Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH AUDIT KINERJA

ANALISIS KINERJA PELAYANAN


KESEHATAN MASYARAKAT

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


PALEMBANG

OLEH:

Nadia Larasati

Universitas Indonesia
Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah,
rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan, saya dapat menyelesaikan Tugas mata
kuliah Audit Sektor Publik tepat waktu.

Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas perkuliahan dan memenuhi


komponen penilaian dalam mata kuliah Audit Sektor Publik yang diberikan oleh Ibu
Arly selaku dosen Audit Sektor Publik dan juga untuk lebih memahami tentang Audit
Sektor Publik terutama dalam Audit Kinerja Analisis pada Rumah Sakit Umum
Palembang yang merupakan rumah sakit yang miliki oleh pemerintah.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Arly, selaku dosen pengajar.
Karena beliau yang mengajari dan membimbing kami tentang audit kinerja. Serta
rekan-rekan kelas yang telah memberikan saran dalam pembuatan makalah ini.

Kami menyadari bahwa tugas rangkuman masih terdapat beberapa kekurangan,


baik dari bentuk penyusunan maupun materi di dalamnya. Terima kasih bagi yang
membaca dan meminta maaf apabila ada kekurangan, semoga makalah ini bermanfaat.

Depok, November 27, 2017

Penulis
Statement of Authorship

Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah ini adalah murni
hasil pekerjaan saya. Tidak ada pekerjaan orang lain yang digunakan tanpa
menyebutkan sumbernya

Nama/NPM : Nadia Larasati/1306391320


Mata Ajaran : Audit Sektor Publik
Judul Makalah : Analisis Kinerja Pelayanan Kesehatan Masyarakat pada RS
Umum Palembang

Depok, November 27, 2017


Hormat Saya

Nadia Larasati

1306391320
BAB I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Entitas publik atau biasa disebut organisasi nirlaba adalah organisasi yang
bersifat tidak mencari laba. Di entitas publik, tingkat keberhasilan suatu entitas
dinilai dari tercapainya anggaran. Kinerja pemerintah di Indonesia banyak
dipandang buruk oleh masyarakat dan banyak menimbulkan kritik. Terdapat
beberapa faktor mengapa pemerintah Indonesia dipansang kurang baik
dimasyarakat seperti korupsi yang diakibatkan karena ketidak transparanan sikap
pemerintah baik dalam mengelola keuangan maupun kinerjanya.

Jika pemerintah bersikap transparan pada masyarakat dengan membiarkan


masyarakat mengetahui apakah kegiatan dan program yang diberikan telah
mencapai target dan sudah dilaksanakan sesuai dengan prinsip ekonomis yang
mencari biaya terendah, prinsip efisien yitu dengan membandingkan input dan
output yang akan dihasilkan dari input melalui proses serta prinsip keefektifan
yaitu membandingkan output dengan outcome yang dihasilkan.

Maka dari itu audit kinerja dibutuhkan untuk menilai keberhasilan entitas.
Beberapa waktu silam, entitas publik menilai keberhasilan hanya dari keuangan
saja. Laporan keuangan pemerintah memegang peran yang sangat penting untuk
memberikan tahu mengenai kemampuan suatu daerah dan sebagai dasar para
pemimpin untuk mengambil keputusan. Untuk menilai keandalan laporan
keuangan dibutuhkan audit keuangan.
Sekarang tidak hanya memperhatikan keuangan sebagai dasar keberhasilan
entitas, namun juga memperhatikan kinerja entitas. Ini dilakukan untuk
menghindari entitas publik yang hanya mengejar pendapatan asli daerah (PAD)
tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat, dan mengurangi belanja daerah,
atau menetapkan target yang kecil. Selain itu tidak semua masyarakat mengerti
tentang pelaporan keuangan, makak diperlukan pelaporan mengenai kinerja suatu
entitas public

1.2. Tujuan Makalah


Penulis ingin memberikan penjelasan mengenai audit kinerja melalui laporan
kinerja yang telah diaudit, yaitu bukti pelaporan, bukti aduti dan metode
pengumpulan data sehingga dapat mengaudit kinerja program. Dengan makalah
ini diharapkan dapat membantu mengetahui mengenai audit kinerja dan
penerapannya dalam kehidupan.

