Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-nya sehingga penjelasan
kasus ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga penjelasan kasus ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan penjelasan kasus ini.

Bandung, 3 Oktober 2017

Penyusun

DAFTAR ISI
1
KATA PENGANTAR ... 1

DAFTAR ISI ....... 2

BAB I PENDAHULUAN ...... 3

1.1 Latar Belakang Masalah .................. 3


1.2 Rumusan Masalah 4

1.3 Tujuan ........... 4


1.4 Manfaat ..... 4

BAB II PEMBAHASAN 5

2.1 Analisis Value Chain Pada PT Sinar Sosro .. 5


2.1.1 Tinjauan Pustaka ...... 5
2.1.2 Sejarah Singkat PT Sinar Sosro .. 6
2.1.3 Pembahasan Analisis Value Chain Pada PT Sinar Sosro . 7
BAB III PENUTUP 13

3.1 Kesimpulan .. 13
3.2 Saran 13
DAFTAR PUSTAKA 14

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Masyarakat Indonesia lebih menyukai atau gemar minuman teh jika dibandingkan
dengan minuman lain seperti minuman kopi atau soda. Hasil survei oleh berbagai lembaga
riset seperti AC Nielsen, MARS dan SWA, sejak tahun 1999 hingga 2011 menunjukkan
tingkat penetrasi pasar untuk teh mencapai lebih dari 95%. Hal tersebut menunjukkan bahwa
minuman teh telah atau pernah dikonsumsi oleh setiap masyarakat di Indonesia. Persentase
terbesar dari penjualan teh dipegang oleh teh bubuk, kemudian teh dalam kemasan botol dan
selanjutnya teh dalam kemasan lain seperti teh celup, teh instan, dan lain-lain. Melihat teh
dalam kemasan botol menjadi penjualan terbesar maka teh botol cap sosro merupakan
pelopor teh pertama dengan kemasan botol di Indonesia. Kemasan botol pada teh sosro ini
telah bertahan selama satu dekade. Penjualan teh botol sosro berkontribusi sangat besar bagi
pemasukan PT Sinar Sosro.

Untuk mengetahui value chain dari PT. Sosro maka akan dilakukan analisis dengan
menggunakan analisis Porters value chain. Dalam kegiatan value chain terdapat dua
aktifitas yang akan diteliti, antara lain ; primary activities dan supported activities. Kedua
aktifitas tersebut akan mengetahui bagaimana suatu supply chain akan membentuk value
chain. Kegiatan value chain di dalamnya terdapat kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi
suatu organisasi (perusahaan). Dalam hal ini, value chain analysis merupakan cara sistematik
untuk memeriksa semua aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan serta bagaimana semua
aktivitas tersebut berinteraksi yang dimaksudkan untuk membantu perusahaan menganalisis
sumber keunggulan bersaing. Dan apabila suatu perusahaan memiliki analisis value chain
yang baik maka perusahaan tersebut dapat meminimalisir kemunduran dengan adanya
pesaing-pesaing. Agar menciptakan suatu analisis yang baik, dibutuhkan kemampuan spasial
dalam memperoleh bahan baku dan cara menginformasikan (mengiklankan) produk yang
dibuat suatu perusahaan kepada masyarakat.

3
1.2 Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah pada makalah ini adalah bagaimanakah analisis value chain
pada PT Sinar Sosro ?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, makalah ini bertujuan untuk mengetahui konsep
rantai nilai pada PT Sinar Sosro

1.4 Manfaat

Penyusunan tugas ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak :

1. Secara Teoritis, menjadi informasi yang dapat terus dikembangkan bagi metode analisis
bisnis agar dapat terus bersaing secara kompetitif dan meningkatkan informasi bisnis.

2. Secara Praktis, menjadi sumber literasi bagi kalangan pengusaha sehingga dapat
mengembangkan bisnis potensial agar memberikan keuntungan kompetitif yang dapat
meningkatkan produktifitas perekonomian.

