Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG

MOBILISASI AMBULASI PADA Tn. S DENGAN STROKE


INFARK TROMBOTIK DI RUANG MELATI
RSD dr. SOEBANDI KABUPATEN JEMBER

oleh:
Fikri Nur Latifatul Qolbi, S.Kep.
NIM 132311101011

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
1. Latar Belakang
Masyarakat sering kali mendefinisikan kesehatan dan kebugaran fisik mereka
berdasarkan aktivitas mereka karena kesejahteraan mental dan efektivitas fungsi
tubuh sangat bergantung pada status mobilitas mereka. Misalnya, saat seseorang
berdiri tegak, paru lebih muda untuk mengembang, aktivitas usus (peristaltik)
menjadi lebih efektif, dan ginjal mampu mengosongkan kemih secara komplet. Selain
itu, pergerakan sangat penting agar tulang dan otot befungsi sebagaimana mestinya
(Potter & Perry, 2010).
Mobilitas, kemampuan untuk bergerak dengan bebas, mudah , berirama, dan
terarah di lingkungan adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Individu
harus bergerak untuk melindungi diri dari trauma dan untuk memenuhi kebutuhan
dasar mereka. Mobilitas amat penting bagi kemandirian individu yang tidak mampu
bergerak secara total sama rentan dan bergantungnya dengan seorang bayi (Potter &
Perry, 2010).
Kemampuan untuk bergerak juga mempengaruhi harga diri dan citra tubuh. Bagi
sebagian besar orang, harga diri bergantung pada rasa kemandirian atau perasaan
berguna atau merasa dibutuhkan. Orang yang mengalami gangguan mobilitas dapat
merasa tidak berdaya dan membebani orang lain. Citra tubuh dapat terganggu akibat
paralisis, amputasi, atau kerusakan motorik lain. Reaksi orang lain terhadap gangguan
mobilitas dapat juga mengubah atau mengganggu harga diri dan citra tubuh secara
bermakna. Ambulais adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya gangguan
mobilitas karena dengan ambulasi dapat memperbaiki sirkulasi, mencegah
flebotrombosis (thrombosis vena profunda/DVT). Mengurangi komplikasi
immobilisasi pasca operasi, mempercepat pemulihan peristaltik usus, mempercepat
pasien pasca operasi. (kozier, 2010). Berdasarkan uraian diatas, mahasiswa Program
Profesi Ners Universitas Jember untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang
Teknik Mobiliasi Ambulasi di Ruang Melati RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember.

2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah dapat dirumuskan
yaitu bagaimana cara memberikan pendidikan kesehatan tentang teknik mobilisasi
ambulasi pada klien dan keluarga Tn. S di Ruang Melati RSD dr. Soebandi Jember?

3. Tujuan
a. Tujuan Umum
Berdasarkan uraian pada latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka
tujuan yang akan dicapai adalah klien dan keluarga klien dapat memahami dan
mempraktikkan teknik mobilisasi ambulasi.
b. Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan dan pelatihan diharapkan peserta penyuluhan
mampu:
1) Keluarga dan Tn. S di Ruang melati mengetahui tentang apa itu teknik
mobilisasi ambulasi;
2) Keluarga dan Tn. S di Ruang Melati akan mampu mempraktikkan teknik
mobilisasi ambulasi secara mandiri.

4. Manfaat
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk Tn. S dan keluarga
dalam teknik mobilisasi ambulasi. setelah dilaksanakannya teknik mobilisasi
ambulasi.

5. Dasar Pemikiran
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot,
skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan
tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja
sebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Pada
kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi
isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada
pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan
kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik.
Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian
energi meningkat. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan
kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan
isometrik.
Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau
penyakit obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian
dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan
otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus
otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan
gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang.
Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang
bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh
dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung. Immobilisasi menyebabkan
aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh
dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak
beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital,
membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah
merah. (Potter, 2010)

6. Realisasi Penyelesaian Masalah


Penyuluhan merupakan upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau
menciptakan suatu kondisi bagi pasien untuk menerapkan cara-cara hidup sehat.
Dalam realisasi penyelesaian masalah mengenai teknik mobilisasi ambulasi adalah
melakukan pendidikan dan demonstrasi tentang teknik mobilisasi ambulasi.
LAMPIRAN
lampiran 1. Satuan Acara Penyuluhan
lampiran 2. Materi
lampiran 3. Leaflet
Lampiran 1. SAP