1.3. Rumusan masalah


1. Apa bukti pelaporan yang didapat BPK sehingga dapat melakukan audit
kinerja?
2. Apa bukti audit yang dipakai BPK?
3. Apa metode pengumpulan data yang dipakai BPK?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Bukti Pelaporan

2.1.1 Standar Pemeriksaan Audit

Standar pemeriksaan audit yang digunakan BPK adalah Standar


Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) BPK-RI Tahun 2007

2.1.2 Ruang Lingkup Audit

Pada kinerja pelayanan kesehatan masyarakat ruang lingkup auditnya


adalah kinerja rumah sakit. Sedangkan pada pengelolahan limbah adalah
Pemeriksaan ini hanya mencakup kegiatan pengelolaan limbah rumah
sakit dari periode Tahun Anggaran 2005 sampai dengan 2007.

2.1.3 Tujuan Audit

Pada kinerja pelayanan kesehatan masyarakat, tujuannya yaitu:

1. Untuk menilai apakah upaya pelayanan kesehatan oleh RSUD telah


dilaksanakan secara optimal sesuai dengan indikator pelayanan
kesehatan yang telah ditetapkan.

2. Untuk menilai apakah sarana dan prasarana kesehatan pada RSUD


telah tersedia sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dan telah
dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya.

3. Untuk menilai apakah biaya kegiatan upaya pelayanan kesehatan


tersebut telah dilaksanakan secara ekonomis, efisien, dan efektif.
Pada pengelolahan limbah, tujuan auditnya yaitu untuk menilai
apakah Rumah Sakit Umum Daerah telah melakukan pengelolaan
limbah rumah sakit sesuai dengan peraturan perundangan.

2.1.4 Sasaran Pemeriksaan.

Pelaksanaan kegiatan yang berhubungan langsung dengan pelayanan


kesehatan pada RSUD, yang meliputi kegiatan :

1. Pengelolaan, penggunaan dan pertanggungjawaban dana kegiatan


pelaksanaan pelayanan kesehatan,

2. Pemanfaatan sarana, prasarana, peralatan kesehatan, dan obat-obatan


yang menunjang upaya pelayanan kesehatan masyarakat,

3. Pendapatan dari pelayanan kesehatan dengan pihak ketiga,

4. Ketersediaan tenaga medis, paramedis, dan non medis.

Pemeriksaan diarahkan pada kegiatan pengelolaan Limbah


Cair dan kegiatan pengelolaan Limbah Padat yang pada dasarnya
meliputi kegiatan:

1. Perencanaan pengelolaan limbah rumah sakit,


2. Pengumpulan limbah rumah sakit,
3. Penyimpanan limbah rumah sakit,
4. Pemindahan limbah rumah sakit,
5. Pengolahan dan pembuangan limbah rumah sakit
6. Pengawasan/pemantauan atas limbah rumah sakit.
2.1.5 Periode yang Diperiksa

Pemeriksaan RSUD Palembang BARI Tahun Anggaran 2005


sampai dengan Tahun Anggaran 2007.

2.1.6 Alasan Pemeriksaan

Pemeriksaan dilakukan karena pelayanan kesehatan merupakan


kebutuhan yang sangat esensial bagi masyarakat, sehingga kinerja rumah
sakit perlu didukung dengan pencapaian standar yang sesuai dengan
Indikator Upaya Kesehatan.

2.1.7 Metodologi Pemeriksaan

Metologi pada kinerja pelayanan rumah sakit dengan cara


menghitung realisasi hasil dari indikator pelayanan kesehatan masyarakat
pada rumah sakit atas sasaran kinerja dan membandingkannya dengan
standar indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Lalu melakukan
evaluasi, serta kaitan dengan biaya yang dikeluarkan untuk menilai
ekonomis, efektivitas, dan efisiensi pencapaian tujuan.

