Anda di halaman 1dari 5

1.1.

Apa hubungan Tipus Perut dengan Sungai Barabara sebagai sumber kehidupan
warga di Kecamatan Harumba? 8 5

Manusia adalah satu-satunya penjamu yang alamiah dan merupakan reservoir


untuk Salmonella typhi. Bakteri tersebut dapat bertahan hidup selama berhari-
hari di air tanah, air kolam, atau air laut dan selama berbulan-bulan dalam
telur yang sudah terkontaminasi atau tiram yang dibekukan. Pada daerah
endemik, infeksi paling banyak terjadi pada musim kemarau atau permulaan
musim hujan. Di Indonesia, insidens demam tifoid banyak dijumpai pada
populasi yang berusia 3-19 tahun.

Infeksi dapat ditularkan melalui:


1. Jamban maupun sumur ataupun sumber air tidak tersedia dengan pengaturan
yang baik
2. Makanan atau air yang terkontaminasi oleh feses
3. Adanya anggota keluarga dengan riwayat terkena demam tifoid
4. Tidak adanya sabun untuk mencuci tangan
5. Menggunakan piring yang sama untuk makan
6. Tidak tersedianya tempat buang air besar dalam rumah

Kemungkinan pada kasus ini warga buang air besar di sungai sehingga air sungai
terkontaminasi oleh feses yang mengandung Salmonella typhi. Sementara warga
Kecamatan Harumba menggunakan Sungai Barbara sebagai sumber kehidupan
mereka sehingga Salmonella typhi yang berada di air sungai dapat masuk ke
tubuh melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh warga.

1.2. Apa hubungan keluhan Tn. Mursidi dengan Sungai Barabara sebagai sumber
kehidupan warga Kecamatan Harumba? 11 8

1.3. Apa saja langkah intervensi yang dapat dilakukan dr. Indah terhadap kasus Neni
dan Tn. Mursidi sesuai prinsip kedokteran keluarga? 8 5
Berdasarkan Keputusan Mentri Kesehatan Nomor 364 tahun 2006 tentang
Pedoman Pengendalian Demam Tifoid, terdapat 3 pilar strategis yang menjadi
program pencegahan, yakni:
a) Mengobati secara sempurna pasien dan karier tifoid
b) Mengatasi faktor-faktor yang berperan terhadap rantai penularan
c) Perlindungan dini agar tidak tertular
Beberapa kegiatan dalam aspek pencegahan tifoid dalam Kepmenkes
tersebut, diantaranya:
1) Langkah-langkah strategis pencegahan karier, relaps dan resistensi tifoid
Terlaksananya monitor dan kontrol yang ketat terhadap pemakaian
antibiotika yang bebas (tanpa resep) oleh masyarakat
Setiap RS atau institusi kesehatan lain yang merawat pasien, memiliki
standar medis penatalaksanaan tifoid (Pedoman Tatalaksana Klinis) dan
konsisten mengimplementasikannya.
Setiap RS memiliki aturan-aturan pemakaian antibiotika yang terpola
dengan baik. Memiliki pola kepekaan yang dibuat secara berkala
(antibiogram) serta menetapkan antibiotika yang dipergunakan sebagai
terapi empiris lii pertama dan kedua baik untuk dewasa maupun untuk
anak.
Terhadap setiap kasus tifoid
- Terlaksananya program perawatan secara akurat dan adekuat
- Pilihan antibiotika dengan efikasi dan daya pencegahan karier yang
terbaik
- Dosis dan lama pemberian yang tepat
- Terlaksananya monitor terhadap kemungkinan karier dengan biakan
feses secara serial. Sekurang-kurangnya pada saat pulang, 4 minggu
dan 3 bulan kemudian dilaksanakan biakan lanjutan untuk
mendeteksi karier.
- Bila ada kasus karier: terapi dengan quinolone selama 4 minggu
(Siprofloksasin 2x750mg atau Norfloksasin 2x400 mg). Evaluasi
dan atasi terhadap faktor predisposisi karier seperti
Koledokholitiasis dan Urolitiasis.
- Bila ada resistensi terhadap obat lini pertama, maka terapi
antibiotika selanjutnya lebih baik menurut hasil uji kepekaan namun
tetap dipilih dari antibiotika yang dikenal sensitif untuk tifoid serta
mempunyai daya penetrasi jaringan yang baik seperti Seftriakson
dari Sefalosporin generasi ke-3.

