Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS MASALAH

1.2. Bagaimana cakupan jumlah penduduk dan kepala keluarga terhadap puskesmas? 2 10
Rasio Puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi di Indonesia menunjukkan nilai
yang bervariasi. Rata-rata di Indonesia satu Puskesmas dapat melayani sebesar 25,730
penduduk. Secara konseptual puskesmas menganut konsep wilayah dan diharapkan dapat
melayani sasaran penduduk rata-rata 30.000 penduduk.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Data dan Informasi Kesehatan


Indonesia. [online] Tersedia di:
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/kunjungan-
kerja/indonesia.pdf. Diakses pada 20 November 2017.

3.2. Bagaimana tatalaksana awal terhadap keluhan Tn. Mursidi? 10 7


Penatalaksanaan
1. Terapi suportif dapat dilakukan dengan:
a. Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi
b. Menjaga kecukupan asupan cairan, yang dapat diberikan secara oral maupun
parenteral.
c. Diet bergizi seimbang, konsistensi lunak, cukup kalori dan protein, rendah serat.
d. Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas
e. Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran), kemudian
dicatat dengan baik di rekam medik pasien
2. Terapi simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik) dan mengurangi
keluhan gastrointestinal.
3. Terapi definitif dengan pemberian antibiotik. Antibiotik lini pertama untuk demam
tifoid adalah Kloramfenikol, Ampisilin atau Amoksisilin (aman untuk penderita
yang sedang hamil), atau Trimetroprim-sulfametoxazole (Kotrimoksazol).
4. Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat diganti
dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu Seftriakson, Sefiksim,
Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun karena dinilai mengganggu
pertumbuhan tulang).

Tabel 1. Antibiotik dan dosis penggunan untuk tifoid


Antibiotik Dosis Keterangan
Kloramfenikol Dewasa: 4x500 mg selama 10 Merupakan obat yang sering
hari digunakan dan telah lama dikenal
Anak 100 mg/kgBB/har, per efektif untuk tifoid
oral atau intravena, dibagi 4 Murah dan dapat diberikan
dosis, selama 10-14 hari peroral serta sensitivitas masih
tinggi
Pemberian PO/IV
Tidak diberikan bila lekosit
<2000/mm3
Seftriakson Dewasa: 2-4gr/hari selama 3-5 Cepat menurunkan suhu, lama
hari pemberian pendek dan dapat
Anak: 80 mg/kgBB/hari, IM dosis tunggal serta cukup aman
atau IV, dosis tunggal selama 5 untuk anak.
hari Pemberian PO/IV
Ampisilin dan Dewasa: (1.5-2) gr/hr selama 7- Aman untuk penderita hamil
Amoksisilin 10 hari Sering dikombinasi dengan
Anak: 100 mg/kgbb/hari per kloramfenikol pada pasien kritis
oral atau intravena, dibagi 3 Tidak mahal
dosis, selama 10 hari. Pemberian PO/IV
Kotrimoksazole Dewasa: 2x(160-800) selama 7- Tidak mahal
(TMP-SMX) 10 hari Pemberian per oral
Anak: Kotrimoksazol 4-6
mg/kgBB/hari, per oral, dibagi 2
dosis, selama 10 hari.
Kuinolon Ciprofloxacin 2x500 mg selama Pefloxacin dan Fleroxacin lebih
1 minggu cepat menurunkan suhu
Ofloxacin 2x(200-400) selama 1 Efektif mencegah relaps dan
minggu kanker
Pemberian peroral
Pemberian pada anak tidak
dianjurkan karena efek samping
pada pertumbuhan tulang
Sefiksim Anak: 20 mg/kgBB/hari, per Aman untuk anak
oral, dibagi menjadi 2 dosis, Efektif
selama 10 hari Pemberian per oral
Thiamfenikol Dewasa: 4x500 mg/hari Dapat dipakai untuk anak dan
Anak: 50 mg/kgbb/hari selama dewasa
5-7 hari bebas panas Dilaporkan cukup sensitif pada
beberapa daerah

Rencana Tindak Lanjut


1. Bila pasien dirawat di rumah, dokter atau perawat dapat melakukan kunjungan
follow up setiap hari setelah dimulainya tatalaksana.
2. Respon klinis terhadap antibiotik dinilai setelah penggunaannya selama 1 minggu.