Metodologi pada pengelolahan limbah Pemilihan fokus


pemeriksaan dilakukan melalui pendekatan risiko dengan
mempertimbangkan sistem pengendalian intern, dampak, dan
frekuensi terjadinya ketidakpatuhan atas kegiatan pengelolaan limbah
cair, limbah padat medis dan non medis.

Pemilihan dan pengumpulan bukti dilakukan dengan menggunakan


teknik stratified random sampling. Untuk mengumpulkan bukti
digunakan teknik pemeriksaan berupa observasi, wawancara dan
pengujian dokumen serta analisis pemeriksa.
2.2 Bukti Audit

Bukti audit adalah informasi yang digunakan oleh auditor dalam pembuatan
kesimpulan (opini). Bukti audit diklasifikasikan menjadi 4 bukti yaitu: bukti
fisik, bukti documenter, bukti kesaksian dan bukti analitis.

1. Bukti fisik adalah bukti yang diperoleh dari inspeksi langsung atau
pengamatan yang dilakukan oleh auditor terhadap orang, aktiva atau
kejadian. Bukti ini dapat didokumentasikan menjadi foto, gambar,
bagan, peta
2. Bukti documenter adalah bukti yang terdiri dari informasi yang
diciptakan seperti surat, kontak, catatan akuntansi, faktur dan informasi
manajemen atas kinerja
3. Bukti kesaksian adalah bukti yang diperolah melalui permintaan
ketarangan, wawancara atau kuesioner
4. Bukti analisis adalah bukti yang meliputi perhitungan, perbandingan,
pemisahan informasi menjadi unsur dan argumentasi yang masuk akal

Pada hasil audit kinerja pelayanan masyarakat RSUD Palembang, terdapat


hasil audit tentang pelayanan masyarakat dan pengeloaan limbah. Bukti audit
akan dianalisis berdasarkan temuan yang telah ditemukan. Pada pelayanan
kesehatan masyarakat terdapat 8 temuan yang ditemukan oleh BPK dan pada
pengelolaan limbah terdapat 7 temuan yang ditemukan oleh BPK.
2.2.1 Kinerja Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Pada pelayanan kesehatan masyarakat terdapat 8 temuan yang ditemukan


oleh BPK, bukti audit dianalisis berdasarkan temuan yang ditemukan BPK,
yaitu:

Temuan 1: Beberapa indikator mutu dan efisiensi pelayanan kesehatan


belum memenuhi standar pelayanan. Bukti temuan ini adalah bukti analitis
karena mendapatkan bukti dengan melakukan perhitungan indicator mutu
pelayanan yang mencangku perhitungan ketersediaan dan pemanfaatan tempat
tidur pasien (Bed Occupancy Rate), rata-rata lamanya pasien dirawat
(Average Length of Stay/Av.LOS), Frekuensi penggunaan tempat tidur (Bed
Turn Over) dan Rata-rata tempat tidur tidak ditempati (Turn Over Internal)
serta perhitungan efisiensi pelayanan yang mencangkup perhitungan angka
kematian untuk 1000 penderita keluar (Gross Death Rate/GDR) dan angka
kematian lebih dari 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar
(Nett Death Rate/NDR). Setelah melakukan perhitungan, dilakukan
perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu 2005 dan 2006.
Berdasarkan dokumen yang diperoleh dari bagian Medical Record
diketahui bahwa selama Tahun Anggaran 2005, 2006 dan 2007.

Temuan 2: Ketersediaan tenaga, sarana dan prasarana belum memenuhi


standar. Temuan ini didapat dengan menggunakan bukti dokumen yaitu dengan
memeriksa dokumen ketenagaan kerja, ketersediaan sarana dan prasarana yang
dimiliki rumah sakit. Dalam pelaporan audit kinerja oleh BPK dilampirkan data
ketenagaan kerja serta ketersediaan sarana prasarana menggunakan table.
Temuan 3: Beberapa bidang dan instalasi RS belum membuat program
kerja tahunan. Program kerja tahunan merupakan gambaran mengenai
kegiatan rumah sakit terutama proses bisnis rumah sakit. Temuan ini didapat
dengan menggunakan bukti audit kesaksian karena auditor memeriksa
berdasarkan laporan dari setiap bidang dan konfirmasi kepada Kepala Sub
Bidang Program dan Rekam Medik serta Kasub Bidang Yan Medik dan Non
Medik RSUD Palembang BARI diketahui terdapat 5 (lima) bidang dan 7 (tujuh)
instalasi yang belum membuat program kerja tahunan.