BAB II
4
PEMBAHASAN

2.1 Analisis Value Chain PT. Sinar Sosro

2.1.1 Tinjauan Pustaka

Value Chain Porter (ditemukan oleh Michael Porter) adalah model yang digunakan
unutk membantu menganalisis aktifitas-aktifitas spesifik (mendesain, memproduksi,
memasarkan, mengirimkan dan mendukung produk-produknya atau layanannya) yang dapat
menciptakan nilai dan keuntungan kompetitif bagi organisasi/perusahaan. Aktifitas-aktifitas
tersebut terbagi dalam dua jenis, yaitu :

A. Primary activities, aktfitas yang memungkinkan untuk memenuhi perannya dalam rantai
nilai industri dan karenanya dapat memuaskan pelanggan, melihat efek langsung dari
seberapa baik kegiatan tersebut dilakukan. Tidak hanya masing-masing kegiatan harus
dilaksanakan dengan baik, tapi juga harus terhubung secara efektif jika kinerja bisnis
secara keseluruhan dioptimalkan. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya :

- Inbound logistics: aktifitas yang berhubungan dengan penanganan material sebelum


digunakan.

- Operations: aktifitas yang berhubungan dengan pengolahan input menjadi output.

- Outbound logistics: aktifitas yang dilakukan untuk menyampaikan produk ke tangan


konsumen.

- Marketing and sales: aktifitas yang berhubungan dengan pengarahan konsumen agar
tertarik untuk membeli produk.

- Service: aktivtas yang mempertahankan atau meningkatkan nilai dari produk.

B. Supported activities, aktifitas yang diperlukan untuk mengontrol dan mengembangkan


bisnis dari waktut ke waktu dan dengan demikian secara tidak langsung menambah nilai-
nilai yang diwujudkan melalui keberhasilan primary activities.

Kegiatan tersebut diantaranya :

5
- Procurement: berkaitan dengan proses perolehan input/sumber daya.

- Human resources management: pengaturan SDM mulai dari perekrutan,


kompensasi, sampai pemberhentian.

- Technological development : pengembangan peralatan, software, hardware, prosedur,


didalam transformasi produk dari input menjadi output.

- Firm Infastructure: terdiri dari departemen-departemen / fungsi-fungsi (akutansi,


keuangan, perencanaan, dsb) yang melayani kebutuhan prganisasi dan mengikat
bagian-bagiannya menjadi sebuah kesatuan.

2.1.2 Sejarah Singkat PT Sinar Sosro

Pembentukan perusahaan Sosro tidak lepas dari sejarah terciptanya Teh Botol yang
diciptakan oleh keluarga Sosrodjojo. Tahun 1940, Keluarga Sosrodjojo memulai
usahanya di sebuah kota kecil bernama Slawi di Jawa Tengah. Pada saat memulai
bisnisnya, produk yang dijual adalah teh kering dengan merek Teh Cap Botol di mana
daerah penyebarannya masih di seputar wilayah Jawa Tengah. Tahun 1953, Keluarga
Sosrodjojo mulai memperluas bisnisnya dengan merambah ke ibukota Jakarta untuk
memperkenalkan produk Teh Cap Botol yang sudah sangat terkenal di daerah Jawa
Tengah. Perjalanan memperkenalkan produk Teh Cap Botol ini dimulai dengan
melakukan strategi CICIP RASA (product sampling) ke beberapa pasar di kota Jakarta.
Awalnya, datang ke pasar-pasar untuk memperkenalkan Teh Cap Botol dengan cara
memasak dan menyeduh teh langsung di tempat. Setelah seduhan tersebut siap, teh
tersebut dibagikan kepada orang-orang yang ada di pasar. Tetapi cara ini kurang berhasil
karena teh yang telah diseduh terlalu panas dan proses penyajiannya terlampau lama
sehingga pengunjung di pasar yang ingin mencicipinya tidak sabar menunggu. Cara
kedua, teh tidak lagi diseduh langsung di pasar, tetapi dimasukkan kedalam panci-panci
besar untuk selanjutnya dibawa ke pasar dengan menggunakan mobil bak terbuka. Lagi-
lagi cara ini kurang berhasil karena teh yang dibawa, sebagian besar tumpah dalam
perjalanan dari kantor ke pasar. Hal ini disebabkan pada saat tersebut jalanan di kota
6
Jakarta masih berlubang dan belum sebagus sekarang. Akhirnya muncul ide untuk
membawa teh yang telah diseduh di kantor, dikemas kedalam botol yang sudah
dibersihkan. Ternyata cara ini cukup menarik minat pengunjung karena selain praktis
juga bisa langsung dikonsumsi tanpa perlu menunggu tehnya dimasak seperti cara
sebelumnya. Pada tahun 1969 muncul gagasan untuk menjual teh siap minum (ready to
drink tea) dalam kemasan botol, dan pada tahun 1974 didirikan PT SINAR SOSRO.