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Satuan Acara Pendidikan Kesehatan Tentang Mobilisasi Ambulasi


Pada Tn.S Dengan Stroke Infark Trombotik Di Ruang Melati RSD dr.
Soebandi Kabupaten Jember
Sasaran : Pasien dan keluarga Tn. S
Waktu : 13.00-13.30 WIB
Hari/Tanggal : Selasa/ 10 Oktober 2017
Tempat : Ruang Meati RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember
1. Standar Kompetensi
Setelah diberikan pendidikan kesehatan, diharapkan pasien dan keluarga pasien
dapat mempraktikkan teknik mobilisasi ambulasi.
2. Kompetensi Dasar
Setelah diberikan pendidikan kesehatan, pasien dan keluarga pasien diharapkan
dapat:
a. menjelaskan pengertian teknik mobilisasi ambulasi.
b. menjelaskan tujuan teknik mobilisasi ambulasi.
c. menjelaskan jenis teknik mobilisasi ambulasi.
d. menjelaskan penatalaksanaan teknik mobilisasi ambulasi.
3. Pokok Bahasan
Teknik mobilisasi ambulasi pada klien dan keluarga Tn. S di ruang Melati RSD dr.
Soebandi Jember.
4. Subpokok Bahasan
a. menjelaskan pengertian teknik mobilisasi ambulasi.
b. menjelaskan tujuan teknik mobilisasi ambulasi.
c. menjelaskan jenis teknik mobilisasi ambulasi.
d. menjelaskan penatalaksanaan teknik mobilisasi ambulasi.
2. Waktu: 1 x 30 menit
3. Persiapan Bahan/Alat
a. Leafleat
4. Model Pembelajaran
a. Jenis model penyuluhan: ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi
b. Landasan teori: konstruktivisme
c. Langkah pokok:
1) Menciptakan suasana pendidikan kesehatan yang baik
2) Mengajukan masalah
3) Membuat keputusan nilai personal
4) Mengidentifikasi pilihan tindakan
5) Memberi komentar/pemecahan masalah
6) Menetapkan tindak lanjut
d. Denah

Keterangan :
: Sasaran

: Pemateri

5. Pengorganisasian
Penyaji : Fikri Nur Latifatul Qolbi, S.Kep.
6. Kegiatan Pendidikan Kesehatan
Tindakan
Proses Waktu
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
Pendahuluan a. Memberikan salam, Memperhatikan dan 5 menit
memperkenalkan diri, dan menjawab salam
membuka penyuluhan
b. Menjelaskan materi secara Memperhatikan
umum dan manfaat bagi
pasien dan keluarga
c. Menjelaskan tentang TIU Memperhatikan
dan TIK
Penyajian 1. Menjelaskan konsep dasar Memperhatikan dan 20menit
teknik mobilisasi memberi tanggapan
ambulasi:
a. menjelaskan pengertian
teknik mobilisasi
ambulasi. Memperhatikan dan
b. menjelaskan tujuan memberi tanggapan
teknik mobilisasi
ambulasi.
c. menjelaskan jenis
teknik mobilisasi
ambulasi.
d. menjelaskan
penatalaksanaan teknik
mobilisasi ambulasi.
2. Mendemonstrasikan
teknik ambulasi mobilisasi
Penutup a. Menutup pertemuan Memperhatikan 5 menit
dengan memberi
kesimpulan dari materi
yang disampaikan Memberikan saran
b. Mengajukan pertanyaan
kepada pasien dan
keluarga pasien dengan Memberi komentar
hemodialisa dan menjawab
c. Mendiskusikan bersama pertanyaan bersama
jawaban dari pertanyaan Memperhatikan dan
yang telah diberikan membalas salam
d. Menutup pertemuan dan
memberi salam

7. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1) Pasien dan keluarga pasien berada di tempat pertemuan sesuai kontrak.
2) Penyelenggaraan pendidikan kesehatan mengenai teknik mobilisasi
ambulasi dilaksanakan di ruang melati RSD dr Soebandi Kabupaten
Jember
3) Pengorganisasian penyelenggaraan kegiatan dilakukan sebelum
pelaksanaan
b. Evaluasi Proses
1) Pasien dan keluarga pasien antusias terhadap kegiatan yang dilakukan.
2) Pasien dan keluarga pasien berpartisipasi dalam kegiatan dengan
mengajukan dan menjawab pertanyaan dengan benar.
3) Pasien dan keluarga pasien dapat mempraktikkan teknik mobilisasi
ambulasi
c. Evaluasi Hasil
1) Pasien dan keluarga memahami materi yang telah disampaikan.
2) Kegiatan pendidikan kesehatan mengenai senam diabetes me teknik
mobilisasi ambulasi litus berhasil dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai.
Lampiran 2. Materi