Temuan 4: Prosedur tetap pelaksaan tugas administrasi oleh tenaga


paramedic pada instalasi-instalasi belum dibuat. Temuan ini ditemukan
dengan bukti documenter karena ditemukan berdasarkan hasil pemeriksaan
atas Laporan Instalasi Laboratorium dan bukti kesaksian karena dilakukannya
konfirmasi dengan Kasub Bidang Pelayanan Medik dan Non Medik serta
Kepala Ruangan Zaal Penyakit Dalam dan Kebidanan.

Temuan 5: Satuan pengawas interm RS belum melaksanakan tugas secara


optimal. Temuan ini berdasarkan bukti fisik karena auditor melakukan
pengamatan secara langsung terhadap tugas yang sudah ada dalam SPI rumah
sakit dan dibandingkan dengan yang terjadi sebenarnya.

Temuan 6: Pelayanan farmasi kepada pasien RS oleh apotek pelengkap


belum dibuat perjanjian. Temuan ini berdasarkan bukti kesaksian karena
diperoleh berdasarkan hasil konfirmasi kepada Kepala Instalasi Farmasi, dan
diketahui bahwa keberadaan Apotek Pelengkap tersebut belum dibuatkan
perjanjian dan tidak ada pembagian kontribusi kepada rumah sakit, serta
ditemukan resep yang dilayani oleh Apotek Pelengkap pada dasarnya
merupakan obat-obat yang tidak disediakan oleh Instalasi Farmasi dan
merupakan barang konsinyasi perusahaan-perusahaan farmasi.

Temuan 7: Beberapa alat medis belum dimanfaatkan. Temuan ini ditemukan


menggunakan bukti audit fisik karena berdasarkan hasil pengamatan di
beberapa instalasi, dan diketahui terdapat alat medis di Instalasi Bedah Sentral
yang semenjak pengadaannya belum juga dioperasikan yaitu Laparoscopy
Surgery dan Endoscopy.

Temuan 8: Hasil penilaian atas standar pelayanan untuk RS 12 pelayanan


masih dibawah rata-rata. Temuan ini ditemukan menggunakan bukti analitis
karena auditor melakukan perhitungan pencapaian standard dan melakukan
perbandingan dengan standar yang ditetapkan.
2.2.1 Pengeloaan Limbah

Pada pengelolahan limbah terdapat 7 temuan yang ditemukan oleh BPK,


bukti audit dianalisis berdasarkan temuan yang ditemukan BPK, yaitu:

Temuan 1: perencanaan pengelolaan limbah belum mendukung upaya


penyehatan. Bukti yang digunakan adalah bukti fisik karena dari hasil
pengamatan langsung pada kolam penampungan dan rawa/resapan tanah

Temuan 2: pengelolahan limbah cair tidak memperhatikan kesehatan


lingkungan. Bukti yang digunakan adalah bukti fisik karena dari hasil
pengamatan atas pelaksanaan kebijakaan pengelolaan sampah medis dan
pengamatan dari kontruksi septic tank.

Temuan 3: pengelolaan sampah medis tidak memadai dan beresiko


menimbulkan bahaya. Bukti yang digunakan adalah bukti kesaksian karena
dari hasil wawancara dengan Kepala IPL-RS dan bukti fisik karena melakukan
pengamatan langsung terhadap proses insinerasi. Selain itu bukti yang
digunakan adalah bukti fisik karena didapat dari hasil pengamatan terhadap
pelaksanaan prosedur penimbunan sampah medis.