2.1.3 Pembahasan Analisis Value Chain Pada PT Sinar Sosro

Analisis Porters Value Chain akan digunakan untuk menganalisis bagaimana


perusahaan sosro menggerakkan perusahaannya hingga tetap eksis sampai sekarang.
Disini akan dijelaskan bagaimana sosro mendapatkan bahan baku hingga menjual ke
masyarakat luas.

Aktivitas Value Chain terdiri dari dua kategori, yaitu primary activities dan support
activities. Berikut penjelasan dari masing-masing kategori :

a. Primary activities, kegiatan yang dilakukan sosro dalam memenuhi perannya dalam
rantai nilai industry dalam memuaskan pelanggan sebagai berikut.

- Inbound logistic, dalam mengintegrasikan kegiatan logistiknya sosro mendapat


pemasokan bahan baku dari PT. Gunung Slamat dimana bahan baku tersebut
berasal dari perkebunan Teh Gunung Rosa di Cianjur, Perkebunan Teh Gunung
Manik di Cianjur, Perkebunan Teh Gunung Cempaka di Cianjur, Perkebunan Teh
Gunung Satria di Garut, Perkebunan Teh Daerah Negalsari di Garut, Perkebunan
Teh Daerah Cukul di Pangalengan, Perkebunan Teh Daerah Sambawa di
Tasikmalaya.

7
Gambar 1 : Peta Lokasi Bahan Baku Sosro

Bahan baku yang dibutuhkan tidak hanya teh, ada juga gula pasir dan air. Untuk
gula pasir Sosro mengimpor dari Thailand, karena gula dari Thailand memiliki
tingkat kesadahan yang baik serta warnanya tidak keruh. Untuk air, digunakan air
tanah dalam proses pengolahannya. Untuk itu bahan baku yang dibutuhkan adalah
bibit teh, gula, tenaga kerja untuk mengolah dan memetik teh, serta pestisida
untuk mengurangi hama pada tumbuhan teh.

- Operations, aktifitas dalam pengubahan bahan baku menjadi produk dilakukan


oleh PT. Agro Pangan selaku sister company. Dalam kegiatan operation ini
dibutuhkan energy, mesin dan peralatan / suku cadang dan tenaga kerja.

- Outbond logistic, dalam proses penyampaian produk ke tangan konsumen


menggunakan truck dimana dalam kegiatan ini dibutuhkan bahan bakar, truck dan
suku cadang serta tenaga kerja.

- Marketing and sales, PT. Sosro mendistribusikan produknya ke seluruh


Nusantara melalui lebih dari 150 kantor cabang penjualan, serta beberapa Kantor
Penjualan Wilayah (KPW). Selain mendistribusikan, kantor penjualan bertugas

8
dalam penarikan kembali botol kosong (returnable glass bottle). Selanjutnya
distribusi memiliki tingkat agen/dister, sub-wholesaler/sub-agen, dan retailer
(pengecer) untuk tingkat dister dikenal dengan dister aktif (DA) dan dister pasif
(DP). DA tidak hanya menunggu pembeli datang ke tempatnya, tapi juga
mendistribusikan produk hingga tingkat pengecer. Sedangkan DP hanya
menunggu pembeli datang ke tempatnya.

Selain di dalam negeri, produk PT. Sinar Sosro sudah merambah pasar
Internasional dengan upaya mengekspor produk-produk dalam kemasan kotak dan
kaleng ke beberapa Negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam,
sebagian Timur Tengah, Afrika, Australia, dan Amerika.