TEKNIK MOBILISASI AMBULASI

1. Pengertian Teknik Mobilisasi Ambulasi


Gangguan mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North American
Nursing Diagnosis Association (NANDA) sebagai suatu kedaaan dimana individu
yang mengalami atau beresiko mengalami keterbatsan gerakan fisik. Individu yang
mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik antara lain lansia,
individu dengan penyakit yang mengalami penurunan kesadaran lebih dari 3 hari atau
lebih, individu yang kehilangan fungsi anatomik akibat perubahan fisiologik
(kehilangan fungsi motorik,klien dengan stroke, klien penggunaa kursi roda),
penggunaan alat eksternal (seperti gips atau traksi), dan pembatasan gerakan
volunteer (Potter, 2005).

2. Tujuan Teknik Mobilisasi Ambulasi


a. Memenuhi kebutuhan dasar manusia
b. Mencegah terjadinya trauma
c. Mempertahankan derajat kesehatan
d. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari-hari
e. Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh
(Potter, 2005).

3. Jenis Teknik Mobilisasi Ambulasi


a. Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara
penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan
peran sehari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik
volunteer dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang
b. Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan
batasan jelas dan tidak mam.pu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh
gangguan saraf motorik dan sesnsorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat
dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pada
pasien paraplegi dapat mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas bawah
karena kehilangan kontrol motorik dan sensorik. Mobilitas sebagian ini dibagi
menjadi dua jenis, yaitu:
c. Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk bergerak
dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh
trauma reversibel pada system musculoskeletal, contohnya adalah adanya
dislokasi sendi dan tulang
d. Mobilitas permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya system
saraf yang reversibel, contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke,
paraplegi karena cedera tulang belakang, poliomilitis karena terganggunya
system saraf motorik dan sensorik.
(Potter, 2010)

4. Teknik Mobilisasi Ambulasi


a. Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien
Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas, digunakan
untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan fleksibilitas sendi. Posisi-
posisi tersebut, yaitu:
1) Posisi semifowler (setengah duduk)
2) Posisi litotomi
3) Posisi dorsal recumbent
4) Posisi supinasi (terlentang)
5) Posisi pronasi (tengkurap)
6) Posisi lateral (miring)
7) Posisi sim
8) Posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki)
b. Ambulasi dini
Cara ini adalah salah satu tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan dan
ketahanan otot serta meningkatkan fungsi kardiovaskular.. Tindakan ini bisa
dilakukan dengan cara melatih posisi duduk di tempat tidur, turun dari tempat
tidur, bergerak ke kursi roda, dan lain-lain.
c. Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga dilakukan untuk melatih
kekuatan, ketahanan, kemampuan sendi agar mudah bergerak, serta
meningkatkan fungsi kardiovaskular.
d. Latihan isotonik dan isometrik
Latihan ini juga dapat dilakukan untuk melatih kekuatan dan ketahanan otot
dengan cara mengangkat beban ringan, lalu beban yang berat. Latihan isotonik
(dynamic exercise) dapat dilakukan dengan rentang gerak (ROM) secara aktif,
sedangkan latihan isometrik (static exercise) dapat dilakukan dengan
meningkatkan curah jantung dan denyut nadi.
e. Latihan ROM Pasif dan Aktif
Latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan tindakan pelatihan untuk
mengurangi kekakuan pada sendi dan kelemahan otot. Latihan-latihan itu,
yaitu :
1) Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan
2) Fleksi dan ekstensi siku
3) Pronasi dan supinasi lengan bawah
4) Pronasi fleksi bahu
5) Abduksi dan adduksi
6) Rotasi bahu
7) Fleksi dan ekstensi jari-jari
8) Infersi dan efersi kaki
9) Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki
10) Fleksi dan ekstensi lutut
11) Rotasi pangkal paha
12) Abduksi dan adduksi pangkal paha
(Potter, 2010)
Lampiran 3. Leaflet

Anda mungkin juga menyukai