Temuan 4: tata cara pelaksanaan pemusnahan sampah medis melalui


incinerator belum memadai dan membahayakan kesehatan lingkungan.
Bukti yang digunakan adalah bukti kesaksian karena dari hasil wawancara
dengan Kepala IPL-RS. Juga menggunakan bukti documenter karena
berdasarkan hasil uji emisi pada incinerator milik RSUD Palembang BARI
pada tanggal 7 November 2007.
Temuan 5: pengelolaan sampah non medis ditempat pembuangan
sampah beresiko menimbulkan bahaya pencemaran. Bukti yang
digunakan adalah bukti kesaksian karena didapat dari hasil wawancara
dengan Kepala IPL-RS diketahui bahwa pengangkutan sampah dari TPS
ke TPA dilakukan oleh Dinas Kebersihan Kota Palembang dengan jadwal
2 (dua) hari sekali sesuai dengan Surat Walikota Palembang
Nomor 658/001559/VI tanggal 28 Agustus 2003. Dari pengamatan tersebut
dapat disimpulkan bahwa penumpukan sampah non medis pada TPS lebih
dari 1x24 jam memungkinkan terbentuknya habitat vektor penyakit dan
infeksi silang sebagai akibat dari proses pembusukan.

Temuan 6: upaya pemantauan pengelolaan limbah belum dilaksakan


secara memadai. Bukti yang digunakan adalah bukti documenter karena
berdasarkan hasil penilaian atas pelaksanaan pemantauan pengelolaan
limbah diukur melalui prosedur yang wajib dipenuhi oleh manajemen rumah
sakit.

Temuan 7: lokasi bekas penimbunan sampah medis tidak dikelola secara


memadai. Bukti audit yang digunakan adalah bukti fisik karena melakukan
pengamatan langsung terhadap lokasi bekas penimbunan sampah medis dan
menunjukkan bahwa manajemen RSUD Palembang BARI tidak memberikan
perhatian khusus terhadap lokasi tersebut.
2.3 Metode Pengumpulan

2.3.1 Kinerja Pelayanan Kesehatan Masyarakat


Pemilihan dan pengumpulan bukti dilakukan dengan menggunakan teknik
stratified random sampling. Untuk mengumpulkan bukti digunakan teknik
pemeriksaan berupa observasi, wawancara dan pengujian dokumen serta analisis
pemeriksa. Metode pengumpulan berdasaran temuan yaitu:

Temuan 1: Beberapa indikator mutu dan efisiensi pelayanan kesehatan


belum memenuhi standar pelayanan. Metode yang digunakan adalah metode
perhitungan, karena auditor sendiri melakukan perhitungan indicator mutu dan
efisiensi pelayanan berdasarkan dokumen dan membandingkan dengan tahun
sebelumnya yaitu 2005 dan 2006.

Temuan 2: Ketersediaan tenaga, sarana dan prasarana belum memenuhi


standar. Metode yang digunakan untuk menemukan ini adalah pengujian
dokumen karena dilakukan dengan memeriksa dokumen ketenagaan kerja,
ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki rumah sakit.

Temuan 3: Beberapa bidang dan instalasi RS belum membuat program


kerja tahunan. Metode yang digunakan adalah metode wawancara dan karena
auditor melakukan pemeriksaan berdasarkan laporan dari setiap bidang dan
konfirmasi kepada Kepala Sub Bidang Program dan Rekam Medik serta
Kasub Bidang Yan Medik dan Non Medik RSUD Palembang BARI.
Temuan 4: Prosedur tetap pelaksaan tugas administrasi oleh tenaga
paramedic pada instalasi-instalasi belum dibuat. Metode yang digunakan
adalah metode analisis pemeriksaan karena ditemukan berdasarkan hasil
pemeriksaan atas Laporan Instalasi Laboratorium dan metode wawancara
karena dilakukannya konfirmasi dengan Kasub Bidang Pelayanan Medik
dan Non Medik serta Kepala Ruangan Zaal Penyakit Dalam dan Kebidanan.

