Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KEGIATAN

UPAYA PENGOBATAN DASAR (F6)


TUBERKULOSIS (TB)

Pendamping :
dr. Agustina Rusmawati
NIP. 19771231 2008 01 2 018

Disusun Oleh :
dr. Samuel

PUSKESMAS KAJEN 1
KABUPATEN PEKALONGAN
2017
No. ID dan Nama Peserta : dr. Samuel
No. ID dan Nama Wahana : Puskesmas Kajen I
Tanggal (kasus) : 20 Oktober 2017
Nama Pasien : Tn. W
Tanggal Presentasi : Nama Pendamping : dr. Agustina Rusmawati
Tempat Presentasi : Puskesmas Kajen I
Obyektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan
Pustaka
Diagnosti Manajemen Masalah Istimewa
k
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi
:
Tujuan :
Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit
Bahasan :
Pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
Membahas
: diskusi
Data Pasien : Nama : Tn. W Nomor Registrasi :
Na ma Klinik: BP UMUM telp :- Terdaftar sejak :
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / gambaran klinis:
Pasien datang ke Pukesmas dengan keluhan batuk berdahak yang dirasakan sejak 1 bulan yang
lalu. Dahak berwarna putih kental tidak disertai darah. Selain itu, pasien juga mengeluhkan
terkadang sesak napas dan merasa mual. Keringat malam hari disangkal, penurunan berat badan
disangkal. Saat datang ke puskesmas pasien sudah membawa hasil foto rontgen dan surat
pengantar dari praktek dokter pribadi untuk pengobatan TB. Selanjutnya pasien disarankan untuk
cek BTA.
2. RPD :
Riwayat diabetes mellitus disangkal, riwayat sakit serupa disangkal, riwayat asma disangkal,
riwayat kontak dengan penderita batuk lama disangkal.
3. Riwayat Keluarga :
Keponakan pasien pernah menderita TBC namun sudah sembuh. Riwayat diabetes melitus
disangkal, riwayat hipertensi disangkal. Teman pasien yang menderita TBC sering main kerumah
pasien.

4. Riwayat Kebiasaan :
Pasien merokok selama 5 tahun dan baru berhenti 2 minggu ini. Riwayat minum alkohol disangkal.
Riwayat olahraga kurang.
5. Riwayat Sosial Ekonomi:
Pasien saat ini tinggal bersama ayah dan ibunya. Saat ini pasien bekerja sebagai karyawan pabrik.
Pasien berobat dengan menggunakan biaya BPJS.
Daftar Pustaka

1. Utama, Andi.Tuberkulosis.Jakarta:Infeksi.com3.
2. Amin, Zulkifli.Tuberkulosis Paru dan Pengobatan Tuberkulosis Mutakhir dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam.Cetakan kedua Mei 2007.Jakarta:FKUI.
3. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkulosis.Departemen KesehatanRI.Direktorat Bina Farmasi
Komunitas dan Klinik.2005.
Hasil Pembelajaran

1. Penegakan diagnosis dengan urutan anamnesis dan pemeriksaan fisik.


2. Menganalisis faktor yang mempengaruhi penyakit tuberkulosis pada pasien.
3. Melakukan home visit untuk mengetahui kondisi lingkungan dan perkembangan penyakit
pasien.
4. Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga.
1. Subyektif :
Pasien datang ke Pukesmas dengan keluhan batuk berdahak yang dirasakan sejak 2
bulan yang lalu. Dahak berwarna putih kental, terkadang disertai darah. Sejak awal mula
muncul keluhan batuk, pasien sudah berobat ke dokter tetapi keluhan dirasakan belum
membaik. Selain itu, pasien juga mengeluhkan, sering berkeringat, terutama malam hari,
walaupun tidak beraktivitas berat. Pasien juga merasa nafsu makan dan berat badannya
menurun. Dalam beberapa minggu terakhir, pasien merasa badannya demam semlenget. Saat
datang ke puskesmas pasien sudah membawa hasil foto rontgen dan surat pengantar dari
praktek dokter pribadi untuk pengobatan TB. Selanjutnya pasien disarankan untuk cek BTA.

2. Obyektif :
Hasil Pemeriksaan fisik (Pada tanggal 20 Oktober 2017)
a. Keadaan Umum / Kesadaran
KU : Compos Mentis, Sakit ringan (GCS E4V5M6)
BB : 63 Kg

b. Tanda Vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : afebris
c. Pemeriksaan Fisik
Kepala
Konjungtiva anemis (-)
Sklera ikterik (-)
Nafas cuping hidung (-)
Leher
Retraksi suprasternal (-)
Deviasi trachea (-)
Peningkatan JVP (-)
Pembesaran KGB (-)
Thoraks
Pulmo : Simetris, retraksi (-), dada tertinggal (-), SD vesikuler
(+/+), rhonki kasar (+/+), wheezing (-/-)
Jantung : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Supel (+), Bising Usus normal, nyeri abdomen (-), timpani seluruh
region abdomen
Ekstremitas
Atas Bawah
Oedem -/- -/-
Capp. Refill <2 detik <2 detik

Assessment :

Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat
ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil
pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif. Bila
hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada
atau pemeriksaan spesimen SPS diulang.
Jika hasil rontgen mendukung TB, maka penderita didiagnosis sebagai penderita TB BTA
positif. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan.
Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan.
Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol
atau Amoksisilin) selama 1 - 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap
mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS : Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai
penderita TB BTA positif. Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada,
untuk mendukung diagnosis TB.- Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai
penderita TB BTA negatif rontgen positif.- Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita
tersebut bukan TB.
Keluhan batuk lama yang dirasakan oleh Tn. W merupakan salah satu gejala khas pada
tuberkulosis. Gejala lainnya adalah demam, keringat malam hari, nafsu makan dan berat badan
turun. Pada pasien TB perlu ditelusuri darimana kuman TB pada pasien, terutama adalah
kontak dengan penderita batuk lama. Pada pasien Tn. W terdapat kontak dengan temanya yang
menderita penyakit TB.
Faktor lain yang menyebabkan pasien terkena TB paru adalah kondisi ekonomi dan kurangnya
tingkat pendidikan sehingga pasien tidak perhatian dengan dirinya dan lingkungannya. Faktor
selanjutnya adalah faktor toksik (racun), pasien adalah seorang perokok dan tempat bekerja
pasien penuh dengan orang yang merokok, sehingga dapat meningkatkan kecenderungan
pasien untuk menderita suatu penyakit.
Pada pasien ini sudah dilakukan pemeriksaan rontgen thorax dengan hasil TB paru, selanjutnya
dilakukan pemeriksaan BTA SPS untuk semakin menguatkan diagnosis dan didapatkan hasil
positif satu (+).
Plan
Medikamentosa
R/ OAT kategori 1
S 1 dd 3

Non Medikamentosa

o Pasien dijelaskan tentang kemungkinan penularan penyakit TB dari lingkungan tempat


kerjanya.
o Edukasi kepada keluarga pasien terkait resiko penularang TB, terutama anggota
keluarga yang tinggal satu rumah dengan pasien.
o Memberi saran kepada anggota keluarga yang tinggal serumah segera memeriksakan
diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain terdekat, terutama bila dirasakan gejala-
gejala TB. Menganjurkan kepada pasien untuk menggunakan masker untuk membantu
mencegah penularan.
o Pasien juga dijelaskan mengenai kepatuhan minum obat, yaitu selama 6 bulan dan tidak
boleh berhenti. Setelah 2 bulan pertama pengobatan akan dilakukan cek BTA ulang,
apabila hasil cek BTA negative (-) maka pengobatan dilanjutkan sampai bulan ke enam
dan dilakukan pengecekan BTA kembali pada bulan kelima dan keenam.
o Mengedukasi keluarga pasien untuk memberi dukungan kepada pasien dalam
pengobatan.
o Mengedukasi pasien terkait efek samping dari OAT yang mungkin terjadi, seperti mata
atau tubuh kuning, mual muntah berkepanjangan, atau gejala gejala lain.
o Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit HIV kepada pasien dan menyarankan
pasien melakukan pemeriksaan VCT.
o Mengedukasi pasien untuk mengkonsumsi makan yang bergizi untuk membantu proses
penyembuhan.
o Menjelaskan kepada pasien tentang pentingnya kebersihan rumah dan lingkungan,
pertukaran udara dan pencahayaan.

Penatalaksanaan:

Resimen pengobatan saat ini yaitu menggunakan metode DOTS (Directly Observed Treatment
Short Course Strategy).
Kategori I
Pasien tuberkulosis paru (TBP) dengan sputum BTA positif dan kasus baru, TBP lainnya dalam
keadaan berat, seperti meningitis tuberkulosis, miliaris, perikarditis, pleuritis masif atau
bilateral, spondilitis dengan gangguan neurologik, sputum BTA negatif tetapi kelainan diparu
luas, tuberkulosis usus dan saluran kemih. Pengobatan inisial resimennya terdiri dari 2RHZS
(E), kemudian dilanjutkan ke fase lanjutan 4HR atau 4H3R3
Saat ini tersedia juga obat TB yang disebut Fix Dose Combination (FDC).
WHO sangat menganjurkan pemakaian OAT-FDC karena beberapa keunggulan dan keuntungannya
dibandingkan dengan OAT dalam bentuk kombipak apalagi dalam bentuk lepas.
Keuntungan penggunaan OAT FDC:
a. Mengurangi kesalahan peresepan karena jenis OAT sudah dalam satu kombinasi tetap dan dosis
OAT mudah disesuaikan dengan berat badan penderita.
b. Dengan jumlah tablet yang lebih sedikit maka akan lebih mudah pemberiannya danmeningkatkan
penerimaan penderita sehingga dapat meningkatkan kepatuhan penderita.
c. Dengan kombinasi yang tetap, walaupun tanpa diawasi, maka penderita tidak bisa memilih jenis
obat tertentu yang akan ditelan.
d. Dari aspek manajemen logistik, OAT-FDC akan lebih mudah pengelolaannya dan lebih murah
pembiayaannya.

Kajen, 30 November 2017

Dokter Pendamping Dokter Internsip

dr. Agustina Rusmawati dr. Samuel


NIP. 19771231 2008 01 2 018

Dokumentasi home visit pasien TB dalam upaya pengobatan dasar (F6)