- Service, dengan sistem dister yang telah diterapkan, sistem ini digunakan untuk
menunjang kegiatan operasional di masing-masing dister. Tujuannya untuk
mengosolidasikan seluruh transaksi dari semua dister. Dengan begitu soro akan
cepat mendapatkan data dengan cepat dan akurat agar keputuasan dalam
menganalisa suatu masalah cepat ditentukan.

b. Supported Activities, aktifitas yang dilakukan sosro dalam mengontrol dan


mengembangkan bisnisnya adalah sebagai berikut.

- Procurement, dalam pembelian bahan baku utama (teh) sosro memilih Jawa
Barat sebagai pemasok bahan baku tehnya. Dapat dilihat pada (gambar 1) kebun-
kebun yang dijadikan pemasok letaknya berdekatan. Hal ini ditujukan agar
mempermudah dalam hal transportasinya. Dengan kemudahan dalam transportasi,
maka akan menghemat pengeluaran dalam pembelian bahan bakar.

- Technological development, sosro selalu berinovasi dalam hal packaging (design


botol). Pada awalnya botol untuk kemasan menggunakan botol limun, seiring
berjalannya waktu botol sosro sudah menciptakan design sendiri yang bertahan
sampai saat ini dengan berbahan dasar beling. Sekarang botol kemasan beling

9
diganti dengan bahan dasar plastik dan berbahan dasar sejenis kertas yang ramah
lingkungan.

- Human resources management, salah satu upaya sosro dalam meningkatkan


manajemen sumber daya manusia adalah dengan cara meningkatkan
profesionalisme pegawai. Hal ini akan berdampak positif terhadap peningkatan
kualitas pelayanan terhadap pelanggan. Tolak ukur yang tepat untuk digunakan
dalam mengukur profesionalisme pegawai adalah dengan melihat tingkat
kepuasan pegawai, yang dapat dilihat dari rata-rata tingkat pencapaian sasaran
kerja individu, semakin tinggi rata-rata pencapaian kerja individu menandakan
makin tingginya kualitas profesionalisme sumber daya perusahaan sehingga
perusahaan bisa berjalan lebih efektif dan efisien.

- Firm Infrastructure, sosro berusaha terus meningkatkan infrastuktur


perusahaannya guna meningkatkan produksi dan memperluas wilayah
pemasarannya sesuai dengan visi sosro dimana sosro berusaha menjadi
perusahaan minuman yang dapat melepaskan rasa dahaga konsumen kapan saja,
dan dimana saja. Terbukti dengan sosro membuka lebih dari 150 kantor cabang di
seluruh Nusantara bahkan sampai ke luar negeri.

Tabel 1. Analisis Porters Value Chain PT. Sinar Sosro


10
Firm
Infrastructur Meningkatkan produksi dan memperluas wilayah pemasaran
e
M
Human
resources Meningkatkan profesionalisme pegawai A
management R
Technologic-
G
al Mengganti design botol serta bahan baku pembuat botol atau kemasan
I
development
N
Procurement Bahan baku (teh dan gula), krat botol, mesin dan peralatan dan suku cadang, dsb

- bibit teh - energy - bahan baku - KPW Penanganan


masalah di
- gula -mesin dan - truck - agen masing-
pelatan / suku masing kantor
- pestisida cadang -suku cadang -sub agen
cabang dengan
- tenaga kerja - tenaga kerja -retailer cepat
-tenaga kerja

Inbound Operations Outbound Marketing Service


and Sales
logistic logistic

Pabrik sosro yang terletak di Cibitung mendapatkan bahan baku teh dari
perkebunan Gunung Manik di Cianjur, kemudian output (produk) yang dihasilkan dari
pabrik Cibitung didistribusikan ke salah satu KPW (Kantor Penjualan Wilayah) di Jawa
Barat bagian selatan.