Temuan 5: Satuan pengawas interm RS belum melaksanakan tugas secara


optimal. Metode yang digunakan untuk temuan ini adalah metode pengamatan
karena auditor melakukan pengamatan secara langsung terhadap tugas yang
sudah ada dalam SPI rumah sakit dan dibandingkan dengan yang terjadi
sebenarnya.

Temuan 6: Pelayanan farmasi kepada pasien RS oleh apotek pelengkap


belum dibuat perjanjian. Metode yang digunakan untuk temuan ini adalah
wawancara karena diperoleh berdasarkan hasil konfirmasi kepada Kepala
Instalasi Farmasi.

Temuan 7: Beberapa alat medis belum dimanfaatkan. Metode yang


digunakan adalah metode pengamatan karena berdasarkan hasil pengamatan di
beberapa instalasi.

Temuan 8: Hasil penilaian atas standar pelayanan untuk RS 12 pelayanan


masih dibawah rata-rata. Metode yang digunakan adalah metode perhitungan
karena auditor melakukan perhitungan pencapaian standard dan melakukan
perbandingan dengan standar yang ditetapkan.
2.3.2 Pengelolahan Limbah

Pemilihan dan pengumpulan bukti dilakukan dengan menggunakan


teknik stratified random sampling. Untuk mengumpulkan bukti digunakan
teknik pemeriksaan berupa observasi, wawancara dan pengujian dokumen serta
analisis pemeriksa. Metode pengumpulan data dianalisis berdasarkan temuan,
yaitu:

Temuan 1: perencanaan pengelolaan limbah belum mendukung upaya


penyehatan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode
pengamatan langsung karena didapat dari hasil pengamatan langsung pada
kolam penampungan dan rawa/resapan tanah.

Temuan 2: pengelolahan limbah cair tidak memperhatikan kesehatan


lingkungan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode
pengamatan langsung karena dari hasil pengamatan atas pelaksanaan
kebijakaan pengelolaan sampah medis dan pengamatan dari kontruksi septic
tank.

Temuan 3: pengelolaan sampah medis tidak memadai dan beresiko


menimbulkan bahaya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah
metode wawancara karena dari hasil wawancara dengan Kepala IPL-RS dan
metode pengamatan langsung karena melakukan pengamatan langsung
terhadap proses insinerasi dan terhadap pelaksanaan prosedur penimbunan
sampah medis.
Temuan 4: tata cara pelaksanaan pemusnahan sampah medis melalui
incinerator belum memadai dan membahayakan kesehatan lingkungan.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode karena dari hasil
wawancara dengan Kepala IPL-RS. Juga menggunakan metode pengujian
dokumen karena berdasarkan hasil uji emisi pada incinerator milik RSUD
Palembang BARI pada tanggal 7 November 2007.

Temuan 5: pengelolaan sampah non medis ditempat pembuangan


sampah beresiko menimbulkan bahaya pencemaran. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara karena
didapat dari hasil wawancara dengan Kepala IPL-RS diketahui bahwa
pengangkutan sampah dari TPS ke TPA dilakukan oleh Dinas Kebersihan
Kota Palembang dengan jadwal 2 (dua) hari sekali sesuai dengan
Surat Walikota Palembang Nomor 658/001559/VI tanggal 28 Agustus
2003. Dari pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa penumpukan
sampah non medis pada TPS lebih dari 1x24 jam memungkinkan
terbentuknya habitat vektor penyakit dan infeksi silang sebagai akibat dari
proses pembusukan.

Temuan 6: upaya pemantauan pengelolaan limbah belum dilaksakan


secara memadai. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode
pengamatan langsung karena berdasarkan hasil penilaian atas pelaksanaan
pemantauan pengelolaan limbah diukur melalui prosedur yang wajib
dipenuhi oleh manajemen rumah sakit.
Temuan 7: lokasi bekas penimbunan sampah medis tidak dikelola secara
memadai. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode
pengamatan langsung karena melakukan pengamatan langsung terhadap lokasi
bekas penimbunan sampah medis dan menunjukkan bahwa manajemen RSUD
Palembang BARI tidak memberikan perhatian khusus terhadap lokasi tersebut.
Ringkasan bukti dan metode yang digunakan dalam mengukur Kinerja pelayanan
kesehatan RSUD Palembang