3.5. Bagaimana tatalaksana preventif dan promotif kasus Tn. Mursidi? 2 10


Edukasi
Edukasi pasien tentang tata cara:
1. Pengobatan dan perawatan serta aspek lain dari demam tifoid yang harus diketahui
pasien dan keluarganya.
2. Diet, jumlah cairan yang dibutuhkan, pentahapan mobilisasi, dan konsumsi obat
sebaiknya diperhatikan atau dilihat langsung oleh dokter, dan keluarga pasien telah
memahami serta mampu melaksanakan.
3. Tanda-tanda kegawatan harus diberitahu kepada pasien dan keluarga supaya bisa
segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk perawatan.
Promotif
Melakukan konseling atau edukasi pada masyarakat tentang aspek pencegahan dan
pengendalian demam tifoid, melalui:
1. Perbaikan sanitasi lingkungan
2. Peningkatan higiene makanan dan minuman
3. Peningkatan higiene perorangan
4. Pencegahan dengan imunisasi
5. Penyediaan air bersih yang memadai
Kriteria Rujukan
1. Demam tifoid dengan keadaan umum yang berat (toxic typhoid).
2. Tifoid dengan komplikasi.
3. Tifoid dengan komorbid yang berat.
4. Telah mendapat terapi selama 5 hari namun belum tampak perbaikan.

Pencegahan terdiri dari beberapa tingkatan yaitu pencegahan primer, pencegahan


sekunder dan pencegahan tersier.
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar
tidak sakit dengan cara mengendalikan penyebab-penyebab penyakit dan faktor
risikonya. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin
yang dibuat dari strain Salmonella typhi yang dilemahkan, mengonsumsi makanan
sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan pendidikan kesehatan
kepada masyarakat agar menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya yang dilakukan untuk menemukan kasus secara
dini, pengobatan bagi penderita dengan tepat serta mengurangi akibat-akibat yang
lebih serius. Pencegahan sekunder dapat berupa:
a. Pencarian penderita maupun carrier secara dini melalui peningkatan usaha surveilans
Tifus abdominalis.
b. Perawatan
Penderita Tifus abdominalis perlu dirawat yang bertujuan untuk isolasi dan
pengobatan. Penderita harus tetap berbaring sampai minimal 17 hari demam atau
kurang lebih 14 hari. Keadaan ini sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya
komplikasi. Penderita dengan kesadaran menurun, posisi tubuhnya harus diubah-
ubah pada waktu- waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia
hipostatik dan dekubitus. Defekasi dan buang air kecil pada penderita Tifus
abdominalis perlu diperhatikan karena dapat terjadi konstipasi dan retensi air
kemih.
c. Diet
Penderita Tifus abdominalis sebaiknya mengonsumsi makanan yang cukup cairan,
berkalori, tinggi protein, lembut dan mudah dicerna seperti bubur nasi. Pemberian
makanan tersebut dimaksudkan untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan
perforasi usus karena usus perlu diistirahatkan. Tidak dianjurkan mengonsumsi
bahan makanan yang mengandung banyak serat dan mengahasilkan banyak gas.
Pemberian susu dilakukan 2 kali sehari. Jenis makanan untuk penderita dengan
kesadaran menurun adalah makanan cair yang dapat diberikan melalui pipa
lambung. Untuk penderita dengan komplikasi perforasi usus, tidak dianjurkan
makanan yang dapat mengiritasi lambung seperti makanan pedas dan asam.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya untuk mengurangi keparahan atau komplikasi
penyakit yang sudah terjadi. Apabila penderita Tifus abdominalis telah dinyatakaan
sembuh, sebaiknya tetap menjaga kesehatan dan kebersihan sehingga daya tahan
tubuh dapat pulih kembali dan terhindar dari infeksi ulang Tifus abdominalis.
Disamping itu, penderita tersebut harus melakukan pemeriksaan serologis sebulan
sekali untuk mengetahui keberadaan Salmonella typhi di dalam tubuh.

Ikatan Dokter Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer. Edisi Revisi. [online] Tersedia di: http://fk.unila.ac.id/wp-
content/uploads/2015/10/PPK-Dokter-di-Fasyankes-Primer.pdf. Diakses pada 20
November 2017.