Terdapat persaingan yang ketat di Jawa Barat tepatnya di Bandung Selatan ada
produk yang mirip TBS (Teh Botol Sosro), baik dari segi rasa maupun kemasan. Produk
tersbut bernama The Bintang milik PT Bevera Makmur Cemerlang (BMC) yang
beroperasi dari daerah Holis-Cimahi. Dari sisi desain hampir mirip, di atas kanan tulisan
Teh Bintang ada gambar bintang berwarna merah yang memuat tulisan SOBO.
Sementara di sebelah kirinya ada tulisan label Halal. Adapun di bagian bawah
tercantum tulisan Tanpa Bahan Pewarna. Kendati model botolnya tidak sama, sekilas
hampir mirip karena ukurannya sama. Keberadaan dan penetrasi pasar Teh Bintang ini
diakui salah seorang tim penjualan Sinar Sosro cukup merepotkan dan menggerogoti

11
pasarnya. Terutama di kawasan Bandung Selatan. Banyak warung di daerah Soreang dan
sekitarnya yang menjual Teh Bintang. Akan tetapi, hal ini tidak mampu menggoyahkan
posisi Teh Botol Sosro dari pasaran karena didukung oleh distribusi market yang luas,
loyalitas konsumen, jumlah persediaan botol di pasaran, dan lain-lain. The botol sosro
sampai saat ini merupakan produk unggulan di level minuman kemasan the, dikarenakan
faktor primary dan supported activities-nya berjalan dengan baik.

Distribusi
Distribusi ke
ke
KPW
KPW

Gambar 2. Pendistribusian produk ke KPW (Kantor Penjualan Wilayah)

BAB III

12
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

SOSRO merupakan pelopor produk teh siap minum dalam kemasan yang pertama di
Indonesia. Nama SOSRO diambil dari nama keluarga pendirinya yakni SOSRODJOJO.
Tahun 1940, Keluarga Sosrodjojo memulai usahanya di sebuah kota kecil bernama Slawi di
Jawa Tengah. Pada saat memulai bisnisnya, produk yang dijual adalah teh kering dengan
merek Teh Cap Botol dimana daerah penyebarannya masih di seputar wilayah Jawa Tengah.
Seiring berjalannya waktu dan dengan kemajuan teknologi SOSRO mengembangkan
usahanya. Sosro memulai inovasi baru dengan menjual minuman kemasan dengan botol pada
tahun 1953 ke Jakarta dan mulai meluaskan daerah pendistribusiannya ke seluruh Indonesia
bahkan sampai ke luar negeri.

Suatu perusahaan yang memiliki primary activities (kegiatan utama) dan support
activities (kegiatan pendukung) yang saling mendukung dan melengkapi satu sama lain atau
dalam artian baik, maka perusahaan tersebut dapat meminimalisir kemunduran meskipun
terdapat pesaing-pesaing yang nantinya akan mengganggu kegiatan dari suatu perusahaan
tersebut. Penerapan konsep Analisis rantai nilai berguna bagi perusahaan khususnya pada PT
Sinar Sosro perusahaan ini dapat mengidentifikasi, mengelompokan berbagai aktivitas
perusahaannya sehingga terlihat kelemahan dan kelebihan dari aktivitas tersebut. Dengan
diterapkan analisis rantai nilai ini membantu perusahaan dalam menambah aktivitas yang
bernilai tambah bagi perusahaan sehingga meningkatkan keunggulan kompetitif.

3.2 Saran

Penggunaan analisis value chain (rantai nilai) sangat tepat digunakan untuk industri dan
komoditas komoditas yang spesifik. Hasil akhir yang didapat, digunakan untuk menjadi
keputusan manajemen dalam membuat keputusan perusahaan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Christoper, Martin. Logistic and Supply Chain Management Creating Value Adding
Networks:Thrid Editon. Great Britanian : Edinburgh Gate, 2005.

Maisyara, Juliana. 2011. Manajemen Sosro dari Hulu Hingga Hilir. Online
(http://juliana46.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2011/06/08/supply-chain-dan-pemasaran-teh-
botol-sosro/)

Susanto, Iwan dan Kristono. 2012. Analisis Rantai Nilai (Value Chain Analysis). Online
(http://cio-indo.blogspot.com/2012/05/analisis-rantai-nilai-value-chain.html)

Pabrik Produksi. http://id.wikipedia.org/wiki/Sinar_Sosro

http://www.sosro.com

http://www.sosro.com/peta-distribusi.php

https://foursquare.com/v/pt-sinar-sosro-wilayah-jawa-barat-selatan/4c086c5bbbc676b06da346d5

http://pratesis.com/ahlinya-teh-pun-implementasi-solusi-scylla