No Temuan Bukti Metode


1 Beberapa indikator mutu dan efisiensi pelayanan Bukti analitis Metode pengujian
kesehatan belum memenuhi standar pelayanan. perhitungan
2 Ketersediaan tenaga, sarana dan prasarana belum Bukti dokumen Metode pengujian
memenuhi standar dokumen
3 Beberapa bidang dan instalasi RS belum membuat Bukti kesaksian Metode pengujian
program kerja tahunan wawancara
4 Prosedur tetap pelaksaan tugas administrasi oleh Bukti dokumen Metode pengujian
tenaga paramedic pada instalasi-instalasi belum analisis
dibuat pemeriksaan
5 Satuan pengawas interm RS belum melaksanakan Bukti fisik Metode pengujian
tugas secara optimal pengamatan
6 Pelayanan farmasi kepada pasien RS oleh apotek Bukti kesaksian Metode pengujian
pelengkap belum dibuat perjanjian wawancara
7 Beberapa alat medis belum dimanfaatkan Bukti fisik Metode pengujian
pengamatan
8 Hasil penilaian atas standar pelayanan untuk RS 12 Bukti analitis Metode pengujian
pelayanan masih dibawah rata-rata perhitungan
Ringkasan bukti dan metode yang digunakan dalam mengukur kinerja kegiatan
pengelolahan limbah

No Temuan Bukti Metode


1 Perencanaan pengelolaan limbah belum Bukti fisik Metode pengujian
mendukung upaya penyehatan pengamatan
langsung
2 Pengelolahan limbah cair tidak memperhatikan Bukti fisik Metode pengujian
kesehatan lingkungan pengamatan
langsung
3 Pengelolaan sampah medis tidak memadai dan Bukti kesaksian Metode pengujian
beresiko menimbulkan bahaya pengamatan
langsung
4 Tata cara pelaksanaan pemusnahan sampah medis Bukti kesaksian Metode pengujian
melalui incinerator belum memadai dan dokumen
membahayakan kesehatan lingkungan
5 Pengelolaan sampah non medis ditempat Bukti kesaksian Metode pengujian
pembuangan sampah beresiko menimbulkan wawancara
bahaya pencemaran
6 Upaya pemantauan pengelolaan limbah belum Bukti Metode pengujian
dilaksakan secara memadai documenter pengamatan
langsung
7 Lokasi bekas penimbunan sampah medis tidak Bukti fisik Metode pengujian
dikelola secara memadai pengamatan
langsung
Bab III

Kesimpulan

Bukti audit yang digunakan baik dalam penilaian kinerja pelayanan kesehatan masyarakat
maupun kegiatan dalam pengelolahan limbah sudah sesuai dengan teori keuangan atau prinsip
keuangan yang berlaku yaitu bukti dokumen, bukti fisik, bukti analitis dan bukti kesaksian.
Kebanyakan bukti audit yang digunakan untuk kinerja pelayanan adalah bukti kesaksian, sama
dengan kegiatan pengelolahan limbah yaitu bukti kesaksian

Metode pengumpulan audit yang digunakan menggunakan teknik stratified random


sampling. Untuk mengumpulkan bukti digunakan teknik pemeriksaan berupa observasi,
wawancara dan pengujian dokumen serta analisis pemeriksa. Pada penilaian kinerja pelayanan
kesehatan masyarakat kebanyakan mengguankan metode pengumpulan wawancara dan kegiatan
dalam pengelolahan limbah lebih banyak menggunakan metode pengamatan langsung.
Daftar Pustaka

http://www.academia.edu/8913068/PENTINGNYA_AUDIT_KINERJA_PADA_SEKTOR_PU
BLIK_PEMERINTAH_DI_INDONESIA

Hasil pemeriksaan atas kinerja pelayanan kesehatan tahun anggaran 2005-2007 dan pengelolahan
limbah pada RSUD Palembang.