nilai fluks berarti semakin mudah dan cepat absorpsi obat melewati membrane
kulit, jadi untuk sediaan yang ditujukan berefek cepat, maka sebaiknya dibuat sediaan yang
nilai fluksnya besar, dan sebaliknya.
Selain fluks, dihitung pula parameter lainnya yaitu koefisien permeabilitas membran
(P), yang menggambarkan permeabilitas membran millipore dan membran kulit untuk
dilewati obat. Semakin besar nilai koefisien permeabilitas maka semakin mudah obat
melewati membran dan sebaliknya. Dari percobaan ini diperoleh harga permeabilitas sebesar
0,0219 ml/menit.cm2 untuk membran millipore dan 8,764 x 10-4 ml/menit.cm2 untuk
membran kulit. Harga ini cukup memperlihatkan mudahnya obat melewati membran
millipore dalam percobaan sedangkan untuk membran kulit, harga P yang diperoleh
menunjukkan bahwa kemampuan obat untuk melewati membran kulit cukup sulit. Hal ini
disebabkan karena pada kulit terdapat faktor penghalang yang tidak dimiliki oleh membran
millipore, yaitu seperti lemak, dan lapisan-lapisan pada kulit. Dari percobaan, hasil yang
diperoleh sudah sesuai dengan teori, yaitu kemampuan obat melewati membran millipore
lebih mudah jika dibandingkan dengan melewati membran kulit.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi penetrasi dari suatu obat ke dalam kulit
adalah:

1) Konsentrasi obat terlarut Cs, karena laju penetrasi sebanding dengan konsentrasi.

2) Koefisien partisi K antara kulit dan pembawa yang merupakan ukuran afinitas relatif
dari obat tersebut untuk kulit dan pembawanya.

3) Koefisien difusi yang menggambarkan tahanan pergerakan molekul obat melalui


barrier pembawa dan pembatas kulit. Besaran relatif dari kedua koefisien difusi
menentukan apakah pelepasan dari pembawa atau perjalanan melalui kulit merupakan
tahap penentu laju.

VI. KESIMPULAN
1. Absorpsi obat secara perkutan dipengaruhi oleh kelarutan dan koefisien partisi obat,
konsentrasi obat, kondisi kulit atau membran, hidrasi membran, dan basis yang
digunakan.
2. Pada uji in vitro absorpsi perkutan tidak terjadi proses eliminasi dan distribusi
sehingga proses transfer massa molekul obat terhenti setelah keadaan setimbang di
dalam kompartemen donor dan kompartemen akseptor.
3. Kadar asam salisilat per satuan waktu semakin lama semakin meningkat dikarenakan
berkurangnya tahanan membrane (kulit) terhadap molekul obat.
4. Harga Cp dari menit ke-0 sampai menit ke-90 semakin lama semakin meningkat,
menunjukkan bahwa absorpsi obat semakin meningkat.
5. Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa jumlah kumulatif obat yang berdifusi dan
kadar obat yang berdifusi naik seiring dengan kenaikan waktu.
6. Hasil percobaan menunjukkan nilai permeabilitas membran buatan 0,0219
ml/menit.cm2 dan nilai flux 0,0328 mg/menit.cm2 . Sedangkan permeabilitas
membran kulit 8,764 x 10-4 ml/menit.cm2 dan nilai flux 1,3146 x 10-3
mg/menit.cm2
7. Kemampuan obat (asam salisilat) untuk melewati membran millipore lebih mudah
dibandingkan dengan melewati membran kulit.
VII.DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Ansel, H., 1989, Pengantar Bentuk sediaan Farmasi, edisi keempat, Universitas
Indonesia, Jakarta
Grassi, Mario, etc., 2007, Understanding Drug Release and Absorption Mechanisms : A
Physical and Mathematical Approach, CRC Press, Boca Raton.
Martin, A., 1993, Farmasi Fisik, Dasar-dasar Farmasi Fisik dalam Ilmu Farmasetik,
Universitas Indonesia, Jakarta
Shargel, L dan Yu, A.B.C.,2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan,
Airlangga University Press
Yogyakarta, 19 Oktober 2012
Praktikan
Surya Indra K (08534)
Anggit Yustitia A. (08537)
M. N. Arifin (08543)
Putu Dian M.K. (08549)
LAMPIRAN
Jawaban Pertanyaan
1. Mengapa uji in vitro perlu dilakukan sebelum uji in vivo?
Jawab :
Karena studi absorpsi obat secara in vitro ini dapat untuk mengetahui profil dari suatu
obat sehingga dapat digunakan untuk memperkirakan profil obat sebenarnya dan dapat
digunakan sebagai acuan dalam melakukan uji in vivo. Sehingga uji in vitro ini dapat
menghemat waktu dan biaya sebelum melakukan uji in vivo.

2. Bagaimanakah kriteria suatu obat agar formulasinya secara transdermal memberikan


transport yang menjanjikan?
Jawab:
Sistem penghantaran transdermal merupakan formulasi obat yang mengandung bahan-
bahan yang membantu proses penetrasi obat melalui kulit. Penghalang kulit yang terdiri
dari stratum korneum, epidermis dan dermis merupakan penghalang yang cukup tebal
sehingga hanya obat-obat tertentu yang dapat diberikan melalui rute transdermal.
Sebelum mencapai darah, obat melintasi penghalang stratum korneum yang lipofil
kemudian epidermis yang hidrofil. Senyawa obat yang lipofil mudah menembus stratum
korneum, namun tidak menembus epidermis, sehingga perjalanan menuju pembuluh
darah obat terhambat. Senyawa obat yang hidrofil juga mengalami hambatan dalam
penetrasi menembus stratum korneum yang sangat lipofil sehingga absorpsi sistemiknya
terhambat. Cara pengatasannya adalah dengan mengubah sifat fisikokimia obat antara
lain dengan penggunaan enhancer untuk senyawa hidrofil sehingga mudah penetrasi
melalui stratum korneum. Pemberian enhancer bersama obat polar akan meningkatkan
jumlah obat yang berdifusi melalui stratum korneum dan menembus epidermis serta
dermis untuk mencapai pembuluh darah. Mekanisme kerja enhancer adalah
meningkatkan permeabilitas melalui jalur polar, lipid dan polar, maupun lipid.