2) Perbaikan sanitasi lingkungan


Penyediaan air bersih untuk seluruh warga. Penyediaan air yang aman,
khlorinasi, terlindung dan terawasi. Tidak tercemar oleh air limbah dan
kotoran lain. Untuk air minum masyarakat membiasakan dengan
memasak sampai mendidih, kurang lebih selama 10 menit
Jamban keluarga yag memenuhi syarat-syarat kesehatan. Tidak
terkontaminasi oleh lalat dan serangga lain
Pengelolaan air limbah, kotoran dan sampah, harus benar, sehingga
tidak mencemari lingkungan.
Kontrol dan pengawasan terhadap kebersihan lingkungan, terlaksana
dengan baik dan berkesinambungan.
Membudayakan perilaku hidup bersih dan lingkungan bersih yang
berlaku untuk seluruh lapisan masyarakat.

3) Peningkatan higiene makanan dan minuman


Menggunakan cara-cara yang cermat dan bersih dalam pengolahan dan
penyajian makanan, sejak awal pengolahan, pendinginan sampai
penyajian untuk dimakan.
Mendorong penggunaan ASI untuk bayi serta mendidihka seluruh susu
dan air yang akan digunakan sebagai makanan bayi.
Memasak dan pasteurisasi susu serta produk lainnya, serta supervisi
terhadap sanitasi produksinya.
Melaksanakan quality control terhadap semua hasil pertanian yang
dimakan dan diminum.
Pengawasan terhadap restoran dan industri makanan.
Pendidikan kesehatan masyarakat tentang cara hidup bersih dan sehat,
terutama kegiatan cuci tangan yang benar.

4) Peningkatan higiene perorangan


Budaya cuci tangan yang benar adalah kegiatan terpenting dalam
peningkatan higiene perorangan. Setiap tangan yang dipergunakan untuk
memegang makanan, maka tangan sudah harus bersih. Kegiatan ini sangat
penting untuk bayi, anak-anak, penyaji makanan di restoran, atau warung
serta orang-orang yang merawat dan mengasuh anak. Setiap tangan kontak
dengan feses, urin atau dubur maka harus dicuci pakai sabun dan kalau
dapat disikat.

5) Pencegahan dengan imunisasi


Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid, yakni:
1. Vaksin Polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux
Vaksin ini diberikan pada dewasa dan anak dengan usia di atas 5 tahun
dengan dinjeksikan secara subkutan atau intramuskuler. Vaksin ini
efektif selama 3 tahun dan direkomendasikan untuk revaksinasi
(booster) setiap 3 tahun. Vaksin ini memberikan efikasi perlindungan
sebesar 60-70%.
2. Vaksin Ty21a Vivotif Berna
Vaksin oral ini tersedia dalam sediaan salut enterik dan cair yang
diberikan pada anak usia 6 tahun ke atas dengan lama proteksi 5 tahun.
Vaksin diberikan 3 dosis yang masing-masing diselang 1 hari dalam
seminggu, satu jam sebelum makan. Antibiotik dihindari 7 hari
sebelum dan sesudah vaksinasi. Vaksin ini efektif selama 3 tahun dan
memberikan efikasi perlindungan 36-66%.
3. Vaksin Parenteral sel utuh (Typa Bio Farma)
Vaksin ini diberikan pada anak usia 2-5 tahun di Vietnam dan
memberikan efikasi perlindungan 91,1% selama 27 bulan setelah
vaksinasi. Efikasi vaksin ini menetap selama 46 bulan dengan efi kasi
perlindungan sebesar 89%.